E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
Pengembangan Keterampilan Bernyanyi Mahasiswa Difabel Nonfisik melalui Pelatihan Musik di Art Therapy Center Widyatama
Abstract
This study aims to describe the process and outcomes of singing skill training for non-physical disabled students at the Art Therapy Center Widyatama. The research used a descriptive qualitative method, with observation and interviews as the main data collection techniques. The study found that the singing skill training was conducted through several stages, including basic technique introduction, singing practice, and performance evaluation. Despite some challenges during the training process, such as difficulties in adapting to the learning methods, the results show that students were able to significantly develop their vocal skills. These findings support the importance of adapting teaching methods to meet the specific needs of disabled students to maximize their potential in the field of music arts.
Keywords: singing training, non-physical disabilities, music, arts education, adaptive teachingAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan proses dan hasil pelatihan keterampilan bernyanyi pada mahasiswa difabel nonfisik di Art Therapy Center Widyatama. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan observasi dan wawancara sebagai teknik pengumpulan data utama. Penelitian ini menemukan bahwa pelatihan keterampilan bernyanyi dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pengenalan teknik dasar, praktek bernyanyi, dan evaluasi performa. Meskipun terdapat kendala dalam proses pelatihan, seperti kesulitan adaptasi dengan metode pembelajaran, hasil menunjukkan bahwa mahasiswa mampu mengembangkan keterampilan vokal mereka secara signifikan. Temuan ini mendukung pentingnya adaptasi metode pengajaran sesuai dengan kebutuhan khusus siswa difabel untuk memaksimalkan potensi mereka dalam bidang seni musik.
Kata kunci: pelatihan bernyanyi, difabel nonfisik, musik, pendidikan seni, pengajaran adapti
ANALISIS MAKNA SIMBOLIK DALAM PROSESI TRADISI PERNIKAHAN SUKU BANGSA BATAK MANDAILING DI TAPANULI SELATAN, SUMATERA UTARA
ABSTRAK
Tujuan pada penelitian ini ialah untuk menganalisis mengenai makna simbolik pada tradisi pernikahan suku Mandailing. Metode pada penelitian ini ialah menggunakan analissi deskriptif dengan menggunakabn metode pengumpulan data triangulasi. Hasil dari penelitian ini yakni: pada tradisi pernikahan sudah menjadi sebuah ritual di setiap suku kebudayaan Indonesia, salah satunya ialah pada suku batak Mandailing. Suku batak Mandailing merupakan salahsatu bagian dari suku daerah provinsi Sumatera Utara, yang terletak di kabupaten Tapanuli Selatan. Dalam tradisi suku batak Mandailing memiliki beberapa prosesi yang harus dilakukan didalamnya, juga tersirat didalamnya mengenai makna simbol, serta nilai-nilai Islam tentang pernikahan suku batak Mandailing. Islam merupakan agama bersifat Rahmatan lil a’lamin, agama yang diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi manusia dan sebagai rahmat bagi sekalian alam. Pernikahan dalam Islam merupakan ajaran agama guna untuk menjalankan sunnah rasulullah, serta untuk beribadah. Pernikahan suku batak Mandailing ini ialah merupakan suatu ritual kebudayaan bertujuan untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga. Menanggapi tentang prosesi adat pernikahan yang sangat menarik yang dimiliki di dalam suku batak Mandailing. Pernikahan pada suku batak Mandailing merupakan sebuah simbol sebagai bentuk pencurahan rasa syukur pada Allah yang maha esa, serta ucapan doa harapan untuk kedua mempelai, penyampaian pesan nasehat untuk bekal dalam mengarungi kehidupan yang baru.
Kata kunci: Makna, Simbol, Pernikahan, Suku Batak Mandailing
ABSTRACT
The aim of this research is to analyze the symbolic meaning of the Mandailing tribe\u27s wedding traditions. The method in this research is to use descriptive analysis using triangulation data collection methods. The results of this research are: the tradition of marriage has become a ritual in every Indonesian cultural tribe, one of which is the Mandailing Batak tribe. The Mandailing Batak tribe is a part of the regional tribes of North Sumatra province, which is located in South Tapanuli district. In the tradition of the Mandailing Batak tribe, there are several processions that must be carried out in it, it also contains the meaning of symbols and Islamic values regarding weddings of the Mandailing Batak tribe. Islam is a religion that is Rahmatan lil a\u27lamin, a religion that was revealed to be a guide for humans and a blessing for all nature. Marriage in Islam is a religious teaching to carry out the sunnah of the Prophet Muhammad, as well as to worship. The Mandailing Batak tribe wedding is a cultural ritual aimed at strengthening ties between families. Responding to the very interesting traditional wedding procession that the Mandailing Batak tribe has. Marriage in the Mandailing Batak tribe is a symbol as a form of expressing gratitude to Almighty Allah, as well as saying prayers of hope for the bride and groom, conveying messages of advice to provide provisions for navigating a new life.
Keywords: Meaning, Symbols, Marriage, Mandailing Batak Tribe
APROPRIASI BUDAYA TRADISI UNDUKAN DORO DI KAMPUNG SETRO II KOTA SURABAYA
ABSTRAK
Undukan doro adalah tradisi adu kecepatan burung burung merpati. Tradisi ini telah berlangsung sejak lama di Kota Surabaya dan identik dengan aktivitas perjudian. Meskipun identik dengan perjudian, undukan doro masih dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis korelasi antara pergeseran nilai dan perampasan budaya pada tradisi undukan doro di Kelurahan Gading, Kecamatan Tambaksari, Kota Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan faktor pergeseran nilai dan ambiguitas kedudukan tradisi undukan doro sebagai kearifan lokal dengan eksistensi moralitas. Faktor yang mendasari pergeseran makna tradisi undukan doro yakni adanya fenomena cultural appropriation karena perilaku penyalahgunaan makna tradisi. Degradasi nilai pada tradisi undukan doro menimbulkan stereotip negatif sehingga mengancam keberadaan komunitas undukan doro. Bentuk ancaman terhadap keberadaan komunitas undukan doro adalah punahnya tradisi akibat adanya tekanan masyarakat.
Kata kunci : Undukan doro, cultural appropriation, stereotip
ABSTRACT
Undukan doro is a tradition of pigeon speed competition. This tradition has been held for a long-term period in Surabaya and is identical to gambling activity. Although identical to gambling, undukan doro is still being done. This research analyzes the correlation between value displacement and cultural appropriation on undukan doro in Gading Village, Tambaksari District, Surabaya City. The method that is used in this research is descriptive qualitative. All the data for this research is collected by observation and interview. The result from the research shows factors that caused the change of meaning in undukan doro tradition and ambiguity between undukan doro existence as a local tradition and its contradictive point to morality. The main factor of undukan doro tradition meaning change is caused by cultural appropriation phenomenon due to misappropriating the meaning of tradition. Value degradation in the undukan doro tradition has caused negative stereotypes and threatens the existence of the undukan doro community. The form of threat to undukan doro existence is the traditional extinction due to societal pressure.
Keywords: Undukan doro, cultural appropriation, stereotyp
RELIGIOMAGIS TUJUH PUSAKA INTI KERAJAAN SUMEDANG LARANG
ABSTRAK
Kerajaan Sumedang Larang merupakan kerajaan bercorak Islam di Jawa Barat yang berdiri sekitar abad ke-8 masehi. Kerajaan ini meninggalkan benda-benda pusaka yang sampai saat ini masih dapat disaksikan masyarakat. Kerajaan Sumedang Larang memiliki 7 pusaka inti yang dijaga kelestariannya melalui upaya kolektif masyarakat melalui ritual Ngumbah Pusaka dan juga melalui edukasi historis. Penelitian ini bertujuan untuk memahami unsur religiomagis yang terkandung dalam 7 pusaka inti Kerajaan Sumedang Larang. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan studi literatur. Teknik analisis data yang digunakan adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur religiomagis pada 7 pusaka inti terletak pada kepercayaan masyarakat Kerajaan Sumedang Larang dalam proses pembuatan benda-benda pusaka yang bercampur dengan unsur spiritualitas pembuatnya seperti pemberian ritus-ritus, doa-doa atau melakukan puasa, sehingga mengonstruksi persepsi kesakralan dan kekeramatan terhadap 7 pusaka inti Kerajaan Sumedang Larang.
Kata kunci: religiomagis, Kerajaan Sumedang Larang, tujuh pusaka inti
ABSTRACT
The Sumedang Larang Kingdom was a kingdom in West Java. The kingdom has bequeathed heirlooms that are still observable in the present time. The objective of this study is to comprehend the magical and religious aspects present in the 7 fundamental artifacts of the Sumedang Larang Kingdom. This study employs a descriptive and qualitative research approach, utilizing data collection methods such as interviews, observation, and literature review. The employed data analysis technique encompasses data reduction, data display, and conclusion formulation. The study\u27s findings indicate that the magical and religious aspects of the 7 key heirlooms are rooted in the beliefs of the people of the Sumedang Larang Kingdom. These elements are intertwined with the spiritual aspects of the creators, which involve performing rituals, offering prayers, and observing fasting. This arrangement evokes a sense of the sacred and divine nature of the 7 fundamental relics of the Sumedang Larang Kingdom.
Key words: Religious-Magic, Seven Key Heirlooms, Sumedang Larang Kingdo
Jenis dan Aplikasi Suling Sunda dalam Karawitan
The flute is an important instrument in Sundanese music played by blowing, made from various types of bamboo such as Tamiang, Irateun and Bunar bamboo. This instrument is used in various Sundanese arts such as Sundanese song cianjuran, kawih wanda anyar, and classical degung. The development of suling organology, including the addition of tone holes, has provided musical flexibility and variety but also increased the complexity of playing. The method used in this research is qualitative with an ethnographic approach. The focus of this research is the creative process of practicing Sundanese flute artists in using these types of flutes in various Sundanese musical performances. Data collection was conducted using observation, in-depth interviews, literature study and documentation. The results of the study include a description of the types of Sundanese flutes and the application of Sundanese flutes in various Sundanese art performances as well as the creative process of flute artists in utilizing organological innovations in Sundanese flutes
EKSISTENSI PERTUNJUKAN TARI TOPENG HAJATAN
Tari Topeng Hajatan adalah salah satu bentuk pertunjukan Tari Topeng Cirebon yang ditampilkan pada
acara-acara hajatan masyarakat di wilayah Cirebon dan sekitarnya. Salah satu bentuk pertunjukan Tari
Topeng Hajatan adalah Kupu Tarung, yang menampilkan dua rombongan Topeng dalam satu
arena/panggung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan eksplanasi mengenai eksistensi
pertunjukan Tari Topeng Hajatan hingga saat ini. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang
mencakup empat tahapan kerja, yaitu: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Hasil dari penelitian
ini menunjukkan bahwa eksistensi pertunjukan Tari Topeng Hajatan hingga saat ini masih dipertahankan
dan mengalami dinamika dari waktu ke waktu. Pada periode tahun 1970-an sampai 1980-an Tari Topeng
Hajatan mengalami peningkatan frekuensi pertunjukan yang cukup banyak, sementara pada periode 1990-
an hingga saat ini frekuensi pertunjukannya mengalami penurunan.
Kata kunci : Hajatan, Tari Topeng Cirebo