UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta: E-Journal Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum
Not a member yet
1161 research outputs found
Sort by
Revealing the Barriers to Women's Political Participation in Uzbekistan
This article examines the structural barriers that continue to hinder women's political participation in Uzbekistan, focusing on socio-cultural, socio-economic, legal, and security-related challenges. Despite progress in education and employment, systemic discrimination, entrenched gender norms, and institutional constraints continue to limit women's access to political leadership and decision-making roles. This study explores the pathways to political representation and the extent to which women’s political agency is shaped by external pressures and internal institutional resistance. The article argues that while policy reforms and legal frameworks are necessary, they remain insufficient without broader institutional and societal transformation. It highlights that collective action, institutional support, and a sustained shift in public perception are crucial for breaking down the barriers to women’s political leadership. Drawing on qualitative research and survey data, the study underscores the intersection of legislative change, financial and mobility constraints, and gendered expectations, illustrating how these factors shape women's participation in governance. The research contributes to the discourse on political gender equity by examining how systemic forces interact with women’s leadership trajectories. It calls for a paradigm shift that extends beyond numerical representation toward meaningful political inclusion, ensuring that women not only enter political spaces but also exercise real influence in decision-making.
[Artikel ini mengkaji hambatan-hambatan struktural yang terus menghalangi partisipasi politik perempuan di Uzbekistan, dengan fokus pada tantangan sosial-budaya, sosial-ekonomi, hukum, dan keamanan. Meskipun terdapat kemajuan di bidang pendidikan dan ketenagakerjaan, diskriminasi sistemik, norma gender yang mengakar, serta kendala kelembagaan tetap membatasi akses perempuan terhadap kepemimpinan politik dan peran pengambilan keputusan. Kajian ini menelusuri jalur menuju representasi politik serta sejauh mana agensi politik perempuan dibentuk oleh tekanan eksternal dan resistensi internal dari institusi. Artikel ini berpendapat bahwa meskipun reformasi kebijakan dan kerangka hukum diperlukan, keduanya masih belum memadai tanpa adanya transformasi kelembagaan dan sosial yang lebih luas. Penelitian ini menegaskan bahwa aksi kolektif, dukungan institusional, dan perubahan berkelanjutan dalam persepsi publik merupakan kunci untuk meruntuhkan hambatan terhadap kepemimpinan politik perempuan. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan data survei, kajian ini menyoroti keterkaitan antara perubahan legislatif, hambatan finansial dan mobilitas, serta ekspektasi berbasis gender, dan menunjukkan bagaimana faktor-faktor tersebut membentuk partisipasi perempuan dalam tata kelola pemerintahan. Penelitian ini berkontribusi pada diskursus kesetaraan gender dalam politik dengan mengkaji interaksi antara kekuatan-kekuatan sistemik dan perjalanan kepemimpinan perempuan. Artikel ini menyerukan perubahan paradigma yang melampaui representasi numerik menuju inklusi politik yang bermakna, sehingga perempuan tidak hanya memasuki ruang politik, tetapi juga memiliki pengaruh nyata dalam pengambilan keputusan.]
Reforming the Legal Framework of Notary Supervision in Indonesia: Towards a Digital Governance Model
The supervision of notaries in Indonesia remains conventional, mainly relying on manual, hierarchical, and fragmented mechanisms that hinder transparency, efficiency, and accountability. In contrast, many jurisdictions have restructured their professional oversight through digital governance systems to promote integrity and responsiveness in public services. Although Law No. 30 of 2004 and Law No. 2 of 2014 provide a normative foundation for notary supervision, Indonesia lacks operational mechanisms and digital integration consistent with global governance standards. Reforming this system has therefore become crucial to align national practices with international developments in digital legal oversight. This study employs a normative juridical method combined with conceptual and comparative approaches. Legal materials, including statutory provisions, academic journals, and institutional reports, were analyzed to identify structural and normative weaknesses. Comparative insights from the Netherlands, Germany, and the United States reveal that digital supervision enhances transparency, professional ethics, and institutional accountability. The findings show that Indonesia’s three-tier supervisory structure—MPD, MPW, and MPP—is legally established but technologically outdated. This research proposes a digital governance model for notary supervision integrating electronic supervision, real-time data reporting, and inter-institutional connectivity. Embedding responsive law principles, the model contributes to the global discourse on digital legal governance by providing a context-sensitive framework for modernizing professional oversight in developing legal systems
Procedural Efficiency vs Legal Certainty in Islamic Finance Disputes: A Maṣlaḥah and Saddu Al-Żarī’ah Analysis
Abstract: The resolution of Islamic economic disputes involving land collateral without mortgage titles reveals a persistent tension between procedural efficiency and the certainty of creditor protection. This study examines patterns in Indonesian Religious Court rulings through a case study of Sumenep No. 1/Pdt.G.S/2020/PA.Smp, combining a normative analysis of statutory and judicial regulations with an empirical reading of the court decision. The findings indicate a strong pro-efficiency orientation: simplified claims are accepted, contract validity is upheld based on Article 1320 of the Civil Code, and access to justice for small-value disputes is expanded. However, this also weakens the creditor’s legal position, as non-mortgage collateral does not provide executorial title or preferential rights. The mapping confirms a regulatory gap concerning non-mortgage collateral in Islamic economic transactions and inconsistent judicial reasoning across cases. The maṣlaḥah mursalah framework evaluates the benefits of procedural acceleration as legitimate only when it does not erode execution certainty, while saddu al-żarī‘ah emphasizes closing potential harm channels, such as opportunistic debtor behavior and increased financing costs. Policy recommendations include harmonizing the Mortgage Law, the Indonesian Religious Courts Law, and simplified claim procedures; drafting national technical guidelines for judges on verifying non-mortgage collateral and formulating enforceable judgments; and strengthening Sharia governance to ensure uniform standards of evidence, oversight, and transparency. This synergy aims to reconcile the principle of simple, fast, and low-cost justice with transaction certainty, thereby protecting both access to justice and creditor rights.
Abstrak: Penyelesaian sengketa ekonomi syariah yang melibatkan jaminan tanah tanpa Hak Tanggungan menampilkan ketegangan antara efisiensi prosedur dan kepastian perlindungan bagi kreditur. Kajian ini menelusuri pola putusan Pengadilan Agama melalui studi kasus Sumenep No. 1/Pdt.G.S/2020/PA.Smp, memadukan telaah normatif atas undang-undang dan regulasi peradilan dengan pembacaan empiris terhadap putusan. Temuan menunjukkan orientasi pro-efisiensi yakni gugatan sederhana diterima, keabsahan perjanjian ditegakkan berdasar Pasal 1320 KUH Perdata, dan akses keadilan bagi nilai sengketa kecil meningkat. Konsekuensinya, posisi kreditur melemah karena agunan non-Hak Tanggungan tidak menghadirkan titel eksekutorial maupun hak preferen. Pemetaan menegaskan kekosongan pengaturan teknis tentang agunan non-HT di ranah ekonomi syariah dan variasi pertimbangan yudisial antarperkara. Kerangka maṣlaḥah mursalah menilai kemanfaatan percepatan proses hanya sahih bila tidak menggerus kepastian eksekusi, sedangkan saddu az-żarī’ah menuntut penutupan celah yang membuka peluang mudarat seperti perilaku oportunistik debitur dan lonjakan biaya pembiayaan. Rekomendasi diarahkan pada harmonisasi UU Hak Tanggungan, UU Peradilan Agama, dan ketentuan gugatan sederhana, penyusunan pedoman teknis nasional bagi hakim terkait verifikasi jaminan non-HT serta amar eksekusi yang operasional, dan penguatan tata kelola syariah agar standar pembuktian, pengawasan, dan transparansi seragam. Sinergi ini diharapkan menyatukan asas sederhana-cepat-biaya ringan dengan kepastian transaksi jaminan, sehingga akses dan hak kreditur sama-sama terlindungi
Ribā in The Qur’an and The Bible: Comparative Legal-Ethical Perspectives on Economic Justice
Abstract: The prohibition of ribā is a classic issue across religious traditions and remains relevant in contemporary debates on financial practice. This study aims to reinterpret the prohibition of ribā in the Qur’an and the Bible in order to formulate ethical and legal criteria applicable to modern financial instruments. Ma’na-cum-maghza is used as an approach to reinterpret the meaning of riba.. The first stage reconstructs the textual and contextual meanings of key verses. The second stage builds an analytic bridge through classical and modern exegetical findings. The third stage articulates the substantive message (maghzā) as a basis for evaluating financial practices. The findings show that the ethical core of the prohibition of ribā lies in the principle of neither wronging others nor being wronged. This principle rejects forms of interest or gain that are exploitative and that unduly burden debtors, while preserving the specificity of ribā as an ethical and legal category that cannot be reduced to a flat equivalence with interest. The study proposes practical indicators for assessing the ethical validity of contracts, which include fairness in exchange, proportionality between risk and return, protection of vulnerable parties, prevention of burdensome debt spirals, and transparency of information and costs. These results reaffirm the orientation of maqāṣid al-sharīʿah, with particular emphasis on the protection of wealth, and offer a cross-scriptural evaluative framework that can be adopted in the design of contemporary Islamic financial contracts and policies.
Abstrak: Larangan riba merupakan isu klasik lintas tradisi agama yang tetap relevan dalam diskusrsus praktik keuangan modern. Penelitian ini bertujuan menafsirkan ulang larangan riba dalam Al-Qur’an dan Alkitab untuk merumuskan kriteria etik-legal yang relevan bagi instrumen keuangan kontemporer. Metode yang digunakan adalah pendekatan hermeneutik maʿna cum maghzā untuk menafsirkan ulang maksud riba. Tahap pertama berupa rekonstruksi makna tekstual dan kontekstual atas ayat kunci. Tahap kedua berupa jembatan analitik melalui temuan tafsir dan komentar klasik serta modern. Tahap ketiga berupa perumusan pesan substantif (maghzā) sebagai dasar evaluasi praktik keuangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inti etis larangan riba terletak pada prinsip tidak menzalimi dan tidak dizalimi. Prinsip ini menolak bentuk bunga atau keuntungan yang bersifat eksploitatif dan yang memperberat beban debitur, serta tetap menjaga kekhasan ribā sebagai kategori etika dan hukum yang tidak dapat disamakan secara sederhana dengan istilah bunga. Studi ini menghasilkan indikator praktis untuk menilai keabsahan etis suatu kontrak yang mencakup keadilan pertukaran, proporsionalitas antara risiko dan imbal hasil, perlindungan bagi pihak yang rentan, pencegahan penggandaan utang yang memberatkan, serta transparansi informasi dan biaya. Temuan ini menegaskan orientasi maqāṣid asy-syarīʿah dengan penekanan pada perlindungan harta serta menawarkan kerangka evaluatif lintas teks suci yang dapat diadopsi dalam perancangan kontrak dan kebijakan keuangan syariah masa kini
The Controversy over the Registration of Interfaith Marriages: A Conflict between Human Rights and Islamic Law
This article examines the emerging judicial trend in Indonesia concerning the registration of interfaith marriages, particularly through the application of the concept of submission to a single religious law. On the one hand, this practice is often justified as an effort to accommodate human rights and administrative legal certainty. On the other hand, it raises fundamental normative tensions with Islamic law. This study takes as its primary case the Decision of the Yogyakarta District Court Number 378/Pdt.P/2022/PN.Yyk. Employing a qualitative legal research method, the study analyzes official court documents and relevant statutory regulations, jurisprudence, and scholarly literature. The findings reveal that the authorization of interfaith marriage registration by civil courts is largely based on jurisprudence developed by the Supreme Court, which recognizes the validity of such marriages when one party submits to the religious law of the other. This approach has been further institutionalized through an official circular letter issued by the Supreme Court. However, from the perspective of Islamic jurisprudence (fiqh), this concept is highly problematic. Islamic law adheres to the principle that the original legal status of marriage is prohibition, and permissibility arises only when all substantive and formal religious requirements are fulfilled. Consequently, the performance or registration of a marriage outside Islamic law cannot replace its normative authority. An interfaith union involving a Muslim that is not solemnized according to Islamic law cannot be regarded as a valid marriage, but merely as a biological relationship without legitimate marital status.
Artikel ini mengkaji kecenderungan yudisial yang berkembang di Indonesia terkait pencatatan perkawinan beda agama, khususnya melalui penerapan konsep ketundukan pada satu hukum agama. Di satu sisi, praktik ini kerap dibenarkan sebagai upaya untuk mengakomodasi hak asasi manusia dan menjamin kepastian hukum administrasi. Namun, di sisi lain, praktik tersebut menimbulkan ketegangan normatif yang mendasar dengan hukum Islam. Penelitian ini menggunakan Putusan Pengadilan Negeri Yogyakarta Nomor 378/Pdt.P/2022/PN.Yyk sebagai studi kasus utama. Dengan menggunakan metode penelitian hukum kualitatif, kajian ini menganalisis dokumen putusan pengadilan, peraturan perundang-undangan yang relevan, yurisprudensi, serta literatur ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian izin pencatatan perkawinan beda agama oleh pengadilan sipil terutama didasarkan pada yurisprudensi yang dikembangkan oleh Mahkamah Agung, yang mengakui keabsahan perkawinan tersebut apabila salah satu pihak tunduk pada hukum agama pihak lainnya. Pendekatan ini selanjutnya dilembagakan melalui surat edaran resmi Mahkamah Agung. Namun demikian, dari perspektif fikih, konsep tersebut dipandang bermasalah. Hukum Islam menganut prinsip bahwa status hukum asal perkawinan adalah terlarang, dan kebolehan baru muncul apabila seluruh syarat substantif dan formal keagamaan terpenuhi. Oleh karena itu, pelaksanaan atau pencatatan perkawinan di luar hukum Islam tidak dapat menggantikan otoritas normatifnya. Perkawinan beda agama yang melibatkan seorang Muslim dan tidak dilangsungkan sesuai dengan hukum Islam tidak dapat dianggap sebagai perkawinan yang sah, melainkan semata-mata sebagai hubungan biologis tanpa ikatan perkawinan yang sah
The Structural Transformation of Land Administration Institutions in Aceh Province within the Framework of Public Land Administration Services Based on the General Principles of Good Governance (AAUPB)
This study examines the structural changes in land administration institutions in Aceh Province within the framework of land administration services based on the General Principles of Good Governance (AAUPB). The background of this research lies in Aceh’s special autonomy status, which grants authority over land management under Law Number 11 of 2006 concerning the Governance of Aceh. The research method applied is normative juridical, employing a statutory approach, a conceptual approach, and supported by interviews with relevant stakeholders. The findings indicate that the structural change positions the Aceh Land Agency (Dinas Pertanahan Aceh) as responsible for policy formulation and customary land management, while the Aceh branch of the National Land Agency (BPN Aceh) focuses on technical services such as land registration. The implementation of AAUPB principles—such as legal certainty, transparency, and accountability—has been applied, although challenges remain, including regulatory disharmony and limited integration of information systems. The study recommends accelerating the enactment of the Aceh Land Qanun, harmonizing regulations, and digitalizing land services.
Keywords: Institutional Change, Land Administration, Aceh, AAUPB, Aceh Land Qanu
Implementasi Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 970/Kep.154-Bapenda/2025 Tentang Pembebasan Tunggakan Atas Pokok Dan Denda Pajak Kendaraan Bermotor Di Kota Bandung Perspektif Siyasah Dusturiyah
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 970/Kep.154-Bapenda/2025 yang mengatur tentang pembebasan tunggakan atas pokok dan denda pajak kendaraan bermotor di Kota Bandung, serta meninjaunya dalam perspektif Siyasah Dusturiyah (politik ketatanegaraan Islam). Kebijakan ini hadir sebagai respon atas rendahnya tingkat kepatuhan wajib pajak dan menumpuknya tunggakan pajak kendaraan di wilayah Jawa Barat, khususnya Kota Bandung. Dalam pelaksanaannya, wajib pajak diberikan insentif berupa pembebasan seluruh tunggakan dan denda hingga tahun 2024, dengan syarat membayar pajak tahun berjalan (2025) dalam periode yang ditentukan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui studi dokumentasi, wawancara, dan observasi langsung di beberapa titik pelayanan Samsat, baik offline maupun digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara administratif, kebijakan ini telah diterapkan melalui berbagai kanal layanan publik seperti Samsat Induk, Drive Thru, Samsat Keliling, serta aplikasi digital (Sambara dan SIGNAL). Namun, sosialisasi masih belum merata dan cenderung minim di kalangan masyarakat kelas bawah. Dari perspektif Siyasah Dusturiyah, kebijakan ini mencerminkan prinsip maslahah (kemaslahatan umum) dan taqnin (regulasi) dalam pemerintahan Islam, di mana penguasa diberi wewenang untuk menetapkan kebijakan fiskal demi keadilan sosial dan kemudahan rakyat. Di sisi lain, pelaksanaan yang belum optimal menunjukkan perlunya peningkatan pada aspek komunikasi publik, evaluasi kebijakan, serta konsistensi penegakan hukum pasca berakhirnya masa pemutihan.Penelitian ini merekomendasikan agar Pemerintah Provinsi Jawa Barat, khususnya BAPENDA dan instansi terkait, lebih aktif melakukan sosialisasi terpadu, penguatan sistem digital, dan pengawasan terhadap pelaksanaan lapangan, agar kebijakan ini benar-benar menjadi instrumen efektif dalam meningkatkan kepatuhan pajak dan mendorong stabilitas fiskal daerah secara berkelanjutan
Budaya dan Infrastruktur Aturan Agama Islam dalam Implementasi Program Bimbingan Perkawinan di KUA Kecamatan Kayen Kabupaten Pati
The marriage guidance program is presented as a solution to the rampant conflict of divorce. For this reason, the Ministry of Religious Affairs through the Decree of the Director General of Islamic Guidance Number 379 of 2018 instructs that every prospective couple who will carry out a marriage must first take part in a marriage guidance program as a step in realizing an ideal family. Considering the implementation of the marriage guidance program at the Kayen Sub-district KUA with two different models, the researcher is interested in examining a main problem, namely how is the culture and infrastructure of Islamic religious rules in the marriage guidance program at the Kayen KUA in Pati Regency? This research is a field research with a qualitative type and uses an empirical juridical approach. Data collection techniques in this research are observation, interview, and documentation. This research is sourced from primary and secondary data. Furthermore, the data is described, elaborated, and analyzed descriptively analytically. The results of this study contain several conclusions, 1) There already exists Islamic religious rules, but the obedience of the Muslim community to a rule is still lacking, resulting in the culture of Islamic religious rules in the Kayen District area is still considered to be minimal. The lack of culture is caused by the massive lack of KUA and Muslim community leaders in socializing the rules regarding marriage guidance so that they are actually obeyed, and consider that marriage guidance is a very important thing, 2) Without certain infrastructure or facilities, it is impossible for the enforcement of Islamic religious rules to run smoothly. These facilities include, among others, educated and skilled human resources (human resources/ KUA staff), good organization (KUA), adequate equipment (marriage guidance venues and other facilities), sufficient finances, and so on.
Program bimbingan perkawinan hadir menjadi solusi dari maraknya konflik perceraian. Oleh karena itu Kementerian Agama melalui Kepdirjen Bimas Islam Nomor 379 tahun 2018 menginstruksikan bahwa setiap pasangan calon pengantin yang akan melaksanakan perkawinan, terlebih dahulu harus mengikuti program bimbingan perkawinan sebagai langkah dalam mewujudkan keluarga yang ideal. Melihat pelaksanaan program bimbingan perkawinan di KUA Kecamatan Kayen dengan dua model yang berbeda, peneliti tertarik untuk mengkaji suatu pokok permasalahan yaitu bagaimana budaya dan infrastruktur aturan agama Islam dalam program bimbingan perkawinan di KUA Kayen Kabupaten Pati? Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan jenis kualitatif dan menggunakan pendekatan yuridis empiris. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini bersumber dari data primer dan sekunder. Selanjutnya, data tersebut digambarkan, diuraikan, dan dianalisis secara deskriptif analitis. Hasil dari penelitian ini mengandung beberapa kesimpulan, 1) Sudah adanya aturan agama Islam, namun ketaatan masyarakat muslim terhadap sebuah aturan masih minim, sehingga mengakibatkan budaya aturan agama Islam di wilayah Kecamatan Kayen masih dianggap minim. Kurangnya budaya tersebut disebabkan oleh tidak masifnya KUA dan para tokoh masyarakat muslim dalam mensosialisasikan aturan mengenai bimbingan perkawinan agar benar-benar ditaati, dan menganggap bahwa bimbingan perkawinan adalah suatu hal yang sangat penting, 2) Tanpa adanya infrastruktur atau fasilitas tertentu, maka tidak mungkin penegakan aturan agama Islam akan berlangsung dengan lancar. Sarana atau fasilitas tersebut, antara lain mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil (SDM/ Kepegawaian KUA), organisasi yang baik (KUA), peralatan yang memadai (tempat bimbingan perkawinan dan fasilitas yang lain), keuangan yang cukup, dan seterusnya
Fiqih Minoritas: Pemikiran Nadirsyah Hosen Tentang Penyelenggaraan Sholat Jumat
Fikih minoritas dikembangkan sebagai sarana membantu Muslim minoritas guna melindungi hak-hak mereka, mencari solusi masalah yang mereka hadapi dengan diproyeksikan berdasarkan prinsip maslahah dan maqashid syariah. Penelitian ini fokus pada pemikiran Prof. Nadir tentang persoalan salat jumat di negara Muslim minortas yang dapat menjadi pilihan pijakan hukum umat Islam minoritas di Australia. Dimana dalam menghadapi situasi di negara Muslim minoritas seorang Muslim diperbolehkan menggabungkan beberapa pendapat mujtahid untuk diaplikasikan bersama guna memberi kemudahan dalam beribadah. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan yang bersifat kualitatif dengan beberapa pendekatan istislahy. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis dengan menggunakan sumber data yang terdiri dari buku dan artikel dengan pembahasan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi dokumen, sedangkan teknik analisisnya menggukanan teknik yang mengacu pada konsep analisis data kualitatif. Hasil yang dicapai bahwa dalam konteks Muslim minoritas, Prof. Nadir membolehkan umat Muslim untuk bertalfiq. Adanya udzur seorang Muslim diperbolehkan untuk mengambil rukhsoh (keringanan) demi mewujudkan kemaslahatan sebagai tujuan syariat Islam (maqasidus syariah) dan menghindari dalam melalaikan salat Jumat. Keadaan di negara Muslim minoritas dianggap sebagai udzur yang menyebabkan diperbolehkannya penerapan hukum talfiq. Selama tidak memanjakan umat Islam untuk mengambil pendapat yang ringan-ringan saja dan tidak akan menimbulkan ‘main-main’ di dalam hukum agama maka talfiq diperbolehkan. Talfiq ini dapat menjadi lompatan paradigma yang progresif dan relevan diterapkan di negara Muslim minoritas. Dalam talfiq tidak terdapat fanatisme bermadzhab justru malah menekankan pada inklusivitas, dan akomodasi dari hasil-hasil ijtihad para mujtahid
Tinjauan Maqashid Syariah Terhadap Peran Fintech dalam Pembayaran Qris Bagi Umkm Di Dusun Sapen Desa Demangan Yogyakarta
Peran teknologi finansial dalam mendorong adopsi QRIS di kalangan UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) di Dusun Sapen. Usaha kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia menghadapi kesulitan dalam beradaptasi dengan metode pembayaran non-tunai di era digitalisasi yang semakin berkembang. QRIS, solusi pembayaran yang mudah dan efisien, memungkinkan UMKM untuk meningkatkan aksesibilitas dan daya saing mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan penelitian lapangan (field research) dengan melakukan wawancara mendalam dengan pelaku UMKM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fintech berperan sebagai penghubung antara teknologi dan UMKM dengan menawarkan edukasi, sosialisasi, dan kemudahan akses ke sistem pembayaran digital. Meskipun penggunaan QRIS meningkatkan inklusi keuangan dan kecepatan transaksi, isu-isu seperti kurangnya pengetahuan keuangan dan kemungkinan penipuan masih perlu diatasi. Studi ini menyarankan peningkatan literasi digital dan keuangan, serta dukungan dari pemerintah dan penyedia layanan untuk memperkuat adopsi QRIS di kalangan UMKM. Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan adopsi QRIS dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi lokal dan daya saing UMKM di tingkat nasional.
The role of financial technology in driving QRIS adoption among MSMEs (Micro, Small and Medium Enterprises) in Sapen Hamlet. Small and medium enterprises (MSMEs) in Indonesia face difficulties in adapting to cashless payment methods in the growing era of digitalization. QRIS, an easy and efficient payment solution, enables MSMEs to improve their accessibility and competitiveness. This research uses a qualitative method of field research approach by conducting in-depth interviews with MSME players. The results show that fintech acts as a link between technology and MSMEs by offering education, socialization, and easy access to digital payment systems. While the use of QRIS increases financial inclusion and transaction speed, issues such as lack of financial knowledge and the possibility of fraud still need to be addressed. This study suggests increased digital and financial literacy, as well as support from the government and service providers to strengthen QRIS adoption among MSMEs. With such measures, it is expected that QRIS adoption can positively impact local economic growth and MSME competitiveness at the national level