EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
Not a member yet
171 research outputs found
Sort by
Membangun Makna Teologis Gotong Royong dalam Memperkuat Kebhinekaan
This article discusses the form of dialogue based on social relations as an effort to approach radical Islamic groups to maintain diversity in Indonesia country. It is a manifestation of the spirit of postmodern plurality in the context of the theology of religions. The aim of the problem of this research is how to maintain diversity with radical groups in the context of postmodern plurality and how connected this spirit is to the ecumenical procession. The author uses a literature study to analyze it. The spirit of postmodern plurality promotes the principle of mutual cooperation which mediates Christian groups for dialogue based on social relations with radical groups. This encouragement to build relationships with groups that keep their distance from Christianity requires an inherent cultural approach between the two and a spirit that unites as a nation. That way, dialogue with radical groups is not a necessity but a possibility to maintain diversity.        AbstrakArtikel ini membahas tentang bentuk dialog berbasis relasi sosial sebagai upaya mendekati kelompok Islam Radikal untuk menjaga kebhinekaan sebagai perwujudan semangat pluralitas postmodern dalam konteks berteologi agama-agama. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana menjaga kebhinekaan bersama kelompok radikal dalam konteks pluralitas postmodern dan seberapa terhubung semangat ini dengan arak-arakan ekumenikal. Penulis menggunakan studi pustaka untuk menganalisisnya. Semangat pluralitas postmodern mempromosikan kembali prinsip gotong royong yang mengantarai kelompok Kristen untuk dialog berbasis relasi sosial dengan kelompok radikal. Untuk membangun hubungan dengan kelompok yang menjaga jarak dengan Kekristenan dibutuhkan pendekatan budaya yang melekat di antara keduanya dan spirit yang mempersatukan sebagai bangsa. Dengan begitu, dialog dengan kelompok radikal bukanlah sebuah keniscayaan melainkan kemungkinan untuk menjaga kebhinekaan
Makna Proselitisasi di Masa Intertestamental bagi Misi Gereja Masa Kini
This study aims to examine how proselytization means in an intertestamental state for contemporary mission activities. At that time the proselytization carried out by Palestinian Jews and diaspora Jews continued, resulting in a wave of religious conversions in Judaism called real proselytes (ger tsedeq) as well as people who fear Allah (passive proselytes). This study uses a qualitative approach with descriptive methods, in which the researcher tries to answer the research problem by looking for literary sources that correlate with the research problem. From this research, it can be concluded that proselytizing in the intertestamental era opened up opportunities for church missions in the New Testament era, as documented in the Acts of the Apostles where the apostles carried out missions with the main target of delivering the gospel to all nations, starting with carrying out missions for proselytes, so many of them believed.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana makna proselitisasi di ma-sa intertestamental bagi kegiatan misi masa kini. Pada masa itu proselitisasi yang dilakukan oleh orang Yahudi Palestina maupun Yahudi diaspora terus berjalan sehingga menghasilkan gelombang konversi religius pada agama Yudaisme yang disebut proselit sungguhan (ger tsedeq) maupun orang-orang yang takut akan Allah (proselit pasif). Penelitian ini menggunakan pendeka-tan kualitatif dengan metode deskriptif, di mana peneliti berusaha menja-wab permasalahan penelitian dengan mencari sumber-sumber literatur yang berkorelasi dengan masalah penelitian. Dari penelitian ini dapat disimpulkan proselititasi di masa intertestamental membuka peluang bagi misi gereja di era Perjanjian Baru, seperti terdokumentasi dalam Kisah Para Rasul di mana para rasul melakukan misi dengan target utama menyampaikan Injil bagi semua bangsa, bermula dengan melakukan misi bagi orang hasil proselit, sehingga banyak dari mereka yang menjadi percaya
Menggagas Penggunaan Benih dalam Perayaan Paskah: Analisis Biblikal Yohanes 12:20-26
Easter is one of the most important Christian and Catholic holidays and dates back to the church in the first century until today. The Passover holiday reminds Christians how Jesus died and was resurrected for the sake of human salvation. There are many ways Christians celebrate Easter, but the most popular of which is Easter is identified with eggs. This study aims to increase understanding of church traditions, especially easter eggs which are believed to have no biblical basis because the Lord Jesus in his ministry never used them as illustrations to explain His death and resurrection. The research method chosen is descriptive qualitative with literature study and exposition approach on the text on John 12:20-26. Celebrating Easter according to Bible standards is very significant today and in the future. That is why taking up Jesus' parable of the wheat is an offer for the church today to gain a relevant understanding of the Passover. Easter celebrations using plant seeds become a symbol of survival for oneself, family, church, environment, and government.AbstrakPaskah adalah salah satu hari raya Kristen dan Katolik yang sangat penting, dan telah dimulai sejak gereja abad pertama hingga saat ini. Hari raya Paskah mengingatkan orang Kristen bagai-mana Yesus mati dan dibangkitkan demi keselamatan manusia. Beragam cara orang Kristen da-lam merayakan hari raya paskah, namun yang paling populer paskah diidentikkan dengan telur. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai tradisi gereja, khususnya telur paskah yang diyakini tidak memiliki dasar Alkitab, karena Tuhan Yesus dalam pelayanannya tidak pernah menggunakannya sebagai ilustrasi untuk menjelaskan kematian dan kebangkitan-Nya. Metode penelitian yang dipilih adalah kualitatif deskriptif dengan studi kepustakaan dan pendekatan eksposisi pada teks Yohanes 12:20-26. Merayakan paskah sesuai stan-dar Alkitab adalah sangat signifikan di masa kini dan di masa mendatang. Itu sebab-nya, mengangkat perumpamaan Yesus tentang biji gandum menjadi tawaran bagi ge-reja saat ini untuk memperoleh pemahaman yang relevan tentang paskah. Perayaan paskah dengan menggunakan benih tumbuh-tumbuhan menjadi simbol keberlang-sungan hidup bagi diri sendiri, keluarga, gereja, lingkungan hidup dan pemerintah
Menuju Gereja Apostolik Transformatif
Peter Wagner, as an expert on church growth, stated that the Apostolic church is a church that is experiencing rapid growth. This claim is made because many Apostolic churches have been built around the world. The church continued the spirit of the apostles at the time of the early church's birth. However, it is important to conduct an in-depth study regarding the realization in the field; whether a thriving Apostolic church is carrying out God's mission or the personal ambition of a charismatic church leader. This study analyzes how the church which is said to be an Apostolic church runs its organization so that it experiences significant growth. The research method used is descriptive qualitative. The researcher tries to explore the phenomena and data obtained through respondents about the transformative apostolic church that was developed in the ministry of the Indonesian Bethel Church of Gatot Subroto. In conclusion, GBI Gatot Subroto is a transformative apostolic church, because of several things, such as a visionary church, senior pastors or mentor pastors as apostolic leaders, divine authority and the work of the Holy Spirit have an impact, the church as a center for leadership training and discipleship across generations implements apostolic ministry followed by other gifts/services, prioritizing mission, and focusing on the Kingdom of God.AbstrakPeter Wagner, sebagai salah satu ahli pertumbuhan gereja, menyatakan bahwa gereja Apostolik adalah gereja yang mengalami pertumbuhan secara pesat. Klaim ini disampaikan karena banyak-nya terbangun gereja-gereja beraliran Apostolik di seluruh dunia. Gereja tersebut melanjutkan semangat para rasul pada masa lahirnya gereja mula-mula. Namun, penting untuk dilakukan kajian mendalam terkait realisasi di lapangan; apakah gereja Apostolik yang berkembang menja-lankan misi Allah atau ambisi pribadi dari pemimpin gereja yang berkharismatik. Penelitian ini menganalisis bagaimana gereja yang dikatakan sebagai gereja Apostolik menjalankan organisa-sinya, sehingga mengalami pertumbuhan yang signifikan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Peneliti berusaha mengeksplorasi fenomena dan data-data yang diperoleh melalui responden tentang gereja apostolik transformatif yang dikembangkan dalam pelayanan Gereja Bethel Indonesia Gatot Subroto. Kesimpu-lannya, GBI Gatot Subroto adalah gereja apostolik transformatif, karena beberapa hal, seperti: gereja yang visioner, gembala senior atau gembala pembina sebagai pemimpin kerasulan, otoritas Ilahi dan pekerjaan Roh Kudus berdampak, gereja sebagai pusat pelatihan kepemimpinan dan pemuridan lintas generasi, menerap-kan jawatan rasuli diikuti karunia-karunia/jawatan lainnya, memprioritaskan misi, dan berfokus pada Kerajaan Allah
Strategi Musik dan Kerygma Influencer Kristen dalam Membangun Gambar Diri Native Digital
The advancement of the virtual world has shaped the millennial generation and beyond to become digital natives who are out of control, without obstacles, and connected. The global world is presented freely with negative values of life, absurd, meaningless, and seemingly without God. The emphasis is on how to rebuild this fallen, weak, and chaotic native digital self-image. The goal is that through music and kerygma strategies, these Christian influencers can become a catalyst for the digital generation to return to God with the proper self-image. So it is an essential solution because the virtual space has a vast scope, without limits and high flexibility after church services have begun to be abandoned. A research method is a qualitative approach with data collection through literature study and observation. It is hoped that through this research: (1)New Christian influencers will emerge with spiritual content, (2)The millennial generation will repent and recover, (3)So that they will return and be integrated with the church. Future research is expected to be quantitative to see how strong the influence of changes and new strategies can be as alternative solutions.Â
Kontras Pandangan Yesus dan Orang Muda yang Kaya: Analisis Teologis Matius 19:16-26
Artikel ini bertujuan untuk menelisik alasan dibalik penolakan orang muda yang kaya terhadap Yesus dan mengapa Yesus memberi kecaman kepada orang kaya dalam ajaran-Nya. Pendekatan yang dilakukan berupa interpretasi terhadap Matius 19:16-26 dan pendekatan pada konteks sosial yang terkait erat dengan Imperialisme Romawi. Berdasarkan hasil analisa maka dapat dipahami bahwa penolakan orang muda tersebut karena paham religius Yahudi yang dianutnya mengenai kekayaan dan dominansi Romawi, memperjelas prestasi sosial orang muda tersebut sehingga keputusan itu bagi dirinya dan orang sezamannya dianggap sebuah kewajaran dan ajaran Yesus justru sebuah kebaruan. Selanjutnya kecaman Yesus terhadap orang kaya, dilatari oleh ruang lingkup pelayanan Yesus pada kaum termarginalkan dan kekayaan dianggap sebagai penghalang keselamatan karena diperoleh melalui keberpihakan pada pemerintahan Romawi yang dalam wacana apokaliptik Injil Matius, diidentikkan sebagai sekutu Setan
Pentingnya Pemahaman Eskatologi Menurut Matius 24 bagi Jemaat GPdI Pisga
Eschatology is generally understood as the teaching of the Bible about the last days or the time before Jesus' return. The assurance of Christ's second coming, accompanied by the events of the resurrection and the final judgment, is one of the doctrinal points that many theologians agree on. This is also one of the important doctrines in the GPdI. This article aims to show the importance of this doctrine being taught and understood in the church, especially in the GPdI Pisga Waropen Timur environment. The method used in this research is the interpretive descriptive analysis method of the Bible text in Matthew 24. In conclusion, the GPdI Pisga Waropen Timur congregation has a good understanding of the concept and a good understanding of Matthew 24's eschatology.AbstrakEskatologi umumnya dipahami sebagai pengajaran Alkitab mengenai hari-hari terakhir atau masa menjelang Yesus datang kembali. Kepastian keda-tangan Kristus kedua kalinya yang disertai dengan peristiwa kebangkitan dan penghakiman terakhir, merupakan salah satu pokok doktrinal yang disetujui oleh banyak ahli teologi. Hal ini juga menjadi salah satu doktrin penting dalam GPdI. Artikel ini bertujuan untuk memperlihatkan pentingnya doktrin ini diajarkan dan dipahami di gereja, terutama di lingkungan GPdI Pisga Waropen Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif interpretatif terhadap teks Alkitab pada Matius 24. Kesimpulannya, jemaat GPdI Pisga Waropen Timur memiliki pemahaman yang baik tentang konsep dan pemahaman yang baik tentang eskatologi Matius 24
Iman Kristen dan Ranah Publik: Sketsa Pemikiran Abraham Kuyper
Abraham Kuyper was arguably a Christian who had brought the implications of the Christian faith to the public sphere in a remarkable way. For Kuyper, the Christian faith had equally emphasized the importance of transformation of the heart and transformation of the society. Using a historical theology approach, this article attempts to present a sketch of Kuyper’s thought on the public implications of the Christian faith, which includes his concept of sphere sovereignty, visible organic church, and common grace. By elaborating on those three Kuyperian concepts, this article seeks to provide an introduction to Kuyper studies and to increase the reception of Kuyper’s theology in Indonesia.AbstrakAbraham Kuyper merupakan seorang Kristen yang dapat dikatakan cukup sukses dalam membawa implikasi iman Kristen ke ranah publik. Di mata Kuyper, iman Kristen yang memiliki penekanan kepada bagaimana hati seseorang diubah atau dilahirbarukan, harus juga menekankan, bagaimana iman tersebut diaplikasikan ter-hadap perubahan masyarakat, di mana seseorang tersebut tinggal, ke arah yang lebih baik. Melalui pendekatan teologi historika, artikel ini berupaya memberikan sebuah sketsa atas konsep-konsep pemikiran Kuyper seputar implikasi iman Kristen terhadap ranah publik, meliputi: ranah kedaulatan (sphere sovereignty), Gereja organik yang kelihatan (visible organic church), dan anugerah umum (common grace). Melalui ela-borasi atas ketiga konsep pemikiran tersebut, artikel ini diharapkan dapat menjadi pengantar kepada studi Kuyper sekaligus meningkatkan minat dan penerimaan atas teologi Kuyper di Indonesia
Teologi Kerukunan Umat Beragama: Studi pada Masyarakat Desa Boneana, Kupang Barat
This study intends to describe the religious harmony in Boneana village. Communi-cation between religious communities is still tenuous. The harmony between religious communities in Bonenana can be used as an example in national life. The system for regulating religious communities is not yet optimal. This research approach is qualitative, data obtained through interviews with the Boneana community. The results of the analysis show that religious differences are not a barrier to mutual help. The trauma caused by the conflict after evacuating from Timor Leste made the people of Boneana want to live in peace. Harmony in the Boneana community is built on mutual respect for one another. The dialogue carried out by the Bonenana community is informal, where dialogue is in everyday life. The difference is a platform used by the people in Bonenana to build a sense of belonging. The people in Boneana have carried out harmony according to the principle of harmony theology.AbstrakPenelitian ini bermaksud memaparkan kerukunan beragama di desa Boneana. Komunikasi antar umat beragama masih renggang. Kerukunan antar umat beragama di Bonenana dapat dijadikan contoh dalam kehidupan berbangsa. Sistem pengaturan umat beragama belum masksimal. Pendekatan penelitan ini adalah kualitatif. Data didapatkan melalui wawancara terhadap masyarakat Boneana. Hasil analisis memperli-hatkan bahwa perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk saling membantu. Trauma akibat konflik pasca mengungsi dari Timor Leste membuat masyarakat Boneana ingin hidup damai. Kerukunan di masyarakat Boneana dibangun dalam sikap saling menghargai satu sama lain. Dialog yang dilakukan masyarakat Bonenana bersifat informal, di mana dialog dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan merupakan wadah yang dipakai masyarakat di Bonenana untuk membangun rasa saling memiliki. Masyarakat di Boneana telah menjalankan kerukunan sesuai pokok teologi kerukunan
Pendidikan Teologi sebagai Peta Jalan Pembaharuan Kehidupan: Sebuah Refleksi Teologi Transformatif:
 This research is motivated by the disparity of developmental dimensions of theological students. It is often found that the learning process in theological education gives more portion to the content rather than the other developmental dimensions. Theological education should be a transformative experience that covers cognition development, spiritual formation, character maturation, competencies enrichment, and relational engagement with the faith communities. Therefore, this research was conducted to find a form of theological education that can convey a transformative experience for the participants. In order to achieve this, the study used a qualitative research method with a descriptive approach. Data collection techniques were carried out by literature review related to the topics discussed. This study found a theological framework of transformative theology in the Bible. This research also presented the idea of transformative theological education style, namely theological education that emphasizes on balance in concepts and practices in the learning experience. Some of the integrative learning models that can be implemented are the holistic target of changes, a variety of learning approaches, determinative learning strategies, and authentic learning evaluation.AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi oleh ketimpangan dimensi perkembangan peserta didik dalam belajar teologi. Sering dijumpai proses pembelajaran dalam pendidikan teologi memberikan porsi lebih banyak pada konten daripada dimensi yang lain. Pendidikan teologi seharusnya menjadi pengalaman transformatif yang meliputi pengembangan kognisi, pembentukan kerohanian, pembangunan karakter, penajaman kompetensi, dan penguatan relasi sosial dengan komunitas iman. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mencari bentuk pendidikan teologi yang mampu menghadirkan pengalaman transformatif bagi peserta belajarnya. Dalam rangka mencapainya, kajian di dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan kajian pustaka terkait dengan topik yang dibahas. Penelitian ini menemukan kerangka berpikir teologis tentang teologi transformatif di dalam Alkitab. Penelitian ini juga menghadirkan pemikiran corak pendidikan teologi transformatif yaitu pendidikan teologi yang menekankan keseimbangan dalam konsep dan praktik di dalam pengalaman belajar. Beberapa model pembelajaran integratif yang dapat dilakukan adalah: Sasaran perubahan yang Holistik, Ragam pendekatan Pembelajaran yang Variatif, Strategi Pembelajaran yang determinatif, dan Evaluasi Pembelajaran yang Autentik