Online Journal Universitas Bangka Belitung
Not a member yet
    2165 research outputs found

    CAPTURE RESULTS OF BABY LOBSTERS (Panulirus sp.) LANDED FROM PACITAN COASTAL WATERS

    Full text link
    Lobsters from the Panulirus sp. group are a potential resource in renewable fisheries, but when exploitation continues to increase and there is no control, the number may continue to decline and become extinct. Lobster catching is not limited to the adult phase, but in all phases, including the puerulus phase (baby lobster/clear lobster seed). This study aimed to determine the diversity of baby lobster seeds landed in coastal waters in the Pacitan Regency area based on baby lobster catching activities. This research was conducted in January 2023 - January 2024. Data processing using Primer7 and MS Excel software. Based on the results of observations and data collection, both primary and secondary, 4 lobster species were obtained, namely pearl lobster (Panulirus ornatus), sand lobster (Panulirus homarus), bamboo lobster (Panulirus versicolor), and batik lobster (Panulirus longipes). Sand lobster, pearl lobster, batik lobster, and bamboo lobster were the most abundant at each station. During sampling, the average value of monthly catches in 2024 decreased compared to 2023. Water quality in this area is suitable for lobster habitat, with DO 8-8.5 ppm, salinity 33-35 ppt, pH 7-7.2, and temperature 27.0- 29.2 °C

    Chitosan preparation from white shrimp shell (Litopenaeus vannamei) for Fe(III) removal from Pontianak municipal groundwater

    Full text link
    White shrimp shell (Litopenaeus vannamei) is one of the biomaterial sources to obtain chitin. Chitin could undergo deacetylation process through hydrolysis in strong base solution to produce chitosan. This research aims to determine the potential of chitosan as an environmentally friendly adsorbent for the treatment of groundwater containing high iron ions in Pontianak. The research was conducted in two main stages; obtaining chitosan from the chitin of white shrimp shells, and treating municipal groundwater sample that is high in iron ions content. To obtain chitosan, raw biomaterial chitin from white shrimp shell has been prepared by demineralisation and deproteination process and followed by the deacetylation. The deacetylation of chitin was carried out through hydrolysis reaction in three variation concentrations of aqueous NaOH (i.e 30%, 50%, and 70%-b/v). The measurement of deacetylation degree of chitosan was determined by acid-base titration method and FTIR method. The chitosan with the highest degree of deacetylation was obtained from 70%-b/v NaOH which were 87.4% and 69.0% by acid-base titration method and FTIR, respectively. The chitosan then was utilized in groundwater treatment. The results showed that the chitosan can be utilized as an adsorbent in the pre-treatment process of groundwater in reducing the iron ion content. Almost 40% iron ion were successfully immobilized when 2% (b/v) adsorbent was applied. These results lead to a sustainability of water resources in Pontianak so that city groundwater can be used as an alternative water source for the community

    PREDIKSI TITIK LAS BAJA TULANG KING CROSS MENGGUNAKAN METODE TAGUCHI DI PT. XYZ

    No full text
    Pengelasan merupakan suatu proses penggabungan material yang menghasilkan peleburan pada suhu pengelasan, baik dengan menerapkan tekanan atau tanpa adanya tekanan, serta menggunakan logam pengisi atau tanpa menggunakannya. Sebelum dilakukan proses pengelasan, diperlukan penempatan las titik yang bertujuan untuk menahan posisi sebelumnya ke operasi pengelasan. Pada proses las titik dilakukan dengan menempatkan gumpalan kecil las pada jalur pengelasan. Maka dari itu penelitian ini perlu dilakukan untuk mengetahui pengaruh jumlah las titik serta memprediksi titik las pada baja tulang king cross dengan menggunakan metode Taguchi. Metode Taguchi digunakan untuk menyusun orthogonal array untuk tata letak eksperimennya, pada metode ini hasil eksperimen harus dianalisa terlebih dahulu keakuratannya untuk memenuhi suatu kondisi tertentu. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan metode taguchi dalam memprediksi titik las, ditemukan hasil bahwa faktor utama yang paling mempengaruhi dalam build up setting kingcross ialah jarak antar titik las, faktor kedua ialah jumlah titik las, dan faktor ketiga ialah panjang titik las.Welding is a process of combining materials that produces melting at welding temperature, either by applying pressure or without pressure, and using filler metal or without using it. Before the welding process is carried out, it is necessary to place spot welds which aim to hold the previous position during the welding operation. The spot welding process is carried out by placing small lumps of weld on the welding line. Therefore, this research needs to be carried out to determine the effect of the number of spot welds and predict the weld points on king cross bone steel using the Taguchi method. The Taguchi method is used to arrange an orthogonal array for the layout of the experiment. In this method, the experimental results must first be analyzed for accuracy to meet certain conditions. Based on the results of research using the Taguchi method in predicting weld points, it was found that the main factor that most influences the build up setting of Kingcross is the distance between weld points, the second factor is the number of weld points, and the third factor is the length of the weld points

    UJI KARAKTERISTIK PELET REFUSE DERIVED FUEL (RDF) HASIL PROSES PENGOLAHAN SAMPAH MENGGUNAKAN PELLETIZER

    Full text link
    Municipal solid waste can be processed into solid fuel in the form of Refuse Derived Fuel (RDF) pellets and used as a fuel substitute. One of them is through the Waste Processing Technology at the Source (TOSS) method. Solid waste generally has a low ash content ranging from 20-40%. RDF is combustible waste or rubbish that goes through a crushing and filtering process by turning it into solid fuel. RDF pellets can be made by pressing using a pellet machine or pelletizer. The aim of this research is to test the characterization of pelletizer performance in processing urban waste into RDF pellets. The characterization tested includes analysis of bound carbon content, volatile content and ash content. The research was carried out by varying the composition of organic waste and inorganic waste, namely 1 sample A (70% organic components + 30% inorganic components), sample B (60% organic components + 40% inorganic components), sample C (50% organic components + 50% inorganic components, sample D (40% organic components + 60% inorganic components), and sample E (30% organic components + 70% inorganic components). The lowest volatile was produced in sample E with a value of 52.8445%, and the lowest ash content was produced in sample A with a value of 4.5466%.Sampah perkotaan atau Municipal Solid Waste dapat diolah menjadi bahan bakar padat berupa pellet Refuse Derived Fuel (RDF) dan dimanfaatkan sebagai substitusi bahan bakar minyak. Salah satunya melalui metode Teknologi Olah Sampah di Sumbernya (TOSS). Limbah padat pada umumnya memiliki kadar abu yang rendah berkisar antara 20-40%. RDF adalah limbah atau sampah yang mudah terbakar melalui proses penghancuran dan penyarigan dengan mengubahnya menjadi bahan bakar padat. Pellet RDF dapat dibuat dengan cara penekanan menggunakan mesin pellet atau pelletizer. Tujuan dari penelitian ini adalah uji karakterisasi kinerja pelletizer dalam mengolah sampah perkotaan menjadi pelet RDF. Karakterisasi yang diuji meliputi analisis kadar karbon terikat, kadar volatile, dan kadar abu. Penelitian dilakukan dengan memvariasikan komposisi sampah organik dan sampah anorganik yaitu 1 sampel A (70% komponen organik + 30% komponen anorganik), sampel B (60% komponen organik + 40% komponen anorganik), sampel C (50% komponen organik + 50% komponen anorganik, sampel D (40% komponen organik + 60% komponen anorganik), dan sampel E (30% komponen organik + 70% komponen anorganik). Hasil penelitian menghasilkan kadar karbon terikat tertinggi pada sampel E dengan nilai 18,8431%. Kadar volatile terendah dihasilkan pada sampel E dengan nilai 52,8445%, dan kadar abu terendah dihasilkan pada sampel A dengan nilai 4,5466%

    DAMPAK KEPADATAN KERANG HIJAU (Perna viridis) TERHADAP KUALITAS AGAR RUMPUT LAUT DAN KONDISI TANAH

    Full text link
    Di Indonesia, terutama di Jawa Timur, Gracillaria verrucosa adalah komoditas perairan yang sangat menguntungkan secara ekonomi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi bagaimana kepadatan kerang hijau Perna viridis mempengaruhi kualitas agar yang dihasilkan oleh G. verrucosa, serta kondisi tanah di kolam budidaya. Tiga perlakuan kepadatan kerang (10, 20 dan 30 ekor) digunakan dalam penelitian ini, yang dilakukan di tambak Desa Pangkah Kulon, Gresik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa G. verrucosa menghasilkan rendemen agar berkisar antara 13,05% hingga 15,68%, dan peningkatan rendemen berkorelasi positif dengan peningkatan kepadatan kerang. Menurut analisis kandungan karbon, nitrogen, dan fosfor, G. verrucosa menyerap nitrogen lebih baik daripada fosfor. Pada Hari ke-21, pengukuran Total Bahan Organik Rumput Laut (TBOR) meningkat pada semua perlakuan, dengan nilai TBOR meningkat dari 162,47 mg/L menjadi 178,22 mg/L. Namun, jumlah Total Bahan Organik Tanah (BOT) menurun, terutama pada perlakuan dengan kepadatan kerang tertinggi (30 ekor), yang menunjukkan tingkat bahan organik di tanah yang lebih rendah. Ada kemungkinan penurunan BOT ini akan mengurangi akumulasi logam berat dalam sedimen. pH tanah tetap berada pada tingkat yang layak untuk budidaya rumput laut dan memberikan lingkungan yang ideal untuk pertumbuhan G. verrucosa. Menurut penelitian ini, mengelola kepadatan kerang hijau dapat meningkatkan lingkungan budidaya rumput laut selain mengurangi kemungkinan akumulasi logam berat di dasar perairan

    PROGRAM PENDAMPINGAN PENULISAN ABSTRAK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN GURU MENULIS KARYA ILMIAH DI SMAN 2 PANGKALPINANG

    Full text link
    Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana kegiatan pembelajaran akan lebih optimal. Peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Kurikulum ini diterapkan di semua jenjang Pendidikan (PAUD, SD, SMP dan SMA). Kurikulum merdeka memiliki fleksibilitas dalam hal alokasi waktu serta materi pelajaran, namun tetap berfokus pada materi esensial, pengembangan karakter, dan kompetensi peserta didik. Siswa memiliki kebebasan untuk mengembangkan bakat, minat, dan kemampuan yang dimiliki. Di sisi lain, kurikulum ini juga memberikan kebebasan pada Guru dalam memilih perangkat ajar sehingga dapat disesuaikan dengankebutuhan belajar dan minat siswa. Kemdikbudristek memberikan kebijakan mengenai keleluasaan satuan pendidikan dalam mengimplementasikan kurikulum sesuai dengan tingkat kesiapannya (Nugraha, T S, 2022) SMA Negeri 2 Pangkalpinang telah menerapkan kurikulum merdeka. Penerapan kurikulum merdeka di SMA N 2 Pangkalpinan

    ASSISTANCE IN ADMINISTERING CUSTOMARY LAND FOR COMMUNITY EMPOWERMENT IN SUNGAYANG NAGARI, TANAH DATAR REGENCY

    Full text link
    Bila memaknai ketentuan Pasal 5 dan Penjelasan Umum angka III (1) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA) dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum Agraria yang berlaku ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan negara. Dalam konteks Sumatera Barat, menurut Hukum Adat Minangkabau, seluruh tanah dan hutan mulai dari pohon yang sebatang, batu yang sebutir sampai rumput yang sehelei, yang tingginya sampai ke angkasa dan kedalamannya sampai ke perut bumi adalah ulayat. Artinya hak ulayat dapat berupa sumberdaya alam termasuk tanah hingga bawah tanah dan ruang angkasa yang berada diatas wilayah masyarakat hukum adat. Pasal 19 ayat (1) UU Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Pokok Agraria sebetulnya sedari awal telah menginstruksikan bahwa untuk menjamin kepastian hukum oleh Pemerintah diadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan Peraturan Pemerintah, tak terkecuali disini yaitu tanah ulayat. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2021 tentang Hak Pengelolaan, Hak Atas Tanah, Satuan Rumah Susun, dan Pendaftaran Tanah membuka peluang tanah ulayat dapat didaftarkan dan diberikan hak pengelolaan diatasnya. Untuk menindaklanjuti peraturan tersebut Tahun 2021 Kementerian ATR/BPN bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Andalas menyelenggarakan kegiatan inventarisasi dan identifikasi tanah ulayat nagari di Provinsi Sumatera Barat yang kemudian ditindaklanjuti dengan kegiatan Pilot Project yang saat ini sedang berlangsung, salah satunya di Nagari Sungayang Kabupaten Tanah Datar. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan kepastian hukum terhadap tanah ulayat masyarakat hukum adat Nagari Sungayang, Kabupaten Tanah Datar agar terlindungi hak-hak masyarakat hukum adat.If we define the provisions of Article 5 and General Elucidation number III (1) of Law Number 5 of 1960 on the Basic Agrarian Principles (UUPA), it can be concluded that the applicable Agrarian law is customary law, as long as it does not conflict with national and state interests. In the context of West Sumatra, according to Minangkabau Customary Law, all land and forests from a single tree, a single stone to a single blade of grass, from the height to the sky and the depth to the bowels of the earth are ulayat. This means that ulayat rights can be in the form of natural resources including land to the underground and space above the territory of indigenous peoples. Article 19 paragraph (1) of Law Number 5 of 1960 concerning Basic Agrarian Principles has actually instructed from the beginning that to ensure legal certainty by the Government, land registration is carried out throughout the territory of the Republic of Indonesia according to the provisions regulated by Government Regulations, including here, namely tanah ulayat. Government Regulation No. 18 of 2021 concerning Management Rights, Land Rights, Flat Housing Units, and Land Registration opens up opportunities for tanah ulayat to be registered and granted management rights over it. To uphold this regulation, in 2021 the Ministry of ATR/BPN in collaboration with the Faculty of Law, Universitas Andalas organized an inventory and identification of tanah ulayat nagari in West Sumatra Province and was then followed up with Pilot Project activities that are currently underway, one of those activities is in Nagari Sungayang, Tanah Datar Regency. This activity aims to provide legal certainty to the tanah ulayat of the indigenous people of Nagari Sungayang, Tanah Datar Regency so that the rights of indigenous people are protected

    SOSIALISASI PENCEGAHAN PERNIKAHAN DINI MELALUI PROYEK INDEPENDEN DALAM PENGUATAN KESADARAN REGULASI PERNIKAHAN DI BANGKA TENGAH

    Full text link
    In 2023 Bangka Belitung ranked 10th nationally in cases of early marriage with a percentage of 18.76%. Central Bangka is one of the regions that has a high rate of early marriage. Strengthening premarital regulation is one of the efforts to prevent and reduce the number of early marriages in Central Bangka. The target of this service is teenagers in Central Bangka. The understanding of early marriage is still quite minimal, which triggers many problems when they have to face complex household problems. With this activity, it is hoped that it will provide knowledge about the impact, risks, factors, and dynamics of child marriage and provide an understanding of the importance of premarital in building a harmonious household. Thus it can create a young generation with integrity and quality.  Pada Tahun 2023 Bangka Belitung menempati peringkat ke-10 secara nasional dalam kasus pernikahan dini dengan persentase 18,76%. Bangka Tengah merupakan salah satu daerah yang memiliki pernikahan dini yang cukup tinggi. Penguatan regulasi pranikah menjadi salah satu upaya untuk mencegah serta menekan angka pernikahan dinii di Bangka Tengah. Adapun sasaran pengabdian ini adalah remaja yang ada di Bangka Tengah. Pemahaman terkait pernikahan dini masih cukup minim sehingga memicu bnyak permasalahan apabila mereka harus dihadapkan oleh persoalan rumah tangga yang kompleks. Dengan adanyakegiatan ini, diharapkan akan memberikan pengetahuan tentang dampak, resiko, faktor, dan dnamika perkawinn usia anak serta memberikan pemahaman terkait pentingnya pranikah dalam membangun rumah tangga yang harmonis. Dengan demikian dapat menciptakan generasi muda yang berintegritas dan berkualitas

    ANALISIS PROKSIMAT DAN UJI ORGANOLEPTIK BISKUIT PEDADA (Sonneratia caseolaris) SEBAGAI SUMBER PANGAN ALTERNATIF

    Full text link
    Biskuit merupakan salah satu produk makanan ringan yang digemari oleh banyak kalangan Masyarakat yang saat ini banyak sekali inoasi ang dikembangkan. Salah satu biskuit yang dikembangkan dari sumber tepung alternatif adalah biscuit pedada yang dibuat dari tepung buah mangrove jenis Sonneratia caseolaris. Penelitian telah dilaksanakan dar Desember 2022 hingga Februari tahun 2024 di Laboratorium Pengolahan Pangan, Laboratorium Mikrobiologi, dan Laboratorium Kimia dan Analisis di Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga. Parameter pengujian selain analisis proksimat pada produk juga dilakukan uji organoleptik. Berdasarkan hasil uji proksimat, biskuit dengan substitusi tepung pedada menunjukkan rata-rata penilaian kadar karbohidrat, kadar protein, kadar lemak, dan kadar air pada setiap perlakuan yaitu P0 kontrol (0%), 25% (P1), 50% (P2), 75% (P3). Sementara  hasil pengujian organoleptik yang dilakukan memiliki penilaian kualitas warna (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara substitusi tepung pedada terhadap kualitas warna, aroma, rasa, dan tesktur pada biskuit. Substitusi tepung terigu dengan tepung buah pedada pada biskuit berpengaruh terhadap meningkatkan karbohidrat serta rendah protein dan lemak dan mengurangi kadar gluten. Pengujian organoleptik menunjukkan bahwa perlakuan dengan hasil terbaik ialah pada P1, konsentrasi tepung pedada 25% memiliki warna, tekstur, dan aroma yang paling disukai panelis

    MEMBANGUN KESADARAN LITERASI UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN

    Full text link
    Di era di mana gangguan digital merajalela, menumbuhkan minat literasi anak-anak tetap menjadi tantangan penting bagi para pendidik dan pembuat kebijakan. Kabupaten Bangka Barat merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan angka minat baca yang masih standar dibandingkan dengan wilayah lain. Minat literasi tentu memerlukan bantuan dan penanganan awal dari berbagai pihak. Tujuan pengabdian masyarakat adalah untuk meningkatkan pengetahuan terkait minat baca anak di Kabupaten Bangka Barat dalam memberikan bantuan hidup dasar. Bentuk pengabdian kepada masyarakat ini melalui penyerahan spanduk berdiri, melakukan sosialisasi, penyuluhan serta pendampingan kepada anak-anak serta kepada masyarakat. Alasan memilih metode ini karena anak-anak serta masyarakat lebih menyukai metode pembelajaran yang partisipatif. Dengan pembelajaran yang partisipatif akan memberikan ruang kepada anak-anak serta masyarakat untuk belajar secara langsung melalui melihat, membaca maupun berbicara. Dengan demikian diharapkan para anak-anak serta masyarakat dapat mengalami peningkatan pengetahuan dalam minat membaca. Selama kegiatan pengabdian anak-anak antusias dalam bertanya serta menjawab pertanyaan. Hasil ini memberikan wawasan berharga tentang keadaan terkini keterlibatan anak-anak dengan bahan bacaan dan minat mereka secara keseluruhan dalam kegiatan literasi. Hal ini menggarisbawahi pentingnya penilaian berkelanjutan dan strategi adaptif dalam menumbuhkan kecintaan membaca di kalangan generasi muda

    1,978

    full texts

    2,165

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Online Journal Universitas Bangka Belitung
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇