Online Journal Universitas Bangka Belitung
Not a member yet
2165 research outputs found
Sort by
In Silico Study of Pomegranate Peel Polyphenols as Breast Anticancer
Breast cancer is one of the causes of women’s death. Estrogen-α receptors are one of the targets for breast cancer treatment because it plays a role in cancer cell proliferation. Several studies have stated that Flavonoid compounds have high activity in inhibiting the growth of breast cancer cells. This study aims to inhibit polyphenolic compounds in pomegranate peel (gallic acid, cafeic acid, ellagic acid, and chlorogenic acid) against estrogen receptors-α through molecular docking. The 3D structures of the polyphenolic compounds were obtained from the PubChem database and the estrogen-α receptors from the Protein Data Base. Molecular docking simulations were carried out using AutoDock Vina and supporting software such as Biovia Discovery Studio Client 4.1, AutoDockTools 1.5.6, PyMOL, and LigPlot. The results showed that the four polyphenolic compounds had a better potential to inhibit estrogen-α receptors than tamoxifen. The inhibitory potential is evidenced by the low affinity of ligand-protein binding energy (approximately -5.4 to -9.0 kcal/mol). The phenol group of polyphenolic compounds can strengthen the ligand-protein interactions through hydrogen bonds with the active site of ER-ꭤ proteins. Hydrophobic and π-π stacking interactions between polyphenolic and the active site of proteins also support the inhibition potential of polyphenolic compounds. The conclusion is that the polyphenolic compounds in pomegranate peel have the potential as breast anticancers
Analisis Tingkat Kesesuaian Wisata Pemandian di Sungai Bumang, Desa Kemuja Kabupaten Bangka
Sungai Bumang merupakan tempat wisata yang dimanfaatkan sebagai irigasi persawahan serta sarana rekreasi sebagai wisata pemandian yang sering dikunjungi oleh para wisatawan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik parameter fisika, kimia dan bilogi dan analisis tingkat kesesuaian Sungai Bumang sebagai tempat wisata pemandian ditinjau dari parameter fisika kimia dan biologi perairan. Penelitian ini berlangsung awal Bulan April sampai dengan akhir Bulan Mei 2022 di Sungai Bumang Desa Kemuja. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan sampel yang diambil dengan metode purposive sampling. Data kesesuaian wisata untuk pemandian meliputi kecepatan arus, kemiringan sungai, debit sungai, kedalaman sungai, tipe sungai, material dasar perairan, kecerahan perairan, lebar sungai, biota berbahaya, pH, suhu, DO, dan total coliform. Hasil indeks kesesuaian Sungai Bumang termasuk ke dalam kategori Sangat Sesuai (S1). Pada Bulan April stasiun 1 diperoleh nilai 93,42% dan stasiun 2 diperoleh nilai yaitu 92,10%, sedangkan pada stasiun 3 yaitu 88,15%. Pada Bulan Mei stasiun 1 diperoleh nilai 90,13%, stasiun 2 yaitu 95,39% dan stasiun 3 diperoleh nilai 89,47%. Dengan demikian sesuai dengan matriks kesesuaian, Sungai Bumang memiliki nilai yang Sangat Sesuai (S1) untuk digunakan sebagai tempat wisata pemandian di Desa Kemuja Kabupaten Bangka.The Bumang River is a tourist spot that is used as rice field irrigation and recreational facilities as a bathing tour which is often visited by local tourists. This study aims to determine the characteristics of physical, chemical and biological parameters and analyze the suitability of the Bumang River as a bathing tourist spot in terms of physical, chemical and biological parameters of the waters. This research took place from the beginning of April to the end of May 2022 in Sungai Bumang, Kemuja Village. This study uses a quantitative descriptive approach with samples taken by purposive sampling method. Tourism suitability data for bathing includes current velocity, river slope, river discharge, river depth, river type, water base material, water brightness, river width, dangerous biota, pH, temperature, DO, and total coliform. The results of the Bumang River suitability index are included in the Very Appropriate (S1) category. In April station 1 obtained a value of 93.42% and station 2 obtained a value of 92.10%, while at station 3 it was 88.15%. In May, station 1 got a score of 90.13%, station 2 was 95.39% and station 3 got a score of 89.47%. Thus, according to the suitability matrix, the Bumang River has a Very Appropriate value (S1) to be used as a bathing tourist spot in Kemuja Village, Bangka Regency.
 
FESTIVAL LOMBA WARNA-WARNI TINGKAT TK DAN PAUD SEKAB. AGAM DAN KOTA BUKITTINGGI UNTUK MENARIK MINAT PENGUNJUNG PADA OBJEK WISATA BONTO ROYO
The Banto Royo tourist attraction is one of the tourist destinations located in Nagari Koto Tangah, Tilatang Kamang District, Agam Regency. At the beginning of its appearance, the Banto Royo tourist attraction seemed to be the main destination that people had to visit. However, after the Covid-19 pandemic that hit the world some time ago, it also had a significant impact on the Banto Royo tourist attraction. Therefore, Community Service is carried out in the Banto Royo tourist attraction area in order to attract visitors' interest in traveling to this tourist attraction. The method for implementing this Community Service activity is to carry out an event that can attract the interest of visitors, namely by holding a Colorful Festival at Kindergarten and Preschool Levels throughout Agam district and Bukittinggi city. This activity aims to reintroduce the Banto Royo tourist attraction to the community and attract tourist interest. With an increase in tourist visits, it is hoped that it will increase the income of this tourist attraction and the income of the surrounding community.
 
IMPLEMENTASI SISTEM INFORMASI DESA BOGATAMA BERBASIS WEBSITE OPENSID
In the context of globalization, technological advancements progress rapidly, facilitated significantly by the swift dissemination of information. Websites have emerged as potent tools for data collection due to their extensive global reach. Specifically, developing a village website is a practical application of information technology. This website enables the prompt and efficient dissemination of information concerning village affairs, thus enhancing the accessibility of data on village activities and other previously unrecorded information. The primary objective of this system is to simplify the process of sharing critical information about the village, encompassing aspects like community activities, demographic details, geographical data, and local economic potentials. The research methodology includes observation, interviews, and a review of existing literature, which collectively aim to augment services provided to rural communities and promote the visibility of local enterprises and resources. The OpenSID module was utilized to construct this village information system, facilitating easier and quicker access to village services for residents. The inhabitants of Bogatama Village anticipate that this digital information system will significantly improve the quality of service delivery processes.Kemajuan teknologi bergerak dengan sangat cepat di era globalisasi ini. Hal tersebut terjadi akibat penyebaran informasi yang sangat pesat. Website merupakan sumber informasi yang saat ini efektif untuk digunakan sebagai alat pengumpulan data karena memiliki jangkauan global. Penggunaan teknologi informasi dalam hal ini adalah pembangunan situs web desa. Informasi tentang desa dapat dengan mudah dan cepat disebarluaskan berkat teknologi informasi. Sistem ini bertujuan untuk memudahkan berbagi informasi penting tentang desa, seperti kegiatan atau data lain yang belum tercatat dalam dokumentasi. Dengan metode observasi, wawancara dan studi literatur, website ini juga dapat meningkatkan pelayanan kepada masyarakat desa dan mempromosikan hasil usaha desa, potensi, jumlah penduduk, wilayah, dan faktor lainnya. Sebuah modul dari OpenSID digunakan untuk membangun website sistem informasi desa ini, sehingga masyarakat dapat menggunakan layanan desa dengan lebih mudah dan cepat. Masyarakat Desa Bogatama berharap dengan adanya website sistem informasi ini dapat meningkatkan kualitas proses penyampaian layanan
Analisis Rantai Pasok Madu di CV. Madu Apriari Mutiara, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat
The supply chain is a series of business processes connecting various entities to enhance product value and deliver it to consumers. This research aims to describe and analyze the honey supply chain at CV. Madu Apriari Mutiara, a small-to-medium enterprise based in Cimanggis, Depok, West Java. The study employs both descriptive qualitative and quantitative methods, utilizing primary data gathered through surveys and interviews, and secondary data from relevant literature. Findings reveal two main marketing channels: direct-to-consumer sales and sales via retailers. CV. Madu Apriari Mutiara encounters challenges related to significant price fluctuations, with the highest marketing margins observed in longer supply chains (Rp165,000-Rp175,000) and higher farmer share values in shorter channels (36%-42%). To improve supply chain efficiency, it is recommended to diversify marketing channels through e-commerce, adopt technology-driven supply chain management, and enhance marketing strategies. Furthermore, partnerships with farmers should be reinforced through training programs and stable price guarantees.Rantai pasok adalah serangkaian proses bisnis yang menghubungkan berbagai pihak untuk meningkatkan nilai tambah produk dan mendistribusikannya kepada konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis rantai pasok madu di CV. Madu Apriari Mutiara, sebuah usaha kecil menengah di Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Metode yang digunakan mencakup analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif, dengan pengumpulan data primer melalui survei dan wawancara, serta data sekunder dari literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan adanya dua saluran pemasaran utama: langsung ke konsumen dan melalui pengecer. CV. Madu Apriari Mutiara menghadapi tantangan fluktuasi harga yang signifikan, dengan marjin pemasaran tertinggi pada saluran dengan rantai pemasaran lebih panjang (Rp165.000-Rp175.000) dan nilai farmer share yang lebih besar pada saluran pendek (36%-42%). Untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok, disarankan adanya diversifikasi saluran pemasaran melalui platform e-commerce, penerapan sistem manajemen rantai pasok berbasis teknologi informasi, serta peningkatan strategi pemasaran. Selain itu, kemitraan dengan petani perlu diperkuat melalui program pembinaan dan penjaminan harga yang stabil
Tata Ruang Wilayah Peternakan Kambing di Kabupaten Lampung Utara dalam Mendukung Kedaulatan Pangan
Goats are a prominent commodity within the ruminant livestock sector, serving as the primary meat producer to meet national demands. To support the development and productivity of goat farming, it is crucial to establish suitable spatial and regional planning frameworks for breeders. North Lampung is one of the regencies in Lampung Province with significant potential for goat farming, supported by a diverse vegetation profile and abundant agricultural waste for feed. Agricultural production in North Lampung reaches 61,823 tons annually, with rice as the primary crop, while livestock production totals 1,847,319 tons per year. The region provides 64,915 hectares for food crops and 128,563 hectares for plantations, with a goat population of 82,849. This potential enables North Lampung Regency to become a prominent goat farming area. However, the regency lacks standardized spatial planning and mapping for goat farming areas. This study identifies and analyzes the potential for goat farming development in North Lampung Regency using two stages: (1) identifying and analyzing goat farming potential through Location Quotient (LQ) analysis to determine farming centers, and (2) creating a goat farming development map for North Lampung Regency using Corel Draw/GIS. The map will outline regions suitable for goat farming as a foundation for government policy in North Lampung. The results identify 11 sub-districts, out of the 23, that can serve as business centers for goat farming development in North Lampung Regency. This research serves as a reference for the Lampung Provincial Government and related stakeholders in future goat farming policy decisions in North Lampung Regency.Ternak kambing merupakan komoditas unggulan dalam kelompok ternak ruminansia, menjadi penghasil utama daging dalam memenuhi kebutuhan nasional. Untuk mendukung pengembangan dan produktivitas peternakan kambing, diperlukan perencanaan tata ruang dan wilayah yang sesuai bagi para peternak. Lampung Utara adalah salah satu kabupaten di Provinsi Lampung yang memiliki potensi besar dalam peternakan kambing, didukung oleh vegetasi yang beragam dan limbah pertanian yang melimpah sebagai sumber pakan. Produksi pertanian di Lampung Utara mencapai 61.823 ton per tahun, didominasi oleh padi, sementara produksi peternakan mencapai 1.847.319 ton per tahun. Kawasan ini menyediakan 64.915 hektar untuk tanaman pangan dan 128.563 hektar untuk perkebunan, dengan populasi kambing sebanyak 82.849 ekor. Potensi ini memungkinkan Lampung Utara menjadi wilayah pengembangan ternak kambing. Namun, Kabupaten Lampung Utara belum memiliki pemetaan dan standar tata ruang untuk peternakan kambing. Penelitian ini dilakukan dengan mengidentifikasi dan menganalisis potensi pengembangan peternakan kambing di Kabupaten Lampung Utara melalui dua tahap: (1) mengidentifikasi dan menganalisis potensi pengembangan menggunakan analisis Location Quotient (LQ) untuk menentukan pusat peternakan, dan (2) membuat peta pengembangan peternakan kambing di Kabupaten Lampung Utara menggunakan Corel Draw/SIG. Peta ini akan menunjukkan daerah-daerah yang layak untuk peternakan kambing sebagai dasar kebijakan pemerintah di Kabupaten Lampung Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 11 kecamatan dari 23 kecamatan yang dapat dijadikan pusat pengembangan usaha peternakan kambing di Kabupaten Lampung Utara. Penelitian ini menjadi acuan bagi Pemerintah Provinsi Lampung dan pihak terkait dalam pengambilan kebijakan untuk pengembangan peternakan kambing di Kabupaten Lampung Utara di masa depan
STRATEGI PEMENUHAN KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA PANGKALPINANG MENUJU GREEN CITY
Upaya pemerintah dalam mengoptimalisasi penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Pangkalpinang masih menjadi isu strategis kota. RTH yang dibutuhkan untuk mengurangi dampak pemanasan global seringkali dikorbankan untuk pembangunan fisik kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting RTH berdasarkan luas wilayah, mengidentifikasi penyebab utama belum terpenuhinya RTH serta merumuskan strategi pengembangan pemenuhan kebutuhan RTH di Kota Pangkalpinang. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan dan studi literatur serta analisis spasial menggunakan metode Klasifikasi Supervisi dengan mengklasifikasikan piksel dalam citra penginderaan jauh dan Indeks Vegetasi (Soil-Adjusted Vegetation Index/SAVI). Berdasarkan hasil analisis, penyediaan RTH di kota Pangkalpinang baru mencapai 14%, jauh di bawah target yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dalam Undang-undang No. 26 Tahun 2007 yaitu 30% dari luas wilayah. Luasan eksisting RTH Kota Pangkalpinang teridentifikasi seluas ± 1.486 Ha yang didominasi oleh rimba kota seluas ± 1.212 Ha atau ± 11,58% dari total seluruh RTH. Penyediaan RTH ini belum mencapai standar pemenuhan kebutuhan RTH di kota Pangkalpinang disebabkan oleh keterbatasan anggaran, keterbatasan lahan dan keterbatasan data terkait kepemilikan lahan milik pemerintah yang bisa dikembangkan menjadi RTH. Dari permasalahan yang ada, strategi pengembangan RTH Kota Pangkalpinang dapat dilakukan dengan cara: 1) Penetapan aturan terkait penyediaan jalur hijau pada setiap ruas jalan kolektor primer; 2) Identifikasi lahan milik pemerintah yang terbengkalai untuk dijadikan sebagai lahan RTH Potensial; dan 3) Sosialisasi kepada masyarakat terkait peran RTH sebagai penyeimbang ekologis kota dan media eskapisme individu.Upaya pemerintah dalam mengoptimalisasi penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Pangkalpinang masih menjadi isu strategis kota. RTH yang dibutuhkan untuk mengurangi dampak pemanasan global seringkali dikorbankan untuk pembangunan fisik kota. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi eksisting RTH berdasarkan luas wilayah, mengidentifikasi penyebab utama belum terpenuhinya RTH serta merumuskan strategi pengembangan pemenuhan kebutuhan RTH di Kota Pangkalpinang. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif melalui observasi lapangan dan studi literatur serta analisis spasial menggunakan metode Klasifikasi Supervisi dengan mengklasifikasikan piksel dalam citra penginderaan jauh dan Indeks Vegetasi (Soil-Adjusted Vegetation Index/SAVI). Berdasarkan hasil analisis, penyediaan RTH di kota Pangkalpinang baru mencapai 14%, jauh di bawah target yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dalam Undang-undang No. 26 Tahun 2007 yaitu 30% dari luas wilayah. Luasan eksisting RTH Kota Pangkalpinang teridentifikasi seluas ± 1.486 Ha yang didominasi oleh rimba kota seluas ± 1.212 Ha atau ± 11,58% dari total seluruh RTH. Penyediaan RTH ini belum mencapai standar pemenuhan kebutuhan RTH di kota Pangkalpinang disebabkan oleh keterbatasan anggaran, keterbatasan lahan dan keterbatasan data terkait kepemilikan lahan milik pemerintah yang bisa dikembangkan menjadi RTH. Dari permasalahan yang ada, strategi pengembangan RTH Kota Pangkalpinang dapat dilakukan dengan cara: 1) Penetapan aturan terkait penyediaan jalur hijau pada setiap ruas jalan kolektor primer; 2) Identifikasi lahan milik pemerintah yang terbengkalai untuk dijadikan sebagai lahan RTH Potensial; dan 3) Sosialisasi kepada masyarakat terkait peran RTH sebagai penyeimbang ekologis kota dan media eskapisme individu
ANALISIS PEMILIHAN MODA TRANSPORTASI SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS DAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI KOTA PANGKALPINANG
Kota Pangkalpinang merupakan Ibu Kota yang terletak di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dalam berjalannya perkembangan Kota Pangkalpinang dalam perkembangan sosial ekonomi, Pendidikan dan lain-lain, maka sarana dan prasarana menjadi hal yang penting, untuk menunjang dan mendukung perkembangannya masyarakat membutuhkan moda transportasi untuk perpindahan barang maupun untuk perpindahan orang dari suatu tempat ke tempat yang lain. Di daerah perkotaan pada umumnya dari kalangan siswa sangat tergantung pada moda transportasi untuk melakukan segala aktivitas. Kota Pangkalpinang memiliki 10 Sekolah Menengah Atas dan 10 Sekolah Menengah Kejuruan dengan jumlah peserta didik 10.447, dilakukan pengambilan sampel sebanyak 4 sekolah yaitu SMAN 1, SMA Santo Yosef, SMKN 2 dan SMK Tunas Karya. Penelitian ini akan melihat bagaimana siswa SMA dan SMK dalam pemilihan moda transportasi untuk pergi ke sekolah dengan kendaraan mobil, motor, angkutan kota, ojek online atau taksi online terhadap kriteria waktu, keamanan, kemudahan, biaya dan kenyamanan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) pengolahan data menggunakan software expert choice versi 11. Pengumpulan data menggunakan lembaran kuesioner sebanyak 400 responden. Hasil penelitian menunjukkan kriteria yang paling berpengaruh adalah kriteria keamanan dengan bobot nilai sebesar 31,7% dan moda transportasi yang menjadi pilihan terbaik berdasarkan kriteria adalah moda transportasi motor dengan bobot nilai sebesar 35,8%.Kota Pangkalpinang merupakan Ibu Kota yang terletak di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dalam berjalannya perkembangan Kota Pangkalpinang dalam perkembangan sosial ekonomi, Pendidikan dan lain-lain, maka sarana dan prasarana menjadi hal yang penting, untuk menunjang dan mendukung perkembangannya masyarakat membutuhkan moda transportasi untuk perpindahan barang maupun untuk perpindahan orang dari suatu tempat ke tempat yang lain. Di daerah perkotaan pada umumnya dari kalangan siswa sangat tergantung pada moda transportasi untuk melakukan segala aktivitas. Kota Pangkalpinang memiliki 10 Sekolah Menengah Atas dan 10 Sekolah Menengah Kejuruan dengan jumlah peserta didik 10.447, dilakukan pengambilan sampel sebanyak 4 sekolah yaitu SMAN 1, SMA Santo Yosef, SMKN 2 dan SMK Tunas Karya. Penelitian ini akan melihat bagaimana siswa SMA dan SMK dalam pemilihan moda transportasi untuk pergi ke sekolah dengan kendaraan mobil, motor, angkutan kota, ojek online atau taksi online terhadap kriteria waktu, keamanan, kemudahan, biaya dan kenyamanan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) pengolahan data menggunakan software expert choice versi 11. Pengumpulan data menggunakan lembaran kuesioner sebanyak 400 responden. Hasil penelitian menunjukkan kriteria yang paling berpengaruh adalah kriteria keamanan dengan bobot nilai sebesar 31,7% dan moda transportasi yang menjadi pilihan terbaik berdasarkan kriteria adalah moda transportasi motor dengan bobot nilai sebesar 35,8%
Penerapan Metode Elektrokoagulasi Dalam Peningkatan Kualitas Larutan FeCl3.6H2O
Electrocoagulation is a method that is often used to improve the quality of solutions. The electrocoagulation method has the advantages of not using chemical additives, easy and inexpensive operation, and having high efficiency in removing pollutants and contaminants. In this method, the pollutants obtained are easy to separate because of the floating surface of coagulated sediments called flocs. The solution used is FeCl3.6H2O solution as a source of iron content and a replacement medium for water or solutions containing iron. The iron content in water is more dominant than other heavy metals, whereas in excess it can cause health problems. In this study, a standard iron solution was used at 10 ppm variations using the electrocoagulation method using an aluminum plate at a voltage of 25 volts and a time of 60 minutes, and testing for pH, TDS, and UV-Vis was carried out. Obtained after the electrocoagulation process of the Fe standard solution, each concentration experienced an increase in quality, in the form of a significant decrease in Fe concentration (ppm), an increase in the pH value from 3 to 5, and a decrease in the TDS value of 80.69% -85.88%. So, the electrocoagulation method can be applied to improve the quality of a solution
Identifikasi Zona Lemah Tanggul Daerah Aliran Sungai (DAS) Bumang Desa Kemuja Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas Konfigurasi Wenner
The Bumang Watershed serves as a drainage system originating from the Bumang Reservoir in Kemuja Village, Bangka Regency, designed to regulate water flow and prevent flooding in the surrounding rice fields. Since the construction of the Bumang Watershed embankment, structural damage has been observed, particularly in the upper section. The primary cause of this damage is underground erosion, which has weakened the embankment foundation, creating zones of structural vulnerability. To identify these weak zones, the Wenner configuration resistivity geoelectric method was employed due to its superior sensitivity to lateral variations in subsurface conditions. Field data acquisition was conducted using four traverses with varying electrode lengths and spacings. The 2D resistivity cross-section analysis revealed the presence of weak zones on tracks 1, 2, and 3. Specifically, on track 1, weak zones were detected at depths of 2.50–3.19 m and 1.30–3.19 m; on track 2, at depths of 0–2 m; and on track 3, at depths of 0–7 m, 2–4.50 m, and 0–4 m, respectively. These findings provide crucial insights into the structural integrity of the embankment and highlight the need for further assessment and potential reinforcement measures.The Bumang Watershed is a stream of water originating from the Bumang Reservoir in Kemuja Village, Bangka Regency to hold back water from flooding the surrounding rice fields. Since the Bumang watershed embankment was built, the embankment has been damaged in the upper part of the Bumang watershed. The main cause is underground erosion. The erosion caused the embankment foundation to become weak, which was identified as a weak zone. The method used to identify weak zones in the embankment is the Wenner configuration resistivity geoelectric method. The Wenner configuration has good sensitivity to lateral changes compared to other configurations. Field data acquisition consisted of four passes with different electrode lengths and spacings. Based on the 2D cross-section of the subsurface of the Bumang watershed embankment, the weak zone is located on tracks 1, 2, and 3. On track 1 it is at a depth of 2.50 m - 3.19 m and 1.30 m - 3.19 m; on track 2 it is at a depth of 0 m - 2 m; and on track 3 it is at a depth of 0 m - 7 m, 2 m - 4.50 m, and 0 m - 4 m respectively