E-Journal USD (Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)
Not a member yet
    3017 research outputs found

    PELATIHAN MENULIS DAN BAGIKAN KARYA DI WEB KOMPASIANA UNTUK DOSEN BARU DI FIP UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

    No full text
    Writing on digital platforms is an important competency for lecturers to share ideas, experiences, and research findings with the wider community. One digital publication platform that can be utilized for this purpose is Kompasiana. This training is designed to improve the writing abilities of novice lecturers at the Faculty of Education (FIP), State University of Gorontalo, while also encouraging their participation in digital literacy. The implementation method includes three stages: (1) preparation of a pocket guide for writing on Kompasiana, (2) socialization, and (3) training with a blended learning approach that includes individual consultation sessions. The training focuses on hands-on practice and mentoring based on participants' needs. Thirteen articles were successfully published by participants on diverse themes, including education, classroom, socio-cultural sciences, and work-life. This result demonstrates the success of the training in facilitating lecturers to produce relevant content according to their fields of expertise. Practice-based training with individual mentoring has proven effective in enhancing lecturers' writing skills. The diversity of article themes reflects participants' ability to independently develop ideas. Recommendations for future research include expanding the participant scope with SEO optimization and evaluating the long-term impact on lecturers' academic productivity

    “Memproduksi” Manusia lewat Psikologi

    No full text
    Saat membicarakan mengenai tegangan politik antara Red Shirts dengan Yellow Shirts di Thailand, Benedict Anderson (2016) – seorang ahli Kajian Asia Tenggara – menuliskan bahwa seorang cendekiawan dalam kerja akademis hendaknya, “Look at what’s in front of you, but think about what is missing” (Anderson, 2016, hlm. 7). Dalam perselisihan politik di Thailand, meskipun seolah-olah hal tersebut adalah konflik antara dua kubu, Anderson berargumen lebih jauh bahwa secara laten terdapat tegangan etnis di dalamnya, yakni terhadap orang Tionghoa-Thai. Secara geografis, Anderson menunjukkan bahwa pembagian dukungan politik erat kaitannya dengan etnisitas. Hal tersebut diperkuat dengan temuan Anderson bahwa istilah “lukchin” (anak Tionghoa) juga mengalami peningkatan dalam beberapa dekade terakhir. Apa yang diperlukan dalam kerja-kerja akademik adalah mencermati suatu fakta, untuk kemudian melihat apa yang berada di baliknya.Anderson melihat tidak hanya apa yang tampak, ia berupaya melihat apa yang tidak tampak. Cara-cara kerja demikianlah yang kemudian dipraktikkan oleh seorang analis dan peneliti – juga detektif. Ada sebuah bagian penting – dan terus diingat – oleh para pembaca cerita detektif Arthur Conan Doyle dalam cerita pendeknya yang berjudul Silver Blaze (1892). Bagian tersebut mengisahkan Sherlock Holmes yang tengah berbicara dengan Watson saat menyelidiki suatu kasus pembunuhan. Demikian tulisnya: “Adakah hal aneh yang barangkali menarik perhatian saya?”“Pada suatu insiden mencurigakan yang melibatkan seekor anjing.”“Si anjing tidak menggonggong pada malam itu.”“Nah, itu perkara yang sungguh aneh.”, ujar Sherlock Holmes. (Doyle, 1892/1956, hlm. 347) Dalam kutipan di atas, ditunjukkan bahwa perilaku anjing yang tidak menggonggong merupakan suatu hal yang mencurigakan. Kita bisa menganalisisnya demikian: Sebagai suatu cerita, hal tersebut tampaknya hanya sekadar narasi yang diceritakan secara kronologis. Namun, sebagai sebuah peristiwa, hal tersebut sangat aneh. Keanehan terletak pada kemungkinan seekor anjing tidak menggonggong saat melihat seorang yang mencurigakan memasuki area rumah sang tuan. Atau jangan-jangan ada kemungkinan lain bahwa orang yang memasuki rumah dan menjadi tokoh jahat dalam kisah tersebut adalah orang yang sama sekali tidak asing? Cara kerja demikianlah yang dilakukan, baik oleh para detektif maupun peneliti, untuk memahami suatu perkara. Hal tersebut kemudian dielaborasi oleh Slavoj Žižek (1991), seorang psikoanalisis Lacanian, yang menunjukkan bahwa kemunculan psikoanalisis dan cerita detektif pada periode yang beririsan, yakni akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Kedua subjek, yakni psikoanalis dan detektif, berfokus pada suatu prosedur formal. Seorang detektif akan mencari dan menemukan kebenaran faktual dari suatu adegan kejahatan. Sementara itu, seorang psikoanalis menemukan makna lewat analisis mimpi, salah ucap, dan asosiasi bebas. Pada akhirnya, keduanya dianggap sebagai subjek-yang-diandaikan-tahu (subject-supposed-to-know; omniscience) mengenai peristiwa tertentu. Kemudian, yang paling penting adalah kemampuan keduanya untuk menemukan makna/tatanan dalam suatu ketidakteraturan. Persis, penemuan makna (atau pola) dalam ketidakteraturan inilah yang menjadi kerja-kerja penelitian.Para penulis dalam Suksma edisi ini juga melakukan kerja-kerja detektif/analis/peneliti serupa. Tentu saja, mereka berupaya melihat suatu fakta untuk mengidentifikasi fenomena psikologi yang mendasarinya. Dalam artikel pertama yang berjudul “Peran Kontrol Diri dan Keterhubungan dengan Sekolah terhadap Masalah Emosi dan Perilaku Remaja Usia SMP”, Anisa Sajidah dan Edilburga Wulan Saptandari menguji peran kontrol diri dan keterhubungan dengan sekolah terhadap masalah emosi dan perilaku remaja SMP (12-14 tahun). Studi terhadap 171 responden ini menemukan bahwa kontrol diri dan keterhubungan dengan sekolah secara bersamaan berkontribusi sebesar 23,8% terhadap masalah emosi dan perilaku. Sementara, sebesar 76,2% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti. Kemudian, pada tulisan yang berjudul “Bertumbuh di Balik Jeruji: Stress-Related Growth pada Narapidana Tamping”, Yovita Giri Sekarsari dan Maria Laksmi Anantasari melakukan studi kualitatif yang mengeksplorasi stress-related growth (SRG) atau proses perkembangan positif pribadi yang muncul dari kondisi stres. Dengan melakukan wawancara terhadap tiga narapidana Tamping, peneliti mengidentifikasi proses pertumbuhan diri serta faktor eksternal dan internal yang memengaruhinya. Peneliti menemukan bahwa pertumbuhan diri berlangsung dalam bentuk peningkatan kesadaran diri, ketahanan, kemandirian, perubahan makna, serta peningkatan kecakapan kerja. Artikel ketiga berjudul “Gambaran Penyesuaian Diri Mahasiswa Anak Tunggal yang Merantau” ditulis Bonaventura Bagastama Widhi Pramaditho dan Agnes Indar Etikawati dalam rangka mendeskripsikan penyesuaian diri mahasiswa anak tunggal yang merantau. Dalam studi kualitatif ini, ketiga informan menunjukkan enam tema dalam upaya penyesuaian diri. Peneliti menemukan bahwa tema yang paling dominan adalah mengembangkan keterampilan sosial dan keterlibatan dalam kegiatan kampus. Faktor internal berupa motivasi, kebutuhan relasi, dan refleksi diri; serta faktor eksternal seperti iklim kampus dan pola asuh orang tua memengaruhi upaya penyesuaian diri tersebut. Artikel selanjutnya ditulis oleh Martaria Rizky Rinaldi dan Jelang Hardika. Artikel berjudul “Stres dan Kesejahteraan Psikologis pada Ibu Bekerja: Peran Moderasi Mindful Parenting” menemukan bahwa mindful parenting memiliki efek positif signifikan pada kesejahteraan psikologis, sementara stres berefek negatif signifikan. Dengan melakukan studi cross-sectional pada 87 responden, penelitian ini menemukan bahwa mindful parenting tidak signifikan memoderasi hubungan antara stres dengan kesejahteraan psikologis. Pada artikel kelima, Agung Santoso, Alice Whita Savira, dan Robertus Landung Prihatmoko memperdebatkan soal ukuran sampel ujicoba. Melalui judul “Penentuan Besarnya Sampel Uji Coba berdasarkan Presisi Estimasi Alpha Cronbach”, penulis membahas pentingnya ukuran sampel ujicoba yang memadai berdasarkan analisis power dan akurasi estimasi parameter dalam dua studi simulasi. Pada simulasi pertama, ukuran sampel yang tidak memadai menghasilkan power yang rendah dan fluktuasi estimasi reliabilitas yang besar. Sementara itu, simulasi kedua menemukan bahwa formula Bonett lebih baik dalam mengestimasi ukuran sampel yang dibutuhkan untuk power dan akurasi yang tinggi dibandingkan formula Feldt.Kelima artikel studi empiris di atas kemudian diikuti dua artikel non-empiris lainnya. Artikel non-empiris pertama, mengenai posisi Psikologi terkait krisis lingkungan ditulis oleh Raden Rara Maria Anita Dewi Sari. Melalui judul “Dari Individu ke Sistem: Peran Psikologi Kritis dalam Memahami dan Mengatasi Krisis Lingkungan”, penulis mengelaborasi pemikiran Psikologi Kritis guna memahami sistem sosial, budaya, dan ekonomi dalam membentuk perilaku merusak lingkungan. Penemuan akar masalah struktural ini hendaknya mendorong transformasi menuju masyarakat yang berkelanjutan. Implikasinya, solusi yang dirasa efektif oleh penulis adalah integrasi kearifan lokal dan kolaborasi pengetahuan ilmiah lokal. Artikel terakhir adalah semacam obituari atau necrology untuk sosok yang berperan besar dalam perkembangan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma (USD), yakni Dr. Christina Siwi Handayani. Bagi penulis, yakni YB. Cahya Widiyanto, Ibu Christin merupakan seorang ahli Psikologi yang sensitif terhadap konteks dan praktik hidup sehari-hari. Bagi Ibu Christin, Psikologi merupakan ilmu sosial-humaniora yang harus dikembangkan berdasarkan konteks hidup masyarakatnya. Dengan judul “Psikologi yang Kembali kepada Konteks”, penulis mengisahkan pengalaman kerja akademik bersama Ibu Christin yang menegaskan rekognisi dan kontribusi pemikiran Ibu Christin.Dari tujuh tulisan yang tersedia dalam Suksma Volume 6 Nomor 1 kali ini, ada hal menarik yang patut kita telaah ke belakang bersama. Sejauh terbitan Suksma sejak Mei 2020, terdapat sebanyak 83 tulisan yang mengulas topik dan pengukuran Psikologi – data terhitung termasuk terbitan Volume 6 Nomor 1. Dalam laman web Suksma, dituliskan demikian, “Suksma menerima naskah hasil penelitian lapangan, artikel psikologi yang berbasis kajian teoretik, resensi buku dan juga obituari” (Universitas Sanata Dharma. Suksma, 2020). Terdapat 12 naskah editorial, 56 artikel empiris, 12 artikel non-empiris/teoretis, 2 tinjauan buku, dan 1 obituari.Guna kepentingan tulisan ini, saya akan mengidentifikasi 12 naskah editorial. Kedua belas naskah tersebut berisi mengenai tanggapan, harapan, dan barangkali arah perdebatan yang dicita-citakan Suksma. Dari 12 naskah editorial, terdapat 9 naskah yang secara berulang menekankan pada “konteks”, “subyektivitas”, dan “refleksivitas”. Dalam tradisi Psikoanalisis, keberulangan ini dikenal dengan istilah compulsion to repeat atau repetition compulsion. Istilah tersebut menunjukkan pengulangan pada sesuatu yang belum terasimilasi dalam realitas pengalaman (Yang, 2016) – sebuah “perpetual recurrence of the same thing” (kekambuhan abadi terhadap perkara yang sama) (Freud, 1920/1961, hlm. 16). Dalam konteks ini, ketiga istilah berulang tersebut barangkali memang belum terasimilasi penuh dalam disiplin maupun penelitian Psikologi. Marjinalisasi – kemudian pengulangan – ini menunjukkan hadirnya kecemasan berupa kecenderungan ketidakmantapan posisi peneliti dan analisisnya. Posisi tidak mantap ini kemudian menghadirkan dialektika yang menuntut seseorang untuk terus tidak “nyaman” dengan posisi dan cara berpikirnya. Artinya, penekanannya adalah pada mempertanyakan: Mengapa saya berpikir dengan cara saya berpikir?Dengan mengambil semangat “mengapa saya berpikir dengan cara saya berpikir?”, Widiyanto (2020) menekankan bahwa Suksma bertendensi untuk menyajikan publikasi yang otentik dan idealisme, alih-alih berakhir sebagai berkas obligasi formal-administratif. Kemudian, Harimurti (2020) membicarakan mengenai eksperimentasi metodologi terlepas dari pendekatan kualitatif atau kuantitatif pada umumnya. Pada editorial lain, Etikawati (2021) menekankan pada aspek kontekstualitas dalam analisis, yang pada akhirnya menghindari analisis yang menjurus pada generalisasi. Selanjutnya, Madyaningrum (2022) menekankan pada perspektif multidimensi agar kehendak untuk memperbaiki (asumsi dasar para peneliti) tidak terjebak dalam “menyalahkan korban” (blaming the victim). Sementara itu, editorial yang ditulis Hartoko (2022) mengajak para penulis untuk menjadi tidak “kerasan” di rumahnya sendiri – dalam arti mempertanyakan asumsi epistemologis-ontologis penelitian Psikologi yang dilakukan. Karenanya, aspek intersubyektivitas menjadi perkara yang perlu direkognisi dalam penelitian – yang tampaknya masih menuai resistensi dari model tradisional Psikologi. Sembari menekankan pada editorial sebelumnya, Harimurti (2023) mengelaborasi pada konteks (context-bound), fluiditas fenomena, dan aspek posisionalitas peneliti yang idealnya diperhatikan dalam kerja akademisnya. Kembali lagi diutarakan, Widiyanto (2023) mengingatkan soal kontekstualitas agar tidak terjebak dalam penelitian yang sifatnya replikatif dan menerima mentah-mentah teori yang sudah dianggap mapan. Kemudian dalam editorial Volume 5 Nomor 3 (2024), Widiyanto dan Harimurti (2024) merefleksikan ideologi yang mendasari Psikologi Industri dan Organisasi yang cenderung meminggirkan karyawan. Karyawan direduksi menjadi pengepul keuntungan bagi organisasi. Editorial tersebut membicarakan bagaimana power beroperasi mengabaikan subyektivitas manusia. Pun demikian dengan editorial terbitan kali ini, sebagaimana akan saya jabarkan pada bagian selanjutnya.Terlepas dari naskah editorial Suksma, statistik terbitan Suksma tersebut di atas tidak menunjukkan apapun kecuali pembagian kategori. Padahal dalam suatu kategori, substansi berada dalam kontennya. Lantas, bagaimana produksi pengetahuan dalam konten-konten tulisan tersebut? Dalam dunia keilmuan, kita dapat mempertanyakan: Apa yang dimaksud sebagai pengetahuan? Bagaimana implikasi konseptual mengenai konsep pengetahuan itu sendiri? Dalam bukunya mengenai Psikologi Teoretis, Teo (2018) menunjukkan bahwa pengetahuan merupakan sesuatu yang dianggap penting, benar, dan relevan pada saat dan tempat tertentu. Sebagai contoh, Baumrind (1966) mengidentifikasi tiga bentuk pola asuh. Pola asuh pertama adalah pola asuh permisif, yang mana meyakini bahwa anak-anak memutuskan sendiri kegiatan yang akan mereka lakukan. Kedua adalah pola asuh authoritarian yang menekankan pada pengendalian, pembentukan, dan kepatuhan si anak terhadap pengasuh. Kemudian ketiga adalah pola asuh authoritative yang membimbing anak secara rasional dan mengikuti sifat manusia secara rasional dengan menyediakan alasan terhadap suatu aturan. Dalam tradisi Barat, galib dikatakan bahwa pengasuhan authoritative adalah yang terbaik. Meskipun demikian, apakah anggapan kebenaran serupa juga akan relevan dalam sistem budaya lain – misalnya dalam sistem teokrasi?Dengan kata-kata ajaib, yakni “konteks”, barangkali para peneliti akan menyimpulkan bahwa setiap kebenaran menjadi “betul-betul-benar” hanya pada konteks tertentu. Meminjam istilah dari budaya Jawa, orang bisa mengatakan “bener, tur ora pener” (atau “benar tetapi tidak elok”) (Anderson, 1965). Ambil contohnya adalah membenci seseorang kemudian mengatakan bahwa kita benci terhadap orang tersebut dalam ruang publik. Betul bahwa mungkin kita membencinya, tetapi dalam alam berpikir Jawa, hal tersebut tidak elok dan tidak bijak. Dengan kata lain, ada semacam unwritten rules yang beroperasi dalam tataran simbolik. Contoh lain, dengan model yang agak berbeda, adalah terkait dengan tes intelegensi yang dikembangkan oleh Binet (Gould, 1981). Binet pada awalnya menciptakan skala IQ sebagai alat untuk mengidentifikasi anak-anak yang membutuhkan dukungan khusus dalam pendidikan. Namun, dalam perkembangannya, kaum hereditarian dan Army Mental Tests Amerika justru menjadikan skor IQ sebagai ukuran tunggal kecerdasan bawaan yang menetap, mengabaikan pengaruh lingkungan, dan menggunakan tes tersebut untuk memberi peringkat individu. Implikasinya adalah skor IQ membenarkan hirarki sosial dan ras, kemudian bahkan mengadvokasi kebijakan pembatasan imigrasi. Dalam menegaskan kedudukan tes IQ, berbagai problem yang muncul juga diabaikan: latar belakang budaya partisipan atau instruksi yang tidak terpahami. Singkat kata, keabaian terhadap konteks menunjukkan bahwa ada kekuasaan/pengetahuan tertentu yang dikonstruksi lebih benar dibanding yang lainnya. Dengan kata lain, aspek power menjadi perkara yang perlu diperhatikan dalam penelitian Psikologi. Ada power dalam suatu unwritten rules.Aspek power ini berimplikasi pada positionality yang perlu dipertimbangkan peneliti. Posisionalitas ini menggambarkan cara pandang terhadap dunia dan posisi yang peneliti ambil mengenai penelitian dan konteksnya. Dalam tradisi penelitian Psikologi, kita mengenal reflexivity. Refleksivitas ini menjadi upaya peneliti dalam rangka mencari asumsi-asumsi tersembunyi yang mendasari penelitiannya. Sama halnya dengan yang dinyatakan Benedict Anderson atau Slavoj Žižek pada awal tulisan ini, kita perlu melihat sesuatu yang tidak tampak yang memungkinkan suatu fenomena atau peristiwa berlangsung. Teo (2018) menyebutkan bahwa refleksivitas merupakan proses berpikir kritis dalam Psikologi yang hilang dalam tradisi positivisme. Bisa jadi, seorang peneliti mengabaikan refleksivitas atau berpura-pura bahwa pertanyaan dasar seperti epistemologi, ontologi, etika, dan estetika sudah terjawab. Pada poin ontologi, Teo (2018) menawarkan pertanyaan mengenai “apa itu manusia?” Menurut Teo, selama ini Psikologi melihat manusia secara historis eksklusif; didominasi oleh subjek Western, Educated, Industrialized, Rich and Democratic (WEIRD) dan menyingkirkan yang lainnya. Teo menawarkan konsep subjektivitas yang bukan sekadar sudut pandang orang pertama, tetapi juga titik perubahan dan titik aktivitas yang memungkinkan hadirnya agensi, refleksivitas, praksis, ketubuhan, dan resistensi. Dalam poin sifat pengetahuan atau epistemologi, Teo mengusulkan peneliti Psikologi untuk menekankan peran karakteristik sosial, nilai-nilai, dan kekuasaan dalam produksi pengetahuan. Aspek kepentingan juga perlu dicermati dalam produksi keilmuan, misal skor IQ yang diteliti Gould (1981) ternyata hanya memenuhi hasrat kekuasaan pihak otoritas. Bahaya epistemologis dalam penelitian Psikologi selama ini adalah kekerasan epistemik (epistemological violence) yang bisa saja terjadi, misalnya menggambarkan kelompok terpinggirkan sebagai yang tidak beradab dan inferior (Teo, 2010; 2018). Kemudian, pada aspek etis-politik, yang dipertanyakan adalah “apa yang seharusnya dilakukan oleh psikolog atau peneliti.” Pertanyaan demikian berarti melihat implikasi moral dari praktik produksi pengetahuan (epistemologis). Psikologi memiliki catatan historis yang mengidentifikasi kelompok terpinggirkan (misalnya orang kulit berwarna, perempuan, kelas bawah, difabel, atau queer) adalah liyan yang bermasalah. Artinya, ada kemungkinan penelitian justru bukan menjadi problem-solving, melainkan problem-making dalam arti menempatkan subjek sebagai pihak yang patut dipersalahkan. Terakhir adalah menyoal estetika yang sering kali diabaikan dalam Psikologi. Teo (2018) mengusulkan seni menjadi suatu praktik pembebasan lewat perubahan subyektivitas dan resistensi terhadap ketidakadilan. Dengan kata lain, seni sebagai sebuah resistensi berpotensi menantang asumsi dan praktik yang sudah mapan dalam suatu metode ilmiah. Meskipun akhir-akhir ini terdapat tren yang menunjukkan piranti kesenian dalam menyejahterakan manusia, tetapi sifat seni yang mengasingkan, mengiritasi, dan membuat kita bertanya mengenai cara pandang kita terhadap dunia tidak memperoleh ruang yang memadai (Han, 2021).Lantas, apa implikasi gagasan epistemologi, ontologi, etika, dan estetika terhadap konten dalam Suksma? Dengan cara baca Benedict Anderson atau Slavoj Žižek, pertanyaan tersebut dapat kita formulasikan demikian: Apa yang hilang atau absen dari Suksma? Pertama adalah bahwa posisionalitas peneliti perlu ditunjukkan secara eksplisit pada bagian jurnal. Dengan menunjukkan posisionalitas ini, maka setiap peneliti diajak untuk melakukan refleksivitas dan kemungkinan untuk mencermati epistemologi, ontologi, etika (juga estetika) yang barangkali mengabaikan analisis yang integratif terhadap fenomena psikologis (lihat dalam Braun Clarke, 2022). Kedua adalah bahwa Psikologi perlu juga merambah dalam bidang-bidang seni yang boleh jadi membuka ruang terhadap resistensi. Para pemikir Psikologi di masa lampau juga telah menunjukkan kecenderungan ini. Sebagai contoh, Freud menggunakan sastra dan seni rupa untuk menunjukkan dinamika mental manusia. Ketiga, ada baiknya Suksma memiliki tiga edisi yang masing-masing secara khusus memperdebatkan apa yang dimaksud “konteks”, “subyektivitas”, dan “refleksivitas” dalam suatu penelitian, mengapa hal tersebut penting, dan bagaimana masing-masing dimunculkan dalam penelitian.Ketiga poin di atas barangkali hanya sekadar usulan mengenai bagaimana cara melihat suatu penelitian. Penelitian bukan melulu bagaimana melaporkan pola yang terjadi pada suatu fenomena psikologis. Penelitian dengan sendirinya menjelma suatu proyek panjang kemanusiaan. Pada akhirnya, sebuah penelitian tidak sekadar memproduksi pengetahuan, melainkan juga manusianya – entah yang diteliti maupun peneliti sendiri.

    Antimicrobial Activity Test of Silver Nanoparticle Gel from Green Synthesis using Kelor Leaf (Moringa oleifera) as a Bioreductant Against Cutibacterium acne

    Full text link
    Moringa oleifera leaves contain flavonoid compounds that have the potential to act as bioreducers in the synthesis of silver nanoparticles. The antibacterial activity of silver nanoparticles can reduce topical antibiotic resistance, especially against acne-causing bacteria. This study aims to determine the antimicrobial activity of silver nanoparticles formulated in a gel form at concentrations F1 10%, F2 20%, and F3 30%, using Medi-Klin Gel® as a positive control. Testing was conducted on Nutrient Agar medium using the paper disk method with Cutibacterium acne bacteria, incubated for 24 hours at 37°C. Additionally, physical evaluations of the gel, including organoleptic properties, spreading ability, and pH, were performed. The results of the physical properties of the gel were analyzed using one-way ANOVA. Organoleptic evaluation results indicated that F1 had a more transparent gel color, while F2 and F3 had darker gel colors, and all three gels had a characteristic extract aroma. Physical evaluation results for spreading ability (5.5±0.25; 5.7±0.12; 6.27±0.08) and pH values (4.42±0.17; 5.35±0.15; 5.27±0.17) were obtained. Antimicrobial research results showed inhibition zones for F1 10% (7.53±0.20), F2 20% (9.43±0.32), F3 30% (11.16±0.12), and the positive control Medi-Klin Gel® (25.15±0.26). Based on this study, concentration differences influenced the physical evaluation results of the gel formulation. Our finding suggests that the formula with the highest concentration (30%) has physical properties reaching the requirements and exhibited the highest inhibitory effect and potential as an antibacterial agent for acne

    “Redupnya” Pesan dan “Menguatnya” Informasi: Refleksi Komunikasi Sebagai Sistem Seleksi

    Full text link
    The rapid development of digital technology has fundamentally transformed the landscape of contemporary communication studies. Information now circulates in large volumes, spread rapidly, and is often no longer structured within complete, coherent messages. This paper proposes the need for reflection through two questions: (1) How the possibility of communication can be constructed through frameworks beyond the logic of message transmission; and (2) to what extent communication studies that emphasize information can contribute to reducing the complexity of social problems in modern society. This reflection revisits the evolution of communication studies by challenging three influential theoretical perspectives: Harold Lasswell, Jürgen Habermas, and Niklas Luhmann. The Lasswellian model is challenged especially in the context of message confusion and unclear authority of the message sender. Habermas’ communicative rationality is confronted by the dominance of algorithmic logic and emotional expressions that permeate social media spaces. Meanwhile, Luhmann’s systems theory raises further questions regarding the relevance of communication studies in the digital era, where information circulates autonomously, often without requiring the active involvement of human actors. Within the information society, communication is no longer solely a bridge between subjects but also operates as a selection system. Communication processes occur autonomously through the selection of meaning within the social system and decoupled from the ‘burden’ of individual consciousness. This approach to communication as a selection system is particularly relevant for positioning the role of information within the increasingly disruptive digital landscape. Amidst the information flood and a growing crisis of meaning, communication studies need to move beyond the traditional paradigm towards more contextualized and systemic frameworks.Perkembangan teknologi digital telah mengubah secara fundamental lanskap kajian komunikasi terkini. Arus informasi hadir dalam volume besar, tersebar cepat, dan tidak selalu dikemas dalam struktur pesan yang utuh. Tulisan ini mengajukan kebutuhan refleksi kajian komunikasi melalui dua pertanyaan, yakni: bagaimana eksistensi komunikasi dibangun dari struktur selain dalam logika transmisi pesan; dan sejauh mana kajian komunikasi yang bertumpu pada informasi mampu mereduksi kompleksitas masalah sosial yang dihadapi masyarakat modern. Refleksi dilakukan dengan melihat kembali perkembangan kajian komunikasi dengan mengacu pada tiga pemikiran: Harold Lasswell, Jürgen Habermas, dan Niklas Luhmann. Model Lasswellian ditantang terutama dalam konteks kesimpangsiuran pesan dan ketidakjelasan otoritas pengirim pesan. Rasionalitas komunikatif ala Habermas dihadapkan dengan logika algoritma dan ekspresi emosional yang menghidupi ruang media sosial. Sementara itu, pendekatan sistemik Luhmann justru menantang relevansi kajian komunikasi di era digital ketika informasi hadir tanpa sepenuhnya membutuhkan peran aktor manusia. Dalam konteks masyarakat informasi, komunikasi tidak selalu sebagai jembatan antarsubjek, melainkan juga sebagai sistem seleksi. Komunikasi berlangsung secara otonom melalui seleksi makna dalam sistem sosial dan terlepas dari “beban” kesadaran subjek. Pendekatan komunikasi sebagai sistem seleksi relevan terutama untuk memosisikan peran informasi dalam lanskap digital yang cenderung disruptif. Di tengah banjir informasi dan krisis makna, kajian komunikasi perlu bergerak melampaui paradigma lama, menuju pemahaman baru yang lebih kontekstual dan sistemik

    Abreviasi bahasa Indonesia pada kiriman akun X @KemenPU

    Full text link
    Perkembangan abreviasi bahasa Indonesia yang semakin beragam, khususnya di media sosial perlu diperhatikan penggunaannya. Pengguna media sosial seperti X sering menggunakan abreviasi karena untuk mempersingkat komunikasi dan adanya batas jumlah karakter dalam kiriman akun X. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendeskripsikan jenis-jenis abreviasi bahasa Indonesia yang terdapat dalam kiriman akun X @KemenPU. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode simak dan teknik catat. Kemudian, analisis data menggunakan metode agih dengan teknik dasar Bagi Unsur Langsung (BUL) yang dilanjutkan dengan teknik ubah ujud parafrasal. Hasil dari penelitian ditemukan penggunaan empat jenis abreviasi, yaitu singkatan, akronim, lambang huruf, dan penggalan. Jenis abreviasi yang paling dominan adalah singkatan yang mencakup sebagian besar dari abreviasi yang ditemukan

    “Molly” dalam teks berita media online: Analisis metafora dan framing perspektif ekolinguistik kritis

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan metafora dan framing dalam teks berita media online terkait kematian gajah Sumatra bernama Molly di Bali Zoo, Indonesia. Melalui pendekatan ekolinguistik kritis, studi ini mengeksplorasi bahwa bahasa digunakan untuk merepresentasikan hubungan manusia dengan alam, nilai-nilai ekologis, serta persepsi terhadap kehidupan satwa. Data dikumpulkan melalui dokumentasi teks berita dari berbagai portal daring nasional yang memuat narasi tentang peristiwa tersebut. Metode analisis data mencakup identifikasi dan kategorisasi metafora konseptual berdasarkan teori Lakoff dan Johnson, serta analisis framing menggunakan model Stibbe, Fill Penz. Penyajian hasil dilakukan secara deskriptif-analitis dengan menyajikan kutipan data relevan, interpretasi makna, dan implikasi ideologis serta ekologisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metafora seperti “berpulangnya Molly” dan “terseret arus” mencerminkan representasi satwa sebagai makhluk bernilai dan rentan terhadap kekuatan alam. Framing seperti “bagian tak tergantikan” dan “penghormatan terakhir” menekankan aspek emosional, nilai kehidupan, dan tanggung jawab ekologis manusia. Temuan ini mengungkapkan bahwa pilihan bahasa dalam teks berita tidak hanya membangun konstruksi ideologis, tetapi juga memiliki implikasi teoretis dan praktis dalam jurnalisme lingkungan. Secara praktis, studi ini mendorong penggunaan bahasa yang lebih etis dan reflektif dalam peliputan isu-isu ekologis

    AUTHORS’ STRATEGIES FOR JUSTIFYING RESEARCH METHODOLOGY IN RESEARCH ARTICLES PUBLISHED IN PRESTIGIOUS JOURNALS

    Full text link
    The dependability and validity of research outcomes depend on the quality of the arguments presented in scientific articles' methods sections, which also affects reproducibility. Previous discourse analysis studies have paid little attention to evaluating the importance of methods sections. This research examines how authors in applied linguistics and English education rationalize their methodological selections, concentrating on three main facets: research design, sampling methods, and data analysis. The study analyzed 100 scholarly articles from respected international journals included in Scopus and distributed across four separate regions. Authors typically supported their research design and data analysis by citing methodological literature but used implicit justification when selecting sampling methods. Several articles did not provide clear explanations for their methodological choices, particularly regarding sampling methods. The results reveal a significant gap between the anticipated standards for transparent methodological reporting and the currently observed scholarly practices. Research design and data analysis received frequent justifications, but sampling methods remained poorly explained, thus compromising both transparency and replicability. Researchers need to provide stronger direct justifications for all methodological aspects, according to this study. Novice authors and postgraduate students must carefully adhere to journal guidelines and provide complete and detailed reporting within the methods section

    Pendidikan bagi Calon Pemimpin yang Berciri Kalos Kagathos menurut Plato dan Driyarkara dalam Konteks Demokrasi di Tengah Masyarakat Plural di Indonesia

    No full text
    Ideal leadership in a democratic system demands a leader who is not only intelligent but also possesses moral wisdom and integrity. The concept of *kaloskagathos*, introduced by Plato, describes an individual who excels both intellectually and ethically, making them worthy of leadership. On the other hand, N. Driyarkara emphasizes education as a process of humanization aimed at shaping individuals who are socially responsible and aware of communal solidarity.  This article examines the concept of education for future leaders according to Plato and Driyarkara and its relevance in shaping democratic and pluralistic leadership in Indonesia. Through a literature review method, this study finds that leadership education should focus on character development, wisdom, and an understanding of diversity. An ideal education system for leaders in a pluralistic society like Indonesia must integrate philosophical approaches, leadership ethics, and humanistic values to foster social justice and harmony.AbstrakDalam tulisan ini, penulis mengkaji pemikiran Filsuf Plato dan Driyarkara mengenai proses pendidikan dan pencarian pemimpin kalos kagathos . Istilah kalos kagathos Merujuk pada konsep kesatuan antara kebaikan ( kalos ) dan kebajikan ( kagathos ) yang dikenakan pada seorang pemimpin yang ideal. Dalam karya-karyanya, Plato berbicara tentang pentingnya pendidikan untuk membentuk pemimpin yang berkarakter, bijaksana, dan adil. Sedangkan dalam pandangan Nicolaus Driyarkara, ditekankan nilai-nilai kemanusiaan atau humanisasi dan spiritual dalam pendidikan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mendidik dan mencari calon pemimpin yang berciri Kalos kagathos dalam konteks demokrasi Indonesia saat ini. Demokrasi sendiri bisa dimaknai pula sebagai ajang perjumpaan antara berbagai elemen masyarakat yang berbeda dalam semangat keterbukaan dan dianugerahi demi kebaikan bersama ( bonum commune ). Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif melalui studi pustaka, penulis menggali pandangan kedua filsafat tersebut, kemudian menerapkan konsep-konsep yang relevan dalam konteks pendidikan kepemimpinan di Indonesia saat ini. Hasil penelitian menunjukkan, dengan menganalisis pemikiran dari kedua tokoh ini, bahwa upaya identifikasi inti pendidikan yang ideal harus dilakukan dengan membentuk karakter pemimpin yang tidak hanya berkompeten tetapi juga memiliki nilai etika dan moral yang kuat.

    Demokrasi di Mata Anak Muda: Studi Representasi Sosial

    No full text
    How do young people understand democracy? This study tries to find out the ideas of young people about democracy and its basic structure using the Social Representation approach. Young people aged between 17 to 33 years (N = 237 people) participated in this study. Data collection was carried out using a survey technique by asking them what they thought about democracy and what values they saw as the basic values of democracy. The three main ideas of young people about democracy are freedom of opinion (63.98%), plurality and equality (62.03%) and justice (48.52%). These three ideas are basic values for the formation of assertive citizens and at the same time reflect the need for young people to be independent and participate. Multidimensional scaling statistical techniques are used to summarize and capture the basic structure of 13 ideas about democracy. There are two main dimensions found. The first dimension describes democracy as a tension between the ideas of liberal democracy (freedom of opinion and equality-plurality) and the idea of integralism (prosperity, unity, law and order, responsibility and honesty). The second dimension describes democracy as the tension between the principles of justice and the principles of people's sovereignty (people's sovereignty, deliberations, general elections and togetherness). These two dimensions may reflect the history of the democratic experience of the Indonesian people who have experienced various trials of applying different ideas about democracy

    2,536

    full texts

    3,017

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Journal USD (Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇