E-Journal USD (Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)
Not a member yet
3017 research outputs found
Sort by
Constructing Masculine and Feminine Traits: A Social Constructive Reading of Robert Frost’s “Home Burial”
Reading Robert Frost’s “Home Burial” from a sociological perspective is a herculean task. Given that this poem by the American poet has received large volumes of critical literary conversation since its publication. Notwithstanding this daunting scholarly task, it is imperative to point out the nuanced representation of gender and the constitutive manifestations reflected thereof. This paper, therefore, examines Frost’s characters and their expression of masculinity and femininity in “Home Burial”. The paper is framed within the social constructivist theory of masculinities proposed by Moynihan (1998). The paper asserts that Frost favors the man/male gender over the woman/female gender in his assessment of how both gender types receive and process emotions, grief, pain, and fear. From the purview of the social constructivists, the paper reveals that there are fixed signifiers for males and females that shape their outlook during social events/contexts such as death. The paper further reveals that the theme of reality (realism) is crucial in 20th-century poetry, explicating its social context and application. The paper is a contribution to the research on Frostian poetry
THE DISREGARD OF THE CULTURAL DIMENSION IN TRANSLATION
The cultural turn in translation studies has propelled translation beyond a mere act of linguistic transposition. At this juncture, the cultural dimension has garnered significant attention, and translation has evolved into an act of cultural mediation. Within this framework, learners’ perceptions of the cultural dimension and classroom teaching practices are pivotal factors influencing translation quality. This study examines the classroom teaching practices vis-à-vis cultural learning and investigates learners’ perception of the significance of culture in translation. A survey questionnaire was administered to seventy-eight Master’s students of translation (Arabic-English-French) at the Institute of Translation, Oran University, Algeria. Additionally, an interview was conducted with 26 students from the same institute to accredit more validity and reliability to this study, to obtain more qualitative data, and to compare and crosscheck while interpreting the data from both the questionnaire and the interview. The analysis of the obtained data elucidated that cultural knowledge was impeached by classroom practices that do not foster intercultural learning despite learners’ positive attitudes towards the target cultures. This study offers some pedagogical recommendations to give the cultural dimension due attention in the translation classroom
INDONESIAN L2 LEARNERS’ ATTITUDES TOWARDS GROUP WORK: A SURVEY STUDY ON GENDER DIFFERENCES
This study was conducted to investigate the possible interaction between the attitudes of Indonesian learners from non-English majors towards group work in the English as second/foreign (L2) classes and their gender. The study employed an online survey. In this study, 187 learners from various regions in Indonesia participated. The study found that learners generally reported positive attitudes towards group work to facilitate a better learning atmosphere, for their self-improvement, and a medium of learning with their classmates. Furthermore, this study found no statistically significant difference in their attitudes towards group work seen from their gender. The no significant difference indicates that both male and female learners reported relatively similar attitudes towards group work. Limitations are acknowledged, and the possible contributions and pedagogical implications are stated alongside suggested directions for future studies in the fields of gender and group work in L2 classes
PENINGKATAN PENGETAHUAN TENTANG PENYALAHGUNAAN DAN PENGGUNASALAHAN OBAT DI KALANGAN PELAJAR SEKOLAH MENENGAH DI YOGYAKARTA
Drug abuse and misuse among teenagers have been on the rise year after year. These teenagers must have a solid knowledge of drug use. Health education is provided to Yogyakarta high school students in order to improve their understanding of drug abuse and misuse. The health education is being held at SMK Kesehatan Pelita Bangsa Yogyakarta with 92 participants. The activities begin with a pre-test, continue with a presentation about drug abuse and misuse, and conclude with a post-test. Most participants are female (82%) and in the twelfth grade (49%). The average pre-test score of 86.41 increases to 91.41 in the average post-test score, indicating an improvement in respondents' knowledge. The activity hopes to teach students how to use drugs rationally, particularly ones widely abused by teenagers
Produksi Pengetahuan dalam Psikologi Berhampiran Budaya
The subject matter of the culturally-turned Psychology is subjectivity. Adopting the postructuralist Lacanian theory of subjectivity, the human subject is the split subject and/or the lacking subject. The dinamics of subjectivity are constituted by the Other’s desire that circulates in the daily life in the form of discourse and affects subjectivity through identification and interpellation. Research in the culturally turned Psychology aims at creating or constructing in the sense of producing (new) knowledge through reading or interpreting phenomena including things, actions, social institutions, social events, various forms of speech including written, visual, oral, and the like, all of which may be treated as social texts in the sense of a world of signifiers that represents certain meanings in the widest sense of the word. Such kind of research may be conceived as a form of cultural criticism; hence it should ultimately create difference or change in the lives of those it serves. Semiotics and discourse analysis are supposed to be the main methodological tools in the culturally-turned Pschology research
Komitmen Organisasi yang Berpihak Subjek: Refleksi Kritis Praktik Organisasi
Ketika seseorang membicarakan “organisasi” dalam konteks Psikologi kontemporer, imaji dominan yang muncul adalah suatu perusahaan atau organisasi yang mengakumulasikan kapital. Bahkan dalam Program Studi Psikologi di berbagai universitas di Indonesia, terdapat bidang Psikologi Industri dan Organisasi (PIO). Dalam sejarahnya, PIO dimulai dari Psikologi Industri yang berkembang pada awal abad ke-20. Penyandingan kata “industri” dengan “organisasi” baru muncul sekitar tahun 1970an (Riggio, 2012). Isu-isu yang dibahas pun berkembang, dari motivasi dan perencanaan tujuan, sikap kerja, dinamika kelompok, kekuatan organisasi, pengembangan organisasi, hingga kesejahteraan dan performansi kerja. Dengan kata lain, PIO berupaya untuk mengembangkan organisasi sekaligus manusianya.
Namun, apakah mungkin tujuan organisasi benar-benar dapat mewakili tujuan individu? Pertanyaan ini layak dikaji dalam praktik organisasi hari ini, di mana keduanya menjadi entitas yang sering kali berada dalam kondisi berhadapan: subjek individu dan organisasi. Dalam banyak kajian, relasi antara individu dan organisasi lebih sering terjadi pelemahan otonomi individu demi kepentingan organisasi yang semakin kuat (Kahn, 1990). Logika organisasi cenderung meletakkan posisi individu di bawah kepentingan yang dikendalikan oleh owner, atau sesuai dengan “kehendak” organisasinya (Deci et al., 2017).
Secara operasional, kepentingan owner, pemilik modal, atau pemberi kerja (employer) ini diterjemahkan ke dalam visi dan misi organisasi, untuk kemudian dipromosikan sebagai rules yang meregulasi individu di dalamya (Akter, 2021). Kepentingan yang mewujud dalam ide-ide besar tentang kemajuan, inovasi, dan efisiensi versi organisasi terkesan jarang mempertimbangkan aspirasi dan makna personal individu dalam posisinya sebagai anggota organisasi (baca: pekerja, buruh, karyawan, atau employee). Dari sudut pandang kritis, perspektif ini mengarah pada suatu bentuk kontrol hegemonik di mana individu dikondisikan untuk menerima dan melaksanakan aturan dan nilai-nilai organisasi tanpa perlu mempertanyakan. Sebagaimana dicatat oleh Lewandowski (2017), organisasi sering menggunakan mekanisme ideologis untuk membentuk nilai identitas individu sebagai karyawan, sebagai bahasa halus untuk mengarahkan mereka seturut dengan tujuan yang ditetapkan oleh korporasi. Jarak individu-organisasi ini dilihat sebagai bagian dari praktik hegemoni. Burrell dan Morgan (1979) mengidentifikasi bahwa sistem organisasi kapitalistik cenderung menciptakan struktur sosial yang membatasi kebebasan individu dan mempromosikan kepentingan organisasi yang dianggap lebih realistis dan mulia dari sekadar nilai-nilai individu yang lebih mendalam, seperti otonomi, kreativitas, dan kebutuhan eksistensi.
Cara pikir dan kerja organisasi yang mekanis tersebut rentan menimbulkan alienasi pada level individu; seseorang menjadi terasing dari sistem nilai organisasional yang cenderung bersifat impersonal (Saks, 2019). Alienasi ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara kebutuhan psikologis individu terkait makna dan aktualisasi diri dengan rules organisasi yang menekankan pada efisiensi, kepatuhan, dan target pencapaian (Gabriel, 1999). Perlahan tapi pasti, kondisi keterasingan ini dapat mengarah pada kehampaan makna individu (karyawan) sebagai subjek.
***
Persyaratan kerja atau job requirement umumnya dianggap “filter” untuk mengundang keterlibatan individu sebagai anggota organisasi. Persyaratan ini menetapkan apa yang diharapkan organisasi dari individu dalam menjalankan fungsinya. Menurut Warr (2007), persyaratan kerja sering kali diformulasikan berdasarkan kebutuhan organisasi yang bersifat fungsional dan objektif. Dalam banyak kasus, persyaratan kerja lebih difokuskan pada efisiensi aktivitas peran dan kerja. Bisa dimaknai bahwa job requirement memiliki kecenderungan organisasi untuk menginstrumentalisasi manusia sebagai sumber daya sesuai dengan kebutuhan dan tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi (Alvesson & Willmott, 1992).
Pendekatan terhadap organisasi yang mengutamakan efisiensi seringkali membatasi ruang bagi individu untuk mengekspresikan otonomi, kreativitas, dan kebutuhan personal mereka dalam lingkungan kerja. Sebagai contoh, Edwards (1979) mencatat bahwa struktur pekerjaan yang kaku dan berorientasi pada kontrol menciptakan suatu lingkungan di mana pekerja dipandang lebih sebagai bagian dari “mesin” organisasi, yang dapat dengan mudah dipindah atau digantikan apabila mengalami deklinasi dengan standar kinerja yang ditetapkan. Hal ini sejalan dengan pandangan Marcuse (1964), yang menyoroti bahwa organisasi modern cenderung menyederhanakan manusia menjadi sekadar alat produksi serta mengabaikan emosi mereka.
Kritik terhadap praktik mekanis organisasi terarah pada abainya sistem organisasi dalam mempertimbangkan aspek subjektif individu. Pengabaian tersebut berpotensi menciptakan “dehumanisasi” di tempat kerja, di mana karyawan merasa kehilangan makna dan tujuan dalam pekerjaan mereka (Gabriel, 1999). Burrell dan Morgan (1979; Alvesson & Deetz, 2000) menegaskan bahwa praktik-praktik organisasi yang hanya berfokus pada dimensi fungsional mengabaikan potensi unik manusia menjadi alasan bagi terjadinya alienasi pekerja; pekerja menjadi merasa bukan dirinya di tempat kerja. Pada akhirnya, ruang bagi eksplorasi makna individu menemui jalan buntu.
Sementara itu, job qualification menjadi syarat kemampuan yang harus dipenuhi calon karyawan agar dapat diterima dalam suatu peran organisasi. Kualifikasi ini menentukan apakah seseorang layak untuk bertugas secara spesifik dalam tata peran organisasi. Sementara keinginan seseorang bergabung dalam organisasi karena berbagai tuntutan hidupnya, tetapi di sisi lain ia cenderung melakukan penyesuaian dengan melakukan banyak hal supaya selaras dengan kriteria kualifikasi tugas. Mempersiapkan wawancara kerja, melatih dan mengerjakan serangkaian tes seleksi, bahkan juga mengumpulkan info sebanyak mungkin tentang organisasi yang hendak dimasukinya untuk membangun skenario impresi positif: individu rela menjadi “yang bukan dirinya” (Ryan & Deci, 2000). Semua diyakini calon karyawan sebagai perjuangan mencari kerja.
Sah-sah saja bahwa dalam logika rekrutmen organisasi, kecocokan antara persyaratan kerja dan kualifikasi individu dianggap sebagai mekanisme handal dalam mengintegrasikan seseorang ke dalam organisasi sesuai dengan jargon “right man on right place”. Senyatanya penyesuaian ini mengabaikan dimensi personal dari individu, seperti aspirasi pribadi, tujuan hidup, dan makna eksistensial yang barangkali tiada pernah dipertimbangkan oleh organisasi.
Kristof-Brown dkk. (2005) menunjukkan jika kesesuaian antara nilai individu dan organisasi, atau yang dikenal sebagai “person-organization fit,” diyakini akan berkontribusi secara signifikan terhadap kepuasan kerja dan komitmen organisasi. Ketika individu merasa bahwa nilai-nilai mereka sejalan dengan misi dan tujuan organisasi, mereka lebih cenderung untuk terlibat secara aktif dan termotivasi dalam pekerjaan mereka. Sebaliknya, ketidakcocokan nilai ini dapat menimbulkan ketidakpuasan, stres, dan bahkan pengunduran diri, sehingga menciptakan ketidakstabilan dalam hubungan antara individu dan organisasi (Edwards & Cable, 2009).
Pada sisi lain, kesesuaian mekanis ini sering kali mengabaikan realitas sosial dan kekuasaan yang ada dalam organisasi. Alvesson dan Willmott (1992) berpendapat bahwa kesesuaian dalam konteks mekanis lebih mungkin adalah proses pencocokan, bukan sebuah kecocokan. Hal ini bisa tampak dari kecenderungan individu yang terpaksa menyesuaikan diri dengan norma dan nilai organisasi karena tuntutan normatif yang lebih besar untuk dapat bekerja, produktif, atau hidup mandiri yang telah dikonstruksi oleh alam pikiran sosial masyarakat yang berpihak pada logika praktis dan materialis (Pelser dkk., 2022).
Seleksi bersandar pada kualifikasi dan persyaratan tugas sebagai piranti organisasi merefleksikan bentuk dominasi simbolik, di mana organisasi memiliki akses lebih besar untuk menentukan persyaratan yang diperlukan, sementara calon pekerja menjadi pihak yang berada dalam posisi “harus menyesuaikan” (Campbell, 2009). Dalam konteks ini, gesekan yang disebut sebagai “value incongruence” muncul ketika nilai-nilai individu dan organisasi tidak selaras, yang dapat memengaruhi komitmen dan keterlibatan individu dalam organisasi (Van Vianen, 2018). Pada sisi lain menjalani kualifikasi tugas yang barangkali adalah bukan diri, sangat mungkin pada saatnya individu mengalami persoalan menyesuaikan diri dengan standar organisasi (Gagné & Deci, 2005). Dari ketegangan dan rasa bosan bisa berkembang menjadi “kekosongan eksistensial” di mana individu merasa bahwa apa yang selama ini dilakukan tidak berkontribusi pada kekhasan pribadi karena perbedaan dinamika diri dan organisasi (Gabriel, 1999).
***
Nilai dan tujuan individu lebih terkait erat dengan makna kehidupan. Bagi individu, bekerja tidak hanya soal produktivitas atau mencapai tujuan ekonomi, tetapi juga soal menemukan makna yang mendalam dalam aktivitas sehari-hari. Dalam konteks ini, individu mencari cara untuk mengekspresikan diri, memenuhi aspirasi, dan mengejar tujuan yang selaras dengan nilai-nilai inti mereka. Frankl (1963) menyatakan bahwa pencarian makna adalah motivasi dasar bagi manusia. Frankl berargumen bahwa ketika individu menemukan makna dalam hidupnya, mereka akan lebih mampu mengatasi tantangan dalam lingkungan sosialnya. Dalam rangka menemukan makna, salah satu yang ditawarkan oleh Frankl (1980/2019) adalah lewat kerja yang kreatif dan produktif.
Di sisi lain, organisasi cenderung berfokus pada tujuan fungsional yang terkait dengan efektivitas dan efisiensi. Dalam upaya untuk mencapai hasil yang optimal, organisasi sering kali merumuskan visi dan misi yang bersifat strategis dan terkadang mengabaikan nilai-nilai pribadi karyawannya. Meyer dan Allen (1991) mengungkapkan bahwa alasan kuat dari karakter impersonal nilai organisasi adalah karena sikap profesionalitas dan cara kerja yang rasional objektif. Profesional dijelaskan dengan alasan bisnis (bukan personal); dan rasional objektif lebih sebagai cara kerja yang teratur, terukur dan tangible.
***
Upaya mengatasi potensi ketidakselarasan antara nilai individu dan organisasi diberi istilah “komitmen” yang sering kali digunakan sebagai jembatan untuk memadukannya. Komitmen organisasi didefinisikan sebagai kekuatan psikologis yang mengikat individu pada organisasi dan mengarahkan tindakan mereka agar sesuai dengan tujuan organisasi (Meyer & Herscovitch, 2001). Dalam banyak kasus, komitmen ini dianggap sebagai sarana untuk mencapai sinergi antara individu dan organisasi. Dalam kenyataan praktisnya adalah penting untuk mempertimbangkan apakah komitmen ini benar-benar dihasilkan dari kesepakatan bersama antara organisasi dan individu, atau apakah lebih merupakan produk dari tuntutan organisasi yang diinstitusikan dalam kontrak kerja formal. Komitmen organisasi adalah konsep yang mendorong kepatuhan individu pada segenap rules dan cara kerja organisasi (Al-Jabari & Ghazzawi, 2019).
Komitmen lebih sering muncul sebagai tuntutan sepihak dari organisasi. Organisasi cenderung menggunakan kontrak kerja sebagai instrumen untuk menetapkan komitmen formal dari individu. Kontrak ini sering kali mencakup ekspektasi yang jelas mengenai peran dan tanggung jawab individu dalam organisasi. Dilengkapi dengan strategi reward and punishment yang diterapkan untuk memastikan bahwa individu tetap terlibat dalam proses operasional organisasi (Amstrong, 2005; Deci & Ryan, 2000). Misalnya, sistem insentif yang berfokus pada pencapaian hasil yang terukur dapat menciptakan tekanan tambahan pada individu untuk beradaptasi dengan tujuan organisasi.
Deci dan Ryan (2000) menegaskan bahwa penggunaan strategi ini dapat menyebabkan individu merasa termotivasi secara ekstrinsik, tetapi bukan karena mereka terlibat secara emosional atau menemukan makna dalam pekerjaan mereka. Lebih jauh lagi, ketika komitmen dihasilkan melalui kontrak kerja dan strategi motivasi yang bersifat eksploitatif, individu mungkin mengalami “burnout” atau kelelahan emosional, yang berpotensi mendatangkan problem kesehatan mental (Maslach & Leiter, 2016)
Regulasi komitmen kerja umumnya berada di bawah lingkup tanggung jawab dan tugas PIO. Divisi seperti HRD (Human Resource Development), HRM (Human Resource Management), atau dalam bahasa konvensionalnya “bagian personalia” menjadi garda utama untuk merancang dan mengimplementasikan strategi yang bertujuan untuk meningkatkan komitmen kerja karyawan. Cara kerja penegakan komitmen kerja umumnya mengutamakan aspek kuantitatif sebagai ukuran tinggi rendahnya komitmen. Bakker dan Demerouti (2017) menunjukkan bahwa strategi yang lebih umum diterapkan sering kali mengutamakan indeks produktivitas dan efisiensi sebagai indikator keberhasilan komitmen, sementara aspek-aspek kualitatif seperti kesejahteraan psikologis, makna kerja, dan hubungan sosial di tempat kerja dipandang sebagai hal yang sekunder. Sebagai konsekuensinya cara kerja kuantitatif (yang dianggap cepat, objektif, dan mudah dikomunikasikan) terbukti menciptakan lingkungan kerja yang terfokus pada pencapaian target, seiring dengan tekanan berlebih pada individu untuk memenuhi ekspektasi organisasi.
***
Perubahan zaman menciptakan banyak perubahan melalui dinamika perkembangan dan relasi antara organisasi dengan individu. Kehidupan organisasi dan individu bergerak secara dinamis, menciptakan perubahan baik dalam skala mikro maupun makro. Di tingkat mikro, individu di dalam organisasi sering kali mengalami dilema antara keinginan untuk mencapai tujuan pribadi dan tuntutan dari organisasi yang mungkin bertentangan dengan nilai-nilai pribadi mereka. Di tingkat makro, tren sosial dan budaya yang lebih luas dapat memengaruhi cara organisasi beroperasi dan berinteraksi dengan para pemangku kepentingan mereka. Ini menciptakan tantangan yang kompleks bagi para praktisi PIO, yang perlu menemukan cara untuk mengharmonisasikan nilai-nilai personal individu dengan nilai-nilai operasional organisasi.
Dalam upaya untuk mencapai harmoni ini, praktisi PIO perlu mengadopsi pendekatan yang lebih inklusif dan berorientasi pada individu. Ini berarti tidak hanya mengandalkan strategi yang berfokus pada efisiensi dan produktivitas, tetapi juga memperhatikan kesejahteraan psikologis dan aspirasi individu. Sebagaimana dinyatakan oleh Bénabou dan Tirole (2016), penting bagi organisasi untuk memahami bahwa motivasi individu tidak hanya dipengaruhi oleh insentif eksternal, tetapi juga oleh identitas dan nilai-nilai yang mereka anut. Oleh karena itu, pendekatan yang mengintegrasikan pemahaman tentang kebutuhan psikologis dasar individu—seperti otonomi, kompetensi, dan hubungan sosial—ke dalam struktur organisasi dapat menjadi solusi yang efektif untuk mengurangi ketidakselarasan antara individu dan organisasi.
Dalam dunia kerja yang semakin kompleks dan dinamis, aransemen komitmen yang mampu mengakomodasi baik kepentingan individu maupun organisasi menjadi sebuah kebutuhan mendesak. Komitmen bukan hanya sekadar kewajiban formal yang diatur dalam kontrak kerja, tetapi juga sebuah ikatan psikologis yang menciptakan rasa saling memiliki dan tujuan bersama antara individu dan organisasi. Sebagaimana diungkapkan oleh Van Vianen (2018) bahwa model komitmen yang efektif harus mampu memberikan keuntungan lewat menyelaraskan kepentingan individu dengan visi organisasi. Oleh karena itu, pengembangan aransemen komitmen yang berkelanjutan menjadi langkah strategis untuk menciptakan hubungan kerja yang lebih harmonis dan produktif.
Pendekatan apresiatif dalam mengelola hubungan antara individu dan organisasi memainkan peran kunci dalam menciptakan aransemen komitmen yang saling menguntungkan. Dalam konteks ini, apresiasi bukan hanya terbatas pada pengakuan atas kinerja individu, tetapi juga mencakup penghargaan terhadap nilai dan aspirasi pribadi yang mereka bawa ke dalam organisasi. Menurut Wrzesniewski dan Dutton (2001), komitmen dan keterlibatan individu terhadap organisasi dapat ditingkatkan lewat pemberian makna pada pekerjaan. Dengan demikian, organisasi perlu menciptakan lingkungan kerja yang tidak hanya menilai kontribusi individu dari sudut pandang kinerja semata, tetapi juga memberikan ruang bagi individu untuk mengekspresikan nilai-nilai dan tujuan pribadi mereka.
Salah satu tantangan utama bagi praktisi PIO adalah menciptakan model komitmen yang tidak hanya memprioritaskan produktivitas, tetapi juga menghargai martabat dan kebutuhan emosional individu di dalam organisasi. Sebagai contoh, peneliti seperti Bakker dan Demerouti (2017) menyarankan bahwa strategi pengelolaan komitmen harus melibatkan dukungan terhadap kesejahteraan psikologis karyawan. Ini termasuk menciptakan peluang bagi individu untuk terlibat dalam pengambilan keputusan, mengembangkan keterampilan, dan merasakan hubungan sosial yang positif di tempat kerja. Ketika individu merasa dihargai dan diakui sebagai bagian integral dari organisasi, mereka cenderung lebih berkomitmen dan terlibat secara emosional dalam tugas mereka.
Pentingnya model komitmen yang berkelanjutan juga ditekankan oleh Kahn (1990), yang menunjukkan bahwa keterlibatan individu dalam organisasi berkaitan erat dengan bagaimana mereka memaknai peran mereka. Bagi Kahn, keterlibatan hanya mungkin terjadi saat individu merasa terhubung secara emosional, kognitif, dan fisik dengan pekerjaan mereka. Oleh karena itu, menciptakan aransemen komitmen yang menghargai pengalaman subjektif individu adalah langkah krusial dalam mengurangi ketidakselarasan antara tujuan organisasi dan aspirasi individu (Newton dkk., 2022).
Membangun aransemen komitmen yang berkelanjutan tidak hanya bermanfaat bagi individu dan organisasi, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan lingkungan kerja secara keseluruhan. Ketika individu merasa terlibat dan terhubung dengan organisasi, mereka akan lebih mungkin untuk berinvestasi dalam kemajuan dan inovasi yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan masa depan. Dalam konteks ini, komitmen menjadi jembatan yang menghubungkan kepentingan individu dan organisasi, memungkinkan keduanya untuk tumbuh dan berkembang dalam ekosistem yang saling mendukung (Afshari dkk., 2019).
***
Bukan sebuah kebetulan bahwa editorial dalam edisi kali ini membahas soal PIO. Empat dari tujuh laporan penelitian dalam jurnal ini biasanya dikategorikan dalam bidang PIO. Melalui analisis kuantitatif, keempat jurnal tersebut memeriksa bagaimana variabel-variabel diletakkan secara terisolasi dari konteks sosiohistoris yang dialami subjek. Problem yang masih bisa dielaborasi adalah terkait dengan pemahaman bahwa fenomena dalam psikologi kerja sukar untuk diisolasi ke dalam variabel-variabel yang justru membuat abstrak pengalaman material para pekerja. Bahkan, pendekatan kontemporer lewat psikologi kognitif dan neurosains dalam pengalaman sehari-hari sering kali luput dalam memotret aturan sosial yang mengaktivasi pengalaman emosional dan makna yang terkandung dalam pengalaman tersebut bagi subjek. Oleh karena itu, alangkah bijaknya para pembaca yang budiman membaca sembari mencermati apa yang belum terpotret dari pemngalaman yang di-variabel-kan tersebut.
Pada artikel pertama, Yunita Rahmadina dan Fathul Himam meneliti faktor-faktor yang memengaruhi kinerja pegawai, khususnya kualitas dan kuantitas kerja, berdasarkan model prediktor kinerja Blumberg dan Pringle (1982). Data dari 147 pegawai dianalisis menggunakan Structural Equation Modelling (SEM), menunjukkan bahwa kemauan (work engagement dan job involvement), kesempatan (kepemimpinan transformasional dan transaksional), dan kapasitas (kecerdasan emosional) signifikan dalam memprediksi kinerja pegawai.
Artikel kedua berjudul “Ethnocentrism Bias on Consumer Perception of Service Quality and Intention to Buy” ditulis oleh Fernanda Putri Gisela dan Rahmat Hidayat. Studi ini mengeksplorasi bagaimana bias etnosentrisme memengaruhi persepsi kualitas layanan dan intensi membeli. Meskipun tidak ditemukan perbedaan signifikan antara kelompok budaya Sunda dan Surabaya terhadap persepsi layanan dan intensi beli, ditemukan bahwa konsumen lebih menyukai frontliner dari budaya yang sama.
Jeremia Simatupang dan Pratista Arya Satwika menulis artikel ketiga yang mengeksplorasi pengaruh kepemimpinan transformasional dan kualitas kehidupan kerja terhadap keterlibatan pegawai generasi Z. Analisis regresi menunjukkan hubungan yang signifikan antara kedua faktor tersebut dan keterlibatan pegawai, menekankan pentingnya strategi untuk meningkatkan keterlibatan pegawai generasi Z.
Pada artikel berjudul “Gambaran Penerapan Pola Asuh Orang Tua dengan Anak Attention Deficit/Hyperactivity Disorder”, yakni artikel keempat, Diandra Paralea dan Penny Handayani mengkaji pola asuh orang tua terhadap anak dengan ADHD. Temuan menunjukkan bahwa orang tua menerapkan pendekatan asuh yang bervariasi berdasarkan situasi. Ibu lebih terlibat dalam kegiatan harian anak, sementara ayah cenderung fokus pada aspek disiplin.
Artikel kelima ditulis oleh Rizky Anggia Murni Tri Astuti. Kedua penulis meneliti hubungan antara komitmen afektif dan perilaku kewargaan organisasi (organizational citizenship behavior; OCB) di kalangan karyawan. Analisis menunjukkan bahwa komitmen afektif memiliki pengaruh signifikan terhadap OCB, menunjukkan pentingnya komitmen afektif dalam meningkatkan perilaku ekstra peran di tempat kerja.
Artikel keenam berjudul “Otak Bilingual: Sinergi Dwibahasa dalam Meningkatkan Fungsi Eksekutif”. Artikel yang ditulis oleh Elisabeth Dwi Anggraeni dan Selvi Sumardin ini meninjau bagaimana kemampuan bilingual meningkatkan fungsi eksekutif, terutama dalam kontrol inhibisi, memori kerja, dan fleksibilitas kognitif. Bilingualisme ditemukan me
Factors Affecting In-role Performance
Perbincangan mengenai kinerja pegawai sampai saat ini tetap menjadi trending topik dalam dunia Psikologi Industri dan Organisasi. Seiring dengan perkembangan zaman maka tuntutan dan ekspektasi perusahaan terhadap kinerja pegawai (in-role performance) semakin meluas cakupannya. Pada studi ini, peneliti mendalami factor-faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas kinerja pegawai, dengan mengacu pada Model Prediktor Kinerja dari Blumberg dan Pringle (1982) yang mengemukakan bahwa kinerja pegawai dipengaruhi oleh tiga komponen utama, yaitu kemauan, kesempatan, dan kapasitas. Didasarkan pada model prediktor kinerja maka data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) untuk mengetahui model fit variabel-variabel yang diteliti. Komponen kemauan diwakili oleh variabel keterlibatan kerja (work engagement) dan keterikatan kerja (job involvement). Komponen kesempatan diwakili oleh variabel kepemimpinan transformasional (transformational leadership) dan kepemimpinan transaksional (transactional leadership). Terakhir, komponen kapasitas diwakili oleh variabel kecerdasan emosi (emotional intelligence). Peneliti menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan data pada salah satu perusahaan di Provinsi DI Yogyakarta. Sebanyak 147 subjek berpartisipasi dalam pengumpulan data penelitian ini. Melalui Analisa SEM diperoleh hasil model fit sebesar 0.679 (nilai R2), nilai Q2 seluruh variabel lebih dari 0 (Q20), dan nilai Goodness of Fit sebesar 0.376 yang menandakan model ini dapat dengan baik memprediksi kinerja pegawai
CORAK KATEKUMENAL KATEKESE DI ZAMAN DIGITAL MENYAMBUT WARGA BARU GEREJA
This age in which we are living, is marked by bewildering diversity in all walks of life. The plurality of missionary situations, abundance of information provided by digital world, diversity of individual and social conditions, great variety of situation by which a person is related to the institutional Church, all these factors lead to a more dynamic and open understanding of the initiation to the Church, which this article tries to put under the term “catechumenal”. On the other hand, the Church has a centuries long tradition of welcoming new members, which is not one of mere signing up or registration, but a long process of initiation and formation into Christian life. It implies a new and more dynamic and flexible notion of catechesis as a process of gradually intiating a person into Christian life as lived and embodied by a concrete Christian community. Furthermore, this calls for a paradigm shift from that of welcoming-instruction-initiation into one of assisting- accompanying- walking together with the new members, as the Christian community begins to understand itself as pilgrim people
Preparation and Characterization of Binahong (Anredera cordifolia) Leaf Extract Transfersome Wound-Healing Gel
Burn injuries are a significant global health concern due to their profound impact on morbidity and mortality rates. Immediate medical care is essential given the potential for bacterial infections to complicated burn injuries. Binahong leaves (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) contain vitexin compounds that demonstrate wound healing and antibacterial potential. However, vitexin has low solubility, prompting the use of ethanol for extraction and the introduction of nanoparticle technology to enhance solubility, namely transfersomes. The present study explored the development of a gel using binahong extract transfersomes with the composition of carbopol 940 and Na-CMC to determine the effect of carbopol 940, Na-CMC, and the interaction of the two on the gel’s physical properties and stability as well as obtain the optimum composition of the two. This study demonstrates positive results in terms of gel physical properties, including pH, spreadability, and viscosity. A Factorial design method is used for optimization. The results showed that Na-CMC had the most effect on increasing viscosity, while carbopol 940 had the most effect on reducing spreadability. The optimal formula obtained in this research was to use 0.653 grams of Na-CMC and 4.391 grams of Carbopol as gelling agents.
A DEEP DIVE INTO GRADUATE STUDENTS’ SELF-EFFICACY AND ACADEMIC INTERACTION IN ONLINE LEARNING
Research into self-efficacy has received widespread recognition in the literature. However, little study has been done on students’ self-efficacy in asynchronous online academic interactions. This study examined graduate students’ self-efficacy in regulating their online interaction strategies. Grounded in the Asynchronous Online Self-Regulated Learning Inventory (AOSRLI), the study employed a virtual case study using an online self-assessment survey and focus group interview. Seventy-eight English education master students from two universities were approached and agreed to participate in the study. As a result, the study highlighted several critical findings: 1) lack of confidence in online interaction with the professors, 2) closed-mindedness to criticism, 3) self-fanaticism, and 4) the need for self-dialoguing and self-navigation. The students were commonly inactive, indifferent, and demotivated in their asynchronous online interactions, thus creating ineffective learning communication among them. Self-regulated learning cannot grow alone and rely on the students’ in-person learning initiatives, whereas they need pedagogical imperatives to scaffold their questioning, responding, and critiquing skills. The study suggests improving teachers’ scaffolding strategies and building students’ online community of practice to promote their activeness, engagement, and participation. The implication of this study calls for the inclusion of asynchronous virtual interaction skills into online learning pedagogy and CALL teacher education