Online Journal Universitas Bangka Belitung
Not a member yet
    2165 research outputs found

    Distribusi Dan Kondisi Pada Vegetasi Padang Lamun di Biak Padaido, Papua

    Full text link
    Padang lamun merupakan suatu ekosistem di kawasan pesisir yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang cukup tinggi dan sebagai penyumbang nutrisi yang sangat berpotensial bagi perairan disekitarnya karena memiliki tingkat produktivitas yang tinggi. Pada penelitian ini kita akan mengetahui tentang tutupan Lamun yang berada di Padaido dan Biak, Papua. Hasil monitoring yang dilakukan pada tahun 2018 mengambil 8 titik pada perairan Biak. Stasiun 7 memiliki persentase tutupan lamun paling tinggi sebesar 80.86 % (kategori sangat padat) yang memiliki nilai persentase 76-100% (status padang lamun yang sehat). Hasil monitoring yang dilakukan pada tahun 2019 pada 8 titik perairan Pulau Padadido. Stasiun 3 memiliki persentase tutupan lamun paling tinggi sebesar 66.48 % (kategori sangat padat) yang memiliki nilai persentase 76-100% (status padang lamun sehat). Dari 16 spesies yang di temukan di wilayah Indonesia, terdapat 5 jenis spesies yang ditemukan di perairan Biak, Papua yaitu, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Haludole pinifolia, Halophila ovalis, dan Syringodium iseotifolium. Sama seperti pada stasiun Biak, Stasiun Padaido sendiri di temukan 8 jenis spesies pada perairan Papua yaitu, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea. serrulata, Haludole pinifolia, Halodule uninervis, Halophila ovalis, dan Syringodium iseotifolium.Seagrass beds are an ecosystem in coastal areas that have a fairly high level of biodiversity and are potential contributors of nutrients to the surrounding waters because they have a high level of productivity. In this research we will find out about seagrass cover in Padaido and Biak, Papua. The results of monitoring carried out in 2018 took 8 points in Biak waters. Station 7 has the highest percentage of seagrass cover at 80.86% (very dense category) which has a percentage value of 76-100% (healthy seagrass meadow status). Results of monitoring carried out in 2019 at 8 water points on Padadido Island. Station 3 has the highest percentage of seagrass cover at 66.48% (very dense category) which has a percentage value of 76-100% (healthy seagrass meadow status). Of the 16 species found in Indonesia, there are 5 types of species found in the waters of Biak, Papua, namely, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Haludole pinifolia, Halophila ovalis, and Syringodium iseotifolium. Just like at Biak Station, Padaido Station itself found 8 types of species in Papuan waters, namely, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Haludole pinifolia, Halodule uninervis, Halophila ovalis, and Syringodium iseotifolium

    Identifikasi Morfometrik Belangkas (Family: Limulidae) Di Pantai Tanjung Punai Kabupaten Bangka Barat

    Full text link
    Tanjung Punai is one of the beach in the coastal area of ​​West Bangka Regency which has conditions in the form of sandy beaches and mangrove ecosystems. These conditions support various biota that live and develop, one of which is the horseshoe crab. Horseshoe crab are aquatic invertebrates belonging to the phylum Arthropoda and the family Limulidae. The morphometric characters of horseshoe crab doves have different variations based on geographical area. This research aims to identify horseshoe crab based on morphology and morphometrics in Tanjung Punai Beach. The research was carried out in April-May 2022 at Tanjung Punai Beach, West Bangka Regency. The research method uses methods purposive sampling as well as data analysis using Independent Samples T-Test and simple linear regression analysis. The species found is Carcinoscorpius rotundicauda and Tachypleus gigas. The significance value is 0.00 (p < 0.05) and the t value thit > ttab shows that there are differences in the average morphometric characters between the two species.Pantai Tanjung Punai merupakan salah satu pantai di Kabupaten Bangka Barat yang memiliki kondisi berupa pantai berpasir dan ekosistem mangrove. Kondisi tersebut mendukung berbagai biota yang hidup dan berkembang, salah satunya ialah belangkas. Belangkas merupakan hewan invertebrata akuatik yang termasuk ke dalam filum Arthropoda dan famili Limulidae. Karakter morfometrik belangkas memiliki keragaman berbeda berdasarkan daerah geografisnya. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi belangkas berdasarkan morfologi dan morfometrik di Pantai Tanjung Punai. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2022 di Pantai Tanjung Punai Kabupaten Bangka Barat. Metode penelitian menggunakan metode purposive sampling serta analisis data menggunakan Independent Samples T-Test dan analisis regresi linear sederhana. Spesies belangkas yang ditemukan adalah Carcinoscorpius rotundicauda dan Tachypleus gigas. Nilai signifikansi sebesar 0,00 (p < 0,05) dan nilai thit > ttab menunjukkan adanya perbedaan rata-rata karakter morfometrik antar kedua spesies

    Ionic Conductivity Test of Chitosan Solid Electrolyte Polymer Membrane with the Addition of Ionic Liquid

    Full text link
    Lithium ion batteries are an alternative choice for fulfillment as an energy source. Beside that, lithium ion batteries are also use as energy storage. However, lithium ion batteries still use a liquid electrolyte which has the advantages of being toxic, explosive, and corrosive. So we need an alternative to replace liquid electrolyte, namely solid electrolyte membranes. The aim of this research is to determine the effect of adding ionic liquid [EMIm]Ac to chitosan polymer as a solid electrolyte polymer (SEP) membranes. Based on the resulta obtained, chitosan has been successfully isolated from chitin. Chitin isolated from shrimp shells. Based on the ionic conductivity value, the SEP membrane with the addition of 15% [EMIm]Ac ionic liquid has the highest ionic conductivity value, namely 5.02 x 10-5 S cm-1

    Identifikasi Morfometrik dan Karakteristik Meristik Ikan Belanak (Mugil cephalus) yang Didaratkan di TPI Ketapang dan PPN Sungailiat

    Full text link
    This research aims to analyze the morphometric and meristic characteristics of mullet fish (Mugil cephalus) which is a type of fish that is often found in tropical and subtropical sea waters and few live in fresh water. This research aims to identify the morphometrics and meristics of mullet fish (Mugil cephalus) landed at TPI Ketapang and PPN Sungailiat. This research was carried out in April 2024 with data collection carried out at 2 points, namely mullet fish sampling at TPI Ketapang and PPN Sungailiat using the random sampling method, based on morphometric characteristics divided into 23 parts while for meristics it was divided into 9 parts. Based on research, it shows that the morphometric characteristics of mullet fish in TPI Ketapang have an average size and SD with a total fish length (TL) of 17.05 ± 0.71 cm, while the morphometric characteristics of mullet fish in PPN Sungailiat with the Mugil cephalus species have an average size of average and SD total length (TL) 19.25 ± 1.43 cm, while the meristic characteristics of Mullet Fish at TPI Ketapang with the Mugil cephalus species have dorsal fin rays D.IV.7-D.IV.9, and meristic characteristics in PPN Sungailiat with the Mugil cephalus species having dorsal fin rays D.IV.7-D.IV.9.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik morfometrik dan meristik Ikan Belanak (Mugil cephalus) merupakan jenis ikan yang banyak dijumpai di perairan laut tropis dan subtropics dan sedikit yang hidup di air tawar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi morfometrik dan meristik Ikan Belanak (Mugil cephalus) yang didaratkan di TPI Ketapang dan PPN Sungailiat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2024 dengan pengambilan data dilakukan 2 titik yaitu pengambilan sampel ikan belanak di TPI Ketapang dan PPN Sungailiat dengan metode Random sampling, berdasarkan karakteristik morfometrik terbagi menjadi 23 bagian sedangkan untuk meristik terbagi menjadi 9 bagian. Berdasarkan penelitian menunjukan bahwa karakteristik morfometrik ikan belanak di TPI Ketapang memiliki ukuran rata-rata dan SD dengan panjang total ikan (TL) 17,05±0,71 cm, sedangkan karakteristik morfometrik Ikan Belanak di PPN Sungailiat dengan spesies Mugil cephalus memiliki ukuran Rata-rata dan SD panjang total (TL) 19,25±1,43 cm, sedangkan karakteristik meristik Ikan Belanak di TPI Ketapang dengan spesies Mugil cephalus memiliki jari-jari sirip punggung D.IV.7-D.IV.9, dan Karakteristik meristik di PPN Sungailiat dengan spesies Mugil cephalus memiliki jari-jari sirip punggung D.IV.7-D.IV.9

    PENDEDERAN NAUPLIUS UDANG VANAME (Litopeneus vannamei) DI PT.SURI TANI PEMUKA UNIT CANTI, LAMPUNG SELATAN

    Full text link
    Fase nauplii merupakan tahap awal dalam siklus hidup udang. Fase ini menjadi tahap awal perkembangan yang menentukan kelangsungan hidup dan kualitas benih udang. Masa nauplii merupakan masa kritis pembenihan udang. Oleh karena itu, perhatian ekstra dalam pengelolaan fase ini menjadi kunci keberhasilan dalam industri budidaya udang. Praktik kerja lapang ini diilaksanakan dari tanggal 3 Juli sampai dengan 4 Agustus 2023 di PT. Suri Tani Pemuka, unit Canti, Lampung Selatan. Pendederan naupli Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di  PT. Suri Tani Pemuka unit Canti, Lampung Selatan meliputi persiapan wadah dan media pemeliharaan, penebaran nauplii, pengelolaan pakan, pengelolaan kualitas air, dan pemanenan benur. Sterilisasi wadah, alat dan air laut menjadi kunci keberhasilan pemeliharaan naupli

    SOSIALISASI DAN OPTIMALISASI E-LEARNING BAHASA INGGRIS DAN BIOLOGI MENGGUNAKAN EDMODO KEPADA MAHASISWA PRODI PETERNAKAN UNIMOR

    Full text link
    One of the e-learning platforms that can be utilized during the Covid-19 pandemic is Edmodo. Edmodo learning media which is very functional, besides being able to be used for students and lecturers, can also be used by parents. Assignments were given through the assignment and quiz features that have a time limit, so they can practice discipline in doing assignments. The objectives of implementing this activity are; First, providing the concept and socialization of the use of Edmodo for the learning process. Second, providing knowledge on how to use and apply the features contained in the Edmodo platform to facilitate the English learning process. The target of this service was Animal Husbandry II C students who in this semester are studying English and Biology. This community service was able to provide knowledge to use the Edmodo e-learning platform for free to support conventional learning during this covid-19 pandemic. This activity lasted for 1 day in one of the room of the Faperta Unimor building

    Analisis Kesejahteraan Rumah Tangga Petani Padi Sawah Berdasarkan Luas Lahan Garapan di Desa Sale, Kabupaten Rembang

    Full text link
    Rice farming in Sale Village is the population's main occupation to earn income. Less land makes it easier for rice farming in Sale Village to make economic profits, so farmers have to look for additional income both in and outside of agriculture to achieve prosperity that is considered sufficient to meet their household needs. The objectives of this research are (1) to analyze household income and (2) to analyze the level of farmer welfare. The method used in this research is an analysis of income, expenditure, and household welfare using criteria (Sajogyo, 1997) and the BPS poverty line. The research results show that farming is the most significant contribution to household income for small, medium, and large land farmers. The household expenditure value of lowland rice farmers is above the welfare criteria and is classified as a moderate and not poor household.Usahatani padi sawah di Desa Sale merupakan pekerjaan utama penduduk dalam memperoleh pendapatan.  Keterbatasan lahan membuat usahatani padi sawah di Desa Sale sulit mendapatkan keuntungan secara ekonomi sehingga petani harus mencari tambahan pendapatan baik di bidang pertanian maupun di luar pertanian untuk mencapai kesejahteraan yang dianggap sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Tujuan penelitian ini yaitu: (1) menganalisis pendapatan rumah tangga, dan (2) menganalisis tingkat kesejahteraan petani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis pendapatan, pengeluaran, kesejahteraan rumah tangga dengan kriteria (Sajogyo, 1997) dan garis kemiskinan BPS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontribusi terbesar pendapatan rumah tangga petani lahan sempit, sedang, dan luas berasal dari usahatani. Nilai pengeluaran rumah tangga petani padi sawah sudah diatas kriteria kesejahteraan dan tergolong dalam kategori rumah tangga cukup dan tidak miskin

    Analisis Tingkat Kepuasan Petani Padi Sawah terhadap Kinerja Penyuluh Pertanian: Studi Kasus di Kelurahan Macorawalie, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidenreng Rappang

    Full text link
    Tingkat kepuasan petani terhadap pelaksanaan penyuluhan pertanian bervariasi, karena tidak semua permasalahan petani dapat sepenuhnya teratasi. Kegiatan penyuluhan pertanian memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan petani terkait praktik pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepuasan petani padi sawah terhadap kinerja penyuluh pertanian (Studi Kasus di Kelurahan Macorawalie, Kecamatan Panca Rijang, Kabupaten Sidenreng Rappang). Penelitian ini dilakukan dari Januari 2024 hingga Maret 2024 dengan menggunakan metode penelitian kuantitatif dan sampel sebanyak 73 petani padi. Teknik analisis data yang digunakan adalah Importance-Performance Analysis (IPA). Berdasarkan hasil analisis IPA, terdapat tiga atribut di Kuadran I yang menjadi prioritas utama. Delapan atribut di Kuadran II dinilai memiliki kinerja yang memuaskan dan perlu dipertahankan, sebelas atribut di Kuadran III merupakan prioritas rendah, dan tiga atribut di Kuadran IV dianggap sebagai atribut yang berlebihan dalam prioritas. Oleh karena itu, terdapat tiga atribut prioritas utama di Kuadran I yang perlu ditingkatkan, yaitu: (1) penyuluh pertanian mengundang petani untuk menghadiri pertemuan, (2) kunjungan penyuluh ke kelompok tani, dan (3) penyediaan fasilitas dan sarana yang dibutuhkan oleh petani.The level of farmer satisfaction with agricultural extension services varies, as not all farmers' issues can be fully addressed. Agricultural extension activities play a crucial role in meeting farmers' needs in agricultural practices. This study aims to analyze the satisfaction level of wet-rice farmers with the performance of agricultural extension workers (Case Study in Macorawalie Village, Panca Rijang Sub-District, Sidenreng Rappang Regency). Conducted from January 2024 to March 2024, this research used a quantitative methodology with a sample of 73 rice farmers. The data analysis technique used in this study was Importance-Performance Analysis (IPA). According to the IPA results, three attributes in Quadrant I have been identified as top priorities. Eight attributes in Quadrant II are considered to have satisfactory performance and should be maintained, eleven attributes in Quadrant III are low-priority, and three attributes in Quadrant IV are deemed excessive in priority. Consequently, three main priority attributes in Quadrant I require improvement: (1) agricultural extension workers’ invitation to attend meetings, (2) extension agents’ visits to farmer groups, and (3) provision of necessary facilities and resources for farmers

    Evaluasi Distribusi Benih Pisang dalam Program "Nagari Mandiri Pangan" di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat

    Full text link
    The purpose of this study is to evaluate the distribution of bananas in the Nagari Mandiri Pangan Program in Padang Pariaman Regency, West Sumatra. Nagari Mandiri Pangan is a program implemented by the West Sumatra government. This program is an adaptation of the Desa Mandiri Pangan launched by the Food Security Agency of the Ministry of Agriculture (BKP) at the national level. The West Sumatra Government is trying to explore the needs of the farmers themselves. In this case, farmers who are in the group ask to be given banana seed assistance, which is a commodity that has the potential to be developed. This research was carried out on five farmer groups in Padang Pariaman Regency. The method used is an interview using a questionnaire, which is then analyzed using descriptive statistics. The existing results are compared with the technical guidelines and implementation guidelines that have been prepared. From the results, it was found that the distribution of banana seeds was carried out during the current year, and the requests from farmer groups could be accommodated through this program. Banana plants were chosen because this commodity has suitable growing conditions at the research site. Farmers are obliged to provide land that is used from existing vacant land and land that was previously unused. In addition, farmers are obliged to maintain bananas that have been given properly and provide periodic reporting. To ensure that farmers carry out their obligations, the agency evaluates by visiting and providing assistance with good banana cultivation methods in collaboration with local extension workers.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi penyaluran pisang pada Program Nagari Mandiri Pangan di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Nagari Mandiri Pangan merupakan program yang dilaksanakan oleh pemerintah Sumatera Barat. Program ini merupakan adaptasi dari Desa Mandiri Pangan yang dicanangkan oleh Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (BKP) di tingkat nasional. Pemerintah Sumatera Barat berupaya mengeksplorasi kebutuhan para petani itu sendiri. Dalam hal ini, petani yang tergabung dalam kelompok meminta untuk diberikan bantuan bibit pisang yang merupakan komoditas yang berpotensi untuk dikembangkan. Penelitian ini dilakukan pada 5 kelompok tani di Kabupaten Padang Pariaman. Metode yang digunakan adalah wawancara menggunakan kuesioner dan kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, hasil yang ada dibandingkan dengan pedoman teknis dan pedoman implementasi yang telah disusun. Dari hasil tersebut, ditemukan bahwa pembagian benih pisang dilakukan selama tahun berjalan dan permintaan dari kelompok tani dapat diakomodasi melalui program ini. Tanaman pisang dipilih karena komoditas ini memiliki kondisi pertumbuhan yang sesuai di lokasi penelitian. Petani wajib menyediakan lahan yang dimanfaatkan dari lahan kosong yang ada dan lahan yang sebelumnya tidak terpakai. Selain itu, petani wajib memelihara pisang yang telah diberikan dengan baik dan memberikan pelaporan secara berkala. Untuk memastikan petani menjalankan kewajibannya, lembaga tersebut melakukan evaluasi dengan mengunjungi dan juga memberikan pendampingan metode budidaya pisang yang baik bekerja sama dengan penyuluh setempat

    Analisis Terhadap Kebijakan Pemerintah Dalam Mengatur Urusan Pemerintahan Daerah Di Era Desentraliasi Asimetris

    Full text link
    Asymmetric decentralization in Indonesia is designed to grant special autonomy to regions with unique characteristics; however, its implementation often falls short due to institutional capacity limitations and continued dependence on the central government. This study aims to evaluate the effectiveness of asymmetric decentralization policies in various special autonomous regions of Indonesia, focusing on Aceh, Papua, and Yogyakarta. The research employs a normative and empirical juridical approach, supported by case studies and qualitative data analysis. The findings reveal a significant gap between policy objectives and implementation, attributed to factors such as inadequate local resources and weak coordination between the central and regional governments. The implications of these findings highlight the need to strengthen regional institutional capacity, enhance central government support, and tailor policies to be more context-specific and adaptable to local conditions. This study provides valuable insights for developing more effective and sustainable decentralization policies in Indonesia.Desentralisasi asimetris di Indonesia dirancang untuk memberikan kewenangan khusus kepada daerah dengan karakteristik unik, namun implementasinya sering kali tidak sesuai dengan harapan karena keterbatasan kapasitas institusional dan ketergantungan yang terus-menerus pada pemerintah pusat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan desentralisasi asimetris di berbagai daerah otonomi khusus di Indonesia, dengan fokus pada Aceh, Papua, dan Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris, yang didukung oleh studi kasus dan analisis data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan antara tujuan kebijakan dan implementasinya, yang disebabkan oleh faktor-faktor seperti kurangnya sumber daya lokal dan koordinasi yang lemah antara pusat dan daerah. Implikasi dari temuan ini menekankan pentingnya penguatan kapasitas institusional daerah, peningkatan dukungan dari pemerintah pusat, serta penyesuaian kebijakan yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap kondisi lokal. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan kebijakan desentralisasi yang lebih efektif dan berkelanjutan di Indonesia

    1,978

    full texts

    2,165

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Online Journal Universitas Bangka Belitung
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇