E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
    1925 research outputs found

    ANALISIS FILM MONSTER KARYA HIROKAZU KORE-EDA: DINAMIKA KELUARGA DAN HUBUNGAN INTERPERSONAL

    Full text link
    The film "Monster" (2023) by Hirokazu Kore-eda is a visual exploration of family dynamics and interpersonal relationships. It addresses themes of emotional complexity and the impact of social prejudice on individuals. This research analysis employs qualitative methods through artwork observation and interviews. Additionally, a literature study method is utilized to support the theoretical frameworks in film analysis. The analysis reveals that Kore-eda employs three different perspectives: a single mother, a teacher, and two boys, to illustrate how each character can be seen as a "monster" by others due to misunderstandings and biases. Kore-eda also critiques heteronormative norms and homophobia in Japanese society through recurring narratives and shifts in perspective. This film invites viewers to reflect on the meanings of family, love, and acceptance within the context of complex human relationships, encouraging us to learn how not to become "monsters" to others

    OBJEKTIFIKASI PEREMPUAN DALAM FILM I SPIT ON YOUR GRAVE DAN MARLINA SI PEMBUNUH EMPAT BABAK PENDEKATAN ANTROPOLOGI FEMINIS

    Full text link
    Abstrak: Penelitian ini mengkaji penggambaran perempuan dalam film menggunakan teori objektifikasi. Penelitian ini pada dasarnya menganalisis dua film, I Spit on Your Grave dan Marlina si Pembunuh Empat Babak. Tujuannya untuk mengetahui bagaimana film menggambarkan perempuan, terutama dalam konteks budaya. Melalui metode penelitian kualitatif, teknik analisis yang digunakan adalah analisis semiotika. Penulis menganalisis dan mengkritik adegan kedua film tersebut sehubungan dengan bahasa yang digunakan, tempat adegan film berlangsung, dan detail kecil lainnya seperti bagaimana sutradara menarasikan dan mengartikulasikan berbagai peristiwa, serta adegan dengan simbol budaya yang berbeda. Temuan tersebut menunjukkan bahwa perempuan mendapat liputan negatif. Asosiasi stereotip yang konsisten dengan simbol seksual, ketidakberdayaan, dan ketidakberdayaan menandai representasi wanita dalam film-film ini. Representasi tersebut berbeda-beda menurut latar belakang budayanya. Kata kunci: Film, Wanita, Objektifikasi   Abstract: This research is concerned with film’s portrayal of women in the context of Objectification Theory. This research paper is basically analyses of two films, I Spit on Your Grave and Marlina Si Pembunuh Empat Babak. It consists the analysis of these movies to find out how film portrays women, especially in cultural context. Through the qualitative research method, the analysis technique in use is semiotics analysis.  I analyzed and criticized the two movies’ scenes with regard to the language they used, the places where the scenes of movies took place and other minor details such as how the directors narrated and articulated different events and scenes with different cultural symbols. The findings indicate that women received negative coverage. A consistent stereotyped association with sexual symbol, helplessness and voicelessness marks the representations of women in these movies. These representations are different according to their cultural background. Keywords: Film, Women, Objectificatio

    KEPERCAYAAN MASYARAKAT MADURA TERHADAP BAMBU CINTA DI MAKAM KI AGENG JOKO TARUP PAMEKASAN

    Full text link
    Abstrak: Cerita rakyat adalah cerita yang asal mulanya berasal dari masyarakat lampau yang diwariskan pada generasi selanjutnya melalui lisan. Latar belakang melakukan penelitian ini adalah mengembangkan hasil penelitian lain yang mempelajari mitos atau kepercayaan serta upaya mengungkap kepercayaan masyarakat terhadap bambu cinta pada kawasan makam Ki Ageng Joko Tarup. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah atau histori. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara kepada juru kunci makam serta dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan metode Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat Madura percaya jika menuliskan nama seseorang yang dicintai pada bambu di kawasan makam Ki Ageng Joko Tarup menjadi jodoh. Masyarakat juga percaya bahwa bambu tersebut tumbuh karena Ki Ageng Joko Tarup adalah seorang ulama ternama yang menancapkan tusuk sate pada tanah sehingga menjadi sebuah bambu. Masyarakat Madura menyebutnya sekarang sebagai bambu cinta.  Kata kunci: Bambu Cinta, Cerita Rakyat, Kepercayaan Masyarakat, Sejarah Lampau   Abstract: Folklore is a story that originates from past societies and is passed down through generations orally. The background for conducting this research is to expand on previous studies focusing on myths or beliefs, and to uncover the community\u27s belief in \u27bambu cinta\u27 (love bamboo) at the gravesite of Ki Ageng Joko Tarup. The method used in this research is historical or historiographical. Data collection techniques include observation, interviews with caretakers of the grave, and documentation. Data analysis employs the Miles and Huberman method, involving data reduction, data display, and drawing conclusions The research findings indicate that the Madurese community believes that writing the name of a loved one on bamboo at Ki Ageng Joko Tarup\u27s grave site can determine one\u27s fate. They also believe that the bamboo grows there because Ki Ageng Joko Tarup, a renowned Islamic scholar, planted a skewer in the ground which later grew into bamboo. The Madurese now refer to it as \u27bambu cinta\u27 or love bamboo. Keywords: Bamboo Love, Folklore, Public Beliefs, historical pas

    Saratuspersen Band dan Pengembangan OPK Seni di Kota Bandung

    No full text
    Since the invention of information and communication technology, especially what is known today as the "internet" in the early 90s, the world has experienced significant changes in terms of interconnectedness. Not only between individuals, but further involving communication between regions, countries, and especially communication between cultures that are more open, including the dimensions of art, especially the world of tradisional arts that is affected. In particular, according to Van Dijk, social media, apart from being an industrial media in its development today, before that the media platform had a dimension to the existence of users or users, which provided space for users to do activities and collaborate, or even just express themselves. (in Dilaovita, 2016) In relation to culture, especially tradisional and performing art, the presence of social media, in this case Tik-tok, has presented a new performance ecosystem. Traditionally, performing arts, whatever their form, from traditional to contemporary, always require a stage in the material sense, but after the presence of Tik-toksocial media, everyone can express themselves anytime, anywhere, with appreciators, audiences who are not limited by time and place. The study in this paper specifically focuses on the discourse of the digital stage by using a digital research approach in seeing new opportunities for performance in the digital era.Saratuspersen Band meru Saratuspersen Band meru saratuspersen (Indonesian: “a hundred percent”) is a unique musical group which was formed on September 1, 2001 in Bandung, West Java-Indonesia. It fuses various musical genres with exotic instruments and colours from around the world. The group combines "Balinese instruments" (Pamade, Kantil) with Western musical instruments such as drums, electric bass, trombone, bongo, rototom, timbales, percussion and violin. They also include Sundanese and African instruments in their performances, including the "Kendang" (a Sundanese kick drum), the "Suling", a Sundanese bamboo (flute), and the African "Djembe

    CARA MENENTUKAN FEASIBILITY STUDY PRODUK KRIYA BERBAHAN ALAM

    No full text
    Feasibility Study atau studi kelayakan adalah sebuah proses evaluasi yang dilakukan untuk menilai kemungkinan sukses dari sebuah proyek atau usaha sebelum dilaksanakan. Dalam konteks produk kriya, studi kelayakan ini sangat penting untuk memastikan bahwa proyek pengembangan dan pemasaran produk kriya tersebut layak dijalankan dari berbagai aspek. Dalam konteks ini, studi kelayakan sangat penting karena produk kriya sering kali memiliki nilai budaya dan estetika yang tinggi, serta pasar yang spesifik. Dengan melakukan studi kelayakan, produsen dapat memastikan bahwa produk kriya yang dikembangkan tidak hanya menarik secara estetis, tetapi juga layak secara komersial dan berkelanjutan

    TARI NGECEK SETEPAK KARYA ANDI SUPARDI DI SANGGAR KINANG PUTRA

    Full text link
    Tari Ngecek Setepak merupakan sebuah tari kreasi yang diciptakan oleh Andi Supardi di Sanggar Kinang Putra pada tahun 2017. Kata Ngecek sendiri berarti enjot, dorong dan tekan, sedangkan kata Setepak berarti mengikuti irama gendangan topeng. Tarian ini terinspirasi dari kesenian Topeng Betawi yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah bentuk kreasi baru. Hal tersebut yang menjadi daya tarik utama bagi penulis untuk mengkaji tarian dengan fokus pada struktur Tari Ngecek Setepak. Metode penelitian yang digunakan yaitu menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis dengan langkah-langkah pengumpulan data sebagai berikut; studi pustaka, studi lapangan, dan analisis data. Penelitian ini menggunakan teori struktur dari Y Sumandiyo Hadi yang terdiri atas; gerak tari, ruang tari, iringan tari, judul tari, tema tari, tipe/jenis/sifat tari, mode penyajian, jumlah penari dan jenis kelamin, rias dan kostum, tata cahaya dan properti tari. Penelitian ini menghasilkan data mengenai struktur Tari Ngecek Setepak yang di dalamnya ada korelasi antar aspek-aspeknya. Adapun struktur tarinya yaitu terdiri dari; gerak tari yang dapat ditampilkan pada panggung proscenium dan arena menggunakan alat musik gambang kromong, dengan tema kegembiraan yang bersifat non-literal atau tidak bercerita, tarian ini berjenis tari kreasi baru dengan tipe murni dan memiliki mode penyajian simbolis-representasional. Tari Ngecek Setepak ditarikan secara berkelompok berjumlah lima orang penari perempuan dengan rias korektif dan kostum tari yang dimodifikasi dari tari tradisi Betawi, dengan tata cahaya yang menyesuaikan dengan kebutuhan penampilan.   ABSTRACT NGECEK SETEPAK DANCE BY ANDI SUPARDI AT KINANG PUTRA STUDIO, DECEMBER 2025. The Ngecek Setepak Dance is a creative dance created by Andi Supardi at the Sanggar Kinang Putra in 2017. The word "Ngecek" itself means to push and press, while the word "Setepak" means to follow the rhythm of the Topeng drumming. This dance is inspired by the Betawi Topeng art, which was then developed into a new creative form. This is the main attraction for the author to study the dance, focusing on the structure of the Ngecek Setepak Dance. The research method used is a qualitative research method with a descriptive-analytical approach, with the following data collection steps: literature study, field study, and data analysis. This study uses the structure theory by Y Sumandiyo Hadi, which consists of: dance movement, dance space, dance accompaniment, dance title, dance theme, dance type/nature/character, presentation mode, number of dancers and gender, makeup and costume, lighting, and dance properties. This research produces data on the structure of the Ngecek Setepak Dance, in which there is a correlation between its aspects. The dance structure consists of: dance movements that can be performed on a proscenium stage and in an arena using gambang kromong musical instruments, with a theme of joy  that  is non-literal or non-narrative,  this   dance is a new creative dance with a pure type and has a symbolic-representational presentation mode. The Ngecek Setepak Dance is performed in a group of five female dancers with corrective makeup and dance costumes modified from Betawi traditional dance, with lighting adjusted to the performance needs.   Keywords: Ngecek Setepak Dance, Andi Supardi, Structure

    Experiencing Disharmony: Representing the Imbalance in the Human–Nature Relationship Through Drawing

    No full text
    This article discusses the Drawing series “Experiencing Disharmony” as a reflection on the imbalance between humans and nature due to anthropocentric dominance. Based on mountain trekking experiences, the work depicts human alienation within vast and unpredictable landscapes, emphasizing submission to natural laws. The theoretical approach draws from mimesis, Romantic aesthetics, Apollonian–Dionysian duality, Gregory Bateson’s anti-anthropocentrism, and Raffaele Milani’s concept of landscape as a contemplative space. A research-based art practice is used, with landscape photography as the visual foundation. Layered pastel and charcoal lines on large paper record both physical and inner experiences. A small human figure facing away from the viewer reinforces alienation. Visual disharmony is conveyed through disproportional scale, metaphorical composition, and color limitations as an ecological awareness. Each of the six drawings is subtitled with geographic coordinates to highlight landscape as a reflective site.This article discusses the Drawing series “Experiencing Disharmony” as a reflection on the imbalance between humans and nature due to anthropocentric dominance. Based on mountain trekking experiences, the work depicts human alienation within vast and unpredictable landscapes, emphasizing submission to natural laws. The theoretical approach draws from mimesis, Romantic aesthetics, Apollonian–Dionysian duality, Gregory Bateson’s anti-anthropocentrism, and Raffaele Milani’s concept of landscape as a contemplative space. A research-based art practice is used, with landscape photography as the visual foundation. Layered pastel and charcoal lines on large paper record both physical and inner experiences. A small human figure facing away from the viewer reinforces alienation. Visual disharmony is conveyed through disproportional scale, metaphorical composition, and color limitations as an ecological awareness. Each of the six drawings is subtitled with geographic coordinates to highlight landscape as a reflective site

    Assemblage Art Pada Komunitas Invalid Urban Sebagai Metode Penciptaan Karya Berbasis Benda Temuan

    Full text link
    Assemblage art adalah istilah yang digunakan dalam karya seni rupa yang berasal dari teknik penggabungan berbagai objek temuan atau benda-benda bekas sehari-hari yang disusun dan dirakit hingga membentuk kesatuan karya seni. Istilah ini pertama kali muncul awal abad ke-20 dan sering dikaitkan dengan gerakan avant-garde seperti dalam seni Dada dan seni Konstruktivisme. Hal ini dianggap telah mempengaruhi perkembangan seni kontemporer dengan membawa pendekatan yang inovatif terhadap metode penciptaan, materialitas, dan makna objek. Salah satu komunitas seni yang menggunakan teknik assemblage sebagai metode utama penciptaan karyanya adalah komunitas Invalid Urban. Komunitas ini berdiri di Bandung sejak tahun 2000, hingga saat ini aktif mengedepankan projek-projek seni eksperimental berbasis benda-benda temuan yang dirakit secara artistik hingga menjadi kesatuan karya yang utuh dan menarik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode kualitatif dengan pendekatan Etnografi. Metode ini digunakan untuk memahami perilaku, kepercayaan, dan norma suatu kelompok sosial atau budaya. Metode ini melibatkan pengamatan partisipan, di mana peneliti secara langsung terlibat dalam kehidupan sehari-hari kelompok tersebut. Peneliti berupaya dapat menggali makna dan konsep-konsep yang mendasari assemblage art pada karya Invalid Urban yang dapat memberikan kontribusi keilmuan dalam dunia akademik dan hubungannya dengan perkembangan seni rupa kontemporer saat iniyang memuat isu-isu sosial, budaya, dan lingkungan yang relevan.Assemblage art adalah istilah yang digunakan dalam karya seni rupa yang berasal dari teknik penggabungan berbagai objek temuan atau benda-benda bekas sehari-hari yang disusun dan dirakit hingga membentuk kesatuan karya seni. Istilah ini pertama kali muncul awal abad ke-20 dan sering dikaitkan dengan gerakan avant-garde seperti dalam seni Dada dan seni Konstruktivisme. Hal ini dianggap telah mempengaruhi perkembangan seni kontemporer dengan membawa pendekatanyang inovatif terhadap metode penciptaan, materialitas, dan makna objek. Salah satu komunitas seni yang menggunakan teknik assemblage sebagai metode utama penciptaan karyanya adalah komunitas Invalid Urban. Komunitas ini berdiri di Bandung sejak tahun 2000, hingga saat ini aktif mengedepankan projek-projek seni eksperimental berbasis benda-benda temuan yang dirakit secara artistik hingga menjadi kesatuan karya yang utuh dan menarik. Metode yang digunakan dalampenelitian ini adalah dengan metode kualitatif dengan pendekatan Etnografi. Metode ini digunakan untuk memahami perilaku, kepercayaan, dan norma suatu kelompok sosial atau budaya. Metode ini melibatkan pengamatan partisipan, di mana peneliti secara langsung terlibat dalam kehidupan sehari-hari kelompok tersebut. Peneliti berupaya dapat menggali makna dan konsep-konsep yang mendasari assemblage art pada karya Invalid Urban yang dapat memberikan kontribusi keilmuandalam dunia akademik dan hubungannya dengan perkembangan seni rupa kontemporer saat ini yang memuat isu-isu sosial, budaya, dan lingkungan yang relevan

    The Diversity and Shared Culture of Lusheng in Guangxi: An Interethnic Symbol in Southwest China

    Full text link
    The lusheng, a traditional Chinese bamboo wind instrument, is predominantly located in southwestern China, where ethnic minorities reside. In Guangxi, this instrument has assumed several shapes. For instance, Sanjiang possesses a six-pipe lusheng, Rongshui features a fifteen-pipe variant, and Longlin showcases enormous examples measuring six meters in height. Collectively, these encompass over 10 distinct varieties, with heights varying from 30 cm to 6 meters. The lusheng has historically evolved beyond its musical purpose to serve as a spiritual emblem for the Dong, Miao, Yao, and other ethnic communities. During events like as the Miao New Year, Slope Meetings, and the Pan Wang Festival, its booming tones reverberate through communities, functioning as ceremonial fanfares and repositories of collective memory. The performance system demonstrates extensive dimensionality. Solo compositions such as "Golden Pheasant Dance" exhibit exceptional delicacy; unison renditions by several musicians produce profound reverberations; and the most visually striking is "lusheng caitang," where hundreds of performers encircle bronze drums in coordinated choreography. The Song Dynasty "tayao" custom is entirely preserved in the Dong ethnic "Duoye" dances of Sanjiang and the Miao "Slope Meeting" festivals of Rongshui. The lusheng contains a cultural code, with tunes that express courting, recount ethnic epics, and enable competitive "sound dueling." These bamboo pipes create a nonverbal linguistic system, enhancing the instrument\u27s significance in three ways: as a ritual tool for spiritual contact, a living historical archive, and a medium for social engagement. In 2008, Dong Ethnic Lusheng Music was inscribed on China\u27s National Intangible Cultural Heritage List, therefore affirming its distinctive status within the nation\u27s cultural heritage storehouse

    PELATIHAN TARI SUNDA PADA MASYARAKAT CINA DIASPORA: STUDI KASUS KERJASAMA BUDAYA ANTARNEGARA

    Full text link
    Kebudayaan adalah salah satu aspek penting dalam kedudukan suatu negara. Kebudayaanmemegang peranan krusial dalam memperkuat identitas sebuah negara melalui kemahirandiplomasi budaya yang dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan misi kesenian atau misikebudayaan yang sering dilakukan melalui tampilan seni pertunjukan. Hal tersebut dapatdilaksanakan dengan menampilkan tarian yang dapat mewakili keberagama kesenian yang dimilikioleh negara Indonesia. Sebagai penunjang program tersebut, program tridharma yang ada diPerguruan Tinggi dapat memberikan peluang dalam menampilkan misi kesenian, khususnya dilingkungan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Namun, kegiatan misi kesenian tersebuthanya dapat dilakukan sekali waktu. Pada tulisan ini akan mengkaji tentang pelatihan Tari Sundabagi masyarakat Tionghoa sebagai bentuk keberlanjutan dari misi kesenian, dengan menggunakanmetode hibrid (daring dan luring). Program ini tidak hanya berfungsi sebagai transfer pengetahuanseni, melainkan juga sebagai strategi diplomasi budaya yang lebih efisien dan berkelanjutan. Metodepelatihan hibrid ini memungkinkan masyarakat diaspora untuk menjadi “perpanjangan tangan” dalammempromosikan budaya Indonesia, sehingga dapat meningkatkan membantu efektivitas ekonominegara asal diaspora. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kerjasama dengan warga negara asal diaspora dapat menjadi cara baru dalam ketercapaian diplomasibudaya antarnegara. Kata kunci: diaspora, diplomasi budaya, pelatihan tari, tari Sund

    1,711

    full texts

    1,925

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇