E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
STRATEGI PERSONAL BRANDING PENARI LENGGER LANANG MELALUI MEDIA INSTRAGRAM PADA AKUN INSTRAGRAM @RIANTO_RDS
Penari lintas gender merupakan profesi yang masih dianggap tabu. Hal ini menjadikan kelompok
penari lintas gender menjadi termarjinalkan. Eksistensinya dianggap minor, sehingga membuat
mereka tidak memiliki akses yang sama dalam menampilkan personal branding-nya. Namun, bagi
Rianto, penari Lengger Lanang, keberadaan Instagram menjadi jalan alternatif untuk memfasilitasi
dirinya menampilkan personal branding dirinya sebagai penari lintas gender, baik secara profesional
maupun personal. Penelitian ini membahas tentang bagaimana strategi personal branding Rianto,
seorang penari Lengger Lanang Banyumas yang memiliki misi budaya untuk melestarikan kesenian
tersebut melalui personal branding di media Instagram. Metode penelitian yang digunakan adalah
deskriptif kualitatif dengan indikator yang terdiri atas sebelas karakteristik authentic personal
branding menurut Rampersad. Hasil penelitian menyebutkan bahwa strategi personal branding
Rianto adalah memiliki nilai, karakter, kode perilaku, dan moral, yang berfokus pada bidang
kesenian, konsisten, memiliki relevansi, visibilitas, mendapatkan pengakuan, menerapkan hal
positif, menjadi diri sendiri, menjaga eksistensinya, dan memelihara hubungan baik pada pengikut
di akunnya.
Kata kunci: Personal branding, Penari Lintas Gender, Media Sosial, Strateg
INDOENG KONSEP PENCIPTAAN KARYA TARI KONTEMPORER
Karya penciptaan tari dengan judul Indoeng merupakan aktualisasi empirik penulis, ketika kehilangan Ibu yang dicintai karena meninggal dunia, Indoeng berasal dari bahasa Sunda yang artinya Ibu. Konsep garap ini diwujudkan ke dalam bentuk tari kontemporer dengan sajian tunggal yang dibawakan oleh seorang penari perempuan. Karya tari ini bersifat tematik non-literer, karena di dalamnya menuangkan pengalaman pribadi yang berhubungan dengan rasa kasih sayang, kerinduan, dan kehilangan akan sosok Ibu sehingga bertipe dramatik dengan meng-gunakan struktur kerucut tunggal. Adapun teori yang digunakan adalah yang dikemukakan oleh Alma M. Hawkins yaitu “bahwa kreativitas menyangkut pemikiran imajinatif melalui proses merasakan, menghayati, mengkhayalkan, dan menemukan kebenaran”. Sejalan dengan teori tersebut, dalam penggarapannya menggunakan pendekatamn metode yang dikemukakan oleh F.X Widaryanto yaitu “eksplorasi, improvisasi, dan komposisi. Penciptaan karya tari ini bertujuan untuk menyampaikan atau memperkenalkan karya baru dengan kekuatan koreografi yang bersumber dari gerak tradisi dan gerak keseharian (gesture) yang distilisasi, serta dilengkapi dengan unsur musikal melalui nyanyian, monolog, dan setting artistik berupa bingkai foto.
Kata Kunci: Indoeng, Empirik, Dramatik, Monolog.
ABSTRACT
INDOENG CONTEMPORARY DANCE CREATION CONCEPTS. December 2022. The creation of a dance with the title Indoeng is an empirical actualization of the author, when he lost his beloved mother because she died, Indoeng comes from the Sundanese language which means mother. The concept of working on this is embodied in the form of contemporary dance with a single performance performed by a female dancer. This dance work is non-literary thematic in nature, because in it it expresses personal experiences related to feelings of affection, longing, and loss of a mother figure so that it is of a dramatic type using a single cone structure. The theory used is that put forward by Alma M. Hawkins namely "that creativity involves imaginative thinking through the process of feeling, living, imagining, and finding the truth". In line with this theory, in its cultivation it uses the method approach proposed by F.X Widaryanto, namely "exploration, improvisation, and composition. The creation of this dance work aims to convey or introduce new works with the power of choreography originating from stylized traditional and everyday movements (gestures), and complemented by musical elements through singing, monologues, and artistic settings in the form of photo frames.
Keywords: Indoeng, Empirical, Dramatic, Monologue
PROSES KREATIF KARYA TARI RUWAT CAI
Karya tari Ruwat Cai adalah karya yang terinspirasi dari upacara tradisional ngaruwat cai yang disebut Mikul Lodong, di Desa Cikurutug. Mengingat pentingnya menjaga air yang masih bersifat “sakral”, sebagaimana disebutkan dalam naskah Amanah Galunggung (633) bahwa upacara ngaruwat cai merupakan media dalam menjaga keseimbangan alam dan manusia. Proses garapan karya tari ini memiliki konsep garapan koreografi lingkungan, sehingga dalam mewujudkannya digunakan tiga pendekatan teori yaitu; estetika lingkungan, rekonstruksi, dan transformasi. Penggarapan karya Ruwat Cai menggunakan tahapan-tahapan penciptaan yang ditawarkan oleh Hendro Martono, terdiri atas lima tahapan penciptaan, meliputi, ritus bimasuci, ritus meruang, ritus mencair, ritus tematik, dan ritus kontemplasi. Sejalan dengan teori tersebut, metode yang digunakan yaitu Participatory Action Reasearch (PAR) yang di dalamnya tidak memisahkan diri dari situasi masyarakat yang diteliti, melainkan melebur ke dalamnya dan bekerja bersama warga dalam melakukan eksperimen tersebut. Eksperimentasi ini menghasilkan suatu bentuk proses kreatif yang hadir dari kekuatan tradisi lokal, hal ini sejalan dengan tujuan dalam tulisan ini yaitu sebagai bentuk kepedulian terhadap tradisi yang mulai punah dan kesadaran untuk menjaga alam sekitar, sehingga nantinya dapat menjadi sebuah wacana pelestarian lingkungan, khususnya air.
Kata Kunci: Ruwatan Mikul Lodong, Koreografi Lingkungan.
ABSTRACT: The Creative Process Of Cai\u27s Ruwat Dance. December 2022. The Ruwat Cai dance work is inspired by the traditional ngaruwat cai ceremony called Mikul Lodong, in Cikurutug Village. Given the importance of protecting water which is still "sacred", as stated in the Amanah Galunggung text (633) that the ngaruwat cai ceremony is a medium in maintaining the balance of nature and humans. The process of creating this dance work has the concept of working on environmental choreography, so that in realizing it, three theoretical approaches are used, namely; environmental aesthetics, reconstruction, and transformation. The cultivation of Ruwat Cai\u27s work uses the stages of creation offered by Hendro Martono, consisting of five stages of creation, including the bimasuci rite, space rite, melting rite, thematic rite, and contemplation rite. In line with this theory, the method used is Participatory Action Research (PAR) in which it does not separate itself from the situation of the community being studied, but rather merges into it and works with residents in carrying out the experiment. This experimentation produces a form of creative process that comes from the strength of local traditions, this is in line with the objectives in this paper, namely as a form of concern for traditions that are starting to become extinct and awareness to protect the natural surroundings, so that later it can become a discourse on environmental preservation, especially water.
Keywords: Mikul Lodong Ruwatan, Environmental Choreography
EKSISTENSI KESENIAN PENCAK SILAT BANDRONG DI PADEPOKAN SAMPURNANING JAYA BOJONEGARA, SERANG-BANTEN
Kehadiran kesenian dalam kehidupan masyrakat dapat berupa hiburan, upacara adat maupun acara lain seperti hajatan dan sebagainya. Seriing dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan, kesenian dan kebudayaan selalu mengalami perubahan dari masa ke masa. Hal tersebut terjadi dalam rangka penyesuaian dengan perkembangan tata kehidupan masyrakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Eksistensi Kesenian Pencak Silat Bandrong di Padepokan Sampurnaning Jaya, Bojonegara, Serang, Banten yang meliputi sejarah, perkembangan dan faktor-faktor yang mendukung eksistensi kesenian pencak silat Bandrong. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif. Subjek penelitian adalah anggota atau pelaku kesenian Pencak Silat Bandrong di Padepokan Sampurnaning Jaya, tokoh masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Serang. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian Eksistensi kesenian Padepokan Sampurnaning Jaya dipengaruhi oleh tiga unsur eksistensi yaitu: kelahiran karya seni, prestasi serta promosi yang dilakukan.
ABSTRACT
THE EXISTENCE OF BANDRONG PENCAK SILAT ARTS AT PADEPOKAN SAMPURNANING JAYA BOJONEGARA, SERANG-BANTEN, June 2023. The presence of art in people\u27s lives can be in the form of entertainment, traditional ceremonies and other events such as celebrations and so on. Along with the development of technology and science, art and culture are always changing from time to time. This happens in the context of adjustment to the development of community life. This study aims to describe the existence of Bandrong Pencak Silat art in Padepokan Sampurnaning Jaya, Bojonegara, Serang, Banten which includes history, development and factors that support the existence of Bandrong Pencak Silat art. The object of this research is Bandrong Pencak Silat Art in Padepokan Sampurnaning Jaya, Bojonegara, Serang, Banten. This research uses descriptive qualitative. The research subjects were members or performers of the Bandrong Pencak Silat arts in Padepokan Sampurnaning Jaya, community leaders and the Serang Regency Government. Data collection techniques using observation, interviews and documentation. Data analysis used data reduction, data description and conclusion drawing. The validity of the data was obtained by using the source triangulation technique. The results of the study the existence of Padepokan Sampurnaning Jaya art is influenced by three elements of existence, namely: the birth of the work of art, achievements and promotions carried out.
Keywords: Existence, Bandrong Pencak Silat Art, Padepokan Sampurnaning Jaya
Veltistopoíisi, Sebuah Karya Komposisi Yang Terinspirasi Dari Musik Klasik, Romantik, Karawitan Sunda Dan Bali, Serta Musik Soundtrack
Veltistopoíisi adalah sebuah karya komposisi yang terinspirasi dari musik klasik, romantik dan musik soundtrack maupun backsound film serta video game. Veltistopoíisi memiliki arti harfiah ‘untuk mengoptimalkan. Sesuai dengan judul yang diangkat, komposisi ini menggunakan sedikit motif dengan tujuan untuk mengoptimalkan pengembangan motif. Komposisi ini menggunakan bentuk medley tiga bagian berbeda: klasik, karawitan Sunda dan Bali, serta musik soundtrack. Karya komposisi ini menggunakan media alat musik bambu yang dikolaborasikan dengan instrumen musik barat. Karya ini dibuat dengan bentuk dan karakter instrumental. Komponen utama dalam karya musik ini adalah, harmoni, kontrapung, dan modus dari teori musik barat.
Kata kunci: (Veltistopoíisi, Komposisi, Kontrapung, Soundtrack, Harmoni, dan Modus
KAJIAN KRITIK SENI: MAKNA ARTISTIK TOPENG CIREBON PADA PERTUNJUKAN TARI TOPENG CIREBON
The growing awareness of sustainability has encouraged the textile industry to seek environmentally friendly solutions in production and product use. One of the natural materials that has attracted attention is hemp cloth, as it has eco-friendly properties and high durability. This study uses screen printing techniques to design sustainable home decor textiles using hemp fabric. This research method involves the stages of selecting raw materials, the process of creating designs, and implementing screen printing techniques on hemp fabrics. First, a qualitative analysis was carried out on the natural resources and environmental impact of hemp fabrics to ensure their sustainability. Furthermore, the design process takes place through the experimental stage and exploration of motifs and colors that match the desired home decor theme. The application of screen printing techniques to hemp fabrics is a critical step in this research. This technique was chosen for its efficiency in producing precise patterns with a minimal amount of staining, thereby reducing waste and environmental impact. In addition, screen printing also allows flexibility in creating unique and attractive designs for consumers. The result of this research is a collection of sustainable home decor textiles made of hemp fabric with attractive designs resulting from the screen printing technique. This collection is expected to provide alternative products that are environmentally friendly for consumers who are concerned about environmental and sustainability issues. In conclusion, this study shows that the use of hemp cloth with screen printing techniques can be a solution in designing sustainable home decor textiles. By utilizing environmentally friendly natural materials and efficient production techniques, it is expected to reduce the negative impact of the textile industry on the environment.
Keywords: Hemp Fabric, Sustainable, Home Decor, Screen Printing, Textiles
------------------------------------------------------------------------------------
Perkembangan kesadaran akan keberlanjutan telah mendorong industri tekstil untuk mencari solusi yang ramah lingkungan dalam proses produksi dan penggunaan produk. Salah satu bahan alami yang menarik perhatian adalah kain rami, karena memiliki sifat ramah lingkungan dan daya tahan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang tekstil sustainable home decor menggunakan kain rami dengan menerapkan teknik screen printing. Metode penelitian ini melibatkan tahap pemilihan bahan baku, proses penciptaan desain, dan implementasi teknik screen printing pada kain rami. Pertama, dilakukan analisis kualitatif terhadap sumber daya alam dan dampak lingkungan dari kain rami untuk memastikan keberlanjutannya. Selanjutnya, proses perancangan desain berlangsung melalui tahap eksperimen dan eksplorasi motif dan warna yang sesuai dengan tema home decor yang diinginkan. Penerapan teknik screen printing pada kain rami menjadi langkah kritis dalam penelitian ini. Teknik ini dipilih karena efisiensinya dalam menghasilkan pola yang presisi dengan jumlah pewarnaan yang minimal, sehingga mengurangi limbah dan dampak lingkungan. Selain itu, screen printing juga memungkinkan adanya fleksibilitas dalam menciptakan desain yang unik dan menarik bagi konsumen. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah koleksi tekstil sustainable home decor yang terbuat dari kain rami dengan desain-desain menarik hasil dari teknik screen printing.Koleksi ini diharapkan dapat memberikan alternatif produk yang ramah lingkungan bagi konsumen yang peduli akan isu-isu lingkungan dan keberlanjutan. Kesimpulannya, penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan kain rami dengan teknik screen printing dapat menjadi solusi dalam merancang tekstil sustainable home decor. Dengan memanfaatkan bahan alami yang ramah lingkungan dan teknik produksi yang efisien, diharapkan dapat mengurangi dampak negatif industri tekstil terhadap lingkungan.
Kata Kunci: Kain Rami, Sustainable, Home Decor, Screen Printing, Teksti
KAJIAN METAFORA KONSEPTUAL PADA TEKS KURATORIAL PAMERAN MANIFESTO VIII
This research aims to reveal the use of conceptual metaphors in curatorial texts using the Conceptual Metaphor theory proposed by George Lakoff and Mark Johnson (2003). In addition, this research also analyzes the relationship between the metaphor’s source domain and target domain. It uses a descriptive qualitative research method. The stages of this research are problem formulation, data collection, data analysis, data interpretation, and conclusion. The research results show that in the curatorial text of the Manifesto VIII exhibition, there are 39 metaphorical linguistic expressions, consisting of 10 structural metaphors, two orientational metaphors, and 27 ontological metaphors. The ontological metaphors found in this curatorial text are divided into three categories: first, personifying a thing or object as a human being; second, considering an object as a container with spatial content; and third, attaching concrete qualities to abstract things. Of the three categories, the curator gives more human qualities to inanimate objects (17 metaphorical linguistic expressions). It is in line with the aim of curatorial texts, which is to build the audience’s emotional involvement with the art narrative.
Keywords: curatorial text, conceptual metaphor, structural metaphor, orientational metaphor, ontological metaphor
------------------------------------------------------------------------------------
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan penggunaan metafora konseptual dalam teks kuratorial menggunakan teori Metafora Konseptual yang dikemukakan George Lakoff dan Mark Johnson (2003). Selain itu, penelitian ini juga menganalisis hubungan ranah sumber dan ranah sasaran metafora tersebut. Metode penelitian kualitatif deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Data penelitian dikumpulkan melalui penelusuran dan pencatatan. Adapun tahapan penelitian ini adalah 1) perumusan masalah; 2) pengumpulan data; 3) analisis data; 4) interpretasi data; 5) penyimpulan hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di dalam dalam teks kuratorial pameran Manifesto VIII, terdapat 39 ekspresi linguistik metafora, yang terdiri dari 10 metafora struktural, 2 metafora orientasional dan 27 metafora ontologikal. Metafora ontologikal yang ditemukan dalam teks kuratorial ini dapat dibagi ke dalam tiga kategori, yaitu pertama, mempersonifikasi suatu hal atau benda sebagai manusia; kedua, menganggap suatu objek sebagai wadah yang memiliki isi ruang; ketiga, melekatkan kualitas konkret pada hal abstrak. Dari ketiga kategori tersebut, kurator lebih banyak melekatkan kualitas manusia pada benda tak hidup (17 ekspresi linguistik metafora). Hal ini sejalan dengan tujuan teks kuratorial yaitu untuk membangun keterlibatan emosi audiens dengan narasi seni.
Kata kunci: teks kuratorial, metafora konseptual, metafora struktural, orientasional, ontologika
PENGARUH GEOGRAFIS TERHADAP WARNA BANGBARONGAN KESENIAN REAK SUNDA DI CIBIRU KOTA BANDUNG
Indonesia has a variety of arts that have their own characteristics in various aspects, one of which is in terms of color selection. The use of color in an art can be influenced by various factors, including environmental factors or geographical location. This research discusses the problem of whether or not there is an influence of geographical location on color with a case study of Bangbarongan art in Reak Sunda art in Cibiru District, Bandung City. To dissect this problem, an approach between fine arts and ethnography is used. The results of this research show that Bangbarongan art is an art that has spread and developed outside its original area. Bangbarongan itself is an adaptation of Bengberokan art from Indramayu. Although it is not the original art of Cibiru, the Cibiru community still has enthusiasm in developing Bangbarongan art. This can be seen from how the Bangbarongan art still exists today as part of the Reak Sunda art. In the element of color, not much has changed except in terms of its application to Bangbarongan in Cibiru and it still seems to retain its original color like Bengberokan from Indramayu. This is known because Indramayu and Cibiru still hold the same beliefs, especially in terms of interpreting a color. In addition, the religiosity of reak art in Cibiru is still quite strong, this can be seen from the rituals and making offerings before the show takes place.
Keywords: Geographical Location, Art, Reak, Bangbarongan, Color
------------------------------------------------------------------------------------
Indonesia memiliki bermacam-macam kesenian yang memiliki ciri khasnya masing-masing dalam berbagai sisi, salah satunya dalam hal pemilihan warna. Penggunaan warna pada sebuah kesenian dapat dipengaruhi berbagai faktor, diantaranya faktor lingkungan atau letak geografisnya. Penelitian ini membahas masalah mengenai ada tidaknya pengaruh letak geografis terhadap warna dengan studi kasus seni Bangbarongan pada kesenian Reak Sunda di Kecamatan Cibiru Kota Bandung. Untuk membedah permasalahan ini, digunakan pendekatan antara seni rupa dan etnografi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesenian Bangbarongan merupakan kesenian yang telah menyebar dan berkembang diluar daerah asalnya. Bangbarongan sendiri merupakan kesenian yang diadaptasi dari seni Bengberokan dari Indramayu. Meskipun bukanlah kesenian asli Cibiru, namun masyarakat Cibiru tetap memiliki antusias dalam mengembangkan kesenian Bangbarongan. Hal ini terlihat dari bagaimana kesenian Bangbarongan tetap eksis sampai sekarang sebagai bagian dari kesenian Reak Sunda. Dalam unsur warna, tidak banyak terjadi perubahan kecuali dalam hal pengamplikasiannya pada Bangbarongan di Cibiru dan terlihat masih mempertahankan warna aslinya seperti Bengberokan dari Indramayu. Hal ini diketahui karena antara di Indramayu dan Cibiru masih memegang kepercayaan yang sama terutama dalam hal memaknai sebuah warna. Selain itu, secara religiusitas kesenian reak di Cibiru masih cukup kuat, hal ini terlihat dari masih adanya ritual dan membuat sesajen sebelum acara pertunjukkan berlangsung.
Kata Kunci: Letak Geografis, Kesenian, Reak, Bangbarongan, Warn
STRUKTUR DAN FUNGSI KESENIAN DZIKIR BERDAH DI DUSUN SUNGAI MELAYU DESA MUARO JAMBI KECAMATAN MUARO SEBO KABUPATEN MUARO JAMBI
ABSTRAK
Penelitian ini betujuan untuk mendeskripsikan struktur kesenian dzikir berdah di Dusun Sungai Melayu Desa Muaro Jambi Kecamatan Muaro Sebo Kabupaten Muaro Jambi dan mengetahui fungsi dan kedudukan dari kesenian dzikir berdah berdasarkan sudut pandang masyarakat dan pelaku seni dzikir berdah, serta Menganalisis eksistensi kesenian dzikir berdah di Dusun Sungai Melayu Desa Muaro Jambi menggunakan Teori Struktural Fungsional Talcott Parsons. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Menggunakan Teknik Pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Struktur pertunjukan kesenian dzikir berdah terdiri dari tiga tahapan yaitu pra-pertunjukan, pertunjukan, dan pasca pertunjukan serta elemen-elemen pertunjukan yang mendukung di dalamnya. Kesenian dzikir berdah memiliki fungsi dalam kehidupan masyarakat antara lain sebagai sarana pemenuh kebutuhan estetis, sarana pemenuhan kebutuhan spiritual masyarakat, media dakwah, sarana integratif bagi sesama anggota masyarakatnya, serta sarana pelestarian budaya tradisional.
Kata Kunci : Kesenian dzikir berdah, Desa Muaro Jambi, Struktural Fungsional Talcott Parsons
ABSTRACT
This study aims to describe the structure of dzikir berdah art in Sungai Melayu Hamlet, Muaro Jambi Village, Muaro Sebo District, Muaro Jambi Regency and to find out the function and position of dzikir berdah art based on the perspective of the community and performers of dzikir berdah art, as well as to analyze the existence of dzikir berdah art in Sungai Hamlet. Muaro Jambi Village uses Talcott Parsons\u27 Structural Functional Theory. This research is a qualitative descriptive study. Using data collection techniques in the form of observation, interviews, and documentation. The results of this study indicate that the structure of the performing arts of dzikir berdah consists of three stages, namely pre-show, performance, and post-performance as well as supporting performance elements in it. The art of dzikir berdah has functions in people\u27s lives, among others, as a means of fulfilling aesthetic needs, a means of fulfilling the spiritual needs of the community, media for da\u27wah, an integrative means for fellow community members, as well as a means of preserving traditional culture.
Keywords: Art of dzikir berdah, Muaro Jambi Village, Structural Functional Talcott Parson