EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
Not a member yet
    171 research outputs found

    Pandangan Martin Luther tentang Pembenaran oleh Iman dalam Yakobus 2:14-26

    Get PDF
    In this paper, the authors explain that the views of a reforming theologian named Martin Luther once stated that the letter of James "mangles the Scripture and thereby opposes Paul and all Scripture" and called this letter an epistle of straw. ' (straw letter). Luther's statement was prompted by his doubts about the letter of James, which emphasizes good works more than faith. Although James himself did not mean it that way, Luther's view has prompted many theologians who interpret James' teaching on faith and works specifically discussed in chapter 2 to contradict Paul's teaching of justification by faith alone in Christ (Rom 3:24,28). Here the authors discuss the reflection on Martin Luther's views with James 2:14-26 regarding justification by faith.AbstrakDalam tulisan ini, para penulis menjelaskan bahwa pandangan seorang teolog reformasi yang bernama Martin Luther pernah menyatakan bahwa surat Yakobus ini adalah ’’mangles the Scripture and there by opposes Paul and all Scripture’’ dan menyebut surat ini sebagai ’’an epistle of straw’’ (surat jerami). Pernyataan Luther ini didorong oleh keraguannya kepada surat Yakobus yang lebih menekankan perbuatan baik daripada iman. Meskipun Yakobus sendiri tidak bermaksud demikian, namun pandangan Luther ini  telah mendorong banyak teolog yang menafsirkan ajaran Yakobus mengenai iman dan perbuatan yang dibahas khusus dalam pasal 2 ini bertentangan dengan ajaran Paulus mengenai pembenaran hanya oleh iman kepada Kristus (Rm. 3:24,28). Disini  para penulis membahas refleksi pandangan Martin Luther dengan Yakobus 2:14-26 mengenai pembenaran oleh iman

    Revitalisasi Kristen: Tinjauan Historis Konsep Kelahiran Kembali dan Signifikansinya bagi Orang Kristen

    Get PDF
    Born again or born anew is not a new term for Christians. Almost every church encourages the congregation to experience being born again or born anew. But, is their understanding of born again or born anew correct as the Bible implies? In John 3, Jesus taught this to Nicodemus, a Pharisee, a Jewish religious leader. Even Jesus had to repeat his explanation in order for Nicodemus to truly understand that spiritually born again or born anew is something that is absolutely necessary for a person to enter the kingdom of God (John 3:3, 5-7). It is ironic that the understanding of many Christians, both congregations and clergies, regarding the term born again or born anew is often not quite as accurate as Nicodemus. This concern has prompted the author to take library research regarding Christian revitalization, using a historical review of the concept of born again, with the aim that clergies and congregations have a correct understanding of the doctrine of being born again according to the Bible.AbstrakKelahiran kembaliatau kelahiran baru bukan istilah asing bagi orang Kristen. Hampir setiap gereja mendorong jemaat untuk mengalami kelahiran kembali atau kelahiran baru. Tetapi, apakah pemahaman mereka tentang kelahiran kembali atau kelahiran baru sudah benar seperti yang Alkitab maksud-kan? Dalam Yohanes 3:1-21, Yesus mengajarkan hal ini kepada Nikodemus, seo-rang Farisi, pemimpin agama Yahudi. Bahkan Yesus harus mengulang penjelasan-nya agar benar-benar dipahami oleh Nikodemus bahwa kelahiran kembali atau kelahiran baru secara rohani adalah hal yang mutlak dialami seseorang untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh. 3:3, 5-7). Sungguh ironis jika pemahaman banyak orang Kristen, baik jemaat maupun hamba Tuhan, tentang istilah kelahiran kembali atau kelahiran baru ini seringkali kurang tepat seperti halnya Nikodemus. Keresahan ini telah mendorong penulis melakukan penelitian pus-taka tentang revitalisasi Kristen, dengan melakukan tinjauan historis konsep kela-hiran kembali, dengan harapan agar hamba Tuhan dan jemaat memiliki pemaha-man yang benar tentang doktrin kelahiran kembali menurut Alkitab

    Kesetiaan Kristus Sebagai Model Spiritualitas Kepemimpinan Jemaat: Kajian Teologis 2 Tesalonika 3:1-7

    Get PDF
    In the current era, Indonesia's leadership crisis is increasingly concerning. The increasing number of law violations and societal norms by leaders evidences this. From these various facts, the leaders involved were Christians, even church leaders. This study aims to explore the concept of the faithfulness of the Lord Jesus according to 2 Thessalonians 3:1-7 to find principles that can be used as a basis for church leaders in carrying out their duties. This study uses a narrative approach with a descriptive qualitative method of the text of 2 Thessalonians 3:1-7. The study's results concluded that the principle of loyalty was found in the Bible text as the key to the success of Christian leadership according to the model that the Lord Jesus gave. The Apostle Paul explained that the basic principles for building loyalty in leadership are unconditional commitment, responsibility, and love. Loyalty will be reflected in how church leaders live life and strength as an example.AbstrakDi era saat ini, krisis kepemimpinan Indonesia semakin memprihatinkan. Hal ini dibuktikan dengan semakin banyaknya kasus pelanggaran hukum dan norma masyarakat yang dilakukan para pemimpin. Dari pelbagai fakta tersebut, para pemimpin yang terlibat terdapat orang-orang Kristen, bahkan pemimpin jemaat. Penelitian ini bertujuan memberikan tawaran konsep kesetiaan Tuhan Yesus sesuai 2 Tesalonika 3:1-7 sebagai prinsip yang dapat dijadikan landasan bagi para pemimpin jemaat dalam menunaikan tugasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan naratif dengan metode kualitatif deskriptif terhadap teks 2 Tesalonika 3:1-7. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pada teks Alkitab tersebut ditemukan prinsip kesetiaan sebagai kunci keberhasilan kepemimpinan Kristen sesuai model yang Tuhan Yesus berikan. Rasul Paulus menjelaskan bahwa prinsip dasar untuk membangun kesetiaan dalam kepemimpinan adalah komitmen tanpa syarat, tanggung jawab dan kasih. Kesetiaan akan tercermin dari bagaimana cara para pemimpin jemaat menjalani hidup dan kekuatan sebagai teladan

    Theopreneurship dalam Kemandirian Finansial Gereja Perintisan

    Get PDF
    Financial independence is very important to ensure the continuation of the ministry of a newly started church. The pastor's family's financial needs and church facilities can be supported by the way the servant of God is an entrepreneur. Theopreneurship contains a theological dimension, namely as a mandate given by God to pastors to manage the potential of themselves and their congregations, even though there are different views about whether a servant of God is an entrepreneur. This study uses the Literature Study method to explain the interests and efforts of a servant of God in entrepreneurship to support the financial independence of the pioneering church. The results of the study found that a servant of God who is starting a new church should be self-employed as a Theopreneur, who acts as a servant (doulus and huperetes) and steward (oikonomos) and also needs to teach, involve and mentor members of the congregation or community whom he serves for joint entrepreneurship so as to effectively achieve the financial independence of the pioneering church for the glory of the Kingdom of God.AbstrakKemandirian finansial sangat penting menjamin kelanjutan pelayanan sebuah gereja yang baru dirintis. Kebutuhan keuangan keluarga gembala dan fasilitas gereja dapat ditopang dengan cara hamba Tuhan itu berwirausaha. Theopreneurship mengandung dimensi teologis yaitu sebagai mandat yang diberikan Tuhan kepada para gembala untuk mengelola potensi diri dan jemaatnya, meski ada perbedaan pandangan soal baik buruknya seorang hamba Tuhan berwirausaha. Penelitian ini menggunakan metode Studi Literatur untuk menjelaskan kepentingan dan upaya seorang hamba Tuhan melakukan wirausaha guna mendukung kemandirian finansial gereja perintisan. Hasil penelitian mendapatkan bahwa seorang hamba Tuhan yang sedang merintis gereja baru patut berwirausaha secara mandiri sebagai seorang Theopreneur, yang berperan sebagai seorang pelayan (doulus dan huperetes)  dan penatalayan (oikonomos),  juga perlu mengajar, melibatkan dan melakukan mentoring terhadap anggota jemaat atau masyarakat yang dilayaninya untuk berwirauaha bersama sehingga efektif mencapai kemandirian finansial gereja perintisan bagi kejayaan Kerajaan Allah.Â

    Pengembangan Perilaku Cinta Damai melalui Biblioterapi

    Get PDF
    Gereja Protestan Maluku (GPM) Haria is one of the congregations in the Lease islands Klasis service area which continues to strive to foster and develop peace-loving behavior for children, adolescents, youth, and adults. This is done because of past experiences where there were frequent quarrels and disputes with the GPM Porto congregation, which not only impacted the loss of property but also lost lives. The conflict between GPM Haria and Porto congregations impacted not only the implementation of the learning process in schools and the congregation but the learning process was also eliminated. But there is also a feeling of insecurity and not peace in the two countries because of mutual suspicion of each other. The church has taken various steps to minimize and even prevent conflict from happening again. One of the steps used is bibliotherapy. This study aims to determine how much peace-loving behavior is developed through bibliotherapy. The results showed an increase or difference before and after the bibliotherapy treatment.  So bibliotherapy effectively improves adolescents' peaceful behavior in GPM Haria Lease islands Klasis, in Saparua island.AbstrakJemaat GPM Haria adalah salah satu jemaat yang ada dalam wilayah pelayanan Klasis Pulau-Pulau Lease, yang terus berupaya untuk menumbuhkan dan mengembangkan perilaku cinta damai baik bagi anak, remaja, pemuda maupun orang dewasa. Hal ini dilakukan karena pengalaman-pengalaman masa lampau di mana sering terjadi pertengkaran dan perselisihan dengan jemaat GPM Porto dan  bukan hanya berdampak pada kehilangan harta benda tetapi juga kehilangan nyawa. Konflik yang terjadi antara jemaat GPM Haria dan Porto ini membawa dampak bukan hanya kepada pelaksanaan proses pembelajaran di sekolah maupun di jemaat yakni proses pembelajaran ditiadakan. Tetapi juga muncul perasaan tidak aman dan tidak damai pada dua negeri, karena adanya saling curiga satu dengan yang lain. Untuk meminimalisir bahkan mencegah terjadi lagi konflik maka pihak gereja telah melakukan berbagai langkah. Salah satu langkah yang dipakai adalah melalui biblioterapi. Tujuan penelitian ini  adalah mengetahui seberapa  besar  pengembangan perilaku cinta damai melalui biblioterapi. Hasil menunjukkan terjadi peningkatan atau ada  perbedaan  sebelum  dan  sesudah diberikan perlakuan biblioterapi, sehingga biblioterapi efektif dalam meningkatkan perilaku cinta damai remaja di jemaat GPM Haria Klasis Pulau-pulau Lease, di Pulau Saparua

    Refleksi Kehidupan Gereja Perdana dalam Praktik Gereja Virtual

    Get PDF
    . The virtual church is a future church design that allows all human spiritual activities, such as worship, cell communities, prayer services, counseling, sacraments, evangelism, and so on, to enter soon a new era where the role of human beings is becoming increasingly insignificant and replaced with a touch of internet-based technology. The development of technology, with all its sophistication, has shifted the definition of the church. There is a characteristic of the true church, which is that 'koinonia' (communion) cannot be implemented virtually. This study aims to conduct a biblical study of the true meaning of digital ecclesiology to find whether the virtual church violates the rules of God's word or not. As well as looking for biblical patterns of spiritual life in building a virtual church. Using qualitative methods with a literature study approach through the source of books and literature as a research reference. The conclusion of this study is that the practice of virtual churches does not violate the rules of God's word; however, virtual churches need to build strong relationships between members (koinonia/communion), as the early congregations did in Acts 2:42-47, becoming a pattern (patron) of building virtual churches in today's era.AbstrakGereja virtual adalah rancangan gereja masa depan yang memungkinkan semua aktivitas rohani manusia seperti ibadah, komunitas sel, pelayanan doa, konseling, sakramen, penginjilan dan sebagainya akan segera memasuki era baru, di mana peran manusia menjadi semakin tidak signifikan dan tergantikan dengan sentuhan teknologi berbasis internet. Perkembangan teknologi dengan segala kecanggihannya membuat definisi gereja mengalami pergeseran. Ada karakteristik gereja sejati, yaitu koinonia (persekutuan) yang tidak mampu diterapkan secara virtual. Penelitian ini bertujuan melakukan kajian biblis makna eklesiologi digital yang sesungguhnya, untuk menemukan apakah gereja virtual menyalahi kaidah firman Tuhan atau tidak? Serta mencari pola kehidupan rohani yang Alkitabiah dalam membangun gereja virtual. Menggunakan metodekualitatif dengan pendekatan studi pustaka, melalui sumber buku-buku dan literatur sebagai acuanpenelitian. Kesimpulan penelitian ini adalah praktik gereja virtual tidak menya-lahi kaidah firman Tuhan, namun demikian, gereja virtual perlu membangun relasi yang kuat antar-anggota (koinonia/persekutuan), seperti yang dilakukan jemaatmula-mula dalamKisah Para Rasul2:42-47, menjadi sebuah pola (patron) membangun gereja virtual di era sekarang ini

    Pendidikan yang Misioner-Afirmatif: Sebuah Penelusuran Konsep dan Praksis Pendidikan Lembaga Penginjilan GZB di Toraja

    Get PDF
    This paper is an attempt to understand the insights and praxis of education applied by Gereformeerde Zendingsbond in Toraja as the entrance to the Gospel. The education that is applied is not only to get the Toraja people to become Christians but also as a pattern to instill and root the teachings of the Christian faith for the Toraja people and bring life to the Toraja people in a better direction. This paper uses a descriptive method with a historical study approach. The research invites readers to understand the pattern of Education in Toraja through the Gereformeerde Zendingsbond which is a pattern of Education that remains contextual to this day in Toraja. Education that is illuminated by God's Word, brought by Gereformeerde Zendingsbond, has brought the Toraja people to ever-better changes in various fields of life, including education, health, and social life. This affirmative-missionary education eventually became a pattern of education applied in schools belonging to the Toraja Church for the betterment of Toraja society.AbstrakTulisan ini merupakan upaya untuk memahami wawasan dan praksis pendidikan yang diterapkan oleh Gereformeerde Zendingsbond di Toraja sebagai pintu masuk Pekabaran Injil. Pendidikan yang diterapkan bukan sekadar untuk memperoleh masyarakat Toraja menjadi Kristen, tapi juga sebagai pola untuk menanamkan dan mengakarkan pengajaran iman Kristen bagi masyarakat Toraja serta membawa kehidupan masyarakat Toraja ke arah yang lebih baik. Tulisan ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan studi historis. Penelitian mengundang pembaca untuk memahami pola Pendidikan di Toraja melalui Gere-formeerde Zendingsbond yang merupakan pola Pendidikan yang tetap konteks-tual hingga saat ini di Toraja. Pendidikan yang diterangi oleh Firman Tuhan, yang dibawa oleh Gereformeerde Zendingsbond, telah membawa masyarakat Toraja kepada perubahan yang senantiasa lebih baik dalam berbagai bidang kehidupan, antara lain: pendidikan, kesehatan, serta sosial kemasyarakatan. Pen-didikan yang misioner-afirmatif ini pada akhirnya menjadi pola Pendidikan yang diterapkan dalam sekolah-sekolah milik Gereja Toraja untuk kemajuan masya-rakat Toraj

    Penolakan Kurban dalam Amos 5:21-27 dan Relevansinya dengan Sila Kelima Pancasila

    Get PDF
    Amos 5:21-27 shows the Israelite sacrifice being rejected by God, even though the sacrifice fulfilled the ritual requirements. The people of Israel in the time of Amos were required by God to do justice and righteousness, but they did not do so, and the Lord sentenced them. Some scholars also argue about this rejection, and they fall into two groups. The first group concludes that God rejected the sacrifice because He did not need it. The second group believes that sacrifice is needed but must be followed by people living based on justice and righteousness. The Israelite people during Amos's time ignored justice; corruption, economic inequality, and poverty were rampant. Even though its people are religious, Indonesia also has serious social injustice problems. The poverty rate is high, economic inequality is wide, and corruption is easy to find. The interpretation of Amos 5:21-27 about justice is relevant to Pancasila, especially the fifth principle, "Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia".AbstrakAmos 5:21-27 menampilkan kurban orang Israel ditolak oleh TUHAN, meskipun kurban telah memenuhi syarat ritual. Orang Israel pada masa Amos dituntut oleh TUHAN untuk melakukan keadilan dan kebenaran, namun mereka tidak melakukannya dan TUHAN menjatuhkan hukuman. Beberapa ahli pun berargumen tentang penolakan itu dan mereka terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama menyimpulkan TUHAN menolak kurban karena tidak membutuhkannya. Kelompok kedua berpendapat kurban tetap dibutuhkan tetapi harus diikuti kehidupan umat yang berlandaskan keadilan dan kebenaran. Mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegesa maka didapa kesimpulan bahwa, kehidupan orang Israel pada masa Amos mengabaikan keadilan, sehingga korupsi, ketimpangan ekonomi dan kemiskinan pun merajalela. Indonesia, meski rakyatnya beragama juga memiliki masalah serius yakni ketidakadilan sosial. Angka kemiskinan tinggi; ketimpangan ekonomi lebar; korupsi mudah ditemukan. Hasil tafsir menghasilkan pertama teologi kurban yang direlevansikan untuk memaknai persembahan dan kedua keadilan Amos relevan dengan Pancasila, khususnya sila kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesiaâ€

    Konsep Sabat bagi Orang Percaya di Masa Kini: Sebuah Kritik Teks Matius 12:1-8

    Get PDF
    The Sabbath controversy arose because Jesus tried to free people from many legally binding rules. Instead, Jesus wanted to state that religious leaders had interpretations that needed to be directed to the Sabbath that detailed it with so many rules that burdened the people. The legalist attitude towards the concept of the Sabbath in the lives of the people underwent many changes that made them face various challenges. It is necessary to research to consider that time which is a gift from God, is understood to be something of his own personal possessions and pleasures. Attempts to gain an understanding of the concept of the Sabbath are made by exegesis of grammatical analysis based on the structure of Matthew 12:1-8 as a text of choice to be dig which will be unearthed both from the background context and the wording of indicators relating to the Sabbath. The result of this research analysis shows that the main essence of the application of the Sabbath is the mercy of God. Thus believers can apply the Sabbath joyfully to being merciful to themselves by resting to refresh the body, soul, mind, and compassion for those in need.AbstrakKontroversi Sabat muncul karena Yesus mencoba untuk membebaskan orang dari banyak peraturan yang mengikat secara legalis. Sebaliknya, Yesus ingin menyatakan bahwa para pemuka agama memiliki penafsiran yang perlu diarahkan tentang Sabat yang merincikannya dengan begitu banyak aturan yang memberatkan umat. Sikap yang legalis terhadap konsep Sabat dalam kehidupan umat mengalami banyak perubahan yang membuat mereka diperhadapkan dengan berbagai tantangan. Hal ini perlu diteliti untuk mempertimbangkan bahwa waktu yang adalah anugerah dari Tuhan dipahami menjadi sesuatu milik pribadi dan kesenangannya sendiri. Usaha untuk mendapatkan pemahaman tentang konsep Sabat dilakukan dengan analisis kritik gramatikal berdasarkan berdasarkan struktur Matius 12:1-8 sebagai teks pilihan yang akan digali baik dari konteks latar belakang maupun kata-kata indikator yang berkaitan dengan Sabat. Hasil dari analisis penelitian ini memperlihatkan bahwa esensi utama dari penerapan Sabat yaitu belas kasihan Allah. Dengan demikian orang percaya dapat menerapkan Sabat dengan penuh sukacita karena berbelas kasihan kepada diri sendiri dengan beristirahat untuk menyegarkan tubuh, jiwa, pikiran, dan berbelas kasihan kepada orang-orang yang membutuhkan

    Pendampingan Pastoral bagi Pasangan yang Bercerai

    Get PDF
    Everyone certainly does not want the ark of his household to be destroyed and end in divorce. In reality, many couples divorce for various reasons, and it has an impact not only on the children and the family but also on the divorced couple. The church generally provides assistance when the married couple is about to divorce. Still, after the court's decision has been issued, which legalizes their divorce, pastoral assistance is no longer carried out. This study examines how important pastoral assistance is for divorced couples so that it can reduce the impact on their lives who are in pre-divorce or post-divorce. The method used is a literature study and using an interview instrument with one of the divorced couples, and the conclusion obtained is how important it is for the church to provide pastoral care for divorced couples so that they can continue to live and continue their daily lives and build a more spiritual life. better yet, prevent adultery due to biological needs that are not channeled as a logical consequence of a divorce. The divorced couple may be directed to be able to reconcile again if they cannot bear to control lust.AbstrakSetiap orang pasti tidak menginginkan bahtera rumah tangganya hancur dan berujung dengan perceraian. Dalam realita hidup banyak dijumpai pasangan-pasangan yang melakukan perceraian dengan berbagai alasan dan itu memberikan dampak bukan hanya terhadap anak-anak, keluarga tetapi juga terhadap pasangan yang bercerai tersebut. Gereja pada umumnya memberikan pendampingan pada waktu pasangan menikah itu hendak bercerai, tetapi setelah keluarnya putusan pengadilan yang mensahkan perceraian mereka, pendampingan pastoral tidak lagi dilakukan. Penelitian ini mengkaji bagaimana pentingnya pendampingan pastoral bagi pasangan bercerai sehingga dapat mengurangi dampak dalam kehidupan mereka yang sedang dalam pra-perceraian ataupun pasca perceraian. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dan menggunakan instrumen wawancara dengan salah satu pasangan yang bercerai, dan kesimpulan yang didapat adalah betapa penting gereja melakukan pendampingan pastoral bagi pasangan yang melakukan perceraian agar mereka tetap dapat menjalankan dan melanjutkan kehidupan sehari-hari dan membangun kehidupan rohani dengan lebih baik lagi, mencegah terjadinya perzinahan karena kebutuhan biologis yang tidak tersalurkan sebagai konsekuensi logis dari sebuah perceraian, serta tidak tertutup kemungkinan pasangan bercerai ini diarahkan untuk dapat rujuk kembali.apabila mereka tidak tahan bertarak

    132

    full texts

    171

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇