2686 research outputs found
Sort by
KAJIAN DAMPAK LINGKUNGAN PADA CENTRAL PROCESSING PLATFORM PT. X DENGAN LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA)
PT. X salah satu perusahaan yang bergerak di bidang migas untuk kegiatan eksploitasi dan pengolahan migas offshore. Pada PT. X, kegiatan pemisahan fluida ini terdapat di salah satu fasilitas processing platform PT. X yaitu Central Processing Platform dan berpotensi juga berkontribusi terhadap emisi yang terjadi serta berdampak terhadap lingkungan. Berdasarkan kondisi tersebut, perlu dilakukan evaluasi terkait dengan dampak lingkungan menggunakan Life Cycle Assessment. Analisis Life Cycle Assessment diharapkan dapat mengetahui dampak lingkungan yang ditimbulkan pada Central Processing Platform sehingga dapat direkomendasikan alternatif untuk mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan pada titik hotspot dan mendukung pelaksanaan produksi bersih oleh perusahaan. Data yang terkumpul yaitu Mass Balance, Jumlah bahan baku, Jumlah bakar/energi, Emisi yang dihasilkan, Jumlah produk yang dihasilkan, Konsentrasi CO2, CH4, N2O, SOx, NOx, dan partikulat matter. Berdasarkan hasil LCIA, dapat diketahui bahwa hotspot dampak atau dampak terbesar yang dihasilkan dari proses produksi minyak dan gas bumi di CPP PT. X adalah dampak global warming yang mencapai 54,285 kg CO2 eq dan/atau 52,063 kg CO2 eq. Dampak ini timbul akibat besarnya emisi GRK yang dihasilkan tiap unit, terutama proses pembakaran bahan bakar. Alternatif yang direkomendasikan adalah penambahan Carbon Capture, Utilization, and Storage atau CO2-Enhanced Oil Recovery yang diperkirakan dapat mereduksi dampak sebesar 30%
PEMBENTUKAN KADER KESEHATAN REMAJA (KKR) DAN PENDAMPINGAN PENDIDIKAN KESEHATAN PADA REMAJA PUTRI
Remaja merupakan masa perkembangan fisik, psikologis, dan intelektual yang pesat. Menantang, tahu, berpetualang, cenderung berani mengambil risiko dalam tindakannya tanpa berpikir matang terlebih dahulu adalah khas sifat remaja. Permasalahan utama yang dihadapi perempuan Indonesia adalah memahami apa yang harus dilakukan untuk meminimalkan risiko yang mereka hadapi, khususnya masalah kesehatan terkait reproduksi. Hal ini bermula dari menurunnya tingkat pemahaman remaja terhadap kesehatan reproduksi remaja. Salah satu cara untuk memberikan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi kepada remaja putri adalah melalui bimbingan dan bimbingan di kelas remaja. Tujuan dari program sosialisasi ini adalah untuk mengedukasi masyarakat umum tentang KRR (Kader Kesehatan Remaja) dan mengoptimalkan pemahaman program pendidikan kesehatan remaja yang berjalan lancar dan sesuai kebutuhan di MTS Al Munawwaroh Dusun Jambu, Desa Pandamulyo, Kec. Tajinan, Kab. Malang. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini dengan Pelatihan KKR di sekolah dapat menjadi perantara atau memberikan dukungan dasar ketika sebagian siswa belum memahami secara jelas tentang kesehatan remaja khususnya kesehatan reproduksi remaja untuk mencegah terjadinya permasalahan kesehatan remaja
PENGARUH METODE TUMPANG SARI KENTANG (Solanum tuberosum L.) DENGAN KACANG FABA (Vicia faba L.) TERHADAP SIFAT KIMIA DAN BIOLOGI TANAH
Sistem tumpang sari dengan tanaman legum merupakan salah satu praktik pertanian yang banyak dilakukan petani. Metode tumpang sari dengan tanaman legum kacang faba (Vicia faba L.) pada dataran menengah dan dataran tinggi dilakukan dengan kentang (Solanum tuberosum L.) karena memiliki syarat tumbuh yang hampir sama. Rhizobium yang bersimbiosis dengan kacang faba mampu mengikat unsur nitrogen bebas di udara menjadi nitrogen tersedia yang dapat diserap oleh tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tumpangsari kentang dan kacang faba terhadap karakter biologi tanah yang meliputi biomassa karbon mikroba (C mik) dan biomassa nitrogen mikroba (N mik), serta karakter kimia tanah seperti bahan organik, pH, Redoks, Daya Hantar Listrik (DHL), Nitrogen total dan Nitrogen tersedia. Penelitian ini menggunakan rancangan Rancangan Acak Kelompok (RAK), analisis laboratorium dan menggunakan lima sistem tumpang sari kentang dan kacang faba yaitu P1 (Monokuktur kentang); P2 (Tumpang sari kentang dan kacang faba 2:1 sejajar); P3 (Tumpang sari kentang dan kacang faba 1:1 selang seling pada guludan); P4 (Tumpang sari kentang dan kacang faba 2:1 atas bawah); P5 (Monokultur kacang faba) dengan lima kali ulangan. Sistem tumpang sari kentang dan kacang faba berpengaruh tidak nyata terhadap pH tanah, daya hantar listrik, nitrogen tersedia, nitrogen total, biomassa karbon mikroba, dan biomassa nitrogen mikroba, tetapi berpengaruh nyata terhadap bahan organik dan redoks (Eh). Parameter yang secara signifikan saling berkorelasi adalah pH dengan DHL; pH dengan redoks (Eh); pH dengan biomassa nitrogen mikroba dan DHL dengan biomassa nitrogen mikroba.ABSTRACTThe intercropping system with legume plants is one of the agricultural practices that many farmers use. The intercropping method with faba bean legumes (Vicia faba L.) in the midlands and highlands is also carried out with potatoes (Solanum tuberosum L.) because they have almost the same growing conditions. Rhizobium which is in symbiosis with faba beans is able to bind free nitrogen elements in the air to form available nitrogen that can be absorbed by plants. This research aims to determine the effect of intercropping potatoes and faba beans on soil biological characteristics, which include microbial carbon biomass (C mic) and microbial nitrogen biomass (N mic), as well as soil chemical characteristics such as organic matter, pH, Redox, Electrical Conductivity (EC), total nitrogen and available nitrogen. This research used a Randomized Block Design (RAK), laboratory analysis and used five intercropping systems for potatoes and faba beans, namely P1 (potato monocrop); P2 (2:1 parallel intercropping of potatoes and faba beans); P3 (1:1 intercropping of potatoes and faba beans on mounds); P4 (2:1 intercropping of potatoes and faba beans); P5 (Faba bean monoculture) with five replications. The potato and faba bean intercropping system had no significant effect on soil pH, electrical conductivity, available nitrogen, total nitrogen, microbial carbon biomass, and microbial nitrogen biomass, but had a significant effect on organic matter and redox (Eh). Parameters that are significantly correlated with each other are pH and DHL; pH with redox (Eh); pH with microbial nitrogen biomass and DHL with microbial nitrogen biomass.Â
The Regulation Model of Public Services Based on The Integrity Zone in The Religious Higher Education in Indonesia
Since 2020, Indonesian Ministry of Religious Affairs commits to build the integrity zone in all its work units. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang has been pointed to be the pilot project of The Integrity Zone Establishment in 2020 under the Ministry of Religious Affairs’ supervision. The emerged problem is that there is no Minimum Service Standard (MSS) as the requirement of integrity zone made by rector. This is a juridical-empirical study by applying qualitative approach. The primary data were from interview and Focus Group Discussion with structural team and academic staff who are directly involved in services in the said university. The FGD results reveal that the MSS is made based on The Organization and Work Procedures of UIN Malang, and that it is related to services in Tri Dharma both academic and non-academic. The MSS of UIN Malang must refer to Permen PAN-RB No. 10 of 2019 on the amendment to Permen PAN-RB No. 52 of 2014 concerning The Guidelines to Establish an Integrity Zone towards a Corruption Free Area and a Clean and Serving Bureaucratic Area in a Government Institution. The service regulation is also made based on international standard ISO 37001: 2016 as an anti-bribery management system that is able to provide access for complaint on bribery. This article is expected to be the policy reference for services in the State Religious Higher Education in Indonesia which follows the service standard of the integrity zone and international standard so they can lessen the corruption and collusion in the serving process
KEANEKARAGAMAN JENIS ANGGREK HUTAN (EPIFIT) DI RESORT PTN RANU DARUNGAN SEKSI PTN WILAYAH IV BIDANG PTN WILAYAH II TAMAN NASIONAL BROMO TENGGER SEMERU
Anggrek adalah tanaman herba dengan bunga yang berbentuk sangat beragam dan tergolong famili Orchidaceae. Berdasarkan tempat tumbuhnya, anggrek dibagi menjadi anggrek epifit dan terrestrial. Umumnya anggrek dapat tumbuh pada dataran rendah sampai pegunungan dengan ketinggian 50-600 m dpl dan tumbuh dengan baik pada ketinggian 700-1100 m dpl anggrek dengan suhu 5-18 °C. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi keragaman spesies anggrek epifit dan pohon inang habitat anggrek epifit. Penelitian dilakukan di wilayah hutan Resort PTN Ranu Darungan (Blok Loji dan Ranu Lingga Rekisi) pada bulan Mei-Juli 2023. Metode yang dilakukan yaitu deskriptif eksploratif menggunakan metode cek lapang dengan membuat plot pengamatan dengan ukuran 20m x 20m sebanyak 20 plot yang terdapat pada setiap lokasi penelitian. Data yang diperoleh ditabulasi dan dianalisa secara deskriptif penyebarannya dengan menghitung kerapatan (Di), kerapatan relatif (RDi), frekuensi (Fi), frekuensi relatif (RFi) dan indeks nilai penting (INP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 1455 individu anggrek epifit dari 52 spesies, 21 genus anggrek epifit dan 151 pohon inang yang terbagi dalam 19 famili. Beberapa genus anggrek epifit yang tidak teridentifikasi sampai tingkatan spesies yaitu : Podochilus sp., Phreatia sp., dan Thelasis sp. Populasi yang mempunyai penyebaran paling luas yaitu spesies Eria monostachya Lindl. dengan INP 38.808%. Pohon inang yang dijumpai yaitu: Pasang (Lithocarpus elegans Bl.), Jaranan (Lannea coromandelica Houtt. & Merr.), Rampelas (Ficus ampelas Burm.f.), Danglu (Engelhardtia spicata Lechen ex Bl.), Suren (Garuga floribunda Decne.), Sembung (Blumea balsamifera L.) dan Gintungan (Bischofia javanica). Keanekaragaman anggrek epifit termasuk dalam kategori sedang karena memiliki nilai total 1.349. ABSTRACTOrchids are herbaceous plants with very diverse flowers and belong to the Orchidaceae family. Based on where they grow, orchids are divided into epiphytic and terrestrial orchids. Generally, orchids can grow in the lowlands to mountains at an altitude of 50-600 m above sea level and grow well at an altitude of 700-1100 m above sea level with temperatures of 5-18 °C. This research aims to identify the diversity of epiphytic orchid species and the host trees in epiphytic orchid habitat. The research was conducted in the forest area of the PTN Ranu Darungan Resort (Blok Loji and Ranu Lingga Rekisi) in May-July 2023. The method used was exploratory descriptive using the field check method by making observation plots measuring 20m x 20m with 20 plots in each research sites. The data obtained were tabulated and analyzed descriptively for distribution by calculating density (Di), relative density (RDi), frequency (Fi), relative frequency (RFi) and important value index (INP). The research results showed that 1455 individual epiphytic orchids were found from 52 species, 21 genera of epiphytic orchids and 151 host trees divided into 19 families. Several genera of epiphytic orchids that have not been identified to species level are: Podochilus sp., Phreatia sp., and Thelasis sp. The population with the widest distribution is the species Eria monostachya Lindl. with an INP of 38,808%. The host trees found were: Pasang (Lithocarpus elegans Bl.), Jaranan (Lannea coromandelica Houtt. & Merr.), Rampelas (Ficus amelas Burm.f.), Danglu (Engelhardtia spicata Lechen ex Bl.), Suren (Garuga floribunda Decne.), Sembung (Blumea balsamifera L.) and Gintungan (Bischofia javanica). The diversity of epiphytic orchids is included in the medium category because it has a total value of 1,349.Â
Aerodynamic Study of Chord Length Effect in Low Speed Wind Turbine Using 6 DoF CFD Method
The dependencies on fossil energy as a basic energy source has many negative impacts, therefore alternative energy is needed to overcome the problem, one of which is the alternative green energy wind turbines. However, wind turbines in Indonesia are difficult to implement because the wind speed in Indonesia is low, which is around 4-8 m/s, therefore it is necessary to do research to improve the ability of wind turbines applied in Indonesia. The analysis method using the 6 DoF CFD method and the experimental carried out using the wind tunnel. The blade used in this study is a custom combination airfoil with the chord lengths of 0.1 m, 0.15 m and 0.2 m. The results shows that, at wind speed of 8 m/s the blade with a chord length of 0.2 m has the greatest pressure of 47 Pa and rotational speed per minute of 76.1 rpm, this variation can be applied to low rpm generators. Whereas blades with a chord length of 0.1 m and a twist angle of 15o have a pressure of 47 Pa, and rotational speed of 97.24 rpm per minute, this variation can be applied to high rpm generators
EDUKASI REMAJA PUTRI DALAM PENCEGAHAN STUNTING DENGAN PUDING KELOR
Stunting adalah kondisi tinggi badan anak yang lebih pendek dari normal untuk usianya dan kekurangan nutrisi yang berkelanjutan. Stunting mengakibatkan tidak tercapainya tumbuh kembang optimal dari fisik maupun kognitif hingga sering mengalami sakit. Upaya pencegahan stunting harus dilakukan sejak remaja. Potensi adanya dampak dari masalah gizi sudah dimulai sejak masa pembuahan, sehingga memastikan gizi remaja baik dan optimal adalah salah satu upaya yang bisa diterapkan pada remaja putri. Masa remaja rentan terhadap kondisi anemia sehingga bisa mencetuskan resiko terjadinya stunting untuk kedepannya nanti. Kejadian Stunting di Kecamatan Tajinan merupakan 2 tertinggi di Kabupaten Malang. Hasil survey yang dilakukan pada bulan januari 2023 kepada 39 remaja putri Dusun Jambu 23 diantaranya anemia. MTs Al-Munawwaroh merupakan sekolah yang ada di Dusun Jambu Kecamatan Pandanmulyo. Program pemerintah Desa Pandanmulyo Kecamatan Tajinan untuk mencegah stunting adalah dengan adanya penanaman 1 rumah 1 pohon kelor. Namun adanya pohon kelor ini belum bisa dimanfaatkan dengan baik bagi anemia remaja. Tujuan kegiatan ini adalah mencegah stunting dengan menanggulasi masalah anemia pada remaja dengan memanfaatkan kelor dalam bentuk puding. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan puding kelor sebagai alternatif kudapan yang bisa meningkatkan kadar hemoglobin sehingga anemia dapat teratasi dan potensi kejadian stunting tidak terjadi
PERANCANGAN MEJA KURSI PORTABEL YANG ERGONOMIS UNTUK PEKERJA REMOTE DENGAN KONSEP THREE IN ONE DAN SWING-OUT TABLE MENGGUNAKAN METODE ANTROPOMETRI BERBASIS CAD
Dampak pandemi Covid-19 sangat besar bagi pekerja, ada yang masih bekerja dengan kebijakan Work From Home (WFH) atau bekerja di rumah, ada yang di-PHK dan memilih beralih profesi menjadi Remote Working atau ada yang memilih menjadi Freelance/ pekerja lepas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang meja, kursi, dan almari kabinet laci bagi pekerja freelance dan remote working yang ergonomis sehingga dapat memberikan peningkatan produktivitas kerja. Teknik pengumpulan data dapat diperoleh dengan wawancara, observasi dan pengukuran antropometri yang dilakukan pada 30 orang remote worker yang berusia 20-30 tahun. Uji statistik berupa uji kenormalan data, uji keseragaman data, serta kecukupan data menggunakan software IMB SPSS Statistics 21. Uji statistik tersebut menunjukkan data normal, seragam dan cukup. Berdasarkan hasil pengukuran maka dilakukan perancangan meja, kursi, dan almari kabinet dengan software freeCAD 0.21.0. Penelitian ini menghasilkan desain yang ergonomis dengan ukuran tinggi meja 1 adalah 73 cm; tinggi meja putar berukuran 75 cm; lebar meja yaitu 55 cm; lebar kabinet laci yaitu 40 cm; dan tinggi kabinet laci adalah 70 cm. Kursi dibuat adjustable bisa dinaikkan atau diturunkan agar dapat menyesuaikan dengan ukuran tubuh pengguna. Hasil penelitian ini adalah rancangan produk yang masih berupa gambar. Agenda penelitian selanjutnya adalah mengimplementasikan desain tersebut ke dalam produk jadi, sehingga diharapkan dari desain yang telah diberikan atau diusulkan dapat menjadi solusi dan pertimbangan bagi remote working agar produktivitas bekerja bisa lebih efektif dan efisien, namun tetap mendapatkan kenyaman dan keaman dalam bekerja
PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PENDATAAN ALUMNI RAYON IKSASS BANYUWANGI MENGGUNAKAN PHP DAN MySQLi
Data Alumni Rayon IKSASS Banyuwangi biasanya masih diolah menggunakan sistem yang manual. Kendala yang timbul akibat pengolahan secara manual cukup merepotkan, terutama pada tidak validnya dan ketidak cocokan data. Sering pula terjadi kendala pada saat pencarian informasi tentang alumni baru, maupun alumni yang lama. Demikian pula hanya dengan penyediaan data, misalnya data pekerjaan, data Pendidikan, dan dan data alumni yang sering tidak up to date. Berdasarkan pada kendala-kendala yang muncul, maka dibuatlah rancangan suatu sistem informasi pendataan alumni untuk lingkup Rayon IKSASS Banyuwangi. Diharapkan sistem informasi pendataan alumni, serta memudahkan fungsi control dan pengawasan terhadap alumni. Dimana sistem ini akan melakukan proses pendataan dengan proses pengajuan dokumen-dokumen oleh setiap alumni yang datang pada kantor IKSASS alumni. Dengan demikian data alumni dapat diperoleh dengan mudah tanpa harus melakukan pendataan secara langsung ke tempat alumni tersebut tinggal. Sistem yang dibangun ini dirancang dengan alur dan rancangan antar muka yang sederhana, sehingga dapat dengan mudah digunakan
ANALISIS FUNGSI PRODUKSI DAN EFISIENSI USAHATANI BAWANG PUTIH
Bawang putih merupakan salah satu komoditas hortikultura yang sangat memprihatinkan. Salah satu komitmen pemerintah adalah swasembada bawang putih pada tahun 2021. Namun pada kenyataannya, komitmen tersebut belum terealisasi. Salah satunya karena rendahnya produksi dan pendapatan usaha bawang putih. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang menentukan produksi sekaligus apakah usahatani bawang putih layak atau tidak. Metode: Penelitian ini dilakukan di Desa Gading Kulon Kecamatan Dau Kabupaten Malang, metode analisis data menggunakan analisis fungsi produksi cobbdouglas dan analisis kelayakan B/C ratio. Data yang digunakan adalah data primer yang dikumpulkan dari responden dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disisipkan. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel umur, pendidikan, luas lahan, pupuk phonska, pupuk TSP, pestisida berpengaruh terhadap produksi usahatani bawang putih, kecuali variabel tenaga kerja. Usaha bawang putih layak untuk dikembangkan berdasarkan nilai B/C ratio 2,5