Online Journal Universitas Bangka Belitung
Not a member yet
2165 research outputs found
Sort by
Hak Waris Anak Angkat dalam Perspektif Hukum Waris di Indonesia
Adopted children are children who are not descendants of married couples, but are taken care of and treated as well as their own offspring so that between the adopted child and the person who adopts the child arises a family relationship similar to that between parents and their own biological children. Raising a child can be done to children from the closest family of a married couple, through social services, taking in orphanages or from parties who can be trusted by the couple. Basically, adoption does not obscure the history or origin of the child. Therefore, the process of adopting a child does not just happen but the married couple must go through the procedures and conditions to raise the child. By law, the adoption of children has been stipulated by the State, namely through a District Court Decision. Based on Presidential Regulation No. 96 of 2018 concerning Requirements and Procedures for Population Registration and Civil Registration (hereinafter referred to as Presidential Regulation No. 96 of 2018). Adoption of children often has problems, especially those related to the division of the adoptive parents' inheritance. Based on the diverse inheritance law system in Indonesia, there is a difference in the position of adopted children in obtaining the inheritance of their adoptive parents. Therefore, a way to provide legal counseling related to the Inheritance Rights of Adopted Children in the Perspective of Inheritance Law in Indonesia so that the public gets clear and accurate information related to the topic.Anak angkat (Anak adopsi) adalah anak yang bukan keturunan dari pasangan suami istri, Namun diambil dipelihara dan diperlakukan seperti halnya anak keturunannya sendiri sehingga antara anak yang diangkat dan orang yang mengangkat anak tersebut timbul suatu hubungan kekeluargaan yang sama seperti yang diantara orang tua dan anak kandungnya sendiri. Mengangkat seorang Anak bisa saja dilakukan kepada Anak dari keluarga terdekat pasangan suami istri, melalui dinas sosial, mengambil di Panti Asuhan ataupun dari pihak yang dapat dipercaya oleh Pasutri tersebut. Pada dasarnya pengangkatan anak tidak mengaburkan sejarah atau asal usul si anak. Oleh sebab itu Proses pengangkatan Anak ini tidak begitu saja terjadi tetapi pasangan suami istri tersebut harus melalui prosedur dan syarat-syarat untuk mengangkat Anak. Secara hukum, pengangkatan anak telah ditetapkan prosedurnya oleh Negara yaitu melalui Putusan Pengadilan Negeri. Berdasarkan Perpres No. 96 Tahun 2018 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil (Selanjutnya disebut Perpres No. 96 Tahun 2018). Pengangkatan anak sering terjadi permasalahan, khususnya yang berkaitan dengan pembagian harta warisan orang tua angkatnya. Berdasarkan sistem hukum waris yang beranekaragam di Indonesia, terjadi perbedaan kedudukan anak angkat dalam mendapatkan harta warisan orang tua angkatnya. Oleh sebab itu ditempuh cara memberikan penyuluhan hukum yang berkaitan dengan Hak Waris Anak Angkat Dalam Perspektif Hukum Waris Di Indonesia agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas dan akurat terkait topik tersebut
SENSORY PREFERENCE DETERMINATION OF GREEN TEA EXTRACTS FROM UNCONTROLLED AND RELAY-CONTROLLED BREWING PROCESSES USING RANK ORDER CENTROID AND SIMPLE ADDITIVE WEIGHTING
Green tea extract is a popular beverage known for its health benefits. To increase its market appeal, understanding the sensory profiles—taste, aroma, and color—of green tea extract is essential to ensure customer satisfaction. In this study, experiments were conducted to determine the optimal extraction conditions by varying extraction times (3 or 6 minutes) and temperatures (60°C, 80°C, or 100°C) in two brewing methods: (1) a relay-controlled brewing system utilizing Arduino, and (2) a standard brewing process without automated control. Sensory evaluations were conducted by 30 untrained panelists using a 9-point hedonic scale.. Decision-making methods, Rank Order Centroid (ROC) and Simple Additive Weighting (SAW), were then applied to identify the most preferred product. Results indicated that the highest taste score was achieved by the 80°C-6 min sample, while the best aroma and color scores were observed in the 100°C-3 min sample. Overall, the decision-making process using the combination of ROC and SAW methods concluded that the green tea extract from the 100°C-3 min sample was the most preferred by the panelists.Ekstrak teh hijau merupakan produk minuman yang sangat populer karena berbagai manfaat kesehatannya. Sebagai upaya untuk meningkatkan daya tariknya di pasar, penting untuk memahami profil sensorik—seperti rasa, aroma, dan warna—agar produk ekstrak the hijau dapat diterima dengan baik oleh konsumen. Penelitian ini dilakukan untuk menemukan kondisi ekstraksi terbaik dengan menguji berbagai kombinasi waktu (3 atau 6 menit) dan suhu (60°C, 80°C, atau 100°C) dengan dua metode penyeduhan: (1) sistem penyeduhan yang dikendalikan relay menggunakan Arduino, dan (2) proses penyeduhan konvensional tanpa sistem kendali. Evaluasi sensorik dilakukan oleh 30 panelis yang tidak terlatih menggunakan skala hedonik 9-titik. Selanjutnya, metode pengambilan keputusan Rank Order Centroid (ROC) dan Simple Additive Weighting (SAW) digunakan untuk menentukan produk yang paling disukai berdasarkan pengujian organoleptik. Hasil menunjukkan bahwa sampel dengan suhu ekstraksi 80°C dan waktu 6 menit mendapatkan skor rasa tertinggi, sementara aroma dan warna terbaik ditemukan pada sampel dengan suhu ekstraksi 100°C dan waktu 3 menit. Secara keseluruhan, hasil pengambilan keputusan menggunakan kombinasi metode ROC dan SAW menunjukkan bahwa sampel dengan suhu ekstraksi 100°C dan waktu 3 menit adalah yang paling disukai oleh panelis
Analisis Strategi Pemasaran untuk Meningkatkan Penjualan PT Poci Kreasi Mandiri di Kota Bogor
Marketing meets consumer needs and desires by involving social processes that include the creation and exchange of products and values. This research examines the marketing strategy for Teh Poci products managed by PT Poci Kreasi Mandiri, aiming to identify, evaluate, and formulate priorities for an appropriate marketing mix strategy. This study applies the Analytic Hierarchy Process (AHP) method to determine a priority from various options, focusing on identifying the marketing mix strategy (4P) already implemented by PT Poci Kreasi Mandiri, evaluating consumer perceptions of these strategies, and formulating suitable priorities for future marketing mix strategies. The analysis reveals that promotion is the primary aspect needing improvement, particularly through collaborations with relevant parties. Direct distribution is also identified as a critical second priority to expand market reach. Product variety should receive further attention to enhance consumer appeal, and the pricing aspect, especially regarding cup sizes, should be adjusted for optimal profit. The findings provide insights into marketing strategies that can support PT Poci Kreasi Mandiri in Bogor City in increasing sales of Teh Poci products.Pemasaran mampu memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen dengan melibatkan proses sosial yang mencakup penciptaan serta pertukaran produk dan nilai. Penelitian ini membahas strategi pemasaran produk Teh Poci yang dikelola oleh PT Poci Kreasi Mandiri, dengan tujuan mengidentifikasi, mengevaluasi, dan merumuskan prioritas strategi bauran pemasaran yang tepat. Penelitian ini menggunakan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas dari berbagai opsi, dengan fokus pada identifikasi strategi bauran pemasaran (4P) yang telah diterapkan oleh PT Poci Kreasi Mandiri, mengevaluasi persepsi konsumen terhadap strategi tersebut, serta merumuskan prioritas strategi bauran pemasaran yang sesuai untuk masa mendatang. Hasil analisis menunjukkan bahwa promosi merupakan aspek utama yang perlu ditingkatkan, khususnya melalui kolaborasi dengan pihak terkait. Distribusi langsung juga diidentifikasi sebagai prioritas kedua yang penting untuk memperluas jangkauan pasar. Variasi produk perlu mendapat perhatian lebih lanjut untuk meningkatkan daya tarik konsumen, dan aspek harga, terutama terkait dengan ukuran gelas, perlu disesuaikan demi keuntungan yang optimal. Temuan ini memberikan wawasan mengenai strategi pemasaran yang dapat mendukung PT Poci Kreasi Mandiri di Kota Bogor dalam meningkatkan penjualan produk Teh Poci
Penerapan Strategi Pemasaran Online untuk Meningkatkan Kinerja Bisnis di Kalembo Koffie, Kota Binjai, Sumatera Utara
This study aims to develop an effective online marketing plan tailored to the internal and external conditions of Kalembo Koffie and to analyze its business performance based on sales figures and social media followers following the implementation of an online marketing strategy. A qualitative research method was employed. The study's results indicate that Kalembo Koffie has adopted digital marketing by focusing on social media marketing through content marketing. The types of core content created include promotional, entertainment, educational, and conversational themes. Marketing elements based on segmentation, target market, and positioning, as well as the marketing mix (7Ps), have been appropriately implemented. The preparation of an effective online marketing plan for Kalembo Koffie began with a SWOT analysis and progressed to scheduling marketing activities through a Content Calendar on its social media accounts. Kalembo Koffie's business performance, reflected by the increased follower count and regular content posting, shows improvement; however, it has not yet reached the target of 1,000 followers. Additionally, Kalembo Koffie experienced a 4.7% increase in transactions and a 21.19% rise in revenue.Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rencana pemasaran online yang efektif sesuai dengan kondisi internal dan eksternal Kalembo Koffie serta menganalisis kinerja bisnisnya berdasarkan jumlah penjualan dan jumlah pengikut media sosial setelah penerapan strategi pemasaran online. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kalembo Koffie telah menerapkan strategi pemasaran digital dengan fokus pada pemasaran media sosial melalui content marketing. Jenis konten inti yang dibuat meliputi tema promosi, hiburan, edukasi, dan percakapan. Elemen pemasaran yang didasarkan pada segmentasi, target pasar, dan positioning, serta bauran pemasaran (7P), telah diimplementasikan dengan baik. Penyusunan rencana pemasaran online yang efektif untuk Kalembo Koffie dimulai dari analisis SWOT hingga penjadwalan aktivitas pemasaran melalui Kalender Konten di akun media sosialnya. Kinerja bisnis Kalembo Koffie terlihat dari peningkatan jumlah pengikut dan konsistensi posting konten, meskipun belum mencapai target 1.000 pengikut. Selain itu, terjadi peningkatan transaksi sebesar 4,7% dan peningkatan pendapatan sebesar 21,19%
Model Hubungan Pola Pemberdayaan dan Pengembangan Kepribadian dengan Dinamika Kelompok Tani Lada di Kawasan Perbatasan Kalimantan Barat
The study aims to investigate and analyze the relationship between empowerment patterns and personality development with group dynamics. Conducted in Entikong District, a border area in West Kalimantan, the study utilized primary data from 100 respondents selected through simple random sampling. Data collection involved questionnaires and documentation, with data analysis performed using SEM through SmartPLS. The study’s findings include: (1) Personality development significantly affects group dynamics, with a coefficient of 0.355, t-statistic of 4.613 <1.96, and p-value of 0.000 <0.05; (2) Empowerment patterns significantly affect group dynamics, with a coefficient of 0.382, t-statistic of 4.096> 1.96, and p-value of 0.000 <0.05; (3) Empowerment patterns have no significant effect on personality development, with a coefficient of 0.140, t-statistic of 1.221 < 1.96, and p-value of 0.223 > 0.05; and (4) Personality development does not mediate the effect of empowerment patterns on group dynamics, indicated by a coefficient of 0.050, t-statistic of 1.149 < 1.96, and p-value of 0.251 > 0.05.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara pola pemberdayaan dan pengembangan kepribadian dengan dinamika kelompok. Penelitian dilakukan di Kecamatan Entikong, kawasan perbatasan di Kalimantan Barat, dengan menggunakan data primer dari 100 responden yang diambil secara acak sederhana. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan dokumentasi, serta dianalisis menggunakan SEM melalui SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Pengembangan kepribadian berpengaruh signifikan terhadap dinamika kelompok dengan koefisien 0,355, t-statistik sebesar 4,613 < 1,96, dan p-value sebesar 0,000 < 0,05; (2) Pola pemberdayaan berpengaruh signifikan terhadap dinamika kelompok dengan koefisien 0,382, t-statistik sebesar 4,096 > 1,96, dan p-value sebesar 0,000 < 0,05; (3) Pola pemberdayaan tidak berpengaruh signifikan terhadap pengembangan kepribadian, dengan koefisien 0,140, t-statistik sebesar 1,221 < 1,96, dan p-value sebesar 0,223 > 0,05; dan (4) Pengembangan kepribadian tidak memediasi pengaruh pola pemberdayaan terhadap dinamika kelompok, ditunjukkan dengan koefisien sebesar 0,050, t-statistik sebesar 1,149 < 1,96, dan p-value sebesar 0,251 > 0,05
PEMANFAATAN BEKAS LAHAN PERTAMBANGAN TIMAH SEBAGAI KAWASAN EKONOMI KHUSUS DI DESA REBO
Tambang timah bisa dikatakan sebagai tumpuan ekonomi masyarakat di pulau Bangka, namun pertambangan yang terus menerus dilakukan menyebabkan kerusakan lahan di Pulau Bangka. Bekas lahan pertambangan timah merupakan area yang memiliki kondisi bentang alam yang berubah seperti terbentuknya lubang galian bekas tambang yang membentuk kolong air dengan kedalaman tertentu. Namun selain pertambangan timah pulau Bangka juga memiliki potensi di bidang pariwisata. Pengabdian kepada Masyarakat yang dimaksudkan adalah dengan pemanfaatan bekas lahan pertambangan sebagai kawasan wisata di Desa Rebo dengan kegiatan utama yaitu merencanakan dan mendesain bekas lahan pertambangan menjadi suatu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). KEK merupakan kawasan dengan batasan tertentu yang termasuk ke dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan guna menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas perekonomian dan memperoleh sarana prasarana tertentu. Pada kegiatan ini tim pengabdian diharapkan bisa bekerjasama dengan pemerintah desa ataupun kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Desa Rebo. Metode yang digunakan adalah dengan membuat perencanaan berupa desain 2D, 3D dan gambaran visual berupa maket. Hasil dari pengabdian di Desa Rebo berupa maket yang berfungsi menampilkan gambaran visual bangunan atau area yang akan dibangun. Maket memiliki wujud tiga dimensi (3D) yang secara nyata sehingga mendapat suatu sajian akan persepsi terhadap hasil rancangan bangunan pada tingkat awal dan dapat memberikan gambaran pemanfaatan lingkungan serta memberikan penilaian pada hasil rancangan yang diwakilkan oleh maket tersebut.Tambang timah bisa dikatakan sebagai tumpuan ekonomi masyarakat di pulau Bangka, namun pertambangan yang terus menerus dilakukan menyebabkan kerusakan lahan di Pulau Bangka. Bekas lahan pertambangan timah merupakan area yang memiliki kondisi bentang alam yang berubah seperti terbentuknya lubang galian bekas tambang yang membentuk kolong air dengan kedalaman tertentu. Namun selain pertambangan timah pulau Bangka juga memiliki potensi di bidang pariwisata. Pengabdian kepada Masyarakat yang dimaksudkan adalah dengan pemanfaatan bekas lahan pertambangan sebagai kawasan wisata di Desa Rebo dengan kegiatan utama yaitu merencanakan dan mendesain bekas lahan pertambangan menjadi suatu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). KEK merupakan kawasan dengan batasan tertentu yang termasuk ke dalam wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan guna menyelenggarakan fungsi perekonomian dan memperoleh fasilitas perekonomian dan memperoleh sarana prasarana tertentu. Pada kegiatan ini tim pengabdian diharapkan bisa bekerjasama dengan pemerintah desa ataupun kelompok sadar wisata (pokdarwis) yang memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Desa Rebo. Metode yang digunakan adalah dengan membuat perencanaan berupa desain 2D, 3D dan gambaran visual berupa maket. Hasil dari pengabdian di Desa Rebo berupa maket yang berfungsi menampilkan gambaran visual bangunan atau area yang akan dibangun. Maket memiliki wujud tiga dimensi (3D) yang secara nyata sehingga mendapat suatu sajian akan persepsi terhadap hasil rancangan bangunan pada tingkat awal dan dapat memberikan gambaran pemanfaatan lingkungan serta memberikan penilaian pada hasil rancangan yang diwakilkan oleh maket tersebut
Studi Diagenesis Batugamping Formasi Meluhu Daerah Toronipa, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara
The research area is administratively located at Toronipa, Soropia District, Konawe Regency, Southeast Sulawesi Province. The purpose of this study was to determine the type of limestone, the diagenes process and the environment of limestone diagenesis in the Meluhu Formation. The method used in this research is the petrographic method. The results showed that the types of limestone in the study area were wackestone and packstone which had undergone a diagenesis process in the form of cementation, microbial micritization, neomorphism, and dissolution. The limestone diagenesis environment in the Meluhu Formation originates from the marine phreatic, meteoric phereatic, and meteoric vadose diagenesis environments.
Daerah penelitian secara administratif terletak pada Daerah Toronipa Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan jenis batugamping, proses diagenesis dan lingkungan diagenesis batugamping pada Formasi Meluhu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode petrografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, jenis batugamping di daerah penelitian adalah batugamping wackestone dan packstone yang telah mengalami proses diagenesis berupa sementasi, mikritisasi mikrobial, neomorfisme, dan pelarutan. Lingkungan diagenesis batugamping pada Formasi Meluhu berasal dari lingkungan diagenesis marine phreatic, meteoric phereatic, dan meteoric vadose.
Kata kunci: Batugamping, proses diagenesis, lingkungan diagenesis, Formasi Meluhu, Toronip
Interpretasi Material Pada Rancang Bak Ukur Skala Laboratorium Dengan Pendekatan Konfigurasi Wenner, Wenner – Schlumberger dan Dipole-dipole
Geoelectric measurements have been carried out using multichannel ResistivityMeter (Geores) tools with Wenner, Wenner-Schlumberger, and Dipole-dipole Configuration approaches on the influence of materials arranged in a laboratory-scale measuring tub design with dimensions of 194x184x80 cm. The measured method is the variation in resistivity value against each trajectory of the material. The method used is the variation of resistivity values for each path of the material that has been arranged in a laboratory scale measuring design. Geoelectric measurements were carried out on 7 lines (5 line in the West-East direction and 2 line in the North-South direction). The spacing between the electrodes of each line is 10 cm with 16 electrodes in one line so that each line has a length of 160 cm or 1.6 m which corresponds to the length and width dimensions of a laboratory scale measuring design. The electrode arrangement parameters are constant with respect to changes in the configuration selected from the geores parameters during geoelectric measurements. The measurement results showed that the identified depth reached 31.2 cm. The low resistivity value category has an interval of 374-4,397 ohm.meters at a depth of 0-12.5 cm, which is the influence of building sand material containing water and soil, while the depth interval is 12.5 - 31.2 cm ohm.meters (material category that is influenced by 2 iron rods, tin tailings sand, granite, gravel) with resistivity values ranging from 12,378–67,498 ohm.meters. From experiments on the influence of the resistivity values of the three Wenner, Wenner-Schlumberger, and Dipole-dipole configurations, it was obtained that the smallest absolute error resistivity value in the Wenner configuration was 5.01% against the overall average absolute error resistivity value of 10.16%
Kajian Teknis Kinerja Jig Primer terhadap Kadar Recovery dan Looses Bijih Timah pada SHP KIP Mitra Matras di Bidang Pengolahan Mineral Unit Pengolahan PT Timah Tbk
Bidang Pengolahan Mineral Processing Unit of PT Timah Tbk operates in the field of tin ore processing. The problem at the research location is that there is no standard operating standard for the Primary Jig tool for washing Processing Waste (SHP). The aim of this research is to determine the settings for the Primary Jig variables in order to obtain optimal levels, Sn recovery and looses. The research method used is Grafity Concentration. The feed used is SHP from KIP Mitra Matras. The experiment was carried out 21 times. Each experiment used 7 variations of Primary Jig stroke speed (300 rpm, 350 rpm, 400 rpm, 450 rpm, 500 rpm, 550 rpm, 600 rpm) and Bed thickness (70 mm, 80 mm, 90 mm). Grain Counting Analysis shows a feed Sn content value of 9.96%. GCA analysis shows that the minerals in the bait are cassiterite, ilmenite, monazite, zircone, pyrite, siderite, limonite, tourmaline, quartz and iron rust. Low stroke speed results in high concentrate Sn content with low Sn recovery and little looses wasted and vice versa. A high Bed thickness results in low Sn concentrate content, high Sn recovery, and a lot of looses is wasted, and vice versa. Setting the optimal Primary Jig operating variables with variations in punch speed of 450 rpm and Bed thickness of 80 mm obtained a Sn content of 41.36% and a Sn recovery of 60.11%. Based on the results of calculating the degree of liberation, the highest average value of the degree of liberation was obtained at mesh -100, indicating that the SHP KIP Mitra Matras concentrate is classified as having a fine grain size
Study of the behavior of Long Tailed Monkeys (Macaca fascicularis) in the Jumprit Indigenous Forest
Penelitian tentang perilaku monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dilakukan di Hutan Adat Jumprit yang bertempat dilereng Gunung Sumbing, Desa Jumprit, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku harian monyet ekor panjang di Hutan Adat Jumprit. Pnelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif eksplorasi dengan pengamatan langsung ke lapangan. Metode yang digunakan dalam penelitian pendahuluan berupa metode Ad Libitum Sampling, sedangkan pada penelitian utama digunakan metode Scan Sampling dengan mengamati perilaku pada populasi kecil dari monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Pengambilan data dilakukan selama 7 hari pada interval waktu antara pukul 08.00 hingga 16.00. Data hasil pengamatan kemudian diolah secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil pengamatan diperoleh aktivitas perilaku monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang teramati terdiri atas 8 jenis perilaku, yaitu perilaku mencari makan, bergerak, bermain, interaksi sosial, inaktif, bersuara, kawin serta interaksi induk dan anak. Kedua tempat pengamatan memiliki intensitas aktivitas perilaku yang berbeda. Tempat 1 (perbatasan hutan dengan jalan raya) menunjukkan intensitas perilaku monyet ekor panjang yang lebih rendah dari intensitas perilaku monyet ekor panjang pada tempat 2 (Umbul Jumprit).Research on the behavior of long-tailed monkeys (Macaca fascicularis) was conducted in the Jumprit Customary Forest located on the slopes of Mount Sumbing, Jumprit Village, Ngadirejo District, Temanggung Regency. This study aims to determine the daily behavior of long-tailed monkeys in the Jumprit Customary Forest. This research is included in the type of exploratory descriptive research with direct observation into the field. The method used in the preliminary research was in the form of the Ad Libitum Sampling method, while in the main study the Scan Sampling method was used by observing behavior in a small population of long-tailed monkeys (Macaca fascicularis). Data collection was carried out for 7 days at time intervals between 08.00 to 16.00. The observed data is then processed descriptively, qualitatively and quantitatively. The results of the observations obtained behavioral activity of long-tailed monkeys (Macaca fascicularis) which were observed consisting of 8 types of behavior, namely foraging behavior, moving, playing, social interaction, inactivity, vocalizing, mating and mother and child interaction. Both places of observation have different intensities of behavioral activity. Place 1 (forest border with highway) shows the intensity of long-tailed monkey behavior that is lower than the behavioral intensity of long-tailed monkeys in place 2 (Umbul Jumprit)