E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
KOMIK EDUKASI PAHLAWAN NASIONAL “TOHA-RAMDHAN, BANDUNG LAUTAN API”, SEBUAH UPAYA MENGEMAS SEJARAH BANGSA UNTUK PENDIDIKAN KARAKTER ANAK SEKOLAH DASAR
Upaya untuk membangun karakter Anak Indonesia perlu terus dicanangkan. Salah satunya denganmerekonstruksi sejarah kepahlawanan tokoh- tokoh nasional, dan memperkenalkan keteladanan sertaperjuangan tokoh- tokoh tersebut pada anak. Para Pahlawan Bangsa, baik itu masa pra kemerdekaan,maupun pasca kemerdekaan, memberikan sebuah contoh sikap dan keyakinan yang kuat dalam menghadapiberbagai tantangan, terutama menghadapi imperialisme dan kolonialisme. Buku komik edukasiPahlawan Nasional ini merupakan sebuah alat komunikasi pembelajaran sejarah agar lebih diminatiPelajar SD. Cara berkomunikasi melalui komik terutama karena adanya unsur gambar dan teks (narasimaupun dialog) yang sebetulnya sudah dipakai oleh nenek moyang bangsa kita ratusan tahun yang lalu,melalui berbagai seni bertutur visual narrative. Penelitian ini merupakan salah satu upaya yang strategisdalam membentuk dan membangun karakter Anak Bangsa yang saat ini digempur dengan figur dan budayaluar yang belum tentu sejalan dengan cita- cita para pendiri bangsa. Metoda penelitian dilakukansecara deskriptif naratif, dengan pendekatan manajemen seni dan teori desain dengan mengacu padaberbagai literatur sejarah, literatur komik, serta literatur mengenai pendidikan karakter. Output daripenelitian berupa 1 naskah komik berwarna 26 halaman
Minimalist Art and the Iconization of Trees in Waiting for Godot
The minimization of performance art is aimed at presenting human darkness and innocence in a philosophical interpretation. This is what Samuel Beckett presented in his 1953 performance Waiting for Godot. Art minimization makes the number of props less, but is able to visualize the desired thematic of the script. This minimalism, which is supposed to display simplicity, becomes more “luxurious” due to the presence of iconic things from absurd performances. In the midst of the minimalist, gloomy, and arid decorations in Waiting for Godot, the tree becomes the center of attention. This tree becomes something very iconic and will strongly remind the audience of the show. The process of something becoming iconic is called iconization, which is a “deliberate” process. Beckett allegedly deliberately iconizes the tree, with a number of realities in the text (textual) and the reality of the performance (atmospheric). This iconization and minimization is intended to make the performance more basic and simple, less philosophical and metaphysical. This article is the result of an analysis of several texts written by Samuel Beckett
ANALISIS NILAI MORAL DALAM LAGU "SI NONA" DALAM PERSPEKTIF MASYARAKAT MINANGKABAU
This research aims to reveal the moral values in the song "Si Nona" which originates from West Sumatra. This song was created by Sjamsu Arifin and popularized by Elly Kasim, describing advice to Minangkabau women to maintain their own and family honor. The research method used is qualitative with semiotic analysis based on Roland Barthes\u27 theory, focusing on the concepts of denotation and connotation. The research results show that denotatively, the lyrics of the song "Si Nona" prohibit young women from leaving the house without a purpose (malala) and don\u27t go to a man\u27s house. Connotatively, this song reflects Minangkabau social norms and customs which expect women to maintain modesty and be societal role models. The song "Si Nona" functions as a moral education tool that reminds women of the importance of protecting themselves and the dignity of their family, as well as teaching traditional values that must be upheld in everyday life.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai moral dalam lagu “Si Nona” yang berasal dari Sumatera Barat. Lagu ini diciptakan oleh Sjamsu Arifin dan dipopulerkan oleh Elly Kasim, yang menggambarkan nasihat bagi wanita Minangkabau untuk menjaga kehormatan diri dan keluarga. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis semiotika berdasarkan teori Roland Barthes, dengan fokus pada konsep denotasi dan konotasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara denotatif, lirik lagu “Si Nona” melarang wanita muda untuk keluar rumah tanpa tujuan (malala) dan tidak pergi ke rumah laki-laki. Secara konotatif, lagu ini mencerminkan norma dan adat istiadat Minangkabau yang mengharapkan wanita untuk menjaga kesopanan dan menjadi panutan masyarakat. Lagu “Si Nona” berfungsi sebagai sarana pendidikan moral yang mengingatkan wanita akan pentingnya menjaga diri dan martabat keluarga, serta mengajarkan nilai-nilai adat yang harus dijunjung tinggi dalam kehidupan sehari-hari
Implementasi Teknik Bracing pada Organologi Kacapi indung Karya Endo Suanda
Kacapi indung is one of the traditional musical instruments from Cianjur, West Java, known as an important part of the art of Tembang Sunda Cianjuran. Based on its organology, Tembang Sunda Cianjuran is made of Kenanga wood. The object of this research is an analysis of organology with a focus on the implementation of bracing techniques on Kacapi indung performed by Endo Suanda. The method used is descriptive qualitative with an organological approach. Data collection was carried out by means of observation, interviews and documentation. The result of this research is that the bracing technique implemented in Kacapi indung is based on changes in raw materials which were originally made from wood and then replaced by bamboo. Bamboo has a different thickness from wood, requiring Kacapi indung to add bracing so that Kacapi indung can be sturdier and stronger.Kacapi indung adalah salah satu alat musik tradisional dari Cianjur, Jawa Barat, yang dikenal sebagai bagian penting dalam kesenian Tembang Sunda Cianjuran. Berdasarkan organologinya, Tembang Sunda Cianjuran terbuat dari kayu Kenanga. Objek penelitian ini adalah analisis organologi dengan fokus pada penerapan teknik penjarian pada Kacapi indung yang dilakukan oleh Endo Suanda. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan organologi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa teknik bracing yang diterapkan pada Kacapi indung didasari oleh perubahan bahan baku yang semula berbahan dasar kayu kemudian diganti dengan bambu. Bambu memiliki ketebalan yang berbeda dengan kayu sehingga mengharuskan Kacapi indung menambahkan bracing agar Kacapi indung dapat lebih kokoh dan kuat
Garap Sekar Caturan: Embrio Drama Swara dan Gending Karesmén Karya Mang Koko
Mang Koko has contributed various kawih wanda anyar patterns, such as kawih anggana sekar, kawih sekar caturan, kawih rampak sekar and others. From these various patterns, it turns out that there is a connection between one type of kawih and another, which implies that the first kawih pattern is the embryo of the second pattern and so on. This connection can be seen in the work of kawih sekar caturan which became the embryo of the drama swara and gending karesmén. The method I used is a qualitative research method (J. Moleong, 1990), that intends to understand the facts behind reality through direct observation or on-field review, while for the theory I refer to the theory garap by Rahayu Supanggah. The working process on the creation of the sekar caturan song carried out by Mang Koko is one of the steps in creating his larger works, namely drama swara and gending karesmén. The three types of Mang Koko\u27s works have one thing in common, dramatical music, where the karawitan elements (sekar and gending) must be a medium for aesthetic expression that strengthens the dramatic elements. In his work, he goes through every process by learning, trying and repeating. The creative process that he has gone through has made Mang Koko a great artis
SISTEM PEWARISAN SENI TRADISI GAMBANG KROMONG PADA SANGGAR SENI JANAKA DI DEPOK JAWA BARAT
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sistem pewarisan seni tradisi Gambang Kromong pada sanggar
seni Janaka, di Depok Jawa Barat. Kesenian tradisional keberadaannya saat ini sudah mulai terkikis oleh
kemajuan zaman modern. Kesenian Gambang Kromong merupakan salah satu kesenian masyarakat Betawi
dengan memadukan alat musik gamelan dan alat musik dari Tionghoa. Kesenian ini merupakan akulturasi
budaya antara masyarakat Betawi dengan Tionghoa. Keberadaan seni tradisonal ini sangat tergantung pada
generasi penerusnya dalam mempertahankan dan melestrarikanya. Tujuan dalam penelitian ini untuk
berkontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan khususnya di bidang ilmu budaya dan seni. Dalam
kaitannya dengan sistem pewarisan seni tradisi Gambang Kromong pada sanggar seni Janaka dilakukan
untuk memeberikan dorongan dan perhatian terhadap generasi penerus kesenian Gambang Kromong.
Penelitian ini merupakan penelitain kualitatif dengan menggunakan metode etnografi, di mana metode ini
dapat mengungkapkan sistem pewarisan kesenian tradisonal Gambang Kromong pada sanggar seni Janaka
yang berada di kota Depok. Teknik dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam, observasi
lapangan, dokumentasi, serta kajian pustaka dalam melengkapi hasil penelitian lapangan
FESTIVAL SENI DAN RUANG PUBLIK YANG INKLUSIF BAGI PELESTARIAN SENI TRADISI DAN PENGEMBANGAN EKOSISTEM PARIWISATA DI JAWA BARAT
TEPAK CIWARINGINAN DAN LAGU KHAS PADA SENI PENCAK SILAT DI KOTA BANDUNG
Pencak silat merupakan seni bela diri identitas budaya bangsa Indonesia yang telah ditetapkan oleh
UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda. Pencak silat di Jawa Barat bukan hanya dikategorikan
sebagai olahraga bela diri, melainkan juga sebagai salah satu rumpun kesenian. Pencak silat pada konteks
pertunjukan kesenian, sering juga disebut Kendang Penca (dilihat dari sudut pandang estetika karawitan)
dan Ibing Penca (dilihat dari sudut pandang estetika tari). Fokus artikel ini yaitu, mendeskripsikan ragam
pola tepak ciwaringinan dan lagu khas pada dalam rumpun pencak silat di Kota Bandung.
Pertimbangannya, lagu-lagu dan tepak tersebut sampai saat ini tidak pernah lagi muncul dalam setiap
pertunjukan kendang penca, bisa dikatakan keberadaannya mulai punah. Dalam artikel ini, penulis
mengunakan pendekatan kualitatif dari Jhon W. Creswell yaitu dengan cara mengumpulkan data melalui
observasi, dokumentasi, serta wawancara. Setelah data didapatkan, selanjutnya penulis melakukan analisis
data untuk menguji kebenaran data. Artikel ini membahas gambaran umum pencak silat sebagai seni
pertunjukan, iringan musik pencak silat di Bandung, deskripsi pola tepak ciwaringinan, dan deskripsi lagu
khas dalam seni pencak silat. Pada artikel ini dapat disimpulkan bahwa seni pencak silat merupakan salah
satu aspek yang sangat penting dalam khasanah seni pertunjukan di Indonesia, khususnya di Jawa Barat.
Secara estetika, pencak silat pada umumnya terdiri dari estetika bentuk seni tarian Pencak Silat (ibing
penca), estetika musik (karawitan), dan estetika tata busana tradisional. Selain itu, temuan dalam penelitian
ini yaitu terdapat ragam pola tepak ciwaringinan dan lagu khas yang belum dikenal oleh masyarakat.
Kata Kunci: Pencak Silat, Tepak Ciwaringinan, Lagu Khas Pencak Sila
PERAN METAFORA KONSEPTUAL PADA PESAN KOMUNIKASI DALAM TEKS KURATORIAL MANIFESTO VIII: TRANSPOSISI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran metafora konseptual yang terdapat dalam pesan
komunikasi tertulis pada teks Kuratorial Manifesto VIII: Transposisi. Penelitian ini menggunakan metode
kualitatif deskriptif dengan teknik simak dan teknik catat untuk pengumpulan data. Dengan meminjam tiga
kategori metafora konseptual Lakoff, penelitian ini mengungkap pesan yang mengandung metafora
konseptual dalam teks kuratorial. Data penelitian menunjukan terdapat 39 buah ungkapan metaforis, dengan
uraian sebagai berikut: metafora konseptual struktural sebanyak 10 buah, metafora konseptual orientasional
sebanyak 2 buah dan metafora konseptual ontologis sebanyak 27 buah. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kurator lebih banyak menggunakan metafora ontologis yang melekatkan kualitas manusia pada
benda tak hidup dan mengkonkretkan hal abstrak. Peran metafora konseptual ontologis dalam hal ini adalah
untuk memperjelas dan mempertegas pesan kurator sehingga memudahkan pemahaman khalayak.
Kata kunci: metafora konseptual, teks kuratorial, kurato
BIG DATA ANALISIS: PAMERAN SENI RUPA KONTEMPORER DI BANDUNG DALAM MASA PANDEMI
Pada akhir tahun 2019 dan awal tahun 2020, dunia mengalami situasi sulit akibat pandemi COVID-19.
Dampak ini tidak terkecuali di sektor seni, khususnya dunia seni rupa. Paling terkena dampak dari efek
pandemi adalah terbatasnya aktivitas seni kontemporer, baik oleh seniman maupun organisasi pameran
seni oleh galeri, museum, atau acara seni lainnya. Konsekuensi yang mencolok adalah pembatasan
interaksi sosial langsung dalam aktivitas seni dan organisasi pameran. Namun, dunia seni rupa tidak
kehabisan solusi; berbagai metode, strategi, dan teknik digunakan untuk memastikan praktik seni dan
pameran tetap berlanjut. Beberapa kegiatan seni kontemporer dilakukan, baik dalam pengaturan offline
terbatas maupun secara virtual melalui platform online. Melalui pendekatan analisis big data, tujuan
penelitian ini adalah menganalisis frekuensi pameran seni kontemporer di Bandung selama periode
pandemi dari tahun 2020 hingga 2022, beserta dampaknya pada aktivitas seniman dan pameran di galeri
di Bandung.
Kata kunci: Big Data, Pameran, Seni Kontemporer, Pandem