Ejournal of industrial system portal (Kementerian Perindustrian)
Not a member yet
3118 research outputs found
Sort by
Studi perbandingan adsorpsi Rhodamin B menggunakan karpel buah roda teraktivasi asam dan basa
Studi perbandingan adsorpsi Rhodamin B dalam larutan telah dilakukan menggunakan adsorben karpel buah roda teraktivasi asam dan basa. Adsorben diaktivasi menggunakan HNO3 0,01M dan NaOH 1%. Metoda yang digunakan dalam adsorpsi Rhodamin B dengan variasi parameter yang mempengaruhi kapasitas adsorpsi diantaranya, pH larutan, waktu kontak, bobot adsorben, dan konsentrasi larutan yaitu dengan metode batch. Interpretasi data adsorpsi Rhodamin B menggunakan model isoterm Langmuir, Freundlich, Temkin dan Dubinin–Radushkevich. Pengukuran kapasitas adsorpsi dari nilai penurunan konsentrasi Rhodamin B menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 555 nm. Kapasitas adsorpsi maksimum Rhodamin B oleh karpel buah roda teraktivasi asam dan basa masing-masing sebesar 57,80 mg/g dan 48,30 mg/g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adsorben karpel buah roda merupakan adsorben yang potensial dalam menurunkan konsentrasi Rhodamin B dalam larutan
Formulasi katekin dari gambir dan vitamin C dalam pembuatan sabun wajah
Uncaria gambir Roxb dengan kandungan utama katekin, memiliki sifat daya astringensia, antibakteri, dan antioksidan. Aktivitas antioksidan dari katekin berfungsi bagi kesehatan kulit, dan mampu mempertahankan kekuatan dan elastisitas kulit. Katekin dari gambir memiliki stabilitas rendah pada pH lebih besar dari 7, sedangkan pH produk sabun yang dihasilkan antara pH 9-10. Peningkatan stabilitas katekin dari gambir dapat dilakukan dengan mengatur kondisi pH formula dengan vitamin C yang bersifat asam dan menurunkan nilai pH formula. Uji coba pembuatan sabun wajah menggunakan katekin dalam jumlah tetap dan variasi vitamin C bertujuan untuk mengetahui konsentrasi vitamin C yang dapat meningkatkan stabilitas katekin dan sifat fisik sabun selama masa penyimpanan. Sabun dibuat dengan metode setengah panas (semi-boiled), produk dalam bentuk padat, diformulasikan dengan bahan dasar NaOH, aquades, minyak, yaitu minyak zaitun dan VCO. Konsentrasi vitamin C yang ditambahkan adalah 5%, 10% dan 15% dengan kandungan katekin sebanyak 5%. Evaluasi sediaan meliputi warna, aroma, kadar air, pH, daya stabilitas dan iritasi pada kulit. Hasil uji coba menunjukkan semua formula memenuhi persyaratan evaluasi fisik, bentuk padat, warna krem kecoklatan, dan seluruh sabun beraroma khas katekin. Sabun dengan kandungan ekstrak katekin sebanyak 5% dan penambahan vitamin C 15% (F3) memiliki kualitas yang paling baik dan memenuhi standar pembersih wajah menurut SNI 16-4380-1996, yaitu stabilitas 84%, kadar air 3,22%, pH 6 dan tidak mengiritasi kulit
Inovasi sala lauk substitusi kacang merah dan ikan lele sebagai cemilan ibu hamil
Anemia pada ibu hamil dapat dicegah dengan mengkonsumsi bahan pangan yang mengandung zat besi dan protein. Bahan pangan yang mengandung zat besi dan protein diantaranya kacang merah dan ikan lele. Pengembangan inovasi makanan yang mengandung zat besi dan protein dilakukan dalam pembuatan produk sala lauk kacang merah dan ikan lele. Sala lauk merupakan salah satu makanan tradisional yang berasal dari daerah Pariaman, Sumatera Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula terbaik dari susbtitusi kacang merah dam ikan lele dalam pembuatan sala lauk, mengetahui tingkat kesukaan dan kandungan gizi dari sala lauk kacang merah dan ikan lele (kadar proksimat dan zat besi). Metode Penelitian menggunakan Reseacrh and Devolopment (R&D) dengan model 4D yaitu menentukan (define), merancang (design), mengembangkan (develop), dan menyebarluaskan (disseminate). Hasil uji organoleptik kepada 80 panelis menunjukkan rata-rata produk acuan sebesar 3,5 (agak disukai) dan produk pengembangan sebesar 4.0 (disukai). Pengujian kandungan gizi pada sala lauk kacang merah dan ikan lele per 100 g menghasilkan protein 6.10 g, lemak 8.81 g, karbohidrat 31.77 g, energi 230.71 g, dan zat besi 1.33 mg/100g. Berdasarkan kandungan gizi produk sala lauk kacang merah dan ikan lele terpilih diharapkan dapat menjadi makanan alternatif pencegah anemia pada ibu hamil
Utilization of cassava peel waste (Manihot esculenta L.) with concentration variations of α-amylase and glucoamylase enzymes for liquid sugar
The production of liquid sugar utilizing cassava peel waste has been carried out in this study. The method used in the production of liquid sugar employs an enzymatic method. The stages in the enzymatic method are the liquefaction and saccharification processes. The liquefaction process involves the addition of α-amylase in varying amounts to break down starch into amylose and amylopectin. The saccharification stage aims to hydrolyze dextrins into liquid sugar using glucoamylase enzymes. The volumes of enzymes used were 0.2 mL and 0.6 mL. The research results indicate that the moisture content and ash content are in accordance with the Indonesian National Standard (SNI) 8779:2019, at 6.19% and 0.76%, respectively. Qualitative analysis of cassava peel starch shows positive results for amylum, dextrins, and glucose content. FTIR analysis of cassava peel starch reveals the presence of O-H groups, C-H groups, and C-O-C groups. Total Soluble Solid (TSS) testing for 0.2 mL and 0.6 mL enzyme volumes resulted in 12.56% and 17.37%, respectively. The optimum results for liquefaction and saccharification were observed with the addition of 0.2 mL enzyme volume. The functional groups of the liquid sugar were analyzed using FTIR, which showed the presence of O-H stretching, carbonyl groups (C=O), stretching vibration of C-OH, and vibration of glycosidic bonds C-O-C
PEMBUATAN CHIP POLIESTER ANTIBAKTERI MENGGUNAKAN SENYAWA ANTIBAKTERI NANOPARTIKEL PERAK
Pembuatan tekstil antibakteri dapat dilakukan dengan berbagai metode diantaranya yaitu melakukan penyempurnaan kain dengan senyawa antibakteri melalui metode konvensional misalnya metode pad dry cure. Metode lain yang dapat digunakan adalah dengan memberikan senyawa antibakteri pada bahan baku serat sintetik sebelum proses pembuatan serat. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan chip poliester (PET) antibakteri sebagai bahan baku untuk pembuatan serat poliester antibakteri. Pada proses pembuatan chip PET antibakteri, digunakan senyawa nanopartikel perak (AgNP) dari proses sintesis AgNO3 dengan ampas kulit jeruk nipis sebagai agen pereduksi. Pada saat sintesis AgNP, digunakan PEG 6000 sebagai zat penstabil untuk menghindari aglomerasi. Aplikasi AgNP hasil sintesis ke dalam chip PET dilakukan dengan metode High Temperature High Pressure (HTHP). Karakterisasi hasil sintesis AgNP menggunakan 1 mM AgNO3 dan polietilena glikol (PEG) 6000 dengan perbandingan mol 10:1 menghasilkan AgNP dengan ukuran 67 nm dan tetap stabil selama 4 hari. Hal ini ditunjukkan dengan tidak terjadinya perubahan panjang gelombang maksimum, intensitas puncak, dan lebar puncak absorbansi UV Vis. Imobilisasi AgNP pada PET menghasilkan chip PET (PET-AgNP) yang memiliki sifat antibakteri. Hasil pengujian aktivitas antibakteri PET-AgNP yang dihasilkan menunjukkan bahwa PET-AgNP memiliki sifat aktivitas antibakteri pada bakteri Staphylococcus aureus ATCC 6538 dengan rata-rata diameter zona penghambatan sebesar 4,78 mm
Kesenian Jaran Bodhag Probolinggo sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Motif Batik Tulis pada Outwear Semi-Formal
Kesenian Jaran Bodhag Probolinggo mengalami pasang surut dalam modernitas, masih belum cukup dikenal oleh masyarakat luar maupun dalam Probolinggo. Kesenian pertunjukkan yang berakar sejarah dari Jaran Kencak tercipta sebuah kesenian masyarakat dengan modifikasi bentuk imitasi kepala kuda dan Bodhag dalam bahasa Madura yang berarti “wadah/tudung nasi”, dihiasi sedemikian rupa dan tercipta sebuah artifisial jaranan. Penulis memiliki ketertarikan pada bentuk Jaran Bodhag untuk dituangkan pada batik tulis dalam outerwear semi-formal untuk meningkatkan daya tarik gaya berbusana batik yang cenderung monoton pada kalangan usia remaja-dewasa. Penciptaan ini bertujuan untuk menggaungkan kesenian Jaran Bodhag Probolinggo juga mendeskripsikan ide konsep, proses visualisasi, dan hasil motif batik tulis pada bentuk outerwear semi-formal. Penelitian ini menggunakan metode penciptaan yang dikemukakan oleh SP. Gustami yang terdiri dari tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Hasil penciptaan karya ini terdapat tiga jenis outer antara lain: Beden Sokmah Jaran Bodhag (Vest), Demslendeman (Jacket), Gal Megol (Crop Top Bolero). Hasil penciptaan karya tersebut menjadi salah satu upaya bentuk inventarisasi motif baru dan pelestarian kesenian lokal dalam wujud karya batik
Front Matter Jurnal Litbang Industri Vol. 13 No. 1 Juni Tahun 2023
Front Matter Jurnal Litbang Industri Vol. 13 No. 1 Juni Tahun 202
Effect of hydrothermal time on the hydrochar characteristics of galam (Malaleuca leucadendra) bark and application tests as methylene blue adsorbent
Production of galam wood produces bark waste that is disposed in around of the production site without processing. The use of galam bark waste is very necessary to reduce waste and its problems in the environment and optimize the potential of galam wood as a typical Kalimantan plant. In this research, modification of galam bark biomass (Malaleuca leucadendra) into hydrochar through a hydrothermal process with variations of hydrothermal time and its use for methylene blue adsorbent has been done. The hydrothermal process was carried out at the temperature of 200˚C for 3 hours, 6 hours, and 12 hours. The characterization of hydrochar substrate using FTIR (Fourier Transform Infrared Spectroscopy) showed the decrease in absorption intensity of 47% and a shift in several wavenumbers. The characterization using SEM (Scanning Electron Microscope) showed that there are morphological changes on the surface of the hydrochar become to more holes after the hydrothermal process. The optimum condition for adsorption occurred at pH 7 for 10 minutes. The adsorption capacity of methylene blue increased from 44.70 mg/g to 45.82, 46.17, and 46.90 mg/g after hydrothermal process. The results also showed that the adsorption followed the Freundlich isothrm which showed a tendency for multilayer interactions on the surface of the galam barks after the hydrothermal process
Strategi Pengembangan UMKM Kerajinan Caping dari Tanaman Mengkuang Berbasis Ekonomi Kreatif di Kota Pontianak
Keterbatasan bahan baku, pemasaran yang belum luas, tenaga kerja yang belum memadai, kurangnya keterampilan dalam manajemen, serta pembuatan kerajinan dan belum adanya standar kualitas produk untuk bersaing agar dapat ke pasar nasional, menyebabkan UMKM ini tidak dapat berkembang dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis strategi yang tepat untuk pengembangan UMKM. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari informan kunci yaitu Dinas Koperasi dan UMKM, pengurus UMKM, ketua pengrajin dan Akademi Ide Kalimantan (AIKAL) dan informan biasa terdiri dari pengrajin, distributor, dan pesaing. Penelitian menggunakan deskriptif kualitatif dengan metode studi kasus untuk mendeskripsikan profil UMKM kerajinan caping pontianak dan menganalisis faktor internal serta eksternal untuk merumuskan strategi pengembangan UMKM caping pontianak. Hasilnya menunjukan bahwa alternatif strategi terletak pada kuadran SO (Strengths-Opportunities) yaitu terdiri dari: 1) efisiensi biaya pendistribusian bahan baku; 2) memanfaatkan secara optimal digital marketing sebagai media promosi produk UMKM; 3) menciptakan keterkaitan jalinan usaha kemitraan antara lembaga keuangan dan UMKM; 4) menjaga permintaan produk dan kelangsungan pasokan bahan baku; 5) menyelenggarakan pendampingan dan pelatihan untuk membantu keuangan umkm; 6) meyakinkan pihak investor sehingga terbukanya lapangan pekerjaan
Eksplorasi Formula dan Kandungan Gizi Dodol dengan Penambahan Daun Kelor (Moringa oleifera) dan Kacang hijau (Vigna radiata)
ABSTRAK: Daun kelor dan kacang hijau merupakan salah satu komoditi pangan yang memiliki potensi untuk dapat dikembangkan dan memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi tubuh. Pemanfaatan daun kelor dan kacang hijau dapat dilakukan dengan cara mengembangkan dalam produk olahan seperti dodol. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi formula terbaik dodol dengan penambahan daun kelor dan kacang hijau serta kandungan nutrisinya. Penelitian ini merupakan Research and Development yang menggunakan model 4D yaitu define, design, development dan disseminate. Uji organoleptik dilakukan pada 30 panelis dengan borang uji organoleptik. Uji kandungan gizi dilakukan dengan uji proksimat (kadar air, abu protein, lemak, karbohidrat by difference) dan total vitamin C. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan uji paired t-test. Formula terbaik dodol yaitu formula 50% daun kelor dan 50% kacang hijau. Hasil uji kandungan gizi dodol dengan penambahan daun kelor dan kacang hijau terdiri dari kadar air 20,44%, kadar abu 1,58%, protein 4,43%, lemak 4,39%, karbohidrat 80,11% dan vitamin C 4,91%. Penambahan daun kelor dan kacang hijau dengan perbandingan 50%:50% secara efektif dapat diterima dan memiliki kandungan gizi yang baik dibutuhkan oleh tubuh