Open Access Jurnal Politeknik Negeri Jember
Not a member yet
    2290 research outputs found

    The Hubungan Kelengkapan Rekam Medis Terhadap Akurasi Pengkodean ICD-10 dan ICD-9

    No full text
    The completeness of medical records is an important factor that affects the quality of data and coding accuracy. Based on the initial survey at the 'Aisyiyah General Hospital, found from 20 medical records still 75% completeness of filling in the incoming and outgoing summary sheets, the absence of anamnesis and diagnosis results, and 60% completeness of the doctor's item recording component. The purpose of this study was to find out the relationship between the completeness of medical record documents with the accuracy of the ICD-10 and ICD-9 coding. This study used descriptive and inferential quantitative methods with a population of 638 documents, and the number of samples of 84 files uses simple random techniques. The frequency of filling in the medical record document is incomplete 89.3%, the duration of the ICD-10 code is 26.2% and the ICD-9 CM was 32.2%. The analysis results showed that there was no significant relationship between the completeness of medical record documents and the accuracy of the ICD-10 and ICD-9 coding (P-Value > 0.05). Complete medical records tend to have more accurate coding, while incomplete medical records often cause errors in coding. The importance of maintaining the completeness of medical records to increase coding accuracy has a positive impact on the management of health data, clinical decision-making, and health insurance claims. Efforts to increase the completeness of medical records, such as training in medical staff and effective electronic system implementation, are recommended to ensure better coding quality.Kelengkapan rekam medis merupakan faktor penting yang mempengaruhi kualitas data kesehatan dan akurasi pengkodean diagnosis serta prosedur medis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kelengkapan dokumen rekam medis dengan akurasi pengkodean ICD-10 dan ICD-9 di rumah sakit. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dan inferensial dengan populasi dokumen rekam medis tahun 2023, jumlah sampel 84 berkas menggunakan teknik   acak sederhana. Didapatkan frekuensi pengisian dokumen rekam medis tidak lengkap 89.3%, ketidakakuratan kode ICD-10 yaitu 26.2% dan ICD-9 CM yaitu 32.2%. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kelengkapan dokumen rekam medis dengan akurasi pengkodean ICD-10 dan ICD-9 (Pvalue > 0.05). Rekam medis yang lengkap cenderung memiliki pengkodean yang lebih akurat, sementara rekam medis yang tidak lengkap sering kali menyebabkan kesalahan dalam pengkodean. Temuan ini menekankan pentingnya menjaga kelengkapan rekam medis untuk meningkatkan akurasi pengkodean, yang pada gilirannya berdampak positif pada pengelolaan data kesehatan, pengambilan keputusan klinis, dan klaim asuransi kesehatan. Upaya peningkatan kelengkapan rekam medis, seperti pelatihan staf medis dan implementasi sistem elektronik yang efektif, direkomendasikan untuk memastikan kualitas pengkodean yang lebih baik

    Pengaruh Financial Literacy dan Uang Saku terhadap Perilaku Pengelolaan Keuangan dengan Financial Self Efficacy sebagai Variabel Moderating

    Get PDF
    The purpose of this research to determine whether financial self-efficacy can moderate the influence of financial literacy and pocket money on the financial management behavior of class XI accounting and finance students at SMKN 1 Surabaya 2023/2024 academic year. Using descriptive research with quantitative approach. The primary data collection technique uses questionnaire on the pocket money, financial self-efficacy and financial management behavior variables, while the financial literacy variable uses multiple choice test questions according to PISA standards adapted characteristics of Indonesian students. Data processing and analysis techniques use SEM-PLS analysis. The research results show that financial literacy influences financial management behavior, pocket money influences financial management behavior, financial self-efficacy can moderate the influence of financial literacy on financial management behavior, and financial self-efficacy cannot moderate the influence of pocket money on financial management behavior of class XI AKL SMKN 1 Surabaya. In this research, financial self-efficacy acts as quasi moderator

    A Peningkatan Ketrampilan Pengrajin Kapal Kayu Tradisional di Desa Blimbing, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur

    No full text
    Seiring dengan perkembangan teknologi dalam proses pembangunan kapal kayu, galangan kapal kayu tradisional selalu tertinggal dengan galangan kapal kayu modern. Pengrajin kapal kayu tradisional mengalami kesulitan memperoleh bahan baku yang baik dalam membangun sebuah kapal karena kebijakan pemerintah menekan kegiatan pembalakan liar. Kebanyakan kapal yang dibuat menggunakan bahan baku yang tidak memenuhi persyaratan Biro Klasifikasi, sehingga performa kapal tidak sesuai standar. Selain itu, para pengarajin tersebut biasanya memperoleh keahliannya secara turun temurun. Adanya kendala yang dihadapi tersebut, secara segi ekonomi galangan kapal rakyat ini tidak masuk kedalam kategori usaha yang sehat walaupun produktif. Padahal mereka memiliki peran besar dalam memenuhi kebutuhan kapal penangkap ikan dalam berbagai ukuran dan tidak menutut kemungkinan juga ternyata masih bayak pemuda lokal yang berpotensial. Oleh karena itu, galangan kapal kayu tradisional khususnya didaerah Paciran Lamongan perlu adanya sebuah program untuk menangani masalah ini. Salah satunya dengan cara memberikan pelatihan menganai proses pembangunan kapal kayu yang lebih ekonomis dan efisien ditinjau dari bahan baku yang digunakan. Program ini diharapkan akan mampu meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) para pengrajin kapal kayu di wilayah tersebut menjadi lebih berkompeten dan professional, sehingga dapat memanfaatankan peluang material alternatif yang akan membantu usaha mereka lebih bernilai ekonomi tinggi.Seiring dengan perkembangan teknologi dalam proses pembangunan kapal kayu, galangan kapal kayu tradisional selalu tertinggal dengan galangan kapal kayu modern. Pengrajin kapal kayu tradisional mengalami kesulitan memperoleh bahan baku yang baik dalam membangun sebuah kapal karena kebijakan pemerintah menekan kegiatan pembalakan liar. Kebanyakan kapal yang dibuat menggunakan bahan baku yang tidak memenuhi persyaratan Biro Klasifikasi, sehingga performa kapal tidak sesuai standar. Selain itu, para pengarajin tersebut biasanya memperoleh keahliannya secara turun temurun. Adanya kendala yang dihadapi tersebut, secara segi ekonomi galangan kapal rakyat ini tidak masuk kedalam kategori usaha yang sehat walaupun produktif. Padahal mereka memiliki peran besar dalam memenuhi kebutuhan kapal penangkap ikan dalam berbagai ukuran dan tidak menutut kemungkinan juga ternyata masih bayak pemuda lokal yang berpotensial. Oleh karena itu, galangan kapal kayu tradisional khususnya didaerah Paciran Lamongan perlu adanya sebuah program untuk menangani masalah ini. Salah satunya dengan cara memberikan pelatihan menganai proses pembangunan kapal kayu yang lebih ekonomis dan efisien ditinjau dari bahan baku yang digunakan. Program ini diharapkan akan mampu meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) para pengrajin kapal kayu di wilayah tersebut menjadi lebih berkompeten dan professional, sehingga dapat memanfaatankan peluang material alternatif yang akan membantu usaha mereka lebih bernilai ekonomi tingg

    Optimalisasi Lahan Sempit dan Pemanfaatan Limbah Eceng Gondok dalam Program Zero Waste

    Get PDF
    Kampung Aer yang terletak di tepian Sungai Musi membuat masyarakat memiliki keterbatasan dalam melakukan kegiatan pertanian dan lahan yang sempit. Terlebih letak yang berada di aliran sungai terdapat banyak limbah eceng gondok dengan kecepatan pertumbuhan tanaman yang dinilai cepat dalam memperbanyak diri. Tanaman eceng gondok ini dapat bertahan meskipun di lingkungan air yang tercemar. Pelatihan diselenggarakan untuk memberdayakan masyarakat terutama ibu rumah tangga yang berada di Kampung Aer. Pada pelatihan program Zero Waste sasaran diberikan penyuluhan dan pelatihan tentang cara pembuatan kompos berbahan dasar eceng gondok dan penanaman sistem hidroponik dalam upaya optimalisasi lahan sempit dan limbah eceng gondok. Metode yang digunakan adalah FGD (Focus Grup Discussion) dengan tiga tahapan yaitu penyampaian materi penyuluhan oleh dosen pembimbing lapangan disertai tanya jawab, praktik secara langsung bersama pendamping, dan tahap evaluasi. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan masyarakat antusias dalam penyuluhan dan memahami cara pembuatan kompos maupun hidroponik setelah penyuluhan. Hasil yang nyata membuat masyarakat ingin terus mengembangkan usaha menjadi skala yang lebih besarKampung Aer yang terletak di tepian Sungai Musi membuat masyarakat memiliki keterbatasan dalam melakukan kegiatan pertanian dan lahan yang sempit. Terlebih letak yang berada di aliran sungai terdapat banyak limbah eceng gondok dengan kecepatan pertumbuhan tanaman yang dinilai cepat dalam memperbanyak diri. Tanaman eceng gondok ini dapat bertahan meskipun di lingkungan air yang tercemar. Pelatihan diselenggarakan untuk memberdayakan masyarakat terutama ibu rumah tangga yang berada di Kampung Aer. Pada pelatihan program Zero Waste sasaran diberikan penyuluhan dan pelatihan tentang cara pembuatan kompos berbahan dasar eceng gondok dan penanaman sistem hidroponik dalam upaya optimalisasi lahan sempit dan limbah eceng gondok. Metode yang digunakan adalah FGD (Focus Grup Discussion) dengan tiga tahapan yaitu penyampaian materi penyuluhan oleh dosen pembimbing lapangan disertai tanya jawab, praktik secara langsung bersama pendamping, dan tahap evaluasi. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan masyarakat antusias dalam penyuluhan dan memahami cara pembuatan kompos maupun hidroponik setelah penyuluhan. Hasil yang nyata membuat masyarakat ingin terus mengembangkan usaha menjadi skala yang lebih besar

    raining and Mentoring a Combination of Exercise for Elderly as an Effort to Prevent Degenerative Disease

    No full text
    Lanjut usia merupakan suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan fungsi kehidupan sehingga rentan terkena penyakit degeneratif. Penting bagi setiap individu untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kualitas hidup pada lanjut usia melalui latihan fisik atau olahraga yang sehat dan adekuat agar penyakit degeneratif dapat dicegah sejak dini. Pelatihan dan pendampingan aktif mengenai kombinasi jenis olahraga bagi lansia dalam mencegah terjadinya penyakit degeneratif pada kader kesehatan lansia Kota Semarang sangat penting dilakukan untuk mewujudkan lansia sehat, mandiri, dan produktif. Fokus pelatihan ini yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peserta mengenai kombinasi jenis olahraga. Metode menggunakan rancangan pre and post-test design dengan peserta sebanyak 139 kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga Lansia Kota Semarang. Lembar pertanyaan diberikan sebelum dan sesudah edukasi kesehatan dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Paired Sample T-Test dengan p<0,05. Setelah dilakukan evaluasi post-test diperoleh rerata jumlah jawaban benar pada sesi post-test (91,60±31,91) lebih tinggi dibandingkan dengan sesi pre-test (68,00±50,15). Kegiatan penyuluhan dan pendampingan aktif dapat meningkatkan pengetahuan peserta karena ditemukan perbaikan nilai post-test setelah diberikan intervensi berupa edukasi mengenai kombinasi jenis olahraga bagi lansia sebagai upaya pencegahan penyakit degeneratif dan meningkatkan kualitas hidup lansia.Elderly is a part of the aging process which is characterized by a decline in various life functions making them susceptible to degenerative diseases. It is important to improve the health status and quality of life in the elderly through adequate physical exercise to prevent degenerative diseases. Active training and assistence regarding a combination of exercise for the elderly in preventing the occurrence of degenerative diseases in elderly health cadres in Semarang City is very important to make healthy, independent, and productive elderly people. The focus of this training was to increase participants’s knowledge and skills regarding a combination of exercise. The Method used in this study was pre and post-test design with 139 participants from Semarang City Elderly Family Welfare Empowerment cadres. Question sheets were given before and after health education and then analyzed using Paired Sample T-Test with p<0.05. After conducting a post-test evaluation, it was found that the average number of correct answers in the post-test session (91.60 ± 31.91) was higher compared to the pre-test session (68.00 ± 50.15)). Training increase participant’s knowledge because of improvements in post-test scores were found after being given intervention in the form of education regarding a combination of types of exercise for the elderly

    Sistem Perpipaan pada Green House di Panti Asuhan dan Pondok Lansia Al – Maa’uun Sapuran, Wonosobo, Jawa Tengah

    Get PDF
    Panti Asuhan dan Pondok Lansia "Al Maa'uun" merupakan lembaga sosial yang berperan untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial bagi masyarakat.  Panti Asuhan Yatim dan Pondok Lansia Al Maa’uun telah berdiri sejak tahun 2019 bertempat di dusun Bakalan, Sapuran, Wonosobo, Jawa Tengah. Kegiatan yang telah dilakukan adalah bercocok tanam berbagai sayuran dan pengolahan carica. Kegiatan bercocok taman yang dilakukan tidak selalu menghasilkan panen yang baik. Permasalah diantaranya adalah hama penyakit pada tanaman yang penanggulangannya sangat sulit diatasi. Program pengabdian pada masyarakat ini difokuskan pada usaha untuk meminimalkan serangan hama dan meningkatkan produksi tanaman adalah dengan penggunaan green house untuk tanaman buah melon, khususnya pada pembuatan sistem perpipaan menggunakan sistem PJC. Pemasangan selang drip dilakukan sebelum penanaman dengan tujuan untuk mengalirkan nutrisi dari fertikid nutrisi melalui pipa utama untuk sampai ke tanaman. Selang drip dihubungkan dengan selang penetes (drib tube) yang dipasang di sepanjang selang cabang

    Analisis Strategi Pemasaran Agens Hayati “PGPR Jakaba” Produksi Gabungan Kelompok Tani Sidorukun Desa Rambipuji Kecamatan Rambipuji Jember: The Marketing Strategy Analysis for Biological Agencies Pgpr Jakaba Joint Producion of Sidorukun Farmer Groups, Rambipuji Village, Rambipuji District, Jember

    No full text
    Konsumen dewasa ini menyadari pentingnya memilih produk pertanian yang organik, bebas racun dan pestisida kimia, berkelanjutan, dan ramah lingkungan untuk generasi berikutnya, usaha pembiakan agens hayati dewasa ini memiliki potensi pasar yang besar. Untuk memilih strategi pemasaran yang tepat, analisis lingkungan internal dan eksternal diperlukan. Ini dicapai melalui pelaksanaan analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT). Selanjutnya, analisis QSPM digunakan untuk menentukan strategi pemasaran mana yang harus diprioritaskan di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sidorukun. Untuk pemasaran agen hayati, "PGPR JAKABA" produksi gapoktan Tani Sidorukun desa Rambipuji ini adalah strategi alternatif untuk pemasaran agen hayati yang berfungsi sebagai modal untuk memanfaatkan kemajuan teknologi pemasaran dengan meningkatkan hasil uji Laboratorium mengenai keragaman unsur dan kerapatan mikroorganisme untuk memastikan produk berkualitas tinggi dan terjamin. Dengan nilai TAS tertinggi 7,39, menangkap peluang pasar dari banyak petani dan konsumen.Usaha pembiakan agens hayati dewasa ini memiliki potensi pasar yang besar karena pembeli produk pertanian menyadari pentingnya memilih produk pertanian yang organik, bebas racun dan pestisida kimia, berkelanjutan, dan ramah lingkungan untuk generasi berikutnya. Analisis lingkungan internal dan eksternal diperlukan untuk memilih strategi pemasaran yang tepat. Ini dilakukan dengan melakukan analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman (SWOT). Kemudian, analisis QSPM digunakan untuk menentukan prioritas strategi pemasaran yang tepat untuk membantu dalam pengambilan keputusan di Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sidorukun. Faktor internal kekuatan (strength) termasuk belum memiliki NIB dan PIRT, pemasaran produk lebih banyak dilakukan secara konvensional, alat produksi sederhana dan konvensional, bahan baku yang melimpah, stok produksi tidak terputus, tenaga kerja berpengalaman, layanan yang baik, dan memiliki tempat produksi yang permanen dan menetap. Faktor internal kelemahan (weakness) termasuk memiliki hasil uji Laboratorium 3 unsur hara dan jenis mikroba, kualitas produk bagus dan terjamin, kualitas bahan baku yang melimpah. Faktor eksternal peluang (opportunity) termasuk kebijakan pertanian yang berkelanjutan oleh pemerintah, penggunaan teknologi informasi dalam pemasaran produk, lahan pertanian yang luas, sumber daya lokal untuk komoditas pertanian di Jember, jumlah petani yang besar, dan dampak negatif dari pupuk dan pestisida kimia. Faktor eksternal ancaman (threat) termasuk banyak pesaing, kualitas produk pesaing dianggap lebih baik, minat petani rendah, dan kepercayaan konsumen terhadap produk mereka. Meningkatkan hasil uji Laboratorium mengenai keragaman unsur dan kerapatan mikroorganisme untuk memastikan produk berkualitas tinggi dan terjamin adalah formulasi strategi alternatif untuk pemasaran agen hayati "PGPR JAKABA". Ini dapat berfungsi sebagai modal untuk memanfaatkan kemajuan teknologi pemasaran. Untuk pemasaran agensi hayati, "PGPR JAKABA" adalah strategi utama untuk mempertahankan dan meningkatkan SDM yang berpengalaman dengan mengikuti pelatihan teknis dan menjaga kelestarian bahan baku yang banyak, karena merupakan modal dan kekuatan untuk meningkatkan produksi secara terus-menerus. Menangkap peluang pasar dari banyak petani dan konsumen dengan lahan pertanian yang luas, dengan nilai TAS tertinggi 7,3

    Evaluasi Kesiapan Profesional Kesehatan dalam Mengadopsi Rekam Medis Elektronik di Fasilitas Kesehatan

    No full text
    According to Permenkes No. 24 of 2022, health facilities must organize Electronic Medical Records no later than December 31, 2023. At the moment the health center is still in the preparatory stage. This study aims to assess the readiness of health professionals to adopt RME and the factors that influence its implementation in health centers. The research design is quantitative with a cross-sectional study approach. The data were collected using a questionnaire with a sample of 47 health professionals. Sampling uses the total-sample technique. Data analysis using chi-square statistical tests. Based on the results of the study there was no significant relationship between age, education, work experience, and profession in RME implementation (Pvalue > 0.05). However, productive age factors are best prepared to apply RME (100%). The level of education does not guarantee the readiness of officers to implement RME, nor does work experience determine the readiness of officers with a service life of 2-5 years unprepared by 95.5%. Regarding the profession, only 20% of medical and health information recorder (PMIK) officers are declared ready. It is expected that there will be socialization and training in the use of RME for healthcare professionals to be optimally organized.According to Permenkes No. 24 of 2022, health facilities must organize Electronic Medical Records no later than December 31, 2023. At the moment the health center is still in the preparatory stage. This study aims to assess the readiness of health professionals to adopt RME and the factors that influence its implementation in health centers. The research design is quantitative with a cross-sectional study approach. The data were collected using a questionnaire with a sample of 47 health professionals. Sampling uses the total-sample technique. Data analysis using chi-square statistical tests. Based on the results of the study there was no significant relationship between age, education, work experience, and profession in RME implementation (Pvalue > 0.05). However, productive age factors are best prepared to apply RME (100%). The level of education does not guarantee the readiness of officers to implement RME, nor does work experience determine the readiness of officers with a service life of 2-5 years unprepared by 95.5%. Regarding the profession, only 20% of medical and health information recorder (PMIK) officers are declared ready. It is expected that there will be socialization and training in the use of RME for healthcare professionals to be optimally organized

    Hubungan Asupan Serat dan Pengetahuan Pola Makan dengan Kejadian Konstipasi Pada Mahasiswa Politeknik Negeri Jember

    Get PDF
    Konstipasi merupakan suatu gejala klinis yang ditandai dengan kesulitan buang air besar (BAB) yang konsistensi tinjanya padat dan frekuensi buang air besar kurang dari 3 kali dalam seminggu. Faktor resiko terjadinya konstipasi salah satunya yaitu asupan serat yang kurang. Asupan serat dapat mengikat air di dalam usus besar dan dapat membuat volume feses menjadi lebih besar sehingga dapat merangsang saraf rektum dan menimbulkan rasa ingin defekasi. Pengetahuan mengenai pola makan yang baik dapat meimbulkan perilaku pola makan yang baik masih belum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis hubungan asupan serat dan pengetahuan pola makan dengan kejadian konstipasi pada mahasiswa Politeknik Negeri Jember. Penelitian ini termasuk kedalam jenis kuantitatif menggunakan rancangan penelitian observasional dengan desain cross sectional. Jumlah sampel yang didapatkan menggunakan rumus Slovin yaitu 72 mahasiswa Jurusan Kesehatan dengan teknik pengambilan sampel secara probability sampling dengan menggunakan teknik simple random sampling. Pengumpulan data penelitian menggunakan Food Recall 1x24 jam yang dilakukan dalam 3 hari secara tidak berurutan, kuesioner kejadian konstipasi dan kuesioner tingkat pengetahuan pola makan. Analisis statistik menggunakan SPSS Statistic Versi 25 yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel yaitu uji Korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara asupan serat dan pengetahuan pola makan dengan kejadian konstipasi

    Pengaruh Suhu terhadap Produksi Amilase dari Bakteri sebagai Bahan Praktikum di Laboratorium Teknologi Rekayasa Pangan

    Get PDF
    Beberapa praktikum di Program Studi Teknologi Rekayasa Pangan memerlukan enzim sebagai bahannya. Selama ini, enzim didapatkan dari nanas untuk bromelin dan kentang untuk katalase. Penelitian ini dilakukan untuk memperbanyak jenis enzim yang digunakan untuk praktikum. Enzim yang ingin dicari adalah amilase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu inkubasi bakteri terhadap aktivitas amilase yang dihasilkan. Tiga isolat yang diuji yaitu A3-04, A3-02 dan G1-01 menunjukkan ketiganya memiliki aktivitas amilase. Zona bening yang dimiliki A3-04 terlihat memiliki ukuran yang paling besar dibandingkan dengan A3-02 dan G1-01, diduga A3-04 memiliki aktivitas amilase paling tinggi.  Metode DNS (Dinitro salicylic acid) dilakukan untuk menentukan aktivitas amilase. Pengaruh suhu dan waktu inkubasi bakteri pada aktivitas amilase ditentukan dengan menumbuhkan kultur bakteri pada suhu 30, 35 dan 40oC. Sampel diambil pada waktu inkubasi 15, 16 dan 17 jam untuk dilakukan pengukuran aktivitas amilase. Selain aktivitas amilase, dilakukan juga pengukuran kepadatan sel bakteri dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 600 nm. Berdasarkan hasil penelitian, aktivitas amilase tertinggi terjadi pada inkubasi bakteri A3-04 pada suhu 35oC selama 17 jam. Dari hasil ini, rekomendasi yang dapat diberikan untuk memproduksi amilase adalah melakukan inkubasi bakteri A3-04 pada suhu 35oC selama 17 jam.  Hasil identifikasi bakteri secara molekuler isolat A3-04 adalah Bacillus flexus strain Xh8 dengan tingkat kesamaan 100,00%. Kata kunci —  Amilase, Bacillus flexus, suhu, kepadatan sel, waktu inkubas

    1,597

    full texts

    2,290

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Open Access Jurnal Politeknik Negeri Jember
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇