E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
    1925 research outputs found

    The Triadic Concept of The Bahtera Collective Script in The Learning Program with Maestro in Semiotics Perspective

    Full text link
    The Learning with Maestro (BBM) Program, initiated by the Ministry of Culture of the Republic of Indonesia, seeks to enhance art appreciation and cultivate student character through engagement with six art maestros: Ki Purbo Asmoro (dalang), Nasirun (painting), Sundari Soekotjo (music), Iman Soleh (theater), Gus TF Sakai (literature), and Didik Nini Thowok (dance). The BBM Theater Arts Program took place at Celah Celah Langit (CCL) in Bandung, with participants from eight distinct regions: Kupang, Bali, Aceh, Jambi, West Java, Banten, Yogyakarta, and Makassar. The objective of the study is to analyze Charles Sanders Peirce\u27s triadic idea as it pertains to the Bahtera text, emphasizing representamen, object, and interpretant. This research employs a descriptive qualitative methodology, utilizing data collection approaches such as observation, interviews, and document analysis. This study yielded five principal findings: the symbol of co-existence, plurality index, ecological icon, symbol of materiality, and symbol of transcendence. The study concludes that the Bahtera script functions as a communal semiosis capable of fostering social, ecological, and transcendent consciousness through symbolic dramatic signs. Interviews were systematically executed by devising research instruments comprising questions pertinent to the research subjects. The researchers interviewed a participant in the BBM program who was intimately engaged in the scriptwriting process. The interview is semi-structured, designed to obtain a comprehensive understanding of the script\u27s development background and the creative dynamics between the participants and the theater maestro in interpreting the script\u27s symbolism

    METAFORA MULTIMODAL DALAM POSTER FILM DOKUMENTER INDONESIA “AROMA OF HEAVEN”: SEBUAH ANALISIS KOMUNIKASI VISUAL

    Full text link
    Media Komunikasi Visual diyakini mudah untuk dilihat masyarakat luas. Komunikasi visual adalah sebuahrangkaian proses penyampaian infromasi atau pesan kepada pihak lain dengan penggunaan mediapenggambaran yang hanya terbaca oleh indera penglihatan. Salah satu media komunikasi visual yangbanyak digunakan adalah poster film yang diantaranya terdapat film dokumenter. Media poster tidakbisa dipisahkan dari sang konseptor dan audien. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif danpendekatan teori komunikasi visual dengan metafora multimodal, penelitian ini mengungkap bagaimanakonseptor memilih elemen-elemen metafora multimodal pada poster film dokumenter “Aroma ofHeaven” sebagai penyampai pesan serta sejauh mana pesan dapat dipahami oleh Adien. Hasil penelitianmenunjukan bahwa konseptor poster film dokumenter “Aroma of Heaven” sebelum memilih elemenelemen metafora terlebih dahulu menentukan sasaran pesan yang kemudian meramu pesan berdasarkankebiasaan, budaya dan tingkat kognisi audien. Konseptor kemudian memilih elemen-elemen topografi,ilustrasi, warna dan layout yang sederhana agar memudahkan audien membaca pesan pada poster. Semetaraaudien dalam membaca pesan visual film dokumenter “Aroma of Heaven” melibatkan pengalamandiri, kebiasaan, budaya dan tingkat kognisinya. Bila aspek-aspek dirinya terpenuhi maka audien dapatmemahami pesan pada poster. Relasi yang terbangun dari konseptor, media pesan dan audien membuahkankeberhasilan proses komunikasi visual melalui poster film dokumenter “Aroma of Heaven”

    REKONSTRUKSI SENI TRADISI DALAM KOREOGRAFI KARYA INDRAWATI LUKMAN

    Full text link
    Penelitian ini berangkat dari latar belakang kebijakan nasional mengenai Pemajuan Kebudayaansebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017. Pasal 1 Ayat 3 mengaturpemajuan kebudayaan sebagai upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budayaIndonesia melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan. Fokuspenelitian ini adalah mengkaji implementasi pasal tersebut pada praktik rekonstruksi seni tradisi,khususnya pada karya Indrawati Lukman berjudul Sasikirana, hasil rekonstruksi dari Tari Pamindo.Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui observasi,wawancara, dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori rekonstruksi budayayang memandang rekonstruksi sebagai tafsir baru atas warisan budaya. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa Sasikirana mengimplementasikan empat pilar kebudayaan: melindungi strukturdasar tari tradisi, mengembangkan dengan inovasi gerak, memanfaatkan sebagai karyapertunjukan, dan membina generasi penerus melalui pewarisan nilai. Namun, kesadaran senimanterhadap keterkaitan karya dengan regulasi formal masih rendah. Penelitian ini berkontribusi dalammenjelaskan hubungan antara kebijakan kebudayaan dan praktik seni, serta memberikanrekomendasi untuk memperkuat sinergi seniman dan regulasi kebudayaan.Kata kunci: pemajuan kebudayaan, rekonstruksi seni, tari Sasikirana, kebijakan budaya, teorirekonstruks

    PERAN MODAL SOSIAL DAN BUDAYA DALAM MEMINIMALKAN KEKERASAN SIMBOLIK DI SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KABUPATEN BANDUNG

    Full text link
    Kekerasan simbolik masih menjadi tantangan dalam dunia pendidikan khususnya di SekolahMenengah Pertama. Kekerasan ini beroperasi di bawah ambang kesadaran (nirsadar) dan bersifatlaten, menjadikannya tidak kasat mata dan jarang muncul sebagai wacana publik, serta sebagaifakta yang diperbincangkan secara terbuka. Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan darikekerasan simbolik adalah kecenderungannya untuk dinormalisasi. Kekerasan simbolik seringkaliditerima oleh pihak yang menjadi sasaran sebagai bentuk hal yang wajar. Tujuan utama penelitianini adalah untuk menganalisis peran modal sosial dan budaya sebagai upaya meminimalisirkekerasan simbolik pada Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Bandung dan mengidentifikasipraktik-praktik transformatif yang mengubah modal sosial dan budaya dari alat dominasi menjadisumber kesetaraan. Dengan pendekatan kualitatif serta desain etnografi, data dikumpulkan melaluiobservasi partisipan, FGD (Focus Group Discussion) dan wawancara mendalam di sekolah-sekolahuntuk mengungkap praktik kekerasan simbolik dalam konteks sosial-budaya spesifik pada SekolahMenengah Pertama (SMP) di Kabupaten Bandung. Hasil penelitian mengungkap tiga manifestasiutama, yaitu: ejekan berbasis penampilan dan pemberian label negatif antarsiswa, perbedaanperlakuan guru berdasarkan latar belakang sosio-ekonomi siswa, dan bias kelas dominan dalamkurikulum tersembunyi (hidden curriculum). Temuan kunci menunjukkan pemanfaatan transformatifkedua modal ini mampu menciptakan lingkungan sekolah yang egaliter. Implikasi kebijakanmenekankan perlunya: kurikulum berbasis komunitas yang mengakomodasi keragaman siswa,pelatihan kesadaran bagi guru, dan institusionalisasi program antibullying berbasis modal sosial danbudaya.Kata kunci: Kekerasan Simbolik, Modal Sosial, Modal Budaya

    INOVASI BENTUK PERTUNJUKAN KESENIAN KOROMONG BADUY SEBAGAI PENGUAT IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT BADUY LUAR

    Full text link
    Salah satu kesenian tradisonal yang ada di Baduy adalah kesenian Koromong. Pada zaman dahuluKesenian Koromong Baduy ini merupakan salah satu kesenian yang digunakan untuk upacarapanen padi. Saat ini kesenian Koromong bentuk pertunjukannya mengalami pergeseran fungsi, daripertunjukan ritual ke dalam pertunjukan hiburan. Dalam perkembangannya di temukan dan diidentifikasi bahwa kesenian koromong mulai melakukan inovasi pada bentuk pertunjukannya. Dalamproses inovasinya tidak banyak masyarakat mengetahuinya, bahkan di media pun tertutup,seharusnya adanya media digital merupakan salah satu alat yang bisa digunakan untukmemperkenalkan kesenian koromong terhadap masyarakat. Inovasi kesenain Koromong ini jugaberfungsi sebagai bahan pembelajaran bagi kesenian tradisional dalam berinovasi tanpamenghilangkan nilai-nilai tradisionalnya. Bentuk inovasi kesenian koromong Baduy sebagai penguatidenttitas budaya bagi masyarakatnya. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengkaji bentuk inovasikesenian Koromong Baduy dan melihat kontribusi inovasi terhadap penguat identitas budaya lokalbagi masyarakat Baduy. Metode Penelitian ini menggunakan Etnografi dengan perspektif etnografidigital, dengan mengumpulkan data-data terkait penelitian melalui media digital. Selain itu teknikpengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukanbahwa inovasi dalam aspek penyajian dan integrasi unsur-unsur modern seperti penambahan penaridan penyanyi dalam pertunjukannya, lirik lagunya, dan alat musiknya telah berhasil meningkatkandaya tarik pertunjukan tanpa menghilangkan nilai-nilai tradisional. Dengan demikian, inovasipertunjukan Koromong tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan, tetapi juga sebagai penguatidentitas budaya yang mampu memperkokoh keberlangsungan tradisi masyarakat Baduy luar di eramodern. Inovasi ini tidak hanya berperan sebagai media pelestarian budaya, tetapi juga sebagaipenguat identitas masyarakat baduy terhadap warisan budayanya.Kata kunci : Inovasi, Bentuk pertunjukan, koromong Baduy, Penguat Identita

    TREN KOREOGRAFI HEWAN DALAM KARYA TUGAS AKHIR TARI KONTEMPORER MAHASISWA ISBI BANDUNG (2022-2025)

    Full text link
    Kajian ini menelusuri karya tugas akhir tari kontemporer mahasiswa Jurusan Tari ISBI Bandung padaperiode 2022–2025, dengan perhatian khusus pada kecenderungan baru yaitu penggunaan hewansebagai sumber ide penciptaan. Pada awalnya, sebagian besar karya mahasiswa lebih banyakmenghadirkan corak dramatik dengan kecenderungan ke arah dance theatre, dipengaruhi gayapedagogi para dosen penciptaan. Namun sejak 2019, muncul kecenderungan lain berupa karyamurni yang mengolah inspirasi hewan menjadi eksplorasi tubuh. Penelitian ini menggunakanpendekatan kualitatif deskriptif-analitis melalui telaah dokumentasi karya, wawancara, dan studiliteratur. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa karya mahasiswa tidak berfokus pada peniruanhewan secara visual, tetapi pada proses transformasi dan representasi gerak di tubuh penari. KaryaWhooper (2019) tercatat sebagai pemicu tren ini dan disusul oleh sejumlah karya berikutnya, sepertiHaijag (2022), Bias (2022), Mau (2023), Kawa-kawa (2024), Sheeesh (2024), Sea Beels (2025),serta ROM (2025). Fenomena ini menandai pergeseran estetika kampus dari gaya dramatik menujueksplorasi murni berbasis tubuh, sekaligus memperkaya dinamika penciptaan tari kontemporer diISBI Bandung.Kata kunci: tari kontemporer, koreografi, tugas akhir, ISBI Bandung, hewa

    KONSEP INTERMEDIA PADA PERTUNJUKAN TEATER IBUNDA SURI KARYA SOLID ART INDONESIA

    Full text link
    Penggunaan konsep intermedia dalam pertunjukan teater di Indonesia semakin berkembang seiringhadirnya perangkat teknologi seperti kamera, proyektor, dan sistem tata suara. Kehadiran teknologitersebut membuka ruang eksplorasi artistik yang menjadikan teater tidak hanya sebagai mediumrepresentasi, tetapi juga sebagai arena pertemuan berbagai media. Salah satu kelompok yangmengeksplorasi intermedia adalah Solid Art Indonesia, kelompok seni pertunjukan asal Kota Serang,Banten. Melalui karyanya berjudul Ibunda Suri, Solid Art Indonesia menggabungkan boneka, tari,musik, dan proyeksi visual ke dalam satu kesatuan karya. Penelitian ini bertujuan menganalisispenerapan konsep intermedia dalam membangun estetika pertunjukan Ibunda Suri. Analisisdidasarkan pada perspektif teoritik yang diusulkan oleh Petern Eckersall dalam buku New MediaDramaturgy, yang menekankan bagaimana media baru dan praktik dramaturgis berinteraksi dalamproses kreatif. Metode yang digunakan adalah kualitatif, dengan fokus pada pencarian bentukintermedialitas dari elemen-elemen yang hadir dalam pertunjukan. Hasil penelitian menunjukkanbahwa intermedialitas terutama tampak pada kerja penyutradaraan yang melibatkan aspekskenografi, interaksi aktor manusia dan non-manusia, serta naskah sebagai catatan produksi. Selainitu, dimensi sejarah dan kepenontonan juga muncul, meskipun belum sepenuhnya memperolehruang dalam kerangka konseptual intermedia.Kata Kunci: Intermedia, Teater, Banten, Solid Art Indonesi

    KENDANG WAYANG GOLEK GARUTAN PENGUATAN IDENTITAS BUDAYA KABUPATEN GARUT

    Full text link
    Pola tepak kendang merupakan satu bagian penting dalam sebuah pertunjukan wayang golek, karena dapatmembangun sebuah identitas individu pemain kendang dan identitas daerah dimana kendangan tersebutberada. Sebelum tahun 1980 keberagaman sebuah identitas pola tepak kendang wayang golek di setiapdaerah berkembang dengan baik termasuk di daerah Kabupaten Garut. Munculnya para tokoh pengendangyang secara konsisten menjaga marwah identitas pola kendang wayang golek gaya Garut menjadi ikontersendiri bagi percaturan tepak kendang dalam wayang golek. Namun, identitas pola tepak wayang golekGarutan saat ini seolah-olah hilang. Hal tersebut disebabkan oleh mayoritas para tokoh kendang tersebutberprofesi sebagai praktisi, sehingga proses pendokumentasian baik berupa catatan maupun dokumen audiovisual tidak dilakukan sebagaimana mestinya. Pentingnya penelusuran pola tepak kendang Garutan ini akanmenumbuhkan kesadaran untuk menjaga identitas gaya musik daerah. Tujuan penelitian ini yakni untukmengidentifikasi pola tepak kendang yang meliputi ragam, struktur, dan motif kendang wayang golek GayaKabupaten Garut. Tujuan lain dari penelitian ini yaitu menganalisis ragam, struktur, dan motif pola tepakkendang sebagai penguat identitas pertunjukan wayang golek Garutan.Kata kunci: Pola Tepak kendang; Kendang wayang golek; Identitas budaya; Ragam tepak kendang; motiftepak kendang

    RITUAL NGALA PANGACIAN: NGAGUMULUNGKEUN RUH (KOSMOLOGI SUNDA)

    Full text link
    Penelitian tertuju pada upaya penjelasan terhadap konsep roh berdasar pada bentuk praktik ritual ngalapangacian. Permasalahan utama terletak pada hipotesis bahwa setiap bentuk praktik ritual berpijakpada dasar konsep pengetahuan sebagai landasan berlaku praktik. Sejauh ini, dasar berlakunya bentukpraktik ritual ngala pangacian belum pernah dijadikan objek penelitian. Penjelasan rasional terhadapbentuk praktik ritual ngala pangacian berguna penjelasan lebih dalam atas konsep roh seturutpengetahuan lokal tradisional. Landasan teoritikal memakai grounded theory (research) yang menjadidasar metode penelitian dikerjakan secara induktif. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa asas dasarkonsep roh mengacu pada percampuran antara konsep menurut ajaran Islam, Kristen, Hindu, Budha,dan animisme. Akan tetapi, bentuk praktik ritualnya sendiri teridentifikasi sebagai kelanjutan asaskepercayaan animisme.Kata kunci: antropologi religi, ritual, roh, ngala pangacia

    Empowering Dance Learning in Forming Character Education of Early Children

    Full text link
    The dance learning process at Aryandini Kindergarten is attended by all children aged 4-6 years. This learning is carried out to train the development of children\u27s cognitive, affective, motoric, social emotions, interests, talents, creativity, communication, instilling educational values and humanity, aesthetic sensitivity, and learning to preserve culture. This research aims to empower dance learning in forming children\u27s character education. One of the dance titles being taught is bebegig dance. The method used in this research is a qualitative method with a case study approach. The result of the research shows that before the children actively danced, the value aspect of relationships with others and the value aspect of relationships with themselves obtained a score of less than 70, meanwhile, after they actively danced, the score increased to 90. In conclusion, by empowering dance learning, children\u27s character education can be formed optimally. Keywords: Dance learning; character education; early childhoo

    1,711

    full texts

    1,925

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇