E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
Policy Communication Design to Protect Women from Violence
This study examines the strategies used by the Indonesian government to address violence against women. The findings highlight various approaches: advocacy, behaviour and social communication change, social mobilization, mass media, and participatory communication. The government also supports survivors by funding shelters, enhancing hotlines, providing survivor-focused care, and disseminating information. Community engagement plays a key role in prevention efforts. Through community mobilization, the government encourages proactive measures to prevent violence and promote social norms that uphold gender equality. The study concludes that combating gender-based violence requires a comprehensive approach. This includes enforcing gender equality laws, funding women’s organizations, and addressing daily forms of discrimination. Progress in prevention strategies has been significantly influenced by programs supported by UN Women over the past decade.
Keywords: Violence against women; Women\u27s mental health; Government communication strategie
Melampaui Batas Usia: Narasi Digital dan Jembatan Budaya Antar Generasi Menuju Indonesia Emas
Artikel ini menganalisis peran narasi digital dan strategi komunikasi inovatif dalam menjembatani kesenjangan antar generasi untuk pelestarian seni dan budaya tradisional di Indonesia, esensial bagi Indonesia Emas 2045. Penelitian ini mengkaji pemanfaatan media digital, penceritaan interaktif, dan lokakarya kolaboratif sebagai jembatan efektif transmisi nilai dan apresiasi budaya dari generasi tua ke muda. Mengintegrasikan Teori Difusi Inovasi dan Komunikasi Antarbudaya/Intergenerasi, artikel ini mengidentifikasi hambatan komunikasi antar generasi dan merumuskan solusi berbasis komunikasi strategis. Melalui studi pustaka mendalam, temuan menunjukkan bahwa inovasi komunikasi adalah fondasi utama keberlanjutan budaya di era digital.
Kata Kunci: Narasi digital, komunikasi antar generasi, pelestarian budaya, Indonesia Emas, difusi inovasi
Dinamika Komunikasi Interpersonal dalam Kolaborasi Seni Pertunjukan Tungkot Malehat: Peran Musisi, Penari, dan Masyarakat Simalungun
Tungkot Malehat merupakan seni pertunjukan yang mengalami transformasi dari ritual sakralmenjadi hiburan budaya di Simalungun. Studi ini mengkaji dinamika komunikasi interpersonal di antara musisi, penari, dan masyarakat dalam proses kolaborasi pertunjukan. Dengan pendekatan kualitatif, data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan komunikasi interpersonal berlangsung dalam pola verbal dan nonverbal yang kompleks, mencakup negosiasi makna, adaptasi peran, serta proses konsensus kreatif. Komunikasi interpersonal inimenjadi fondasi keberhasilan pertunjukan, mempertahankan esensi budaya sambil membuka ruang inovasi. Studi ini merekomendasikan penguatan ruang dialog antar pelaku seni untuk keberlanjutan transformasi budaya yang adaptif.
Kata kunci: komunikasi interpersonal, Tungkot Malehat, seni pertunjukan, kolaborasi buday
Penerapan Metode Sensasi untuk Pelatihan Musik Inklusif: Studi Kasus di Art Therapy Center Widyatama
Penelitian ini mengidentifikasi efektivitas komunikasi pengajar dalam menyampaikan instruksi kepada peserta pelatihan berkebutuhan khusus melalui penerapan Metode Sensasi. Metode ini menggabungkan stimulus natural, yakni respons spontan terhadap elemen musikal seperti warna suara, ritme, dan gerak, dengan stimulus bentukan yang disusun secara bertahap dan terstruktur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus terhadap tiga peserta pelatihan di Art Therapy Center Widyatama yang memiliki hambatan belajar, kondisi borderline, dan spektrum autisme. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara semi terstruktur, dan dokumentasi audiovisual, lalu dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan peningkatan konsentrasi, keterlibatan tubuh, pemahaman struktur lagu, serta kesiapan tampil. Komunikasi pengajar lebih efektif dan respons peserta lebih aktif. Stimulus natural membangun motivasi dan mengaktifkan ingatan musikal, sedangkan stimulus bentukan meningkatkan performa. Teori multisensori mendukung penyesuaian pendekatan terhadap kebutuhan peserta.
Kata Kunci: metode sensasi; pelatihan musik inklusif; disabilitas; stimulus natural; stimulus bentuka
KRISIS REGENERASI SENIMAN MUDA (STUDI KASUS DI DESA CIRAWAMEKAR, KABUPATEN BANDUNG BARAT)
Tantangan pelestarian budaya tradisional di Desa Cirawamekar,Kabupaten Bandung barat, dengan fokus pada pengaruh Generasi Zterhadap kesenian tradisional. Budaya, yang meliputi aspek-aspekseperti agama, bahasa, seni, dan teknologi, sering dibagi menjadibudaya tradisional dan populer. Budaya tradisional yang pentingbagi identitas bangsa Indonesia kini terancam oleh pergeseranminat generasi muda terhadap budaya populer. Generasi Z yangmerupakan kelompok dominan di Indonesia lebih menyukai budayapopuler, termasuk dalam hal pakaian, makanan, dan bersosialisasi.Penelitian ini menggunakan metode campuran untuk mengumpulkandan menganalisis data kuantitatif dan kualitatif, termasuk observasi,wawancara, dan tinjauan pustaka, untuk menilai efektivitas strategipelestarian budaya di Kabupaten Bandung barat dan desa Cirawamekar.Temuan menunjukkan bahwa pengetahuan dan keterampilangenerasi muda terhadap seni tradisional masih minim, dengan hanyasedikit pemuda yang aktif terlibat dalam paguron pencak silat danhampir tidak ada sanggar seni. Sosialisasi seni tradisional di sekolahjuga belum optimal, dan banyak pemuda yang lebih tertarik denganbudaya barat. Studi ini menyimpulkan bahwa inkulturasi dan strategisosialisasi yang lebih efektif diperlukan untuk mempertahankan senitradisional. Kesadaran akan nilai-nilai budaya dan pendidikan formalyang relevan juga perlu ditingkatkan untuk melestarikan budaya lokal
METODE CANTRIK SEBAGAI MODEL PENDIDIKAN SENI RUPA DI SENTRA SENI TRADISI JAWA BARAT
Metode cantrik tidak hanya menekankan penguasaan keterampilan teknis, tetapi juga pada penyerapan nilai, etika, dan filosofi hidup masyarakat yang khas (Linnaja & El Syam, 2025). Pembelajaran dilakukan dalam konteks kehidupan sehari-hari, sehingga cantrik tidak hanya memperoleh ilmu seni, tetapi juga menginternalisasi cara hidup, nilai-nilai sosial, dan kedalaman spiritual yang menjadi bagian integral dari praktik seni tradisi (Prabowo & Subiyantoro, 2002). Meskipun metode ini masih dapat ditemukan di beberapa sentra seni tradisi, sistem ini belum terdokumentasikan dengan baik dan belum dioptimalkan sebagai model pendidikan yang dapat dikembangkan secara sistematis. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam pengembangan pendidikan seni berbasis kearifan lokal yang dapat menjawab tantangan zaman
PENCAK SILAT SEBAGAI MEDIA EDUKASI DALAM PROSES KREATIF PENCIPTAAN KARYA TARI KONTEMPORER “TUBUH SILAT”
Pencak Silat menjadi salah satu kekuatan seni budaya Indonesia yang selalu hadir pada setiap generasi. Pada tahun 2019 Pencak Silat mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai warisan budaya takbenda. Pencak Silat sebagai salah satu seni beladiri khas Indonesia yang telah mengakar cukup lama, tidak hanya dikenal sebagai seni beladiri, tetapi juga sebagai bagian dari warisan budaya yang turun temurun dari generasi ke generasi. Selain sebagai bentuk fisik dari kebudayaan, Pencak Silat juga memiliki nilai-nilai budaya yang dalam, seperti kebersamaan, disiplin, penghornatan terhadap sesama, dan banyak lagi nilai-nilai kehidupan yang terkandung didalamnya. Melalui pelatihan Pencak Silat, generasi muda dapat mempelajari tidak hanya teknik bertarung, tetapi juga moralitas, keberanian, tanggung jawab. Hal ini membuat Pencak Silat bukan hanya sebagai sebuah seni bela diri, tetapi juga sebagai edukasi. Pengakuan UNESCO memberi dorongan besar bagi pelestarian dan pengembangan Pencak Silat sebagai bagian dari warisan budaya Indonesi
PERAN MAHASISWA DALAM MENUMBUHKAN POTENSI KEWIRAUSAHAAN DI LINGKUNGAN KAMPUS FSRD ISBI BANDUNG
Perkembangan teknologi informasi saat ini berkembang semakin cepat, pesat dan dinamis, yang menjadikan fokus kelulusan mahasiswa juga dituntut untuk bersinergi dengan perkembangan zaman. Hal ini juga sejalan dengan mempersiapkan lulusan mahasiswa yang mandiri dan mampu menciptakan lapangan pekerjaannya sendiri telah menjadi fokus utama bagi perguruan tinggi. Pengembangan entrepreneur di kalangan mahasiswa bertujuan untuk mengatasi jumlah lulusan pengangguran yang terus meningkat tiap tahunnya. Oleh karenanya membangun ekosistem kewirausahaan diharapkan menghasilkan entrepreneur yang mampu menciptakan lapangan kerja dan mengurangi beban pemerintah (Hayati, Rahmadon, 2018). Mahasiswa sekarang mampu mengaktualisasikan dirinya, organisasi bahkan kampusnya melalui berbagai media sosial sehingga menjadi sangat dikenal. Secara tidak langsung mahasiswa mampu mempromosikan dirinya, dan segala sesuatu di lingkungannya untuk diketahui oleh khalayak lebih luas. Potensi ini menjadi salah satu dari banyak hal yang bisa menjadi modal bagi mahasiswa dalam memulai kewirausahaan.Potensi kewirausahaan saat ini telah menjadi perhatian utama khususnya di perguruan tinggi. Hal ini sebagai langkah dalam menjawab tantangan dan persaingan di dunia kerja setelah mahasiswa lulus dari perguruan tinggi. Menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan sebagai cara usaha yang harus diwujudkan untuk menciptakan lapangan kerja sekaligus menyerap tenaga kerja sehingga memberi dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi (Hayati, 2022; Sugiarto, 2021; Turnia et al., 2020). Dibutuhkan ide, kreatifitas, inovasi serta keinginan dalam melihat peluang untuk memulai berwirausaha. Hal ini memperlihatkan bagaimana keinginan tersebut dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya berupa tenaga kerja atau SDMnya, bahan, dan modal untuk menghasilkan sebuah produk (Andayanti & Harie, 2020)
Konten Kekerasan Simbolik pada Wacana Virtual Youtuber Indonesia
This study examines the usage of symbolic violence in the discourse of the live-stream of an Indonesian virtual youtuber (vtuber), Kanna Tamachi, using qualitative approach and post-structural discourse analysis (DA) method. The focus of this study is on textual elements of language violence used by the Vtuber and their relation to viewer in their social context. This study aims to examine the relations between the usage of symbolic violence and the viewer’s reception. Through the DA method, the linguistic elements of the Vtuber are specifically studied in relation to the language violence content. However, the violent language is studied in the context of local culture, the meanings of which are relevant to values, norms, and characteristics of the local culture. The result of this study confirms that the language violence used by the Vtuber in the context of local culture in East Java is not always negative or destructive. Instead, it provides positive and constructive value by attracting and entertaining viewers, and giving them senses of familiarity and closeness. It also provides economic value to the Vtuber through their status as commodities.Penelitian ini mengkaji penggunaan kekerasan simbolik pada wacana live streaming virtual youtuber (Vtuber) Kanna Tamachi, dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode analisis wacana post-struktural. Unsur-unsur yang dikaji adalah elemen tekstual kekerasan bahasa dari Vtuber dalam relasinya dengan viewer serta konteks sosialnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan relasi antara penggunaan kekerasan simbolik dengan penerimaan viewer. Melalui metode analisis wacana post-struktural, secara spesifik akan dikaji unsur-unsur kebahasaan dari Vtuber dalam kaitannya dengan konten kekerasan bahasa. Akan tetapi, kekerasan bahasa yang dimaksud ditempatkan di dalam konteks budaya lokal, dengan makna yang sesuai dengan nilai dan karakter budaya setempat. Berdasarkan hasil analisis, penggunaan kekerasan bahasa dalam konteks wacana budaya lokal Jawa Timur pada Vtuber tidak selalu bersifat negatif, dan destruktif. Akan tetapi justru bersifat positif dan konstruktif dalam menimbulkan daya tarik penonton, meningkatkan nilai hiburan, meningkatkan keakraban dan kedekatan, dan bahkan memberikan nilai ekonomi sebagai sebuah komodita
The Third Space in Postcolonial Architecture: Hybridity and Cultural Resistance in Singaraja
Situated within the contested terrain of colonial architectural inheritance, this article interrogates domestic hybridity in Singaraja, Bali, as a site of spatial negotiation and epistemic dissent. Mobilizing Homi Bhabha\u27s third space as both an analytic and a method, it explores how local undagi engage neoclassical forms not as passive recipients but as strategic agents of cultural rearticulation. Drawing on ethnographic immersion, architectural typology analysis, and dialogic interviews, ten heritage houses are examined as performative loci where mimicry and subversion intertwine. The study reveals that architectural hybridity emerges less as visual synthesis and more as a tactical disruption of colonial order, a vernacular counter-script enacted through space, symbolism, and ritual. In reframing architecture as a site of indigenous theorizing, the discussion foregrounds postcolonial spatiality not as peripheral to heritage discourse but central to its decolonial reorientation.Situated within the contested terrain of colonial architectural inheritance, this article interrogates domestic hybridity in Singaraja, Bali, as a site of spatial negotiation and epistemic dissent. Mobilizing Homi Bhabha\u27s third space as both an analytic and a method, it explores how local undagi engage neoclassical forms not as passive recipients but as strategic agents of cultural rearticulation. Drawing on ethnographic immersion, architectural typology analysis, and dialogic interviews, ten heritage houses are examined as performative loci where mimicry and subversion intertwine. The study reveals that architectural hybridity emerges less as visual synthesis and more as a tactical disruption of colonial order, a vernacular counter-script enacted through space, symbolism, and ritual. In reframing architecture as a site of indigenous theorizing, the discussion foregrounds postcolonial spatiality not as peripheral to heritage discourse but central to its decolonial reorientation