CHMK Nursing Scientific Journal / Jurnal STIKES Citra Husada Mandiri Kupang
Not a member yet
376 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN SOCIAL SELF DISCLOSURE DENGAN GANGGUAN MENTAL EMOSIONAL PADA ORANG DENGAN HIV/AIDS DI KECAMATAN TUREN KABUPATEN MALANG
RELATIONSHIP OF SOCIAL SELF DISCLOSURE WITH MENTAL EMOTIONAL DISORDERS IN PEOPLE LIVING WITH HIV/AIDS (PLWHA) IN DISTRICT TUREN MALANG REGENCY
Galuh Kumalasari
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kepanjen, Malang
Email: [email protected]
ABSTRACT
Background: PLWHA (People Living with HIV/AIDS) not only experience physical impact but also an impact on mental emotional conditions. The problem is that PLWHA have a feeling of fear of being rejected and negative judgments related to their illness so that they tend to hide their status from the community (non social self disclosure). Ideally with someone doing self-disclosure in society (social self disclosure) will get a good source of support especially for a person's mental health condition.
Objective: to analyze social self disclosure relationship with emotional mental disorders of PLWHA.
Method: Used correlational analytic design with cross sectional approach. The number of respondents was 32 ODHA in Turen District, Malang Regency used total sampling.
Results: The results of the analysis of the relationship between social self disclosure and emotional mental disorder found that there were PLWHA who did not experience mental emotional disorders who did social self disclosure were 13 PLWHA (40.6%). Whereas among PLWHA who experienced mental emotional disturbances who did social self disclosure to the community were 5 PLWHA (15.6%). The results of statistical tests obtained p = 0.014, it can be concluded that there is a difference in the proportion of social self disclosure between PLWHA who experience and do not experience mental emotional disorders (there is a significant relationship between social self disclosure with mental emotional disorders).
Conclusion: This study proves that there is a relationship between social self disclosure and mental emotional disorders in PLWHA in Turen District, Malang Regency. PLWHA who do social self disclosure to the community well have a greater chance of not experiencing emotional mental disorders.
Keywords: Social Self Disclosure, Emotional Mental Disorder
GAMBARAN FAKTOR- FAKTOR PENYEBAB KETIDAKIKUTSERTAAN PASANGAN USIA SUBUR DALAM MEMILIH ALAT KONTRASEPSI MANTAP DI PUSKESMAS KAUBELE KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA
Metode kontrasepsi mantap adalah pilihan kontrasepsi mantap yang efektif, aman, dan nyaman bagi banyak wanita. Alat kontrasepsi mantap ini yang paling sering digunakan di seluruh Dunia. Penyebab ketidakikutsertaan pasangan usia subur dalam memilih alat kontrasepsi mantap meliputi faktor pendidikan, pengetahuan, pandangan Agama, dan usia. Pada tanggal 09- 20 Mei 2018 jumlah pasangan usia subur yang tidak memilih alat kontrasepsi berjumlah 148 (21,52%) pasangan. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor- faktor penyebab ketidakikutsertaan pasangan usia subur dalam memilih alat kontrasepsi mantap di Puskesmas Kaubele Kabupaten Timor Tengah Utara. Dalam penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif analitik dengan pendekatan Proposi Persentase. Pengambilan sampel menggunakan teknik Proposive Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 148 (21,52%) responden, pengumpulan data menggunakan kuesioner. Data ini dianalisis menggunakan proposi persentase. Hasil penelitian menunjukan adanya tingkat presentase faktor pendidikan terhadap penyebab ketidakikutsertaan pasangan Usia subur dalam memilih alat kontrasepsi mantap dengan responden berpendidikan SD berjumlah 53 responden (36%). Faktor pengetahuan terhadap penyebab ketidakikutsertaan pasangan usia subur dalam memilih alat kontrasepsi mantap dengan responden berpengetahuan cukup berjumlah 105 responden (71%). Faktor Agama terhadap penyebab ketidakikutsertaan pasangan usia subur dalam memilih alat kontrasepsi mantap. Responden memiliki agama tidak sesuai berjumlah 83 responden (56%). Faktor usia terhadap penyebab ketidakikutsertaan pasangan usia subur dalam memilih alat kontrasepsi mantap, responden yang berusia 26-30 tahun berjumlah 54 responden (37%). Ada pun saran bagi pasangan usia subur di Puskesmas Kaubele Kabupaten Timor Tengah Utara diharapkan masyarakat setempat mengerti dan memahami tentang fungsi, manfaat, serta efektifitas kontrasepsi mantap sehingga masyarakat semakin mengenal dan pemakaian kontrasepsi mantap bertambah.
Kata Kunci: Kontrasepsi, Manta
The EFEKTIVITAS KOMBINASI TERAPI AKUPUNTUR DAN REBUSAN TEH HIJAU DALAM MENURUNKAN KADAR GLUKOSA PADA PASIEN DIABETES TIPE 2
Diabetes mellitus type 2 is one of the major health problems in the world. Uncontrolled diabetes mellitus can cause serious complications such as kidney disease, visual impairments, cardiovascular disease and leg amputations that contribute to morbidity and mortality in diabetic patients. There are recommended additions to use and prevent diabetes and secondary complications, one of which is supplementation of a combination of acupuncture and decoction of green tea. The design of this study was quasi-experimental, a sample of 30 people divided into three groups, 10 people received acupuncture therapy, 10 people received decoction of green tea, and 10 people received combination of acupuncture and green tea. Interventions carried out for 4 weeks, with acupuncture therapy 2 times a week and drinking decoction of green tea twice a day. Data analysis to determine differences in each group using ANOVA test. The results of this study were obtained in the ANOVA test at week 2 with a p value of 0.016 and at week 4 with a p value of 0.002 (p <0.05) which means there were differences in glucose levels in patients with diabetes mellitus type 2 who were given a combination of acupuncture and decoction of green tea with only received acupuncture or decoction of green tea.
Keywords: acupuncture, diabetes mellitus type 2, green tea, glucose levelsDiabetes mellitus tipe 2 merupakan salah satu masalah kesehatan utama di dunia. Diabetes mellitus yang tidak terkontrol dapat menyebabkan komplikasi serius seperti penyakit ginjal, gangguan penglihatan, penyakit kardiovaskuler dan amputasi kaki yang berkontribusi terhadap morbiditas dan mortalitas pada pasien diabetes. Ada berbagai pendekatan untuk mengobati dan mencegah diabetes serta komplikasi sekundernya, salah satunya adalah dengan kombinasi terapi akupuntur dan rebusan teh hijau. Rancangan penelitian ini dengan quasi eksperimen, besaran sampel 30 orang yang dibagi kedalam tiga kelompok, 10 orang (mendapat terapi akupuntur), 10 orang (mendapat rebusan teh hijau), dan 10 orang (kombinasi akupuntur dan teh hijau). Intervensi yang dilakukan selama 4 minggu, dengan terapi akupuntur 2 kali dalam seminggu dan meninum rebusan teh hijau 2 kali sehari. Analisa data untuk mengetahui perbedaan tiap kelompok intevensi dengan menggunakan uji anova. Hasil penelitian ini di dapatkan uji anova pada minggu ke 2 dengan p value 0,016 dan pada minggu ke 4 dengan p value 0,002 (p < 0,05) yang berarti ada perbedaan bermakana kadar glukosa pada pasien diabetes mellitus tipe 2 yang diberikan kombinasi akupuntur dan rebusan teh hijau dengan yang hanya diberi akupuntur maupun rebusan teh hijau saja.
Kata Kunci: akupuntur, diabetes mellitus tipe 2, teh hijau, kadar glukos
TANAMAN KELOR SEBAGAI ALTERNATIF PENCEGAHAN PREEKLAMPSIA/EKLAMPSIA
Kematian ibu masih menjadi permasalahan besar bagi perempuan di Indonesia, termasuk para pemberi layanan kesehatan ibu dan anak serta pemangku kepentingan. Distribusi penyebab kematian ibu melahirkan sebesar 28% karena perdarahan, 24% eklampsia sedangkan sisanya adalah abortus, persalinan lama, emboli dll. Preeklampsia merupakan kejadian patologis spesifik pada kehamilan. Dan hingga saat ini patomekanisme terjadinya preeklampsia masih merupakan diseases theory of , karena banyak teori yang menjelaskan penyebab dan patofisiologis terjadinya preeclampsia, salah satunya disebabkan oleh stress oksidatif. antioksidan pada ibu hamil dengan preeklampsia berat dan eklampsia lebih rendah secara signifikan dibandingkan dengan ibu hamil normal, oleh karena itu asupan antioksidan tambahan dapat menjadi alternatif bagi pencegahan masalah preeclampsia/eklampsia. Salah satu sumber antioksidan yang dapat menjadi pilihan adalah tanaman kelor (Moringa oleifera). Tanaman ini memiliki potensi besar sebagai bahan asupan antioksidan karena kandungan gizi yang tinggi. Tulisan ini akan menjelaskan tentang potensi tanaman kelor untuk dijadikan alternative pencegahan masalah preeclampsia/eklampsia Kata kunci: Preeklampsia, eklampsia, kehamilan, tanaman kelor, antioksidan
HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL SPIRITUAL DENGAN MOTIVASI SEMBUH KLIEN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT ST. CAROLUS BORROMEUS KUPANG
Spirituality is an essential factor that helps people in achieving the balance needed for nurture health, well-being and to survive the illness. The lack of social and spiritual support will affect patients' healing motivation. Healing motivation is very important for patients as it is one of the factors that will speed up the patient's recovery process. This study aimed to determine the relationship between spiritual-social support and clients' healing motivation in the Inpatient room of Hospital St. Carolus Borromeus Kupang. The research method used was quantitative research and the study design was cross-sectional conducted in the Hospital St. Carolus Borromeus Kupang with a target population of 51 respondents, sampling was conducted by using purposive sampling technique on 47 respondents. Data was collected by relying on the questionnaire sheet. Based on the results of research on the relationship between spiritualsocial support and clients' healing motivation in the Inpatient room of Hospital St. Carolus Borromeus Kupang, it was found that 26 respondents (55.3%) out of 47 respondents had fair social-spiritual support and 21 respondents (44.7%) out of 47 respondents had excellent social-spiritual support. It was also found that 24 respondents (51.1%) out of 47 respondents had fair healing motivation and 23 respondents (48.9%) out of 47 respondents had excellent healing motivation.Spearman rho statistical test results (r2) on the relationship between the level of depression with sleep quality in the elderly obtained p-value of 0.004 that was lower than the value of α (0.05), then Ho was denied and resulted with the fact that there was a relationship between spiritual-social support with client's healing motivation. From the results of this study, it is expected that good social-spiritual support will be maintained in order to increase the client's healing motivation and modify even better spiritual services (spiritual services are daily provided for all religions). Keywords: Social-Spiritual Support, Healing Motivation, InpatientSpiritualitas merupakan faktor penting yang membantu individu mencapai keseimbangan yang diperlukan untuk memelihara kesehatan dan kesejahteraan serta untuk beradaptasi dengan penyakit. Pasien dengan kurangnya dukungan sosial spiritual akan mempengaruhi motivasi atau dorongan dalam diri pasien untuk sembuh. Motivasi untuk sembuh sangatlah penting untuk pasien karena hal ini akan menjadi salah satu faktor yang akan mempercepat kesembuhan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Dukungan Sosial Spiritual Dengan Motivasi Sembuh KlienDi Ruang Rawat InapRumah Sakit St. Carolus Borromeus Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dan rancangan penelitiannya adalah cross sectional yang dilakukan di Rumah Sakit St. Carolus Borromeus Kupang dengan jumlah populasi target 51 responden, pengambilan sampel menggunakan Teknik Purposive Sampling terhadap 47 responden. Data dikumpulkan menggunakan lembar kuesioner. Berdasarkan hasil penelitian Hubungan Dukungan Sosial Spiritual Dengan Motivasi Sembuh KlienDi Ruang Rawat InapRumah Sakit St. Carolus Borromeus Kupang di dapatkan dari 47 responden yang memilikidukungan sosial spiritual yang baik 26 responden (55,3%) dan 21 responden (44,7%) dukungan sosial spiritual cukup baik. Sedangkan pada motivasi sembuh klien sebanyak 24 responden (51,1%) memiliki motivasi sembuh baik dan 23 responden (48,9%) memiliki motivasi sembuh cukup baik.Hasil uji statistik Spearman rho (r2) hubungan tingkat depresi dengan kualitas tidur lansia didapatkan nilai p= 0.004 lebih kecil dari nilai α (0.05), maka Ho ditolak artinya ada hubungan dukungan sosial spiritual dengan motivasi sembuh klien. Dari hasil penelitian ini diharapkan dukungan sosial spiritual yang baik harus tetap dipertahankan agar dapat meningkatkan motivasi sembuh klien dan memodifikasi pelayanan spiritual yang lebih baik lagi (pelayanan spiritual diberikan setiap hari untuk semua agama). Kata Kunci: Dukungan Sosial Spiritual, Motivasi Sembuh, Pasien Rawat Inap
PEREBEDAAN KETAHANAN FISIK PADA ANAK SEKOLAH DASAR STUNTING DAN TIDAK STUNTING DI KOTA KUPANG
School age children is young generation who will continue sustainable development of this country. They are in very fast and active growth period. Malnutrition suffer in this period will give negative effect for children like weakness, decrease child’s cognition and influence their physical endurance. Aim of this study is to analyse differentiation of physical fitness between stunting and non stunting elementary school children in Kupang city. This study use Simple Random Sampling method and contribute 208 4th level of school age children in Kupang city. They divided into 2 groups which are stunting and non-stunting group. This study found more than 70% of respondents have average and above physical fitness. Based on Mann U Whitney test, this study found children who belong to stunting group have fitness index lower than non-stunting children even though not significant different (p=0.137)
Keywords: Physical fitness, stunting, physical enduranceAnak sekolah yang merupakan generasi muda bangsa yang akan melanjutkan pembangunan yang berkesinambungan yang sedang dalam masa pertumbuhan yang sangat cepat dan aktif. Kekurangan gizi pada siswa di sekolah akan mengakibatkan anak menjadi lemah, penurunan kecerdasan anak dan berpengaruh pada ketahanan fisik anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketahanan fisik anak Sekolah Dasar stunting dan tidak stunting di Kota Kupang. Penelitian ini melibatkan 208 anak kelas 4 sekolah dasar yang terdapat di Kota Kupang yang dipilih dengan teknik Simple Random Sampling, yang kemudian akan dibagi menjadi 2 kelompok (stunting dan tidak stunting). Penelitian ini menemukan lebih dari 70% anak memiliki ketahanan fisik diatas rata – rata. Berdasarkan hasil uji Mann U Whitney diperoleh hasil ketahanan fisik anak stunting lebih rendah dibandingkan anak tidak stunting, walaupun tidak berbeda secara signifikan (p = 0,137).
Kata Kunci : Ketahanan Fisik, Stunting, Kebugaran jasman
HUBUNGAN PERILAKU MAKAN DENGAN STATUS GIZI PADA REMAJA PUTRI DI SMK NEGERI 1 PALU
Nutritional balance can be achieved by each person so it must consume at least one type of food from each class of food ingredients, namely carbohydrates, animal and vegetable protein, vegetables, fruits and milk. Unhealthy eating behavior will have an impact on health status in the short and long term. This study aims to analyze the relationship of eating behavior with nutritional status in girls in SMK Negeri 1 Palu. This type of quantitative research is analytic research with a cross sectional approach. The population in this study were all young women of class X and XI in SMK Negeri 1 Palu, totaling 740 people. The sample size of 111 people using the proportionate stratified random sampling technique. The results of the study were analyzed using univariate and bivariate analysis. The results showed that most of the respondents with eating behavior who were not at risk of eating disorders were 82 respondents 73.9%, most of them were respondents who had normal nutritional status which amounted to 73.0%. Chi Square test results obtained p value = 0,000 (5 0,05), this means statistically there is a relationship between eating behavior and nutritional status in adolescent girls. Conclusion: there is a relationship between eating behavior and nutritional status in young women. For adolescents, especially young women, to consume a variety of foods with balanced nutrition, and can be used as a source of youth knowledge about good eating behavior and balanced nutritional status.
Keywords: eating behavior, nutritional status, adolescent girls.Keseimbangan gizi dapat dicapai setiap orang maka harus mengonsumsi minimal satu jenis bahan makanan dari tiap golongan bahan makanan yaitu karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayuran, buah dan susu. Perilaku makan tidak sehat akan berdampak pada status kesehatan dalam jangka waktu pendek maupun panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan perilaku makan dengan status gizi pada remaja putri di SMK Negeri 1 Palu. Jenis penelitian kuantitatif adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua remaja putri kelas X dan XI di SMK Negeri 1 Palu yang berjumlah 740 orang. Besar sampel 111 orang menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Hasil penelitian dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar adalah responden dengan perilaku makan yang tidak berisiko mengalami gangguan makan yaitu berjumlah 82 responden 73,9%, sebagian besar adalah responden yang memiliki status gizi normal yaitu berjumlah 73,0%. Hasil uji Chi Square didapatkan nilai p=0,000 (≤ 0,05), ini berarti secara statistik ada hubungan perilaku makan dengan status gizi pada remaja putri. Simpulan: ada hubungan perilaku makan dengan status gizi pada remaja putri. Bagi remaja khususnya remaja putri agar mengonsumsi beraneka ragam makanan dengan gizi seimbang, dan dapat dijadikan sumber pengetahuan remaja mengenai perilaku makan yang baik dan status gizi yang seimbang.
Kata kunci : perilaku makan, status gizi, remaja putri
EFEKTIFITAS METODE GARDENING CLASS SEBAGAI MEDIA EDUKASI GIZI BAGI ANAK USIA DINI PADA PAUD DI KOTA KUPANG
Children are a group that is vulnerable to the risk of malnutrition because most nutrients are used for growth and physical development. Unbalanced food consumption patterns are a major factor in nutrition problems. NTT is the province with the highest prevalence of malnutrition and stunting in Indonesia. Increased knowledge and awareness about nutrition can be done early through media-based nutrition education, one of which is the gardening class method. This study aims to determine the effectiveness of the gardening classes method to increase the knowledge and interest of children consuming vegetables and fruit at Fajar Kasih Preschool and Cinta Bangsa Preschool in Kupang City. The method used was pre-experiment with one-group pretest posttest research design. The sampling technique used was total sampling, namely 38 respondents. The data obtained were analyzed using paired-sample T-test. The results of this study indicate that the gardening classes method is effective in increasing the knowledge and interest of children consuming vegetables and fruits with a significance value (ρ)0.00<(α)0.05. Gardening class methods are highly recommended as one of the effective learning media in nutrition education for children.
Keywords: Gardening Class, Nutrition Education Media, ChildrenAnak merupakan kelompok yang rentan risiko kurang gizi karena sebagian besar nutrisi digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan fisiknya. Pola konsumsi pangan yang tidak seimbang merupakan faktor utama persoalan gizi. NTT merupakan propinsi dengan angka prevalensi gizi kurang dan stunting tertinggi di Indonesia. Peningkatan pengetahuan dan kesadaran tentang gizi dapat dilakukan sejak dini melalui pendidikan gizi berbasis media, salah satunya dengan metode Gardening class (kelas berkebun). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode Gardening class terhadap peningkatan pengetahuan dan minat anak mengkonsumsi sayur dan buah pada PAUD Fajar Kasih dan PAUD Cinta Bangsa di Kota Kupang. Metode yang digunakan adalah pra eksperimen dengan rancangan penelitian one-group pretest posttest. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling yaitu 38 orang responden. Data dianalisis menggunakan uji T-test berpasangan (paired-sample T-test). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode Gardening class efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan minat anak mengkonsumsi sayur dan buah dengan nilai signifikansi (ρ)0,00<(α)0,05. Metode Gardening class sangat direkomendasikan sebagai salah satu media pembelajaran yang efektif dalam pendidikan gizi pada anak.
Kata Kunci: Kelas Berkebun, Media Pendidikan Gizi, Anak
 
PENGARUH PEMBERIAN AIR REBUSAN BUAH PAPAYA DALAM MENINGKATKAN PRODUKSI ASI IBU NIFAS DI PUSKESMAS MANUTAPEN
Infant and under-five mortality rates are a measure or parameter of a country's welfare. At least there are 3 causes that contribute 75% of the causes of AKB itself, one of which is diarrhea, the incidence of diarrhea in infants can be caused by errors in giving the right food to the baby, where babies have been given food other than breast milk before entering the age of 6 months. But in Indonesia only 49% of babies breastfeed exclusively for up to 6 months. Consuming papaya boiled water is one way to increase milk production. The purpose of this study was to determine the effect of giving papaya fruit stew to increase breast milk production in postpartum mothers at Manutapen Health Center in 2018.
The research design used was Pre Experimental with the design of the One Group Pretest Posttest. The number of samples in this study were 16 people, with a purposive sampling method. Measurements were made before and after being given papaya stew water for 7 days with an observation sheet.
The results of the Wilcoxon test showed that most or 87.5% of mothers experienced increased milk productivity. with a value of ρ value of 0.001 <α (0.05), this indicates that there is a significant effect of ASI production before and after being given papaya fruit boiled water.
Keywords: Breast milk, Production, Papaya
Angka kematian bayi dan balita merupakan suatu ukuran atau parameter dari kesejahteraan suatu negara. Setidaknya terdapat 3 penyebab yang menyumbangkan 75% penyebab AKB itu sendiri, salah satunya adalah diare, kejadian diare pada bayi bisa disebabkan karena kesalahan dalam pemberian makanan yang tepat pada bayi, dimana bayi sudah diberikan makanan selain ASI sebelum menginjak usia 6 bulan. Namun di Indonesia hanya 49% bayi yang menyusui secara ekslusif hingga 6 bulan. Mengkonsumsi air rebusan buah papaya merupakan salah satu cara untuk meingkatkan produksi ASI. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian air rebusan buah papaya dalam meningkatkan produksi ASI ibu nifas di Puskesmas Manutapen tahun 2018.
Desain penelitian yang digunakan adalah Pre Eksperimental dengan rancangan One Group Pretest Posttest. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 16 orang, dengan metode purposive sampling. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah diberikan air rebusan buah papaya selama 7 hari dengan lembar observasi.
Hasil analisis uji Wilcoxon menunjukkan sebagian besar atau 87,5% ibu mengalami peningkatan produktivitas ASI. dengan nilai ρ-value sebesar 0,001 < α (0,05), ini menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan produksi ASI sebelum dan sesudah diberikan air rebusan buah pepaya.
Kata Kunci : Air Susu Ibu, Produksi, Pepay
UJI AKTIVITAS EKSTRAK ETANOL 70% DAUN KAPUK (Ceiba pentandra. L) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTROL TOTAL TIKUS HIPERKOLESTEROLEMIA
Hypercholesterolemia is a lipid metabolism disorder, which leads to coronary heart disease (CHD) and stroke. Hypercholesterolemia can be treated traditionally with plants, that contains alkaloids, tannins, flavonoids, saponins and steroids, where these five compounds can be found in cottonwood leaves. The aims of this study are to determine the activity of 70% ethanol extract of cottonwood leaves (Ceiba pentandra. L) at the dose 400 mg/KgBW and 800 mg/KgBW in the reduction of total cholesterol levels on hypercholesterolemia rats and which one is most optimum dose.
The rats were divided into 4 groups and were adapted for 7 days. After that, all the total cholesterol level were measured (T1). The rats were conditioned to hypercholesterolemia by giving 10 ml/kgBW of quail yolk for 10 days and the total cholesterol level (T2) were measured. Furthermore, rats were given some treatments according to their groups. Group one as positive control (0.18 mg/200grBW of simvastatin), group two as negative control (0.5% of Na CMC), group three (400mg/KgBW of 70% ethanol extract of cottonwood leaves) and group four (800 mg/KgBW of 70% ethanol extract of cottonwood leaves) for 14 days and then their total cholesterol level is measured (T3).
The data were analyzed with Anova and SNK test. The results showed that 70% ethanol extract cottonwood leaves at dose both dose have the activity to reduce the total cholesterol level of hypercholesterolemia rats and the most optimal dose is 800 mg/KgBW.
Keywords: Catoonwood leaves, hypercholesterolemia, total cholesterol level, 70% ethanol extract of cottonwood leavesHiperkolesterolemia adalah suatu kelainan metabolisme lipid, yang dapat menyebabkan Penyakit Jantung Koroner (PJK) dan stroke. Hiperkolesterolemia dapat diterapi secara herbal dengan tanaman yang mengandung senyawa alkaloid, tannin, flavonoid, saponin dan steroid, dimana kelima senyawa terkandung dalam daun kapuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol 70% daun kapuk (Ceiba pentandra. L) dosis 400 mg/KgBB dan 800 mg/KgBB dalam menurunkan kadar kolesterol total tikus hiperkolesterolemia dan mengetahui dosis mana yang paling optimal dalam menurunkan kadar total tikus hiperkolesterolemia.
Tikus dibagi menjadi 4 kelompok, diadaptasi selama 7 hari dan diukur kadar kolesterolnya (T1). Tikus dibuat hiperkolesterolemia dengan cara diberi diet kuning telur puyuh dengan dosis 10 ml/KgBB selama 10 hari dan diukur kadar kolesterolnya (T2). Selanjutnya Tikus diberi perlakuan sesuai kelompok masing-masing. Kelompok satu sebagai kontrol positif (simvastatin 0,18 mg/200grBB), kelompok dua sebagai kontrol negatif (Na CMC 0,5%), kelompok tiga (ekstrak etanol 70% daun kapuk) dan kelompok empat (ekstrak 70% daun kapuk dengan dosis 800 mg/KgBB) selama 14 hari lalu diukur kadar kolesterolnya (T3). Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Anova dan dilanjutkan dengan uji SNK.
Hasil analisis penelitian menunjukkan adanya efek penurunan kolesterol total pada tikus hiperkolesterolemia dosis 400 mg/KgBB dan 800 mg/KgBB, dan dosis yang menunjukan efek terbesar dalam menurunkan kadar kolesterol total adalah dosis 800 mg/KgBB.
Kata Kunci: Daun kapuk, , hiperkolesterolemia, kadar kolesterol total,. Ekstrak etanol daun kapuk