CHMK Nursing Scientific Journal / Jurnal STIKES Citra Husada Mandiri Kupang
Not a member yet
376 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN PELAYANAN INFORMASI OBAT DENGAN TINGKAT KEPATUHAN PASIEN HIPERTENSI DI PUSKESMAS BERU KABUPATEN SIKKA
Hypertension is a chronic disease that requires patient’s adherence in the treatment to achieve a controlled blood pressure. Drug information services is a part of the clinical pharmacy service standards at the community health center that plays a role in increasing patient’s health literacy in drugs and diseases. One of the drug information given is information about drug’s indication that is aimed to improve patient’s adherence. The goal of the study is to determine the relationship of drug information services and patient’s adherence in hypertension therapy at Beru community health center, Sikka from May 28th – June 28th 2019.
This type of research is bivariate correlation. The population in this study is all hypertensive patients with antihypertensive drug at Beru community health center, Sikka from May 28th – June 28th 2019. The sampling technique used is total sampling and the number of the sample is 42. Data collection using with checklist and questionnaires at the same time. Data analysis result used in this research is kendall's tau.
The result showed that there is a significant relationship between drug information services and the adherence in hypertensive patients at Beru community health center, Sikka from May 28th - June 28th 2019, with a p value = 0.031 (p < 0.05). Correlation coefficient value r = 0.312 that shows a positive relationship, which is the increase of drug information sevices is associated with the increase of adherence in hypertensive patients but the relationship is weak.
Keywords: Relationship, drug information services, adherence, hypertensionHipertensi merupakan penyakit kronis yang membutuhkan kepatuhan pasien dalam terapinya sehingga tekanan darah terkontrol. Pelayanan informasi obat merupakan bagian dari standar pelayanan farmasi klinik di Puskesmas yang berperan dalam meningkatkan pengetahuan pasien tentang obat dan penyakitnya. Salah satu informasi obat yang diberikan adalah informasi tentang indikasi obat yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan pasien, terutama pada penyakit kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pelayanan informasi obat dengan tingkat kepatuhan pasien hipertensi di Puskesmas Beru Kabupaten Sikka periode 28 Mei – 28 Juni tahun 2019.
Jenis penelitian ini adalah korelasi bivariate. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien hipertensi yang menerima resep obat antihipertensi di Puskesmas Beru Kabupaten Sikka Periode 28 Mei – 28 Juni tahun 2019. Penentuan sampel penelitian menggunakan teknik total sampling dan jumlah sampelnya adalah 42 orang. Pengumpulan data menggunakan lembar checklist dan kuesioner yang dilakukan dalam waktu yang bersamaan. Hasil Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kendall’s tau.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara pelayanan informasi obat dengan tingkat kepatuhan pasien hipertensi di Puskesmas Beru Kabupaten Sikka periode 28 Mei – 28 Juni tahun 2019, dengan nilai signifikansi p = 0,031 (p < 0,05). Nilai koefisien korelasi r = 0,312 yang menunjukkan hubungan positif, yaitu peningkatan pemberian pelayanan informasi obat berhubungan dengan peningkatan kepatuhan pasien hipertensi tetapi hubungannya lemah.
Kata kunci: Hubungan, pelayanan informasi obat, kepatuhan, hipertensi
 
Perawat Hubungan peran caregiver perawat dan komunikasi interpersonal perawat dengan kepuasaan pasien di ruang rawat inap cempaka dan kelimutu RSUD Prof. Dr. W. Z. Johanes Kupang
Pendahuluan: Pasien sebagai pengguna jasa pelayanan keperawatan menuntut pelayanan keperawatan yang sesuai dengan haknya, yakni pelayanan keperawatan yang bermutu dan paripurna. Pasien akan mengeluh bila perilaku caring yang dirasakan tidak memberikan nilai kepuasan bagi dirinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan peran caregiver perawat dan komunikasi interpersonal perawat dengan kepuasaan pasien di RSUD Prof. Dr. W. Z Johanes Kupang. Metode penelitian yaitu menggunakan rancangan korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 47 responden dengan teknik insidental sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang dianalisis uji statistik sperman rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara peran caregiver perawat dengan kepuasaan pasien diperoleh nilai ρ=0,000, dimana nilai r=0,544 yang artinya kekuatan korelasinya sedang dan arah hubungannya bersifat positif dan adanya hubungan yang signifikan antara komunikasi interpersonal perawat dengan kepuasaan pasien diperoleh nilai ρ=0,000, dimana nilai r=0,569 yang artinya kekuatan korelasinya sedang dan arah hubungannya bersifat positif. Kesimpulan: ada hubungan peran caregiver perawat dan komunikasi interpersonal perawat dengan kepuasaan pasien. Saran: Diharapkan untuk peneliti selanjutnya untuk meneliti variabel lain terkait peran perawat yaitu peran perawat sebagai pembela atau advocate klien.
Kata Kunci: Peran Caregiver Perawat, Komunikasi Interpersonal Perawat, Kepuasaan Pasien.
 
SOSIAL-DEMOGRAFI VARIABEL DAN PEMANFAATAN PRENATAL CARE PADA IBU DI KOTA DUMAGUETE FILIPPINA
Filipina adalah salah satu negara berkembang. Kematian bayi dan ibu masih dianggap masalah besar di negara ini, di mana 26 bayi dalam setiap 1.000 kelahiran hidup meninggal dan 162 perempuan per 100.000 meninggal karena melahirkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variabel sosio-demografis dan pemanfaatan PNC di kalangan ibu di Kota Dumaguete, Filipina. Metode korelasional deskriptif digunakan untuk menguji korelasi antara perawatan sosio-demografis dan Pemanfaatan PNC. Responden penelitian ini adalah 137 ibu di 11 Pos Kesehatan Barangay (Wilayah) Kota Dumaguete. Instrument yang digunakan adalah kuisioner dan uji Chi-Square digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 32,8% responden berada dalam kelompok usia 24-29 tahun sementara ada 16,8% ibu yang berusia 36 tahun ke atas dimana termasuk dalam usia beresiko tinggi. Mayoritas responden 48,2% adalah lulusan SMA, selain itu, sebagian besar responden 73,0% adalah ibu rumah tangga dan 87,6% responden memiliki pendapatan rendah yaitu Php 10.000 per bulan atau kurang. Mayoritas responden 75,2% memiliki fasilitas kesehatan PNC yang sangat mudah diakses. Hasil analisis korelasi menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara pencapaian pendidikan dan pemanfaatan perawatan prenatal dengan p-value 0,00038, dan pendapatan perbulan dari keluarga dan pemanfaatan perawatan prenatal dengan p-value 0,0069. Perawat dan bidan harus meningkatkan pemberian pendidikan kesehatan dan meningkatkan aktivitas kunjungan rumah untuk mengamati dan memantau ibu yang pada usia dianggap berisiko tinggi untuk kehamilan.
Kata kunci: Sosial-Demografis; Prenatal Care ; Ib
HUBUNGAN PENGETAHUAN PENDERITA TBC TERHADAP STIGMA PENYAKITNYA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PARONGPONG KECAMATAN PARONGPONG KABUPATEN BANDUNG BARAT
Pendahuluan: Tuberkulosis adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. Di Indonesia ditemukan bahwa tingginya angka kejadian Tuberkulosis Paru disebabkan oleh kurangnya tingkat pengetahuan. Stigma kerap kali melekat pada masalah-masalah kesehatan, khususnya tuberkulosis. Yang menjadi alasan mengapa bisa muncul stigma pada TB adalah karena penularannya, pengetahuan yang kurang tepat akan penyebabnya, perawatannya atau berhubungan dengan kelompok-kelompok tertentu seperti tingkat ekonomi, ras minoritas, pekerja seks, tahanan penjara, dan orang yang terinfeksi HIV/AIDS. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat adanya hubungan antara pengetahuan penderita TBC terhadap stigma penyakitnya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan korelasi dengan melibatkan 23 responden yang sedang menjalani pengobatan di Puskesmas Parongpong, responden dipilih dengan menggunakan Purposive sampling. Variabel independen adalah pengetahuan penderita TBC, variabel dependent adalah stigma penyakit. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner yang dianalisis menggunakan Spearman rho. Hasil: Hasil dan analisis Tingkat Pengetahuan dengan Stigma Penyakit mempunyai hubungan dengan nilai p-value 0,0012 atau (p ≤ 0,05) dengan tingkat hubungan sedang (0,516). Diskusi: Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya stigma penyakit pada pasien tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Parongpong. Saran Bagi tim kesehatan supaya bisa menjadi masukan dalam program kesehatan pengelolaan penyakit TBC di Komunitas dan Jiwa.
Kata Kunci: Pengetahuan, Stigma Penyakit, Tuberkulosi
EFEKTIFITAS TERAPI MANDI AIR HANGAT DENGAN LEMONGRASS OIL MASSAGE TERHADAP KUALITAS TIDUR LANSIA DI PANTI SOSIAL LANSIA BUDI AGUNG KUPANG
ABSTRACT
The old is someone whose age is over than 60 years, who also has problem because of the decrease of organ disfunction, pshycology, social, economy and environmentso they need a special medical treatment one if the effect of organ disfunction descrease on the old is sleeping problem. The aim of this research is to know how effective bathing treatment using warm water wth lemongrass oil massage on the old sleeping quality in Pati Sosial Penyantunan Lansia Budi Agung Kupang. This research methode is used with qualsy experiment and true group design, pre post test design, sample consists of 60 responden with total technique sampling instrument and the use og questioner evaluated with Wilcoxon. We also use bathing SOP and massage SOP. The result of research shows that medical bathing using warm water is effective to increase the sleeping quality of the old (ρ value = 0,46) and also lemongrass oil massage gives the same result. Conclusion warm bath therapy with lemongrass oil massage is more effective in improving the quality of sleep in the elderly seen from the significant value of 0,12 after of therapy compared to the control group with value of 0,73. The research result can be used as a good and beneficial information in helping the old to overcome sleeping problem on the old.
Keywords: elderly, lemongrass oil massage, sleep quality, warm bath therapyABSTRAK
Lansia merupakan seseorang yang mencapai usia lebih dari 60 tahun, yang mulai mengalami gangguan akibat penurunan fungsi organ, psikologi, sosial, ekonomi, dan lingkungan sehingga membutuhkan pelayanan kesehatan. Salah satu akibat penurunan fungsi organ tubuh pada lansia adalah gangguan tidur. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan terapi mandi air hangat dengan lemongrass oil massage terhadap kualitas tidur lansia di Panti Sosial Penyantunan Lansia Budi Agung Kupang. Metode penelitian ini menggunakan rancangan Quasy Eksperimen dengan pendekatan two group pre-post test design. Sampel yang digunakan berjumlah 60 responden dengan teknik total sampling. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuesioner kualitas tidur lansia yang dianalisis menggunakan uji Wilcoxon (ρ˂0,05), SOP memandikan pasien yang telah dimodifikasi, serta SOP massage punggung. Hasil penelitian ditemukan bahwa terapi mandi air hangat efektif dalam meningkatkan kualitas tidur lansia nilai ρ value=0,046 (˂0,05) dengan nilai signifikan 0,74 sedangkan hasil dari pemberian terapi mandi air hangat dengan lemongrass oil massage juga efektif dalam meningkatkan kualitas tidur lansia nilai ρ value=0,000 (˂0,05) dengan nilai signifikan 0,12. Dengan demikian, terapi mandi air hangat dengan lemongrass oil massage lebih efektif dalam meningkatkan kualitas tidur lansia.
Kata Kunci: Kualitas Tidur, Lansia, Lemongrass Oil Massage, Terapi Mandi Air Hanga
PENGARUH PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PEMBERIAN MAKANAN TAMBAHAN PADA BAYI SEBELUM USIA ENAM BULAN TERHADAP STATUS BALITA DI DESA NOELBAKI KABUPATEN KUPANG
Breastfeeding is one component of reproduction which consists of menstruation, conception, pregnancy, childbirth, breastfeeding, and weaning. If this component goes well, the breastfeeding process is also successful. This study aims to determine the effect of exclusive breastfeeding and maternal knowledge about supplementary feeding to infants before the age of six months on toddler status. This type of research is a descriptive study with the type of cross sectional approach. The research was conducted from September to October 2019 in Noelbaki Village, Kupang Regency, which consisted of 114 mothers as respondents. Data was collected by conducting interviews directly at the home of each respondent. Data analysis was carried out bivariately to determine the direction of the relationship between the independent variable and the dependent variable. Based on the results of the study, it was found that the mother's knowledge about breastfeeding before the baby was 6 months had a significant relationship with the nutritional status of toddlers with exclusive breastfeeding while exclusive breastfeeding was not related to nutritional statusMenyusui adalah salah satu komponen dari reproduksi yang terdiri dari haid, konsepsi, kehamilan, persalinan, menyusui, dan penyapihan. Jika komponen ini berlangsung dengan baik, maka proses menyusuikan juga berhasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian asi eksklusif dan pengetahuan ibu tentang pemberian makanan tambahan pada bayi sebelum usia enam bulan terhadap status balita. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan jenis pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan dari bulan September sampai Oktober 2019 di Desa Noelbaki Kabupaten Kupang, yang terdiri dari 114 ibu sebagai responden. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara langsung di rumah masing-masing responden. Analisis data dilakukan secara bivariat untuk mengetahui arah hubungan variable bebas terhadap variable terikat.Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa pengetahuan ibu tentang pemberian MP-ASI sebelum bayi berusia 6 bulan mempunyai hubungan yang signifikan dengan status gizi balita pemberian ASI Eksklusif sedangkan pemebrian ASI eksklusif tidak berhubungan dengan status gizi.
 
UJI AKTIVITAS ANTIDIARE EKSTRAK ETANOL DAUN SIRIH (Piper betle L.) PADA TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI OLEUM RICINI
Betel leaf (Piper betle L.) contains flavonoids, tannins, essential oils and alkaloids. Flavonoids inhibit the release of acetylcholine and intestinal contractions while tannins reduce intestinal peristalsis. Essential oils and alkaloids prevents microorganisms from growing and eradicate them in the intestine. This research examined the antidiarrheal activity of betel leaf ethanol extract in white rats (Rattus norvegicus).
Antidiarrheal activity test of betel leaf ethanol extract was carried out by administering 1 ml of oleum ricini to rats orally as an induction of diarrhea. An hour later, the rats were treated with ethanol extract of betel leaves at different doses of 200, 300 and 400 mg/kgbw, loperamid HCL as positive control and 0.5% Na-CMC as negative control orally. Several parameters were observed for 5 hours during the diarrhea including, onset of diarrhea, faecal consistency, diarrhea frequency, and duration of diarrhea.
The results of ANOVA statistical test showed a significant value of each test parameter is p <0.05, indicating that H0 was rejected while H1 was accepted. The results also confirmed the significant differences between treatment group and control group. The results were also supported by the outcome of Tukey HSD average difference test which also indicated that the ethanol extract of betel leaf at doses of 200, 300, and 400 mg/kgbw provided antidiarrheal activity in white rats, with the best effect at a dose of 400 mg/kgbw.Daun sirih (Piper betle L.) mengandung flavonoid, tanin, minyak atsiri dan alkaloid, dimana flavonoid dapat menghambat pengeluaran asetilkolin dan kontraksi usus, tanin memiliki efek mengurangi peristaltik usus, minyak atsiri dan alkaloid yang merupakan inhibitor pertumbuhan dan mematikan mikroorganisme di usus. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas antidiare ekstrak etanol daun sirih pada tikus putih (Rattus norvegicus).
Uji aktivitas antidiare ekstrak etanol daun sirih dilakukan dengan cara memberikan 1 ml oleum ricini pada tikus secara oral sebagai penginduksi diare, 1 jam setelah pemberian oleum ricini tikus diberi ekstrak etanol daun sirih dosis 200, 300 dan 400 mg/kgbb, kontrol positif loperamid HCl, kontrol negatif Na-CMC 0,5% secara oral dan dilakukan pengamatan terhadap parameter uji yaitu saat mulai terjadinya diare, konsistensi feses, frekuensi diare, dan lama terjadinya diare yang diamati selama 5 jam.
Berdasarkan uji statistik ANOVA diperoleh nilai siginifikan setiap parameter uji yaitu p <0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima yang membuktikan bahwa ada perbedaan signifikan antara setiap kelompok perlakuan, dilanjutkan uji beda rata-rata Tukey HSD diperoleh bahwa ekstrak etanol daun sirih dosis 200, 300, dan 400 mg/kgbb memberikan aktivitas antidiare pada tikus putih dengan aktivitas yang paling baik yaitu dosis 400 mg/kgBB
PENGARUH BATUK EFEKTIF TERHADAP PENGELUARAN SPUTUM PADA PASIEN TBC DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TES KABUPATEN LEBONG
ABSTRAK
Tuberkulosis (TB) paru adalah penyakit menular langsung yang menyerang paru–paru. Gejala yang ditimbulkan berupa gejala respiratorik seperti batuk lebih dari 3 minggu, batuk berdarah, sesak nafas, dan nyeri dada. Namun terkadang muncul gejala sistemik seperti penurunan berat badan, suhu badan meningkat, dan malaise. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh batuk efektif terhadap pengeluaran sputum pada pasien TBC di wilayah kerja Puskesmas Tes Kabupaten Lebong. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pra-Eksperimental menggunakan The One Group Pretest-Posttest Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasian yang menderita penyakit TBC paru yang berjumlah 20 orang responden. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data primer yang didapat melalui wawancara dengan petugas penanggung jawab kasus TBC paru, sedangkan data sekunder diperoleh dari data buku register pertahun penyakit TBC paru di Puskesmas Tes. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian didapatkan : (1) 11 orang (55%) jumlah (ml) pengeluaran sputum sebelum teknik batuk efektif baik, dan 9 orang (45%) jumlah (ml) pengeluaran sputum tidak baik; (2) 20 orang (100%) jumlah (ml) pengeluaran sputum sesudah teknik batuk efektif baik; (3) Ada pengaruh batuk efektif terhadap pengeluaran sputum pada pasien TBC paru.. Hasil Uji Wilcoxon Signed Ranks Test didapat nilai Z = -3,669 dengan p-value=0,000<0,05, berarti ada pengaruh batuk efektif terhadap pengeluaran sputum pada pasien TBC di wilayah kerja Puskesmas Tes Kabupaten Lebong. Diharapkan seluruh pasien yang menderita penyakit TBC paru dapat melakukan teknik batuk efektif yang baik untuk pengeluaran sputum.
Kata Kunci : Teknik Batuk Efektif, Pengeluaran Sputum , Tuberkulosis
ABSTRACT
Pulmonary tuberculosis (TB) is a direct infectious disease that attacks the lungs. Symptoms caused by respiratory symptoms such as coughed for more than 3 weeks, coughed up blood, shortness of breath, and chest pain. But sometimes systemic symptoms such as weight loss, increased body temperature, and malaise. This study aims to assess the effect of effective cough on sputum removal in TB patients in the work area of the Lebong District Health Center. The design used in this study was Pre-Experimental used The One Group Pretest Posttest Design. The population in this study were all patients suffering from pulmonary tuberculosis, amounted to 20 respondents. Data collection in this study used primary data obtained through interviews with officers in charge of pulmonary tuberculosis cases, while secondary data was obtained from the year book register of pulmonary tuberculosis at the Puskesmas Tes. Data analysis was performed univariate and bivariate. The results showed: (1) 11 people (55%) the amount (ml) of sputum removal before the cough technique was effective, and 9 people (45%) the amount (ml) of sputum removal was not good; (2) 20 people (100%) the amount (ml) of sputum removal after the cough technique is effective; (3) Effect of effective cough on sputum removal in pulmonary TB patient. Wilcoxon Sign Rank test results obtained value Z = -3.679 with p-value = 0.000 <0.05 means that there was an effective cough effect on sputum removal in TB patients in the work area of the Lebong District Health Center. It is expected that all patients suffering from pulmonary tuberculosis can perform effective cough techniques that are good for sputum removal.
Keywords: Effective Cough Technique, Sputum Removal,Ttuberculosi
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DALAM PEMANFAATAN KARTU MENUJU SEHAT (KMS) DENGAN STATUS GIZI BALITA TAHUN 2019
ABSTRAK
Meningkatkan pemanfaatan kartu menuju sehat (KMS) merupakan salah satu upaya untuk memantau status gizi balita guna mencegah terjadinya kekurangan gizi atau gizi berlebih pada balita. Apabila Ibu tidak memiliki pengetahuan yang baik tentang KMS untuk memantau status gizi balita hal ini akan berdampak buruk bagi balita dimana balita akan mengalami keterlambatan diberikan tindakan oleh petugas kesehatan akibat ibu yang tidak segera melaporkan status gizi balita pada saat balitanya tidak mengalami kenaikan berat badan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang pemanfaatan kartu menuju sehat (KMS) dengan status gizi balita di Posyandu Melati X Kelurahan Simpang Selayang Tahun 2019. Jenis penelitian ialah observasi analitik dengan rancangan cross sectional. Pengambilan Sampel dilakukan dengan purposive sampling berdasarkan criteria inklusi dan besar sampelnya 39 orang data yang diambil menggunakan kuisioner analisis data menggunakan uji Chi Square dengan α <0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan pengetahuan ibu tentang pemanfaatan kartu menuju sehat (KMS) dengan status gizi balita (p=0,000). Disarankan kepada petugas kesehatan Posyandu Melati X untuk meningkatkan pengetahuan pemanfaatan KMS ibu guna memantau status gizi balita agar balita tidak mengalami status gizi yang kurang, buruk atau berlebih.
Kata kunci : Pengetahuan, Kartu Menuju Sehat (KMS), Status Gizi Balit
PENGARUH SEDIAAN EKSTRAK KERING DAUN KELOR (Moringa oleifera Lmk.) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL TOTAL DARAH TIKUS PUTIH JANTAN GALUR WISTAR
Hypercholesterolemia is a risk factor for stroke and coronary heart disease. This is due to the increased levels of LDL (Low Density Lipoprotein) which caused buildup of blood on vessel walls and form plaques that cause ateroschelosys, which is hardening and narrowing of blood vessels. Moringa (Moringa oleifera Lmk.) leaves is a plant that can be used to lower the cholesterol levels. This study aimed to determine the effects of Moringa leaves that made in the preparation of the dry extract to the decrease of total cholesterol levels of male mice fed a high-fat diet and to determine the effective dose.
The rats were divided into 6 groups, each consisting of 5 rats. Measurement of total cholesterol levels on day 0, day 14, and day 28. The hypercholesterolemia conditions done by feeding a high fat diet that is lard and yolk for 14 days. The dry extract preparation test given after the mice had hypercholesterolemia. The dose of Moringa leaf dry extract preparation on mice was given a dose I: 32 mg/200 g BW, dose II: 63 mg/200 g BW, and dose III: 95 mg/200 g BW. The positive control used was simvastatin and CMC negative controls of 0.5%, while for untreated normal controls, only fed BR II alone. Test preparation is administered for 14 days, and then the data were analyzed by one way ANOVA.
The results showed the decrease in total cholesterol levels in all three dose variation of Moringa leaf dry extract dosage on day 28. The dry extracts preparations dose of 32 mg/200 g BW showed cholesterol-lowering equal to the effect of simvastatin.
Keywords: dry extract, moringa leaves, total cholesterol level, simvastatin.Hiperkolesterolemia merupakan salah satu faktor penyebab stroke dan jantung koroner. Hal ini disebabkan karena terjadinya peningkatan kadar LDL (Low Density Lipoprotein) yang menyebabkan terjadinya penumpukan pada dinding pembuluh darah dan membentuk plak sehingga menyebabkkan ateroskelosis, yaitu pengerasan dan penyempitan pembuluh darah. Daun kelor (Moringa oleifera Lmk.) merupakan tanaman yang dapat digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek daun kelor yang dibuat dalam sediaan ekstrak kering terhadap penurunan kadar kolesterol total tikus putih jantan yang diberi diet tinggi lemak dan untuk mengetahui dosis efektifnya.
Tikus-tikus dibagi menjadi 6 kelompok masing-masing terdiri dari 5 ekor tikus. Pengukuran kadar kolesterol total dilakukan pada hari ke 0, hari ke 14, dan hari ke 28. Kondisi hiperkolesterolemia dilakukan dengan pemberian pakan diet tinggi lemak yaitu lemak babi dan kuning telur selama 14 hari. Sediaan uji ekstrak kering diberikan setelah tikus mengalami hiperkolesterolemia. Dosis sediaan ekstrak kering daun kelor yang diberikan pada tikus adalah dosis I : 32 mg/200 g BB, dosis II : 63 mg/200 g BB, dan dosis III : 95 mg/200 g BB. Kontrol positif yang dipakai adalah simvastatin dan kontrol negatif CMC 0,5 %, sedangkan untuk kontrol normal tidak diberi perlakuan, hanya diberi pakan BR II saja. Sediaan uji diberikan selama 14 hari, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA satu jalan.
Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan kadar kolesterol total pada ketiga variasi dosis sediaan ekstrak kering daun kelor pada hari ke 28. Sediaan esktrak kering dosis 32 mg/200 g BB menunjukkan efek penurunan kadar kolesterol yang setara dengan efek simvastatin.
Kata kunci : Ekstrak kering, daun kelor, kadar kolesterol total, simvastatin