CHMK Nursing Scientific Journal / Jurnal STIKES Citra Husada Mandiri Kupang
Not a member yet
    376 research outputs found

    ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN PERAWAT MELAKUKAN HAND HYGIENE SESUAI SPO DIRUANG KELIMUTU DAN CEMPAKA RSUD. PROF. DR. W. Z. JOHANNES KUPANG.

    Get PDF
    ABSTRACT Background: Compliance was a term used to describde obedience or submissive to pre-determined goal, compliance was the extent to a person's behavior complies with the provisions given by health professionals, according to Niven in Ghana (2010). Obedience was like submissive to orders or rules. Whereas obedience was behavior according to the rules and discipline, according to Lukman Ali (1999), in Suparyono (2010). The purpose of this study was to find out the factors of the five characteristics of nurses: age, sex, level of education, years of service, knowledge that affected nurses' compliance on carrying out hand hygiene according to SPO in the Kelimutu and Cempaka room of RSUD Prof. Dr. W. Z Johannes Kupang with 39 respondents. This research used cross-sectional method study used total sampling techniques. Bivariate analysis of data processing used the Chi-Square test. The results of the study proved that only the work period factor has an influence to the nurse’s compliance with hand hygiene, which results in a P-value of 0.033 <α = 0.05. It can be concluded that the length of service can affected nurse’s compliance with hand hygiene because the longer a person works, the more experience he/she gets and the greater the responsibility and concern for personal, family and patient care.   Keywords: Compliance, nurses, hand hygiene, work period

    Perbedaan Tekanan Darah Orang Dewasa Hipertensi Sebelum Dan Sesudah Pemberian Rebusan Daun Murbei Di Wilayah Kerja Puskesmas Boking Kabupaten TTS

    Get PDF
    Tekanan Dara

    HUBUNGAN KARAKTERISTIK DAN VAGINAL DOUCHING DENGAN KEJADIAN IMS

    Get PDF
    Increasing InsidensSTI and spread arround the word cannot be expected exactly. STI doesn’t from base factors which are transmitted by changing sexual partner, unsequere sexual mobility, prostitute less knowledge about hygiene genetalia, and dynamic factor that happened in the society, that cause reproduvtive and sexuall problem infected especial married women, children and poor. PHC Bandarharjo has high rate case with STI so cases in 2014 and 90% is married women. The aim of this research is to prove the relationbetween characteristicsand vaginal douching with STI.This research used with case control study design, 80 sampels with 1:1 (40 respondents each group), in PHC Bandarharjo working area. The case is married women who had positive STI and the control is married women who had negative STI after checked fisicly and confirm laboratorium in PHC Bandarharjo. The data is analyzed with univariat and bivariate (chi-squere).Some factors that proven affect STI for married women is a vagina douching (OR=11; 95% CI 3,8-31,7; p=0,000,low income family(OR= 4,0 95%CI :1,6-11 p= 0,004), there is relation between STI with married women that vaginal douching, and relation between STI with married women low income  family.Peningkatan insidens IMS dan penyebarannya diseluruh dunia tidakdapat diperkirakan secara tepat. IMS yang tidak terlepas dari faktor dasar yaitu adanya penularan penyakit dengan berganti-ganti pasangan seksual, melakukan hubungan seks bebas yang tidak aman, adanya faktor sosial seperti mobilitas penduduk , prostitusi, dan ketidaktahuan tentang pentingnya kebersihan alat kelamin, serta faktor dinamis yang terjadi di masyarakat, sehingga mengakibatkan masalah kesehatan seksual dan reproduksi yang berdampak kepada kalangan perempuan terutama ibu rumah tangga, anak-anak dan orang-orang miskin. Puskesmas Bandarharjo memiliki angka kejadian IMS yang cukup tinggi 50 kasus di tahun 2014 dan 90% adalah ibu rumah tangga. Penelitian ini ingin membuktikan hubunganvaginal douchingdengan kejadian IMS dengan  desain studi kasus-kontrol, jumlah sampel sebanyak 80 dengan perbandingan 1:1  (40 responden masing-masing kelompok), di wilayah kerja Puskesmas Bandarharjo. Sebagai kasus adalah ibu rumah tangga yang positif IMS dan kontrol adalah ibu rumah tangga yang negatif IMS setelah diperiksa secara fisik dan laboratorium di Puskesmas Bandarharjo. Data di analisis secara univariat, bivariat (chi-square)waktu penelitian bulan Juli- Agustus tahun 2015.  Beberapa faktor yang terbukti berpengaruh terhadap IMS pada Ibu rumah tangga adalah vaginal douching (OR=11; 95% CI 3,8-31,7; p=0,000). Pendapatan keluarga rendah < UMR (OR= 4,0 95%CI :1,6-11 p= 0,004), ada hubungan kejadian IMS pada Ibu rumah tangga yang melakukan dengan vaginal douching, dan ada hubungan kejadian IMS pada Ibu rumah tangga yangpendapatan keluarga rendah < UMR

    HUBUNGAN PENGETAHUAN GIZI DAN KEBIASAAN MAKAN DENGAN STATUS GIZI REMAJA PUTRI DI SMA NEGERI II KOTA KUPANG

    Get PDF
    Status gizi adalah keadaan tubuh akibat mengkonsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi (Almatsier, 2010). Remaja merupakan kelompok yang rentan terhadap perubahan fisik, dan seringkali memiliki pola perilaku makan yang tidak sehat. Ini terlihat pada perilaku remaja yang selalu dianggap benar oleh remaja itu sendiri seperti melakukan diet yang ketat, mengurangi asupan makanan dengan melewatkan makan pagi, dan menahan rasa lapar. Ini dilakukan agar remaja tetap memiliki tubuh langsing, dan takut untuk menjadi gemuk (Barasi, 2007 dalam Pujiati, dkk , 2015). Tujuan umum dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan gizi dan kebiasaan makan dengan status gizi remaja putri di SMA Negeri II Kota Kupang. jenis penelitian ini adalah observasional dengan rancangan cross sectional study. Hasil penelitian pada 100 orang siswa putri menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan makan makanan pokok, hewani dan nabati dengan status gizi remaja putri, namun tidak terdapat hubungan antara pengetahuan gizi dengan status gizi remaja putri di SMA Negeri II Kota Kupang.   &nbsp

    PERAWATAN ANSIETAS PADA KLIEN GANGGUAN FISIK MENGGUNAKAN PENDEKATAN MODEL ADAPTASI STRES STUART

    Get PDF
    An anxiety patient in a physical disorder gets nursing care using Stuart's model of stress adaptation approach. This theory model helps nurses in performing nursing care using nursing process approach including assessment, diagnosis, plan, implementation, and evaluation. Anxiety ranging from mild to panic levels has a high prevalence if not addressed can decrease productivity that threatens quality of life. This condition can certainly increase the prevalence of emotional disorders. Illustrations of Cases Patients with physical disorders including hypertension, diabetes mellitus, gout, gastritis, and arthritis have the highest psychosocial problems are anxiety, of which 30 are in adulthood, female sex, married status, have basic education background, and do not work Need to get thought-stopping therapy and progressive musculair relaxation to reduce symptoms and improve the ability to overcome anxiety. The choice of these two therapies is because all patients have wrong thoughts that affect all body systems. This report was first conducted on the community of RW 11 and 13 Kelurahan Ciparigi. Conclusions of thought stopping and progressive musculair relaxation have a positive impact on the patient's physical disorder and the development of mental nursing specialists in establishing optional therapy to reduce symptoms and improve ability, these two therapies are effective for patients with physical disorders with gout and arthritis. Keywords: Physical disorders, Stuart, GoutLatar Belakang Pasien ansietas pada gangguan fisik mendapatkan asuhan keperawatan menggunakan pendekatan model adaptasi stres Stuart. Model teori ini membantu perawat dalam melakukan asuhan keperawatan menggunakan pendekatan proses keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa, rencana, implementasi, dan evaluasi. Ansietas mulai dari tingkat ringan sampai panik memiliki prevalensi yang cukup tinggi jika tidak diatasi dapat menurunkan produktivitas yang mengancam kualitas hidup. Kondisi ini tentu dapat meningkatkan prevalensi gangguan emosional. Ilustrasi Kasus Pasien gangguan fisik meliputi hipertensi, diabetes mellitus, asam urat, gastritis, dan radang sendi memiliki masalah psikososial tertinggi adalah ansietas, berjumlah 30 orang berada pada usia dewasa, berjenis kelamin perempuan, berstatus kawin, memiliki latar belakang pendidikan dasar, dan tidak bekerja perlu mendapatkan terapi thought stopping dan progressive musculair relaxation untuk menurunkan tanda gejala dan meningkatkan kemampuan mengatasi ansietas. Pilihan dua terapi ini dikarenakan semua pasien memiliki pikiran yang salah yang berpengaruh pada semua sistem tubuh. Laporan ini pertama dilakukan pada masyarakat wilayah RW 11 dan 13 Kelurahan Ciparigi. Kesimpulan thought stopping dan progressive musculair relaxation memberikan dampak positif bagi pasien gangguan fisik dan pengembangan spesialis keperawatan jiwa dalam menetapkan terapi pilihan untuk menurunkan tanda gejala dan meningkatkan kemampuan, dua terapi ini efektif bagi pasien gangguan fisik dengan asam urat dan radang sendi. Kata Kunci : Asam Urat, Gangguan fisik, Stuar

    FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KARIES GIGI PADA ANAK SEKOLAH DASAR KELAS 1 DI SD INPRES OEBUFU

    Get PDF
    The problem of dental caries is a problem that often occurs in school-age children. Dental caries is a disease of the dental tissue, namely e-mail, dentine and cementum, which is caused by bacterial plaque metabolic activity. In 2011, it was estimated that 90% of school-age children throughout the world suffer from caries. The purpose of this study was to identify the factors associated with the incidence of dental caries in grade 1 elementary school children at Oebufu Kupang Inpres Elementary School. This type of research is analytic descriptive observation with a cross sectional study design. Samples taken using random sampling techniques. This research was conducted on grade 1 students at the Oebufu Inpres Elementary School with a total sample of 99 children. The statistical test used the chi square test. The results showed that there was no correlation between the frequency of tooth brushing and the incidence of dental caries (p = 0.935). The results also showed that there was a relationship between tooth brushing techniques (p = 0.011), dental cervical health (p = 0,000) with the incidence of dental caries. From the results of the study, it was suggested to the teachers to encourage parents and children to pay more attention to the frequency of brushing their teeth, brush their teeth and check their teeth for health <3 months regularly to avoid dental caries. Keywords : Frequency of Tooth Brushing, Teeth Brushing Technique, Dental Examination to Health Service Facilities, Dental Caries Events.Masalah karies gigi termasuk masalah yang sering terjadi pada anak usia sekolah. Karies gigi merupakan suatu penyakit pada jaringan gigi, yaitu email, dentin dan sementum, yang disebabkan oleh aktivitas metabolisme plak bakteri. Pada tahun 2011, diperkirakan bahwa 90% dari anak-anak usia sekolah di seluruh dunia yang menderita karies. Tujuan dari penelitian ini mengidetifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian karies gigi pada anak sekolah dasar kelas 1 di SD Inpres Oebufu Kupang. Jenis penelitian ini adalah observasi deskriptif analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Sampel yang diambil dengan menggunakan teknik random sampling. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas 1 di SD Inpres Oebufu dengan jumlah sampel 99 anak. Uji statistik yang digunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada hubungan antara frekuensi menyikat gigi dengan kejadian karies gigi (p =0,935). Hasil penelitian juga menunjukan bahwa ada hubungan antara teknik menyikat gigi (p=0,011), permerikasaan gigi kesarana kesehatan (p=0,000) dengan kejadian karies gigi. Dari hasil penelitian tersebut disarankan kepada para guru untuk menghimbau kepada orang tua dan anak agar lebih memperhatikan lagi frekuensi menyikat gigi, tekni menyikat gigi dan pemeriksaan gigi kesarana kesehatan <3 bulan secara teratur agar terhindar dari karies gigi. Kata Kunci : Frekuensi Menyikat Gigi, Teknik Menyikat Gigi, Pemerikasaan Gigi ke Sarana Pelayanan Kesehatan, Kejadian Karies Gigi

    HUBUNGAN PERILAKU PENGGUNAAN KELAMBU BERINSEKTISIDA DENGAN KEJADIAN MALARIA DI DESA RINDI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TANARAING KABUPATEN SUMBA TIMUR

    Get PDF
    Malaria is a contagious disease that is very dominant in the tropics and subtropics and can cause the death of more than millions of people each year. Nationally, NTT Province is the third highest province of malaria morbidity after Papua and West Papua. Various efforts have been made by the government to reduce morbidity and mortality due to malaria, one of which is distribution of indexed bed nets, but malaria morbidity rates are still quite high. The purpose of this study was to identify the relationship between the behavior behavior of insecticide-treated bed nets and the incidence of malaria in the village of Rindi in the Working Area of Tanaraing Health Center, East Sumba Regency. The design in this study is a correlational study with a cross sectional approach and the sampling used is probability sampling with a sample of 168 respondents. The results showed that 122 (73%) respondents behaved positively and 46 (37%) respondents behaved negatively about the use of insecticide-treated bed nets. The multivariate test results with logistic regression with the forward method obtained p value 0.002 <0.005 there is a relationship between the behavior of mosquito nets using malaria incidence with a probability level of 81% which means that someone who has negative knowledge, attitudes and behavior will suffer malaria as much as 81%. Efforts to eradicate and prevent malaria are not only done by the use of insecticidetreated bed nets but can be done by manipulating the environment, namely the use of wire mesh at home and the use of repellent. Health workers are expected to improve health promotion about malaria and make home visits. It is also hoped that local village officials will increase the use of resources owned by the village to support the malaria elimination program. Keywords : Malaria Incidence, Behavior, Insecticide-Treated Bed Nets.Penyakit malaria merupakan penyakit menular yang sangat dominan di daerah tropis dan subtropics serta dapat menimbulkan kematian lebih dari jutaan manusia setiap tahunnya. Secara Nasional, Propinsi NTT merupakan propinsi dengan angka kesakitan malaria tertinggi ketiga setelah Papua dan Papua Barat. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat malaria salah satunya pembagian kelambu berinteksida, namun angka kesakitan malaria masih cukup tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan perilaku penggunaan kelambu berinsektisida dengan kejadian malaria di Desa Rindi Wilayah Kerja Puskesmas Tanaraing Kabupaten Sumba Timur. Desain dalam penelitian ini adalah studi korelasional dengan pendekatan cross sectional dan sampling yang digunakan adalah probability sampling dengan jumlah sampel 168 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 122 (73%) responden berperilaku positif dan 46 (37%) responden berperilaku negatif tentang penggunaan kelambu berinsektisida. Hasil uji multivariat dengan regresi logistik dengan metode forward diperoleh hasil p value 0,002 < 0,005 terdapat hubungan antara perilaku penggunaan kelambu dengan kejadian malaria dengan tingkat probabilitas 81% yang berarti seseorang yang mempunyai pengetahuan, sikap dan perilaku yang negatif akan menderita malaria sebanyak 81%. Upaya pemberantasan dan pencegahan malaria tidak hanya dilakukan dengan penggunaan kelambu berinsektisida namun dapat dilakukan dengan memanipulasi lingkungan yakni penggunaan kawat kasa pada rumah dan penggunaan repellent. Petugas kesehatan diharapkan agar meningkatkan promosi kesehatan tentang malaria dan melakukan kunjungan rumah. Diharapkan juga kepada aparat desa setempat agar meningkatkan penggunaan sumber daya yang dimiliki desa untuk mendukung program eliminasi malaria. Kata Kunci : Kejadian Malaria, Perilaku, Kelambu Berinsektisida

    the Pengaruh Faktor Ibu dan Budaya Kerja Berat Saat Hamil Terhadap Kejadian BBLR di Kota Kupang

    No full text
    Low Birth Weight (LBW) is still considered a big problem in the world, especially in developing countries. LBW is a major indicator for reproductive health and public health status in general. LBW is also one of the main causes of neonatal illness and death. East Nusa Tenggara Province still has a high Infant Mortality Rate, which is higher than the national level. In 2012 IMR in East Nusa Tenggara was 45 per 1000 live births. LBW cases may incur death and therefore require special treatment. Long term effects on babies with LBW among others are psychological problems such as speaking disorder, growth and development disorder, learning disabilities, and physical problems e.g. chronic pneumonia and inherited disorders. This is analitic research with case control design. Population in this study were all mothers in Kupang City. Through accidental sampling technique, 100 people were selected, consisting of 50 mothers who had LBW infants and 50 mothers who had normal infants. Univariate and bivariate analysis on data were conducted using chi-square whereas multivariate test using multiple logistic regression test. The result show that Maternal factors were proven to have an effect on the occurrence of LBW i.e. maternal age factor during pregnancy (p: 0,041, OR: 3,606; CI: 1,894-14,528), suffering from ilness during pregnancy (p: 0,049; OR: 3,072; CI: 1,841-11,215 ), mother education is a protective factor (p: 0,007; OR: 0,241; CI: 0,085-0,682). The hard working culture during pregnancy is also a factor affecting LBW (p: 0.008; OR: 4,467; CI: 1,476-13,518). So, At risk age (<20 years and> 35 years), good education, history of illness during pregnancy, and conducting hard work during pregnancy have the 56,12%.probability of giving birth to LBW infants.   Keywords: LBW, Maternal Factors, Hard Working During Pregnancy  Culture.Bayi berat lahir rendah (BBLR) masih merupakan masalah besar di seluruh dunia, terutama di negara berkembang. BBLR merupakan indikator mayor bagi kesehatan reproduksi dan status kesehatan masyarakat secara umum. BBLR hingga saat ini juga  menjadi salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian pada masa neonatal. Provinsi Nusa Tenggara Timur  (NTT) memiliki angka kematian bayi (AKB) yang masih lebih tinggi dari angka nasional. Pada tahun 2012 AKB masih 45 per 1000 KH. Kasus BBLR dapat menyebabkan kematian dan memerlukan perawatan khusus. Efek jangka panjang pada bayi dengan berat lahir rendah diantaranya masalah psikis seperti gangguan bicara, gangguan perkembangan dan pertumbuhan, gangguan belajar dan masalah fisik seperti penyakit paru kronis dan kelainan bawaan. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain case control. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin di Kota Kupang. Jumlah sampel sebanyak 100 orang terdiri dari 50 ibu yang memiliki bayi BBLR dan 50 ibu yang memiliki bayi normal dengan teknik consecutive sampling. Analisis data yaitu univariat dan bivaviat menggunakan uji chi-square dan multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasilnya menunjukkan bahwa faktor ibu yang terbukti berpengaruh terhadap kejadian BBLR adalah faktor usia ibu saat hamil (p:0,041;OR: 3,606 ;CI: 1,894-14,528), menderita sakit saat hamil (p: 0,049;OR: 3,072;CI : 1,841-11,215), pendidikan ibu merupakan faktor protektif (p:0,007;OR:0,241;CI: 0,085-0,682). Budaya kerja berat saat hamil juga merupakan faktor yang berpengaruh terhadap BBLR (p: 0,008;OR:4,467;CI: 1,476-13,518). Jadi, Umur ibu yang berisiko (< 20 tahun dan > 35 tahun), tingkat pendidikan yang baik, adanya riwayat penyakit selama hamil, dan budaya tetap kerja berat saat hamil memiliki probabilitas untuk melahirkan bayi BBLR sebesar 56,12%.   Kata Kunci: BBLR, Faktor Ibu, Budaya Kerja Berat

    GAMBARAN KOLABORASI TENAGA KESEHATAN DALAM ANC TERPADU DENGAN TINGKAT KEPUASAN IBU DI PUSKESMAS OEPOI KUPANG

    Get PDF
    ABSTRACT  Background. LBW is still a public health problem in many countries, because it is considered to be one of the factors causing infant mortality. Quality ANC is one of the factors preventing LBW and therefore good collaboration is needed between health workers. Oepoi Community Health Center (Puskesmas) is the lowest puskesmas with only 1.1% compared to other puskesmas in Kupang City. Therefore, research related to collaboration in the Puskesmas was taken.  Objective. The purpose of this study was to find out the description of collaboration of health workers with maternal satisfaction levels in integrated ANC at Puskesmas Oepoi. Method. This type of research is purely qualitative with an inductive approach. The total sample was 40 people consisting of 33 pregnant women and 7 health workers. Location: Oepoi Health Center. Time: March - June 2018. Results. The results of this study illustrate the incidence of LBW in Oepoi Health Center (Puskesmas Oepoi) has the lowest percentage among all Puskesmas in Kupang City with only 13 cases (1.1%). ANC management of 33 respondents found a distribution of respondents with good ANC management as many as 33 people (100%). ANC Collaboration Implementation from 7 respondents found all respondents stated Collaboration had gone well. This is directly proportional to the level of satisfaction of pregnant women, namely; very satisfied as many as 25 people or 75%, the remaining 25% said they were satisfied and no one expressed dissatisfaction. This means that Oepoi Health Center succeeded in suppressing LBW. Conclusion. Conclusion of the study that the collaboration of health workers in integrated ANC conducted by health workers at the Oepoi Health Center was good with a good level of patient satisfaction. This is also the reason why the percentage of LBW in Oepoi Community Health Center is very low. As a suggestion, this collaboration model can be adopted by other puskesmas and further research is needed to strengthen this model.     Keywords: Integrated ANC Collaboration  Latar Belakang. BBLR sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di banyak Negara, karena dianggap menjadi salah satu faktor penyebab kematian bayi. ANC yang berkualitas menjadi salah satu faktor mencegah BBLR dan oleh sebab itu diperlukan kolaborasi yang baik antar tenaga kesehatan. Puskesmas Oepoi menjadi puskesmas dengan BBLR paling rendah yaitu hanya 1,1% dibanding dengan puskesmas lainnya di Kota Kupang. Oleh sebab itu diambil penelitian terkait kolaborasi di Puskesmas ini.  Tujuan.Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahui gambaran kolaborasi tenaga kesehatan dengan Tingkat Kepuasan ibu dalam ANC terpadu di Puskesmas Oepoi. Metode. Jenis penelitian kualitatif murni dengan pendekatan induktif. Jumlah sampel 40 orang yang terdiri dari ibu hamil 33 orang dan 7 orang tenaga kesehatan. Lokasi : Puskesmas Oepoi. Waktu: Maret - Juni 2018. Hasil. Hasil penelitian ini menggambarkan kejadian BBLR di Puskesmas Oepoi memiliki persentase paling rendah diantara semua Puskesmas yang ada di Kota Kupang dengan hanya 13 kasus (1,1%). Tatalaksana ANC dari 33 responden didapatkan distribusi responden dengan tatalaksana ANC baik sebanyak 33 orang (100%). Pelaksanaan Kolaborasi ANC dari 7 responden didapatkan semua responden menyatakan Kolaborasi telah berjalan dengan baik. Hal ini berbanding lurus dengan tingkat kepuasan Ibu hamil yaitu; sangat puas adalah sebanyak 25 orang atau 75%, sisanya 25% menyatakan puas dan tidak ada yang menyatakan tidak puas. Artinya Puskesmas Oepoi berhasil dalam menekan BBLR. Kesimpulan.Simpulan penelitian bahwa Kolaborasi tenaga kesehatan dalam ANC terpadu yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas Oepoi sudah baik dengan tingkat kepuasan pasien yang baik pula. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa persentase BBLR di Puskesmas Oepoi sangat rendah. Sebagai saran Model kolaborasi ini dapat di adopsi oleh puskesmas lainnyan dan Perlu penelitian lanjutan untuk memperkuat model ini.     Kata Kunci : Kolaborasi ANC terpad

    HUBUNGAN INDUKSI PERSALINAN DAN SEKSIO SESARIA DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA PADA NEONATAL DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KEPAHIANG TAHUN 2017

    Get PDF
    Section cesarean is performed on the factor of a high-risk pregnancy so that labor results in disruption to the fetus or newborn baby. The purpose of this study to determine the relationship of labor induction and section caesarea with the incidence of asphyxia on Neonatal in RSUD Kepahiang in 2017.This study used Case Control Study with population in this study were 610 baby with the amount of sample were 120 baby where 60 baby as case group and 60 baby as control group. Data analysis used chi-square. The results of this study showed: value of OR for labor induction were 2.44, means that babies born with labor induction had risk 2.44 times with incidence of neonatal asphyxia. For section caesarea showed: value of OR 2.64 means baby who labored with section caesarea had risk 2.64 times experiencing neonatal asphyxia. The results of this study showed that there was a significant relationship between induction of labor and section caesarea with the incidence of neonatal asphyxia in RSUD Kepahiang in 2017. Looked at the result of this study it is expected that the Hospital can improvement services in caring of baby ware and make an effort to prevent incidence of asphyxia through resuscitation to the baby, providing facilities and instrument to prevent incidence of asphyxia on baby with providing oxygen for the baby.   Keywords: Asphyxia, labor induction, cesarean sectionPersalinan seksio sesaria dilakukan pada faktor kehamilan dengan risiko tinggi sehingga persalinan tersebut mengakibatkan gangguan pada janin atau bayi baru lahir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan induksi persalinan dan seksio sesaria dengan kejadian asfiksia pada neonatal di RSUD Kepahiang tahun 2017.Penelitian ini menggunakan desain Case Control Study dengan jumlah populasi 610 bayi dengan jumlah total sampel 120 bayi dimana 60 kelompok kasus dan 60 kelompok kontrol. Analisa data menggunakan chi-square. Hasil Penelitian ini menunjukkan nilai OR untuk induksi persalinan adalah 2,44 artinya bayi yang lahir dengan induksi persalinan memiliki resiko 2,44 kali terjadi asfiksia neonatal. Untuk seksio sesaria menunjukkan nilai OR 2,64 artinya bayi yang lahir dengan seksio sesaria memiliki resiko 2,64 mengalami asfiksia neonatal. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara induksia persalinan dan seksio sesaria dengan kejadian asfiksia neonatal di RSUD Kepahiang tahun 2017. Melihat hasil penelitian ini diharapkan pihak Rumah Sakit dapat meningkatkan pelayanan dalam perawatan bayi dengan asfiksia melalui resusitasi khususnya di ruangan bayi, penyediaan fasilitas dan sarana di dalam menunjang pencegahan terjadinya asfiksia pada bayi seperti penyediaan tabung oksigen pada bayi   Kata kunci: asfiksia, induksi persalinan, seksio sesari

    345

    full texts

    376

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    CHMK Nursing Scientific Journal / Jurnal STIKES Citra Husada Mandiri Kupang
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇