EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
Not a member yet
171 research outputs found
Sort by
Metafora Ganda Bagi Yesus Kristus Dalam Wahyu 5:5-6: Memahami Perjanjian Baru Dalam Menggunakan Perjanjian Lama
The Old and New Testaments are the primary sources of understanding the identity and work of Jesus Christ. There was a consensus from commentators that the combination of the Lion and the Lamb as a double metaphor for Jesus Christ in Revelation 5:5-6 is one of the complex texts and was also crucial to being able to understand the entire book of Revelation. Restrospectively this section has presented multi-interpretation so that it also affects the theological and practical understanding of interpreters. This article will approach the metaphorical combination in Revelation 5:5-6 biblically primarily by dividing the interpretation steps in accordance with the NT use of the OT. This point in the book of Revelation is related to the identity and work of Jesus Christ in order to carry out the divine dual mission: judgment and salvation, to establish the kingdom of God on earth through love and not through violence. Â
Edukasi Seks Berbasis Pendidikan Kristiani bagi Anggota Jemaat Gereja Protestan Indonesia di Papua
There velations about sex are often regarded as very risky, taboo, dirty and embarrassing. Similarly, in the lives of Papuans and most indonesian Protestant church members in Papua (hereinafter written GPI Papua), this action is usually done on the basis of awareness that sex is an immoral activity and will cause new deviations, especially by teenagers. Whatever reaction arises must be realized that the problem of sex is a concrete problem,but many people can not give the appropriate answer that causes a new problem. Based on these conditions, sex education needs to be organized one of them by the church to minimize the problem of sex. In its implementation, sex education in the church must be done through the preparation of a representative educational curriculum. Sex education materials integrated in the curriculum are actual and aligned with the objectives of Christian Education. Through this paper, the author wants to write theoretical thought as a contribution of thought taking into account aspects of the context of sex education organized by the church. The direction and purpose of the church's sex education curriculum is based on the Bible and is aimed at raising awareness of learners responsible for their lives for the glory of God.Â
Strategi Misi Orang Percaya dalam Mengaktualisasi Amanat Agung di Era New Normal
Church leaders and believers often focus too much on their respective churches and pay less attention to the unity of the body of Christ in winning souls. There is an understanding of the basic concept of evangelism that is not properly understood in its application as a witness of Christ. Becomes an obstacle in actualizing the mandate of the Great Commission. Through descriptive qualitative methods, it can be concluded that the essence of the Great Commission and its Challenges will lead believers to maintain the spirituality of believers because with a mature and spiritually mature spirituality they can become examples and role models so that they can actualize the Mission appropriately and in line with God's will. Furthermore, the believer has the knowledge that mission is a testimony of the believer's faith. hence this missiological concept carries the same spirit when Jesus wanted believers to be light and bring the news of salvation.AbstrakPemimpin gereja dan orang percaya tidak jarang terlalu lebih fokus pada gerejanya masing-masing dan kurang memberi perhatian pada kesatuan tubuh Kristus dalam memenangkan jiwa-jiwa. Adanya pengertian konsep dasar penginjilan yang tidak dimengerti secara benar dalam penerapannya sebagai saksi Kristus. Menjadi kendala dalam mengaktualisasi mandat Amanat Agung. Melalui metode kualitatif deskritif dapat disimpulkan bahwa hakikat Amanat Agung dan tantangannya akan membawa orang percaya untuk menjaga Spritualitas orang percaya sebab dengan kerohanian yang matang dan dewasa rohani dapat menjadi contoh dan teladan sehingga dapat mengaktualisasi Misi dengan tepat dan sejalan dengan kehendak Tuhan. Selanjutnya orang percaya memiliki pengetahuan bahwa misi sebagai kesaksian Iman orang percaya. maka konsep misiologi ini membawa semangat yang sama ketika Yesus menginginkan orang percaya menjadi terang dan membawa kabar keselamatan
Peran Manajemen dalam Mengembangkan Pelayanan di Gereja Pentakosta Indonesia Sidang Perumnas Martubung, Medan
Management is an effort and a way of utilizing human resources and existing objects, in order to achieve goals effectively and efficiently. Management has functions in planning, organizing, implementing, and controlling. Good management will usually give good results including in relation to the world of service. The method used in this literature research is descriptive, which provides a general description of management and the importance of applying management in the world of the church to be able to develop the services that are in it.AbstrakManajemen adalah sebagai usaha dan cara dalam pemanfaatan sumber-daya manusia serta benda yang ada, agar tercapai tujuan secara efektif dan efisien. Manajemen memiliki fungsi-fungsi dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Manajemen yang baik biasanya akan memberikan hasil yang baik pula termsuk dalam kaitannya dengan dunia pelayanan. Metode yang digunakan dalam penelitian lite-ratur ini adalah deskriptif, yaitu memberikan gambaran umum tentang manajemen dan pentingnya penerapan manajemen dalam dunia gereja untuk dapat mengembangkan pelayanan yang ada di dalamnya
Peran Orang tua dalam Pembentukan Iman Anak berdasarkan 2 Timotius 3:14-17
The role of parents in fostering children's faith is very important because children are the next generation of families, churches, and nations. However, in nurturing children to grow in faith, it is not easy, because in this phase they experience many challenges so that children need to be directed in a positive direction so that they are in accordance with God's will. This study uses a qualitative approach with a descriptive analysis method. Data collection techniques were carried out through literature and interviews. The conclusion obtained based on the study of text 2 Timothy 3: 14-17 is, the role of parents is to be ready to face the challenges of future education, focus on educational goals, become role models, and teach and hold on to the truth, remembering the teachings of true leaders.AbstrakPeranan orang tua dalam pembinaan iman anak sangatlah penting karena anak-anak adalah generasi penerus keluarga, gereja dan bangsa. Akan tetapi dalam membina anak bertumbuh dalam iman tidaklah mudah, karena pada fase ini mereka mengalami banyak tantangan sehingga anak perlu diarahkan kearah yang positif agar sesuai dengan kehendak Tuhan. Penelitian ini meng-gunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif analisis. Teknik pe-ngumpulan data dilakukan melalui literatur dan wawancara. Kesimpulan yang diperoleh berdasarkan kajian teks 2 Timotius 3:14-17 adalah, peran orang tua adalah siap menghadapi tantangan pendidikan masa depan, fokus pada tujuan pendidikan, menjadi teladan serta mengajar dan berpegang pada kebenaran, mengingat ajaran pemimpin yang benar
Pernikahan, Perceraian dan Pernikahan Kembali menurut Matius 19:1-12
Pernikahan, Perceraian dan Pernikahan Kembali menurut Maitus 19:1-1
Implementasi Pelayanan Holistik Berdasarkan Matius 25:35-36 pada Warga Binaan di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Abepura, Jayapua
Pelayanan Holistik berdasarkan Matius 25:35-3
Pengaruh Pemahaman Hidup Kudus Menurut 1 Tesalonika 4:1-8 terhadap Perilaku Seksual Pemuda Remaja di GPdI Wilayah Sentani Timur Tengah
This study aimed to determine whether there is an influence of the under-standing of holy life according to 1 Thessalonians 4: 1-8 on the sexual behavior of GPdI youth/teenagers in the Sentani Timur Tengah Region; which dimensions affected the understanding of holy life according to 1 Thessalonians 4:1-8 on youth/ teenagers sexual behavior, and found out which background factors have the most influenced on sexual behavior in youth/teenagers in GPdI Sentani Timur Selatan Region. In this study, the population was youth/teenagers in the GPdI Sentani Timur Selatan Region totaling 123 people. This research used a quantitative (positivist) approach. The research method used was a quantitative research design with an explanatory-confirmatory method. Simple linear regression test results are Y = -47,727 + 0.864X. In conclusion, the understanding of the holy life according to 1 Thessalonians 4: 1-8 has a positive effect on the sexual behavior of GPdI youth/youth in Sentani Timur Selatan (Y), with the dimension of "acceptance of God's presence" as the most dominant. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh pema-haman hidup kudus menurut 1 Tesalonika 4: 1-8 terhadap perilaku sek-sual pemuda/remaja GPdI di Wilayah Sentani Timur Tengah; dimensi manakah yang paling dominan memengaruhi pemahaman hidup kudus menurut 1 Tesalonika 4: 1-8, dan untuk mengetahui faktor latar belakang manakah yang paling berpengaruh terhadap perilaku seksual pada pemuda/remaja di GPdI Wilayah Sentani Timur Tengah. Dalam pene-litian ini yang menjadi populasi adalah pemuda/remaja di GPdI Wilayah Sentani Timur Tengah yang berjumlah 123 orang. Penelitian ini meng-gunakan pendekatan kuantitatif (positivis). Metode penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian kuantitatif dengan metode ekspla-natori-konfirmatori. Hasil uji regresi linear sederhana adalah Y = -47,727 + 0,864X. Kesimpulannya, pemahaman hidup kudus menurut 1 Tesalonika 4:1-8 berpengaruh positif terhadap perilaku seksual pemuda/remaja GPdI di Sentani Timur Tengah (Y), dengan dimensi “penerimaan akan kehadiran Allah†sebagai yang paling dominan
Menerapkan Kualifikasi Kepemimpinan Hamba menurut Injil Markus bagi Gembala Sidang GPdI Wilayah Waropen Barat, Papua
The church faces great challenges in terms of human resources and its organization, as well as the degradation of quantity and quality. The leadership of a pastor is one of the factors needed to face the challenges of the church. One form of leadership needed is a servant leadership model. The Gospel of Mark gives four important qualifications about servant leadership that Jesus had. The problem is, not many pastors have the qualifications. This article aims to provide an understanding of the pastors of the GPdI congregation in the West Waropen region about the qualifications of Jesus' leadership as servants according to the Gospel of Mark, so that it can be applied in the ministry of pastors in the GPdI West Waropen Region, Papua.AbstrakGereja menghadapi tantangan yang besar dari segi sumber daya manusia dan organisasinya, serta degradasi kuantitas dan kualitas. Kepemimpinan seorang gembala sidang merupakan salah satu faktor yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan gereja. Salah satu bentuk kepemimpinan yang dibutuhkan adalah model kepemimpinan hamba. Injil Markus memberikan empat kualifikasi penting tentang kepemimpinan hamba yang dimiliki Yesus. Persoalannya, belum banyak para gembala sidang yang memiliki kualifikasi tersebut. Artikel ini bertujuan untuk mem-berikan pemahaman para gembala sidang GPdI wilayah Waropen Barat tentang kualifikasi kepemimpinan Yesus sebagai hamba menurut Injil Markus, sehingga dapat menerapkannya dalam pelayanan para gembala jemaat di GPdI Wilayah Waropen Barat, Papua
Prinsip Penggembalaan Menurut 1 Timotius 4:1-16: Kajian Reflektif untuk Penerapan di GPdI Wilayah Waropen Barat, Papua
The principle of shepherding means a fundamental statement that can be considered as a general truth that is used by both pastors and groups in pastors in working to achieve their goals. In this connection, it is important to study the principles of shepherding according to 1 Timothy 4: 1-16. The purpose of this study is to describe, analyze, and implement the principles of shepherding according to 1 Timothy 4: 1-16 in the pastoral environment of the GPdI session in the West Waropen Region, Papua. This study uses qualitative research with a descriptive analysis method with a hermeneutical approach to the text of 1 Timothy 4: 1-16. In conclusion, some principles in shepherding based on 1 Timothy 4: 1-16 are: knowing the purpose of shepherding, being called to serve, preparing for service, entering service, and serving as God's Servant. AbstrakPrinsip penggembalaan artinya pernyataan fundamental yang dapat di-anggap sebagai kebenaran umum yang digunakan oleh gembala sidang baik perorangan maupun kelompok dalam bekerja untuk mencapai tujuannya. Berkaitan dengan hal itu penting untuk mempelajari prinsip-prinsip penggembalaan menurut 1 Timotius 4:1-16. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan, menganalisis dan mengimplementasikan prinsip-prinsip penggembalaan menurut 1 Timotius 4:1-16 dalam ling-kungan gembala sidang GPdI di Wilayah Waropen Barat, Papua. Peneli-tian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis deskriptif dengan pendekatan hermeneutis pada teks 1 Timotius 4:1-16. Kesim-pulannya, ada beberapa prinsip dalam penggembalaan berdasarkan 1 Timotius 4:1-16 yang dapat diterapkan, yakni: mengetahui tujuan peng-gembalaan, terpanggil melayani, persiapan pelayanan, memasuki pelaya-nan dan melayani sebagai Hamba Tuhan