EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
Not a member yet
171 research outputs found
Sort by
Pentingnya Kontekstualisasi dalam Melaksanakan Misi Penginjilan
Contextualization is a gospel approach to touch the diversity of the world. However, an excessive emphasis approach can lead to a distortion of the content of the substance of the truth of God's Word. Wrong contextualization often gives birth to wrong meanings regarding its implications in evangelism, so a correct understanding of contextualization needs to be straightened out. The method used by the author in conducting research is a descriptive qualitative research method, namely carried out through library research. By making literature study the target in writing, the author tries to provide an understanding so that the church can apply a contextualization approach. The research results will open evangelists' understanding to practice appropriate contextualization.  AbstrakKontekstualisasi merupakan pendekatan injil untuk menyentuh kemajemu-kan dunia. Namun pendekatan penekanan yang berlebihan bisa berujung pada penyelewengan isi pada substansi kebenaran Firman Tuhan. Kon-tekstualisasi yang salah banyak kali melahirkan makna yang keliru dalam implikasinya dalam penginjilan, maka pemahaman yang benar akan kon-tekstualisasi perlu diluruskan. Metode yang digunakan penulis dalam melakukan penelitian adalah metode penelitian kualitatif deskriptif yakni dilakukan melalui penelitian pustaka. Dengan menjadikan studi literature sebagai sasaran dalam penulisan, dimana penulis berusaha memberikan se-buah pemahaman yang agar dapat mengaplikasikan pendekatan konteks-tualisasi oleh gereja. Hasil penelitian diharapkan membuka pemahaman pelaku injil untuk berada di praktek kontekstualisasi yang tepat
Visi Profetis Kehidupan Sosial Umat Kristen dalam Demokrasi Menurut John W. De Gruchy
This article reviews how church members - Christians - should play a role in social life, especially in the context of Indonesia's democratic life. The role of church members is derived from a theoretical study of John W. De Gruchy's thoughts on the prophetic vision which also functions as the basis for this role. The prophetic vision on which the role is based covers the importance of upholding justice, presenting the love of Jesus and the kingdom of God, and of how the Christian community should become an ecclesiÄ that has a positive, constructive impact on social situations that are experiencing degradation in various lines of life. AbstrakArtikel ini mengulas tentang bagaimana mestinya warga gereja – umat Kristen – ikut berperan dalam kehidupan sosial khususnya dalam konteks kehidupan demokrasi Indonesia. Peran warga gereja yang diperoleh berasal dari kajian teoritis terhadap pemikiran John W. De Gruchy tentang visi profetis yang sekaligus berfungsi sebagai dasar/landasan dari peran tersebut. Visi profetis yang menjadi landasan peran meliputi tentang pentingnya menegakkan keadilan, menghadirkan kasih Yesus dan keraja-an Allah, dan tentang bagaimana harusnya komunitas Kristen menjadi ecclesiÄ yang memiliki dampak positif, konstruktif dalam situasi sosial yang sedang mengalami degradasi dalam berbagai lini kehidupan
Pembelajaran Memorisasi Dalam Ulangan 6:6-9
The Bible in Deuteronomy 6: 6-9 gives orders to carry out children's education. The text of Deuteronomy 6: 6-9 is generally understood to be limited to the mandate of education in the family, but the author views if the text of Deuteronomy 6: 6-9 also shows a learning model. For this reason, the author analyzes the text of Deuteronomy 6: 6-9. The analysis of the text appears if there is a memorization learning process. The memorization learning process is carried out by delivering teaching repeatedly and accompanied by media available in the family environment. This learning theoretically helps to improve understanding because there is a process of recording, storing, and calling that is more effective and allows deepening of the meaning of information.AbstrakAlkitab dalam Ulangan 6:6-9 memberikan perintah untuk melaksanakan pendidikan anak. Teks Ulangan 6:6-9 umumnya dipahami sebatas sebagai mandat pendidikan dalam keluarga, tetapi penulis memandang jika teks Ulangan 6:6-9 juga menunjukkan sebuah model pembelajaran. Untuk itu penulis melakukan analisis terhadap teks Ulangan 6:6-9. Dari analisis terhadap teks tersebut tampak jika terdapat proses pembelajaran memorisasi. Proses pembelajaran memorisasi dilakukan dengan menyampaikan pengajaran secara berulang dan disertai dengan media yang tersedia di lingkungan keluarga. Pembelajaran ini secara teoritis membantu untuk meningkatkan pemahaman sebab terjadi proses perekaman, penyimpanan, dan pemanggilan yang lebih efektif dan memungkinkan terjadinya pendalaman terhadap makna pada suatu informasi
Pemuridan Misioner dalam Menyiapkan Perluasan Gereja Lokal
The development and expansion of the church is a dream for many local churches. One of the most effective ways to develop or expand a local church is to do evangelism according to the great commission in Matthew 28: 19-20. To be able to move the congregation to carry out missionary activities missionary discipleship is needed. The article is a qualitative study of the significant influence of missionary discipleship on the expansion of the local church. By using a qualitative approach and descriptive method, the results obtained recommending the holding of missionary discipleship by the church to produce a congregation capable of carrying out the great commission of Jesus Christ.AbstrakPerkembangan dan perluasan gereja merupakan idaman bagi banyak gerejaa lokal. Salah satu cara yang paling efektif untuk mengembangkan atau melakukan ekspansi gereja lokal adalah melakukan penginjilan sesuai amanat agung dalam Matius 28:19-20. Untuk dapat menggerakkan jemaat melakukan kegiatan misi diperlukan pemuridan secara misioner. Artikel merupakan penelitian kualitatif tentang pengaruh signifikan dari pemuridan misioner terhadap perluasan gereja lokal. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif, diperoleh hasil yang merekomendasikan diadakannya pemuridan misioner oleh gereja untuk menghasilkan jemaat yang mampu melakukan amanat agung Yesus Kristus
Eksegesis Kisah Para Rasul 2:42-47 untuk Merumuskan Ciri Kehidupan Rohani Jemaat Mula-mula di Yerusalem
The life of the first Christian community in Jerusalem was a pattern of true church life. This pattern should be seen in the modern church. The pattern is found through the method of exegesis in Acts 2: 42-47. As a result, there are four characteristics of the spiritual life of the early church community: strong in the Word of God, living consistently in fellowship, having a lifestyle of prayer and caring for others.AbstrakKehidupan jemaat mula-mula di Yerusalem adalah sebuah pola (pattern) dari kehidupan gereja yang sejati. Pola seperti ini seharusnya terlihat di dalam gereja modern. Penggalian terhadap pola itu ditemukan melalui metoda eksegesa di dalam Kisah Para Rasul 2:42-47. Sebagai hasilnya terdapat empat ciri kehidupan rohani jemaat mula-mula, yakni: berakar kuat di dalam Firman, hidup di dalam persekutuan, memiliki gaya hidup doa dan peduli terhadap sesama
Implikasi Alkitab dalam Formasi Rohani pada Era Reformasi Gereja
This article discusses the spiritual formation and God's Word in reformation. The formulation of the problem is the relationship between spiritual formation and God's Word in reformation. The author uses literature studies to collect information about spiritual formation and God's Word in reformation. Spirit for sola scriptura has produced a change in the life of the church at that moment. All teachings, church traditions, and practical actions which is conducted by church member must be tested under the Word of God. In the present context, the church who facing various challenges related to a moral life, teaching, and practical actions must return to the principles of the word of God. To build a spiritual life, we must start from the Bible that is interpreted correctly, which then becomes a theological development, which then influences the concept of believer's thinking and practical actions.AbstrakArtikel ini membahas tentang formasi rohani dan Firman Tuhan dalam reformasi. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana kaitan antara formasi rohani dan firman Tuhan dalam reformasi? Penulis menggunakan studi pustaka untuk menggali informasi tentang formasi rohani dan Firman Tuhan dalam reformasi. Semangat untuk sola scriptura menghasilkan perubahan dalam kehidupan gereja pada masa itu. Segala pengajaran, tradisi gereja, dan tindakan praktis yang dilakukan oleh setiap anggota gereja harus diuji di bawah Firman Tuhan. Dalam konteks masa kini, menghadapi berbagai tantangan gereja baik yang terkait dengan kehidupan moral maupun pengajaran dan tindakan praktis, gereja harus kembali pada prinsip Firman Tuhan. Untuk membangun kehidupan rohani maka harus dimulai dari Alkitab yang ditafsirkan secara benar yang kemudian menjadi sebuah bangunan teologi yang kemudian mempengaruhi konsep berpikir orang percaya dan tindakan praktis
Deskripsi Hamba yang Menderita Menurut Yesaya 52:13-53:12
The theological theme of "Servant Who Suffers," is the subject of research, with an explanation derived from Isaiah 52:13-53:12. Various considerations became the basis or foundation for this research. Among them are differences in views about the original author from the Book of Isaiah, which became the "distant context" of this research subject, as well as the debate about "the person or identity of the suffering servant." This research is intended not only to bring out differences from the views of the two groups but also to provide confirmation and solutions to these differences. Of course, the results of this study, not solely based on the thoughts and personal assumptions of the author. The method used in this research is qualitative research which describing and discussing these sections based on biblical studies and some views of experts as a source of literature from the research subjects.AbstrakTema teologis “Hamba yang Menderita,†merupakan subyek penelitian, dengan penjelasan yang bersumber pada Yesaya 52:13-53:12. Berbagai pertimbangan menjadi dasar atau landasan bagi penelitian ini, seperti perbedaan pandangan mengenai penulis asli dari Kitab Yesaya, yang menjadi “konteks jauh†dari subyek penelitian ini, serta perdebatan mengenai “pribadi atau identitas dari hamba yang menderita.†Penelitian ini, dimaksudkan tidak hanya memunculkan perbedaan dari pandangan kedua kelompok tersebut, namun juga memberikan penegasan dan jalan keluar bagi perbedaan-perbedaan tersebut. Tentunya hasil dari pada penelitian ini, bukan semata-mata berdasarkan pada pemikiran dan asumsi pribadi penulis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yaitu dengan cara memaparkan dan membahas bagian-bagian tersebut dengan berlandaskan pada kajian biblika serta beberapa pandangan para pakar sebagai sumber literatur dari subyek penelitian tersebut
Model Pembelajaran Contextual Teaching Learning dalam Pendidikan Agama Kristen untuk Meningkatkan Karakter Siswa Kristiani
This study aims to examine the effectiveness of the Contextual Teaching Learning (CTL) learning model through Christian Religious Education in improving the Christian character of students in Surakarta 4 Public Middle School. This research was motivated by the fact and condition of Christian students at Surakarta 4th Middle School who experienced a decline due to Christian character. This research applies a participatory research approach with mixed methods research design. Interviews, observations, FGDs, and questionnaires were used to collect qualitative and quantitative data. Experiments are used to prove the effectiveness of the model is statistically significant, while field observations and FGDs are used to obtain practical data significant impact of the model. This research is tested as an effective learning model to improve students' character, especially in terms of love, honesty, discipline, and responsibility. In qualitative results, it can be seen in the attitudes of students who want to carry out tasks without complaining, attend morning services, and are able to understand precisely the essence of Christian character. This research is recommended for curriculum vice principal, teachers, students, and future researchers to apply this model. That is because the CTL learning model has proven effective for improving the Christian character of junior high school students.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menguji keefektifan model pembelajaran Contextual Teaching Learning (CTL) melalui Pendidikan Agama Kristen dalam meningkatkan karakter Kristiani siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 4 Surakarta. Penelitian ini dimotivasi oleh fakta dan kondisi siswa Kristen di SMPN 4 Surakarta yang mengalami kemerosotan berkaitan dengan karakter Kristiani. Penelitian ini menerapkan pendekatan penelitian partisipatif dengan desain penelitian metode campuran. Wawancara, observasi, FGD dan angket digunakan untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif. Eksperimen digunakan untuk membuktikan efektivitas model secara statistikal signifikan, sedangkan observasi lapangan dan FGD digunakan untuk memperoleh data secara praktikal signifikan dampak model. Penelitian ini teruji sebagai model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan karakter siswa, khususnya dalam hal kasih, kejujuran, kedisiplinan dan tanggungjawab. Dalam hasil kualitatif terlihat dalam sikap siswa yang mau melaksanakan tugas tanpa mengeluh, mengikuti ibadah pagi, dan mampu untuk memahami dengan tepat esensi dari karakter Kristiani. Penelitian ini direkomendasikan bagi wakasek kurikulum, guru, siswa dan peneliti selanjutnya untuk menerapkan model ini.Hal itu karena model pembelajaran CTL telah terbukti efektif untuk meningkatkan karakter Kristiani siswa SMP
Mengoptimalkan Karunia dalam Jemaat untuk Melakukan Misi Amanat Agung di Era 4.0
Carrying out the mission of the great commission is a general church task, which must be carried out by all believers. Conducting missions in the 4.0 era is a challenge in itself, and the church must empower God's people with the gift of the Holy Spirit who can answer the needs of mission services in this era. The article is qualitative research literature, applying descriptive and phenomenological methods to show a description of service needs related to mission in the 4.0 era. As a result, a leader, in this case, the pastor, must first be empowered in terms of gifts so as to optimize the gifts that are in the church. AbstrakMelakukan misi amanat agung merupakan tugas gereja secara umum, yang harus dilakukan oleh semua orang percaya. Melakukan misi di era 4.0 merupakan tantangan tersendiri, dan gereja harus memberdayakan jemaat Tuhan dengan karunia Roh Kudus yang dapat menjawab kebutuhan pelayanan misi di era ini. Artikel merupakan penelitian kualitatif literatur, menerapkan metode deskriptif dan fenomenologi untuk menunjukkan gambaran kebutuhan pelayanan terkait misi di era 4.0. Hasilnya, seorng pemimpin, dalam hal ini gembala sidang, harus terlebih dahulu berdaya dalam hal karunia sehingga dapat mengoptimalkan karunia yang ada dalam jemaa
Fungsi Implementatif Tawaran Pilihan Etis-Teologis Kristen dalam Konteks Dilema Moral
Mostly overtime, the ethical-theological discussion is also influenced by dilemmatic situations that cause doubts in making choices. In fact, the starting point of ethics is to consider an issue and take a stand on it without compromise with any situation in between. In this situation, questions arise about whether ethics has carried out its implementative function appropriately? With the growing firmness to making a choice, ethical-theological responsibility now requires its implementation under direction. Christian theologians notice their respective perspectives on highlighting the context of the times that creates moral dilemmas. This research seeks to offer ethical decision concepts and models when dealing with a dilemma problem in order to reawaken the firmness in ethically responding to the challenges of the times. AbstrakDekade ini, diskusi etika teologis turut dipengaruhi oleh situasi dilematis yang menyebabkan keraguan dalam menentukan pilihan. Padahal, titik tolak etika adalah mempertimbangkan sebuah persoalan dan mengambil sikap atasnya tanpa kompromi dengan situasi apa pun. Di dalam keadaan ini, muncullah pertanyaan tentang apakah etika telah menjalankan fungsi implementatifnya dengan tepat? Dengan berkembang-nya ketegasan untuk menentukan pilihan, tanggung jawab etis-teologis kini memerlukan arah implementatifnya. Para teolog etika Kristen memiliki masing-masing perspektifnya menyoroti konteks zaman yang mencip-takan dilema moral. Penelitian ini berupaya menawarkan konsep dan mo-del pilihan etis ketika berhadapan dengan sebuah persoalan dilematis guna menyadarkan kembali ketegasan dalam beretika merespons tantangan zaman.Â