E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
Preserving Cultural Heritage Through a Traditional Ritual: A Case of Kabuyutan Ciburuy
The Seba ceremony in Kabuyutan Ciburuy is a tradition of preserving cultural heritage that has been carried out for generations. Currently, Kabuyutan Ciburuy is no longer actively used as an educational institution, nor are the contents of its ancient manuscripts used as a reference for the development of science. For this reason, this research tries to dissect why this happens. This research uses a qualitative research method which is believed to be a scalpel in research, thereby helping to explain the research object factually. The research step is to carry out participant observation, the researcher actively participates in the activities being researched. Also hold interviews with local cultural figures either formally or informally. The result of this research is a descriptive explanation of the Seba Ceremony as an effort to preserve cultural heritage. Because heirlooms refer to educational activities, such as the discovery of many manuscripts, one of which contains advice on old Sundanese character and ethics. This has become a high level of cultural wealth by continuing to carry out the Seba ceremony as a form of preservation so that it remains alive and relevant for future generations.
Keywords: Seba Ceremony, Ciburuy District, Preservation, Cultural Heritag
Menelisik Tanda Nitik pada Batik
Tulisan ini membahas tentang simbol nitik yang divisualisaikan dan diekspresikan pada selembar kain (batik) dalam bentuk geometris, garis, lengkung, oval, ellips, dan terjadi pengulangan-pengulangan dengan beragam kombinasi. Penulisan ini bersifat kualitatif, data yang dikumpulkan melalui observasi lapangan, dan wawancara kelompok pembatik batik nitik di Desa Trimulyo, Bantul, Yogyakarta. Data dianalisis dengan pendekatan simbolik (interptretivisme simbolik) untuk menemukan pengetahuan dan pesan-pesan melalui simbol-simbol yang menjadi ciri khas ragam seni hias nitik pada batik. Hasilnya pola seni hias nitik sarat dengan nilai spiritualitas yang menggambarkan cara berpikir kosmosentris. Karakter nitik terus berkembang mewujud yang beragam bentuk dengan struktur yang berubah-ubah,namun polanya masih tetap sama.This research aims to explore the background knowledge and way of thinking of the people who still continue to make batik with nitik motifs in Trimulyo Bantul Village, Yogyakarta. The characteristic of nitik motifs is geometric motifs with dots (squares), lines, curves, ovals, ellipses, and repetition in simple to complex forms. How to research qualitative methods with an ethnographic approach. The result is that the nitik decorative art pattern is full of spiritual values that depict a cosmocentric way of thinking. The character of natik continues to develop into various nitik motifs with changing structures, but the pattern remains the same.
Keywords: nitik batik, geometric patterns, sacred-profane, Trimulyo village
Penelitian ini bertujuan menelusuri latar belakang pengetahuan dan cara berpikir masyarakat yang sampai sekarang masih bertahan membatik motif nitik di Desa Trimulyo Bantul, Yogyakarta. Cirikhas motif nitik yaitu motif geometris dengan penanda bentuk titik (persegi), garis, lengkung, oval, ellips, dan terjadi pengulangan dengan wujud yang sederhana hingga rumit. Cara penelitian metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Hasilnya pola seni hias nitik sarat dengan nilai spiritualitas yang menggambarkan cara berpikir kosmosentris. Karakter nitik terus berkembang mewujud yang beragam dengan struktur yang berubah-ubah, namun polanya masih tetap sama.
Keyword : batik nitik, pola geomtris, sakral-profan, desa Trimuly
Upaya Pelestarian Tradisi Upacara Accera Kalompoang di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan
Penelitian ini mengkaji mengenai tradisi upacara Accera Kalompoang yang dilaksanakan masyarakat dan pemerintah Kabupaten Gowa terkait. Melalui analisis terhadap kontribusi masyarakat dan langkah-langkah yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gowa, tradisi upacara Accera Kalompoang yang diselenggarakan secara rutin setiap tahun dapat terus dilestarikan. Penelitian ini memakai pendekatan kualitatif, untuk melihat secara aktual objek yang diteliti. Data penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara kepada informan yang terkait pada objek penelitian. Dari data yang telah dikumpulkan kemudian mendapatkan temuan Accera Kalompoang dimulai sekitar tahun 1605 pada pemerintahan raja Gowa ke-14. Seluruh rangkaian Accera Kalompoang dilihat sebagai konteks ritual budaya Kerajaan Gowa. Dalam upaya menjaga kelestarian Accera Kalompoang hingga saat ini para stakeholder sangat menjaga keaslian tradisi dan alur dari semua prosesi tradisi upacara ini tanpa adanya perubahan
Penciptaan Produk Eksklusif Melalui Aplikasi Material dan Tekstur Pada Karya Fotograf
This research is an effort to synthesize, explore and experiment to formulate photographic products of applied art by combining aspects of photographic art and aspects of painting. Concretely, through this research, digital photo printing will be carried out on paper and canvas media which in the next stage will be applied with painting materials and techniques to get an exclusive impression. The physical consumption of photography is now increasingly focused on meeting domestic and artistic needs. The results of observations show that the texture in the painting has its own visual strength, which is not found in photographic works. The main question of this research is how to select, digitally print photos on certain media, and apply materials and painting techniques to produce unique, exclusive, and characteristic photo works through the application of materials and painting techniques. The innovation resulting from this research is a working model to increase the value of photo prints in society by adding textural elements resulting from the touch of a hand. The creative method for creating works refers to Graham Wallas in The Art of Thoughts which consists of stages: preparation, incubation, illumination and verification. The product will be analyzed by using Otto Ocvirk’s theory in Art Fundamentals Theory and Practice. He discusses that texture gives the illusion of a touch effect so that the surface character looks real. It is found that applying resin to photos printed on paper has a positive impact and corresponds to the illusory effect to be achieved.
Keywords: texture, photograph, exclusive produc
PROSES KREATIF PENCIPTAAN KARYA TARI KONTEMPORER “TUBUH SILAT”
Pencak Silat Indonesia lahir dari budaya yang penuh dengan nilai-nilai kehidupan, sehingga Pencak Silatdisamping difungsikan sebagai bela diri, seni, juga sebagai media edukasi. Seiring dengan perubahanwaktu dan perkembangan zaman pengajaran dan pelatihan Pencak Silat saat ini pada banyak tempatkhususnya di Jawa Barat cendrung berfokus pada pola pelatihan yang mengajarkan bentuk dan hafalangerak atau jurus, mengabaikan penggalian nilai-nilai yang terkandung didalamnya penggalian rasa,dan daya imajinasi pesilat. Melalui proses kreatif penciptaan karya tari “Tubuh Silat”, mencoba untukmenghadirkan Pencak Silat sebagai media edukasi, penanaman nilai-nilai dengan menggali kepekaanraga, rasa, pikir, dan imajinasi. Memperkuat dan mempertajam konsep untuk penciptaan karya tariini dilakukan sebuah penelitian artistik, practice-based research, dan memadukannya dengan metodepenciptaan Relasi Artistik untuk tahapan proses penciptaan dan metode Literasi Tubuh Wajiwa untukproses pelatihan dasar guna memperdalam dan memperkuat konsep serta menfasilitasi pemberdayaanpesilat anak-anak dan remaja. Diharapkan karya tari kontemporer “Tubuh Silat” ini dapat menjadi wadahpresentasi dari proses kreatif yang dilakukan, serta mencoba menghadirkan kembali hakikat daripelatihan Pencak Silat sebagai pembelajaran nilai-nilai kehidupan, disamping sebagai unsur bela diri
REFORMULASI MUSIK ARUMBA DALAM PERSPEKTIF LINTAS BUDAYA
Meningkatnya pertukaran budaya yang menjadi ciri penyebaran globalisasi telah memunculkan interpretasibaru terhadap musik bambu di Indonesia. Sebagai salah satu bentuk musik populer daerah, musikbambu telah memainkan peran penting dalam membentuk identitas Jawa Barat dan Indonesia. Penelitianini mengeksplorasi keterkaitan musik arumba dengan budaya lain dan menganalisis pengaruh integrasiini terhadap budaya musik lokal. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menentukan posisi musikarumba dalam masyarakat Jawa Barat dan untuk mengkaji pengaruh musik Barat dan budaya lain. Penelitianini juga berupaya untuk menyoroti peran dan pengaruh musik arumba dalam ranah musik populerdaerah di Asia dan global, baik sebagai bentuk media komunikasi maupun diplomasi budaya. Penelitianini dirancang selama lima bulan, dengan lokasi penelitian utama di Jawa Barat. Sepuluh orang akandiwawancarai secara semi-terstruktur untuk mengumpulkan data terkait dinamika musik arumba dalamkonteks lokal dan global. Data tambahan berupa video, audio, dan berita di media massa akan dikumpulkanuntuk mendukung argumen penelitian. Semua informan akan dipilih berdasarkan pengalaman,tingkat keterampilan, dan kontribusi mereka terhadap pengembangan musik Arumba, termasuk keterlibatanpraktis di studio, grup musik, perusahaan, sekolah, dan kampus. Sebagai upaya untuk melindungihak kekayaan intelektual dan mempromosikan kreativitas di kalangan akademisi
ARUS BALIK DARI SAKRAL, PROFAN KEMBALI KE SAKRAL: STUDI KASUS FUNGSI DAN PERKEMBANGAN MAMAOS, DI LOKUS CIANJUR DAN BANDUNG
Umumnya kesenian tradisi yang hidup hingga era mutakhir dapat mempertahankan diri dengan caramengubah fungsi atas eksistensinya dari fungsi sakral menjadi profan, atau dalam bahasa sederhana;dari fungsi ritus yang basis utamanya dasar kepercayaan, menjadi hiburan dengan basis kepentingannyapasar. Dalam konteks perubahan tersebut terjadi komodifikasi seni tradisi, dari dominasi nilai-nilaimoral menjadi nilai-nilai industri. Tentu saja keadaan tersebut tidak dilihat sebagai baik dan buruk,atau benar dan salah, sebab baik dalam dimensi sakral maupun profan, keduanya secara subjektif dapatdimaknai memiliki nilai-nilai yang bermuara pada kepercayaan dan moralitas. Terdapat fenomena yangberbeda dari kebanyakan pola perubahan fungsi seni dalam mempertahankan hidup dalam perkembanganMamaos yang hidup di locus Cianjur, kemudian berubah dan berkembang menjadi tembang Sundacianjuran di luar locus Cianjur. Di mana perubahan tersebut memiliki pola arus balik, dari fungsi sakralsaat hidup di Cianjur sebagai Mamaos, kemudian seiring dengan perpindahan ibu kota Priangan menujuBandung sejalan dengan berubahnya Mamaos menjadi tembang Sunda cianjuran. Perubahan danperkembangan tersebut terjadi baik secara tekstual terhadap wujud objek musikal Mamaos itu sendiri,maupun fungsi. Salah satu yang menandai perubahan tersebut adalah dominasi lagu panampih yangsebelumnya di locus Cianjur, hanya bersifat selingan atau sisipan dalam repertoar pertunjukan utama,kemudian menjadi dominan ketika berkembang di luar locus Cianjur. Perubahan teks musikal tersebutternyata diiringi dengan perubahan konteks fungsi pertunjukan, di mana sebelumnya memiliki banyakaturan rigid sebagai pertunjukan khusus kalangan Pendopo, dengan fungsi-nya yang cenderungsakral (dalam arti mengedepankan nilai-nilai moralitas sebagai media yang identik dengan religiusitas)kemudian beruhan menjadi hiburan dengan mengedepankan nilai-nilai kebutuhan pasar yang identikdengan kebutuhan industri. Uniknya, dalam konteks mutakhir, tembang Sunda cianjuran yang terushidup dan berkembang seiring dengan perubahan zaman justru “kembali” ke fungsi awal yang dalampementasannya identik dengan kebutuhan ritus, dengan basis kepercayaan. Belakangan tembang Sundacianjuran, baik di locus Cianjur, maupun di luar Cianjur, dominan digunakan sebagai bagian dari upacara-upacara ritual, seperti; dalam adat pernikahan Sunda, syukuran, dan berbagai event yang memilikinilai-nilai kepercayaan. Sejalan dengan teori Arus Balik yang dikemukakan Bosch, peristiwa tembangSunda cianjuran memiliki pola yang analog dengan teori tersebut, di mana sumber fungsi awal mamaosmenginspirasi kembali fungsi sakral terhadap tembang Sunda cianjuran. Penelitian ini melakukan telaahsecara mendalam dengan pendekatan sinkroni dan diakroni terhadap perkembangan Mamaos, dalamdua locus yang berbeda, untuk memetakan peristiwa arus balik fungsi dari dimensi Sakral, Profan,kemudian kembali ke Sakra
ASSEMBLAGE ART SEBAGAI METODE PENCIPTAAN SENI RUPA BERBASIS OBJEK TEMUAN PADA KOMUNITAS INVALID URBAN
Assemblage art adalah istilah yang digunakan dalam karya seni rupa yang berasal dari teknik penggabunganberbagai objek temuan atau benda-benda bekas sehari hari yang disusun dan dirakit hinggamembentuk kesatuan karya seni. Istilah ini pertama kali muncul awal abad ke-20 dan sering dikaitkandengan gerakan avant garde seperti dalam seni Dada dan seni Konstruktivisme. Hal ini dianggap telahmempengaruhi perkembangan seni modern ke arah kontemporer dengan membawa pendekatan yanginovatif terhadap metode penciptaan, materialitas, dan makna objek. Salah satu komunitas seni yangmenggunakan teknik assemblage sebagai metode utama penciptaan karyanya adalah komunitas InvalidUrban. Komunitas ini berdiri di Bandung sejak tahun 2000, hingga saat ini aktif mengedepankanprojek-projek seni eksperimental berbasis benda-benda temuan yang dirakit secara artistik hinggamenjadi kesatuan karya yang utuh dan menarik. Penelitian tentang assemblage art akan menggunakanpendekatan metode kualitatif, kombinasi dari metode kualitatif dan kuantitatif. Metode yang digunakandalam penelitian ini adalah dengan metode kualitatif dengan pendekatan Etnografi. metode ini digunakanuntuk memahami perilaku, kepercayaan, dan norma suatu kelompok sosial atau budaya. Metodeini melibatkan pengamatan partisipan, di mana peneliti secara langsung terlibat dalam kehidupan sehari-hari kelompok tersebut. peneliti berupaya dapat menggali makna dan konsep-konsep yang mendasariassemblage art pada karya Invalid Urban yang dapat memberikan kontribusi keilmuan dalamdunia akademik dan hubungannya dengan perkembangan seni rupa kontemporer saat ini yang memuatisu-isu sosial, budaya, dan lingkungan yang relevan
Perkembangan Singa Depok di Subang Jawa Barat
ABSTRACT
The art of the Depok lion or gotong lion is one of the performing arts in West Java. The birth of the Depok lion art was through the people of Subang. Previously, the Depok lion was a form of satire against the Dutch and the British during the colonial period, but now its function has changed. In terms of manufacturing, the Depok lion is carved
and then shaped like a wild animal using wood and carried on the shoulders of the dancers. This study used a qualitative descriptive analysis method from the book Qualitative Research Methods by Dr. H. Zuchri Abdussamad, S.IK., M.Sc. to explain things related to the subject matter that the author thinks about. The type of research
used is Document Study. The procedure for obtaining qualitative research data was obtained from several journal excerpts, published data on the arts of Singa Depok. Data collection techniques are carried out by collecting data that has been published. The purpose of the researchers to research Singa Depok is that 1) Singa Depok art in Subang, West Java, is maintained and continues to increase the creativity of the community, 2) Making people aware of Singa Depok art, which is a cultural icon in
Subang, must be taught so that there will continue to be generations, especially to young people, 3) So that the people of Subang preserve traditional arts and continue to experience development.
Key words: lion depok, origin, manufactur
“GukKatura” Tafsiran Ornamentasi Suling Kesenian Musik Tradisional Sebuku Menggunakan Instrumen Eksperimental Kedalam Komposisi Musik Karawitan: GukKatura”: Interpretation of Flute Ornamentation in the Traditional Music of Sebuku Using Experimental Instruments in a Karawitan Music Composition
This article presents the creation of a new karawitan music composition titled “GukKatura”, inspired by the Singuk ornamentation technique found in the Gayo flute (Suling Gayo) performance of the Sebuku (Pepongoten) tradition from Central Aceh. The main focus is the musical interpretation of the Acciaccatura ornament, perceived as a leaping grace note, and reimagined through a reinterpretative approach. The composition incorporates a range of experimental instruments such as drone flute, PVC saxophone, and fujara, and utilizes compositional techniques including call and response, interlocking, hocketing, and polymeter. The creative process involved field observation, interviews with tradition bearers, instrument exploration, and performance realization. GukKatura introduces a fresh perspective in transforming traditional ornamentation into a contemporary composition, contributing to the enrichment of Indonesian karawitan music.“GukKatura” merupakan komposisi karawitan baru yang bersumber dari kesenian sebuku tepatnya pada teknik permainan soleng gayo yang disebut dengan Singuk, yang memiliki ornamentasi Acciaccatura yang berwujud lompatan, , GukKatura merupakan judul yang dilahirkan dari istilah kata yang mana Guk diambil dari kata Singuk sedangkan Katura di ambil dari kata Acciaccatura, pemaknaan lainnya, yaitu gabungan tiga buah kata yang memiliki arti berbeda yaitu Guk Ka tura. Yang berasal dari bahasa gayo berarti “grenek itu harus”, Acciaccatura yang dihadirkan dalam karya “GukKatura” ini akan di aktualisasikan melalui materi garap yang bermain full ornamentasi serta menggunakan teknik garap seperti call and respon, interlocking, hocketing, unison, dinamika dan poli meter, dan dibagi menjadi tiga bagian karya yang di aplikasikan ke dalam enam buah instrumen eksperimental dibagian pertama, lima buah instrumen suling dibagian kedua dan instrumen bass, tiga djimbe dan dua buah instrumen suling di bagian ketiga.
Kata kunci : Sebuku, Suling Gayo, Singuk, Acciaccatur