Online Journal Universitas Bangka Belitung
Not a member yet
2165 research outputs found
Sort by
Pemetaan Kawasan Hutan Mangrove Menggunakan Drone Di Kawasan Wisata Hutan Mangrove Sebagai Salah Satu Upaya Konservasi Kawasan Hutan Mangrove Di Desa Tukak Kabupaten Bangka Selatan
Pengelolaan lingkungan selain berdimensi pengelolaan sumber daya alam, juga berdimensi pemanfaatan ruang. Suatu ruang tertentu dapat digunakan untuk berbagi alternatif kegiatan, seperti pemukiman, industry, pertanian, dan sebagainya. Kegiatan ini selain dapat menyebabkan adanya konflik penggunaan, misalnya perebutan lokasi, tumpang tindih penggunaan, juga dapat mengakibatkan terganggunya kegiatan lain yang berada di dekatnya. Keterpaduan pengelolaan lingkungan dengan tata ruang ditegaskan dalam UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang menegaskan bahwa tata ruang sebagai instrument pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup. Salah satu cara yang di perlukan untuk memastikan penggunaan lahan di wilayah pesisir sudah sesuai dengan peruntukannya yaitu melakukan pemetaan menggunakan drone. Hal ini penting dilakukan dikarena data spasial sangat di butuhkan dibidang perikanan, pertanian, pertambangan dsb. Universitas Bangka Belitung memiliki sumberdaya manusia yang memumpuni untuk memberikan bantuan dalam bentuk melakukan pemetaan Kawasan hutan mangrove di kawasan Desa Tukak untuk mencegah adanya penyerobotan lahan untuk digunakan sebagaimana yang bukan peruntukannya maka perlu adanya peta kawsan yang terkini berdasar kondisi riil di lapangan dan cara tersebut adalah melakukan pemetaan menggunakan drone
Analisis Kepuasan Pengunjung Terhadap Objek Wisata Pantai Tapak Hantu Ditinjau Dari Aspek Rekreasi Wisata Pantai Kabupaten Bangka Tengah
Tapak Hantu Beach has the potential to be developed into a leading tourist attraction in Bangka Tengah Regency. However, to accommodate this, it is necessary to conduct research. This study aims to analyze the quality of services and facilities on the Tapak Hantu beach, Bangka Tengah Regency. The research time was carried out in November 2022 which was carried out for two weeks the research method was carried out using theImportance and Performance Analysis Method (IPA). Based on the results obtained for the level of importance of service quality, namely with an average of x ̅ 3.71 and y ̅ 4.78 while for the value of the level of importance of the facility x ̅ 3.97 and y ̅ 4.55. So it can be concluded that the level of consumer satisfaction is actually lower than the level of expectationsPantai Tapak Hantu memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi objek wisata unggulan di Kabupaten Bangka Tengah. Akan tetapi untuk mengakomodir tersebut maka perlu dilakukan penelitian.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kualitas pelayanan dan fasilitas yang ada di pantai Tapak Hantu Kabupaten Bangka Tengah. Waktu Penelitian dilaksanakan bulan November 2022 yang dilakukan selama dua minggu metode penelitian dilakukan dengan menggunakan Importance and Performance Analysis Methode (IPA). Berdasarkan hasil yang didapatkan untuk tingkat kepentingan kualitas pelayanan yaitu dengan rata-rata 3,71 dan 4,78 sedangkan untuk nilai tingkat kepentingan fasilitas 3,97 dan 4,55. Maka dapat di simpulkan bahwa tingkat kepuasan konsumen senyatanya lebih rendah dibandingkan dengan tingkat harapan
Abundace of Microplastics in Kepah Mussels (Polymesoda sp.) in Jada Bahrin River Waters, Bangka and Tebelan Mussels (Lingula sp.) in Pekapor Beach Waters, South Bangka
Minimnya informasi terkait kandungan mikroplastik yang terakumulasi pada kerang di wilayah Bangka terutama pada jenis kerang konsumsi Polymesoda sp. dan Lingula sp. berpotensi menimbulkan resiko terhadap keamanan pangan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis jenis dan kelimpahan mikroplastik pada kerang Polymesoda sp. dan Lingula sp. pengambilan data dilakukan pada bulan Desember 2022 – Februari 2023 di Perairan Desa Jada Bahrin dan di Perairan Pantai Pekapor, Desa Permis. Metode pengambilan sampel menggunakan random purposive sampling dengan 3 kelompok penggulangan. Pengolahan sampel di laboratorium menggunakan H2O2 sebagai bahan destruksi dan NaCl untuk meningkatkan densitas. Hasil penelitian menunjukkan terdapat partikel mikroplastik dikedua sampel kerang diantaranya jenis fiber, fragmen dan film dengan jenis fiber yang mendominasi dikedua sampel. Rata-rata kelimpahan total mikroplastik Polymesoda sp. sebesar 0,33 partikel/individu, sedangkan ratarata kelimpahan total mikroplastik Lingula sp. sebesar 0,65 partikel/individu. Hasil membuktikan kedua sampel kerang telah tercemari mikroplastik yang mengancam keamanan pangan dan berdampak buruk terhadap kesehatan manusia sehingga diperlukan penelitian lebih dalam terkait kontaminasi mikroplastik seperti kandungan dan zat toksikan kimiawi terutama pada biota konsumsi yang mempengaruhi ketahanan dan keamanan pangan.The lack of information related to the content of microplastics accumulated in shellfish in the Bangka region, especially in the type of shellfish consumption Polymesoda sp. and Lingula sp. potentially pose a risk to food safety. Therefore, this study was conducted to analyze the type and abundance of microplastics in Polymesoda sp. shellfish. and Lingula sp. Data collection will be carried out in December 2022 – February 2023 in the waters of Jada Bahrin Village and in the waters of Pekapor Beach, Permis Village. The sampling method uses random purposive sampling with 3 countermeasures groups. Sample processing in the laboratory uses H2O2 as the destruction material and NaCl to increase density. The results showed that there were microplastic particles in both shellfish samples including fibers, fragments and films with fiber types dominating in both samples. Average total abundance of microplastics Polymesoda sp. amounted to 0.33 particles/individual, while the average total abundance of microplastics Lingula sp. by 0.65 particles/individual. The results prove that both shellfish samples have been contaminated with microplastics which threaten food safety and adversely affect human health, so deeper research is needed related to microplastic contamination such as chemical toxicants and substances, especially in consumption biota that affect food security and safet
ANALISA PERBANDINGAN BIAYA DAN WAKTU PELAKSANAAN DINDING PENAHAN TANAH SECANT PILE DENGAN DIAPHRAGM WALL PADA PROYEK REVITALISASI TAMAN ISMAIL MARZUKI
The construction of a basement for parking lots requires a soil retaining wall structure that can withstand its own load and the load around it and must be safe against sliding, rolling and collapse. The choice of soil retaining wall type is an important decision in development projects because it affects the cost, quality and time of implementation. Secant pile soil retaining wall is a type of soil retaining wall using the method of arranging concrete poles that are arranged intersectingly to withstand soil thrust. Diaphragm wall is a type of soil retaining wall that uses reinforced concrete to withstand the lateral force of the soil made by filling concrete that has been made first and filled with bentonite slurry as a stabilizer of the excavated wall, then filled with concrete after the reinforcement cage is installed. Later it will be compared with the diaphragm wall in terms of cost and implementation time. The data needed in this analysis are shop drawing secant pile, technical specifications, unit price of work, and detailed geotechnical design engineering. From the results of the study, it was found that the cost of secant pile work amounted to Rp. 24,560,508,232.00 with an implementation time of 214 working days. As for the diaphragm wall, a work fee of Rp.30,059,442,748.00 was obtained with an implementation time of 246 working days. The application of secant pile is 18.29% cheaper and 32 days faster than diaphragm wall
Potensi Antibakteri Dari Ekstrak Polychaeta Namanereis sp.
Namanereis sp. diklasifikasikan kedalam Famili Nereididae, Kelas Polychaeta. Penelitian tentang Polychaeta di Indonesia masih merupakan penelitian dasar yang meliputi taksonomi, ekologi serta struktur komunitas. Penelitian tentang kandungan nutrisi, pakan alami dan kandungan bahan aktif masih jarang dilakukan. Pada penelitian ini, dilakukan upaya penelitian tentang potensi antibakteri dari ekstrak Namanereis sp. dengan pelarut Etil Acetate. Oleh karena itu penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dari ekstrak Namanereis sp terhadap bakteri Aeromonas hydrophila, Vibrio parahaemolyticus, dan Vibrio harveyi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah experiment laboratorium. Perlakukan konsentrasi ekstraksi Namanereis sp. Pada ekstrasi dengan pelarut etil acetate dipergunakan perbandingan 1:4. Bakteri yang digunakan dalam penelitian ini adalah A. hydrophila, V. parahaemolyticus, dan V. harveyi yang diperoleh dari BBPAP Jepara. Berdasarkan hasil penelitian, zona hambatan tertinggi yang terbentuk untuk V. harvei pada konsentrasi 100% adalah sebesar 3.18 ± 0.33cm2, zona hambatan untuk A. hydrophila adalah 2,96 ± 0,45cm2 dan zona hambatan yang terbentuk untuk bakteri V. parahaemolyticus adalah 2,7 ± 0.91cm2. Penelitian ini menunjukkan ekstrasi Namaneries sp dengan menggunakan pelarut etil acetate dapat membentuk zona hambatan untuk setiap perlakukan konsentrasi ekstrak Namanereis sp yang diberikan (6,25, 12,5. 25, 50 dan 100%).Namanereis sp. is classified into the Family Nereididae, class Polychaeta. The research on Polychaeta in Indonesia, is still basic research covering taxonomy, ecology and community structure. The research on nutritional content, natural feed and active ingredient content are still rarely done. This research was conducted on the antibacterial agent of Namanereis sp extract with Ethyl Acetate as solvent against Aeromonas hydrophila, Vibrio parahaemolyticus and Vibrio harveyi bacteria. Therefore, this study aimed to determine the antibacterial activity of the Namanereis sp extract against A. hydrophila, V. parahaemolyticus and V. harveyi bacteria. The method used in this research was laboratory experiment. The treatment was carried out by treating the extraction concentration of Namanereis sp. 100 grams of wet sample of Namanereis sp. was extracted with 400 mL of Ethyl Acetate as a solvent. The bacteria used in this study were A. hydropila, V. parahaemolyticus and V. harveyi which were obtained from BBPAP Jepara. Based on the results of the study, the inhibition zone formed for V. harveyi at a concentration of 100% was 3.18 ± 0.32 cm2, the inhibition zone for A. hydrophila was 2,96 ± 0,45 cm2 and the inhibition zone formed for V. parahaemolyticus was 2,7 ± 0.91 cm2. It can be concluded that the extraction of Namaneries sp. using ethyl acetate solvent can inhibit zones for each given concentration treatment (6,25, 12.5, 25, 50 and 100%)
OPTIMASI RENDEMEN DESTILASI MINYAK ATSIRI DAUN SAPU-SAPU (Baeckea frutescens L.)
Daun sapu-sapu (Baeckea frutescens L.) merupakan tumbuhan yang memiliki persebaran luas,di Bangka Belitung terutama di lahan marginal.Komponen senyawa utama penyusun minyak atsiri daun sapu-sapu didominasi oleh senyawa-senyawa golongan monoterpen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase rendemen minyak atsiri pada daun sapu-sapu dengan metode destilasi uap-air. Sampel diperoleh dari Desa Mapur, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, dengan variasi tiga kondisi sampel yaitu daun segar yang dipetik di bawah dan di atas jam 10 serta didiamkan semalaman sebanyak 5 kg selama 4 jam. Hasil penelitian menunjukkan visual dari sampel yang baik pada keadaan daun sapu-sapu segar di bawah dan di atas jam 10 dengan wujud cair berwarna kuning jernih dan berbau khas sapu-sapu. Rendemen tertinggi minyak atsiri daun sapu-sapu yang didapatkan pada kondisi daun sapu-sapu didiamkan semalaman sebesar 0,49%, sedangkan rendemen terendah diperoleh pada kondisi di bawah jam 10 sebesar 0,42% dengan rata-rata rendemen hasil sebesar 0,45%.Daun sapu-sapu (Baeckea frutescens L.) merupakan tumbuhan yang memiliki persebaran luas,di Bangka Belitung terutama di lahan marginal.Komponen senyawa utama penyusun minyak atsiri daun sapu-sapu didominasi oleh senyawa-senyawa golongan monoterpen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase rendemen minyak atsiri pada daun sapu-sapu dengan metode destilasi uap-air. Sampel diperoleh dari Desa Mapur, Kecamatan Riau Silip, Kabupaten Bangka, Kepulauan Bangka Belitung, dengan variasi tiga kondisi sampel yaitu daun segar yang dipetik di bawah dan di atas jam 10 serta didiamkan semalaman sebanyak 5 kg selama 4 jam. Hasil penelitian menunjukkan visual dari sampel yang baik pada keadaan daun sapu-sapu segar di bawah dan di atas jam 10 dengan wujud cair berwarna kuning jernih dan berbau khas sapu-sapu. Rendemen tertinggi minyak atsiri daun sapu-sapu yang didapatkan pada kondisi daun sapu-sapu didiamkan semalaman sebesar 0,49%, sedangkan rendemen terendah diperoleh pada kondisi di bawah jam 10 sebesar 0,42% dengan rata-rata rendemen hasil sebesar 0,45%
KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPAL AC-WC MENGGUNAKAN SERAT SELULOSA TUMBUHAN RESAM
Untuk mendapatkan campuran beraspal yang kuat dan tahan lama serta berdaya tahan tinggi terhadap deformasi plastis dapat digunakan bahan tambah berupa serat selulosa. Salah satu tumbuhan yang memiliki serat selulosa dan berpotensi sebagai bahan substitusi aspal adalah resam. Tumbuhan resam ini banyak terdapat di Desa Dendang Kabupaten Bangka Barat. Kelebihan dari batang resam adalah tidak mudah putus dan memiliki kuat tarik yang tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan nilai kadar aspal optimum (KAO) campuran AC-WC dengan menggunakan serat resam sebagai substitusi aspal. Spesifikasi yang digunakan adalah spesifikasi umum Bina Marga Tahun 2018. Ada 4 variasi penggunaan serat resam, yaitu 0%, 3%, 5%, dan 7%, dengan 5 macam variasi kadar aspal (4,5%, 5%, 5,5%, 6%, dan 6,5%). Jumlah benda uji yang dibutuhkan adalah 60 buah dengan 15 buah benda uji untuk setiap variasi serat resam. Karaktersitik campuran terdiri dari 6 indikator (VIM, VMA, VFB, Stabilitas, Kelelehan, dan MQ). Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak semua karakteristik campuran AC-WC dengan variasi penambahan serat resam memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Nilai KAO diperoleh pada variasi 0% SR dengan kadar aspal 6,5%, 3% SR dengan kadar aspal 6,25%, dan 5% dengan kadar aspal 6,5%. Jadi, serat resam dapat digunakan sebagai bahan substitusi aspal pada campuran AC-WC dengan persentase 3% dan 5%.Untuk mendapatkan campuran beraspal yang kuat dan tahan lama serta berdaya tahan tinggi terhadap deformasi plastis dapat digunakan bahan tambah berupa serat selulosa. Salah satu tumbuhan yang memiliki serat selulosa dan berpotensi sebagai bahan substitusi aspal adalah resam. Tumbuhan resam ini banyak terdapat di Desa Dendang Kabupaten Bangka Barat. Kelebihan dari batang resam adalah tidak mudah putus dan memiliki kuat tarik yang tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan nilai kadar aspal optimum (KAO) campuran AC-WC dengan menggunakan serat resam sebagai substitusi aspal. Spesifikasi yang digunakan adalah spesifikasi umum Bina Marga Tahun 2018. Ada 4 variasi penggunaan serat resam, yaitu 0%, 3%, 5%, dan 7%, dengan 5 macam variasi kadar aspal (4,5%, 5%, 5,5%, 6%, dan 6,5%). Jumlah benda uji yang dibutuhkan adalah 60 buah dengan 15 buah benda uji untuk setiap variasi serat resam. Karaktersitik campuran terdiri dari 6 indikator (VIM, VMA, VFB, Stabilitas, Kelelehan, dan MQ). Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak semua karakteristik campuran AC-WC dengan variasi penambahan serat resam memenuhi spesifikasi yang ditetapkan. Nilai KAO diperoleh pada variasi 0% SR dengan kadar aspal 6,5%, 3% SR dengan kadar aspal 6,25%, dan 5% dengan kadar aspal 6,5%. Jadi, serat resam dapat digunakan sebagai bahan substitusi aspal pada campuran AC-WC dengan persentase 3% dan 5%
Kesuburan Perairan Di Muara Sungai Baturusa Kabupaten Bangka
The river estuary is a place where sea water meets fresh water from the mainland and has a high level of water fertility. Estuary waters are one of the waters that receive the burden of the entry of organic matter. Water fertility is the ability of waters to produce optimum nutrients for the life of aquatic organisms. Water fertility is usually associated with the concentration of nutrients in water bodies. This study aims to determine the physical, chemical and biological qualities of the waters, namely current, DO (Dissolved oxygen), brightness, depth, chlorophyll-a, pH, temperature, salinity and total phosphate in the estuary of the Baturusa River and to analyze the fertility level of the waters at the mouth of the Baturusa River. based on Carlson's Trophic State Index. This research was conducted in July to October 2021. This research method uses the observation method, in determining the location using the purposive sampling method and analyzed using the Trophic State Index (TSI) method at 5 data collection stations. The results of the Carlson Tropic State Index (TSI) average measurement at the Baturusa River estuary obtained the value of Station 1 which is 53.86, Station 2 is 52.94, Station 3 is 51.33, Station 4 is 52.15 and Station 5 is 51.84.Muara sungai adalah tempat bertemunya air laut dengan air tawar dari daratan dan memiliki tingkat kesuburan perairan yang tinggi. Perairan muara sungai adalah salah satu perairan yang menerima beban masuknya bahan organik. Kesuburan perairan merupakan kemampuan perairan untuk menghasilkan nutrien yang optimum bagi kehidupan organisme air. Kesuburan perairan biasanya dihubungkan dengan konsentrasi nutrien dalam badan perairan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas fisika, kimia dan biologi perairan yaitu arus, DO (Disollved oxygen), kecerahan, kedalaman, klorofil-a, pH, suhu, salinitas dan total fosfat pada perairan muara Sungai Baturusa dan menganalisis tingkat kesuburan perairan di muara Sungai Baturusa berdasarkan Trophic State Index Carlson. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan Juli sampai dengan Bulan Oktober tahun 2021. Metode penelitian ini menggunakan metode observasi, dalam penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling dan dianalisis menggunakan metode Trophic State Index (TSI) di 5 Stasiun pengambilan data. Hasil pengukuran rata-rata Tropic state index (TSI) Carlson dimuara sungai baturusa didapatkan nilai Stasiun 1 yaitu 53,86, Stasiun 2 yaitu 52,94, Stasiun 3 51,33, Stasiun 4 yaitu 52,15 dan Stasiun 5 yaitu 51,84.
 
Pembuatan Minyak Kelapa Murni (Virgin Coconut Oil) dengan Metode Fermentasi dan Optimasi Waktu Simpan dan Penjernihan Menggunakan Ekstrak Daun Lada dan Karbon Aktif
Coconut oil is a valuable part of the coconut fruit and is widely used as an industrial raw material or part of it is made into cooking oil. Oil extraction from coconut meat can be done in several ways. Extraction of coconut oil that is being developed at this time is the fermentation method using several enzymes or microbes, one of which can be used is yeast tempeh. This research aims to analyze the yield content and quality criteria of coconut oil made using the fermentation method and to analyze the effect of adding pepper leaf extract and activated carbon on the shelf life and clarification of coconut oil. From the results of experiments carried out in mixing tempeh yeast, the free fatty acid test, yield test, aroma test and density test were carried out. As for the test results, the determination of free fatty acids in this cooking oil study used the titration method with NaOH until the color changed to pink. For the redemption test, the highest oil concentration was 3 grams, while the tempeh yeast 4 grams and 5 grams decreased. Aroma test where in week 9 coconut oil without treatment experienced rancidity. This was caused by auto-oxidation which began to form radicals due to the presence of fat peroxidation factors. The density test is close to the SNI standard value, namely the lowest density of 0.9600 g/cm3 obtained from closed treatment with 0.5 ml of extract. This is because in this treatment very little cooking oil is contaminated with other substances. Abstract
Minyak kelapa merupakan bagian yang berharga dari buah kelapa dan banyak digunakan sebagai bahan baku industri atau sebagiannya di jadikan minyak goreng. Pengambilan minyak dari daging buah kelapa dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pengambilan minyak kelapa yang sedang berkembang saat ini ialah dengan metode fermentasi dengan menggunakan beberapa enzim atau mikroba, yang mana salah satu bahan yang dapat digunakan yaitu ragi tempe. Penelitan ini bertujuan untuk menganalisis kadar rendemen dan kriteria mutu minyak kelapa yang dibuat menggunakan metode fermentasi dan menganalisis pengaruh penambahan ekstrak daun lada dan karbon aktif terhadap masa simpan dan penjernihan minyak kelapa. Dari hasil percobaan yang dilakukan dalam mencampurkan ragi tempe tersebut di uji asam lemak bebas, uji rendemen, uji aroma dan massa jenis. Adapun hasil pengujian tersebut Penetapan asam lemak bebas pada penelitian minyak goreng ini menggunakan metode titrasi dengan NaOH sampai berubah warna menjadi merah jambu.untuk uji redemen untuk minyak tertinggi pada konsentrasi ragi 3 gr sedangkan pada ragi tempe 4 gr dan 5 gr mengalami penurunan. Uji Aroma yang mana pada minggu ke 9 minyak kelapa tanpa perlakuan mengalami ketengikan.di sebabkan adanya otooksidasi yang mulai membentuk radikal-radikal yang disebabkan adanya faktor peroksidasi lemak. Uji massa jenis yang mendekati nilai standar SNI yaitu berat jenis terendah 0,9600 g/cm3 yang didapatkan dari pelakuan tetutup dengan ekstrak 0,5 ml. hal ini disebabkan karena pada perlakuan tersebut minyak goreng sangat kecil terkontaminasi dengan zat lain.
 
Pengaruh Iradiasi Gamma dan Asam Akrilat terhadap Sifat Mekanik Polimer Super Water Absorbent (SWA) Berbasis Onggok
The Super Water Absorbent (SWA) polymer is a type of polymer that has exceptional water absorption capabilities while remaining insoluble in water. In this study, the authors conducted research on the modification of SWA by including acrylic acid and acrylamide monomers, followed by a crosslinking process utilising gamma irradiation. This study investigated the impact of acrylic acid and gamma irradiation on the mechanical characteristics of SWA. The experimental findings demonstrated a notable enhancement in the mechanical properties of the hydrogel by the incorporation of acrylic acid. This was evidenced by a substantial rise in the hardness value, which rose from 11.09 mJ to 36.13 mJ