Online Journal Universitas Bangka Belitung
Not a member yet
2165 research outputs found
Sort by
Faktor-Faktor Penyebab Rendahnya Minat Petani di Kabupaten Pamekasan untuk Membudidayakan Jagung Hibrida
This study aims to analyze and describe the internal factors among farmers, such as capital ownership, land area, farmer knowledge, the role of women farmers, and farming objectives, and how these affect the low interest in cultivating hybrid corn. Additionally, it examines external factors including production costs, cultivation techniques, availability and affordability of quality seeds, intensity of pest attacks, irrigation water needs, harvest period, product quality (color and taste), product shelf life, market opportunities, and selling price of hybrid corn. The findings of this study can serve as a basis for formulating future government or private sector programs to boost corn production in Pamekasan Regency, taking into account specific local conditions to support community welfare.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan apakah faktor-faktor internal petani, seperti kepemilikan modal, luas kepemilikan lahan, pengetahuan petani, peran perempuan tani, dan tujuan usaha tani, berpengaruh terhadap rendahnya minat petani untuk membudidayakan jagung hibrida. Selain itu, penelitian ini juga mengevaluasi faktor-faktor eksternal petani, termasuk biaya produksi, teknik budidaya, ketersediaan dan keterjangkauan harga serta kualitas benih, intensitas serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), kebutuhan air irigasi, masa panen, kualitas warna dan rasa produk, daya simpan produk, peluang pasar, dan harga jual hasil panen jagung hibrida, yang mungkin mempengaruhi rendahnya minat petani dalam membudidayakan jagung hibrida. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan program pemerintah maupun swasta ke depan, sebagai upaya meningkatkan produksi jagung di Kabupaten Pamekasan dengan tetap mempertimbangkan karakteristik spesifik lokasi guna mendukung kesejahteraan masyarakat
Tingkat Partisipasi Anggota KWT Mawar dalam Program Harum Madu di Desa Karangtengah, Kecamatan Kadungora, Kabupaten Garut
The Halaman Rumah Masyarakat Terpadu (Harum Madu) program, initiated by the Garut Regency government, aims to ensure household-level food self-sufficiency. Based on BPS data (2023), agricultural land in Kadungora District is very limited, making the Harum Madu program a viable solution for optimizing yard land. This study aimed to analyze respondent characteristics and the participation level of KWT Mawar members in the Harum Madu program. A quantitative descriptive analysis was used, with sampling conducted through a census of all 40 KWT Mawar members. Results indicated that most KWT Mawar members are aged 34-44 years, have an elementary school education, work as housewives, have 1-3 family dependents, and an average household income of Rp.1,500,000-Rp.2,000,000. The participation level of KWT Mawar members in the Harum Madu program is moderate, with a score of 1485. Participation in decision-making falls under the moderate category, while participation in implementation and utilization of results is high. Meanwhile, participation in evaluation is in the moderate category.Program Halaman Rumah Masyarakat Terpadu (Harum Madu) merupakan inisiatif Pemerintah Kabupaten Garut untuk menjamin ketersediaan pangan mandiri di tingkat rumah tangga. Berdasarkan data BPS (2023), lahan pertanian di Kecamatan Kadungora sangat terbatas, sehingga program Harum Madu dapat menjadi solusi untuk mengoptimalkan lahan pekarangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik responden dan tingkat partisipasi anggota KWT Mawar dalam program Harum Madu. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif, dengan pengambilan sampel secara sensus terhadap seluruh 40 anggota KWT Mawar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas anggota KWT Mawar berusia 34-44 tahun, berpendidikan terakhir tingkat SD, bekerja sebagai ibu rumah tangga, memiliki 1-3 tanggungan keluarga, dan tingkat pendapatan rumah tangga rata-rata sebesar Rp.1.500.000-Rp.2.000.000. Tingkat partisipasi anggota KWT Mawar dalam program Harum Madu tergolong sedang dengan skor 1485. Partisipasi dalam pengambilan keputusan termasuk kategori sedang, sementara partisipasi dalam pelaksanaan dan pemanfaatan hasil tergolong tinggi. Adapun partisipasi dalam evaluasi berada pada kategori sedang
Toksisitas Ekstrak Daun mangrove Rhizophora stylosa dari Pulau Maspari Sumatera Selatan
The leaves of R. stylosa are a potential source of bioactive compounds for health and pharmacology. The composition of bioactive compounds in the leaves can be influenced by the ecological conditions and geographical location of this small island. This study aims to evaluate the toxicity and composition of bioactive compounds that are toxic in mangrove leaf extracts of R. stylosa from Maspari Island in coastal South Sumatra. A total of 1 kg of R. stylosa leaf samples were taken from Maspari Island then washed thoroughly to remove dirt, cut into small pieces, and dried in the sun using the indirect sunlight method covered with black cloth. The dried leaf samples were then pulverized into powder, and as much as 100 grams of fine powder was macerated with 96% ethanol solvent in a ratio of 1:10 (b/v). The maceration process was carried out for 1 x 24 hours, then the maceration solution was filtered and evaporated using a rotary evaporator at 60°C to become a concentrated extract. Toxicity tests were carried out using the Brine Shrimp Lethality Test (BSLT) method, while the identification of toxic bioactive compounds was carried out through phytochemical tests, total phenol tests, and GC-MS analysis. The test results showed that the LC50 value of R. stylosa leaf extract was 393 mg/mL (moderately toxic). The total phenol content was 442.82 (gGA/g), and the bioactive compounds identified included alkaloids, flavonoids, saponins, terpenoids, and acids such as Hexadecanoic acid, methyl ester, and trans-13-Octadecenoic acid, methyl ester.Pulau Maspari merupakan pulau kecil terluar di pesisir Sumatera Selatan yang menjadi habitat unik bagi vegetasi mangrove Rhizophora stylosa. Daun R. stylosa berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif potensial bagi bidang kesehatan dan farmakologi. Komposisi senyawa bioaktif pada daun dapat dipengaruhi oleh kondisi ekologi dan letak geografis pulau kecil ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi toksisitas dan komposisi senyawa bioaktif yang bersifat toksik pada ekstrak daun mangrove R. stylosa dari Pulau Maspari di Pesisir Sumatera Selatan. Sebanyak 1 kg sampel daun R. stylosa diambil dari Pulau Maspari kemudian di cuci hingga bersih untuk menghilangkan kotoran yang menempel, dipotong kecil-kecil, dan dikeringkan dibawah sinar matahari menggunakan metode sinar matahari tidak langsung yang ditutup dengan kain hitam. Sampel daun yang sudah kering kemudian dihaluskan hingga menjadi bubuk, dan sebanyak 100 gram bubuk halus dimaserasi dengan pelarut etanol 96% dalam rasio perbandingan 1:10 (b/v). Proses maserasi dilakukan selama 1 x 24 jam, kemudian larutan maserasi disaring dan diuapkan menggunakan rotary evaporator pada suhu 60°C hingga menjadi ekstrak pekat. Uji toksisitas dilakukan menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT), sedangkan identifikasi senyawa bioaktif yang bersifat toksik dilakukan melalui uji fitokimia, uji total fenol, dan analisis GC-MS. Hasil pengujian menunjukkan bahwa nilai LC50 ekstrak daun R. stylosa sebesar 393 mg/mL (toksik sedang). Kandungan total fenol sebesar 442,82 (gGA/g), dan senyawa bioaktif yang teridentifikasi meliputi senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, terpenoid, serta asam seperti Hexadecanoic acid, methyl ester, dan trans-13-Octadecenoic acid, methyl ester
STUDI ANALISIS KETERSEDIAAN SUMBER AIR BERSIH DI PANGKALPINANG: TANTANGAN DAN SOLUSI
Dalam persoalan pengelolaan air tidak akan terlepas dari persoalan seperti jumlah ketersediaan air bersih yang belum cukup merata, lalu tingkat kelayakannya yang masih belum sesuai standard maupun komposisi kualitasnya. Maka dari itu, tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui jumlah ketersediaan, kualitas, dan kelayakan air serta cara mencegah dan solusi untuk permasalahannya tersebut. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian studi literatur (literature study). Penelitian studi literatur ini menganalisis dengan matang agar mendapatkan hasil yang objektif tentang analisis kualitas air bersih di Pangkalpinang serta kelayakannya. Diketahui kalau PDAM Tirta Pinang atau penyedia air bersih di Pangkalpinang belum menyeluruh (tidak merata). Diketahui juga kualitas air dan kelayakannya belum bisa dikonsumsi secara langsung dan bisa digunakan dalam kegiatan sehari hari seperti mandi, mencuci, dll. Didapatkan juga cara melestarikan air bersih dan cara mengatasi komposisi air bersih tidak merata tersebut. Sehingga ditemukan beberapa solusi untuk permasalahan tersebut, yaitu edukasi dan kesadaran masyarakat, pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan, pemanfaatan teknologi dan inovasi, konservasi sumber daya air, kolaborasi antar lembaga dan pihak terkait, monitoring dan pengelolaan, pendidikan dan pelatihan, pemantauan dan analisis air, peningkatan infrastruktur air bersih, pengolahan air bersih, penyediaan akses air bersih, penggunaan teknologi inovatif, dan kebijakan dan regulasi.Dalam persoalan pengelolaan air tidak akan terlepas dari persoalan seperti jumlah ketersediaan air bersih yang belum cukup merata, lalu tingkat kelayakannya yang masih belum sesuai standard maupun komposisi kualitasnya. Maka dari itu, tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui jumlah ketersediaan, kualitas, dan kelayakan air serta cara mencegah dan solusi untuk permasalahannya tersebut. Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian studi literatur (literature study). Penelitian studi literatur ini menganalisis dengan matang agar mendapatkan hasil yang objektif tentang analisis kualitas air bersih di Pangkalpinang serta kelayakannya. Diketahui kalau PDAM Tirta Pinang atau penyedia air bersih di Pangkalpinang belum menyeluruh (tidak merata). Diketahui juga kualitas air dan kelayakannya belum bisa dikonsumsi secara langsung dan bisa digunakan dalam kegiatan sehari hari seperti mandi, mencuci, dll. Didapatkan juga cara melestarikan air bersih dan cara mengatasi komposisi air bersih tidak merata tersebut. Sehingga ditemukan beberapa solusi untuk permasalahan tersebut, yaitu edukasi dan kesadaran masyarakat, pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan, pemanfaatan teknologi dan inovasi, konservasi sumber daya air, kolaborasi antar lembaga dan pihak terkait, monitoring dan pengelolaan, pendidikan dan pelatihan, pemantauan dan analisis air, peningkatan infrastruktur air bersih, pengolahan air bersih, penyediaan akses air bersih, penggunaan teknologi inovatif, dan kebijakan dan regulasi
PENGUATAN KEWIRAUSAHAAN PELAKU USAHA SENTRA RUSIP BETAPAK UNTUK MENINGKATKAN KINERJA USAHA
Pemahaman kewirausahaan harus diperkuat untuk meningkatkan eksistensi dan pengembangan suatu usaha. Pelaku usaha harus memiliki jiwa berwirausaha yang kuat agar dapat menjalankan usaha menjadi usaha yang maju dan tangguh. Pelaku usaha Sentra Rusip Betapak Desa Batu Belubang sudah lama menjalankan usahanya, akan tetapi hanya menjangkau masyarakat lokal. Berdasarkan diskusi dengan beberapa pelaku usaha diketahui bahwa pengetahuan dan pemahaman mengenai kewirausahaan masih rendah. Kebanyakan pelaku usaha menjalankan usaha hanya sekedar untuk mengisi waktu senggang. Oleh karena itu, tim pengabdi akan berfokus pada peningkatan pemahaman dan jiwa berwirausaha pelaku usaha rusip di Desa Batu Belubang. Metode yang akan dilakukan pada pengabdian ini yakni sosialisasi kepada pelaku rusip di Desa Batu Belubang. Kegiatan sosialisasi diikuti oleh pelaku usaha rusip yang tergabung dalam Sentra Rusip Betapak Desa Batu Belubang dengan sangat antusias. Pada akhir kegiatan tim pengabdi melakukan wawancara dan penyebaran kuesioner didapatkan bahwa sekitar 85% pelaku usaha semakin termotivasi untuk mengembangkan usaha dengan menjalankan konsep-konsep kewirausahaan seutuhnya. Melalui kegiatan ini pelaku usaha memahami pentingnya penguatan jiwa berwirausaha agar dapat menjalankan usaha dengan lebih maksimal.Pemahaman kewirausahaan harus diperkuat untuk meningkatkan eksistensi dan pengembangan suatu usaha. Pelaku usaha harus memiliki jiwa berwirausaha yang kuat agar dapat menjalankan usaha menjadi usaha yang maju dan tangguh. Pelaku usaha Sentra Rusip Betapak Desa Batu Belubang sudah lama menjalankan usahanya, akan tetapi hanya menjangkau masyarakat lokal. Berdasarkan diskusi dengan beberapa pelaku usaha diketahui bahwa pengetahuan dan pemahaman mengenai kewirausahaan masih rendah. Kebanyakan pelaku usaha menjalankan usaha hanya sekedar untuk mengisi waktu senggang. Oleh karena itu, tim pengabdi akan berfokus pada peningkatan pemahaman dan jiwa berwirausaha pelaku usaha rusip di Desa Batu Belubang. Metode yang akan dilakukan pada pengabdian ini yakni sosialisasi kepada pelaku rusip di Desa Batu Belubang. Kegiatan sosialisasi diikuti oleh pelaku usaha rusip yang tergabung dalam Sentra Rusip Betapak Desa Batu Belubang dengan sangat antusias. Pada akhir kegiatan tim pengabdi melakukan wawancara dan penyebaran kuesioner didapatkan bahwa sekitar 85% pelaku usaha semakin termotivasi untuk mengembangkan usaha dengan menjalankan konsep-konsep kewirausahaan seutuhnya. Melalui kegiatan ini pelaku usaha memahami pentingnya penguatan jiwa berwirausaha agar dapat menjalankan usaha dengan lebih maksimal
PELATIHAN PENULISAN KREATIF ENGLISH POETRY BERBASIS NILAI-NILAI KEISLAMAN DI MAN SUKOHARJO
This community service aims to improve students' creative writing skills in English and integrate Islamic values in their literary works. Through this training, students are expected to develop creative poetry writing skills while instilling a deeper understanding of Islamic values such as honesty, simplicity, and respect. The implementation method involved several stages starting with preparation and planning that included needs identification, curriculum development, and recruitment of experienced resource persons. The training consisted of theory, practice, and mentoring sessions designed to provide in-depth understanding and personalized guidance for students. Theory sessions cover creative writing techniques and poetry structure, while practical sessions provide opportunities for students to apply their knowledge through writing exercises and group discussions. Mentoring sessions provide specialized assistance to help students improve the quality of their work. Evaluation is conducted through work assessment and feedback from participants, which will be used to improve future programs. The outcome of the training is expected to be the improvement of students' creative writing skills, the publication of a poetry anthology, and the establishment of a literary club for the sustainability of the program. Collaboration with schools, literary communities, and local religious institutions is also conducted to support the implementation and sustainability of this program. With a structured and comprehensive implementation, this program is expected to have a significant positive impact on MAN Sukoharjo students in developing creative writing skills and understanding and applying Islamic values in their lives
Performa Pertumbuhan dan Kelulushidupan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) yang Dipelihara pada Salinitas Rendah
Vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) is one of Indonesia's leading cultivation commodities in the fisheries sector. The success of the vaname shrimp cultivation business cannot be separated from the water quality parameters, which play a role in supporting their growth and survival rate. Salinity is a water quality variable that plays a very important role in the growth and survival of Vannamei shrimp. The aim of this research was to study the growth and survival rate of vaname shrimp reared at low salinity. The research design used was a completely randomized design consisting of three treatments and four replications. These treatments had media salinities of 1 ppt, 3 ppt, and 5 ppt. Shrimp rearing is carried out in a 40-liter volume container with a stocking density of 40 fish per container, or 1 PL/L. Shrimp farming is carried out for 35 days. The observation parameters carried out during this research were Specific Growth Rate (SGR), Growth Rate (GR), Survival Rate (SR), Feed Conversion Ratio (FCR), Total Vibrio Count (TVC), and water quality in the maintenance media. The research results showed that media salinity of 3 and 5 ppt was the best treatment for increasing the growth and survival rate of vaname shrimp.Udang vaname (Litopenaeus vannamei) menjadi salah satu komoditas budidaya unggulan Indonesia di sektor perikanan. Keberhasilan usaha budidaya udang vaname tidak terlepas dari faktor parameter kualitas air yang berperan dalam menunjang pertumbuhan dan survival ratenya. Salinitas merupakan salah satu variabel kualitas air yang berperan sangat penting dalam pertumbuhan dan kelulushidupan udang vannamei. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup udang vaname yang dipelihara pada salinitas rendah. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap yang terdiri dari tiga perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan tersebut adalah salinitas media 1 ppt, 3 ppt, dan 5 ppt. Pemeliharan udang dilakukan dengan menggunakan container bervolume 40 liter dengan kepadatan penebaran 40 ekor/container atau 1 PL/L. Pemeliharaan udang udang dilakukan selama 35 hari. Parameter pengamatan yang dilakukan selama penelitian ini yaitu Laju pertumbuhan spesifik / Spesific Growth Rate (SGR), Growth Rate (GR), kelulushidupan / Survival Rate (SR), rasio konversi pakan / Feed Conversion Ratio (FCR), Total Vibrio Count (TVC), dan kualitas air di media pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas media 3 dan 5 ppt merupakan perlakuan yang terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan tingkat kelulushidupan udang vaname
Adsorption Study of Carbon Chitosan Composite Beads from Ketapang Fruit Shell (Terminalia catappa L) on Methylene Blue Dyes
Carbon chitosan composite beads were synthesized using chitosan and activated carbon from Ketapang fruit shells (Terminalia catappa L) using PVA as a crosslinker. The adsorbent was synthesized with a chitosan: activated carbon ratio of 0.8 grams versus 0.2 grams. Material characterization using FTIR shows the presence of C-O, N-H, C-N, C=O, C-H, and -OH functional groups. Adsorption of carbon chitosan composite beads on methylene blue achieved maximum results at a contact time of 75 minutes using an adsorbent mass of 0.15 grams with an adsorption percentage reaching 97%. The adsorption kinetics follows a pseudo second order kinetic model with a k value of 1.3467 mg-s-.Beads komposit kitosan karbon disintesis menggunakan kitosan dan karbon aktif cangkang buah Ketapang (Terminalia catappa L) menggunakan PVA sebagai crosslinker. Adsorben disintesis dengan perbandingan kitosan: karbon aktif sebesar 0,8 gram berbanding 0,2 gram. Karakterisasi material menggunakan FTIR menunjukkan keberadaan gugus fungsi C-O, N-H, C-N, C=O, C-H, dan -OH. Adsorpsi beads komposit kitosan karbon pada larutan metilen biru mencapai hasil maksimum pada waktu kontak 75 menit menggunakan massa adsorben sebesar 0,15gram dengan persen adsorpsi mencapai 97 %. Kinetika adsorpsi mengikuti model kinetika pseudo second order dengan nilai k sebesar 1,3467 mg-s-
SIMULASI NUMERIK PENGARUH DIAMETER DAN KECEPATAN ALIRAN TERHADAP PERFORMANSI SINGLE SERPENTINE CHANNEL PADA PV
The application of photovoltaic energy (PV) is currently very massive due to the savings and implementation of new and renewable energy. In the use of PV, an increase in temperature affects the optically generated electrical power. One way to reduce the PV temperature is by optimizing the design of the cooling channel. The method used in this research is a three-factor factorial design where the variable that is set is a diameter of 1.5 inches; 2 inches; and 2.5 inches and an inlet flow rate of 0.5 ; 0.6 ; and 0.7 , using CFD along with analytical calculations. The results showed that the 2.5 inch diameter configuration with a speed of 0.7 m/s produced an average temperature of 30.188 ℃ while the 1.5 inch configuration with a speed of 0.5 m/s produced an average temperature of 36.664℃. The temperature becomes lower with the larger pipe diameter configuration and the use of higher fluid velocityPenerapan energi fotovoltaik (PV) saat ini sangat masif dikarenakan hemat dan pengimplementasian energi baru terbarukan. Dalam penggunaan PV peningkatan suhu berpengaruh terhadap daya listrik yang dihasilkan secara optimal. Salah satu cara untuk menurunkan suhu PV yaitu dengan optimasi desain pada saluran pendingin. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah three-factor factorial design dimana variabel yang diatur adalah diameter sebesar 1,5 inci; 2 inci; dan 2,5 inci dan kecepatan aliran inlet sebesar 0,5 ; 0,6 ; dan 0,7 , menggunakan CFD beserta perhitungan analitik. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada pengaturan konfigurasi diameter 2,5 inci dengan kecepatan 0,7 m/s menghasilkan suhu rata-rata sebesar 30,188 ℃ sedangkan pada konfigurasi 1,5 inci dengan kecepatan 0,5 m/s dengan menghasilkan suhu rata-rata sebesar 36,664 ℃. Suhu menjadi lebih rendah dengan konfigurasi diameter pipa yang semakin besar serta penggunaan kecepatan fluida semakin tinggi
MORFOLOGI DAN TRUSS MORFOMETRIK Scylla serrata DAN Scylla tranquebarica ASAL PULAU BANGKA
Managing Mud Crab resources is the main thing that must be done to maintain the sustainability of these resources so that they can continue to make an economic contribution to society. A study of Mud Crabs that can be carried out is on morphometric trusses and their morphology. This research was carried out from April to June 2022 with sampling locations in mangroves in Pagarawan Village, Bangka Regency, and Kurau Village, Central Bangka Regency. The Mangrove Crab species found at sampling locations in Bangka and Central Bangka were Scylla serrata and Scylla tranquebarica. There are morphological variations in crab carapace color between sampling locations. The morphometrics of mud crabs from Bangka were larger but showed no significant differences. Differences in substrate type and environmental conditions are predicted to influence the emergence of variations. The location of the sampling locations, which are still connected to the same sea waters, allows the crabs to have close genetic and population relationships, making the variation insignificant