E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
ANALISIS SEMIOTIKA PERTENTANGAN SAINS DAN KEKUATAN FISIK DALAM FILM DR. STONE
ABSTRACT
Dr Stone\u27s film about a war between science group (Senku et al) and physic group (Tsukasa, et al). The research approach used is qualitative research. This research approach is carried out by observing, collecting, and analyzing data. The data analysis technique used is semiotic. The result of this research is that science and physique no longer exist as an argument, but complement each other. Science becomes the basic of human life to develop while the physical becomes a means of science that can be realized and useful in human life.
ABSTRAK
Film Dr. Stone ini menggambarkan peperangan di antara grup sains (Senku, dkk.) dan grup zaman batu (Tsukasa,dkk). Pendekatan penelitian yang digunakan dalam tulisan ini adalah pendekatan penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian ini dilakukan dengan cara mengamati, mengumpulkan, dan menganalisa data. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis semiotika. Hasil dari penelitian ini adalah sains dan fisik tidak lagi sebagai sebuah pertentangan, tetapi saling melengkapi. Sains menjadi dasar kehidupan manusia untuk berkembang sedangkan fisik menjadi sarana sains tersebut dapat terwujud dan bermanfaat dalam kehidupan manusia
Kimono Lurik dalam Perpaduan Budaya Indonesia-Jepang
Makalah ini menggambarkan perpaduan budaya Indonesia dan Jepang dalam kimono lurik yang menggabungkan elemen kimono (pakaian tradisional Jepang) dengan kain tenun Lurik (kain tenun tradisional Indonesia). Metode deskriptif-analitis digunakan untuk menjelaskan dan menganalisis proses perpaduan budaya. Makalah ini mengajukan dua rumusan masalah: proses pengembangan kimono lurik dan dampak penggunaannya terhadap industri kain tenun lurik di Indonesia dan pasar global. Tujuan dan manfaat makalah ini adalah menjelaskan kolaborasi budaya, memahami pengaruh penggunaan kimono lurik secara holistik, serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya perpaduan budaya dan pertumbuhan industri kain tenun lurik di pasar global
Discourse of the Comedy of Ubrug Sentra Agata in the Rahwana Nganjor Play
This study is entitled Discourse on Comedy Serving Ubrug Sentra Agata in the play Rahwana Nganjor, which was staged during the West Java and Banten Landslide Festival in 2015. The object of the study uses the video media of performance documentation and the focus of the study is discussing discourse in comedy presentations on the play Rahwana Up. The play Rahwana Nganjor carries the theme of wayang in the Ramayana epic, the war between the Kingdom of Alengka and the Kingdom of Ayodhya is used as the setting for the event in this play. Data collection techniques were carried out through interviews, observation, and information contained in the audiovisual. Critical Discourse Analysis Van A, Dijk is used to examine the discourse in the comedy presentation by paying attention to three dimensions, including Text Dimensions, Social Cognition, and Social Context. So the data obtained that social issues in the community is used as the basis for creating comedy in Ubrug Sentra Agata
ROMANTISISME TEMBANG SUNDA CIANJURAN
Romanticism is an idea that prioritizes ideas, emotions, and
feelings that are aesthetic and meaningful. Romanticism began in
the 1790s and culminated in 1820s, romanticism is a complex
movement that prioritizes emotions and feelings. Spontaneity
movements do not rely on logic or reasonable opinions or reasons
that underlie anything that has to do with romanticism. Inside
Tembang sunda cianjuran, things that refer to the flow of
romanticism can be easily found and even almost all of
romanticism is a work that adheres to the flow of romanticism,
. because in its presentation it is both in the lyrics and also in the
way it feels. This Tembang sunda cianjuran prioritizes freedom
of expression and also upholds feelings that are so emotional that
in this case Tembang sunda cianjuran is a musical work that is
Romanticis
ANALISIS GAYA MUSIKAL PADA GENDING LAGU "JALI-JALI" KARYA KOKO KOSWARA
"Jali-Jali" is a musical composition in the form of sekar gending (song with musical accompaniment) composed by Koko Koswara in 1970 using gamelan salendro. The main musical pattern used the Sundanese musical pattern and the gambang Kromong musical pattern. The unique musical characteristics of the combination of two different musical backgrounds are the main attraction for researchers to study 2 (two) aspects, namely musical form and style. The theory used in this research is the science of musical form by Karl-Edmund Prier SJ and the style theory from Bruno Nettl. The science of musical form is used to analyze melodic aspects (motives, sequences, phrases, and periods), and Bruno Nettl\u27s theory of style is used to analyze Koko Koswara\u27s musical style. The results of this research illustrate that Koko adapted several characteristics of the original "Jali-Jali" song from Betawi was combined with Sundanese music into the "Jali-Jali" song as a result of his arrangement so that the unique composition that Koko created was very different from Koko\u27s musical works another
Pelestarian Budaya Jawa: Inovasi dalam Bentuk Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari
Artikel ini membahas tentang inovasi bentuk pertunjukan wayang orang sriwedari di Surakarta.
Inovasi pertunjukan wayang orang dilakukan agar tetap bertahan pada masa pandemi covid-19
yang dihadapi masyarakat. Inovasi sebagai hasil kreativitas dari para seniman muda pemain
wayang orang sriwedari berupaya menghasilkan pertunjukan wayang orang yang menarik dan
padat serta dapat diapresiasi masyarakat, khususnya generasi muda. Penelitian ini bersifat
kualitatif, dengan pendekatan etnokoreologi dan dramaturgi. Metode pengumpulan data
dengan studi pustaka, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inovasi
bentuk pertunjukan wayang orang dilakukan dengan cara menggarap aspek-aspek bentuk
pertunjukan yang meliputi garap lakon atau cerita, alur dramatik, garap adegan, garap tokohtokoh, garap gerak tari, garap karawitan tari, tata rias, tata busana, tata panggung, tata cahaya,
dan tata suara. Inovasi dilakukan oleh sutradara, pemain, pengrawit, dan pendukung lainnya.
Inovasi dilakukan dengan mengutamakan capaian nilai estetik. Inovasi menghasilkan bentuk
pertunjukan wayang orang lebih padat, atraktif, dinamis, dan menarik, serta durasi waktu
pertunjukan semakin singkat, yaitu 2 jam. Hal itu berpengaruh pada pertunjukan wayang
orang sriwedari bersifat kekinian dan eksis, serta diapresiasi oleh masyarakat luas, terutama
Surakarta.
Kata kunci: inovasi, pertunjukan, wayang orang, Sriwedari
BUDAYA CINA DALAM RAGAM HIASAN DI PELAMINAN KHAS MINANGKABAU
Pelaminan merupakan salah satu bentuk perangkat upacara adat yang digunakan dalam upacara perkawinan. Bagi masyarakat Minangkabau, ragam hias tercipta sebagai ungkapan rasa yang berhubungan dengan alam sekitar. Dalam penciptaannya, ragam hias Minangkabau juga tidak terlepas dari pengaruh budaya luar yang bersentuhan dengan budaya Indonesia. Salah satu budaya yang bersentuhan dengan Indonesia adalah budaya Cina melalui media perniagaan dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi budaya Cina yang memengaruhi aspek visual pelaminan budaya Minangkabau. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dan sebagai parameternya digunakan kajian teori estettik dan kajian transformasi budaya. Proses analisis dilakukan dengan dua tahapan yaitu dengan pengelompokkan dan analisis visual. Temuan dari penelitian ini menjelaskan bahwa sejauh penelitian ini dilakukan, budaya Cina memiliki pengaruh besar terhadap aspek visual ragam hias pelaminan Minangkabau.Kata Kunci: Budaya Cina, Pelaminan, Minangkabau, Pengaru
MAKNA BUDAYA POHON AREN DALAM PENDEKATAN EKOLOGI BUDAYA DI KAMPUNG ADAT DUKUH, CIKELET, GARUT
Bagi masyarakat adat, hubungan manusia dengan alam sangatlah penting. Ketergantungan manusia pada alam membuat perlakuan dan penghormatan kepada alam menjadi bagian dari nilai hidup yang dianut. Ketika terjadi perubahan dalam memperlakukan alam, maka terjadi pergeseran dan perubahan pada nilai yang mereka anut. Pohon aren merupakan simbol penting dalam lahirnya kampung adat Dukuh di Garut, Jawa Barat. Namun demikian, pergeseran nilai aren secara ekonomis menjadikan pengelolaan pohon itu semakin berkurang. Hal itu tentunya dapat mengancam nilai-nilai dan kebertahanan budaya masyarakat adat tersebut. Melalui penelitian kualitatif dengan menggunakan metode etnografi, penelitian ini bermaksud mengungkap aspek historis dan makna budaya pohon aren bagi masyarakat adat Dukuh melalui pendekatan ekologi budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki kekayaan pengetahuan khusus dalam mengelola pohon aren yang berbasis kearifan lokal. Lebih jauh, pohon aren juga memiliki makna kultural yang penting yang menggambarkan pandangan hidup masyarakat adat Dukuh. Fungsi terpenting pohon aren bagi masyarakat dukuh adalah untuk menjaga ketahanan budaya sebagai salah satu bahan baku rumah adat, dan media pewarisan nilai-nilai budaya. Kata kunci: pohon aren, pola penanaman tradisional, makna budaya, masyarakat adat, kampung Duku
Konsiderans dalam Estetik Karya Fotografi “Manekung”
Artikel ilmiah ini memaparkan penelitian dan penciptaan karya seni fotografi manekung. Penamaan tema “manekung” dalam karya fotografi ini diambil dari konsep bahwa karya fotografi dapat dijadikan sebagai media dari meditasi (manekung). Penelitian dan penciptaan memakai pendekatan Practice-led Research yang dilakukan melalui studi praktik di lapangan yang bertujuan menyajikan kreativitas di bidang fotografi. Adapun karya yang dihasilkan menyajikan kebaruan dalam aliran ekspresi fotografi. Tahapan metode penciptaan ini memakai tiga tahapan yaitu sebagai berikut. 1) Praproduksi: penyiapan alat dan bahan, observasi dan kajian pustaka, proses penemuan ide, dan proses meditasi. 2) Tahap Produksi: imaji abstrak dan konkret, eksplorasi objek, eksperimentasi bahan, pematangan konsep, dan meditasi. 3) Tahap Ketiga penyajian karya: pengemasan dan pameran fotografi. Penelitian dan penciptaan karya menghasilkan tujuh belas karya meditasi fotografi berbagai ukuran yang dikemas dengan frame, disajikan pada pameran dengan suasana yang dibangun pada ketenangan dan keheningan.
Kata kunci: meditasi, manekung, fotografi, penciptaan, ekspresi, kary
Motif Batik Ciwaringin sebagai Identitas Budaya Lokal Cirebon
Artikel ini membahas motif-motif Batik Ciwaringin yang mempunyai kekhasan dan keunikan
tersendiri. Batik Ciwaringin dibuat tidak menggunakan pola dalam proses membatiknya,
dikerjakan para ibu yang sudah berumur lanjut, untuk mewarnai batik digunakan bahan
pewarna alam, motif batik kental dengan nilai-nilai Islam, karena awal mulanya terdapat batik
di Ciwaringin dibuat oleh para santri di pesantren. Hal-hal tesebut menjadi unggulan Batik
Ciwaringin dan menjadi identitas masyarakatnya. Metode yang digunakan dalam tulisan
ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Pendekatan ini digunakan untuk
memaparkan kearifan lokal dan identitas masyarakat Ciwaringin. Data-data yang berupa
motif-motif batik Ciwaringin diperoleh dari sanggar Batik Muhammad Suja’i dan sanggar
Batik Risma. Data-data dipilah berdasarkan pola motif batik. Terdapat lima pola motif, yaitu
pola geometris, pangkaan, byur, ceplak-ceplok, laseman, dan pola kombinasi. Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa motif-motif batik dengan berbagai ragam hias berasal dari alam di
sekitar Desa Ciwaringin. Batik Ciwaringin merupakan hasil ekspresi kultural para perajinnya
dengan motif-motif yang tidak keluar dari sosio-kultural Islam karena sejak awal adanya Batik
Ciwaringin berpedoman pada ajaran-ajaran Islam. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
Batik Ciwaringin menunjukkan identitas budaya Ciwaringin yang kaya akan flora dan fauna.
Kata kunci: Motif batik, kearifan lokal, identitas
Kata kunci: Motif batik, kearifan lokal, identitas