Online Journal Universitas Bangka Belitung
Not a member yet
    2165 research outputs found

    Analisa Perubahan Garis Pantai Di Kecamatan Sreseh Kabupaten Sampang

    Get PDF
    Gelombang merupakan salah satu parameter penting yang berpengaruh terhadap perubahan garis pantai. Kondisi wilayah pesisir di Pulau Madura, khususnya di Kabupaten Sampang, relatif dinamis. Pada perkembangannya, wilayah pesisir di Pulau Madura, termasuk di Kabupaten Sampang, akan menjadi daerah penting dan bernilai ekonomi tinggi pasca Jembatan Suramadu. Konsekuensinya, potensi degradasi lingkungan akan meningkat sebagai akibat dari pengembangan kawasan untuk berbagai kepentingan sehingga akan menimbulkan gangguan terhadap ekosistem dan keseimbangan pantai. Penggunaan penginderaan jauh menjadi salah satu alternatif untuk mempelajari dinamika dan stabilitas pantai. Citra Landsat TM tahun 2004 dan 2013 diolah dan dianalisa dengan menggunakan software Arcview, kemudian dideskripsikan. Hasil analisa menunjukkan sebagain besar lokasi pesisir dan pantai di Kecamatan Sreseh mengalami akresi dan abrasi, sehingga profil garis pantai cukup dinamis sepanjang waktu. Untuk meningkatkan validasi, perlu dilakukan pemodelan numerik untuk melihat perubahan yang terjadi

    Strategy for Development of Facilities and Infrastructure at Tuing Indah Beach, Bangka Regency, Bangka Belitung Islands Province

    No full text
    Pariwisata berkelanjutan didefinisikan sebagai pariwisata yang memperhitungkan penuh dampak ekonomi, sosial dan lingkungan. Hal tersebut menjadi faktor yang mendukung pemanfaatan sumberdaya lokal di Pantai Tuing Indah Desa Mapuru ntuk membuat masa depan pariwisata lebih layak serta memberikan manfaate konomi dan sosial bagi masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor internal dan eksternal apa yang dapat mempengaruhi pengembangan fasilitas sarana dan prasarana Pantai Tuing Indah serta menganalisis strategi pengembangan berdasarkan analisis SWOT di Pantai Tuing Indah. Strategi pengembangan sarana pantai menggunakan strategi agresif sedangkan strategi pengembangan prasarana pantai menggunakan strategi turn around. Hal iniberdasarkan perhitungan hasil analisis yang menunjukan kegiatan pengembangan fasilitas sarana pariwisata berada pada titik koordinat (0,2063 ; 0,3475) yakni kuadran I dengan strategi pengembangan yang diprioritaskan adalah (SO) Strength Opportunity, yaitu pengembangan dengan memanfaatkan kekuatan yang dimiliki serta mengoptimalkan peluang yang ada. Sedangkan pengembangan fasilitas prasarana pariwisata berada pada titik koordinat (-0,2078 ; 0,2111) yakni kuadran II dengan strategi pengembangan yang diprioritaskan adalah (WO) Weaknees Opportunity, yaitu pengembangan dengan meminimalkan kelemahan sehingga dapat memanfaatkan peluang yang ada.Sustainable tourism defined as tourism that takes full account of economic, social and environmental impacts, this is a factor that supports the use of local resources at Tuing Indah Beach, Mapur Village to make the future of tourism more viable and provide economic and social benefits for community. This research aims to analyze what internal and external factors can influence the development of facilities and infrastructure at Tuing Indah Beach and analyze development strategies based on SWOT analysis at Tuing Indah Beach. Thebeach infrastructure development strategy uses an aggressive strategy, while the beach infrastructure development strategy uses a turn around strategy. This is based on calculations from the analysis results which show that tourism facility development activities are at the coordinate point (0.2063 ; 0.3475), namely quadrant I with the prioritized development strategy being (SO) Strength Opportunity, namely development by utilizing existing strengths and optimizing existing opportunities. Meanwhile, the development of tourism infrastructure facilities is at the coordinate point (-0.2078 ; 0.2111), namely quadrant II with the prioritized development strategy being (WO) Weaknees Opportunity, namely development by minimizing weaknesses so that we can take advantage of existing opportunities

    Korban Kekerasan Rumah Tangga: Adat Dayak Uud Danum dan Hukum Nasional

    Get PDF
    Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Buku Hukum Adat Dayak Uud Danum Tahun 2001 telah memberikan perlindungan kepada Istri yang menjadi Korban Kekerasan dalam Ruma Tangga oleh Suaminya. Perlindungan yang diberikan oleh Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentap Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga diberikan sejak korban membuat laporan polisi, saat diperiksa dan sampai pada penetapan pengadilan. Perlindungan hukum yang diberikan oleh Tomakung kepada Istri yang menjadi korban kekerasan (hotuhui) oleh suami dengan membayar denda serta melaksanakan siro sahkik untuk mengembalikan keadaan yang rusak karena adanya kekerasan (hotuhui) antara suami dan istri. Faktor – faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga oleh suami dikarenakan oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal dikarenakan oleh istri yang seliingkuh, boros dengan uang, malas memasak. Faktor internal pada suami dikarenakan malas bekerja, tidak punya pekerjaan, selingkuh, berjudi dan pencandu minuman beralkhol. Pemerintah sebaiknya menyediakan lapangan pekerjaan bagi semua tingkatan pendidikan yang merata dari desa sampai ke kota. Pemerintah sebaiknya dalam membantu masyarakat miskin tidak memberikan bantuan sosial dalam bentuk bantuan langsung tunai karena dengan nominal uang sedikit hanya cukup untuk membeli alkhohol bermain judi. Meningkatnya kekerasan dalam rumah tangga bukan semata – mata kesalahan warga tetapi karena kurangnya pembinaan kesadaran masyarakat oleh pemerintah pusat maupun daerah yang tepat sasaran karena hari ini Pemerintah lebih banyak membangun infrastruktur daripada membangun mental dan spiritual manusia Indonesia itu sendiri.Law Number 23 of 2004 concerning the Elimination of Domestic Violence and the 2001 Uud Danum Dayak Customary Law Book have provided protection for wives who are victims of domestic violence by their husbands. The protection provided by Law Number 23 of 2004 concerning the Elimination of Domestic Violence is provided from the time the victim makes a police report, when he is questioned and arrives at a court decision. Legal protection provided by Tomakung to wives who are victims of violence (hotuhui) by husbands by paying fines and implementing siro sahkik to restore conditions damaged by violence (hotuhui) between husband and wife. Factors that cause domestic violence by husbands are caused by internal and external factors. Internal factors are caused by wives who cheat, wasteful with money, lazy to cook. Internal factors in husbands are due to being lazy to work, not having a job, having an affair, gambling and being an alcoholic drink addict. The government should provide jobs for all levels of education that are evenly distributed from villages to cities. The government should, in helping the poor, not provide social assistance in the form of direct cash assistance because a small nominal amount of money is only enough to buy alcohol and play gambling. The increase in domestic violence is not solely the fault of the citizens but due to a lack of community awareness raising by the central and regional governments that is right on target because today the Government is building more infrastructure than building the mental and spiritual Indonesian people themselves

    Tinjauan Kewenangan Ombudsman Republik Indonesia Dalam Penyelesaian Laporan Masyarakat

    Get PDF
    In carrying out the task of completing community reports, the Ombudsman of the Republic of Indonesia is not only known for providing recommendations but also the Ombudsman of the Republic of Indonesia has the final product of completing the report, namely the Final Report of the Examination Results. Therefore, this study aims to: explain the legal review of the Final Report of the Examination Results as part of the series of examinations of community reports that have a relationship with providing recommendations if corrective actions in the Final Report of the Examination Results are not implemented by the Public Service Provider in the findings of mal-administration. The method used in this study is the normative juridical method. The results showed that the Final Report of the Examination Results is a whole series of processes for receiving and verifying reports with formal and material requirements which will then be followed up in the examination process, the product of the Ombudsman's supervision service is the Final Report of the Examination Results. So the Ombudsman of the Republic of Indonesia does not just provide recommendations, because of the position of the Ombudsman of the Republic of Indonesia as a state institution that exerts influence in a persuasive approach in handling community reports related to mal-administration. One of the main concerns of this study is that the Final Report on the Results of the Examination has not been included in the Ombudsman Law of the Republic of Indonesia so that hierarchically the power of the Ombudsman of the Republic of Indonesia is in the recommendations. However, the existence of the Final Report of the Examination Results as an effort by the Ombudsman of the Republic of Indonesia to encourage the improvement and improvement of public services at the encouragement of independent public service provider

    EVALUASI MANAJEMEN PEMELIHARAAN ARSITEKTUR, MEKANIKAL, DAN ELEKTRIKAL PADA GEDUNG HOTEL X DI KOTA PADANG

    Get PDF
    Based on the results of field inspections, damage to architectural, mechanical, and electrical components was found in several rooms of Hotel X in the city of Padang, West Sumatra, Indonesia. Lack of maintenance is one of the causes of damage to hotel building components. Good maintenance management can reduce repair activities that cost more due to injury. This study aims to evaluate the maintenance management of hotel buildings that have been carried out so far. In this study, researchers conducted surveys and interviews about hotel maintenance management. The survey and discussions focused on the hotel's Standard Operating Procedures (SOPs) for each component reviewed. After obtaining the hotel SOP, the researcher analyzed it by comparing the hotel SOP with the Minister of Public Works Regulation No.24/PRT/M/2008 as a standard in the implementation of building maintenance. From the results of the conformity calculation carried out, the conformity results in each component are architectural components with an average conformity result of 72.38%, mechanical parts with an average conformity result of 88.89%, and electrical components with an average conformity result of 77.78% of a maximum weight of 100%. This percentage of conformity weight shows that the hotel's maintenance management concerning the Ministerial Regulation is quite good. Still, to further optimize maintenance activities, it is necessary to plan better standard operating procedures, cost planning, and maintenance schedules to support implementing Hotel X building maintenance in the future.Berdasarkan hasil inspeksi di lapangan, ditemukan beberapa kerusakan komponen arsitektur, mekanikal, dan elektrikal pada beberapa ruangan hotel X di kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Kurangnya pemeliharaan menjadi salah satu penyebab terjadinya kerusakan pada komponen gedung hotel. Dengan manajemen pemeliharaan yang baik, dapat mengurangi kegiatan perbaikan yang memakan biaya lebih akibat terjadinya kerusakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi manajemen pemeliharaan bangunan hotel yang selama ini sudah terlaksana. Pada penelitian ini, peneliti melakukan survei dan wawancara terkait manajemen pemeliharaan hotel. Survei dan wawancara terfokus pada Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dimiliki pihak hotel untuk masing-masing komponen yang ditinjau. Setelah didapat SOP hotel, peneliti melakukan analisa dengan membandingkan SOP hotel dengan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No.24/PRT/M/2008 sebagai standar dalam pelaksanaan pemeliharaan bangunan gedung. Dari hasil perhitungan kesesuaian yang dilakukan, hasil kesesuaian pada masing-masing komponen yaitu komponen arsitektur dengan rata-rata hasil kesesuaian sebesar 72,38%, komponen mekanikal dengan rata-rata hasil kesesuaian sebesar 88,89%, dan komponen elektrikal dengan rata-rata hasil kesesuaian sebesar 77,78% dari bobot maksimal 100%. Persentase bobot kesesuaian ini menunjukkan bahwa manajemen pemeliharaan yang dilaksanakan oleh pihak hotel dengan mengacu pada Peraturan Menteri bernilai cukup baik. Namun, untuk lebih mengoptimalkan kegiatan pemeliharaan, perlu perencanaan standar operasional prosedur, perencanaan biaya dan jadwal pemeliharaan yang lebih baik untuk menunjang pelaksanaan pemeliharaan gedung hotel X dimasa yang akan datang

    Evaluasi Jenis Rumpon Di Perairan Rebo Provinsi Kepulauan Bangka Belitung

    Get PDF
    Rebo waters have a huge fishery potential for fishermen. The increasing exploitation of fish resources and anthropogenic activities can lead to reduced fishermen's catches in these waters. A fish aggregating device (FAD) is an alternative for the restoration of fish diversity and abundance or habitat enhancement efforts. In 2020, 4 types of FADs were drowned in Rebo waters: coconut leaves, drums, used boats, and concrete. The purpose of this study was to determine whether the drowned FADs have become a new habitat for fish by analyzing the species composition, abundance, diversity, and biomass of each type of FAD to understand the best type of FAD construction. The research was conducted in March 2022 using the Underwater Visual Census (UVC) method and a belt transect. The results showed there were 823 individuals in total from 17 species and 16 families. The highest abundance found in the type of FAD concrete was 3.81 ind/m2 and the lowest was found in FAD boat type 2.20 ind/m2. The total biomass value is 35.6 kg and the highest is found in concrete FAD with 12.8 kg/100m2 and the lowest is the boat FAD type with 10.2 kg/100 m2. The conclusion of this study shows that concrete FADs, drum FADs, and boat FADs can attract fish as a place to play, feeding ground and hide from predators. Based on the construction type, FAD concrete has the best abundance and biomass values.Perairan Rebo merupakan wilayah yang memilik potensi perikanan begitu sangat besar Kegiatan eksploitasi sumberdaya ikan dan aktivitas antropogenik yang semakin meningkat dapat menyebabkan berkurangnya hasil tangkapan nelayan pada perairan ini. Rumah ikan (rumpon) merupakan alternatif guna pemulihan keragaman dan kelimpahan ikan atau upaya habitat enchacement. Pada tahun 2020, pernah dilakukan penenggelaman 4 jenis rumpon di perairan Rebo yaitu dari daun kelapa, drum, perahu bekas, dan beton. Tujuan dari penelitian ini adalah, apakah rumpon yang ditenggelamkan sudah menjadi habitat baru bagi ikan dengan cara menganalisis komposisi spesies, kelimpahan, keanekaragaman, dan biomassa tiap jenis rumpon sehingga diketahui jenis kontruksi yang paling baik bagi rumah ikan. Penelitian dilakukan pada Maret 2022 dengan menggunakan metode Underwater Visual Census (UVC) dan belt transek. Hasil analisis didapatkan jumlah individu total yang ditemukan sebanyak 823 individu. Jumlah jenis ikan yang ditemukan sebanyak 17 spesies dari 16 family. Kelimpahan tertinggi terdapat pada jenis rumpon beton sebanyak 3,81 ind/m2 dan terendah terdapat pada jenis rumpon perahu sebanyak 2,20 ind/m2. Nilai biomassa total sebesar 35,6 kg dan tertinggi terdapat pada jenis rumpon beton dengan nilai 12,8 kg/100m2 dan terendah terdapat pada jenis rumpon perahu sebesar 10,2 kg/100 m2. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa rumpon beton, rumpon drum, dan rumpon perahu dapat membuat ikan tertarik sebagai tempat bermain, mencari makan dan tempat bersembunyi dari predator. Berdasarakan jenis kontruksi maka secara umum jenis rumpon dari beton yang memiliki nilai kelimpahan dan biomassa yang paling baik

    Margin dan Pangsa Pasar Rajungan Portunus pelagicus (Linnaeus, 1978) di Wilayah Pesisir Timur Lampung

    Get PDF
    The market and market share has an important role for business actors (fishermen and crab processors) in their economic, social, and institutional activities. This study aimed to analyze the margin and price share of crab trade at each trading agency involved. Data collection is done by interviews using questionnaires, literature studies, and data from government and private agencies. All data collected were analyzed used the description method to determine the margin and market share of the crab. The results showed that the margins of the crab trading varied between levels of trading agency, i.e fishermen (Rp34,500.00- 50,200.00), small collectors (Rp5,000.00-15,000.00), middleman (Rp35,000.00-60,000.00), miniplant (Rp27,500-125,676.00), and UPI (Rp901,511.00-971,511.00). Fisherman's share value also varied between 16.43-22.97. Overall from fishery export commodities in Lampung Province, crab ranked second seafood product (after shrimp) with a market share of 19.76% and most of it (92.67%) with volume 1.070.237 kg was exported to the United States as pasteurized crab meat. Crab trading agency involved are expected to prioritize the quality and quantity of products so that the margin and market share of the crab will increaseMargin dan pangsa pasar rajungan memiliki peran penting secara ekonomi, sosial, dan kelembagaan bagi kehidupan para pelaku usahanya baik nelayan maupun pengolah rajungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis margin dan pangsa harga pemasaran rajungan pada setiap lembaga pemasaran yang terlibat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner, studi literatur, dan data dari berbagai instansi pemerintah dan swasta. Seluruh data yang terkumpul dianalisis dengan metode deskripsi untuk mengetahui margin dan pangsa pasar rajungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa margin tataniaga rajungan bervariasi antar tingkat lembaga pemasaran, yaitu nelayan (Rp34.500,00-Rp50.200,00), pengumpul kecil (Rp5.000,00-Rp15.000,00), pembina (Rp35.000,00-Rp60.000,00), miniplant (Rp27.500,00-Rp125.676,00), dan UPI (Rp901.511,00-Rp971.511,00). Nilai Fisherman’s share juga bervariasi berkisar antara 16,43-22,97. Dari keseluruhan komoditas ekspor perikanan di Provinsi Lampung, rajungan menempati urutan kedua setelah udang dengan pangsa pasar sebesar 19,76% dan sebagian besar (92,67%) dengan volume 1.070.237 kg diekspor ke Amerika Serikat dalam bentuk olahan daging rajungan pasteurisasi. Lembaga pemasaran rajungan yang terlibat diharapkan lebih mengutamakan kualitas dan kuantitas produk agar margin dan pangsa pasar rajungan semakin meningkat.   &nbsp

    Performa Benih Kakap Putih (Lates calcarifer) yang Diberi Pakan Kombinasi Maggot (Hermetia illucens) dan Pakan Komersil

    Get PDF
    Feed is the main thing needed in the cultivation of Asian seabass seeds. An appropriate composition of fish feed ingredients affect the growth, development, and survival rate of this Asian seabass seeds. This study aims to analyze the effect of the combination of maggot and artificial feed (pellets) on the growth, survival, feed conversion, and efficiency of feed utilization of Asian seabass (Lates calcarifer) seeds. The study was conducted for 30 days, using a completely randomized design with 4 treatments and 3 replications, namely: treatment A (feeding pellets 100%), B (feeding pellets 75% and maggot 25%), C (feeding pellets 50% and maggot 50%), D (25% pellet feed and 75% maggot) with a feeding rate (FR) of 7% of fish body weight. The data that has been collected were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a 95% confidence level with SPSS software. If the treatment had a significant effect, further tests would be carried out using the Tukey test. The results show that the combination of maggot and pellets affects the growth, survival, feed conversion, and efficiency of feed utilization of Asian seabass seeds. The best combination is 75% for maggots and 25% for pellets.Pakan merupakan hal utama yang dibutuhkan dalam budidaya benih kakap putih. Komposisi bahan pakan ikan yang tepat mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan tingkat kelangsungan hidup benih kakap putih ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kombinasi maggot dan pakan buatan (pelet) terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup, konversi pakan, dan efisiensi pemanfaatan pakan benih ikan kakap putih (Lates calcarifer). Penelitian ini dilakukan selama 30 hari, menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yaitu: perlakuan A (pemberian pelet 100%), B (pemberian pelet 75% dan maggot 25%), C (pemberian pelet 50% dan maggot 50%), D (25% pakan pelet dan 75% maggot) dengan feeding rate (FR) 7% dari bobot tubuh ikan. Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada tingkat kepercayaan 95% dengan software SPSS. Jika perlakuan memberikan pengaruh yang nyata, maka dilakukan pengujian lebih lanjut dengan menggunakan Uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi maggot dan pelet berpengaruh terhadap pertumbuhan, kelangsungan hidup, konversi pakan, dan efisiensi pemanfaatan pakan benih kakap putih. Kombinasi terbaik adalah 75% untuk maggot dan 25% untuk pelet

    Karakteristik, Warna, Dan Ukuran Mikroplastik Yang Ditemukan Pada Air Dan Kerang Hijau Di Pulau Pasaran, Lampung

    Get PDF
    Plastic waste will be degraded into microplastic which has a size of ≤ 5 mm. These microplastic particles change in size and color due to various natural processes that occur in the environment. The purpose of this study was to determine the shape, color and size characteristics of microplastics found around Pasaran Island. Sampling was carried out by taking microplastic samples in water and green mussels around Pasaran Island. Based on the research results, microplastic fragments, films, fibers, granules and foam were found. Microplastic colors consist of black, blue, green, yellow, red, clear, and white. Microplastic fragments, films and fibers were found in the <50µm to 1000 - 5000 µm size group. Granular microplastic types were found in the <50 µm to 100 - 500 µm size group and foam types were found in the <50 µm to 500 - 1000 µm size group.Limbah plastik akan terdegradasi menjadi mikroplastik yang memiliki ukuran ≤  5  mm. Partikel mikroplastik tersebut mengalami perubahan ukuran dan warna akibat berbagai proses alam yang terjadi di lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik bentuk, warna, dan ukuran mikroplastik yang terdapat di sekitar Pulau Pasaran. Sampling dilakukan dengan mengambil sampel mikroplastik dari air dan kerang hijau di sekitar Pulau Pasaran. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan mikroplastik jenis fragmen, film, fiber, granul, dan foam. Warna mikroplastik terdiri dari hitam, biru, hijau, kuning, merah, bening, dan putih. Mikroplastik jenis fragmen, film dan fiber ditemukan pada kelompok ukuran  <50µm hingga kelompok ukuran 1000 - 5000 µm. Mikroplastik granul ditemukan pada kelompok ukuran <50 µm hingga 100 - 500 µm dan jenis foam ditemukan pada kelompok ukuran <50 µm sampai ukuran 500 - 1000 µm

    FLY ASH DAN BOTTOM ASH SEBAGAI MATERIAL INFRASTRUKTUR UNTUK MENDUKUNG PEMBANGUNAN YANG BERKELANJUTAN

    Get PDF
    Penggunaan batubara sebagai sumber energi pada pembangkit listrik tenaga uap akan menghasilkan residu berupa Fly ash dan bottom ash (FABA) sebagai hasil pembakaran. Besarnya jumlah residu tersebut perlu dikelola dengan baik, antara lain dapat dijadikan sebagai material infrastruktur bangunan dan perkerasan jalan seperti semen, beton, batako, genteng, paving block dan lain sebagainya. Dalam gencarnya pembangunan infrastruktur di Indonesia perlu dilakukan pendekatan konsep green infrastructure untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Dalam proses pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan ini tentu perlu diadakannya optimalisasi manfaat baik dari sumber daya alam, sumber daya manusia, dan juga ilmu pengetahuan dan teknologi secara efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan melakukan pemetaan terhadap variabel yang saling terintegrasi dalam aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data yang diperoleh berasal dari studi literatur dan pengamatan lapangan. Kriteria literatur yang digunakan membahas mengenai pemanfaatan FABA sebagai material infrastruktur untuk bangunan atau material perkerasan jalan, dan potensi keberlanjutan FABA ditinjau dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Observasi atau survei lapangan dilakukan di salah satu PLTU di Pulau Jawa guna mengetahui proses pengelolaan FABA. Hasil kajian ini menyatakan bahwa dengan adanya pemanfaatan FABA terdapat 13 variabel terkait keberlangsungan FABA sebagai material infrastruktur yang ditinjau dari aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Hal ini dapat menjadikan FABA sebagai material infrastruktur untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan.Penggunaan batubara sebagai sumber energi pada pembangkit listrik tenaga uap akan menghasilkan residu berupa Fly ash dan bottom ash (FABA) sebagai hasil pembakaran. Besarnya jumlah residu tersebut perlu dikelola dengan baik, antara lain dapat dijadikan sebagai material infrastruktur bangunan dan perkerasan jalan seperti semen, beton, batako, genteng, paving block dan lain sebagainya. Dalam gencarnya pembangunan infrastruktur di Indonesia perlu dilakukan pendekatan konsep green infrastructure untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Dalam proses pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan ini tentu perlu diadakannya optimalisasi manfaat baik dari sumber daya alam, sumber daya manusia, dan juga ilmu pengetahuan dan teknologi secara efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan melakukan pemetaan terhadap variabel yang saling terintegrasi dalam aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data yang diperoleh berasal dari studi literatur dan pengamatan lapangan. Kriteria literatur yang digunakan membahas mengenai pemanfaatan FABA sebagai material infrastruktur untuk bangunan atau material perkerasan jalan, dan potensi keberlanjutan FABA ditinjau dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Observasi atau survei lapangan dilakukan di salah satu PLTU di Pulau Jawa guna mengetahui proses pengelolaan FABA. Hasil kajian ini menyatakan bahwa dengan adanya pemanfaatan FABA terdapat 13 variabel terkait keberlangsungan FABA sebagai material infrastruktur yang ditinjau dari aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Hal ini dapat menjadikan FABA sebagai material infrastruktur untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan

    1,978

    full texts

    2,165

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Online Journal Universitas Bangka Belitung
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇