EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
Not a member yet
171 research outputs found
Sort by
Orang tua dalam Pembentukan Karakter Kristiani Anak Generasi Alfa
Generation Alpha is a generation that is very dependent on digital devices. The formation of Christian characters for the Alpha generation is not easy when compared to the formation of Christian characters for previous generations. Based on this, the role of parents in the formation of the Christian character of Alpha generation children is very important. The purpose of this research is to increase the role of parents in forming the Christian character of Alpha generation children, namely as educators, mentors, encouragement, supervisors, and friends so that parents of this generation can play an active role in the formation of their Christian character. Parents can pay more attention to their children's growth and development, especially in forming Christian characters based on the word of God. The method used in this study is a descriptive qualitative approach with a literature review. The results of this study by observing and interviewing parents who have children born in 2010 to date show that most parents are not aware of their role as educators, mentors, encouragers, supervisors, and friends, so parents are confused about carrying out their roles towards the formation of a child's Christian character.AbstrakGenerasi Alpha adalah generasi yang sangat bergantung terhadap perangkat digital. Pembentukan karakter Kristen bagi generasi Alpha tidaklah mudah jika dibandingkan dengan pembentukan karakter Kristen generasi sebelumnya. Berdasarkan hal tersebut, peran orang tua dalam pembentukan karakter Kristen anak generasi Alpha sangatlah penting. Tujuan penelitian ini adalah supaya peran orang tua ditingkatkan dalam pembentukkan karakter Kristen anak generasi Alpha, yaitu sebagai pendidik, peembimbing, penyemangat, pengawas, dan sahabat sehingga orangtua dari generasi tersebut bisa berperan aktif dalam pembentukan karakter Kristen mereka. Orang tua dapat lebih memperhatikan mengenai tumbuh kembang anak terutama dalam hal pembentukan karakter kristen yang berdasar pada firman Tuhan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan kajian literatur. Hasil dari penelitian ini dengan melakukan observasi dan wawancara kepada orangtua yang memiliki anak yang lahir pada tahun 2010 hingga saat ini adalah sebagian besar orang tua belum menyadari perannya sebagai pendidik, pembimbing, penyemangat, pengawas, dan sahabat, sehingga orang tua kebingungan dalam melakukan perannya terhadap pembentukan karakter kristen anak
Ontologi Kristus dan Hubungannya dengan Soteriologi
Controversies regarding Christology have occurred for centuries from the post-apostolic era to the present day, in which the main controversy lies in the nature of Christ, and not in the function of Christ. This article aims to find out the nature of Christ related to soteriology so that we can be sure that Jesus is the Savior that is fitting for human beings. This is a qualitative approached article using a descriptive historical and documentary research method. By considering a Bible reading on Hosea 13:4 explained that there is no Savior besides God, thus only a divinely perfect being could be a perfect offering to redeem human beings. Both divinity and humanity are needed for Christ to be an effective Savior because the Bible presents for Christ to be a substitutionary sacrifice, to unite with humanity, and for him to be humanities’ representative as the second Adam, to be their example and finally to be their mediator and priest.AbstrakKontroversi mengenai Kristologi telah terjadi selama berabad-abad dari era pasca-apostolik hingga saat ini, di mana isu utama adalah pada sifat Kristus, bukan pada fungsi Kristus. Kontroversi tentang kodrat Kristus selama inkarnasi-Nya selalu terkait dengan fungsi-Nya sebagai Juruselamat. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui sifat Kristus yang berkaitan dengan soteriologi, sehingga dapat dipastikan bahwa Yesus adalah Juruselamat yang cocok untuk manusia. Artikel ini merupakan pendekatan kualitatif yang menggunakan metode deskriptif historis serta penelitian dokumenter. Dengan mempertimbangkan pembacaan pada Hosea 13:4 yang menjelaskan bahwa tidak ada Juruselamat selain Tuhan, maka hanya sosok ilahi yang sempurna yang bisa menjadi persembahan sempurna untuk menebus manusia. Baik keilahian dan kemanusiaan diperlukan bagi Kristus untuk menjadi Juruselamat yang efektif karena Alkitab menyajikan bagi Kristus sebagai korban pengganti, untuk bersatu dengan umat manusia, dan baginya untuk menjadi perwakilan umat manusia sebagai Adam kedua, untuk menjadi teladan mereka dan akhirnya menjadi mediator dan imam mereka
Dari Church Planting ke Hospitalitas: Rekonstruksi Misi Gereja dalam Konteks Keberagaman
The mission is the identity of the church. On the other hand, the reality of diversity requires every religion to practice its dogma by not harming diversity. For this reason, this article aims to propose a new understanding of the mission to renew the traditional mission of the church, that is from church planting to the hospitality of the Triune God. By comparing the church plan-ting model through the church documents research, specifically HKI and the hospitality model specifically from the view of Velli-Matti Kärkkäinen, as well as an explanation of both models, the authors demonstrate the advantages of the hospitality model and its relevance in answering the mission amidst the reality of diversity. The research shows that the hospitality model emphasizes the mission is not merely exploiting diversity for Christianization or church planting but rather giving acceptance to others as the implication of the church's participation in God's universal salvation work.AbstrakMisi dan keragaman merupakan dua hal besar yang menjadi perhatian utama gereja. Misi adalah identitas gereja sedangkan keberagaman adalah realitas yang dihadapi gereja. Persoalan muncul ketika gereja menjalankan misi, na-mun menciderai keberagaman. Gereja menjadikan keberagaman sebagai ob-yek misinya, seperti kristenisasi di tengah dengan tujuan church planting. Artikel ini bertujuan menyajikan sebuah pemahaman misi yang baru sebagai upaya membaharui misi tradisional gereja, yaitu dari church planting kepada hospitalitas Allah Trinitas. Dengan melakukan komparasi antara model church planting melalui penelitian dokumen dan model hospitalitas Allah Trinitas dalam perspektif Velli-Matti Kärkkäinen, serta penjelasan atas kedua model, penulis memperlihatkan keunggulan model hospitalitas Trinitas dan relevansinya bagi misi dalam konteks keberagaman. Penelitian ini menunjuk-kan bahwa, misi tidak semata-mata untuk melakukan church planting di tengah keberagaman, namun pewartaan sekaligus penerimaan akan yang lain
Model Pendidikan Kristiani bagi Kaum Lanjut Usia di Era Pandemi Covid-19
Artikel ini membahas tentang pergumulan para lansia yang tidak dapat mengikuti kegiatan-kegiatan gerejawi secara langsung selama masa pandemi COVID-19. Pembatasan perjumpaan secara langsung menjadi tantangan tersendiri bagi gereja, secara khusus dalam melayani kaum lansia. Untuk mengatasi persolan tersebut, maka desain pendidikan Kristiani kepada kaum lansia harus memerhatikan kebutuhan utama kaum lansia di masa pandemi ini. Gereja harus memikirkan model pendidikan Kristiani yang tepat untuk membina kaum lansia. Gereja harus memberikan perhatian dan kepedulian yang dikemas dengan cara-cara yang kreatif dengan mempertimbangkan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang dapat membantu kaum lansia untuk tetap bisa mengembangkan potensi dirinya. Penelitian ini menggunakan penelitian kepustakaan (library research) untuk menggali apa yang menjadi kebutuhan kaum lansia untuk mendapatkan pendidikan Kristiani di tengah keterbatasan mereka di era pandemi COVID-19. Penulis mempertimbangkan tawaran Gentzler tentang desain pendidikan Kristiani bagi kaum lansia yang disebut dengan model pelayanan SENIORS, yaitu Spirituality, Education, Nutritition and Health, Intergenerational Opportunities, Outreach, Recreation, dan Social Activities. Tujuh bidang ini harus diperhatikan dalam melakukan pendidikan Kristiani bagi kaum lansia, sehingga mereka tidak menjadi terabaikan selama pandemi
Evolusi, Kepegarian, dan Spiritualitas: Memahami Realitas Pandemi dan Pasca-Pandemi Berdasarkan Pemikiran Ilia Delio
This article assesses the pandemic and post-pandemic situation from a theological lens. The Covid-19 pandemic abruptly halted the order of life. Covid-19 imposes a new lifestyle that seems to persist even after the pandemic is considered to have passed. In this regard, it is no longer possible to see the pandemic as "abnormal." The best option for understanding the pandemic is to accept it as a new reality and respond to it accordingly, including spiritually. The word "spiritual" in this article refers to realizing the significance of Christ's presence during the pandemic and even after the pandemic. In a very dynamic and utterly uncertain world, it takes an effort to live in Christ, which is also very dynamic and emerges in and through uncertainty. This idea is constructed based on emergentism and evolution, in particular Ilia Delio's idea about The Emergent Christ, and Gordon Kaufman's ideas about serendipitous creativity. The goal is to understand Christ as a certainty as well as uncertainty and as a spiritual way of living in the pandemic and post-pandemic. By living the uncertain Christ, Christian spirituality is being invited to live a love that is embracing, unifying, and always new. This spirituality is what is needed to support pandemic and post-pandemic life.AbstrakTulisan ini merupakan sebuah upaya memahami pandemi dan pasca-pandemi dari lensa teologi. Pandemi Covid -19 tiba-tiba saja mengubah tatanan kehidupan. Covid-19 memaksakan laku hidup baru yang tampaknya akan menjadi kesehari-harian bahkan setelah pandemi ini dianggap berlalu. Dalam konteks ini, pandemi tidak mungkin lagi dilihat sebagai kondisi “abnormal.†Pilihan terbaik memahami pandemi adalah menerimanya sebagai realitas baru dan meresponnya secara wajar, termasuk secara spiritual. Kata “spiritual†dalam tulisan mengarah sebuah upaya melihat signi-fikansi kehadiran Kristus dalam pendemi bahkan pasca-pandemi. Dalam dunia yang sangat dinamis dan serba tidak pasti, dibutuhkan sebuah upaya menghidupi Kristus yang juga sangat dinamis dan muncul di dalam dan melalui ketidakpastian. Tulisan ini merupakan undangan memahami Kristus sebagai kepastian sekaligus ketidakpastian sebagai jalan spiritual menghidupi pandemi dan pasca-pandemi. Gagasan ini dikon-struksi dari perspektif kepegarian, evolusi, gagasan Delio tentang The Emergent Christ, dan gagasan Kaufman tentang Serendipitous Creativity. Dengan menghidupi Kristus yang tidak pasti, spiritualitas Kristen sesungguhnya sedang diundang meng-hidupi cinta yang merengkuh, menyatukan, dan selalu baru. Spiritualitas inilah yang dibutuhkan menghidupi pandemi dan pasca pandemi.Â
Gagasan Teologi Konstruktif Asia bagi Model Pendidikan Agama Kristen dalam Mengentaskan Isu Kemiskinan di Indonesia
Indonesia adalah negara yang melekat dengan kemiskinan yang bertumpah ruah. Berbagai macam faktor menjadi penyebab kemiskinan tersebut, mulai dari konsep ekonomi yang menindas sehingga sulit untuk mendapatkan kesempatan mengembangkan diri, faktor politik, dan religius. Fakta ini diperparah dengan adanya masalah pandemi COVID-19 yang tidak kunjung menemukan titik cerah penyelesaiannya. Permasalahan ini menjadi perhatian serius dari seluruh pihak, termasuk gereja. Penelitian ini bertujuan untuk mengusulkan suatu teologi konstruktif yang mengarah kepada konsep PAK di Indonesia. Peneliti menyoroti secara khusus semangat dari Agustinus yang menjadi titik awal di dalam membangun suatu bangunan teologi yang konstruktif. Peneliti juga secara khusus mengangkat realitas sosial-teologis di Indonesia yang memiliki corak kemiskinan yang begitu kuat. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan teologi konstruktif. Penelitian ini diharapkan bisa mengusulkan suatu harmonisasi di dalam tataran sosial antara PAK dengan masyarakat
Pendidikan Kristiani Intergenerasi sebagai Upaya Memulihkan Kehidupan Bergereja
Pelayanan dalam gereja yang cenderung memisahkan jemaat berdasarkan usia dan generasi dapat memperlebar gap generasi bahkan berdampak pada perpecahan jemaat. Gap generasi merusak relasi persekutuan dalam gereja. Tulisan ini bertujuan menawarkan konsep pendidikan kristiani intergenerasi sebagai upaya pemulihan kehidupan bergereja. Hasil yang dicapai melalui penelitian studi kepustakaan yang relevan adalah konsep pendidikan kristiani intergenerasi di gereja. Pendidikan intergenerasi dalam gereja dimaknai sebagai upaya pemulihan kehidupan bergereja. Pendidikan kristiani intergenerasi dapat memperkuat persekutuan dan meminimalisir peselisihan akibat kesenjangan generasi
Tarian Lego-lego sebagai Pendampingan Pastoral bagi Masyarakat Alor
Culture is often regarded as taboo and contrary to religious values. Whereas when viewed more in culture has values that if useful to learn. Lego-lego dance is one of the dances originating from Alor regency, East Nusa Tenggara. In addition to other traditional activities this dance also has the meaning of reconciliation that can restore a relationship that has been damaged. This dance indirectly becomes a medium of conflict resolution for every conflict in Alor society. In this paper, qualitative methods are used with data collection techniques, namely observations and interviews. If this writing can be seen as a method offered in conflict resolution in Alor society
Diskursus Kebersamaa Umat sebagai Wujud Hidup Menggereja
 As socialized by the former Minister of Religion of the Republic of Indonesia Lukman Hakim, that there are three mantras that will become the flagship program of the Ministry of Religion of the Republic of Indonesia, namely: Religious Moderation; Togetherness of the People; and Data Integration. Three major schemes are the main focus in moving the national development curve in the field of religious level and religious education. It is inevitable that the Indonesian nation is often hit by the issue of religious intolerance in some regions, so that it is quite draining of thought and energy and leaves a humanitarian issue that is alienated from a society that is far from harmonizing with diversity. This article aims to offer and at the same time present a breakthrough in the awareness of the mind that is surrounded by the clogged public space, in this case the isolation of social structures so that there is friction, so a simple conception is needed to unravel this. The togetherness of the people is an important key in releasing the shackles of division (segmentation) and separation (fragmentation) among the people, so that this attachment is a new form of church life. The approach method used is qualitative literature which is thoroughly explored to find the meaning behind the phenomenon
Pendidikan Kristiani Sebagai Sarana Pembentukan Karakter Anak-anak Suku Moi, Distrik Klamono, Sorong, Papua Barat
Education is currently still believed to have strategic and urgent value in shaping the character of a nation, especially in relation to its main task of building the character of students. The morality crisis is a very pressing problem in modern times. The values of life eroded slowly as the saman grew. The deterioration of character is a very serious problem in education, especially in Indonesia. The low character education makes students do things that are not reasonable. The field of study of Christian Religious Education is one of the fields of study that is relied on to build and shape the personality and faith growth of students. In this case, building character does not necessarily work. Therefore, Christian Religious Education Teachers are expected to carry out their duties seriously in accordance with the goals of education and learning, namely to form and create a generation that has noble morals, is responsible, and has the character of Christ under the guidance of the Holy Spirit as a powerful person in human life.AbstrakPendidikan saat ini masih diyakini memiliki nilai strategis dan urgen dalam pembentukan karakter suatu bangsa, terutama berkaitan dengan tugas utamanya yakni pembentukan karakter peserta didik. Krisis moralitas merupakan masalah yang sangat mendesak pada zaman modern ini. Nilai-nilai kehidupan terkikis secara perlahan seiring perkembangan saman. Kemerosotan karakter menjadi salah satu masalah yang sangat serius dalam pendidikan khususnya di Indonesia. Rendahnya pendidikan karakter membuat siswa melakukan hal-hal yang tidak wajar. Bidang studi Pendidikan Agama Kristen merupakan salah satu bidang studi yang diandalkan untuk membangun dan membentuk pribadi, serta pertumbuhan iman peserta didik. Dalam hal inilah, membentuk karakter tentu tidak serta merta berhasil. Oleh karena itu, Guru Pendidikan Agama Kristen diharapkan agar melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh sesuai dengan tujuan pendidikan dan pembelajaran yakni membentuk dan menciptakan generasi yang beraklak mulia, bertanggung jawab dan memiliki karakter Kristus dibawah bimbingan Roh Kudus sebagai Pribadi yang berkuasa dalam hidup manusia