Jurnal Unswagati Cirebon (Jurnal Universitas Swadaya Gunung Jati)
Not a member yet
2652 research outputs found
Sort by
MEDIASI SEBAGAI ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA/KONFLIK PERTANAHAN MEDIATION AS AN ALTERNATIVE FOR RESOLVING LAND DISPUTE/CONFLICTS
Sebagai Institusi/lembaga yang berwenang di bidang pertanahan, sudah seharusnya Kementerian Agraria Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional memberikan alternatif solusi atas berbagai masalah kasus pertanahan di Indonesia. Alternatif penyelesaian kasus pertanahan dimaksudkan agar dapat mengurangi jumlah sengketa/ konflik pertanahan yang dari waktu ke waktu cenderung meningkat. Salah satu alternatif penyelesaian kasus pertanahan yang perlu terus dikembangkan adalah Mediasi. Dalam proses mediasi akan memberikan penyelesaian yang menguntungkan para pihak yang bersengketa. Bisa dibayangkan saat ini jumlah sengketa / konflik pertanahan semakin banyak, hal ini bisa dipahami karena sumber daya tanah yang relatif terbatas sedangkan di sisi lain permintaan dan pemanfaatan akan sumber daya tanah terus meningkat sehingga sangat berpotensi meningkatnya sengketa/konflik atas tanah. Dalam penelitian ini penulis tertarik untuk meneliti dan membahas tentang pelaksanaan mediasi di Kantor Pertanahan dalam rangka menangani dan menyelesaikan kasus pertanahan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pelaksanaan mediasi pertanahan di Kantor Pertanahan didasarkan kepada Peraturan Menteri Agraria Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 21 tahun 2020 tentang Penanganan dan Penyelesaian Kasus Pertanahan.Mediasi pertanahan perlu dikembangkan karena merupakan cara penyelesaian perselisihan kasus pertanahan melalui perundingan/musyawarah untuk memperoleh kesepakatan para pihak dengan dibantu/difasilitasi oleh Mediator dari Kementerian Agraria Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Namun dalam Peraturan tersebut belum memberikan petunjuk teknis/petunjuk pelaksanaan bagi pelaksanaan mediasi secara lebih konkrit. Dalam rangka meningkatkan kapasitas dan kapabilitas para Mediator perlu terus dilakukan pelatihan dan pendidikan Mediator agar lebih profesional dalam menangani dan menyelesaikan kasus-kasus pertanahan
Using Problem-Based Learning to Develop EFL Pre-service Teachers’ Intercultural Awareness
This article reports an on-going research project dealing with intercultural issue that has conducted in the department of English education in a private university. In the framework of case study, this study attempts to describe how students were involved and shared their insights of intercultural learning in the classroom. Forty EFL pre-service teachers were recruited and involved in the current study. The data were drawn from the classroom observation. From the categorized data, critical incidents were captured and interpreted. The findings show the students’ sense of intercultural awareness developed. It concludes this problem-based learning provides authentic and meaningful learning as the students were engaged in real-lives related projects of intercultural exchangesArtikel ini merupakan sebagian laporan dari riset tentang kompetensi lintas budaya yand dilaksanakan di sebuah perguruan tinggi swasta di Cirebon-Indonesia. Dalam kerangka studi kasus, riset ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana mahasiswa calon guru terlibat dalam diskusi kasus lintas budaya yang diberikan di dalam kelas. Empat puluh mahasiswa calon guru bahasa Inggris direkrut dan terlibat dalam riset. Semua partisipan telah melalui dan memberikan persetujuan merekan untuk secara suka rela terlibat dalam proyek riset ini. Semua data dikumpulkan dari hasil observasi kelas dan hasilnya diintepretasokan dari setiap critical incident yang muncul. Hasil riset menjelaskan bahwa kemampuan komunikasi lintas budaya mahasiswa semakin terbangun. Hasil ini berkesimpulan bahwa problem-based learning merupakan pembelajaran yang penuh kebermaknaan dan pembelajaran yang otentik yang membuat mahasiswa terlibat dalam proyek-proyek yang menyentuh kehidupan langsung terkait dengan interaksi lintas buday
Lexical Hedges in Reflecting Gender Differences
The study discusses lexical hedges in reflecting gender differences through the movie and analyzes the features of lexical hedges used in Sierra Burgess Is a Loser movie. The data were processed by categorizing the data into components of lexical hedges based on the framework of hedges proposed by Namasaraev (1997) and the sequential positions of lexical hedges proposed by Rosanti&Jaelani (2016). The use of nine types of lexical hedges conforming to its classification by the male and female characters showed a different number of results. As a result, female characters tend to more used lexical hedges rather than men characters. The female characters were mostly used lexical hedges as fillers yeah in their utterance to show their feelings, emotion, or opinion in the movie. The total data showed the number of female characters in using lexical hedges was 92 words sequentially from the most commonly used, i.e. fillers, lexical verbs, modal auxiliary verbs, adverb of frequency, adverb, and noun. Meanwhile, male characters used 40 words of lexical hedges and fillers as the most commonly used hedges through the word; like. In this movie, there were two sequential positions of lexical hedges, namely; the initial and medial position. Besides that, the female characters had a wide range of types in uttering the words that contained lexical hedges, whereas the male characters were not too often in selecting the words of lexical hedges. Penelitian ini membahas mengenai penggambaran lexical hedges dalam perbedaan gender melalu isebuah film, serta untuk menganalisis fitur lexical hedges yang digunakan dalam film Sierra Burgess Is a Loser. Data sudah diproses dengan mengkategorikan data menjadi komponen lexical hedges berdasarkan kerangka hedges yang disusun oleh Namasaraev (1997) dan posisi sekuensial lexical hedges yang diusulkan oleh Rosanti & Jaelani (2016). Penggunaan dari sembilan tipe lexical hedges berdasarkan klasifikasi oleh karakter pria dan wanita menampilkan hasil yang berbeda. Hasilnya, karakter wanita cenderung menggunakan lexical hedges dibandingkan dengan karakter pria. Karakter wanita paling sering menggunakan fitur lexical hedges sebagai fillers yaitu; yeah dalam ucapan mereka untuk menunjukkan perasaan, emosi, dan opini di dalam film. Total data menunjukkan penggunaan lexical hedges oleh karakter wanita berjumlah 92 kata yang secara beruratan dari yang paling sering digunakan yakni fillers, lexical verbs, modal auxiliary verbs, adverb of frequency, adverb, dan noun. Sedangkan, karakter pria menggunakan 40 kata lexical hedges dan fillers like sebagai fitur hedges yang paling sering digunakan. Di dalam film ini, terdapat dua posisi sekuensial dari lexical hedges yakni posisi awal dan posisi tengah. Disamping itu, karakter wanita memiliki jangkauan yang luas mengenai tipe-tipe dalam penyampaian kata yang mengandung fitur lexical hedges, sedangkan karakter pria tidak terlalu sering menggunakan kata lexical hedges didalam pemilihan kat
Roles of informal digital learning of English in developing an EFL teacher’s English proficiency
This study sheds light on how IDLE activities play role in developing an Indonesian in-service EFL teacher’s English proficiency. This study employed qualitative approach. One female in-service EFL teacher was purposively selected to become the participant. Data were garnered by written reflections and semi-structured interviews. The credibility of the data was achieved by employing the principles of data saturation. Qualitative coding was then used to analyze the data. To ensure the trustworthiness of the results, the analysis was repeated thrice at different times. The results indicate that both the quality of IDLE activities and the quantity of IDLE activities were important to develop English proficiency although receptive activities were still the most dominant. It was good to undertake IDLE activities on a daily basis. Several tools and resources were also needed to carry out IDLE activities such as gadgets, internet connection, applications, e-books, e-newspapers, as well as online reading and listening materials. Multimodal input such as visualization, lyrics, subtitles, and audio in IDLE activities was really helpful. It was also revealed that the underlying advantages of IDLE activities included providing language exposure, creating English environment, increasing confidence to use English, entertaining, having lots of free resources, as well as being flexible to be undertaken anytime and anywhere. Moreover, IDLE activities could enhance many language aspects such as pronunciation, vocabulary, grammar, conversational skill, writing skill, speaking skill, and listening skill. Future studies on IDLE are encouraged and directe
Pengaruh Model Pembelajaran SOLE (Self Organized Learning Environments) Berbasis Daring terhadap Kemandirian Belajar Siswa SD
Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penggunaan Model Pembelajaran SOLE (Self Organized Learning Environments) Berbasis Daring terhadap Kemandirian Belajar Siswa SD. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif nonequivalent control group desain dengan menggunakan teknik pengumpulan data kuesioner. Penelitian dilakukan di kelas V dengan jumlah responden sebanyak 40 peserta didik terdiri dari 20 peserta didik di kelas kontrol dan 20 peserta didik di kelas eksperimen. Setelah data terkumpul dilakukan proses analisis data dengan menggunakan uji independent sample t-test. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai thitung sebesar 15,383 dan nilai ttabel sebesar 2,024. Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa thitung (15,383) > ttabel (2,024) artinya terdapat pengaruh dalam penggunaan Model Pembelajaran SOLE (Self Organized Learning Environments) Berbasis Daring terhadap Kemandirian Belajar Siswa SD.Kata Kunci. SOLE (Self Organized Learning Environments), daring, kemandirian belaja
The Effectiveness of Using The Application of Pegadaian Digital Service to Easy Customer Transaction at Pegadaian Cirebon Branch
The Pegadaian Digital Service application is a Pegadaian digital service in the form of a mobile-based application that can provide Pegadaian product services to make it easier for customers to make transactions anytime and anywhere. However, there are still many customers who carry out conventional transactions. This is the background for researchers to choose the title "Effectiveness of Using the Pawnshop Digital Service Application in Making Transactions Easier for Customers at Pawnshops Cirebon Branch." The purpose of this study is to determine the effectiveness of users transacting through the Pegadaian Digital Service application. This research uses descriptive qualitative method. The researcher used one key informant and four supporting informants. This study uses the theory of effectiveness measures by Campbell J.P. (1989:121) in Starawaji (2009) to be a guide in research. The results of the study can be concluded that judging from the success of the program, the success of the target, satisfaction with the program, the level of input and output, the achievement of overall goals is not optimal. And the data collection used by the researcher is a literature study and using field studies, namely observations and interviews
PROFIL STATUS NUTRISI PADA PASIEN KANKER PAYUDARA STADIUM LANJUT PASCA KEMOTERAPI DI RSUD WALED
Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh dengan cepat, tidak terkendali, dan akan terus membelah diri, selanjutnya menyusup ke jaringan sekitarnya (invasive) dan menyebar melalui jaringan ikat, darah, dan menyerang organ-organ lainnya, seperti paru, hepar, saraf, dan tulang belakang. Efek samping yang sering timbul pada pasien kemoterapi adalah mual, muntah dan anoreksia. Untuk mengetahui gambaran Indeks Massa Tubuh dan karakteristik pada pasien kanker payudara stadium lanjut pasca kemoterapi di RSUD Waled. Metode deskriptif menggunakan teknik total sampling. Jumlah sampel yang didapatkan yaitu 18 pasien. Data primer didapatkan dari tinggi badan dan berat badan yang diukur pada pasien dan kuesioner yang diisi oleh pasien yang didapatkan dari RSUD Waled. Berdasarkan Uji Tabulasi Silang menunjukkan bahwa mayoritas subjek penelitian ini termasuk dalam kelompok usia middle age, patuh mengikuti kemoterapi, memiliki nutrisi yang baik, dan memiliki IMT tidak underweight. Pasien kanker payudara stadium lanjut pasca kemoterapi di RSUD Waled memiliki persentase underweight sebesar 38,9%. Pasien kanker payudara stadium lanjut pasca kemoterapi di RSUD Waled mayoritas yang berusia middle age memiliki IMT tidak underweight. Pasien kanker payudara stadium lanjut pasca kemoterapi di RSUD Waled mengikuti kemoterapi dengan patuh sesuai jadwal. Pasien kanker payudara stadium lanjut pasca kemoterapi di RSUD Waled mayoritas memiliki nutrisi yang baik.Kata kunci : Kanker payudara, asupan nutrisi, umur, kemoterapi, faktor resiko kanker. ABSTRACTCancer is a disease caused by the growth of body tissue cells quickly, uncontrolled, and will continue to divide, then infiltrate into surrounding tissue (invasive) and spread through connective tissue, blood, and attack other organs, such as the lungs, liver, nerves and spine. Side effects that often arise in chemotherapy patients are nausea, vomiting and anorexia. To find out the picture of Body Mass Index and characteristics in post-chemotherapy advanced breast cancer patients at RSUD Waled. Descriptive methods using total sampling techniques. The number of samples obtained was 18 patients. Primary data were obtained from height and weight measured in patients and quetionnaires completed by patients obtained from RSUD Waled. Based on the Cross Tabulation Test, it is shown that the majority of subjects in this study belong to the middle age group, adhere to chemotherapy, have good nutrition, and have a BMI not underweight. Patients with advanced-stage breast cancer after chemotherapy at RSUD Waled had an underweight percentage of 38.9%. Patients with advanced-stage breast cancer after chemotherapy at RSUD Waled the majority of those in middle age have a BMI not underweight. Patients with advanced-stage breast cancer after chemotherapy at RSUD Waled follow chemotherapy in accordance with the schedule. The majority of post-chemotherapy advanced breast cancer patients at RSUD Waled have good nutrition. Keywords: Breast cancer, nutritional intake, age, chemotherapy, cancer risk factors
Hubungan antara Komunikasi Dokter - Pasien dengan Tingkat Kepatuhan terhadap Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2: Studi di Puskesmas Kejaksan Kota Cirebon
LATAR BELAKANG Diabetes melitus merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dan khususnya di Jawa Barat. Diduga tingkat kepatuhan pasien diabetes terhadap pengobatan dipengaruhi oleh komunikasi antara dokter dan pasien. Namun hal ini belum menjadi hal yang diperhatikan di Indonesia. METODE Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan conscutive sampling. Sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 89 orang. Instrumen penelitian ini berupa kuesioner yang diuji dengan uji validitas dan reliabilitas serta dianalisis menggunakan uji Spearman. Hasil Hasil penelitian ini didapatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara komunikasi dokter-pasien dengan tingkat kepatuhan pengobatan dengan nilai p value dibawah 0,05.SIMPULAN Terdapat hubungan yang bermakna antara komunikasi dokter dengan pasien terhadap tingkat kepatuhan pengobatan pasien diabetes melitus tipe 2 pada Puskesmas Kejaksan.Kata Kunci: diabetes; kepatuhan pengobatan; komunikasi dokter-pasien.ABSTRACTBACKGROUND Diabetes mellitus is a public health problem with high morbidity and mortality rates throughout the world, including in Indonesia and especially in West Java. It is suspected that the level of diabetes patient's adherence to treatment is influenced by communication between doctor and patient. But this has not been a concern in Indonesia. METHOD it was a cross sectional study. The sampling technique in this study uses consecutive sampling. The sample size is 89 respondents. The research instrumen in the form questionnaire was tested with a validy and a reliability test and then data analyzed by the Spearman analysis method. RESULTS The result of this study found that there is a significant relationship between doctor-patient communication with medication adherence with a p value below 0,5. CONCLUSION There is a relationship between doctor and patient communication with the level of compliance with treatment of type 2 diabetes mellitus patients at Puskesmas KejaksanKeywords: diabetes; treatment adherence; doctor-patient communication.
Komunikasi Matematis Peserta Didik SMP dalam Memecahkan Masalah Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
Komunikasi matematis merupakan kecakapan peserta didik dalam menyampaikan ide-ide matematisnya, baik secara tulisan maupun lisan. Komunikasi matematis diperlukan dalam pembelajaran matematika, terutama saat memecahkan masalah matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan komunikasi matematis peserta didik kelas VIII di salah satu SMP Negeri Kota Ambon dalam menyelesaikan masalah sistem persamaan linier dua variabel, dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data, yaitu pendidik matematika dan peserta didiknya. Subjek yang dipilih berdasarkan hasil tes berjumlah 3 orang yaitu 1 subjek dengan nilai matematika tinggi, 1 subjek dengan nilai matematika sedang, dan 1 subjek dengan nilai matematika rendah. Data dikumpulkan menggunakan tes tertulis yang memuat 3 butir soal uraian dan hasil wawancara. Data dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek T (subjek berkemampuan tinggi) memenuhi semua indikator komunikasi matematis tulisan dan lisan, subjek S (subjek berkemampuan sedang) memenuhi 2 indikator komunikasi matematis tulisan dan lisan, dan subjek R (subjek berkemampuan rendah) hanya memenuhi indikator kemampuan memahami ide-ide matematis secara lisan. Rekomendasi kepada pendidik matematika di sekolah agar dapat menumbuhkembangkan komunikasi matematis peserta didik dan membiasakan peserta didik menggunakan langkah-langkah pemecahan masalah Polya dalam menyelesaikan persoalan matematika.
Pengaruh Penggunaan Media Gambar Seri Terhadap Kemampuan Menulis Teks Fabel Pada Siswa Kelas VII SMP Islam Al- Falah Kota Jambi
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan pengaruh penggunaan media gambar seri dalam pembelajaran menulis teks fabel kelas VII SMP Islam Al-Falah Kota Jambi yang dilihat dari bentuk kemampuan pengetahuan siswa dan juga faktor internal yang mempengaruhi pembelajaran. Penelitian ini memakai metode kuantitatif jenis eksperimen, dengan model penelitian menggunakan quasi eksperimental. Subjek dalam penelitian ini yakni peserta didik kelas VII.2 yang memiliki peran sebagai kelas eksperimen dengan siswa berjumlah 13 orang dan siswa kelas VII.4 yang memiliki peran sebagai kelas kontrol yang dengan siswa berjumlah 13 orang juga yang dipilih dengan menerapkan teknik Purposive Sampling. Subjek dalam penelitian ialah peserta didik SMP Islam Al-Falah Kota Jambi. Metode pengumpulan data: lembar tes, observasi, dan dokumentasi. Pada penelitian ini kemampuan menulis teks fabel pada siswa menunjukkan hasil posttest kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan posttest kelas kontrol. Hal ini berlandaskan tinjauan rata-rata dari nilai posttest kelas kontrol yaitu sebesar15,00, sedangkan rata-rata dari nilai posttest kelas kontrol hanya sebesar 13,07. Setelah dilakukan uji analisis data dan juga uji hipotesis dengan bantuan program SPSS 25, terlihat ada pengaruh positif terhadap penggunaan media gambar berseri yaitu pada uji t diperoleh Sig. 0,000<0,05 atau dengan kata lain Ho ditolak dan Ha diterima