Open Access Jurnal Politeknik Negeri Jember
Not a member yet
2290 research outputs found
Sort by
Meningkatkan Kesadaran Hipertensi Terhadap Lansia Melalui Edukasi dan Promosi Kesehatan Dengan Kegiatan Posyandu Lansia
Awareness of hypertension is becoming increasingly important in the elderly population due to its serious health implications. This study aims to identify the level of awareness about hypertension among the elderly through a literature review. Literature search methods were conducted through online databases such as PubMed, Google Scholar, and Scopus using relevant keywords. The results indicate that awareness of hypertension among the elderly varies significantly depending on factors such as education, knowledge level of risks, access to healthcare services, and cultural aspects. These factors influence the prevention behavior and management of hypertension in the elderly. Therefore, appropriate health education programs and interventions need to be introduced to enhance awareness of hypertension among the elderly. Further research is required to gain a deeper understanding of the challenges faced in increasing awareness and preventive actions against hypertension in the elderly population, thereby enhancing their quality of life and well-being
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Konsumen Terhadap Pembelian Teh Kotak (Studi Kasus Di Jurusan Manajemen Agribisnis Politeknik Negeri Jember): Factors Influencing Consumer Behavior on Purchase of Teh Kotak (Case Study in The Department of Agribusiness Management in Politeknik Negeri Jember)
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) Menganalisis pembelian teh kotak dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis secara serempak dan parsial terhadap keputusan pembelian. (2) Menganalisis dan menjelaskan variabel yang mempunyai pengaruh dominan terhadap pembelian Teh Kotak. Penelitian ini menggunakan 50 responden mahasiswa dengan metode survey teknik penarikan insidental sampling. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Uji F menunjukkan bahwa faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis secara serempak mempengaruhi keputusan pembelian. Pengaruh yang paling pengaruh secara parsial terhadap keputusan pembelian adalah faktor budaya dan psikologis, faktor pribadi dan sosial memiliki pengaruh yang sedikit lebih kecil. Budaya memiliki dampak dominan pada perilaku pembelian, hal ini didasarkan pada terbiasanya konsumen mengkonsumsi produk di daerahnya dan minat sama dengan kelas sosialnya terhadap minuman Teh Kotak. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan kedepannya produsen Teh kotak yaitu PT. Ultrajaya Milk Tbk, dapat mempertimbangkan faktor budaya, sosial, pribadi dan psikologis terutama budaya konsumen dalam memasarkan produk Teh kotak sehingga Teh kotak mampu kembali menjadi Top Brand Award.Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) Menganalisis pembelian teh kotak dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis secara serempak terhadap keputusan pembelian. (2) Menganalisis pembelian teh kotak dipengaruhi oleh faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis secara parsial terhadap keputusan pembelian. (3) Menganalisis dan menjelaskan variabel yang mempunyai pengaruh dominan terhadap pembelian Teh Kotak. Penelitian ini menggunakan 50 responden mahasiswa dengan teknik penarikan insidental sampling. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Uji F menunjukkan bahwa faktor budaya, sosial, pribadi, dan psikologis secara serempak mempengaruhi keputusan pembelian. Pengaruh yang paling pengaruh secara parsial terhadap keputusan pembelian adalah faktor budaya dan psikologis, faktor pribadi dan sosial memiliki pengaruh yang sedikit lebih kecil. Budaya memiliki dampak dominan pada perilaku pembelian.
Kata kunci — Budaya, Sosial, Pribadi, Psikologis, Keputusan Pembelia
Respon pertumbuhan dan produksi benih kenikir (Cosmos caudatus Kunth) pada aplikasi Pupuk kandang kambing dan giberelin: Growth and seed production response of cosmos caudatus to aplication of sheep manure and giberellin
Kenikir (Cosmos caudatus) merupakan sayuran indigenous yang berpotensi untuk dikembangkan. Permasalahan utama sayuran indigenous adalah ketersediaan benih bermutu masih belum terpenuhi dan kualitasnya belum terstandar. Produksi benih dapat dioptimalkan dengan budidaya tanaman dengan penggunaan pupuk kandang yang berperan meningkatkan sifat fisik tanah dan giberelin untuk meningkatkan pembungaan dan produksi benih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kandang dan konsentrasi giberelin terhadap produksi benih Cosmos caudatus. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2022 hingga Maret 2023 di Desa Tegalwaru, Mayang, Jember. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok faktorial. Faktor pertama yaitu dosis pupuk kandang yang terdiri ari 10 ton/ha (P1), 15 ton/ha (P2), 20 ton/ha (P3). Faktor kedua yaitu konsentrasi giberelin yang terdiri dari 20 ppm (G1), 30 ppm (G2), 40 ppm (G3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk kandang 20 ton/ha paling baik pada diameter batang (2,04 cm). Perlakuan konsentrasi giberelin 40 mg/l memberikan respon nyata pada parameter tinggi tanaman (204,28 cm), diameter batang (20,02 cm), dan jumlah bunga (70 bunga). Perlakuan yang diberikan belum menunjukkan pengaruh pada produksi benih dan bobot 1000 butir benih yang dihasilkan.Kenikir (Cosmos caudatus) merupakan sayuran indigenous yang berpotensi untuk dikembangkan. Permasalahan utama sayuran indigenous adalah ketersediaan benih bermutu masih belum terpenuhi dan kualitasnya belum terstandar. Produksi benih dapat dioptimalkan dengan budidaya tanaman, diantaranya adalah penggunaan pupuk kandang dan zat pengatur tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis pupuk kandang dan konsentrasi giberelin terhadap produksi benih Cosmos caudatus. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2022 hingga Maret 2023 di Desa Tegalwaru, Mayang, Jember. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok faktorial. Faktor pertama yaitu dosis pupuk kandang yang terdiri ari 10 ton/ha (P1), 15 ton/ha (P2), 20 ton/ha (P3). Faktor kedua yaitu konsentrasi giberelin yang terdiri dari 20 ppm (G1), 30 ppm (G2), 40 ppm (G3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pupuk kandang 20 ton/ha paling baik pada diameter batang (2,04 cm). Perlakuan konsentrasi giberelin 40 mg/l memberikan respon nyata pada parameter tinggi tanaman (204,28 cm), diameter batang (20,02 cm), dan jumlah bunga (70 bunga). Perlakuan yang diberikan belum menunjukkan pengaruh pada produksi benih dan bobot 1000 butir benih yang dihasilkan
Penentuan Persepsi Konsumen dan Produsen Seblak “Preanger” dalam Menentukan Kepuasan Konsumen: Determination of Consumer and Producer perceptions of Seblak “Preanger” in Determining Customer Satisfaction
CV Preanger Karya Nusantara merupakan pelaku usaha makanan yang menawarkan produk seblak dan memiliki citra produk dengan nama Seblak “Preanger”, yang berlokasi di Jalan Sumatra No. 122a, Tegal Boto Lor, Sumbersari, Kabupaten Jember. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas produk Seblak “Preanger” berdasarkan kepuasan konsumen. Metode yang digunakan adalah Quality Function Deployment (QFD). Berdasarkan hasil analisis menggunakan metode QFD, dengan penilaian perspektif konsumen menghasilkan 10 atribut yaitu warna, aroma, rasa, varian toping, kemasan tidak mudah rusak dan bocor, kualitas bahan baku, desain kemasan menarik, harga, lokasi pembelian, dan service/pelayan. Terdapat 4 atribut yang perlu ditingkatkan kualitas seblak yaitu atribut rasa, kemasan produk tidak mudah rusak dan bocor, kualitas bahan baku, dan harga. Persepsi produsen prioritas perbaikan atribut produk Seblak “Preanger” berdasarkan House of Quality adalah menentukan supplier. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan produsen Seblak “Preanger” dapat mempertimbangkan rekomendasi perbaikan berdasarkan perspektif konsumen atribut rasa, kemasan produk tidak mudah rusak dan bocor, kualitas bahan baku, dan harga, serta persepsi produsen adalah menentukan supplier
Evaluation of Hospital Management Information System (HMIS) Implementation in the Registration Unit from the Perspectives of Technology, Human, and Organization
Hospital X is currently undergoing a system transition from an old Hospital Management Information System (HMIS) to a new and more advanced version. This study aims to evaluate the implementation of HMIS in the registration section by examining three key aspects: technological, human, and organizational, using the HOT-Fit (Human, Organization, and Technology-Fit) framework. This research employs a qualitative analysis approach, with data collected through interviews, observations, and documentation. The findings from the technological aspect indicate that system development has been adapted to meet user needs; however, user manuals or clear operational guidelines are still lacking. HMIS is capable of providing information that aligns with both user and organizational requirements. From the human aspect, HMIS supports staff in completing tasks more efficiently, and users generally accept the transition to the new system, although training has not been distributed evenly among all personnel. The organizational aspect reveals that HMIS delivers relevant information to support both internal and external organizational functions. The use of HMIS in the registration unit contributes positively to the overall quality of hospital services, and optimal system performance benefits both users and the organization. Based on the results, it is recommended to schedule regular training sessions, increase staffing in the IT unit, establish specific policies governing HMIS usage, and conduct routine system maintenance to support sustainable implementation
Penerapan Revolusi Industri 4.0 Pada UMKM Batik Di Desa Tegalsari Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember
Batik, developed by Mrs. Lestari, is a business with a typical motif of the Ambulu coast and the Motif of Tobacco Jember. This written batik business was named Rezti's Batik in Tegalsari Ambulu Village, Jember, and had 18 employees, two of whom had disabilities. This written batik product is well known to the public, even abroad. But Batik Resti has obstacles when meeting its customers because the process of drying batik staining still relies on the sun's heat. During the rainy season, orders often can not be on time because of the unfinished coloring process. The implementation of community service in the application of community science and technology (PIM) solves this partner problem by designing and making batik dryer spaces to increase productivity, optimize the use of social media, and product development. The batik dryer is built with an automatic temperature controller that can be adjusted according to the needs of the batik drying process. Batik dryers use standard operating procedures (SOP) for operational equipment needs. This batik dryer can dry 14 pieces of cloth in each process. Training in making social media content and product development training can increase the knowledge and skills of Batik MSMEs.Batik tulis yang dikembangkan oleh bu Lestari merupakan usaha batik dengan motif khas pesisir pantai Ambulu dan juga motif tembakau Jember. Usaha batik tulis ini diberi nama Rezti’s Batik di desa Tegalsari Ambulu Jember dan telah memiliki karyawan sebanyak 18 orang dengan 2 orang diantaranya adalah warga disabilitas. Produk batik tulis ini cukup dikenal masyarakat bahkan sampai manca negara. Namun Resti batik memiliki kendala selama memenuhi pesanan pelanggannya karena proses pengeringan pewarnaan batik masih mengandalkan panas matahari. Jika musim penghujan sering kali pesanan tidak dapat tepat waktu karena proses pewarnaan yang belum selesai. Implementasi pengabdian kepada masyarakat dalam skema Penerapan Iptek Masyarakat (PIM) memecahkan masalah mitra ini dengan merancang serta membuatkan ruang pengering batik guna meningkatkan produktivitasnya, mengoptimalkan penggunaan media sosial, dan pengembangan produk. Ruang pengering batik dibangun dengan pengontrol suhu secara otomatis yang dapat diatur sesuai kebutuhan proses pengeringan batik. Penggunaan ruang pengering batik dilakukan dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan kebutuhan peralatan operasional. Mesin pengering batik ini mampu mengeringkan 14 lembar kain dalam setiap prosesnya. Pelatihan pembuatan konten media sosial, serta pelatihan pengembangan produk, dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan UMKM Batik
Jainal Sosialisasi Dan Pendampingan Pengolahan Alat Light Traf Menggunakan Cell Surya Untuk Mencegah Serangga Pertanian Di Desa Bangkit Baru Barito Kuala
Bangkit Baru village is located in Barito Kuala, Mandastana sub-district, with a population of ± 1000 people, the majority of the people of Bangkit Baru village make their living as rice farmers, the area of agricultural fields is up to 5,424 hectares, the size of the agricultural land in the village indicates that the majority of local people still depend on agricultural land. Rice is one of the staple foods of the Indonesian people. The development of an area means fertile agricultural land with agricultural products and plantations in the area which are useful for supplying food which is currently still declining. In this activity, the team carried out several methods, including field surveys, then continuing to look for problems that were hampering the local community and making tools to deal with pests and grasshoppers, as well as outreach to local residents. The use of this trap light tool is as a pest trap, the LED lights are included. The device will light up at night, the light will attract insect pests so they will fall into a container filled with water which is right under the UV lamp. Then, the water in the container will trap insects, this is a natural pest exterminator without using chemicals that are still used by local people.Desa Bangkit baru terletak di barito kuala kecamatan Mandastana yang jumlah penduduknya ± 1000 jiwa, mayoritas masyarkat desa bangkit baru bermata pencaharian sebagai petani padi, luas ladang pertanian hingga 5.424 hektar, luasnya lahan pertanian pada desa tersebut menandakan mayoritas masayakat setempat masih bergantung pada lahan pertanian, padi adalah salah satu makanan pokok masyarakat Indonesia, berkembangnya suatu wilayah tersebut meandakan lahan pertanian yang subur dengan hasil pertanian maupun Perkebunan yang ada didaerah tersebut gunanya untuk menangulangi pangan yang sampai saat ini masih menurun. Dalam kegiatan tersebut tim melaksanakan dalam beberapa metode diantaranya dengan surpei lapangan kemudian dilanjutkan mencari adanya masalah yang menjadi kendala Masyarakat setempat dan membuatkan alat untuk menanggulangi hama dan belalalng serta sosialisasi kepada warga setempat adapun kegunaan alat trap light ini ialah sebagai perangkap hama, lampu LED yang terdapat pada alat akan menyala pada malam hari, cahaya tersebut akan menarik serangga hama sehingga akan jatuh kedalam wadah yang di isi dengan air yang berada tepat dibawah lampu UV. Kemudian, air didalam wadah akan membuat serangga terperangkap, hal ini yang menjadi pembasmi hama secara alami tidak menggunakan bahan kimiawi yang sekarang masih digunakan masyarakat setempat
Optimalisasi Bekatul Beras Organik Menjadi Produk Cookies dan Sereal Sehat di Kelompok Tani Setia Budi Situbondo, Jawa Timur
Organic red rice has higher nutritional value compared to white rice and is increasingly favored as public awareness of healthy lifestyles grows. Kalianget Village in Situbondo is one of the regions producing organic red rice, managed by the Setia Budi Farmer Group. However, the marketing of these products is still limited due to a lack of innovation insufficient branding skills, and e-commerce utilization. This community service activity aims to provide training and assistance in revitalizing derivative products of organic red rice, namely cereal and cookies made from rice bran, while also enhancing the group's capabilities in branding and digital marketing. The program involved 20 members of the farmer group, 3 lecturers, and 4 students from the University of Jember. The stages of the activity included socialization, product-making training, branding and marketing training, packaging design assistance, and e-commerce implementation. The results showed an improvement in participants' skills in product diversification and digital marketing strategies. This training has generated promising business prospects for the group and is expected to enhance the competitiveness of their products in broader markets.Beras merah organik memiliki nilai gizi lebih tinggi dibandingkan beras putih dan semakin diminati seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pola hidup sehat. Desa Kalianget Kabupaten Situbondo merupakan salah satu wilayah penghasil beras merah organik yang dikelola oleh Kelompok Tani Setia Budi. Namun, pemasaran produk masih terbatas karena minimnya inovasi dan kurangnya kemampuan branding serta pemanfaatan e-commerce. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dan pendampingan dalam revitalisasi produk turunan beras merah organik, yaitu sereal dan cookies berbahan dasar bekatul, serta meningkatkan kemampuan mitra dalam hal branding dan pemasaran digital. Kegiatan melibatkan 20 anggota kelompok tani, 3 dosen, dan 4 mahasiswa Universitas Jember. Tahapan kegiatan meliputi sosialisasi, pelatihan pembuatan produk, pelatihan branding dan pemasaran, pendampingan desain kemasan, serta penerapan e-commerce. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan keterampilan peserta dalam diversifikasi produk dan strategi pemasaran digital. Pelatihan ini menghasilkan prospek bisnis yang menjanjikan bagi mitra dan diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk di pasar yang lebih luas
Analysing equipment needs for hotel laundry business initiation: A case study of Teaching Factory (TeFa) Integrated Hotel
As a vocational college, Politeknik Negeri Jember (Polije) has developed teaching factories, or TeFa, as one manifestation of ‘learning by doing’ to provide skilled graduates for the industrial world. TeFa Integrated Hotel, one of 29 Teaching Factories established by Polije, is gearing up to give the students a small-size hospitality industry simulation. Thus, it intends to improve services by one of which is initiating a hotel laundry business. This research aims to analyse the equipment needed to initiate a laundry business at the TeFa Integrated Hotel. This laundry business is essential for the TeFa to fulfil the needs of customers and its housekeeping section to suppress the operational costs. This research applied a descriptive-qualitative method by collecting data through in-depth interviews and Focus Group Discussions (FDG). The results showed that to start a laundry business, some equipment must be available, including work equipment such as washing machines, dryers, irons, and ironing boards, as well as consumable equipment such as detergent, softener, bleach, acids, and alkalis. For a small-sized hotel laundry, the work equipment standard that must be met includes the size of the washing machine, which is usually equipped with a drying machine between 8-20 Kg adjusted to the room quota and variety of customers. As equipment is the main supporter in running a business, this research can be impactful in determining the business's success in the future. Additionally, any service improvements made by TeFa Integrated Hotel will further support Polije in providing the best graduates to the industry.
Peningkatan Kapasitas Siswa SMA Dalam Optimalisasi Lahan dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim
The Baitul Quran located in Pekanbaru, is relatively new, which means it has a lot of vacant land. As a result, tree planting is necessary to beautify the environment. Similarly, Pekanbaru Sports High School also has vacant land that needs to be utilized. The methods employed sosialization, planting practise, and evaluation. Sosialization is conducted to enhance the partners' knowledge about the role of trees in mitigating the effects of climate change. Tree planting and maintenance practices are implemented to ensure that partners are capable of planting and caring for trees, contributing to the reduction of global warming. The results at Ponpes Baitul Quran and Pekanbaru Sports High School indicate an increase in student knowledge about climate change. Although students at both schools have a similar understanding of climate change, students at Pekanbaru Sports High School demonstrate a stronger grasp of climate change. In contrast, students at Ponpes Baitul Quran show a better understanding of the practical aspects of planting and maintaining trees. Tree planting on the vacant land at these schools creates microclimate. The survival of the trees ranges from 95% to 99%. The best growth in durian trees, followed by eucalyptus, with areca nut trees showing the lowest