E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM TIGA PILAR BUDAYA; NGAOS, MAMAOS, DAN MAENPO
Referring to Presidential Regulation No. 87/2017 on Strengthening Character Education (PPK), the
government has organized character education by applying Pancasila values in character education
through the learning process of religious education, Pancasila, and citizenship. Meanwhile, Character
Education is an educational movement under the responsibility of the education unit to strengthen the
character of students through the harmonization of heart, taste, mind, and sports. The end of strengthening
character education is none other than to build the nation\u27s identity and competitiveness.The three pillars
of Cianjur culture in the form of ngaos, mamaos, maenpo, as one of the cultural and artistic expressions as
the nation\u27s identity have values that build the spirit of character education. This can be seen from the
elements contained in it, where in addition to national identity, there are also noble cultural ethical values,
including the value of art that accommodates the heart, taste, mind and body. Thus, the involvement of local
values in the character education movement is an appropriate effort. This research focuses on this effort,
especially in mapping the relationship between the three pillars of Cianjur culture and the conception of
character education.
Keywords: character education values, The three pillars of Cianjur culture
EKSPLORASI POTENSI KERAJINAN GOLEK DI DESA TARUMAJAYA DENGAN MEMANFAATKAN SEJARAH DAN KEARIFAN LOKAL
Kreatifitas merupakan kata kunci dalam keberlangsungan visibilitas sebuah karya kerajinan. Tidak sedikit
sebuah kerajinan mengalami stagnasi karena tidak mampu dikembangkan. Maka dari itu dibutuhkan sebuah
eksplorasi potensi dengan memanfaatkan sejarah maupun kearifan lokal untuk pengembangan kerajinan.
Hal tersebut yang penulis lakukan di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung.
Tujuannya untuk mengembangkan kerajinan Wayang Golek yang sudah ada sejak lama di desa tersebut.
Sejauh ini, kerajinan wayang golek di desa ini masih seperti pada umumnya. Akibatnya, kepopuleran
kerajinan wayang golek di desa ini terttutupi oleh kerajinan dari daerah lain. Eksplorasi ini dilakukan untuk
bisa menjadi dasar pengembangan kerajinan tersebut. Peneliti melakukan eksplorasi potensi dengan turun
ke lapangan dan melakukan observasi wilayah dan wawancara dengan pemangku kebijakan setempat.
Hasilnya ditemukan sejarah objek wisata dan kearifan lokal yang bisa dikembangkan untuk menjadi ciri
khas kerajinan wayang golek di Desa Tarumajaya.
Kata Kunci: Eksplorasi, Potensi, Wayang Golek, Desa Tarumajaya, Sejarah, Kearifan Loka
INTERNALISASI NILAI KARAKTER BUDAYA TRADISIONAL MASYARAKAT KAMPUNG ADAT MIDUANA KABUPATEN CIANJUR
Kampung Adat Miduana memiliki kekhasan dan keunikan yang membuat kampung adat ini berbeda dengan
kampung adat yang lain. Perbedaan tersebut terletak dari karakter geografis dan karakter masyarakat
setempat yang terlihat pada kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian
ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil dari penelitian ini mendeskripsikan
nilai-nilai karakter yang dimiliki oleh masyarakat, serta faktor-faktor yang mempengaruhi proses
internalisasi nilai karakter budaya tradisional bagi masyarakat Kampung Adat Miduana.
Kata Kunci: Nilai Karakter, Budaya Tradisional, Kampung Adat Miduan
TARI ‘TITI SURYA’
Karya ini menjelaskan tentang penciptaan tari kreasi baru ‘Titi Surya’ yang terinspirasi dari rangsang
visual melihat bentuk awan yang terkena bias cahaya matahari, dan rangsang kinestetik dari gerak
jangkung ilo serta keupat galeong dalam tari Sulintang karya R.Tjetje Somantri, di dalamnya
diinterpretasikan pada gambaran manusia dalam mengarungi proses kehidupan penuh dengan dinamika,
bentuk apapun yang telah digariskan yang Maha Kuasa dilalui dengan sabar, tabah, tawakal, dan ikhlas
diterima dengan rasa syukur. Metode kreativitas digunakan dengan melalui tahapan eksplorasi, evaluasi,
dan komposisi, yang di dalamnya memunculkan pendekatan teori interpretasi dari Michael Krausze. Hasil
dari karya ini merupakan tari kreasi baru yang masih melekat esensi tradisinya, yang dapatdisosialisasikan
kepada masyarakat luas khususnya kepada generasi muda.
Kata kunci: titi surya, metode kreativitas, rangsal visual awan
FURNITUR ANAK DARI KAYU PALET DENGAN PEWARNA ALAMI RAMAH LINGKUNGAN
Furnitur anak dirancang khusus sesuai dengan ergonomi anak. Furnitur ini dibuat dengan ukuran yang lebih
kecil dan sesuai dengan ukuran tubuh anak-anak. Faktor keamanan dalam furnitur anak merupakan salah
satu pertimbangan dalam membuat desain furnitur anak. Salah satunya yaitu penggunaan cat yang tidak
berbahaya. Pewarna alami merupakan material yang aman untuk diaplikasikan pada furnitur anak. Pewarna
alami merupakan alternatif yang lebih sehat dan ramah lingkungan daripada pewarna sintetis karena berasal
dari bahan-bahan alami yang biasa dikonsumsi. Penerapan pewarnaan alami pada furnitur akan menjadi
nilai tambah dalam perancangan furnitur anak. Temuan yang ditargetkan adalah desain furnitur anak dari
kayu palet dengan menggunakan pewarna alami. Material yang digunakan yaitu memanfaatkan kayu palet
atau kayu bekas peti kemas, sehingga lebih ramah lingkungan. Konsep ramah lingkungan ini diperkuat
dengan penggunaan pewarna yang berasal dari bahan-bahan alami, seperti tumbuhan, buah-buahan,
sayuran. Penelitian terdiri dari beberapa tahap. Tahapan pertama penelitian terdiri dari studi literature
mengenai kayu palet dan pewarna alam tumbuhan. Tahap berikutnya yaitu tahap pelaksanaan, berupa
penerapan pewarna alami pada furnitur kayu palet. Tahap akhir berupa pembuatan desain salah satu furnitur
anak. Target yang diharapkan adalah desain furnitur anak dengan karatekstik khas kayu palet pewarna alami
yang aman bagi pengguna dan ramah lingkungan.
Kata kunci : desain furnitur anak; kayu palet, pewarna alami, ramah lingkunga
Drama Tragedi: Dari Aristoteles hingga Arthur Miller
Abstract
This paper attempts to reformulate the meaning or definition of tragedy, a form of drama and literature, from Aristotle to Arthur Miller. The main purpose of this paper is to answer questions such as the following: What is a tragedy? What elements are present in the tragedy? How is the development of the concept of tragedy? To answer these questions, in this paper a qualitative method is used, with data collection techniques through searching the literature that is considered important and relevant. One of the most important writings is the writings of Aristotle entitled "Poetics". The writing is the main reference in formulating the concept of tragedy. There are many things that have not been revealed in this study, such as expressing the rejection of the concept of tragedy by theatre thinkers. It seems that, to complete this paper, it would be better if later there were researchers or writers who tried to examine this matter.
Key Words: Tragedy, Aristotle, Arthur Miller, Poetics
“Luncur Laung” Reinterpretasi Vokal Kesenian Musik Tradisional Nandong Kedalam Komposisi Musik Karawitan
ABSTRAK
“LUNCUR LAUNG” adalah sebuah karya komposisi musik karawitan yang berangkat dari kesenian Nandong tepatnya pada setiap awalan penandong memulai syair. “LUNCUR LAUNG” terdiri dari dua suku kata, yang mana “LUNCUR” berarti meluncur dan “LAUNG” suara yang kuat (nyaring) yang diteriakan (untuk memanggil atau menyeru). Berarti kata “LUNCUR LAUNG” di dalam karya ini dianalogikan sebagai bentuk peluncuran bunyi yang kuat dan nyaring, hal ini terlihat jelas pada kesenian Nandong Simeulue yang mana vokal Over Range yang dibentuk dengan tiga unsur yaitu panjang, tinggi dan melengking tersebut menjadi karakter yang sangat kuat. Fokus karya adalah Over Range yang terdapat dalam vokal Nandong, Over Range disini yaitu merupakan suatu unsur vokal yang dipaksa hingga melewati batas range dari instrument, Over Range pada karya “LUNCUR LAUNG” ini akan diaktualisasikan melalui materi garap serta penggunaan teknik yang dapat mewujudkan ide darya karya ini, perubahan tempo, dan penggarapan harmoni. Karya ini digarap menggunakan pendekatan reintepretasi, dengan menjadikan Over Range serta tiga unsur yang membentuknya yaitu panjang, tinggi, dan melengking sebagai bahan garap melalui instrumen vokal, seurune kale, lili seurune kale, suling, gitar bass, dan gitar elektrik.
Kata kunci: Nandong, Over Range, reinterpretasi, Luncur Laung,Vokal.
ABSTRACT
“LUNCUR LAUNG” is a work of musical composition based on Nandong art, precisely at the beginning of each penandong poem. “LAUNCUR LAUNG” consists of two syllables, where “LAUNCUR” means to glide and “LAUNG” is a strong (loud) sound that is shouted (to call or exclaim). This means that the word "LUNCUR LAUNG" in this work is analogous to a form of launching a strong and loud sound, this is clearly seen in the art of NandongSimeulue where the Over Range vocal which is formed with three elements, namely long, high and shrill, becomes a very strong character. The focus of the work is the Over Range contained in Nandong\u27s vocals. Over Range here is a vocal element that is forced to exceed the range limits of the instrument. Over Range in the work "LUNCUR LAUNG" will be actualized through working on material and using techniques that can realize Darya\u27s ideas. this work, tempo changes, and working on harmony. This work was worked on using a reinterpretation approach, by using Over Range and the three elements that form it, namely long, high and shrill, as material for the work using vocal instruments, seurune kale, liliseurune kale, flute, bass guitar and electric guitar.
Keywords: Nandong, Over Range, reinterpretation, LuncurLaung, Vocal
Kesenian Beluk Kampung Cirangkong Desa Cikeusal Kecamatan Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya: Bentuk dan Struktur Grup Candralijaya
Kesenian Beluk merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Jawa Barat. Beluk merupakan
seni vokal tanpa instrumen masyarakat Sunda yang memiliki ciri khas suara yang unik karena
dalam lantunan suaranya melengking dan meliuk-liuk sehingga dalam lantunannya memiliki
nada yang tinggi sekitar 7-9 oktaf. Pada awalnya Beluk ini diperuntukan sebagai media
komunikasi sekaligus media hiburan masyarakat saat ketika saat berladang, namun dengan
seiring perkembangan zaman seni Beluk kini dipertunjukan di kalangan masyarakat umum untuk
mengisi acara-acara tertentu dengan fungsi sebagai media hiburan khususnya di Kampung
Cirangkong Desa Cikeusal Kecamatan Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian ini secara
spesifik meneliti kesenian Beluk di Grup Candralijaya dengan tujuan untuk mendeskipsikan
bagaimana bentuk dan struktur kesenian Beluk. Penelitian ini menggunakan metode penelitian
kualitatif dengan pendekatan deskriptif yaitu dengan mengumpulkan beberapa hasil yang
dilakukan dengan beberapa teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, studi
pustaka, dokumentasi, dan teknik analisis data. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini
adalah Bentuk dan Struktur pertunjukan kesenian Beluk grup Candralijaya ini memiliki tiga
bagian dalam pertunjukannya yaitu bagian pembuka, bagian isi dan bagian penutup
TRADISI DAN TEKNOLOGI: STRATEGI KOMUNIKASI SOSIALISASI ANALOG SWITCH OFF (ASO) TELEVISI MELALUI PERTUNJUKAN RAKYAT
ABSTRACT
This article reviews the communication strategies employed by the Ministry of Communication and Information Technology (Kominfo) in promoting the policy transition from analog to digital television in Indonesia. This transition process, known as Analog Switch Off (ASO), represents a crucial step in the development of broadcasting technology in Indonesia. However, ASO also faces various challenges, including resistance from some segments of the population. The research methodology involves desk study and literature review, based on official reports from Kominfo regarding the ASO communication campaign and relevant literature in the fields of public communication and social behavioral change communication. The findings from the study indicate that Kominfo has utilized a cultural and storytelling approach as the primary tools in communicating social and behavioral change to address public resistance. This approach integrates local cultural values, regional languages, and cultural humor in folk art performances tailored to the cultural characteristics of different regions in Indonesia and vividly depicts the benefits of using Digital TV. This article underscores the importance of understanding and leveraging cultural capital in developing successful communication strategies to achieve desired social and behavioral changes while merging cultural traditions with technological innovation.
ABSTRAK
Artikel ini mengulas strategi komunikasi yang digunakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dalam sosialisasi kebijakan transisi dari televisi analog ke televisi digital di Indonesia. Proses peralihan ini, dikenal sebagai Analog Switch Off (ASO), merupakan langkah penting dalam pengembangan teknologi siaran di Indonesia. Namun, ASO juga menghadapi berbagai tantangan, termasuk penolakan dari sebagian masyarakat. Metodologi penelitian ini melibatkan desk study dan tinjauan literatur, berdasarkan laporan resmi Kominfo terkait kampanye komunikasi ASO dan literatur relevan di bidang komunikasi publik dan komunikasi perubahan perilaku. Temuan dari studi menunjukkan bahwa Kominfo telah menggunakan pendekatan budaya dan storytelling sebagai alat utama dalam komunikasi perubahan sosial dan perilaku untuk mengatasi tantangan penolakan publik. Pendekatan ini memadukan nilai-nilai budaya lokal, bahasa daerah, dan humor kebudayaan dalam pertunjukan kesenian rakyat yang disesuaikan dengan karakteristik budaya setiap daerah di Indonesia dan menggambarkan manfaat penggunaan TV Digital secara hidup dan menarik. Artikel ini menggarisbawahi pentingnya memahami dan memanfaatkan modal budaya dalam mengembangkan strategi komunikasi yang sukses untuk mencapai tujuan perubahan sosial dan perilaku yang diinginkan, sambil menggabungkan tradisi budaya dengan inovasi teknologi
DESAIN BERKELANJUTAN DENGAN PEWARNAAN WATERBASE PAINT PADA FURNITUR ANAK DARI KAYU PALET
Children’s furniture is furniture that is specifically designed to suit children’s ergonomics. The safety factor in children’s furniture is one of the considerations when designing children’s furniture. One element in the design is the use of non-hazardous paint. Natural dyes, one of which is water-based paint, is a dye that is safe to apply to children’s furniture. Waterbased paint is a healthier and environmentally friendly paint choice than synthetic dyes because it comes from natural ingredients which can even be applied to food container products. It is hoped that the application of natural coloring in children’s furniture design will support sustainable design, as does the use of pallet wood material in this research. Sustainable design is a design process that starts from extracting resources from nature to reprocessing them, using supporting methods and materials that are not harmful to the environment or human health, so that human and natural life on earth can continue to survive.
Keywords: Sustainable Design, Pallet Wood, Children Furniture, Waterbased Paint
------------------------------------------------------------------------------------
Furnitur anak adalah furnitur yang dirancang khusus sesuai dengan ergonomi anak. Faktor keamanan dalam furniture anak merupakan salah satu pertimbangan dalam membuat desain furniture anak. Salah satu elemen dalam perancangannya yaitu penggunaan cat yang tidak berbahaya. Pewarna alami, salah satunya adalah cat dengan bahan dasar air atau waterbased paint merupakan pewarna yang aman untuk diaplikasikan pada furniture anak. Waterbased paint merupakan pilihan cat yang lebih sehat dan ramah lingkungan daripada pewarna sintetis karena berasal dari bahan-bahan alami yang bahkan dapat diaplikasikan pada produk wadah makanan. Penerapan pewarnaan alami pada perancangan furnitur anak diharapkan akan mendukung desain yang berkelanjutan seperti halnya penggunaan material kayu palet dalam penelitian ini. Desain berkelanjutan adalah suatu proses desain yang dalam prosesnya dimulai dari pengambilan sumber daya yang ada di alam sampai pengolahan kembali, menggunakan metode dan material pendukung yang tidak berbahaya bagi lingkungan maupun kesehatan manusia, sehingga kehidupan manusia dan alam di bumi dapat terus bertahan.
Kata kunci: Desain Berkelanjutan, Kayu Palet, Furnitur Anak, Waterbased Pain