E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
Ideologi Sosial Dalam Kesenian Tradisional Angklung Sered: Dari Alat Perjuangan Hingga Sebagai Sarana Hiburan Masyarakat
ABSTRACT
For 350 years, Indonesia was under the rule of foreign countries before gaining independence in 1945. This colonization had a significant impact on the social, cultural, economic, and political aspects of Indonesian society. The people expressed their resistance through traditional performing arts, such as angklung sered in Balandongan, Tasikmalaya, West Java. This art form served as a tool of struggle against the colonizers. The objective of this research is to discover the values of social ideology embedded in angklung sered within the community of Balandongan. The research methodology employed semiotic analysis, focusing on the text and context of the angklung sered performances. Text analysis emphasizes the musical instrument used in the performance, while contextual analysis examines the artistic function of angklung sered before and after independence. The research data was obtained through interviews and documentary studies. The findings reveal that angklung sered served as a symbol of resistance before independence, while after independence, the emphasis shifted towards the aesthetics of the performance. Angklung sered also became a social ideology for the community, reflected in its meanings and symbols, serving as the foundation of their beliefs in everyday life.
Keywords: Social Ideology, Culture, Traditional Art, Angklung Sered, Traditional Performing Arts
ABSTRAK
Selama 350 tahun, Indonesia dikuasai oleh negara-negara asing sebelum merdeka pada tahun 1945. Penjajahan ini berdampak besar pada sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa Indonesia. Masyarakat menunjukkan perlawanan melalui seni pertunjukan tradisional seperti angklung sered di Balandongan, Tasikmalaya, Jawa Barat. Seni ini dijadikan sebagai alat perjuangan melawan penjajah. Penelitian ini bertujuan menemukan nilai-nilai ideologi sosial masyarakat dalam angklung sered di Balandongan. Metode penelitian menggunakan analisis semiotika, fokus pada teks dan konteks pertunjukan angklung sered. Analisis teks berfokus pada alat musik angklung yang digunakan, sedangkan analisis konteks memeriksa fungsi kesenian ini sebelum dan setelah kemerdekaan. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan angklung sered sebelum kemerdekaan menjadi simbol perjuangan, sementara setelahnya lebih menekankan estetika pertunjukan. Angklung sered juga menjadi ideologi sosial masyarakat, tercermin dalam makna dan simbolnya yang menjadi dasar keyakinan dalam kehidupan sehari-hari.
Kata kunci: Ideologi Sosial, Budaya, Kesenian Tradisional, Angklung Sered, Seni Pertunjukan Tradisiona
IBING TAYUB KHAS KASUMEDANGAN SEBAGAI INSPIRASI GARAP TARI RINGKANG MENAK
Ada dua bentuk Ibing Tayub yang terdapat di daerah Sumedang yaitu tayub menak dan tayub somah. Tayub menak penarinya merupakan para menak karena menari dalam peristiwa tayuban merupakan sebagai identitas sosial, salah satu syarat seorang bangsawan yaitu terampil ibing tayub. Sedangkan tayub somah pelakunya merupakan masyarakat biasa yang meniru kebiasaan menak, karena anggapan masyarakat bahwa bangsawan atau menak merupakan panutan. Peran ronggeng dalam tayub sangat signifikan karena merupakan roh dalam pertunjukan dan ronggeng merupakan magnet nya pertujukan tayuban. Penelitian karya seni untuk membuat alternatif karya tari inovatif yang beripijak pada ibing tayub khas kasumedangan, juga bertujuan melestarikan kembali ibing tayub dalam penafsiran lain, sehingga dapat hidup kembali di tengah masyarakat yang sedang mengalami proses transisi masuknya pengaruh modernisme. Metode yang diterapkan, menggunakan metode Participation Action Research (PAR). Metode tersebut memiliki kesi-nambungan, karena memuat siklus partisipasi, riset, dan aksi. Target luaran yang ingin dicapai menghadirkan kembali ibing tayub dalam bentuk kemasan baru secara tekstual dan kontekstual sehingga diharapkan dapat hidup di masyarakat.
Kata Kunci: Ibing Tayub, Ronggeng, Kasumedangan.
ABSTRACT
IBING TAYUB SPECIAL KASUMEDANGAN AS AN INSPIRATION FOR WORKING ON THE MENAK RINGKANG DANCE. December 2022. Two forms Ibing Tayub that found in Sumedang, there are the tayub menak and tayub somah. The dancer of tayub menak is a nobleman because dance in tayuban is part of social identity since the condition of the nobleman is to be skilled in ibing tayub. While the dancer of tayub somah is the commoner that imitates the tradition of the nobleman, it is based on the belief that the nobleman is the role model. The appearance of ronggeng is very significant because it is the soul of the show and not only that ronggeng is also a magnet of the tayuban show. The study of this artwork is to make an alternative of innovative ibing work that stands on ibing tayub, also to maintain the ibing tayub in other perception, in purpose to regenerate it in the middle of society who go through the modern transition. The method used is the Participation Action Research (PAR). This method has a continuity because consists of the cycle of participation, research, and action. the output target to achieve is to reintroduce ibing tayub in other forms of textual or contextual until it can develop in the middle of society.
Keywords: Ibing Tayub, Ronggeng, Kasumedangan
Voice Note: Karya Kontemporari Musik Melalui Aplikasi Modulasi Effect Terhadap Media Bambu
Abstrak
Voice Note diartikan sebagai catatan-catatan verbal yang di abstraksikan menjadi sebuah aspek
musik kontemporer, implementasi verbal menjadi sebuah musik kontemporer tersebut dibentuk
oleh kerangka-kerangka teoritikal komposisi. Adapun aspek-aspek yang menjadi wujud dari
komposisi Voice Note ini juga dipenuhi secara konstruktif oleh metode garap. Metode garap
secara umum merupakan sebuah sistem yang melibatkan beberapa unsur atau pihak yang
masing-masing saling terkait dan membantu. Beberapa unsur garap tersebut dapat disebut
sebagai berikut: a. Materi garap atau ajang garap; b. Penggarap; c. Sarana garap d; Prabot atau
piranti garap;be. Penentu garap; dan f. Pertimbangan garap. Secara praktikal metode garap ini
memuat unusur-unsur konvensi dalam Tradisi Musik Bambu. Aspek material yang terdapat dalam
Musik Bambu terbentuk secara Asimetrik. Dari aspek penentu dan Pertimbangan Garap
komposisi ini dihadirkan atas dasar kontekstual dari cara berpikir penggarap yang berlatar
belakang musisi yang berupaya memahami prinsip-prinsip media pada konvensi alat Tradisional.
Oleh karena itu kehadiran karya ini lebih di orientasi kepada gaya musik kontemporer melalui
pemahaman-pemahaman konvensi Tradisi musik Bambu
Kata Kunci: Voice Note , Kontemporer Musik, Kreativitas Gara
PEMBELAJARAN TEMBANG SUNDA CIANJURAN GAYA ELIS ROSLIANI DI SMKN 10 BANDUNG
Penelitian yang mengambil judul ini “Pembelajaran Tembang Sunda Cianjuran Gaya Elis Rosliani Di SMKN 10 Bandung”. Dimaksudkan untuk mengetahui tentang tahapan pembelajaran yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Penelitian ini dilaksanakan di Jurusan Karawitan SMKN 10 Bandung yang didasarkan kepada alasan bahwa SMKN 10 Bandung sebagai sekolah dalam bidang seni banyak menghasilkan lulusan professional dalam bidang karawitan termasuk Tembang Sunda Cianjuran. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Berdasarkan hasil temuan selama proses pembelajaran di SMKN 10 Bandung, perencanaan yang dilakukan oleh guru pendidik yaitu dimulai dari penyusunan materi pembelajaran. Kemudian untuk tahapan- tahapan pembelajaran yang dilakukan oleh guru pendidik yaitu sebelum memulai pembelajaran di dalam kelas, siswa diberi tugas untuk memahami materi lagu yang akan diajarkan secara individual terlebih dahulu dengan tujuan supaya mahasiswa mempunyai gambaran akan materi lagu yang akan diajarkan. Kemudian guru menyampaikan materi lagu yang diajarkan dengan menggunakan metode oral dan penyampaian materi lagunya pun dilakukan dengan membahas lagu perbaris, secara berulang-ulang sampai siswa dirasa cukup menguasai materi lagu dan teknik yang tepat. Kemudian evaluasi yang yang dilakukan oleh guru pendidik yaitu dengan tes seperti pada Ujian Tengah Semester atau UjianAkhir Semester, tapi guru pendidik juga menilai siswanya dari penilaian sehari-hari dan melihat progress dari masing-masing siswa. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru pendidik mata pelajaran peminatan Tembang Sunda Cianjuran di SMKN 10 Bandung ini memang sama saja, namun siswanya memiliki potensi yang mumpuni sehingga mampu mencetak siswa yang memiliki keterampilan dan berkualitas. Kata kunci: Pembelajaran, Tembang Sunda Cianjuran, SMKN 10 Bandung
NILAI PENDIDIKAN SENI PADA PERTUNJUKAN WAYANG GOLEK GIRI HARJA KABUPATEN BANDUNG
This study discusses the Giri Harja hermitage in wayang golek in West Java. The selection of the Giri Harja wayang golek to be studied is very important because it has a role and function in art education in the village of Jelekong, West Java. This study aims to analyze the role and function of art education in the Giri Harja wayang golek art performance. Using qualitative methods with a descriptive analysis approach, researchers can describe, describe, explain and answer the problems to be studied in more detail. The object of observation was carried out in the wayang village, Giri Harja Jelekong, Baleendah sub-district, Bandung Regency. As a result, the wayang golek show, a cultural heritage considered antique and almost ignored, still has the essence of educational, cultural, and moral values and good life. Because apart from being a spectacle, the puppet show is also a guide. In Jelekong, the people are still trying to instill character education values among their citizens, namely by having a hermitage and an institution as a place to accommodate people’s interest in the world of wayang and puppetry. With scheduled routine training, exhibitions, and other artistic activities aimed at maintaining the preservation of the art of wayang golek and strengthening noble values.
Keywords: wayang golek, art education, Giri Harja, Jelekong
------------------------------------------------------------------------------------
Penelitian ini membahas padepokan Giri Harja dalam wayang golek di Jawa Barat. Pemilihan wayanag golek Giri Harja untuk dikaji sangat penting karena memiliki peran dan fungsi pendidikan seni di desa Jelekong, Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran dan fungsi pendidikan seni dalam pertunjukan seni wayang golek Giri Harja. Dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis, peneliti bisa menggambarkan, melukiskan, menjelaskan dan menjawab secara lebih rinci permasalahan yang akan diteliti. Objek observasi dilakukan di kampung wayang, Giri Harja Jelekong, kecamatan Baleendah, kabupaten Bandung. Hasilnya, pertunjukan wayang golek yang merupakan warisan budaya yang dianggap antik dan hampir tidak di hiraukan lagi, ternyata masih tetap memiliki esensi nilai-nilai pendidikan, budaya, moral kehidupan dan kebaikan. Karena selain merupakan tontonan, pertunjukan wayang golek juga merupakan tuntunan. Di Jelekong, masyarakatnya tetap dalam upaya penanaman nilai-nilai pendidikan karakter terhadap warga masyarakatnya yaitu dengan memiliki padepokan dan lembaga sebagai wadah untuk menampung minat masyarakat dalam dunia pewayangan dan pedalangan. Dengan adanya latihan rutin yang telah terjadwal, pameran-pameran dan kegiatan-kegiatan kesenian lainnnya yang ditujukan untuk mempertahankan kelestarian seni wayang golek serta penguatan nilai-nilai luhur.
Kata Kunci: wayang golek, pendidikan seni, Giri Harja, Jelekon
BATIK PAHAKH: THE TRANSFORMATION OF TRADISIONAL TOOL IN THE NGEJALANG CEREMONY INTO BATIK PATTERN
This research is the writer’s expression of the preservation of pahakh, a tool in the Ngejalang ceremony
performed by the society on the West Coast of Lampung. It aims to produce batik patterns inspired by
pahakh used in the Ngejalang ceremony. The research used the method of data sources and three-stage
artwork creation, namely exploration, design, and embodiment. The form of pahakh had gone through
stylization techniques to produce alternative designs to batik patterns. This research had reported the
production of three hand-drawn batik designs: pahakh kunyikh, pahakh bikhu, and pahakh ujaou. Hopefully,
this study can give insights to people about pahakh with its meaning and philosophy. Thus, it raises their
awareness about the preservation of this legacy. This creation also enriches the repertoire of Indonesian
batik culture diversity.
Keywords: Hand-drawn batik, Pahakh, Lampung, Artwork creation
VISUAL ELEMENTS OF DOGDOG, A TRADITIONAL ART IN CIKARAHA VILLAGE, TASIKMALAYA REGENCY
Modernization causes a change in the mindset of society to become more modern. It can affect
the public interest in preserving Indonesian traditional arts. For example, Dogdog–a traditional art, is
increasingly marginalized nowadays. This study aims to present an overview of the visualization of
Dogdog and its development in Cikaraha Tasikmalaya Village amid modernization turmoil. This study
used an ethnographic approach, which is the process of naturally collecting data or information to find
out the condition of the community concerned. The discussion in this study focuses on the history, visual
or visual elements, characteristics, cultural values, and the development and efforts of the community in
maintaining and preserving traditional art. The study results show that the Dogdog in Cikaraha Village
functions as a ritual means to express gratitude to God and as a means of entertainment.
Keywords: Visual elements, Dogdog Art, Cikaraha Village, Traditional Ar
IMPLEMENTASI GAYA PENYUTRADARAAN EXPOSITORI DALAM FILM DOKUMENTER “SEMUT IBRAHIM”
ABSTRACT
The activity of 99 Home Improvements for Widows of the Elderly is a social movement carried out by Semut Ibrahim Kompassmatic. This activity contains a noble culture of gotong royong, social interaction that shows cooperation between individuals and between groups and forms positive values that strengthen mutual trust to cooperate in dealing with problems of common interest. The main purpose of this movement is to awaken the spirit of mutual cooperation in the community, because mutual cooperation for Semut Ibrahim is a national germplasm that must be maintained, cared for, and passed on. The creation of this documentary film was initiated through research using qualitative methods followed by stages including pre-production, production and post-production. Documentary film directing applies expository Documentary which relies on logical information, presented through text or sound. The presence of images or visuals is only a support. Images are presented as illustrations, amplify sound, build drama, or are presented as contradictions with sound. The production of the Semut Ibrahim documentary film is the author\u27s attempt to introduce the “99 Movement for the Surgery of the Semut Ibrahim Widow House” and to interpret the mutual cooperation culture contained therein. Film work, it is hoped that the data will inspire the community that fellow human beings can jointly create solidarity to help each other alleviate the suffering of people in need.
ABSTRAK
Gerakan 99 Bedah Rumah Janda Jompo merupakan gerakan sosial yang dilakukan oleh Semut Ibrahim Kompassmanic. Aktifitas ini mengandung budaya luhur gotong royong,
interaksi social yang menunjukan bentuk kerjasama antar individu dan antar kelompok serta membentuk nilai-nilai positif yang memperkuat rasa saling percaya untuk melakukan kerjasama dalam menangani permasalahan yang menjadi kepentingan bersama. Tujuan utama gerakan ini untuk membangkitkan semangat gotong royong masyarakat, karena gotong royong bagi Semut Ibrahim merupakan plasma nutfah kebangsaan yang harus dijaga, rawat, dan diwariskan. Penciptaan film documenter ini dimulai melalui penelitian dengan metode kualitatif dilanjutkan dengan tahapan meliputi pra produksi, produksi dan paska produksi. Penyutradaraan film dokumenter menerapkan Dokumenter ekspositoris yang bersandar pada informasi logis, disajikan melalui teks maupun suara. Kehadiran gambar atau visual merupakan pendukung saja. Gambar dihadirkan sebagai ilustrasi, memperkuat suara, membangun drama, ataupun dihadirkan sebagai kontradiksi dengan suara. Produksi Film dokumenter Semut Ibrahim merupakan upaya penulis untuk memperkenalkan “Gerakan Bedah 99 Rumah Janda Jompo Semut Ibrahim” serta memaknai budaya gotong royong yang terkandung di dalamnya. Karya Film, diharapkan data mengsinspirasi masyarakat bahwa sesama manusia bisa bersama-sama mewujudkan solidaritas membantu sesama meringankan penderitaan hidup masyarakat yang membutuhkan
STRUKTUR DALAM DAN TRITANGTU: KAWIN CAI DI BABAKAN MULYA, KUNINGAN, JAWA BARAT
ABSTRAK
Upacara ritual sebagai salah satu bentuk kesadaran masyarakat secara kolektif, masih diselenggarakan oleh masyarakat sebagai salah satu bentuk tradisi yang di lestarikan. Masyrakat Sunda merupakan salah satu suku yang hidup di Provinsi Jawa Barat, dan masyarakat ini secara kolektif masih melaksanakan berbagai upacara ritual sebagai bentuk pendukung tradisi. Salah satunya adalah kawin cai merupakan upacara ritual untuk kesuburan dan rasa syukur atas alam, masih dilaksanakan oleh masyarakat Kuningan, Jawa Barat. Penelitian ini berfokus untuk melihat bagaimana struktur ritual ini dalam masyarakat Sunda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, untuk mendeskripsikan bagaimana tritangtu dari gejala simbolisasi materi dalam stuktur upacara ritual kawin cai. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upacara ini merupakan ritus kesuburan dari pola perkawinan antara dunia atas, dunia tengah, dan dunia bawah, sebagai cara masyarakat untuk merawat sumber kehidupan, simbol-simbol yang tersirat dalam rangkaian upacara ritual, dan nilai upacara ritual kawin cai ini yaitu nilai material, nilai vital, dan kerohanian.
Kata kunci: kawin cai, tritangtu, ritual, struktur, simbol
ABSTRACT
Ritual ceremonies as a form of collective community awareness, are still held by the community as a form of tradition that is preserved. Sundanese people are one of the tribes living in West Java Province, and this community collectively still carries out various ritual ceremonies as a form of supporting tradition. One of them is kawin cai is a ritual ceremony for fertility and gratitude for nature, still carried out by the people of Kuningan, West Java. This study focuses on looking at how this ritual structure in Sundanese society. The method used in this study is a qualitative research method, to describe how the tritangtu of the symptoms of material symbolization in the structure of the cai mating ritual ceremony. The results of this study show that this ceremony is a fertility rite of marriage pattern between the upper world, middle world, and lower world, as a way for people to care for the source of life, symbols implied in the series of ritual ceremonies, and the value of this cai mating ritual ceremony is material value, vital value, and spirituality.
Keywords: kawin cai, tritangtu, ritual, structure, symbo
Weaving Emotions and Culture: The Success Story of Teh Botol Sosro’s Packaging on Indonesia’s 75th Independence Day West Java and DKI Jakarta Edition
Teh Botol Sosro, the first ready-to-drink tea beverage in Indonesia, introduced a new packaging theme of “Independence and the Cultural Diversity of Indonesia” to celebrate Indonesia’s 75th Independence Day. The research aims to analyze the significant role of the concepts and themes of independence and Indonesia’s cultural diversity in building a solid emotional connection with consumers. The research methodology used qualitative analysis focusing on visual communication, gathering data through visual analysis and expert interviews. The research findings reveal that utilizing these elements, analyzed through Marc Gobe’s emotional branding concept, successfully establishes a solid emotional connection with consumers. This is reflected in a deeper understanding of national values and cultural diversity, as well as the introduction of a profound emotional dimension in the consumer experience. In conclusion, this research highlights the vital role of these concepts and themes in creating a significant emotional bond with consumers and enhancing the product’s appeal