E-Journal USD (Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)
Not a member yet
3017 research outputs found
Sort by
Dari Kios Penjahit ke Pabrik: Menimbang Ulang Upgrading dan Peran Buruh dalam Perdagangan Internasional Indonesia
This article examines the export-oriented industrial policy, particularly in the textile and garment sector, adopted by President Joko Widodo’s administration that ended his two five-year tenures in 2024. While a number of scholars acknowledge that the sector has managed to achieve economic upgrading, primarily proven by better export performance, very few have highlighted its failure to bring about social upgrading, even by normative standards as measured by the Decent Work Agenda of the International Labor Organization (ILO). I argue Indonesia’s textile and garment industry should aim higher by attaining social upgrading, namely the fulfilment of labor rights and entitlements that will enhance the quality of their employment. But I suggest that the social upgrading is better understood from a “bottom-up” approach, in which improvement of working conditions results from the balance of power between labor and capital, institutionalized by the state, instead of a “top-down” approach as laid out by the DWA, which justifies the capital’s imperative to accumulate surplus through labor exploitation. By understanding social upgrading through a “bottom-up” approach, I argue, one can better grasp the exploitative nature in capitalist relations as well as labor resistance against capitalist exploitation, and consequently, overcome the view that workers are passive victims. Artikel ini menelaah kebijakan industri Indonesia yang berorientasi ekspor, khususnya di sektor tekstil dan garmen, yang diadopsi oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo yang mengakhiri jabatannya selama dua periode di 2024. Kendati sejumlah cendekiawan mengakui bahwa sektor tersebut berhasil mencapai economic upgrading, terutama dibuktikan oleh peningkatan kinerja ekspor, sangat sedikit yang menunjukkan kegagalannya untuk menghasilkan social upgrading, bahkan dalam standar normatif sebagaimana diukur oleh Agenda Kerja Layak (DWA) dari Organisasi Perburuhan Internasional (ILO). Penulis berpendapat bahwa industri tekstil dan garmen Indonesia seharusnya memperoleh pencapaian yang lebih tinggi, yakni social upgrading melalui pemenuhan hak-hak buruh yang akan meningkatkan kualitas ketenagakerjaannya. Namun saya memandang bahwa social upgrading lebih baik dipahami melalui pendekatan dari “bawah ke atas” (bottom-up), di mana perbaikan kondisi kerja dihasilkan oleh keseimbangan antara para pekerja dan modal yang diinstitusionalisasikan oleh negara, alih-alih pendekatan dari “atas ke bawah” (top-down) sebagaimana digariskan dalam DWA oleh ILO yang justru membenarkan tuntutan-tuntutan modal untuk mengakumulasi surplus melalui eksploitasi buruh. Dengan memahami social upgrading melalui pendekatan dari “bawah ke atas” (bottom-up), saya berpendapat bahwa sifat eksploitatif dari hubungan-hubungan kapitalis maupun perlawanan buruh terhadap eksploitasi dapat ditangkap dengan lebih baik dan sebagai konsekuensinya, pandangan bahwa para buruh adalah korban eksploitasi yang pasif dapat dilampaui
Deontic Obligations in Anti-Sexual Harassment Policies in Tertiary Institutions: A Corpus-Assisted Critical Discourse Approach
Sexual harassment in higher education is a pervasive issue that carries serious implications for both institutional reputation and the well-being of victims. To address this, universities have developed anti-sexual harassment policies to guide in managing such incidents. However, the language of these documents can sometimes hinder victims’ willingness to report perpetrators. This study examined the use of deontic modalities in the anti-sexual harassment policies of three major Ghanaian universities: the University of Ghana, the University of Cape Coast, and the Kwame Nkrumah University of Science and Technology. The dataset comprised three official policy documents totaling 21219 tokens and 2675 word types, which were compiled into a specialized corpus. Using LancsBox software, we categorised the modal verbs into three deontic obligations (necessity, advisability, and possibility) and analyzed them from both institutional and victim/complainant perspectives. The findings revealed the presence of 580 modal verbs across the corpus. Deontic necessity was the most prominent, accounting for 55% of occurrences, followed by possibility (33.1%) and advisability (11.9%). Within the context of deontic necessity, institutional perspectives dominated (84.6%), framing universities as the primary agents of responsibility in combating sexual harassment, while victim/complainant perspectives were less emphasized (15.4%). Possibility and advisability were used more flexibly, offering discretionary or optional courses of action, though these too were largely framed from the institutional standpoint. By demonstrating the dominance of institutional responsibility and the limited framing of victims’ agency, this study highlights how policy language shapes institutional responses and reporting behavior. These findings contribute to the understanding of how linguistic choices in legal-institutional discourse influence power relations and victim engagement
STUDENTS’ LANGUAGE ACQUISITION THROUGH THE INTEGRATION OF EXTENSIVE READING INTO SPEAKING TASKS IN EFL CLASSROOMS
This study explores how pedagogical strategies for integrating extensive reading into speaking tasks should be designed for EFL students and whether such integration had the potential to enhance students’ language acquisition. A qualitative case study was employed, and twenty undergraduate students participated in the study. Interviews and observation were used as the data collection methods. Data were analyzed using a thematic analysis. The findings revealed that students who had previously struggled to read longer texts became well-motivated to engage with a wide range of reading materials across various genres. They also believed that the tasks encouraged them to read a variety of texts, gain more knowledge about ‘the new worlds’ and could eventually speak confidently. The integration of extensive reading and speaking tasks created a natural atmosphere for students’ language acquisition by enhancing their mastery of contextual vocabulary and other language elements. Therefore, EFL teachers are encouraged to integrate this approach into their courses as findings indicated that extensive reading integrated into speaking tasks provided rich language input, allowed for better cognitive processing, and cultivated students’ motivation, confidence, and communicative competence through active exposure to various genres.
Efikasi Diri Karier Sebagai Prediktor Kematangan Karier Siswa Kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu
Abstrak: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat efikasi diri karier siswa kelas XI SMA PL Sedayu; 2) Untuk mengetahui seberapa tinggi kematangan karier siswa kelas XI SMA PL Sedayu; 3) Untuk mengetahui pengaruh efikasi diri karir terhadap kematanagan karir pada siswa kelas XI SMA PL Sedayu. Subjek penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI SMA PL Sedayu. Instrumen penelitian menggunakan skala efikasi diri karier dan kematangan karier. Jumlah item skala efikasi diri sebanyak 36 item dengan nilai Alpha Cronbach sebesar 0.910. Pada skala kematangan karir jumlah item sebanyak 42 dengan nilai Alpha Cronbach sebesar 0,915. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Tingkat efikasi diri karier siwa kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu berada pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 48%; 2) Tingkat kematangan karier siswa kelas XI SMA Pangudi Luhur Sedayu berada pada kategori tinggi dengan persentase sebesar 59%; 3) Terdapat pengaruh yang signifikan antara efikasi diri karier terhadap kematangan karir. Efiaksi diri karier menyumbang sebesar 53,8% terhadap kematangan karier
Memaknai Kolekte dalam Gereja Katolik Berpijak dari Persepuluhan dalam Kitab Taurat
The Catholic Church practices a monetary offering commonly called a collection. If you look at the Torah, offerings are also practiced by the Jews. The Jews practice tithing in their religious practices. Tithing is the offering of ten percent of the produce of the land and livestock (Lev 27:30.32). This article will study the meaning of the collection in the Catholic Church based on the practice of tithing by the Jews in the Torah. There is a basic meaning taught by Jesus regarding the offering which is then applied by the Catholic Church in the practice of Christian faith. The method used to complete this research is literature study and scriptural interpretation. This paper aims to understand tithing in the practice of the Jewish faith according to the Torah and help Catholics interpret the offering (collect) practiced in the faith life of the Catholic Church.AbstrakGereja Katolik mempraktikkan persembahan berupa uang yang biasa disebut kolekte.Jika melihat Kitab Taurat persembahan juga dipraktikkan oleh orang-orang Yahudi. Orang-orang Yahudi melaksanakan persepuluhan dalam praktik keagamaan mereka. Persepuluhanadalah persembahan sepuluh persen dari hasil bumi dan ternak (Im 27:30.32). Penelitian inimempelajari makna kolekte dalam Gereja Katolik berpijak dari praktik persepuluhan orangYahudi di dalam Kitab Taurat. Ada dasar pemaknaan yang diajarkan oleh Yesus mengenaipersembahan yang kemudian diterapkan oleh Gereja Katolik dalam praktik iman Kristiani.Metode yang dipakai untuk melengkapi penelitian ini adalah studi pustaka dan tafsir kitabsuci. Penelitian ini bertujuan untuk memahami persepuluhan dalam praktik iman orangYahudi menurut Kitab Taurat dan membantu umat Katolik memaknai persembahan (kolekte)yang dipraktikan dalam kehidupan iman Gereja Katolik
Interpretasi Makna Hati dan Visi Pemulihan dalam Yehezkiel 36: 26-28 Menurut Perspektif Spiritualitas Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus
This article discusses the interpretation of the meaning of heart in the book of Ezekiel 36: 26-38 from the perspective of the spirituality of the Congregation of Priests of the Sacred Heart of Jesus. This research is motivated by the use of the text of Ezekiel 36: 26-38 as a devotional reading material in a congregational order of worship which is indicated to have similar meaning with the spirituality of the congregation. By exploring textually from the Book of Ezekiel and the principles of congregational spirituality, this article aims to show how the meaning of heart in Ezekiel 36:26-28 can be interpreted from the perspective of the spirituality of the Congregation of Priests of the Sacred Heart of Jesus by describing the interpretation of the meaning of heart in the Book of Ezekiel 36: 26-38 and the spirituality of the congregation as well as looking deeper into the similarities and differences in the meaning of heart in both. The author uses descriptive-analytical method with qualitative approach in this research. There are 3 important questions that become the instruments of this research, namely: What is the context of the Book of Ezekiel 36: 26-28? What is the spirituality of the heart in the Congregation of Priests of the Sacred Heart of Jesus? What are the similarities and peculiarities of each in interpreting the meaning of heart? The results of the research show that there is a new understanding and meaning of the interpretation of the meaning of the heart towards Ezekiel 36:26 from the perspective of the spirituality of the Congregation.AbstrakArtikel ini membahas mengenai interpretasi makna hati dalam kitab Yehezkiel 36: 26-38 dari sudut pandang spiritualitas Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya penggunaan teks Kitab Yehezkiel 36: 26-38 ini sebagai bahan bacaan permenungan dalam sebuah tata peribadatan kongregasi yang disinyalir memiliki kesamaan pemaknaan dengan spiritualitas kongregasi. Dengan menggali secara tekstual dari Kitab Yehezkiel dan prinsip-prinsip spiritualitas kongregasi, penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan bagaimana makna hati dalam Yehezkiel 36:26-28 dapat diinterpretasikan dari perspektif spiritualitas Kongregasi Imam-Imam Hati Kudus Yesus dengan mendeskripsikan interpretasi makna hati dalam Kitab Yehezkiel 36: 26-38 dan spiritualitas kongregasi serta melihat lebih dalam kesamaan dan perbedaan makna hati dalam keduanya. Penulis menggunakan metode deskriptif-analitis dengan pendekatan kualitatif dalam penelitian ini. Adapun 3 pertanyaan penting yang menjadi instrumen penelitian ini, yaitu: bagaimana konteks Kitab Yehezkiel 36: 26-28? Apa spiritualitas hati dalam Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus? Apa kesamaan dan kekhasan masing-masing dalam menginterpretasi makna hati? Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pemahaman dan pemaknaan baru mengenai interpretasi makna hati terhadap Yehezkiel 36:26 dari perspektif spiritualitas Kongregasi yang menyirat pesan pada dimensi pemulihan dan penebusan umat manusia yang senada
CURA PERSONALIS SEBAGAI JALAN PENDIDIKAN TRANSFORMATIF: SEBUAH TINJAUAN LITERATUR SISTEMATIS DALAM VISI IGNASIAN
In education, especially secondary education, attention to the formation of students' personalities as whole human beings is crucial. Cura personalis, a distinctive principle in Ignatian education, provides a pedagogical approach that emphasizes personal and reflective accompaniment throughout the process of student growth and transformation. This study is a Systematic Literature Review of 13 selected scientific articles from Google Scholar during the period 2015–2025, using the PRISMA framework and Boolean techniques. The results of the study indicate that cura personalis plays a significant role in transformative education, encompassing spiritual, pedagogical, and social dimensions. In addition to being a relational approach, cura personalis has been proven to be operationalized in online learning, mentoring, discernment, and value-based leadership. This study also highlights the gap in empirical measurement and its application outside Jesuit institutions. This study aims to affirm the relevance and urgency of developing cura personalis as a path of education that liberates and humanizes students. This study also aims to provide a conceptual foundation for its broader application in the context of secondary education
Hybridity In Eschatological Belief Among Indonesian (Javanese) Catholics
Indonesia, with its vast religious and cultural diversity, presents a unique religious dynamic, especially for Catholics in Java. The influence of local traditions and interfaith interactions often lead to multiple religious belonging, where Catholic believers integrate local spiritual elements into their eschatological beliefs. This hybridity manifests in practices such as ancestral rituals, the adaptation of Javanese symbols, and the blending of indigenous eschatological concepts with Catholic doctrine. This paper explores how the phenomenon of multiple religious belonging influences the eschatological understanding of Javanese Catholics and how hybridity facilitates dialogue between faith and local traditions. The study also examines the theological implications of this hybridity, assessing its impact on Catholic doctrinal integrity and its potential to enrich spiritual practices. Ultimately, this research aims to provide insights for the Catholic Church in guiding its followers through cultural and religious pluralism
Incarnation Christology Offers Universal Salvation and Cultural Liberation for Catholics Torajan in South Sulawesi
The people of Toraja, South Sulawesi are known to have social stratification as part of their culture. Such stratification at the same time influenced the concept of salvation in their ancestral belief, Aluk To Dolo. Eternal salvation, in the concept of man's union with the highest God, Puang Matua, could only be obtained by those who have a high social class, Tana’ Bulaan. Meanwhile, those who came from low social classes, in addition to having limited space in society, also culturally-religiously were difficult to obtain salvation. Using the literature method, this paper aims to provide a christological solution to this religio-cultural problem, especially after Christianity encountered Toraja culture. As a result, contextual christology provided an answer to this gap. The Son as the ‘Word made flesh’ brought salvation to the Torajan people in general with no more social stratification boundaries in the new understanding
Dunia Simbolik: Ruang bagi Pemaknaan dan Kesadaran
Apa itu ilmu psikologi? Pertanyaan semacam ini cukup lazim di antara akademisi psikologi. Pertanyaan ini terus menerus muncul dalam sejarah psikologi, seolah-olah para peneliti dan akademisi psikologi tidak pernah merasa kerasan tinggal di rumahnya sendiri. Seperti seseorang yang mendiami rumah baru, beberapa tampak asing dan beberapa tampak familiar, namun selalu timbul perasaan ada yang tidak cocok. Orang awam dengan mudah menyebutkan psikologi sebagai ilmu jiwa dengan merunut pada etimologinya, psike, namun para akademisi terombang-ambing antara psikologi sebagai ilmu perilaku dan ilmu mental. Asosiasi psikologi Amerika yang menjadi acuan sebagaian besar akademisi psikologi di Indonesia mendefinisikan psikologi sebagai, ilmu yang meneliti pikiran dan perilaku atau kajian ilmiah terhadap perilaku individu dan proses-proses mentalnya (Perez-Alvarez, 2018). Kesulitan terutama yang dihadapi untuk menentukan ruang lingkup psikologi salah satunya berasal dari upaya menggambarkan psikologi sebagai ilmu yang dipandang “sejati”, yakni ilmu yang mengikuti kaidah dan norma cara meneliti ilmu alam. Jika psikologi harus beroperasi seperti halnya ilmuwan fisika, data tentang pengalaman subjektif mengenai perjuangan seseorang untuk mencapai kesejahteraan mental maupun berbagai pengalaman psikologis lainnya tidak dapat masuk hitungan. Standard emas menurut pendekatan ini, sering disebut sebagai pendekatan positivisme, adalah gejala yang dapat teramati oleh pihak ketiga. Dan yang paling memenuhi standar ini adalah gejala perilaku, seperti jumlah air liur yang keluar atau jumlah perilaku menginjak pedal di dalam kotak Skinner. Perilaku seperti itu dapat diamati oleh pihak ketiga dan sekaligus dapat dihitung. Tes-tes prestasi dan tes kemampuan lain dapat digolongkan ke dalam perilaku yang teramati, karena dalam tes semacam itu berapa jumlah soal yang terjawab dengan benar dapat diketahui oleh siapapun. Tes inventori maupun skala sikap meskipun memiliki penampakan yang sama dengan tes prestasi atau kemampuan, dalam standar emas ini kurang dapat diterima karena masih mengandalkan pelaporan diri yang tak dapat diperiksa oleh pihak ketiga. Peneliti yang menggunakan peralatan ini berasumsi bahwa pengakuan testee dapat dipercaya, ketika ia menyatakan bahwa perilakunya sesuai atau tidak sesuai dengan item pernyataan. Namun karena pengakuan itu dapat direpresentasikan dalam derajat angka kesetujuan dan dapat dibandingkan tingkat kesetujuan antar responden, publik akdemik psikologi cenderung dapat menoleransi kelemahan tersebut. Alhasil studi-studi psikologi dipenuhi dengan data-data kuesioner berskala. Yang tidak mudah diterima oleh arus utama psikologi modern adalah narasi dan pengakuan verbal pihak pertama, si pelaku atau si orang yang mengalami keadaan dan peristiwa yang menjadi topik penelitian. Isi dari pengakuan verbal dan narasi pengalaman tidak dapat disaksikan secara langsung oleh pihak lain. Orang lain hanya dapat merasakan dan membandingkannya dengan perasaan dan gambarannya sendiri. Proses ini memerlukan sikap empatik dan intersubjektivitas peneliti, yaitu sejauh mana narasi dan pengakuan itu dapat menjadi masuk akal di dalam dunia subjektif peneliti atau pendengar lain. Asosiasi psikologi arus utama seperti Asosiasi Psikologi Amerika telah menerima keberadaan penelitian kualitatif sebagai bagian dari praktek disiplin ilmiah psikologi di dalam Divisi 5 Asosiasi Psikologi Amerika: Division for Quantitative and Qualitative Methods (American Psychological Association, 2022). Penerimaan ini tidak serta merta membuat kajian kualitatif dipandang sejajar dengan kajian kuantitatif. Posisinya tetaplah marginal (Kidd, 2002; Rennie, 2012). Keengganan ini selain bersumber dari sifat data yang naratif dan pengakuan diri, juga bersumber dari sifat interpretatif dari analisis data kualitatif yang mengancam generalitas, validitas sekaligus berseberangan dengan gambaran ilmu yang positivistik (Kidd, 2002). Interpretasi peneliti dalam proses pemerolehan data hingga analisis data kualitatif tidak dapat dihindari. Dunia kesadaran dan pemaknaan hanya dapat terkomunikasikan dengan jelas melalui narasi dan bahasa yang memerlukan penafsiran dari pihak pendengarnya. Bahkan proses interpretasi sudah dimulai ketika pengalaman ataupun peristiwa itu terjadi. Di dalam dunia phenomenal orang berhadapan dengan dunia yang tak terdefinisikan dengan jelas. Si pelaku atau si penderita mencoba menggambarkan apa yang dialaminya dengan kata-kata dan narasi. Ia menerka-nerka apa yang dialaminya dan mencoba menuturkannya dengan perangkat yang dapat dipahami oleh pendengarnya. Demikian juga pendengarnya. Ia mencoba untuk membayangkan apa yang dirasakan dan dialami si pencerita dan sekaligus mengkonseptualisasikannya dalam kosa kata yang dapat dimengerti oleh pembaca, yakni publik ilmiah psikologi. Pemahaman dunia kesadaran dan pemaknaan memerlukan penafsiran yang berujung pada rasa kesamaan pengalaman atau empati (Kendler, 1970). Hampir mirip dengan orang yang membaca novel. Novel yang bagus dinilai dari kemampuannya untuk menginduksi pengalaman yang sama dalam diri pembacanya. Celakanya sebagian besar pengalaman psikologis kita hanya terkomunikasikan melalui medium kata-kata dan narasi. Menolak mode penelitian semacam ini akan membuat banyak hal dari kehidupan kita tidak mendapat tempat dalam dunia psikologi ilmiah.Kesadaran dan pemaknaan terhadap pengalaman adalah mode sehari-hari orang tinggal di dunia bersama dengan orang lain. Untuk menyatakan kesadaran maupun pemaknaan orang memerlukan simbol-simbol yang diciptakan bersama secara kolektif. Pembedaan manusia dari spesies hewan adalah dunia simbolik tersebut. Cassirer (1987) menyebut manusia sebagai binatang simbolik. Urusan manusia bukan hanya terarah pada dunia alamiah tetapi terutama pada dunia simbolik ciptaannya sendiri yang dimaksudkan untuk menggambarkan dunia alamiah di luar sana maupun dunia perasaan dan imajinasi di dalam diri sendiri. Bahasa dan simbol menjadi penghubung antar manusia maupun penghubung antara manusia dengan dunia alamiahnya (baik dunia eksternal maupun dunia internalnya). Dunia simbolik tersebut merupakan rekayasa kolektif atau kebudayaan. Pengalaman pribadi sekalipun tak dapat terpahami oleh diri sendiri jika tidak melewati dunia simbolik tersebut. Dengan kata lain pemahaman diri sendiri atas kehidupan sekaligus merupakan pemahaman bersama melalui kegiatan berbicara dan bercerita (Bruner, 2004). Ruang lingkup psikologi tidak bisa dibatasi hanya pada dunia mental phenomenal maupun perilaku individu, seperti yang didefinisikan oleh APA tetapi merentang dari rasa kebertubuhannya hingga dunia semiotik / simbolik yang bersifat kolektif dan kultural. Henriques (1983; 2004) menggambarkan psikologi sebagai dunia antara ilmu-ilmu biologi dan ilmu-ilmu kemanusiaan kultural. Individu yang menjalani kehidupan tinggal dalam tiga dunia secara simultan: dunia tubuhnya, dunia psikologisnya dan dunia sosial-kulturalnya (Perez-Alvarez, 2018). Freud (1949) menggambarkan dunia mental manusia baik yang disadari maupun tidak disadarinya dengan mengacu pada tiga dunia tersebut secara sekaligus yakni id (dunia tubuh dengan segala gambaran mengenai nafsu maupun dorongannya), ego (rasa kedirian dan individualitas) dan super ego, yang secara harafiah berarti dunia diatas ku, yaitu dunia sosial dan kultural yang termediasi melalui kehadiran orangtua. Kehidupan seseorang tidak terbayangkan tanpa ketiga dunia tersebut. Pengalaman badaniah selalu akan mewarnai rasa kedirian seseorang baik sebagi pelaku (agen) maupun sebagai penderita (orang yang merasakan pengalaman) dan perasaan kedirian itu selalu mengandaikan adanya kehidupan bersama orang lain. Jika psikologi akademis memiliki komitmen terhadap kenyataan ini mau tak mau dunia akademis psikologi akan memeluk pluralitas epistemologis-metodologis maupun ontologis ini. Artikel pertama dalam edisi ini yang berjudul “Analisis Statistika dalam Riset-Riset Psikologi Komunikasi: Sebuah Studi Literatur” mencoba memetakan kecenderungan metodologis para peneliti ketika meniliti dunia komunikasi. Artikel kedua, “Hubungan antara Regulasi Diri dengan Fear of Missing Out pada Mahasiswa Pengguna Media Sosial” memperlihatkan keterkaitan dunia internal dengan dunia sosial yang menjadi habitat kehidupan seseorang. Upaya untuk mendeskripsikan dunia phenomenal dengan memanfaatkan cerita maupun dunia simbolik kata tampak dalam dua artikel berikutnya yang berjudul: “Dinamika Meaning Making Process pada Emerging Adulthood dengan Riwayat Adverse Childhood Experiences dan Non Suicidal Self Injury”, serta “Analisis Tematik Kebahagiaan pada Milenil Kelas Menengah”. Kedua artikel tersebut menggunakan metode penelitian kualitatif. Artikel kelima yang berjudul “Efek Stress terhadap False Memory Recall dan Recognition”, memperlihatkan bagaimana proses pemaknaan yang terepresentasikan dalam false memori bersifat kokoh dan tidak terganggu oleh kehadiran stres. Artikel keenam, “Keterikatan Kerja dan Intensi Turnover pada Karyawan Generasi Y” menunjukkan intensi seseorang tidak dapat dilepaskan dari pengalamannya. Keragaman topik dan metodologis dari berbagai artikel tersebut dapat ditawarkan sekaligus pada para pembaca karena komitmen Jurnal ini terhadap pluralitas epistemologis-metodologi maupun ontologis, sepanjang mengacu pada tiga dunia tempat habitat manusia. Selamat Membaca