Online Journal Universitas Bangka Belitung
Not a member yet
2165 research outputs found
Sort by
Social Characteristics of Squid Fishermen Conditions in Improving Household Welfare and Income, Lampung
The level of income determines the welfare of fishermen. The aim of this study was to determine the relationship between the income level of squid fishermen and household incomse with the condition of squid fishermen. This study was conducted in Sukajaya Lempasing Village, Teluk Pandan District, Pesawaran Regency, Lampung. The results of the study showed that squid fisherman households with income above the minimum wage (prosperous) value have side jobs that can increase their income to meet the daily needs. The welfare level of squid fishermen is in the poor to moderate category. Education is a human right for every Indonesian citizen, thus every citizen has the right to get a proper education. Education is an important indicator in measuring household welfare. The difference in the education level will certainly affect the level of welfare obtained by each household. Most of the squid fishermen are in a prosperous condition because they have high scores on every welfare indicator, especially on education indicators, consumption levels and patterns as well as housing and environmental indicators.Tingkat pendapatan menentukan kesejahteraan nelayan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pendapatan nelayan cumi-cumi dan pendapatan rumah tangga dengan kondisi nelayan cumi-cumi. Penelitian ini dilakukan di Desa Sukajaya Lempasing, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tangga nelayan cumi-cumi dengan pendapatan di atas nilai upah minimum (sejahtera) memiliki pekerjaan sampingan yang dapat meningkatkan pendapatannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tingkat kesejahteraan nelayan cumi berada pada kategori miskin sampai sedang. Pendidikan merupakan hak asasi setiap warga negara Indonesia, dengan demikian setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan yang layak. Pendidikan merupakan indikator penting dalam mengukur kesejahteraan rumah tangga. Perbedaan tingkat pendidikan tersebut tentunya akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan yang diperoleh setiap rumah tangga. Sebagian besar nelayan cumi-cumi berada dalam kondisi sejahtera karena memiliki nilai yang tinggi pada setiap indikator kesejahteraan, terutama pada indikator pendidikan, tingkat dan pola konsumsi serta indikator perumahan dan lingkungan
Efektivitas Perlindungan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) terhadap Infeksi White Spot Syndrome Virus (WSSV) dengan Suplementasi Natrium Alginat Sargassum sp. Dari Perairan Lampung dan Kombinasi dengan Vitamin C
White spot syndrome virus (WSSV) merupakan salah satu penyakit infeksi virus yang dapat menyebabkan tingginya mortalitas pada budidaya udang vaname. Udang (±19 g) dipelihara dalam 9 kontainer dengan kepadatan masing-masing 10 ekor/kontainer dan diberi pakan 3% dari bobot biomassa setiap hari. Udang dikelompokkan menjadi tiga perlakuan dengan masing-masing 3 ulangan yaitu pakan tanpa suplementasi alginat sebagai kontrol, suplementasi pakan natrium alginat Sargassum sp. dengan dosis 1 g/kg pakan + vitamin C 0,2 g/kg pakan, dan suplementasi pakan natrium alginat Sargassum sp. dengan dosis 2 g/kg pakan. Setelah 14 hari diberi perlakuan, udang diinjeksikan filtrat white spot syndrome virus dan phosphate buffer saline (PBS) dengan perbandingan 1:1 untuk uji tantang. Parameter yang diamati meliputi kelangsungan hidup, relative percent survival (RPS), mean time to death (MTD), tingkah laku dan gejala klinis udang, histologi hepatopankreas, identifikasi white spot syndrome virus dengan PCR, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi natrium alginat Sargassum sp. melindungi udang terhadap white spot syndrome virus 14,80 jam lebih lama dalam kelangsungan hidup dibandingkan dengan kelompok kontrol. Namun suplementasi natrium alginat Sargassum sp. dari perairan Lampung belum mampu melindungi udang terhadap white spot syndrome virus setelah 72 jam terinfeksi.White spot syndrome virus (WSSV) is a viral infectious disease that can cause high mortality in Pacific white shrimp culture. The shrimp (±19 g) were reared in 9 containers with a density each of 10 shrimp/container and fed with shrimp feed at 3% of biomass daily. Shrimp were grouped into three treatments each with triplicate, namely feeding without alginate supplementation as a control, supplementation with sodium alginate supplementation of Sargassum sp. with a dose of 1 g/kg of feed + 0.2 g/kg feed of vitamin C, and supplementation of sodium alginate Sargassum sp. at a dose of 2 g/kg of feed. After 14 days of treatment, shrimp were injected with white spot syndrome virus filtrat in phosphate buffer saline (PBS) (1:1 v/v) for challenge assay. Several parameters were observed included survival rate (SR), relative percent survival (RPS), mean time to death (MTD), shrimp behaviour and clinical symptoms, hepatopancreatic histology, confirmation of white spot syndrome virus infection by PCR, and water quality. The results showed that supplementation of sodium alginate Sargassum sp. protected shrimp against white spot syndrome virus 14.80 hours longer in survival compared to the control group. However the supplementation of sodium alginate Sargassum sp. from Lampung waters not yet to protect shrimp against white spot syndrome virus after 72 hours infection
Analisis Kesenjangan Persepsi Nelayan Dan Pelaksana Teknis Terhadap Keberadaan Kebijakan Perikanan Tangkap Di Desa Muara Gading Mas, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur
The capture fisheries sector has an important role for the economy in coastal areas. Appropriate policy programs are needed to support a sustainable capture fisheries sector. The purpose of this study is to analyze public and government perceptions of the existence of policy programs related to capture fisheries in Muara Gading Mas Village, Labuhan Maringgai District, East Lampung Regency. Data collection was carried out by observation and interviews using a questionnaire. The data was analyzed by the perception of the relationship with the Likert scale on policy objectives, policy success, policy implementers, policy supervisors and infrastructure and the environment. The results shows that there is a discrepancy between fishermen's perceptions and technical implementers due to the distrust of the two implementers towards the management of capture fisheries policies in order to develop Muara Gading Mas Village. To overcome this perception gap, behavioral engineering (social engineer) is needed for fishermen through the establishment of cooperatives/business entities that are licensed and supported by the government as subjects and vessels for fishermen to borrow capital to break the chain of the patron client system in Muara Gading Mas Village.Sektor perikanan tangkap memiliki peranan penting bagi perekonomian di wilayah pesisir, sehingga perlu program kebijakan yang sesuai untuk mendukung sektor perikanan tangkap yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis persepsi masyarakat dan pemerintah terhadap keberadaan program kebijakan terkait perikanan tangkap di Desa Muara Gading Mas, Kecamatan Labuhan Maringgai, Kabupaten Lampung Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara menggunakan kuisioner. Data tersebut dianalisis persepsi hubungan dengan skala Likert terhadap sasaran kebijakan, keberhasilan kebijakan, pelaksana kebijakan, pengawas kebijakan dan sarana prasarana serta lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadinya kesenjangan antara persepsi nelayan dan pelaksana teknis karena ketidakpercayaan kedua pelaksana terhadap pengelolaan kebijakan perikanan tangkap guna mengembangkan Desa Muara Gading Mas. Untuk mengatasi kesenjangan persepsi tersebut diperlukan rekayasa perilaku (social engginer) pada nelayan melalui pendirian koperasi/ badan usaha yang berizin dan didukung oleh pemerintah sebagai subjek dan wadah nelayan meminjam modal guna memutus rantai sistem patron klien di Desa Muara Gading Mas
PENINGKATAN LITERASI STATISTIK MASYARAKAT MELALUI SOSIALISASI PENDAMPINGAN DESA CINTA STATISTIK DI KELURAHAN PARIT PADANG, KABUPATEN BANGKA
Era digitalisasi akan menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh sektor dalam melakukan penyesuaian dan terus mengembangkan diri mengikuti perkembangan zaman agar tidak jauh tertinggal mengikutiperkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penerapan digitalisasi ini juga hendaknya dilakukansampai di tingkat desa atau kelurahan yang merupakan bagian penting bagi masyarakat untuk mencapaitujuan Satu Data Indonesia (SDI) melalui program pendampingan Desa Cinta Statitsik (Desa Cantik).Kegiatan sosialisasi mengenai Desa Cantik ini dilakukan di Kelurahan Parit Padang, Kecamatan Sungailiat,Kabupaten Bangka dengan narasumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan BangkaBelitung sebagai leading sector dalam pembinaan statistik sektoral. Dengan telah terselenggaranyakegiatan sosialisasi skema pengabdian ini diharapkan dapat menjadi stimulus agar statistik di desa menjadilebih baik dan mampu mengelola data statistik dalam mendukung pembangunan nasional.Era digitalisasi akan menjadi tantangan tersendiri bagi seluruh sektor dalam melakukan penyesuaian dan terus mengembangkan diri mengikuti perkembangan zaman agar tidak jauh tertinggal mengikutiperkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penerapan digitalisasi ini juga hendaknya dilakukansampai di tingkat desa atau kelurahan yang merupakan bagian penting bagi masyarakat untuk mencapaitujuan Satu Data Indonesia (SDI) melalui program pendampingan Desa Cinta Statitsik (Desa Cantik).Kegiatan sosialisasi mengenai Desa Cantik ini dilakukan di Kelurahan Parit Padang, Kecamatan Sungailiat,Kabupaten Bangka dengan narasumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan BangkaBelitung sebagai leading sector dalam pembinaan statistik sektoral. Dengan telah terselenggaranyakegiatan sosialisasi skema pengabdian ini diharapkan dapat menjadi stimulus agar statistik di desa menjadilebih baik dan mampu mengelola data statistik dalam mendukung pembangunan nasional
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PRODUKTIF MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI HIDROPONIK MENUJU PROGRAM SWASEMBADA SAYUR SKALA RUMAH TANGGA DI KELURAHAN SURYA TIMUR KABUPATEN BANGKA
Kelurahan Surya Timur merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Sungailiat yang mayoritas kawasannya merupakan daerah pasca penambangan timah dan daerah hutan produksi. Semenjak pelarangan penambangan darat pada wilayah tersebut menyebabkan beberapa warga (kepala rumah tangga) beralih mata pencaharian dari sektor pertambangan ke sektor perkebunan. Akan tetapi sektor ini belum maksimal karena kondisi tanah pasca penambangan memiliki tingkat kesuburan yang rendah. Disisi lain keberadaan hutan produksi perlahan mulai tergeser fungsinya dan beralih menjadi lahan terbuka untuk pertanian. Anjloknya sektor perekonomian warga akibat pandemi juga memperparah kondisi ekonomi di kelurahan ini. Berdasarkan diskusi dengan perangkat Kelurahan Surya Timur potensi PKK dan ibu rumah tangga di kelurahan ini sangat potensial untuk diberdayakan dalam pemulihan ekonomi warga setempat dengan kegiatan-kegiatan produktif. Oleh karena itu diharapkan agar Universitas Bangka Belitung, dalam hal ini Jurusan Fisika, dapat memberikan pelatihan pemberdayaan PKK dan ibu rumah tangga melalui penerapan teknologi hidroponik untuk pemenuhan kebutuhan akan sayur mayur. Hal ini dipilih karena komoditas sayur mayur merupakan kebutuhan pokok masyarakat dan sekarang harganya cukup mahal. Selain itu teknologi hidroponik lebih efisien dari perkebunan sayur konvensional karena tidak bergantung pada kesuburan tanah dan luas lahan serta bebas pestisida. Selain untuk pemenuhan kebutuhan harian, diharapkan masyarakat mampu mengembangkan menjadi komoditas unggulan sayur mayur sebagai pendapatan tambahan masyarakat. Selaras dengan hal tersebut, dalam proposal pengabdian kali ini kami mengusulkan program swasembada sayur skala rumah tangga melalui implementasi teknologi hidroponik sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat untuk menggerakkan roda ekonomi keluarga. Metode pelaksanaan dari kegiatan ini terdiri dari tiga tahapan: (i) tahap persiapan, (ii) tahap pelaksanaan, dan (iii) monitoring dan evaluasi. Target peserta dari kegiatan ini utamanya adalah PKK dan ibu rumah tangga Kelurahan Surya Timur. Melalui pelatihan, pendampingan dan monitoring yang dilakukan diharapkan kegiatan ini dapat berkelanjutan dan dapat membantu perekonomian bagi masyarakat Kelurahan Surya Timur.Kelurahan Surya Timur merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Sungailiat yang mayoritas kawasannya merupakan daerah pasca penambangan timah dan daerah hutan produksi. Semenjak pelarangan penambangan darat pada wilayah tersebut menyebabkan beberapa warga (kepala rumah tangga) beralih mata pencaharian dari sektor pertambangan ke sektor perkebunan. Akan tetapi sektor ini belum maksimal karena kondisi tanah pasca penambangan memiliki tingkat kesuburan yang rendah. Disisi lain keberadaan hutan produksi perlahan mulai tergeser fungsinya dan beralih menjadi lahan terbuka untuk pertanian. Anjloknya sektor perekonomian warga akibat pandemi juga memperparah kondisi ekonomi di kelurahan ini. Berdasarkan diskusi dengan perangkat Kelurahan Surya Timur potensi PKK dan ibu rumah tangga di kelurahan ini sangat potensial untuk diberdayakan dalam pemulihan ekonomi warga setempat dengan kegiatan-kegiatan produktif. Oleh karena itu diharapkan agar Universitas Bangka Belitung, dalam hal ini Jurusan Fisika, dapat memberikan pelatihan pemberdayaan PKK dan ibu rumah tangga melalui penerapan teknologi hidroponik untuk pemenuhan kebutuhan akan sayur mayur. Hal ini dipilih karena komoditas sayur mayur merupakan kebutuhan pokok masyarakat dan sekarang harganya cukup mahal. Selain itu teknologi hidroponik lebih efisien dari perkebunan sayur konvensional karena tidak bergantung pada kesuburan tanah dan luas lahan serta bebas pestisida. Selain untuk pemenuhan kebutuhan harian, diharapkan masyarakat mampu mengembangkan menjadi komoditas unggulan sayur mayur sebagai pendapatan tambahan masyarakat. Selaras dengan hal tersebut, dalam proposal pengabdian kali ini kami mengusulkan program swasembada sayur skala rumah tangga melalui implementasi teknologi hidroponik sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat untuk menggerakkan roda ekonomi keluarga. Metode pelaksanaan dari kegiatan ini terdiri dari tiga tahapan: (i) tahap persiapan, (ii) tahap pelaksanaan, dan (iii) monitoring dan evaluasi. Target peserta dari kegiatan ini utamanya adalah PKK dan ibu rumah tangga Kelurahan Surya Timur. Melalui pelatihan, pendampingan dan monitoring yang dilakukan diharapkan kegiatan ini dapat berkelanjutan dan dapat membantu perekonomian bagi masyarakat Kelurahan Surya Timur
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PRODUKTIF MELALUI PENERAPAN PROGRAM SWASEMBADA MINYAK KELAPA SKALA RUMAH TANGGA SEBAGAI SOLUSI MENGHADAPI KELANGKAAN MINYAK GORENG
Kelurahan Surya Timur merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Sungailiat yang mayoritas kawasannya merupakan daerah pasca penambangan timah dan daerah hutan produksi. Semenjak pelarangan penambangan darat pada wilayah tersebut menyebabkan beberapa warga (kepala rumah tangga) beralih mata pencaharian dari sektor pertambangan ke sektor perdagangan dan industri berbasis rumah tangga berbasis produk unggulan lokal. Produk unggulan lokal yang sedang dirintis adalah pembuatan kripik aneka rasa berbahan baku singkong, pisang maupun ubi yang merupakan hasil perkebunan dari para petani wilayah tersebut. Kondisi pandemi yang cukup memukul omset para pelaku industri membuat komoditas industri ini mengalami pasang surut. Kondisi ini juga diperparah dengan kelangkaan minyak goreng yang merupakan bahan utama dalam proses penggorengan yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia membuat masa depan rintisan industri ini semakin suram. Hal ini tentu akan mengancam keberlanjutan industri ini yang merupakan solusi atas era transisi perekonomian warga dari sektor pertambangan ke sektor perdagangan dan industri di wilayah ini. Disisi lain produksi komoditas kelapa di wilayah ini cukup melimpah dan belum termanfaatkan maksimal selain dijual dalam bentuk buah kelapa mentah yang harganya sangat murah. Kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui program swasembada minyak kelapa dapat mendorong masyarakat secara mandiri dapat membuat minyak kelapa guna memenuhi kebutuhan akan minyak goreng ditengah kelangkaan dan ancaman kenaikan harga minyak goreng kedepan sehingga keberlangsungan industri komoditas kripik aneka rasa dapat dipertahankan. Melalui pelatihan, pendampingan dan monitoring yang dilakukan diharapkan kegiatan ini dapat berkelanjutan dan dapat membantu mengatasi permasalahan kelangkaan minyak goreng yang mengancam industri produk unggulan lokal serta menjadi peluang usaha baru yang dapat meningkatkan perekonomian bagi masyarakat Kelurahan Surya Timur. Kelurahan Surya Timur merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Sungailiat yang mayoritas kawasannya merupakan daerah pasca penambangan timah dan daerah hutan produksi. Semenjak pelarangan penambangan darat pada wilayah tersebut menyebabkan beberapa warga (kepala rumah tangga) beralih mata pencaharian dari sektor pertambangan ke sektor perdagangan dan industri berbasis rumah tangga berbasis produk unggulan lokal. Produk unggulan lokal yang sedang dirintis adalah pembuatan kripik aneka rasa berbahan baku singkong, pisang maupun ubi yang merupakan hasil perkebunan dari para petani wilayah tersebut. Kondisi pandemi yang cukup memukul omset para pelaku industri membuat komoditas industri ini mengalami pasang surut. Kondisi ini juga diperparah dengan kelangkaan minyak goreng yang merupakan bahan utama dalam proses penggorengan yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia membuat masa depan rintisan industri ini semakin suram. Hal ini tentu akan mengancam keberlanjutan industri ini yang merupakan solusi atas era transisi perekonomian warga dari sektor pertambangan ke sektor perdagangan dan industri di wilayah ini. Disisi lain produksi komoditas kelapa di wilayah ini cukup melimpah dan belum termanfaatkan maksimal selain dijual dalam bentuk buah kelapa mentah yang harganya sangat murah. Kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui program swasembada minyak kelapa dapat mendorong masyarakat secara mandiri dapat membuat minyak kelapa guna memenuhi kebutuhan akan minyak goreng ditengah kelangkaan dan ancaman kenaikan harga minyak goreng kedepan sehingga keberlangsungan industri komoditas kripik aneka rasa dapat dipertahankan. Melalui pelatihan, pendampingan dan monitoring yang dilakukan diharapkan kegiatan ini dapat berkelanjutan dan dapat membantu mengatasi permasalahan kelangkaan minyak goreng yang mengancam industri produk unggulan lokal serta menjadi peluang usaha baru yang dapat meningkatkan perekonomian bagi masyarakat Kelurahan Surya Timur
ANALISA MIKROSKOPIS BATU GRANIT DI PULAU BANGKA MENGGUNAKAN METODE PETROGRAFI
Batu granit merupakan jenis batuan beku asam bertekstur kasar. Penentuan variasi batugranit di daerah Bangka dibutuhkan untuk mengetahui persebaran setiap jenisnya. Penelitian dilakukan dengan menganalisis pengaruh megaskopis dan mikroskopis batuan granit dalam kuat tekan batuan. Analisis megaskopis batuan terdiri atas satu jenis batuan yaitu granitik sedangkan mikroskopis di daerah penelitian terdiri atas 2 jenis batuan yaitu monzogranite dan sienogranit. Sampel batugranit dari Sampel-2 (MKM) teridentifikasi dalam karakteristik monzogranit karena memiliki karakteristik bertekstur faneritik, holokristalin, ukuran kristal sedang-kasar, equigranular, bentuk mineral hipidiomorf, umumnya memiliki tekstur pertit dan grafik, komposisi mineral utama terdiri atas plagioklas 15-34%, K- feldspar 30-48%, kuarsa 20-30%, dan biotit 1-15%. Sedangkan sampel batugranit dari Sampel-1 (ABI), Sampel-3 (VP), Sampel-4 (DP1), dan Sampel-5 (DP2) teridentifikasi dalam karakteristik sienogranit karena memiliki karakteristik bertekstur faneritik, holokristalin, ukuran kristal sedang-kasar, equigranular, bentuk mineral hipidiomorf berupa megakristal dan polikristal, umumnya memiliki tekstur pertit dan grafik, komposisi mineral terdiri dari mineral plagioklas 10-20%, k–feldspar 30- 65%, kuarsa 20-35%, dan biotit 3-20%.Batu granit merupakan jenis batuan beku asam bertekstur kasar. Penentuan variasi batugranit di daerah Bangka dibutuhkan untuk mengetahui persebaran setiap jenisnya. Penelitian dilakukan dengan menganalisis pengaruh megaskopis dan mikroskopis batuan granit dalam kuat tekan batuan. Analisis megaskopis batuan terdiri atas satu jenis batuan yaitu granitik sedangkan mikroskopis di daerah penelitian terdiri atas 2 jenis batuan yaitu monzogranite dan sienogranit. Sampel batugranit dari Sampel-2 (MKM) teridentifikasi dalam karakteristik monzogranit karena memiliki karakteristik bertekstur faneritik, holokristalin, ukuran kristal sedang-kasar, equigranular, bentuk mineral hipidiomorf, umumnya memiliki tekstur pertit dan grafik, komposisi mineral utama terdiri atas plagioklas 15-34%, K- feldspar 30-48%, kuarsa 20-30%, dan biotit 1-15%. Sedangkan sampel batugranit dari Sampel-1 (ABI), Sampel-3 (VP), Sampel-4 (DP1), dan Sampel-5 (DP2) teridentifikasi dalam karakteristik sienogranit karena memiliki karakteristik bertekstur faneritik, holokristalin, ukuran kristal sedang-kasar, equigranular, bentuk mineral hipidiomorf berupa megakristal dan polikristal, umumnya memiliki tekstur pertit dan grafik, komposisi mineral terdiri dari mineral plagioklas 10-20%, k–feldspar 30- 65%, kuarsa 20-35%, dan biotit 3-20%
Antioxidant Activity Testing Combination of Moringa Leaf (Moringa oleifera L.) and Bambian (Ocimum sanctum L.) Leaves Extract Using DPPH Method
Research on the antioxidant activity combination of the ethanol extract of Moringa (Moringa oleifera L.) and basil (Ocimim sanctum L.) leaves has been carried out. The purpose of this study was to identify the content of secondary metabolites and measure the value of antioxidant activity as well as the maximum ratio of the combination of ethanol extract of Moringa leaves and basil leaves. The research methods include maceration extraction using 70% ethanol as a solvent, phytochemical screening using specific reagents and antioxidant activity testing using the DPPH method. The results of the phytochemical screening test for Moringa leaf extract and basil leaves were positive for containing chemical compounds of the flavonoid and tannin groups. The antioxidant activity test of Moringa leaf ethanol extract obtained IC50 results of 69.474 ppm which was categorized as a strong antioxidant, while basil leaves of 34.663 ppm which was categorized as very strong antioxidant, while the results of the combined study of antioxidant activity test of Moringa leaf ethanol extract and basil leaves obtained IC50 results at the ratio of 25:25 mg is 51.589 ppm and the ratio of 35:15 mg is 57.009 ppm which was categorized as a strong antioxidant, while at 15:35 mg is the optimum ratio because the IC50 result is 42.714 ppm which was categorized as very strong
Komposisi dan Status Konservasi Ikan yang Tertangkap oleh Alat Tangkap Payang yang Didaratkan di PPN Sungailiat Kabupaten Bangka
Fishing activities need to be considered through data collection regarding the conservation status of fish species in the Nusantara Fishery Port (PPN) Sungailiat. The aim of the research is to analyze the composition and conservation status of fish caught with payang. Data collection will be carried out in September 2023 at Sungailiat PPN. This study used survey and observation methods with qualitative descriptive data analysis. The results showed that there were 9 families identified, namely Carangidae, Dorosomatidae, Rachycentridae, Scombridae, Leiognathidae, Siganidae, Nemipteridae, Serranidae and Loligonidae. The composition of catches by payang fishermen landed at Sungailiat PPN, Bangka Regency is 64.49% of the catch of demersal fish species and 33.20% of pelagic fish species and 2.31% for mollusk species. The main catch of payang during the study period was 4 species of fish and by-catch there were 10 types of fish. The conservation status of fish species landed at Sungailiat PPN by payang fishermen based on IUCN there are three criteria, namely 11 species classified as Least Concern (LC), two species classified as Near Threatened (NT) and one other species classified as Not Evaluated (NE), while based on CITES is Non Appendix. Fishing area carried out by payang fishermen in Sungailiat PPN, Bangka Regency with 17 coordinate points of fishing that is still in Bangka Belitung Waters and the most catch is obtained by the New Duta Raya ship at the coordinate points of 13 Pala fishing areas in Bangka Belitung Waters.Kegiatan penangkapan ikan perlu diperhatikan melalui pendataan mengenai status konservasi jenis ikan yang berada di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Sungailiat. Tujuan penelitian yaitu untuk menganalisis komposisi dan status konservasi ikan yang tertangkap dengan payang. Pengambilan data dilakukan pada bulan September 2023 di PPN Sungailiat. Penelitian ini menggunakan metode survei dan observasi dengan analisis data secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 9 famili yang teridentifikasi yaitu Carangidae, Dorosomatidae, Rachycentridae, Scombridae, Leiognathidae, Siganidae, Nemipteridae, Serranidae dan Loligonidae. Komposisi hasil tangkapan oleh nelayan payang yang didaratkan di PPN Sungailiat Kabupaten Bangka yaitu 64,49% hasil tangkapan jenis ikan demersal dan 33,20% jenis ikan pelagis serta 2,31% untuk jenis moluska. Hasil tangkapan utama payang selama periode penelitian terdapat 4 jenis ikan dan hasil tangkapan sampingan terdapat 10 jenis ikan. Status konservasi jenis ikan yang didaratkan di PPN Sungailiat oleh nelayan payang berdasarkan IUCN terdapat tiga kriteria yaitu 11 spesies tergolong Least Concern (LC), dua spesies tergolong Near Threatened (NT) dan satu spesies lainnya tergolong Not Evaluated (NE), sedangkan berdasarkan CITES, semua jenis yang tertangkap tergolong Non Appendiks. Daerah penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan payang di PPN Sungailiat Kabupaten Bangka dengan 17 titik koordinat penangkapan ikan yang masih dalam Perairan Bangka Belitung dan hasil tangkapan terbanyak didapatkan oleh kapal New Duta Raya pada titik koordinat 13 daerah penangkapan Pala Perairan Bangka Belitung