Jurnal Online Fakultas Psikologi dan Kesehatan (Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya)
Not a member yet
277 research outputs found
Sort by
Peran Spiritualitas Tempat Kerja dalam Pembentukan Work Engagement Karyawan
Work engagement pada karyawan penting untuk diperhatikan oleh perusahaan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti peran spiritualitas tempat kerja terhadap work engagement pada karyawan produksi. Rancangan kuantitatif korelasional ini melibatkan 100 karyawan. Ada dua skala yang digunakan yaitu skala Work Engagement Scale-17 dan Workplace at Spirituality Scale. Analisis data menggunakan uji regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan hubungan positif yang signifikan antara spiritualitas tempat kerja dengan work engagement. Spiritualitas tempat kerja mampu menjelaskan terbentuknya work engagement yang dimiliki karyawa
Efektivitas Terapi Plasma Konvalesen pada Pasien Covid-19 Derajat Berat dan Kritis dari Laporan Kasus dan Seri Kasus: Tinjauan Sistematis
Severe acute respiratory syndrome (SARS-CoV-2) causes the 2019 Coronavirus Disease pandemic. Convalescent plasma is the first choice in the current situation because it has been used successfully in other coronavirus outbreaks. Convalescent plasma administration has an immunomodulatory effect on the lungs through the induction of anti-inflammatory cytokines and antibodies that inhibit the complement cascade (C3a, C5a) and the antiviral effect of NAbs. IgG and IgM are the main isotypes, and the humoral immune response is primarily the spike protein (S). Its anti-inflammatory effect controls an overactive immune system (cytokine storm, Th1/Th17 ratio, complement activation and regulation of hypercoagulable states) and synergistically with standard therapy leads to the development of primary clinical outcomes. The use of convalescent plasma has an impact on reducing the morbidity of patients with severe or critical COVID-19.Pendahuluan:Penyakit infeksius akibat virus Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV-2) menyebabkan terjadinya pandemi dengan tanpa terapi spesifik dan mengakibatkan tingginya angka kematian. Imunoterapi dengan antibodi spesifik virus dalam plasma konvalesen telah menunjukkan potensi manfaat untuk berbagai penyakit emerging.
Diskusi: Plasma konvalesen merupakan imunisasi pasif yang mengandung IgG spesifik SARS-CoV-2. Merupakan terapi pilihan pada pasien terinfeksi COVID-19 derajat berat dan kritis. Terapi ini diberikan bersamaan dengan terapi suportif lainnya. Plasma konvalesen berefek mencegah replikasi virus, bersinergis dengan terapi supportif lainnya dapat meningkatkan kondisi klinis pasien, gambaran radiologi maupun laboratorium.
Kesimpulan: Plasma konvalesen diberikan bersama terapi suportiv lainnya dapat bermanfaat menurunkan angka kesakitan.
 
Effectiveness of Organic Waste Degradation Level using the Black Soldier Fly Maggot
Sekaran Village is a village with a dense population, so the quantity of waste, both organic and inorganic from the village community is also high. This experiment focuses on processing organic waste only with Maggot Black Soldier Fly (BSF) media which has the potential to decompose organic waste. The purpose of this study was to determine the level of degradation of organic waste with BSF maggot media at the Sekar Benefit 3R Temporary Disposal Site (TPS) Sekaran District, Lamongan Regency. The results of this experiment include the increase in the mass of Baby Maggot BSF before and after degrading waste. The level of degradation of organic waste with Baby Maggot BSF is rice (69.83%), bones (50.5%), meat (46%), fruit (45.83%), wet leaves (31.5%) and the last is dry leaves (16.67%). Meanwhile, the level of degradation of organic waste with Adult BSF Maggot is not as high as the level of degradation of organic waste with Baby Maggot BSF media. Organic waste type which easily degraded by Adults Maggot BSF for 24 hours are meat, fruit and rice up to 0.59, 0.44 and 0.11 kg. Meanwhile, dry leaves, wet leaves and vegetables, which were degraded up to 0.69, 0.59 and 0.7 kg. It was concluded that the type of organic waste did not affect the quantity of Adult BSF Maggot before and after degrading organic waste.Desa Sekaran merupakan desa dengan penduduk yang sangat padat dan secara otomatis kuantitas sampah yang disumbangkan oleh masyarakat juga tinggi, sampah yang disumbangkan berupa sampah organic dan sampah anorganik. Namun untuk eksperimen ini hanya focus terhadap pengolahan sampah otganik saja. Maggot merupakan organisme potensial yang dapat mengurai limbah organic dengan baik. Tujuan program ini ialah untuk mengetahui tingkat degradasi sampah organic dengan media maggot BSF. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode eksperimen dilakukan di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) 3R Sekar Manfaat Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan pada tanggal 19 sampai dengan 26 September 2022. Hasil dari eksperimen ini yaitu untuk Massa Baby Maggot BSF Sebelum dan Sesudah Mendegradasi Sampah meningkat dan untuk Tingkat Degradasi Sampah Organik dengan Baby Maggot BSF ialah sebesar Nasi (69.83%), tulang (50.5%), daging (46%), buah (45.83%), daun basah (31.5%) dan terakhir adalah daun kering (16.67%). Untuk Tingkat Degradasi Sampah Organik dengan Maggot BSF Dewasa ialah semakin banyak Maggot BSF Dewasa yang dicampurkan dengan sampah organik domestik, maka semakin banyak pula kuantitas sampah organik yang terdegradasi. Jenis sampah organik yang mudah terdegradasi oleh Maggot BSF Dewasa selama 24 jam yaitu daging, buah dan nasi yang masing-masing setelah dicampur dengan Maggot BSF Dewasa terdagradasi sampai dengan 0.59, 0.44 dan 0.11 kg. Sedangkan jenis sampah organik yang paling lama terdegradasi selama 24 jam yaitu jenis daun kering, daun basah dan sayur yaitu terdegradasi sampai dengan 0.69, 0.59 dan 0.7 kg. Untuk Massa Maggot BSF Dewasa Sebelum dan Sesudah Mendegradasi Sampah ialah Kuantitas Maggot BSF Dewasa sebelum dan sesudah dicampur dengan sampah organik, dapat disimpulkan bahwa jenis sampah tidak mempengaruhi kuantitas Maggot BSF Dewasa sebelum dan sesudah mendegradasi sampah organik
Analisis Aspek Dominan Dari Dukungan Keluarga Terhadap Sikap Menstruasi Pada Remaja Putri
Adolescents are defined as individuals with an age range of 10-19 years. In Indonesia, 63.9% of girl adolescents had bad behavior in menstrual hygiene. This study will analyze the relationship between family support and menstrual hygiene attitudes of adolescent girls and the dominant aspect of family support in Jember and Bondowoso. This study uses an observational design using a cross-sectional approach and data were analyzed using multiple linear regression. The sampling technique used was proportional stratified random sampling with a total sample of 300 female adolescent respondents in rural areas of Jember and Bondowoso. Data retrieval was done by questionnaire via google form link. The results showed that there was a statistically significant relationship between family support and attitudes about menstrual hygiene (p-value = 0.012). The most dominant indicator of family support is the instrumental aspect by providing material or physical support that can support adolescent menstrual hygiene.Remaja didefinisikan sebagai individu dengan rentang usia 10-19 tahun. Di Indonesia, 63,9% remaja putri memiliki perilaku buruk dalam kebersihan menstruasi. Penelitian ini akan menganalisis hubungan antara dukungan keluarga dengan sikap menstrual hygiene remaja putri dan aspek dominan dukungan keluarga di Jember dan Bondowoso. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan menggunakan pendekatan cross-sectional dan dianalisis dengan uji regresi linier berganda. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah proportional stratified random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 300 responden remaja perempuan di area rural Jember dan Bondowoso. Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner melalui link google form. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna secara statistik antara dukungan keluarga dengan sikap (p-value = 0,012) tentang menstrual hygine. Indikator dukungan keluarga paling dominan adalah aspek instrumental dengan memberikan material atau fisik yang dapat mendukung menstrual hygiene remaja
Job Crafting dan Keterikatan Kerja Pada Karyawan Perusahaan Startup
Work engagement has been a crucial factor to promote employee’s performance. Engaged employees performs better and are more productive. The aim of this study was to examine the influence of job crafting on work engagement work among employees of startup companies in Indonesia. The present study used correlational design. Participants of this study involved 155 employees that work in startup company. They were selected using purposive sampling technique. Data were collected using the job crafting use Job Crafting Scale (JCS) and Utrecht Work Engagement Scale (UWES). To determine the effect of job crafting on work engagement, the linier regression analysis was used. From the data analysis, there job crafting significantly affect work engagement among employees of company startups. Furthermore, job crafting explains about 46.4% variance in work engagement, while the rest was explained by other variables beyond this research. The finding of this study implies the crucial need for promoting job crafting practices among startup companies.Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh job crafting terhadap keterikatan kerja pada karyawan perusahaan startup. Penelitian ini meggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah responden sebanyak 155 karyawan yang bekerja di perusahaan startup. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini untuk job crafting menggunakan Job Crafting Scale (JSC) dan keterikatan kerja menggunakan Ultrecht Work Engagement Scale (UWES). Teknik analisis data menggunakan regresi sederhana dan didapatkan hasil terdapat pengaruh yang sangat signifikan job crafting terhadap keterikatan kerja pada karyawan perusahaan startup dengan nilai signifkansi sebesar 0,000 (p ≤ 0,05). Hasil ini menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima. Terdapat nilai 46,4% job crafting terhadap keterikatan kerja dan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitia
Does Workplace Friendship Contribute Toward Work Engagement among Employee of West Java’s Industrial Area?
Organization needed energetic and dedicated employees, employees who are engaged with their work. But some surveys show that engagement among employee specially millennials tend to be decreased. One of the factors can contributed toward work engagement is workplace friendship. This study aims to examine whether workplace friendship contribute toward work engagement among employee in the industrial area of West Java. The participants involved were 409 employees in the industrial area of West Java (Bekasi, Karawang, Purwakarta, and Bandung Raya) with a minimum working period of one year or more. The instruments used in this study were the Workplace Friendship Scale (WFS) to measure workplace friendships with a reliability of 0. 687 and The Utrecht Work Engagement (UWES) to measure work engagement with a reliability of 0.929. The data analysis technique used is simple linear regression analysis using the SPSS version 26 program. The results show that workplace friendship contribute toward work engagement among employee in the industrial area of West Jav
Prokrastinasi Akademik Saat Perkuliahan Daring Ditinjau dari Self–Regulated Learning
Mahasiswa perlu miliki cara belajar yang baik dengan proses akademik untuk mengimbangi prokrastinasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan self-regulated learning dan prokrastinasi akademik selama kuliah daring. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional. Subjek penelitian terdiri dari 150 mahasiswa dengan menggunakan simple random sampling. Instrument penelitian yang digunakan adalah skala self-regulated learning dan skala prokrastinasi akademik yang selanjutnya data dianalisa dengan uji korelasi Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif dan signifikan antara self-regulated learning dengan prokratinasi akademik saat perkuliahan dalam jaringan (daring). Prokrastinasi yang tinggi mayoritas disebabkan oleh rendahnya self-regulated learning para mahasisw
Characteristics, 3M Behavior, and Climate Factors with Cases of Dengue Heart Fever (DHF) in Indonesia (Literature Review 2015-2021)
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), has become the fastest growing Vector Borne disease (VBD) in the world over the last few decades, with an increase of 30 times. This study aims to analyze the relationship between the characteristics, behavior of 3M, and climate factors with cases of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in Indonesia. This research was conducted using a literature review method. The research was conducted online by taking research objects in English and Indonesian journals that discussed cases of DHF in Indonesia. The sample used was appropriate and determined in this study totaling 45 research articles. The results showed that men were more likely to be infected with DHF because they were more active outside the home. The age prone to DHF is the age under 16 years old, or the toddler, child, and early teens. The education of the head of the family is also an important factor in efforts to control the dengue outbreak. The results of the literature review show that the characteristics have a significant relationship with dengue cases. Not all people are aware of the importance of 3M behavior, seen from the proportion of people who apply 3M less than people who apply 3M. 3M's behavior is a factor that can reduce the occurrence of dengue cases. Stakeholders or policy makers in the health sector, especially those in charge of controlling the dengue outbreak, should take the results of this study into consideration in determining regulations or policies related to dengue outbreak control.Demam Berdarah Dengue (DBD), telah menjadi Vector Borne diseases (VBD) dengan pertumbuhan tercepat di dunia selama beberapa dekade terakhir, dengan peningkatan 30 kali lipat. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan karaktersitik, perilaku 3M, dan faktor iklim dengan Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan metode literatur review. Penelitian dilakukan secara online dengan mengambil objek penelitian jurnal-jurnal berbahasa Inggris dan Indonesia yang membahas tentang kasus kasus DBD di Indonesia. Sampel yang digunakan sudah sesuai dan ditetapkan dalam penelitian ini adalah berjumlah 45 artikel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan laki-laki lebih banyak terjangkit DBD karena mereka lebih banyak beraktivitas di luar rumah. Usia yang rawan DBD adalah usia di bawah 16 tahun, atau masa balita, anak, dan remaja awal. Pendidikan kepala keluarga juga menjadi faktor penting dalam upaya penanggulangan wabah DBD. Hasil kajian literature review menunjukkan bahwa karakteristik mempunyai hubungan signifikan dengan kasus DBD. Belum semua masyarakat menyadari akan pentingnya perilaku 3M, dilihat dari proporsi masyarakat yang menerapkan 3M lebih sedikit dibandingkan dengan masyarakat yang menerapkan 3M. Perilaku 3M menjadi faktor yang dapat mengurangi terjadinya kasus DBD. Para stakeholder ataupun pengambil kebijakan dalam bidang kesehatan, khususnya dalam yang bertugas dalam bidang pengendalian wabah DBD agar menjadikan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan regulasi ataupun kebijakan terkait penanggulaan wabah DBD
A: Studi Banding Pelayanan Pangan Rumah Sakit Islam Negeri dan Swasta di Makassar
Institutional and industrial food delivery is an integrated program consisting of planning, procuring, storing, processing foodstuffs, and serving or serving food on a large scale. This feeding activity must be guided by the PGRS to ensure quality food so that patients can accelerate the healing process. The implementation of institutional food even though it is guided by PGRS, in fact in the field there are differences in its application, especially in hospital nutrition installations. This study aims to compare the management of food organizations and services in the nutrition installation of Islamic hospitals and general hospitals. This research is a type of qualitative research in May 2022 with a demonology approach, namely describing the implementation of management in food delivery activities at the Nutrition Installation of Faisal Islamic Hospital and Pelamonia Hospital. The subjects in this study were the head of the hospital, processing personnel, nutritionists, waiters and patients' families. The study of data collection through in-depth interviews using a list of questions. Differences in the implementation of management in food delivery activities at the Nutrition Installation of Faisal Islamic Hospital and Pelamonia Hospital which include good kitchen requirements, the needs of officers in nutrition installations, planning for food needs, procurement of foodstuffs, officers who process foodstuffs, prerequisites for processing foodstuffs, and food distribution officers. : It is expected for the Faisal Islamic Hospital and Pelamonia Hospital to evaluate by the Minister of Health of the Republic of Indonesia No. 73 of 2013 concerning Guidelines for Hospital Nutrition Services.Penyelengaraan makanan institusi dan industri adalah program terpadu yang terdiri atas perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pengolahan bahan makanan dan penyajian atau penghidangan makanan dalam skala besar. Kegiatan penyelenggaran makanan ini harus berpedoman pada PGRS untuk menjamin makanan yang bermutu agar pasien dapat mempercepat proses penyembuhannya. Penyelenggaraan makanan institusi walaupun berpedoman kepada PGRS, nyatanya dilapangan terjadi perbedaan pengaplikasiannya, terkhusus pada instalasi gizi Rumah Sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perbandingan manajemen penyelenggaraan serta pelayanan makanan yang ada pada Instalasi gizi di Rumah sakit islam dan Rumah sakit umum. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif bulan mei 2022 dengan pendekatan deskriptif yaitu menggambarkan pelaksanaan manajemen dalam kegiatan penyelenggaraan makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Islam Faisal dan Rumah Sakit TK.II Pelamonia. Subjek dalam penelitian ini adalah kepala rumah sakit, tenaga pengolahan, tenaga gizi, pramusaji dan keluarga pasien. Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam menggunakan daftar pertanyaan. Perbedaan dalam pelaksanaan manajemen dalam kegiatan penyelenggaraan makananan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Islam Faisal dan Rumah Sakit TK II Pelamonia yang meliputi syarat dapur yang baik, kebutuhan petugas pada instalasi gizi, perencanaan kebutuhan bahan makanan, pengadaan bahan makanan, petugas yang melakukan pengolahan bahan makanan, prasyarat pengolahan bahan makanan, dan petugas pendistribusian makanan. Diharapkan kepada pihak Rumah Sakit Islam Faisal dan Rumah sakit TK II pelamonia untuk melakukan evaluasi sesuai dengan Permenkes RI No. 73 tahun 2013 tentang Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit
Risk Factors Social-Emotional Development Disorders in Children
Monitoring development in early childhood is one of the efforts that must be done from the womb until the child is five years old. Early childhood development includes 5 different aspects, namely physical, social, emotional, cognitive, and languange development. Social emotional development includes children's ability to build interactions between individuals and individuals with the environment. The Covid-19 pandemic is a factor that can pose a risk to early childhood mental and behavioral health. This study's main goal was to look at the Covid-19 pandemic's potential risk factors for children's social-emotional development issues. The research method used an observational analytic design. Sampling through purposive sampling technique with a total 89 samples. This study using primary data from interviews with ASQ: SE, PSDQ, and respondent data sheet. The results of the study obtained mother’s education, socioeconomic status, parenting pattern, and exclusive breastfeeding as risk factors associated with impaired early childhood social emotional development during the Covid-19 pandemic. The results of statistical analysis through the Pearson Chi-Square test was obtained p-value <0,05