Ejournal of industrial system portal (Kementerian Perindustrian)
Not a member yet
3118 research outputs found
Sort by
SII Kursi Dan Meja Untuk Siswa Sekolah Lanjutan
Dalam usaha menciptakan suasana nyaman dan sehat selama proses belajar mengajar di sekolah lanjutan, maka diperlukan sarana antara lain kursi dan meja. Kursi meja tersebut hendaknya sesuai dengan porsi tubuh siswa dan dapat berfungsi sebagai penyangga tubuh dalam posisi duduk dan menulis, sehingga tidak menimbulkan gangguan perkembangan tubuh siswa. Penyusunan SII kursi meja sekolah lanjutan dilakukan melalui pendekatan antropometri dan ergonomi yang meliputi pengelompokan tinggi tubuh dan penentuan syarat ukuran, penjajagan/uji lapangan untuk kesesuaian dalam pemakaian, kemudian disusun konsep sii. Pembahasan konsep sii menghasilkan 4 (empat) buah dokumen sii kursi dan meja belajar untuk smtp dan smta dari bahan kayu
Alat Pengolah Sabut Kelapa Bagi Usaha Kecil
Pengolahan sabut kelapa menjadi serat sabut kelapa telah dilakukan secara sederhana oleh para perajin, yaitu dengan cara direndam yang memerlukan waktu lama sehingga produktivitasnya rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk memperoleh prototip alat pengolah sabut kelapa yang dapat meningkatkan produktivitas dan sesuai bagi usaha kecil.Penelitian ini menghasilkan alat pengolah sabut kelapa jenis mesin pemisah serat kelapa dengan silinder bersisir (defibring machine) yang diberi kode pengenal MSK-M1. Alat ini menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di pasaran seperti: besi siku, as, bantalan peluru, multiplex, baut-mur dan sekrup kayu. Pembuatan alat ini meliputi pekerjaan-pekerjaan: potong bubut dan las; sehingga dapat dilaksanakan di bengkel kontruksi kecil.Pada uji coba di lapangan alat ini dapat menghasilkan serat kelapa kering sebanyak 3,675 s/d 4,757 kg per jam. Hasil perhitungan ekonomis menunjukkan bahwa usaha pengolahan sabut menjadi serat sabut dengan menggunakan MSK-M1 ini cukup layak untuk dilaksanakan sebagai usaha industri kecil. Pengolahan sabut kelapa menjadi serat sabut kelapa telah dilakukan secara sederhana oleh para perajin, yaitu dengan cara direndam yang memerlukan waktu lama sehingga produktivitasnya rendah. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian untuk memperoleh prototip alat pengolah sabut kelapa yang dapat meningkatkan produktivitas dan sesuai bagi usaha kecil.Penelitian ini menghasilkan alat pengolah sabut kelapa jenis mesin pemisah serat kelapa dengan silinder bersisir (defibring machine) yang diberi kode pengenal MSK-M1. Alat ini menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh di pasaran seperti: besi siku, as, bantalan peluru, multiplex, baut-mur dan sekrup kayu. Pembuatan alat ini meliputi pekerjaan-pekerjaan: potong bubut dan las; sehingga dapat dilaksanakan di bengkel kontruksi kecil.Pada uji coba di lapangan alat ini dapat menghasilkan serat kelapa kering sebanyak 3,675 s/d 4,757 kg per jam. Hasil perhitungan ekonomis menunjukkan bahwa usaha pengolahan sabut menjadi serat sabut dengan menggunakan MSK-M1 ini cukup layak untuk dilaksanakan sebagai usaha industri kecil.
Penelitian Pengaruh Derajat Keasaman Pada Pencelupan Batik Sutera
Keterbatasan sifat bahan sutera untuk batik telah mendorong dilakukannya penelitian mengenai optimalisasi proses pencelupan. Dalam penelitian ini dilakukan pencelupan sutera dengan zat warna reaktif dan indigosol dengan variasi pH:4, 5, 6 , 7 dan 8. Sebagai pembanding dilakukan pencelupan untuk kedua zat warna tersebut pada kondisi normal. Dari hasil pengujian ternyata derajat keasaman berpengaruh terhadap kekuatan tarik dan beda warna. Penelitian memberikan hasil terbaik untuk penggunaan zat warna reaktif pada kisaran pH: 7-9 sedang untuk zat warna indigosol pada kisaran pH : 3-5
Pewarnaan Serat Sabut Kelapa Sebagai Bahan Baku Siap Pakai Untuk Industri Kerajinan
Pengolahan serat sabut kelapa menjadi bahan baku siap pakai untuk industri kerajinan antara lain adalah proses pewarnaan termasuk didalamnya proses pemutihan. Proses pemutihan dilakukan dengan cara panas dan dingin, untuk proses pewarnaan menggunakan zat warna direk, basa, naphtol, reaktif dan bejana. Proses pemutihan dengan cara panas pada temperatur 85°C - 90°C memberikan hasil yang relatif lebih putih bila dibandingkan dengan pemutihan cara dingin, akan tetapi dapat menurunkan kekuatan tariknya, yaitu 9,7% untuk pemutihan cara panas dan 5,6% untuk cara dingin. Pewarnaan dengan zat warna basa memberikan hasil ketuaan warna yang baik (nilai rangking 5), sedang dengan zat warna reaktif memberikan hasil ketahanan luntur warna terhadap gosokan (nilai 4), sinar (nilai 4-5) dan pencucian (nilai 4-5) yang lebih baik dibandingkan dengan zat warna na[htol, basa, direk dan bejana
Penelitian Penggunaan Zat Warna Prada
Zat warna prada adalah sejenis zat warna metal. Di pasaran terdapat dua bentuk zat warna prada yaitu bentuk bubuk dan bentuk apsta, sedang warnanya terdiri dari dua macam warna yaitu warna eemas dan warna perak. Penggunaan zat warna prada selain untuk batik juga digunakan untuk bahan sandang lainnya misalnya tekstil kerajinan seperti sasirangan, jumputan dan tenun ikat dengan maksud untuk mendapatkan diversifikasi produk serta meningkatkan nilai tambahnya. Di dalam penelitian ini pasta dibuat dari zat wana prada bentuk pasta warna emas, zat warna prada bentuk bubuk warna emas dan warna perak. Sedangkan zat pembantu yang digunakan adala binder metalik, katalis DAP dan polysol. Pasta prada kemudian dilekatkan pada kain dengan menggunakan canting tulis. Keenceran pasta prada diatur dengan penambahan air. Dari hasil evaluasi terlihat bahwa pasta prada yang dibuat dari zat warna prada emas berbentuk pasta zat warna prada bentuk zat warna emas dan perak dan binder dengan perbandingan 1:5, atau campuran keduanya dengan perbandingan 1:1 sampai 1:2 merupakan pasta prada yang cukup baik digunakan, baik dalam kelancaran pelekatan maupun ketahanan luntur terhadao pencucian, gosokan dan sinar. Di dalam penelitian ini pasta dibuat dari zat wana prada bentuk pasta warna emas, zat warna prada bentuk bubuk warna emas dan warna perak. Sedangkan zat pembantu yang digunakan adala binder metalik, katalis DAP dan polysol. Pasta prada kemudian dilekatkan pada kain dengan menggunakan canting tulis. Keenceran pasta prada diatur dengan penambahan air. Dari hasil evaluasi terlihat bahwa pasta prada yang dibuat dari zat warna prada emas berbentuk pasta zat warna prada bentuk zat warna emas dan perak dan binder dengan perbandingan 1:5, atau campuran keduanya dengan perbandingan 1:1 sampai 1:2 merupakan pasta prada yang cukup baik digunakan, baik dalam kelancaran pelekatan maupun ketahanan luntur terhadao pencucian, gosokan dan sinar.
Penelitian Persyaratan Iratan Agel Sebagai Bahan Baku Bagor
Agel merupakan salah satu serat alam yang diperoleh dari proses pengiratan daun muda (pucuk) pohon gebang (corypha gabanga BL), dan bagor merupakan salah satu produk kerajinan yang dibuat dari agel. Bagor yang dijual di pasaran pada umumnya dibedakan menjadi 3 kelas mutu: halus, sedang, dan kasar. Pembagian kerlas mutu tersebut belum jelas dasarnya sehingga penilaian mutu bagor masih tergantung pada selera perorangan. Karena itu dilakukan penelitian guna memperoleh dasar penentuan mutu bagor. Penelitian dilakukan dengan melakukan pengujian terhadap serat agel sebagai bahan baku bagor, dan terhadap serat agel yang diambil dari anyaman bagor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persyaratan agel sebagai bahan baku agel terbagi atas beberapa kelas sesuai dengan penggunaannya, yaitu: mutu I (halus) mutu II (sedang), dan mutu III (kasar)
Teknologi Pembengkokan Kayu
Kerajinan kayu merupakan kerajinan yang membutuhkan komponen dengan bentuk yang bermacam-macam, antara lain bentuk bengkok/lengkung. Pada waktu memotong menjadi bentuk lengkung akan mengakibatkan banyak kayu yang terbuang dan pengerjaannyapun relatif lebih sulit. Untuk itu diperlukan teknologi pembengkokan kayu yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan kayu dan pengerjaan yang lebih cepat dan mudah.Pada penelitian int dilakukan pembengkokan 5 jenis kayu, yaitu Jati, Kruing, Kamper, Mahoni, Meranti dengan sistem steaming, dan variasi perlakuan waktu perendaman, waktu steaming, tebal kayu. Evaluasi dilakukan dengan cara pengamatan langsung pada hasil pembengkokan. Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa kayu mahoni dapat dibengkokkan dengan baik (tidak pecah) sampai ketebalan 3 cm hampir pada semua variasi rendaman dan steaming. Kayu meranti dapat dibengkokkan dengan baik pada ketebalan 2 cm dan 3 cm untuk perlakuan dengan rendaman kostik 48 jam maupun air 7 hari dengan pemberian tekanan 2 atmosfir. Kayu kamper dan jati dapat dibengkokkan cukup baik pada tebal 2 cm dengan perendaman air J mi11ggu, steaming dengan a tau tanpa tekanan. Kayu kruing tidak dapat dibengkokkan dengan baik pada semua ukuran teba/ maupun semua perlakuan.Kerajinan kayu merupakan kerajinan yang membutuhkan komponen dengan bentuk yang bermacam-macam, antara lain bentuk bengkok/lengkung. Pada waktu memotong menjadi bentuk lengkung akan mengakibatkan banyak kayu yang terbuang dan pengerjaannyapun relatif lebih sulit. Untuk itu diperlukan teknologi pembengkokan kayu yang diharapkan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan kayu dan pengerjaan yang lebih cepat dan mudah.Pada penelitian int dilakukan pembengkokan 5 jenis kayu, yaitu Jati, Kruing, Kamper, Mahoni, Meranti dengan sistem steaming, dan variasi perlakuan waktu perendaman, waktu steaming, tebal kayu. Evaluasi dilakukan dengan cara pengamatan langsung pada hasil pembengkokan. Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa kayu mahoni dapat dibengkokkan dengan baik (tidak pecah) sampai ketebalan 3 cm hampir pada semua variasi rendaman dan steaming. Kayu meranti dapat dibengkokkan dengan baik pada ketebalan 2 cm dan 3 cm untuk perlakuan dengan rendaman kostik 48 jam maupun air 7 hari dengan pemberian tekanan 2 atmosfir. Kayu kamper dan jati dapat dibengkokkan cukup baik pada tebal 2 cm dengan perendaman air J mi11ggu, steaming dengan a tau tanpa tekanan. Kayu kruing tidak dapat dibengkokkan dengan baik pada semua ukuran teba/ maupun semua perlakuan
Pelapisan Barang Kerajinan Tembaga Dan Kuningan Dengan Metode Elektroplating
Kerajinan tembaga dan kuningan mudah mengalami korosi dan berubah warnanya karena pengaruh udara. Pelapisan barang kerajinan dengan emas dan perak dimaksudkan untuk memperindah benda aslinya, serta untuk mencegah korosi.Penelitian ini dilakukan dengan mencoba melapiskan emas dan perak secara elektroplanting pada cincin tembaga dan kuningan, dengan variasi lama pelapisan. Kemudian hasil pelapisan diuji dengan pengujian secara gosokan, dan pengujian ketahanan terhadap keringat dengan menggunakan keringat buatan yang bersifat asam.Hasil percobaan menunjukkan bahwa lapisan emas dan perak cukup berbeda ketahanannya, dan pelapisan emas yang didahului dengan pelapisan perak hasilnya tidak jauh berbeda dengan pelapisan emas langsung kepada logam dasarnya. Sementara itu hasil pengujian ketahanan terhadap keringat menunjukkan bahwa pelapIsan emas/perak terhadap kuningan lebih baik daripada pelapisan terhadap tembaga.Kerajinan tembaga dan kuningan mudah mengalami korosi dan berubah warnanya karena pengaruh udara. Pelapisan barang kerajinan dengan emas dan perak dimaksudkan untuk memperindah benda aslinya, serta untuk mencegah korosi.Penelitian ini dilakukan dengan mencoba melapiskan emas dan perak secara elektroplanting pada cincin tembaga dan kuningan, dengan variasi lama pelapisan. Kemudian hasil pelapisan diuji dengan pengujian secara gosokan, dan pengujian ketahanan terhadap keringat dengan menggunakan keringat buatan yang bersifat asam.Hasil percobaan menunjukkan bahwa lapisan emas dan perak cukup berbeda ketahanannya, dan pelapisan emas yang didahului dengan pelapisan perak hasilnya tidak jauh berbeda dengan pelapisan emas langsung kepada logam dasarnya. Sementara itu hasil pengujian ketahanan terhadap keringat menunjukkan bahwa pelapIsan emas/perak terhadap kuningan lebih baik daripada pelapisan terhadap tembaga