EPIGRAPHE: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
Not a member yet
171 research outputs found
Sort by
Menerapkan Konsep Hidup Menjadi Anak-anak Terang Berdasarkan Efesus 5:1-21 bagi Remaja GPdI Samiri, Serui, Papua
Youth are part of God's church. However, it cannot be denied that adolescence is known as a time of storms and pressure, which if not handled properly will make teenagers live in the wrong relationships and way of life. This article aims to provide an understanding of life as children of light according to Ephesians 5: 1-21 to the youth of GPdI in the Samiri Region, Serui, Papua, so that they realize that being a new human being must relate to life as bright children who have left their deeds. dark in the past. By using the interpretation of the text of Ephesians 5: 1-21, this research resulted in two things, namely: spiritual characteristics and personality characteristics.AbstrakRemaja adalah bagian dari gereja Tuhan. Namun tidak adapat dipungkiri bahwa masa remaja dikenal sebagai masa badai dan tekanan, yang jika tidak ditangani dengan baik akan membuat para remaja hidup dalam pergaulan dan cara hidup yang salah. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai hidup sebagai anak-anak terang menurut Efesus 5:1-21 kepada para remaja GPdI Wilayah Samiri, Serui, Papua, supaya mereka menyadari bahwa menjadi manusia baru haruslah berhubungan dengan hidup sebagai anak-anak terang yang meninggalan perbuatan gelap di masa lalu.Dengan menggunakan metode tafsir teks Efesus 5:1-21, maka penelitian ini meng-hasilkan dua hal, yakni: karakteristik spiritual dan karakteristik kepribadian
Aplikasi Ibrani 12:5-13 sebagai Model Pendidikan Karakter Disiplin Anak Generasi Z dalam Keluarga Kristen di Era New Normal Pandemi Covid-19
Covid-19 has an impact on the lives of generation Z children 7-14 years old. Besides the health issue, the discipline character of generation Z children 7-14 years old also became the problem in the New Normal Pandemic Covid-19 Era. This problem can be solved by applying discipline character training for children in a Christian family. This research aims to create a discipline character training model in a Christian family for generation Z children 7-14 years old in the era of New Normal Pandemic Covid-19 Era. This research is applied research that uses a qualitative approach, using descriptive and interpretive analysis methods. By using this method, the principle education context in Hebrew 12:5-13 dan context of generation Z children can be obtained. The principle and context will be synthesized to produce the new model of education characteristics. This research produces a discipline character education model in Christian families for children of generation Z, aged 7-14 years at New Normal Pandemic Covid-19 Era.AbstrakCovid-19 berdampak pada kehidupan anak-anak generasi Z usia 7-14 tahun. Selain isu kesehatan, disiplin anak generasi Z usia 7-14 tahun dalam melaku-kan kegiatan sehari-hari juga menjadi permasalahan di era New Normal Pan-demi Covid-19 ini. Permasalahan ini dapat diatasi dengan menerapkan pen-didikan karakter disiplin bagi anak dalam keluarga Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model pendidikan karakter disiplin dalam keluarga Kristen bagi anak-anak generasi Z di era New Normal Pandemi Covid-19. Penelitian ini adalah penelitian terapan yang menggunakan pen-dekatan kualitatif, dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan interpretatif. Dengan metode ini, prinsip pendidikan kitab Ibrani 12:5-13 dan konteks anak generasi Z dapat diperoleh. Prinsip dan konteks tersebut akan disintesiskan untuk menghasilkan model pendidikan karakter yang baru. Penelitian ini menghasilkan model pendidikan karakter disiplin dalam keluar-ga Kristen era new normal Pandemi Covid-1
Memahami Makna Spiritual dari Pemali Masyarakat Toraja
Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pemaknaan secara spiritual mengenai Pemali atau pamali yang terus dihidupi dalam masyarakat Toraja dan telah dianggap sebagai salah satu kebudayaan yang ada di masyarakat. Tulisan ini berfokus pada budaya Pemali yang terus dipelihara masyarakat Toraja dan diwariskan dari generasi ke generasi. Pemali yang ada dalam masyarakat Toraja telah menjadi bagian dari ide konseptual yang dimanifestasikan oleh masyarakat ke dalam wujud kebudayaan. Pemali mengandung banyak nilai, selain spiritual terdapat juga simbol dan agama yang mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat melalui adanya kepercayaan tentang nilai dari sesuatu yang supranatural. Data dalam tulisan ini dikumpulkan dari artikel online, buku dan wawancara via telefon kepada pihak-pihak yang menghidupi budaya Pemali sampai sekarang dalam hal ini masyarakat Toraja. Metode penelitian dilakukan secara sederhana dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Deskriptif karena penelitian ini diarahkan untuk memberikan gambaran secara holistik dan faktual tentang Pemali yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Toraja yang berhubungan dengan makna spiritual. Analitis karena data yang diperoleh merupakan hasil analisis dari faktor-faktor yang mendukung proses pemaknaan Pemali. Data yang diperoleh kemudian dianalisis berdasarkan kajian agama, teori sosial kebudayaan, dan spiritualitas
Dinamika Ibadah dalam Kehidupan Umat Allah hingga Gereja Masa Kini
A problematic issue examined in this research, namely the vulnerability to unity and harmony in a church that consists of various members of its congregation. This condition is like bananas which differ from one another and are irregular in shape, so as to compose them requires a challenging effort and a long struggle. Lord Jesus prayed for the unity of believers, because this is essential for the expansion of the kingdom of God. As for goals, this research is to find the extent to which the effectiveness of the role of worship in the church to realize harmony among the various diversity including the differences in generations in the midst of a congregation, each of which is influenced by the style of music that develops in its day, where the phenomenon of movement of church members that occurs is caused by differences in musical tastes in worship, so as to answer this, research question is used descriptive qualitative method by examining the essence of worship, unity and diversity of historical, etymological, biblical and systematic angles. The conclusions obtained from these careful results, is that the worship that God has planned for His chosen people, including believers in the present and in the future, which contains a relationship that aims to strengthen the relationship for the realization of unity both the relationship between man and God, human and himself, as well as humans with each other in the midst of diversity towards harmony as Christian witness in the midst of the darkness of the world
Semangat Reformasi Persembahan Umat Pasca Pembuangan Menurut Maleakhi 3:6-12
The tithe offering to God shows the repentance of the people to Him. Obedience in giving a true tithe offering is a practice of covenant between God and His people, but n its implementation, people break their covenants against God's decree. people still practice the wrong practices of worshipping God, especially regarding things. The real tithe is not of how much the people give to God, but rather a form of obedience to Him. This condition was conveyed by Malachi to the people of Israel. This study aims to analyze the text of Malachi 3:6-12 to gain an understanding of the spirit of reform of post-exile offerings. The method used in this study is qualitative by applying descriptive methods through the analysis of the social history of the text. In terms of the spirit of reform of the people after the exile according to the text of Malachi 4:6-12, it is obtained an understanding of the spirit of reform of the offering of the people as obedience through thanksgiving to God and to the common welfare.AbstrakPersembahan persepuluhan kepada Allah menunjukkan pertobatan umat kepada-Nya. Ketaatan dalam memberikan persembahan persepuluhan yang benar merupakan salah satu praktik perjanjian antara Allah dan umat-Nya, namun pada pelaksanaannya, umat melanggar perjanjian mereka terhadap ketetapan Allah itu. umat masih saja melakukan praktik peribadatan yang salah kepada Allah, khususnya mengenai persembahan perse-puluhan. Kondisi ini disampaikan Nabi Maleakhi kepada umat Israel. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa teks Maleakhi 3:6-12 untuk mendapatkan pemahaman semangat reformasi persembahan umat pasca pembuangan. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan menerapkan metode deskriptif melalui analisis sejarah sosial teks. Dalam hal semangat reformasi persmbahan umat pasca pembuangan menurut teks Maleakhi 4:6-12, maka didapatkan pemahaman mengenai semangat reformasi persembahan umat sebagai ketaatan melalui ucapan syukur kepada Allah dan untuk kesejahteraan bersam
Aktualisasi Kasih Allah bagi Sesama: Implementasi Pemikiran dan Praktik Pendidikan Kristiani Johann Heinrich Pestalozzi dalam Konteks Pendidikan Karakter dan Nilai
Education is sometimes understood as an attempt to share knowledge only. Students are only prepared to achieve the future in material aspects without realizing the importance of sharing life with others through good behavior. Knowledge and skills as well as knowing and feeling God's presence in life together in the family, school, church, and community need to be paid attention to and practiced. One of the participations is related to this view by rewriting the thoughts of a Christian education expert regarding the concepts and methods of learning in the implementation of education. This article discusses the participation of Johann Heinrich Pestalozzi in Christian education learning, with the aim of preparing and developing basic theological and psychological concepts so that the nature and objectives of learning are implemented in their context. The research method is qualitative with research procedures that make use of descriptive data. After going through a critical study, the results of this article are used as a rationale in practicing Christian education learning for the lives of the people.AbstrakPendidikan terkadang dipahami sebagai usaha untuk membagikan pengetahuan saja. Peserta didik hanya dipersiapkan untuk mencapai masa depan dalam aspek materi saja tanpa kesadaran pentingnya hidup berbagi dengan sesama melalui perilaku yang baik. Pengetahuan dan keterampilan serta mengenal dan merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan bersama baik di keluarga, sekolah, gereja dan masyarakat perlu diperha-tikan dan dipraktikkan. Salah satu partisipasi yang dilakukan berhubungan dengan pandangan ini dengan menuliskan kembali pemikiran seorang ahli pendidikan Kristia-ni mengenai konsep dan metode pembelajaran dalam pelaksanaan pendidikan. Artikel ini untuk membahas partisipasi Johann Heinrich Pestalozzi dalam pembelajaran pen-didikan Kristiani, dengan tujuan mempersiapkan dan membangun konsep dasar teo-logis dan psikologis, sehingga hakikat dan tujuan pembelajaran terimplementasi dalam konteksnya. Metode penelitian adalah kualitatif dengan prosedur riset yang meman-faatkan data deskriptif. Setelah melalui kajian kritis, hasil dari artikel ini digunakan sebagai dasar pemikiran dalam mempraktikkan pembelajaran pendidikan Kristiani bagi kehidupan umat
Sakralitas Burung Enggang dalam Teologi Lokal Masyarakat Dayak Kanayatn
This article aims to explore the culture of the Dayak Kanayatn people regarding the rituals and sacredness of hornbills. Retrieval of data using qualitative research with the ethnography method, through interview techniques, observation, documentary studies, and literature studies. The community makes hornbills a sacred symbol. This attitude can be seen when the community carries out Karana traditional rituals as an implementation of local theology and narrates them in dances, carvings, carvings, and traditional clothing attributes. Through rituals, the community believes that the hornbill is a link between heaven (subayatn) and the world that brings people to death (pidara) into eternity. Hornbills have a significant influence on the Kanayatn Dayak indigenous people because they contain noble values. Everything related to hornbills, including their lifestyle, natural seed dispersers, forest guards, physical beauty, has become sacred to the Kanayatn Dayak community. This study concludes that the hornbill is a sacred symbol in local theology and capital of social integration for the Kanayatn Dayak community.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi budaya masyarakat Dayak Kanayatn tentang ritual dan sakralitas burung Enggang. Pengambilan data menggunakan penelitian kualitatif dengan metode ethnografi dan nethnografi, melalui teknik wawancara, observasi, studi dokumenter dan studi pustaka. Masyarakat menjadikan burung Enggang sebagai simbol sakral. Sikap tersebut terlihat ketika masyarakat melaksanakan ritual adat Karana sebagai implementasi teologi lokal, serta menarasikannya dalam tarian, ukiran, pahatan dan atribut pakaian adat. Melalui ritual masyarakat meyakini bahwa burung Enggang sebagai penghubung surga (subayatn) dan dunia. Burung Enggang yang membawa orang meninggal (pidara) masuk kekekalan. Burung Enggang memberi pengaruh yang signifikan bagi masyarakat adat Dayak Kanayatn karena mengandung nilai-nilai yang luhur. Segala sesuatu yang berhubungan dengan burung Enggang baik pola hidup, pemencar biji alami, penjaga hutan, keindahan fisik, menjadi sakral bagi masyarkat Dayak Kanayatn. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Burung Enggang adalah simbol sakral dalam teologi lokal dan modal integrasi sosial bagi masyarakat Dayak Kanayatn
Lansia dalam Pandangan Lansia: Kajian Sosio-Teologis Relevansi Pelayanan Gereja di Jemaat GMIT Efata, Soe
Penelitian ini hendak mengemukakan dua hal pokok yaitu pemahaman jemaat lanjut usia di jemaat GMIT Efata Soe atas dirinya sendiri di masa lanjut usia serta pokok pikiran yang relevan bagi pelayanan jemaat lanjut usia berdasarkan keberadaan jemaat lansia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Data dalam penelitian ini didapatkan dengan metode observasi, pustaka, dan wawancara. Metode Purposive Sampling merupakan metode yang digunakan dalam memperoleh sampel penelitian. Berdasarkan penelitian ini dapat diketahui bahwa jemaat lansia di GMIT Efata Soe memiliki pemahaman pribadi atas dirinya di masa lanjut usia dan mengharapkan pelayanan yang lebih luas dan mendalam secara khusus dari pelayan di GMIT Efata Soe. GMIT Efata Soe termasuk di dalamnya para pelayan merasa bertanggung jawab atas pelayanan kepada jemaat lansia dan masih selalu mengusahakan pelayanan yang lebih baik kepada jemaat lansia
Pargodungan dan Pembangunan Jemaat HKBP yang Transformatif: Sebuah Kajian Eklesiologis-Historis
Sejak tahun 2020 pandemi COVID-19 menyebar begitu cepat di seluruh dunia dan menghantam aspek penting dalam kehidupan jemaat (masyarakat). Berangkat dari hal tersebut penulis memandang bahwa dengan menghidupkan kembali fungsi pargodungan sebagai pusat transformasi jemaat melalui rekonstuksi imajinatif pargodungan, Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dapat terus melakukan pembangunan jemaat pada masa krisis dan paska krisis. Rekonstuksi imajinatif pargodungan menggunakan lensa eklesiologi historis yang menjadi alat ukur untuk menelisik sekaligus mengkaji ulang teologi dan misi pargodungan pada masa lalu. Pargodungan adalah kompleks gereja yang menjadi pusat (pangkalan) pekabar Injil untuk melakukan berbagai upaya menghadirkan transformasi bagi masyarakat Batak melalui berbagai pelayanan di dalam gereja, sekolah, dan rumah sakit. Bertolak dari hal tersebut penulis menawarkan model pargodungan yang kembali melaksanakan fungsinya sebagai ruang bersama bagi pembangunan jemaat melalui peningkatan ekonomi, pendamping pendidikan di sekolah, dan penyedia ruang isolasi mandiri bagi warga jemat penderita virus COVID-19. Â
Merawat Harmonisasi Kehidupan Beragama dan Berbangsa Melalui Internalisasi Nilai-nilai Pancasila di Lembaga Pendidikan Teologi
The pace of technological progress today is able to make the world's life so beautiful and fun to live. Various living facilities form a complete,..