Jurnal Online Fakultas Psikologi dan Kesehatan (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya)
Not a member yet
    277 research outputs found

    Hubungan antara Konsep Diri, Regulasi Diri dan Tingkat Religiusitas dengan Penyesuaian Diri pada Santri Pondok Pesantren Al-Berr Pasuruan

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsep diri, regulasi diri dan tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri pada santri Pondok Pesantren Al Berr Pasuruan. Penelitian ini dilakukan pada santri baru Pondok Pesantren Al-Berr dengan jumlah sampel sebanyak 80 orang yang dipilih menggunakan teknik purposive random sampling. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner model skala Likert yang terdiri dari skala konsep diri, skala regulasi diri, skala tingkat religiusitas dan skala penyesuaian diri. Metode analisis data menggunakan teknik analisis regresi berganda. Berdasarkan hasil analisis dengan satu variabel terikat yaitu penyesuaian diri dan tiga variabel bebas yaitu konsep diri, regulasi diri, dan tingkat religiusitas diperoleh nilai F=15.358, dengan nilai Rx1x2x3 sebesar 0,614 dan nilai p = 0,000 (p<0,05) maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan konsep diri, regulasi diri, tingkat religiusitas dengan penyesuaian diri pada santri pondok pesantren Al Berr Pasuruan. &nbsp

    Hubungan antara Kematangan Emosi dan Religiusitas dengan Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Perantau di Asrama Daerah Mahasiswa Yogyakarta

    No full text
    Overseas students are often faced with various changes that require them to be able to adjust to a new environment. However, there are still many overseas students who have difficulty adjusting themselves. One of the factors that influence self-adjustment is emotional maturity and religiosity. This study aims to determine the relationship between emotional maturity and religiosity with adjustment in overseas students. This research was conducted on overseas students aged 18 to 25 years and were overseas students who lived in dormitories in Kalimantan, Nusa Tenggara and Bali. The sample of this study was 108 overseas students who were taken using cluster random sampling technique. The data were collected using a self-adjustment scale, the emotional maturity scale, and the religiosity scale. The statistical analysis technique used is multiple regression techniques. The results of the analysis showed that there was a relationship between emotional maturity and religiosity with self-adjustment in migrant students with a significance value of 0.000 (P <0.05). This means that the higher the emotional maturity and individual religiosity, the higher the adjustment. Emotional maturity and religiosity together contribute effectively to self-adjustment of 47.4%. Emotional maturity contribute effectively to self-adjustment of 45.1%, while religiosity made an effective contribution to self-adjustment of 2.3%.Mahasiswa perantau kerap dihadapkan dengan berbagai perubahan yang menuntut dirinya untuk mampu menyesuaikan diri di lingkungan yang baru. Namun, masih banyak ditemukan mahasiswa perantau yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri. Faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri salah satunya adalah kematangan emosi dan religiusitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi dan religiusitas dengan penyesuaian diri pada mahasiswa rantau. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa rantau dengan rentang usia 18 sampai 25 tahun dan merupakan mahasiswa rantau yang tinggal di asrama daerah Kalimantan, Nusa Tenggara dan Bali. Sampel penelitian ini berjumlah 108 mahasiswa rantau yang diambil dengan teknik cluster random sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala penyesuaian diri, skala kematangan emosi, dan skala religiusitas. Teknik analisis statistik yang digunakan adalah regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan antara kematangan emosi dan religiusitas dengan penyesuaian diri pada mahasiswa perantau dengan nilai signifikansi 0,000 (P < 0,05). Artinya semakin tinggi kematangan emosi dan religiusitas individu maka semakin tinggi pula penyesuaian dirinya. Kematangan emosi dan religiusitas secara bersama-sama memberikan sumbangan efektif terhadap penyesuaian diri sebesar 47,4%. Kematangan emosi memberikan sumbangan efektif terhadap penyesuaian diri sebesar 45,1%, sedangkan religiusitas memberikan sumbangan efektif terhadap penyesuaian diri sebesar 2,3%.Mahasiswa perantau kerap dihadapkan dengan berbagai perubahan yang menuntut dirinya untuk mampu menyesuaikan diri di lingkungan yang baru. Namun, masih banyak ditemukan mahasiswa perantau yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri. Faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri salah satunya adalah kematangan emosi dan religiusitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kematangan emosi dan religiusitas dengan penyesuaian diri pada mahasiswa rantau. Penelitian ini dilakukan pada mahasiswa rantau dengan rentang usia 18 sampai 25 tahun dan merupakan mahasiswa rantau yang tinggal di asrama daerah Kalimantan, Nusa Tenggara dan Bali. Sampel penelitian ini berjumlah 108 mahasiswa rantau yang diambil dengan teknik cluster random sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala penyesuaian diri, skala kematangan emosi, dan skala religiusitas. Teknik analisis statistik yang digunakan adalah regresi berganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada hubungan antara kematangan emosi dan religiusitas dengan penyesuaian diri pada mahasiswa perantau dengan nilai signifikansi 0,000 (P < 0,05). Artinya semakin tinggi kematangan emosi dan religiusitas individu maka semakin tinggi pula penyesuaian dirinya. Kematangan emosi dan religiusitas secara bersama-sama memberikan sumbangan efektif terhadap penyesuaian diri sebesar 47,4%. Kematangan emosi memberikan sumbangan efektif terhadap penyesuaian diri sebesar 45,1%, sedangkan religiusitas memberikan sumbangan efektif terhadap penyesuaian diri sebesar 2,3%

    Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi: Sebuah Nilai Budaya untuk Upaya Pencegahan Bullying dengan Memaksimalkan Peran Bystander

    Full text link
    Bystander plays an important role in the recurrence of bullying episodes, so that they needs to be empowered in order to prevent bullying. bullying prevention need to be culturally sensitive. The values of Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge appear to be in line with anti-bullying value. This study is a preliminary studies that aimed to find whether those cultural values could encourage the bystander to be actively involved and how to apply them in the social relationships. Therefore, the study used a qualitative method with a semi-structured interview on four bullying defenders. The result showed that the values of Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge arose in religious values that socialized within family. Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge were not only recognized as cultural values but also appeared as strategies to intervene bullying. These findings can be suggested to promote the religious and cultural-based  association value as a prevention of school bullying. Keyword: Bullying prevention, Sipakatau, Sipakainge, Sipakalebbi, BystanderBystander berperan penting pada terulang tidaknya episode bullying di sekolah. Bystander perlu dilibatkan secara aktif dalam upaya pencegahan bullying. Pencegahan bullying perlu sensitif budaya. Nilai sipakatau, sipakalebbi, sipakainge sejalan dengan nilai anti-bullying. Penelitian ini merupakan studi awal yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana nilai budaya sipakatau, sipakalebbi, sipakainge mendorong bystander bertindak aktif dan bagaimana nilai tersebut diterapkan dalam pergaulan di sekolah. Prosedur sosiometri dan ilustrasi peran bullying digunakan untuk mengidentifikasi peran bystander. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan prosedur wawancara semi terstruktur pada empat bystander yang berperan membela pada situasi bullying. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap saling menghargai, mengingatkan, dan menghormati muncul dalam pergaulan sesama teman didasari oleh nilai-nilai agama dan dari nilai budaya sipakatau, sipakainge, sipakalebbi yang disosialisasikan dalam budaya Bugis. Nilai karakter dalam konsep sipakatau, sipakainge, sipakalebbi tidak hanya muncul telah diterapkan pada strategi yang digunakan bystander untuk melakukan tindakan pencegahan bullying. Temuan ini dapat menjadi masukan untuk mempromosikan nilai-nilai agama dan budaya sebagai upaya pencegahan bullying di sekolah. Kata kunci: Pencegahan Bullying, Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge, Bystander

    Hubungan Self Confidence dan Self Awareness dengan Komunikasi Efektif pada Mahasiswa

    Full text link
    Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara self confidence dan self awareness terhadap variabel komunikasi efektif, aspek tersebut menjadi hal yang sangat dibutuhkan bagi SDM di era industri saat ini. Sampel dalam penelitian ini adalah 100 Mahasiswa Psikologi UINSA yang masih aktif dalam tahun ajaran 2020-2021. Analisa data yang digunakan menggunakan Regresi Linier Berganda. Hubungan self confidence dan self awareness dan komunikasi efektif adalah sangat signifikan, terlihat dari nilai F sebesar 17,268 dengan nilai p  adalah 0,000 (< 0,05). Variabel self confidence dan self awareness masing-masing memiliki nilai koefisien korelasi 0,393 dan 0,453 terhadap variabel Komunikasi. Hasil uji hipotesis didapatkan kesimpulan bahwa self confidence dan self awareness berhubungan positif terhadap variabel komunikasi efektif dan berdasarkan nilai korelasi dapat dikatakan bahwa self awareness lebih berpengaruh terhadap komunikasi efektif. R Square sebesar 0,263 menunjukkan self confidence dan self awareness secara simultan memberikan kontribusi dalam mempengaruhi komunikasi efektif sebesar 26,3%, sedangkan sisanya 73,7% dipengaruhi oleh variabel atau faktor lain

    Quantitative Analysis of Medication Management and Use in Bima Regional Public Hospital

    Full text link
    Banyaknya jumlah obat-obatan di rumah sakit seringkali meningkatkan risiko ketidaktepatan dalam manajemen persediaan farmasi, oleh karena itu, perlu dilakukan studi pengelolaan dan penggunaannya. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji efektivitas pengelolaan dan penggunaan obat di Bima, Nusa Tenggara Barat. Adapun metode penelitian ini bersifat observasional retrospektif. Analisa data dilakukan secara deskriptif. Evaluasi pengelolaan dilakukan pada tahap perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian, sedangkan evaluasi penggunaan dilakukan dengan menghitung DDD/100 patient-days untuk antibiotika yang paling banyak digunakan. Hasil penelitian pada evaluasi perencanaan, diperoleh tiga jenis obat pada matrik AV yaitu Ringer Lactat, Fentanil dan Tetagam; satu jenis obat vital pada Matrik BV, yaitu anti bisa ular; dan sembilan jenis obat pada matrik CV yaitu Aminophylline inj 24mg, Serum anti tetanus 1.500IU, Fenobarbital inj, Levosol inj, Magnesium sulfat inj 20%, Norepinefrin inj, Otsu D40, Otsu MgSO4 40, Pethidine 50mg/ml. Kesesuaian dana pengadaan obat 107,3% dan rerata ketepatan pengadaan 275%; terdapat 2 jenis obat rusak pada penyimpanan (0,476 %). Analisa DDD/100 patient-days untuk 12 injeksi antibiotika diperoleh total 45,44 DDD/100 patient-days. Kesimpulan: Hasil temuan pada penelitian ini memberikan gambaran informasi awal yang dapat digunakan untuk menyempurnakan praktek pengelolaan obat yang lebih efektif dan efisien di rumah sakit-rumah sakit khususnya di RSUD Bima di masa mendatang.The large number of medications circulating in hospitals may increase the risks of mismanagement of pharmaceutical inventory; hence studies on the management and use of medication are needed. This present study aims to analyse medication management and use  in  Bima Regional Public Hospital. This is a retrospective observational study, using descriptive data analysis. The analysis of medication management was conducted for the planning, procurement, storage and distribution stages; while the evaluation of medication use was done on antibiotic injections commonly prescribed using DDD/100 patient-days. The results showed that in the planning stage, three medications were in the AV category (i.e. Lactated Ringer’s Infusion, Fentanyl and Tetagam Inj.); one vital medication was in the BV category (i.e. anti-snake venom serum); and nine medications were in the CV category (i.e. Aminophylline Inj. 24mg, Anti-Tetanus Serum 1500 IU, Phenobarbital Inj., Levosol Inj., Magnesium Sulphate Inj. 20%, Norepinephrine Inj., OTSU D40 Infusion, OTSU MgSO4-40 Inj., Pethidine Inj. 50 mg/ml). The conformity of procurement funding was 107.3%, while the accuracy of procurement process (medication purchased/prescribed) was 275%; and there were two damaged products during storage (0.476 %). The evaluation of medication use for 12 antibiotic injections found a total 45.44 DDD/100 patient-days. The findings in this study provides a baseline data in optimising future practices of medication management and use in hospitals, especially in Bima Regional Public Hospital

    Analysis of Risk Factors for the Incidence of Stunting in Toddlers

    Full text link
    Stunting may have occurred since prenatal phases until the baby was 2 years old because of malnutrition. Children having stunting have a problem in growth and cognitive impairments. This study aims to analyze the risk factors of stunting among children under five in Empagae, Sidrap Regency. This correlational research study the correlation between posyandu visits, health workers' roles, and parenting on stunting. Technique sampling used was consecutive sampling with 52 respondents. The results showed that there was a moderate correlation between the health workers roles and stunting (p-value = 0.018; r = 0.33), strong correlation between parenting styles and stunting (p. -value = 0.000; r = 0.82), and moderate correlation between posyandu visits stunting (p-value = 0.002; r = 0.43). This research implies that mothers must fulfill nutrition to prevent stunting and be more active in posyandu activities to have nutrition monitoring. It is hoped that health workers have to control and monitor the nutritional status of toddlers, pregnant women, and mothers who have babies to prevent stunting

    Nomophobia dan Kepribadian Siswa SMA

    Full text link
    Nomophobia adalah ketakutan irasional pada individu yang tidak dapat menjangkau smartphone atau berkomunikasi melalui perangkat seluler miliknya. Penelitian kuantitatif komparasi ini melibatkan 320 siswa SMA yang memiliki smartphone di Kota Bukittinggi. Teknik sampling yang digunakan adalah proposional yang terdiri dari 117 siswa laki-laki dan 203 perempuan. Pengambilan data ini menggunakan skala nomophobia disusun oleh peneliti sendiri dan skala kepribadian big five IPIP-BFM-50 yang diadaptasi dari IPIP (International Personality Item Pool). Hasil analisis data menggunakan uji beda anava satu jalur menunjukkan terdapat perbedaan kecenderungan nomophobia ditinjau dari big five personality pada siswa SMA di Kota Bukittinggi

    Pengaruh Shopping Lifestyle dan Hedonic Motives terhadap Impulse Buying Behavior pada Konsumen Produk Fashion

    Full text link
    Studi ini untuk mengetahui hubungan antara shopping lifestyle dan hedonic motives terhadap impulse buying behavior pada konsumen produk fashion. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan menggunakan penelitian survey serta. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling dengan sampel yang berjumlah 140 responden. Teknik pengumpulan data ini menggunakan kuesioner dengan bantuan SPSS versi 20 serta analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan F = 48.640 serta signifikansi 0,000 < ? =  0,05 bahwa terdapat hubungan yang signifikan. Sehingga shopping lifestyle dan hedonic motives terdapat hubungan yang signifikan terhadap impulse buying behavior pada konsumen produk fashion.Studi ini untuk mengetahui hubungan antara shopping lifestyle dan hedonic motives terhadap impulse buying behavior pada konsumen produk fashion. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan menggunakan penelitian survey serta. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling dengan sampel yang berjumlah 140 responden. Teknik pengumpulan data ini menggunakan kuesioner dengan bantuan SPSS versi 20 serta analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan F = 48.640 serta signifikansi 0,000 < ? =  0,05 bahwa terdapat hubungan yang signifikan. Sehingga shopping lifestyle dan hedonic motives terdapat hubungan yang signifikan terhadap impulse buying behavior pada konsumen produk fashion

    Resiliensi Pada Guru Honorer

    Full text link
    Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang resiliensi pada guru honorer di SD Negeri X Kecamatan Plosoklaten. Subjek penelitian ini sebanyak 1 orang, sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan peneliti. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Dalam penelitian ini langkah langkah yang diambil oleh peneliti adalah analisis data kualitatif menurut model interaktif Miles dan Huberman. Pada penelitian ini uji keabsahan data yang dilakukan adalah mengadakan member check. Gambaran resiliensi dilihat dari dimensi Reivich dan Satte. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian memiliki resiliensi yang baik. Hal ini ditunjukkan dari dimensi yang dimiliki subjek yaitu regulasi emosi, pengendalian impuls, optimisme, Casual analysis, empati, self efficacy dan Reaching out. Penelitian ini berimplikasi pada subjek sehingga tetap bertahan dengan situasi sulit yang dihadapi sebagai guru honore

    Individual Characteristics And The Gateway Hypothesis Among Drug User Patient In Indonesia

    Full text link
    Drug abuse has become severe not just in the world but also in Indonesia. To address this problem, public policies and researcher try to understand the drug use pattern. One of the famous concept in drug use pattern is gatheway hypothesis.  The gateway hypothesis refers to the pattern of substance use initiate softer drug lead to the harder drug. However, many literature shows drug use pattern is not just gateway pattern, there is reversal pattern and using both gateway and reversal pattern. Many studies have discussed the relationship between drug use and individual characteristics. However, few of them are relatively link between individual characteristics and the sequential order in drug use. The purpose of this study is to evaluate how individual characteristics are associated with the gateway pattern and other pattern for different types of drugs. We use a secondary dataset of individual drug user patients from the Rehabilitation Center of National Narcotics Board aged 14–67 years assessed using the Addiction Severity Index (ASI), employing probit and multinominal logit model. Duration are associated with initial soft drug user with gateway pattern. While alcohol use and have high education level related with initial hard drug user with reversal pattern. Interestingly, duration and alcohol use correlated with initial intermediate drug user with all kind of pattern. Prevention and intervention efforts should be targeting high-risk characteristics of people at an initial stage of drug use and progression to the next stage

    236

    full texts

    277

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Online Fakultas Psikologi dan Kesehatan (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇