E-Journal USD (Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)
Not a member yet
3017 research outputs found
Sort by
Pengaruh Enuma Elish dalam Penafsiran Kitab Daniel 7:2-14
This research examines the influence of Enuma Elish, a Babylonian creation myth, on the interpretation of Daniel 7:2-14. Enuma Elish, as an ancient mythological literary work, contains cosmological elements and symbolism that may have influenced the understanding of the symbols found in the Book of Daniel. Through textual and contextual analysis, this study explores the possible relationship between the narratives of Enuma Elish and Daniel 7:2-14. The purpose of this research is to understand the meaning of the symbol of the 'Son of Man' (a similarity between the two texts). This Son of Man has a similar vision in both Enuma Elish and Daniel 7:1-14, namely to destroy evil and restore the earth to its original state. The author uses the literature review method to determine the similarities and the extent of the influence of the Enuma Elish text on Daniel 7:1-14. Finally, the author explains the meaning of these similarities and differences, namely the hope in the Son of Man and Anshar.AbstrakPenelitian ini mengkaji pengaruh Enuma Elish, sebuah mitos penciptaan Babilonia , terhadap penafsiran terhadap penafsiran Kitab Daniel 7:2-14. Enuma Elish, sebagai karya sastra mitologis kuno, memiliki unsur-unsur kosmologi dan simbolisme yang kemungkinan dapat mempengaruhi pemahaman terhadap simbol-simbol yang ditemukan dalam kitab Daniel. Melalui analisis tekstual dan kontekstual, penelitian ini mengeksplorasi kemungkinan hubungan antara narasi Enuma Elish dan Kitab Daniel 7:2-14. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui secara pemaknaan simbol anak manusia (kesamaan dari kedua teks). Anak manusia ini mempunyai visi yang sama dari teks Enuma Elish dan Daniel 7:1-14, yakni menghancurkan yang jahat dan merestorasi kembali keadaan bumi agar normal kembali seperti mulanya. Penulis menggunakan metode Pustaka untuk menganalisa terlebih dahulu untuk mengetahui persamaan dan sejauh mana pengaruh teks Enuma Elish dalam kitab Daniel 7: 1-14. Penulis menjelaskan makna dari persamaan dan perbedaan tersebut, yakni pengharapan dalam anak manusia dan Anshar
Memahami Pluralitas Kemanusiaan dalam Pandangan Axel Honneth dan Y.B. Mangunwijaya
Indonesia’s rich tapestry of religion, culture, tribe, race, and ethnicity has led to a diverse and pluralistic society. However, over time, this diversity has been scrutinized, and instances of radicalism and violence in the name of religion and belief have become more frequent. To address these issues, the perspectives of Axel Honneth and Y.B. Mangunwijaya offer valuable insights into fostering humanitarian attitudes through the adaptation process. This study employs literature review and comparative analysis methods. Findings indicate that embracing plurality with a focus on human values is crucial for cultivating personal awareness of individual dignity. This awareness is essential for bridging divides and dismantling barriers that threaten national unity. Continuous conflict will persist if differences are always viewed with suspicion rather than as a source of richness. As Mangunwijaya noted, a nation cannot mature if it perceives differences as problems rather than assets. To advance towards a mature society, human values must underpin religious teachings, as this is the path to unity and peace. Similarly, Axel Honneth emphasizes the importance of recognition in overcoming social injustices and achieving liberation.AbstrakKehadiran agama, budaya, suku, ras, dan etnis di Indonesia telah menghasilkan keragaman dan pluralitas kehidupan berbangsa. Namun seiring berjalannya waktu, keragaman dan pluralitas itu dipertanyakan, manakala radikalisme dan kekerasan dengan mudahnya terjadi atas nama agama dan kepercayaan. Isu-isu tersebut bisa ditanggapi dengan pemikiran Axel Honneth dan Romo Mangunwijaya yang pada pokoknya menawarkan perspektif solutif terkait proses adaptasi demi membangun sikap kemanusiaan. Untuk itu, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi literatur dan analisis komparatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pluralitas perlu disikapi dengan keutamaan nilai kemanusiaan untuk menumbuhkan kesadaran pribadi akan harkat dan martabat hidup setiap orang. Kesadaran ini menjadi kunci untuk menjembatani ‘jarak’ dan merobohkan ‘sekat’ ataupun ‘tembok’ yang seringkali menjadi ancaman bagi persatuan dan kesatuan bangsa. Bangsa ini akan terus berada dalam konflik apabila perbedaan selalu dipersoalkan demi mencari pembenaran. Seperti yang dikatakan Romo Mangunwijaya, negara ini tidak akan dewasa jika perbedaan dilihat sebagai masalah dan bukan sebagai kekayaan. Oleh karena itu, dalam menuju negara yang dewasa, nilai kemanusiaan harus menjadi dasar ajaran bagi setiap agama karena hanya inilah yang mampu membawa kita pada persatuan dan kedamaian. Dalam nada yang sama dengan menekankan aspek kemanusiaan, Axel Honneth pun hadir dengan konsepnya tentang pengakuan. Di sini Honneth mau menunjukan betapa pentingnya aspek pengakuan dalam upaya pemerdekaan – mengatasi bentuk-bentuk ketidakadilan yang menimpa manusia sebagai subjek dalam tatanan sosial
Iman Pribadi dan Komunal: Sebuah Tinjauan Teologis atas Teks Lukas 7:1-10
Luke 7:1–10 is frequently seen as a story of a miraculous cure. Yet, if we examine more closely, it seems that the text tells of a person’s growing faith, which cannot be isolated from his social surroundings. On the one hand, faith is a matter of one’s connection with God, making it a personal affair. On the other hand, faith is communal since it involves interaction with many people as faith grows. In the text, we encounter three main characters who are trying to participate in bringing a servant healed, through their respective expressions of faith. The first one is the Roman centurion, who commands two different groups to converse with Jesus: some Jewish elders (v.3) and his friends (v.6). These Jewish elders are the second character, and they thank the centurion for being their benefactor (v.5). His friends, who make up the third character, convey his personal long message directly to Jesus (vv. 6-8). This article is interested in examining the intersections between the centurion’s personal faith and the communal faith of these two groups. By employing a narrative criticism, that is a characterization, this article explores how Luke portrays the Roman centurion’s development of faith and how that leads to him influencing the communal faith of the Jewish elders and his friends.ABSTRAK Teks Lukas 7:1-10 umumnya dibaca sebagai kisah mukjizat penyembuhan. Jika kita telaah lebih dalam, rupanya teks tersebut menceritakan tentang kualitas keimanan seseorang yang tidak dapat dipisahkan dari konteks sosialnya. Di satu sisi, iman bersifat pribadi karena menyangkut hubungan individu dengan Tuhan. Di lain sisi, iman bersifat komunal karena melibatkan interaksi dengan banyak orang manakala iman itu bertumbuh. Dalam teks tersebut, kita menjumpai tiga tokoh utama yang sedang mengusahakan kesembuhan seorang hamba, melalui ungkapan imannya masing-masing. Yang pertama adalah si perwira Romawi yang menyuruh dua macam kelompok, yakni beberapa orang tua-tua Yahudi (ay.3) dan sahabat-sahabatnya (ay.6) untuk berinteraksi dengan Yesus. Tokoh kedua adalah orang tua-tua Yahudi yang menyanjung si perwira atas kedermawannya bagi mereka (ay.5). Sedangkan, tokoh ketiga adalah sahabat-sahabatnya yang menyampaikan langsung pan panjang kepada Yesus (ay.6-8). Artikel ini tertarik untuk mengulas bagaimana iman pribadi dari si perwira dan iman komunal dari kedua kelompok saling bersinggungan. Melalui pendekatan naratif, yakni analisis penokohan terhadap ketiga figur di atas, artikel ini hendak menelusuri bagaimana cara Lukas menarasikan proses beriman si perwira Romawi yang kemudian mampu menggerakkan iman komunal tua-tua Yahudi dan sahabat-sahabatnya
Kajian Teologi Pastoral terhadap Artificial Intelligence dalam Praktek-praktek Religius
Lately, artificial intelligence has been rapidly advancing and is increasingly being utilized, both by experts in various fields and by the public in common. This article provides a study of the theology of pastoral on the specific use and influence of AI in ChatGPT. By reviewing the utilization of chatbot in various religious practices such as sermon creation, spiritual guidance, and access to religious teachings, this research explores the extent to which chatbot can assist in religious practices. This research includes evaluation of its usage and consideration of its risks associated with the use of AI technology particularly in religious practices. Exploring AI chatbots' potential could help technology as catalysts for transformation of religious practices nowaday. Furthermore, we can direct technology as a tool to enrich faith and the spiritual dimensions of humanity in this digital era.AbstrakBelakangan ini artificial intelligence berkembang dengan pesat dan semakin banyak digunakan, baik dalam bidang ahli maupun oleh masyarakat pada umumnya. Artikel ini memberikan kajian teologi pastoral terhadap penggunaan dan pengaruh AI secara khusus dalam chatbot ChatGPT. Dengan melihat penggunaan chatbot dalam beberapa praktik religius, seperti pembuatan khotbah, bimbingan rohani, dan akses terhadap ajaran iman, penelitian ini mengeksplorasi sejauh mana chatbot dapat membantu dalam praktek religius. Penelitian ini juga meliputi evaluasi dan pertimbangan mengenai resiko penggunaan teknologi AI untuk melihat dampak yang mungkin muncul. Dengan mengeksplorasi chatbot AI, diharapkan teknologi dapat menjadi katalisator transformasi praktik religius. Selain itu, kita dapat menjaga agar teknologi tetap dapat menyentuh dan memperkaya iman dan atau dimensi spiritualitas manusia di era digital ini.
Moral dan Agama Menurut Henry Bergson
Henri Bergson, a prominent philosopher, developed important concepts regarding morality and religion through the lens of static and dynamic perspectives. In his work, he distinguished between static morality, which is conservative and resistant to change, and dynamic morality, which is more open and accepting of the evolution of values. Additionally, he also separated religion into two categories: static religion, which adheres strictly to dogma and tradition, and dynamic religion, which prioritizes rationality and critical thinking. Bergson argued that the relationship between morality and religion is intrinsic and that to achieve true social progress, society must move towards accepting a more dynamic morality and practicing a more open religion. Through this writing, the author seeks to discuss Bergson's insights on how morality and religion can adapt and evolve to meet the collective needs of modern society. This also emphasizes the importance of flexibility and renewal in advancing the common good. ABSTRAKHenri Bergson, seorang filsuf terkemuka, mengembangkan konsep-konsep penting mengenai moral dan agama melalui lensa statis dan dinamis. Dalam karyanya, ia membedakan antara moral statis, yang bersifat konservatif dan menentang perubahan, dan moral dinamis, yang lebih terbuka dan menerima terhadap evolusi nilai-nilai. Selain itu, ia juga memisahkan agama menjadi dua kategori yaitu agama statis, yang berpegang teguh pada dogma dan tradisi, dan agama dinamis, yang lebih mementingkan rasionalitas dan pemikiran kritis. Bergson berpendapat bahwa hubungan antara moral dan agama adalah intrinsik dan bahwa untuk mencapai kemajuan sosial yang sebenarnya, masyarakat harus bergerak menuju penerimaan moral yang lebih dinamis dan praktik agama yang lebih terbuka. Melalui tulisan ini, penulis berusaha membahas tawaran Bergson mengenai wawasannya tentang bagaimana moral dan agama dapat beradaptasi dan berkembang untuk memenuhi kebutuhan kolektif masyarakat modern. Hal ini juga menekankan pentingnya fleksibilitas dan pembaruan dalam memajukan kebaikan bersama
“Srawung Persaudaraan Sejati Kaum Muda Lintas Agama” Gereja Keuskupan Agung Semarang dalam Kacamata Dokumen Fratelli Tutti
Amid the current tension of interfaith life in Indonesia, the Semarang Archdiocese Church (KAS) is working to create a welcoming space for young people. Since 2014, KAS Church has organized an activity called “Kongres Persaudaraan Sejati”, which was later changed to “Srawung Persaudaraan Sejati Kaum Muda Lintas Agama” in 2018. This activity, which takes place every four years, aims to demonstrate the Catholic Church's involvement in upholding the value of pluralism, which is based on a culture of encounter or dialog. This idea of a culture of encounter was then enriched by the ideological model defended by Pope Francis in his encyclical Fratelli Tutti (2020). The document Fratelii Tutti (2020) contains a model for reflection on coexistence and the movement towards world peace. This article will explore the thought pattern of Pope Francis regarding the document Fratelli Tutti (2020) and find the contribution of this thought to the activity “Srawung Persaudaraan Sejati Kaum Muda Lintas Agama”.AbstrakDi tengah arus merenggangnya kehidupan lintas agama di Indonesia, Gereja Keuskupan Agung Semarang (KAS) berjuang menciptakan ruang kebersamaan untuk kaum muda. Sejak 2014, Gereja KAS memiliki kegiatan yang bernama “Kongres Persaudaraan Sejati” yang kemudian pada tahun 2018 dimodifikasi menjadi “Srawung Persaudaraan Sejati Kaum Muda Lintas Agama”. Kegiatan yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali ini hendak menunjukkan keterlibatan Gereja Katolik untuk menjaga nilai pluralitas yang kemudian didukung oleh adanya budaya perjumpaan atau dialog. Gagasan mengenai budaya perjumpaan ini kemudian diperkaya dengan model pemikiran yang dimiliki oleh Paus Fransiskus dalam ensikliknya yang berjudul Fratelli Tutti (2020). Dokumen Fratelii Tutti (2020) berisikan sebuah model pemikiran mengenai kehidupan bersama dan gerakan menuju perdamaian dunia. Tulisan ini akan menggali model pemikiran yang dimiliki Paus Fransiskus mengenai Dokumen Fratelli Tutti (2020) dan menemukan kontribusi pemikiran terhadap kegiatan “Srawung Persaudaraan Sejati Kaum Muda Lintas Agama”
Komunitas Sega Mubeng, sebuah Kajian Tentang Peran Aktor Sosial dalam Membangun Relasi Lintas Agama
In Yogyakarta, a community was born that emerged from a concern in society. This community is called Sega Mubeng Community. This community is a social community initiated by the Catholic Church. Care and concern for others are the main mission of this community. Concretely, caring for others is carried out by sharing packed rice for others on the side of the road, such as: pedicab drivers, beggars, buskers, and homeless people. As it grew, this community, initially attended only by people from the Catholic Church, later transformed into an interfaith community in which people from outside the Catholic Church also participated. The Sega Mubeng Community is an interfaith community model that may be implemented in the future. Using Anthony Giddens' structural theory approach, this article will discusss the role of social actors in initiating change in society. Learning from Giddens, there will always be individuals who understand their society and initiate change. In this case, the Sega Mubeng community is an example of a social change movement that takes place through the role of social actors.AbstrakDi Yogyakarta lahir sebuah komunitas yang muncul dari sebuah keprihatinan di tengah masyarakat. Komunitas tersebut bernama Komunitas Sega Mubeng. Komunitas ini adalah sebuah komunitas sosial yang diinisiasi oleh Gereja Katolik. Perhatian dan kepedulian terhadap sesama menjadi misi utama dari komunitas ini. Secara konkret, kepedulian terhadap sesama dilakukan dengan kegiatan berbagi nasi bungkus kepada sesama yang berada di pinggiran jalan, seperti: tukang becak, pengemis, pengamen dan gelandangan. Dalam perkembangannya, komunitas yang pada awalnya hanya diikuti oleh orang-orang dari Gereja Katolik ini kemudian diikuti juga oleh orang-orang di luar Gereja Katolik. Komunitas Sega Mubeng menjadi salah satu model komunitas lintas agama yang dapat dilakukan di masa mendatang. Melalui pendekatan teori strukturasi Anthony Giddens, tulisan ini akan membahas tentang bagaimana peran aktor sosial di dalam menginisiasi sebuah perubahan di tengah masyarakat. Belajar dari Giddens, akan selalu ada individu-individu yang memahami masyarakatnya dan menginisiasi perubahan. Dalam hal ini Komunitas Sega Mubeng menjadi salah satu contoh gerakan perubahan di tengah masyarakat yang terjadi karena peran dari aktor sosial
Naim Stifan Ateek's Palestinian Liberation Theology for The Israel-Palestine Conflict
Palestine is a country where the population is around 4-5 million. The current Christian population in Palestine is around 6 percent of the total population. These are religiously oppressed people who are affected by the political turmoil of Israel and Palestine. This community is in dire need of a correct and adequate understanding of the theological meaning of the Palestinian experience of suffering in relation to Israel. The Bible has been misused to legitimize political interests. Naim Ateek believes that they are suffering and hopes that the Church will be able to build and explain a theology of liberation for Palestinian Christians. With the method of literature study and comprehensive reading, it is found that Naim Ateek makes a new hermeneutic so that God is not understood as a Primitive and Exclusive God as described by Israel who takes sides and discriminates, but a Universal and Inclusive God to realize justice in the spirit of compassion and peace so that it can show the harmony of God for the peace of the Palestinians and Israelis
Makna dan fungsi mantra dalam upacara adat nyadran Desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul: Kajian tradisi lisan
Penelitian ini membahas makna dan fungsi mantra dalam upacara Nyadran Desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul: Kajian Tradisi Lisan. Studi ini memiliki tiga tujuan yaitumenjelaskan asal mula upacara adat nyadran di Desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul, mendeskripsikan makna mantra dalam prosesi nyadran di Desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul, Memaparkan fungsi mantra dalam upacara nyadran. Landasan tori yang digunakan sebagai landasan referensi adalah tradisi lisan (folklore) dan teori fungaionalism. Penelitian ini menggunakan empat teknik pengumpulan data yaitu, teknik pengamatan, teknik wawancara, teknik kepustakaan, dan teknik dokumentasi. Data dalam penelitian ini disajikan dalam bentuk formal dan informal.Hasil penelitian ini menunjukan adanya cerita tentang dua keturunan darah biru yaitu, GRM Sumadi dan GRAy Sudarminah melatarbelakangi upacara Nyadran untuk memperingati ditemukannya keturunan darah biru yang bersemayam di Desa Pundungsari dan juga sebagai bentuk ucap syukur brayat yang doanya telah terkabul atau bentuk penyampaian nazar, makna mantra yang digunakan dalam upacara nyadran merujuk pada pertanian di desa Pundungsari, Semin, Gunung Kidul dan nazar yang dilahirkan oleh brayat dari luar Pundungsari. Selain itu, ditemukan pula makna yang terkandung dalam ubarampe yang digunakan sebagai syarat pelafalan mantra dan simbol dari harapan masyarakat yang ada di desa Pundungsari, ditemukan empat fungsi mantra yakni, fungsi religius yang merujuk pada bentuk ucap syukur atas terkabulnya nazar atau harapan setiap brayat yang hadir, fungsi sosial budaya merujuk pada gotong-royong masyarakat desa Pundungsari dan seluruh brayat, fungsi ekonomi merujuk pada hasil tani yang dihasilkan, dan fungsi estetika merujuk pada metafora atau makna yang terkandung dalam mantra
Ars Erotica: Sex and Somaesthetics in the Classical Arts of Love: Exploring Shusterman’s Writing Identity in the Discourse on the Art of Lovemaking and Body Aesthetics
Standing in marked contrast with Foucauldian notion of “the care for the self” which seeks bodily pleasure by advocating violent practices of consensual homosexual sadomasochism and drugs, Shusterman’s Ars Erotica takes up the notion further by unveiling the idea of somaesthetics that alternatively favors such tranquil, less violent somatic practices as a pursuit of bodily pleasure and cultivation. Rich in its cross-cultural perspectives of how artistic body practices (including the art of love making) are cultivated, Ars Erotica combines important ideas from different philosophical traditions with literary works emanating from varied cultural, religious, and linguistic legacies. The mixture of both philosophy and literature in the book helps reconcile the long-standing disputes regarding the divide between the two scholarships, thus making Shusterman’s writing worthy of investigating. Drawing on these notions of aspects of identity – “self as author” and “discoursal self” (Ivanic, 1998), this article is an attempt to explore these aspects of identity. Thematic coding was used as a technique of data analysis. Findings revealed that aspects of identity can be categorized and suggested as follows: (1) taking control by evaluating while averring to reliable sources, (2) interfering credible sources by infusing personal positioning (3) translanguaging to create aesthetic textual postures