Pro Food (Jurnal Ilmu dan Teknologi Pangan)
Not a member yet
181 research outputs found
Sort by
PENGARUH PROPORSI TEPUNG RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii, Eucheuma spinosum, DAN TEPUNG TAPIOKA TERHADAP DAYA TERIMA PANELIS DAN NILAI HARDNESS NUGGET JAMUR ENOKI (Flammulina velutipes)
Nugget merupakan olahan daging restrukturisasi yang umumnya terbuat dari daging ayam. Namun nugget daging ayam yang beredar di pasaran umumnya mengandung lemak yang tinggi dan serat yang rendah sehingga tidak disarankan dikonsumsi terus menerus dan dalam jangka panjang. Oleh sebab itu diperlukan diperlukan diversifikasi pangan cepat saji yang lebih sehat, salah satunya dengan penggunaan jamur enoki yang kaya nutrisi serta rumput laut yang kaya serat pangan. Penggunaan kedua bahan ini diharapkan mampu meningkatkan karakteristik fisik serta daya terima terhadap diversifikasi nugget yang lebih sehat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perbandingan tepung rumput laut dan tepung tapioka sebanyak 4 perlakuan yaitu 0 g : 50 g; 5 g : 45 g; 10 g : 40 g; dan 15 g : 35 g. Parameter yang diamati meliputi fisik (hardness) dan sensoris (warna, aroma, rasa, tekstur, dan overall). Data pengamatan diolah menggunakan program statistik SPSS dengan taraf kepercayaan 95%, apabila hasil pengamatan berbeda nyata maka uji dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan tepung rumput laut Kappaphycus alvarezii dan Eucheuma spinosum berpengaruh nyata terhadap karakteristik sensoris nugget jamur enoki. Formulasi terbaik pada karakteristik fisik nugget jamur enoki dengan penambahan tepung rumput laut Kappaphycus alvarezii dan Eucheuma spinosum adalah 15 g : 35 g. Daya terima terbaik pada karakteristik sensoris nugget jamur enoki dengan penambahan tepung rumput laut Kappaphycus alvarezii adalah 10 g : 40 g sedangkan pada nugget jamur enoki dengan penambahan tepung rumput laut Eucheuma spinosum adalah 15 g : 35 g
PENGARUH METODE DAN SUHU BLANCHING TERHADAP PERSENYAWAAN SERAT BATANG PISANG SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN ARES: The Effect of Methods and Temperature of Blanching Treatment on Fiber Compounds of Banana Stem as Raw Material of Ares
ABSTRACT
This study aims to determine the combination of methods and temperature of blanching treatment on crude fiber content, total dietary fiber, insoluble dietary fiber content and soluble dietary fiber content of banana steam as raw material of ares. The experimental design used in this study was Completely Randomized Block Design (CRBD) factorial with six treatments and three repetitions to obtain 18 samples. The combination of treatment consisted of M1T1 (steaming 75°C), M1T2 (steaming 85°C), M2T1 (boiling 75°C), M2T2 (boiling 85°C), M3T1 (boiling with Na2S2O5 0,1% solution 75°C), M3T2 (boiling with Na2S2O5 0,1% solution 85°C). The result of this study were analyzed using ANOVA (Analysis of Variance) diversity analysis at 5% level using Co-Stat Software. The result that had significant differences were continued to analyzed using Honestly Significant Different Test (BNJ) at 5% real level. The result showed that the combination of methods and temperature of blanching treatment did have a significant effect oncrude fiber content, insoluble dietary fiber content, soluble dietary fiber content dan total dietary fiber content. The best result of banana stem based on nutritional quality of fiber was steaming 75°C treatment with crude fiber content 0.5413%, total dietary fiber content 22.059%, insoluble dietary fiber content 19.978% and soluble dietary fiber content 2.081%. The best result of Ares based on nutritional quality of fiber was steaming 75°C treatment with crude fiber content 4,321%, total dietary fiber content 46,057%, insoluble dietary fiber content 42,112% and soluble dietary fiber content 3,945%.
Keywords: ares, banana stem, blanching, crude fiber, dietary fiber.
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi metode dan suhu blanching terhadap kadar serat kasar, kadar serat pangan total, kadar serat pangan tidak larut dan kadar serat pangan larut batang pisang sebagai bahan baku pembuatan Ares. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan enam kombinasi perlakuan dan tiga kali pengulangan sehingga diperoleh 18 sampel. Kombinasi perlakuan terdiri dari M1T1 (pengukusan 75°C), M1T2 (pengukusan 85°C), M2T1 (perebusan 75°C), M2T2 (perebusan 85°C), M3T1 (perebusan dengan larutan Na2S2O5 0,1% 75°C), M3T2 (perebusan dengan larutan Na2S2O5 0,1% 85°C). Data hasil pengamatan diuji dengan analisis keragaman pada taraf nyata 5% menggunakan software Co-Stat. Apabila terdapat perbedaan nyata, maka dilakukan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf 5%. Hasil terbaik batang pisang berdasarkan mutu nutrisi serat yaitu perlakuan pengukusan 75°C dengan kadar serat kasar 0,5413%, kadar serat pangan tidak larut 19,978%, kadar serat pangan larut 2,081% dan kadar serat pangan total 22,059%. Hasil terbaik pada ares berdasarkan mutu nutrisi serat adalah perlakuan pengukusan pada suhu 75°C dengan kadar serat kasar 4,321%, serat pangan total 46,057%, serat pangan tidak larut 42,112% dan serat pangan larut 3,945%.
Kata kunci: Ares, batang pisang, blanching, serat kasar, serat pangan
ANALISIS SENSORI DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN MENGGUNAKAN METODE DPPH PADA CAMPURAN BAWANG PUTIH, JAHE, LEMON DAN MADU SEBAGAI SUPLEMEN HERBAL: Sensory Analysis and Antioxidant Activity Using DPPH Method in Garlic, Ginger, Lemon and Honey Mixes as an Herbal Supplement
ABSTRACT
Herbal supplements are one of the products that are taken from outside the body derived from a mixture of herbal plant ingredients have antioxidant activity to prevent the presence of free radicals in the body. Testing natural antioxidant activity in herbal supplement products using the DPPH method (1,1-diphenyl-2-picrylhyrazil). Measurement of UV-Visible spectrophotometry absorbance with DPPH absorbance value at a wavelength of 517 nm. Sensory analysis using a hedonic test at the panelist preference level, using four attribute parameters namely taste, aroma, color and overall acceptance. Results Tests of antioxidant activity in herbal supplement products on various combination techniques and concentrations of garlic, ginger, local lemons and honey, resulting in the reduction of DPPH which is characterized by a reduction in the intensity of the color from purple to fade to yellow. Antioxidant testing obtained IC50 values from all herbal supplement samples from various treatment techniques and concentrations showed IC50 values less than 50 found in the treatment of chopped engineering materials, concentration 1 (K1) of 23.97%. While concentrations of 2 (k2) and 3 (k3) as well as in various combination techniques and other concentrations indicate that IC50 values range from 50 ppm to 100 ppm. This shows that herbal supplements have very strong antioxidants (IC50 value <50) found in the treatment of ingredients with chopped techniques with the lowest concentration. whereas herbal supplements with treatment techniques and other concentrations have a strong antioxidant value of IC50 (50-100). The results of sensory analysis indicate that the average panelist had a preference level for herbal supplement products with chopping and extraction treatment techniques.
Keywords: Antioxidant, DPPH, Herbal supplements, IC50
ABSTRAK
Suplemen herbal merupakan salah satu produk yang menjadi asupan dari luar tubuh yang berasal dari hasil campuran bahan tanaman herbal yang mempunyai aktivitas antioksidan tinggi untuk mencegah adanya radikal bebas dalam tubuh. Pengujian aktivitas antioksidan alami pada produk suplemen herbal menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2-picrylhyrazil). Pengukuran absorbansi secara spektrofotometri-UV Visibel dengan Nilai absorbansi DPPH pada panjang gelombang 517 nm. Analisis sensori dengan menggunakan uji hedonik pada tingkat kesukaan panelis, menggunakan empat parameter atribut yaitu rasa, aroma, warna dan penerimaan keseluruhan. Hasil Pengujian aktivitas antioksidan dalam produk suplemen herbal pada berbagai teknik kombinasi dan konsentrasi bawang putih, jahe, lemon lokal dan madu, menghasilkan peredaman DPPH yang ditandai dengan berkurangnya intensitas warna ungu menjadi pudar sampai kekuningan. Pengujian Antioksidan didapatkan Nilai IC50 dari seluruh sampel suplemen herbal dari berbagai teknik perlakuan dan konsentrasi menunjukkan nilai IC50 kurang dari 50 terdapat pada perlakuan bahan teknik rajangan, konsentrasi 1 (K1) sebesar 23,97 %. Sementara konsentrasi 2 (k2) dan 3 (k3) serta pada berbagai teknik kombinasi dan konsentrasi lainnya menunjukan bahwa nilai IC50 berkisar 50 ppm - 100 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa suplemen herbal memiliki antioksidan yang sangat kuat (nilai IC50 <50) terdapat pada perlakuan bahan dengan teknik rajangan dengan konsentrasi yang paling rendah, sedangkan suplemen herbal dengan teknik perlakuan dan konsentrasi lain memiliki nilai antioksidan kuat IC50 (50-100) ppm. Hasil analisis sensori menunjukan bahwa rata-rata panelis memiliki tingkat kesukaan pada produk suplemen herbal dengan teknik perlakuan rajangan dan perlakuan sari.
Kata kunci: Antioksidan, DPPH, IC50, Sensori, Suplemen Herbal
KARAKTERISTIK KWETIAU DARI TEPUNG BERAS MERAH (Oryza sativa): Characteristics of Kwetiau Made of Red Rice (Oryza sativa) Flour
ABSTRACT
The objective of this research was to analyze the characteristics of kwetiau made of red rice flour with binding agents addition and soaking time of red rice. This research used a Factorial Completely Randomized Design with two factors. The first factor was types of binding agent (tapioca, glutinous rice flour and sago), and the second factor was the soaking time (1.5 hours and 3 hours). The observed parameters were physical (color, texture, elongation), chemical (moisture, ash, crude fiber, total anthocyanin content, and sensory characteristics (flavor, color, texture, taste). The results showed that the types of binding agent had significant effects on texture, elongation, and moisture content, while the soaking time had significant effects on color (L*, a*, b*), texture, moisture and ash content. Interaction of binding agent and soaking time had significant effects on texture and moisture content. Based on sensory characteristics and moisture content (Indonesian National Standard No. 2987-2015), the best treatment was kwetiau A1B1 (tapioca as binding agent; 1.5 hours of soaking time).
Keywords: binding agent, kwetiau, red rice flour, soaking time
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa karakteristik kwetiau dari tepung beras merah dengan penambahan beberapa jenis bahan perekat dan lama perendaman beras merah. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan dua faktor perlakuan, yaitu jenis bahan perekat (tapioka, tepung beras ketan, dan sagu) dan lama perendaman beras merah (1,5 jam dan 3 jam). Parameter yang diamati adalah karakteristik fisik (warna, kekerasan, elongasi), kimia (air, abu, serat kasar, total antosianin), dan sensoris (flavor, warna, tekstur, rasa). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis bahan perekat berpengaruh nyata terhadap kekerasan, elongasi dan kadar air, sedangkan lama perendaman berpengaruh nyata terhadap warna (L*, a*, b*), tekstur, elongasi, kadar air dan abu. Interaksi antara jenis bahan perekat dan lama perendaman berpengaruh nyata terhadap tekstur dan kadar air kwetiau tepung beras merah. Perlakuan terbaik ditentukan berdasarkan karakteristik sensoris dan parameter kadar air (SNI 2987-2015), perlakuan terbaik adalah kwetiau A1B1 (bahan perekat tapioka; lama perendaman beras merah 1,5 jam).
Kata kunci: bahan perekat, kwetiau, lama perendaman, tepung beras mera
POTENSI PIGMEN ALAMI DARI BAKTERI SIMBION KARANG Mantipora sp SEBAGAI PEWARNA MAKANAN: Potential of Pigment from Simbion Coral Bacteria Mantipora sp As a Food Color
ABSTRACT
Color is very important in the food industry. The need for food coloring requires manufacturers to use synthetic dyes that have the potential to cause poisoning and cancer. One source of natural dyes comes from bacteria that are symbiotic with coral reefs. The purpose of this study is to isolate and characterize the bacterial pigment that has symbiosis with Montipora sp. The research method consisted of bacterial isolation and identification, pigment identification with UV-Vis spectrofotometer (200 – 800 nm) and TLC. The results of isilation and identification showed that Rhodococcus sp is dominant bacterial which is produces of carotenoiids for self defense from UV rays. The pigment found in Rhodococcus sp has the potential as a natural pigment for food coloring.
Keywords: carotenoids, Montipora, pigment, Rhodococcus sp.
ABSTRAK
Warna sangat penting dalam industri pangan. Kebutuhan pewarna makanan menuntut produsen memakai bahan pewarna sintetik yang berpotensi menyebabkan keracunan dan kanker. Salah satu sumber pewarna alami berasal dari bakteri yang bersimbiosis dengan terumbu karang. Tujuan dari penelitian ini adalah mengisolasi dan mengkarakterisasi pigmen bakteri yang bersimbion Montipora sp. Metode penelitian terdiri dari isolasi dan identifkasi bakteri, identifikasi pigmen dengan spektrofotometer UV-Vis (200 – 800 nm) dan KLT. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri berjenis Rhodococcus sp dan piigmen yang dihasilkan adalah karotenoid yang digunakan sebagai pertahanan diri dari sinar UV. Pigmen yang terdapat pada Rhodococcus sp berpotensi sebagai pigmen alami untuk pewarna pangan.
Kata kunci: karotenoid, Montipora, pigmen, Rhodococcus sp
KOMPONEN SENYAWA DAN ANTIOKSIDAN BERBAGAI LOLOH PASCA PEREBUSAN DENGAN BERBAGAI BAHAN UTENSIL, PRODUK LOLOH: Compounds and Antioxidan Components of Various Post-Rushing Loloh With Various Utensil Ingredients, Product Loloh Of Ukm Pejeng Kelod Village, Tampak Siring Gianyar, Bali
ABSTRACT
The purpose of this study was to determine the antioxidant test of various utensils from pottery, aluminum and stainless steel against the antioxidants of loloh drinks produced by the village of Pejeng Kelod Tampak Siring, Gianyar, Bali. Loloh using water that is boiled first, then poured on the main ingredients and then packed. The tools used to cook loloh are inconsistent, while the public's ano if cooking loloh using pottery seems better. The research used the GC MS method, IC50 and antioxidant capacity after heating the loloh with various utensils. The results showed that there were 15 compound components, and there were significant differences in the use of pottery, aluminum and stainless steel cooking tools. Further tests of the Smallest Significant Difference (LSD) show that cooking turmeric loloh and using pottery shows the highest antioxidant capacity (623.91 μg GAEAC / g material), compared to the antioxidant capacity of aluminum (353.2 μg GAEAC / g material) , stainless steel (559.1 μg GAEAC / g material), and untreated (control) (631.1 μg GAEAC / g material). Inversely proportional to IC50 turmeric loloh control (2208.7 ppm), earthenware (3426.09 ppm), stainless steel (4792.46 ppm), aluminum (6122.40 ppm). The paiduh antioxidants were significantly different from heating with aluminum (7122.40 ppm), stainless steel (4426.09 ppm), and pottery (3208.7 ppm). The higher the antioxidant capacity of loloh paiduh, namely aluminum (423.2 GAEAC / g material), stainless steel (649.1 GAEAC / g material), pottery (723.91 GAEAC / g material)
Keywords: antioksidant, loloh turmeric, pejeng kelod, pottery, utensil
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui antioksidan uji berbagai utensil dari bahan gerabah, aluminium dan stainless steel terhadap antioksidan minuman loloh produksi desa Pejeng Kelod Tampak Siring Gianyar Bali. Loloh menggunakan air yang dimasak terlebih dahulu, kemudian dituangkan pada bahan utama dan selanjutnya dikemas. Alat yang dipergunakan memasak loloh tidak konsisten sedangkan anemo masyarakat jika memasak loloh dengan menggunakan gerabah terkesan lebih baik. Penelitian menggunakan metode GC MS, IC50 dan kapasitas antioksidan setelah pemanasan loloh dengan berbagai utensil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 15 komponen senyawa, da nada perbedaan yang signifikan dari penggunaan alat memasak gerabah, aluminium dan stainless steel. Uji lanjut Beda Nyata Terkecil (BNT) diketahui bahwa memasak loloh kunyit dan paiduh dengan menggunakan gerabah, menujukan angka kapasitas antioksidan tertinggi (623,91 μg GAEAC/g bahan), dibandingkan dengan kapasitas antioksidan aluminium (353,2 μg GAEAC/g bahan), stainless steel (559,1 μg GAEAC/g bahan ), dan tanpa perlakuan (kontrol) (631,1 μg GAEAC/g bahan). Berbanding terbalik dengan IC50 loloh kunyit kontrol (2208,7 ppm), gerabah (3426,09 ppm), stainless steel (4792,46 ppm), aluminium (6122,40 ppm). Antioksidan loloh paiduh berbeda nyata secara signifikan terhadap pemanasan dengan aluminium (7122,40 ppm), stainless steel (4426,09 ppm), gerabah (3208,7 ppm). Kapasitas antioksidan loloh paiduh semakin tinggi yaitu aluminium (423,2 GAEAC/g bahan), Stainless steel (649,1 GAEAC/g bahan), Gerabah (723,91 GAEAC/g bahan)
Kata kunci: antioksidan, gerabah, loloh kunyit, pejeng kelod, utensi
EKSTRAKSI SENYAWA ANTIOKSIDAN BERUPA LIKOPEN DARI LIMBAH BUAH SEMANGKA DI PULAU LOMBOK: Reproducing Antioxidant Compounds Wit Lycopene Forms From Watermelon Waste In Lombok Island
ABSTRACT
Watermelon is one of the fruits that are in abundance in the dry season, especially on the island of Lombok. This abundant availability sometimes makes watermelons become waste. One way to take advantage of unsold watermelons so that they do not have to become waste is to extract the antioxidant compounds found in watermelons. The antioxidant compound found in watermelon is lycopene. Lycopene is an antioxidant compound that has many benefits, especially in controlling free radicals in the body. Also, lycopene is useful for preventing cardiovascular disease, diabetes, and, cancer. Lycopene extraction in watermelon fruit waste was carried out by the liquid-liquid method, using Hexane and Ethanol as a solvent with a ratio of 2:1. The purpose of this study was to determine the lycopene content in watermelon waste based on the ratio of feed and solvents (F/S), as well as time and temperature. The ratio of F/S used is 1:1, 1:2, 1:3, 1:4, 1:5 extraction temperature (30, 40, 50, 60, 70, 80, and 90) o C while the time used (30, 40, 50, 60, 70, 80, 90, 100, 110, 120) minutes. Based on the analysis using UV-Vis Spectrophotometry, it is known that the optimum conditions for lycopene content are in the F/S ratio of 1:4 at 70oC and 90 minutes. The lycopene content obtained was 3, 1595 mg/100gram.
Keywords: antioxidant, extraction, lycopene, UV-Vis spectrophotometry, watermelon
ABSTRAK
Semangka merupakan salah satu buah-buahan yang stoknya melimpah di musim kemarau terutama di pulau Lombok. Ketersediaan yang melimpah tersebut terkadang membuat buah semangka menjadi limbah. Salah satu cara memanfaatkan buah semangka yang tidak laku terjual agar tidak harus menjadi limbah adalah dengan mengekstrak senyawa antioksidan yang terdapat pada buah semangka. Senyawa antioksidan yang terdapat pada buah semangka berupa Likopen. Likopen merupakan senyawa antioksidan yang memiliki banyak sekali manfaat terutama dalam mengendalikan radikal bebas dalam tubuh. Selain itu Likopen juga bermanfaat mencegah penyakit cardiovascular, kencing manis, hingga kanker. Ekstraksi Likopen pada limbah buah semnagka ini dilakukan dengan metode cair-cair, dengan menggunakan Heksana dan Ethanol sebagai pelarut (solvent) dengan jumlah perbandingan 2:1. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk bertujuan untuk mengetahui kandungan likopen yang terdapat pada limbah buah semangka berdasarkan perbandingan bahan dan pelarut (F/S), serta waktu dan suhu. Adapun perbandingan F/S yang digunakan yaitu 1:1, 1;2, 1;3, 1:4, 1:5 suhu ekstraksi (30, 40, 50, 60, 70, 80 dan 90)oC sedangkan waktu yang digunakan (30, 40, 50, 60, 70, 80, 90, 100, 110, 120). Berdasarkan hasil analisa dengan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis diketahui bahwa kondisi optimum kandungan Likopen berada pada perbandingan F/S 1:4 pada suhu 700C dan waktu 90 menit. Kandungan Likopen yang didapatkan sebesar 3,1595 mg/100gram.
Kata kunci: antioksidan, ekstraksi, likopen, semangka, spectrofotometri UV-Vi
TEKNOLOGI PRODUKSI NATA DE COCO BERBAHAN BAKU ORGANIK: Production Technology of Organic Nata De Coco
ABSTRACT
Production research technology of nata de coco organic aims to find an alternative nitrogen source model to replace Urea Fertilizer (ZA) to produce quality nata de coco products and to implement this model in the community (UKM NATA de COCO). The benefit of this research is to produce quality nata de coco products and contain a source of fiber (dietary fiber). The quantitative Research Methods (laboratory experiments), with Phase I research carried out trough laboratory test with Treatment A = 10 liters of coconut water + 50 ml of bean sprouts extract; Treatment B = 10 liters of coconut water + 50 ml mung bean extract; Treatment C = basic ingredients of coconut water 10 liters + coconut milk 50 ml and Treatment D = basic ingredients of coconut water 10 liters + ZA Food Grade 20 grams + the palm tree sap and treatment E = basic ingredients of coconut water + ZA Non FOod Grade (control). The quality parameters of nata de coco studied were water content, rendemen, crude fiber content, thickness, color and weight of the pellicle. Next Phase II Research: Implementation of Alternative Nitrogen Substituted Urea Fertilizer (ZA) source models in Natural Cellulose Small Business (nata de Coco) in Airmadidi District, North Minahasa Regency. The results of the research: (1). Nitrogen sources are obtained from natural / organic ingredients such as: bean sprouts extract, green bean extract, coconut milk, as an alternative to Urea (ZA) fertilizer which can be used by bacteria Acetobacter xylinum to form natural cellulose pellicles, and a source of Acetobacter xylinum from the sap of the Enau tree. (2). A quality nata de coco product is obtained by providing a model for the use of “Food Grade” N sources in small businesses that produce nata de coco in Airmadidi District, North Minahasa Regency.
Keywords: dietary fiber, nata de coco, organic
ABSTRAK
Penelitian Teknologi Produksi Nata De Coco Berbahan Baku Organik bertujuan untuk mendapatkan model sumber nitrogen alternatif pengganti Pupuk Urea (ZA) guna menghasilkan produk nata de coco yang berkualitas serta dapat mengimplementasikan model ini kepada masyarakat (UKM Nata de Coco). Manfaat penelitian ini guna menghasilkan produk nata de coco yang berkualitas dan mengandung sumber serat (dietary fiber). Metode Penelitian secara kuantitatif (eksperimen laboratorium), dengan Penelitian Tahap I dilakukan melalui uji laboratorium dengan Perlakuan A = bahan dasar air kelapa 10 liter + ekstrak tauge 50 ml; Perlakuan B = bahan dasar air kelapa 10 liter + ekstrak kacang hijau 50 ml; Perlakuan C = bahan dasar air kelapa 10 liter + santan kelapa 50 ml dan Perlakuan D = bahan dasar air kelapa 10 liter + ZA Food Grade 20 Gram + Nira Pohon Enau dan Perlakuan E = bahan dasar air kelapa + ZA Non Food Grade (Kontrol).Parameter kualitas nata de coco yang diteliti yaitu: kadar air, rendeman, kadar serat kasar, ketebalan, warna dan berat pelikel. Selanjutnya Penelitian Tahap II: Implementasi model sumber nitrogen alternatif pengganti Pupuk Urea (ZA) pada Usaha Kecil nata de coco di Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara. Hasil penelitian yang dihasilkan: (1). Diperoleh Sumber Nitrogen dari bahan alami/organik seperti : ekstrak tauge, ekstrak kacang hijau, santan kelapa, sebagai alternatif pengganti Pupuk Urea (ZA) yang dapat digunakan oleh bakteri Acetobacter xylinum dalam menmbentuk pelikel selulosa alami, dan sumber Acetobacter xylinum dari nira pohon Enau. (2). Diperoleh produk nata de coco yang berkualitas dengan memberikan model penggunaan sumber N “Food Grade” pada Usaha Kecil yang memproduksi nata de coco di Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara.
Kata kunci: dietary fiber, nata de coco, organi
EFEKTIVITAS BUBUK KOPI ROBUSTA FUNGSIONAL DIFORTIFIKASI BUBUK DAUN KERSEN TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH MENCIT DIABETES: The Effectiveness of Functional Robusta Coffee Powder Fortified by Muntingia calabura L. Leaves Powder to Lower Blood Glucose Level in Diabetic Mice
ABSTRACT
The aim of this present study was to determine the effectiveness of fucntional Robusta coffee powder fortified by Muntingia calabura L. leaves to lower blood glucose level in diabetic mice according to the antioxidant activity and total phenolic content, and the effectivness of the chosen ratio of the antidiabetic functional coffee beverage to the body weight and blood glucose level in diabetic mice. This research was conducted in two stages. First, determining the best ratio of the antidiabetic functional coffee beverage using randomized complete design. Second, testing the best ratio to the speciment using the randomized post test-only control group design to perform the chosen ratio of the antidiabetic functional coffee beverage to diabetic mice in seven days treatment. The results showed that the best ratio of the antidiabetic functional coffee beverage was 25% robusta coffee powder and 75% Muntingia calabura L. leaves powder with 88.26% antioxidant activity and 1.05 mg GAE/g sample, and the chosen ratio of the antidiabetic functional coffee beverage proved the activity to reduce the blood glucose level in diabetic mice with the decrease level was 266 mg/dl or 45% effective to reduced the blood glucose level in diabetic mice. This blood glucose reduced activity was not significant to the positive control group given glibenclamid, but it was found significant to the negative control group that given aquades per oral. While the body weight of the diabetic mice given aquades only decreased twice higher than positive control group and antidiabetic functional coffee beverage group.
Keywords: blood glucose level, diabetic, Muntingia calabura L. leaves, robusta coffee
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan rasio terbaik antara bubuk kopi robusta dan bubuk daun kersen sebagai minuman fungsional yang difortifikasi bubuk daun kersen terhadap penurunan kadar gula darah mencit diabetes, yang ditinjau dari aktivitas antioksidan dan kadar fenolik total, serta pengaruh rasio terpilih terhadap berat badan dan penurunan kadar gula darah mencit diabetes. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, yang pertama yaitu penentuan rasio terbaik antara bubuk kopi robusta dan bubuk daun kersen menggunakan metode rancangan acak lengkap (RAL) dengan faktor tunggal berupa rasio bubuk kopi robusta dan bubuk daun kersen. Kedua, yaitu pengujian rasio terbaik pada hewan percobaan menggunakan metode rancangan acak dengan tes akhir dan kelompok kontrol dengan parameter kadar gula darah dan berat badan mencit selama tujuh hari perlakuan. Hasil dari penelitian ini adalah rasio terbaik dari kopi fungsional antidiabetes diperoleh dari rasio 25% bubuk kopi robusta dan 75% bubuk daun kersen dengan aktivitas antioksidan sebesar 88,26% dan kadar fenolik total sebesar 1,05 mg GAE/g bahan. Berdasarkan uji in vivo, produk kopi fungsional antidiabetes mampu menurunkan kadar gula darah mencit diabetes sebesar 266 mg/dl atau sekitar 45%, tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol positif yang diberikan obat glibenklamid dengan penurunan sebesar 268 mg/dl atau sekitar 47%, namun berbeda nyata dengan kelompok perlakuan kontrol negaif menggunakan aquades yang mengalami peningkatan kadar gula darah sebsar 4,2%. Sedangkan untuk parameter berat badan, bahwa penurunan berat badan mencit kelompok perlakuan kontrol negatif menggunakan aquades mengalami penurunan dua kali lebih besar dibandingkan kelompok kontrol positif dan kelompok produk kopi fungsional.
Kata kunci: daun kersen, diabetes, kadar gula darah, kopi robust
PENGARUH KOMBINASI SUHU DAN DEHUMIDIFIKASI UDARA PENGERING TERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN IRISAN BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia): The Effect of Combination of Temperature and Drier Air Dehumidification On Antioxidant Activities of Noni Slices
ABSTRACT
Fresh noni fruit has nutrients and active components and contains high water content. Noni has a short shelf life caused by high of water content, so it is necessary to reduce the water content of the material by drying. The purpose of this study was to determine the effect of method and drying temperature combination on antioxidant activity of noni slices which include ascorbic acid, total flavonoids, and antioxidant activity. This study was designed using Randomized Block Design (RBD) with combination of 2 treatment factors, namely the drying temperature (T) and the drying method (M) and 3 replications. The drying method uses three methods, namely conventional hot air, dehydrated hot air, and circulated dehydrated hot air, while the drying temperature used was 50 ° C, 57 ° C and 65 ° C. Data analysis for ascorbic acid, total flavonoids, and antioxidant activity using ANOVA test (α = 5%) and HSD test (α = 5%), while drying time was analyzed descriptively. The results showed that the highest antioxidant activity with conventional methods at 50 ºC was 34% with the characteristics of ascorbic acid 52.8 mg/100g of noni dried fruit, total flavonoids 3.81 mg QE/g of noni dried fruit, and drying time for 18 hours.
Keywords: adsorbent, antioxidant, drying, noni, temperature
ABSTRAK
Buah mengkudu segar kaya akan nutrisi dan komponen aktif serta mengandung kadar air tinggi. Tingginya kadar air mengakibatkan masa simpan yang singkat, sehingga perlu dilakukan pengeringan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi metode dan suhu pengeringan terhadap aktivitas antioksidan irisan buah mengkudu yang meliputi asam askorbat, total flavonoid, dan aktivitas antioksidan. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) desain faktorial yang terdiri dari kombinasi dua faktor perlakuan, yaitu suhu pengeringan (T) dan metode pengeringan (M) serta 3 ulangan. Metode pengeringan menggunakan tiga metode, yaitu metode konvensional, metode adsorpsi dan metode sirkulasi, sedangkan suhu pengeringan yaitu 50 °C, 57 °C dan 65°C. Analisa data untuk asam askorbat, total flavonoid, dan aktivitas antioksidan menggunakan ANOVA (α=5%) dan uji BNJ (α=5%), sedangkan lama pengeringan dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antioksidan tertinggi dengan metode konvensional pada suhu 50 ºC yaitu sebesar 34% dengan karakteristik asam askobat sebesar 52,8 mg/100g buah mengkudu kering, total flavonoid sebesar 3,81 mg QE/g buah mengkudu kering, dan lama pengeringan selama 18 jam.
Kata kunci: adsorben, antioksidan, mengkudu, pengeringan, suh