E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFESIENSI PELAKSANAAN ANGGARAN BELANJA INSTITUT SENI BUDAYA INDONESIA BANDUNG
DESA DUKUH ROAD TO ONE VILLAGE ONE PRODUCT PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI SENI BUDAYA BERBASIS PARIWISATA TAHUN 2023
REPRODUKSI KESENIAN: TERKIKISNYA BUDAYA KESENIAN DI DESA TANJUNGLAYA, KEC. CIKANCUNG, KAB. BANDUNG
MELACAK JEJAK SEJARAH PERADABAN BUDAYA SUKU MUNA DI KAWASAN LIANG KOBORI KABUPATEN MUNA SULAWESI TENGGARA
Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, memiliki situs gua-gua prasejarah yang merupakan warisan budayadari leluhur bangsa. Salah satu kawasan ini adalah Liang Kobori, yang berarti “gua kobori.” SitusLiang Kobori merupakan warisan berharga dari masyarakat Suku Muna, yang menyimpan misteri estetikdi balik sejarah peradaban artistiknya. Ribuan tahun yang lalu, lukisan-lukisan menghiasi dindinggua. Lukisan-lukisan ini dibuat oleh nenek moyang Suku Muna dengan makna dan simbol yang memilikihubungan erat dengan identitas budaya masyarakatnya. Gua-gua ini tidak hanya berfungsi sebagaitempat tinggal dan perlindungan, tetapi juga sebagai tempat meditasi, ritual, dan pengungkapan nilaiartistiknya. Tujuan penelitian ini adalah menyingkap makna simbolis, filosofis, dan estetis dari lukisan-lukisan di situs Leang Kobori dengan menggunakan metode deskripsi interpretatif. Hasil siretnyamembuktikan bahwa lukisan di gua -gua kawasan Liang Kobori memiliki makna simbolis yang eratkaitannya dengan peradaban dan kecerdasan masyarakat pada masa itu. Penelitian ini penting dilakukanuntuk mengungkap dan melestarikan nilai-nilai yang terkandung di dalam lukisan-lukisan tersebutsebagai kekayaan budaya bangsa
ETIKA DAN ESTETIKA DALAM TARI KETUK TILU GAYA PAKALERAN
Ketuk Tilu merupakan representasi dari masyarakat agraris. Dalam pelaksanaannya terdapat unsur magicyang berhubungan dengan adat istiadat para pelaku seni Ketuk Tilu. Artikel ini, akan menganalisisetika dan estetika Ketuk Tilu gaya Karawang, dan Ketuk Tilu Subang dengan menggunakan pendekatanLevinson. Persimpangan antara estetika dan etika dapat dipahami sebagai tiga bidang penyelidikan.Yang pertama adalah permasalahan atau anggapan umum dalam estetika dan etika, yang merupakandua cabang teori nilai tradisional. Yang kedua adalah persoalan etika dalam estetika, atau dalam praktikseni. Dan bidang ketiga adalah persoalan estetika dalam etika, teoretis dan terapan. Etika para pelakuseni tradisi sebelum tampil di atas panggung ada yang harus dilakukan, yaitu; jiarah ke kuburan, mandikembang, datang ke dukun untuk minta jampi-jampi atau susuk, hal ini disebut sebagai pamake. untukmemperkuat daya tariknya secara presentasional senantiasa melakukan pendekatan spiritual yang berkaitandengan “pamake”. Kegiatan tersebut merupakan magi produktif untuk mempertajam tubuhnyaagar selalu bercahaya atau bersinar, sehingga akan tampak auranya ketika tampil di atas pentas. Selanjutnyaberkaitan dengan magi protektif adalah berhubungan dengan keselamatan, agar pada waktupertunjukan mendapatkan pelindungan dari Allah SWT, supaya lancar dan selamat. Pada pertunjukanKetuk Tilu itu secara estetik meliputi sajian lagu, tarian, dan rias busana. Pola sajian lagu pada KetukTilu masing-masing lagu mempunyai strukturnya sendiri yang membedakan dengan lagu lainnya, inilahyang menjadikan ciri khas Ketuk Tilu. Ungkapan estetik Ketuk Tilu itu jika ditilik pada pertunjukannyameliputi Kewès, Luwes, dan Pantes. Keadaan ini, selanjutnya menjadikan ronggeng sebagai wanita yangmandiri dan wanita yang eksklusif, sehingga hal itu mengakibat pada dirinya mengalami suatu perubahanpergantian perilaku (bihavioral shift). Dari realitas ini, sesungguhnya ronggeng dalam kontekskedudukan dan perannya di tengah-tengah masyarakat dan kehidupan
RELASI PENGETAHUAN EKOLOGI MASYARAKAT SUNDA (PATANJALA) DENGAN POLA PERMAINAN KARAWITAN BANGKONGAN DAN TONGGÉRÉTAN
Paradigma masyarakat timur yang cenderung hidup di tengah ekologi yang subur melahirkan pandanganbahwa alam adalah bagian dari kehidupan, sehingga dikenal dengan pola pikir ekosentris yang menempatkanmanusia sejajar dengan alam, bahkan cenderung menempatkan alam sebagai entitas yang lebihtinggi dan perlu dihormati. Dari paradigma tersebut, salah satunya dapat ditemukan dalam berbagaibentuk ekspresi, dari sistem pengetahuan, hingga ritual-ritual yang menunjukkan penghormatan manusiaterhadap alam. Salah satunya dikenal dengan konsep pertiwi, bahwa alam adalah ibu yang merawatkeseimbangan, yang menghidupi, sehingga setiap ekspresi kebudayaan selalu bersandar pada carapandang tersebut. Dalam mempraktikan penghormatan terhadap alam, dikenal konsep Patanjala yangmengedepankan konsep wilayah (ruang), wayah (waktu) dan lampah (perilaku), di mana setiap interaksimanusia terhadap alam, termasuk pemanfaatan manusia secara langsung terhadap alam, dibatasi dengankonsep aturan ruang, aturan waktu, dan aturan perilaku manusia dalam memperlakukan alam. Merujukpada pandangan klasik tentang kebudayaan dan habitatnya, menjadi pertanyaan penting apakah dalamkebudayaan Sunda ekspresi seni sebagai bagian dari dimensi 7 (tujuh) unsur kebudayaan, memilikirelasi dengan paradigma memperlakukan alam? Khususnya dalam seni musik tradisi (Karawitan), dimana ditemukan pola permainan musikal yang erat dengan ekologi, seperti Bangkongan dan Tongérétansebagai dua pola permainan mimesis dari perilaku Rana Shqiperica (katak air) yang identik denganmusim penghujan (mijih) dan Cicadidae (Tongérét/Garengpung) yang identik dengan penanda musimkemarau. Kajian ini fokus pada telaah relasi pola permainan musikal Karawitan Sunda dengan konsepwayah atau waktu/musim sebagai pengetahuan ekologi masyarakat Sunda
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM TARI WAYANG PRIANGAN
Pendidikan karakter merupakan aspek kritis dalam membentuk identitas individu dan masyarakat. Artikelini mengeksplorasi pendidikan karakter dalam konteks seni tradisional Jawa Barat, khususnya TariWayang Priangan. Fokus utama studi ini adalah pada dua pasang tarian yang mencerminkan kearifanlokal dan moralitas tradisional, yakni Tari Srikandi-Mustakaweni dan Tari Arjuna Sasrabahu-Somantri.Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan menganalisis simbolisme, naratif, dan pertunjukantari sebagai sarana pendidikan karakter. Hasil analisis menyoroti peran penting Tari Wayang Priangandalam membentuk nilai-nilai seperti keberanian, keadilan, dan kebijaksanaan. Cerita-cerita ini tidakhanya menjadi bentuk seni yang memukau tetapi juga mengandung pesan moral yang dapat membentukkarakter masyarakat. Kearifan lokal tercermin dalam simbolisme, gerakan, dan tema-tema yang diangkatdalam kedua pasang tarian tersebut. Pendidikan karakter melalui Tari Wayang Priangan tidak hanyaterbatas pada pertunjukan, melainkan juga menciptakan ruang refleksi dan dialog dalam masyarakat Priangan.Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pemahaman mendalam tentang bagaimanaseni tradisional, khususnya Tari Wayang Priangan, dapat menjadi agen efektif dalam mendidik karakterdan memelihara kearifan lokal serta moralitas tradisional. Implikasi praktis dari penelitian ini dapatdigunakan sebagai dasar pengembangan program pendidikan karakter di sekolah dan komunitas yangingin memanfaatkan potensi seni tradisional untuk membentuk karakter positif
PEMILIHAN BAHAN DAN KETERAMPILAN TRADISIONAL DALAM PEMBUATAN KENDANG SUNDA: PENGARUH KAYU DAN KULIT HEWAN TERHADAP KUALITAS AKUSTIK DAN ESTETIKA
Studi ini menyelidiki pemilihan bahan dan kerajinan tradisional yang terlibat dalam pembuatan kendangSunda, dengan fokus pada peran kayu nangka dan kulit hewan dalam menentukan kualitas akustik danestetika instrumen tersebut. Menggunakan pendekatan historis-konstektual dan analisis konten kualitatif,penelitian ini mengeksplorasi jenis-jenis kayu yang umum digunakan, seperti nangka, mahoni, mangga,rambutan, dan asam, serta bagaimana variasi dalam kepadatan kayu, tekstur, dan ketahanan terhadaprayap mempengaruhi daya tahan dan suara kendang. Selain itu, studi ini meneliti kriteria untuk memilihkayu yang optimal berdasarkan ukuran dan usia pohon, serta pengaruh persiapan kulit dan teknik pemasanganterhadap karakteristik nada instrumen. Temuan ini menekankan pentingnya mempertahankanmetode tradisional, mulai dari pemilihan dan pemotongan kayu hingga praktik ritual selama penebanganpohon, karena proses-proses ini tidak hanya memastikan kualitas kendang tetapi juga melestarikan warisanbudaya yang mengelilingi produksinya. Dengan adanya kemajuan teknologi modern dan alternatifsintetis, penelitian ini menyoroti perlunya melestarikan kerajinan tradisional pada kendang Sunda untukmempertahankan relevansi budaya dan musiknya. Penelitian masa depan harus mempertimbangkan tantanganmodernisasi dalam produksi alat musik tradisional dan potensi pendekatan lintas disiplin untukmemastikan keberlanjutan kerajinan ini
BUNYI SULING BAMBU PADA GELOMBANG ALPHA: MIXING BINAURAL DENGAN PRINSIP BRAINWAVE STATES
Penelitian ini merupakan eksplorasi mixing binaural beats pada bunyi suling bambu. Ekplorasi dilakukanmulai dari tahap perekaman hingga proses mixing binaural dengan menggunakan prinsip brainwavestate. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mencari kemungkinan bahwa suling bambu dapat digunakandalam musik terapi sebagai intrumen utama dengan format binaural beatsPembahasan penelitian ini hanya dibatasi pada eksplorasi perekaman dan mixing binaural beats, tanpamelakukan modifikasi lainnya. Analisa hanya dilakukan pada eksplorasi dan hasil.Jenis penelitian ini adalah mixed method yang menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif, baikdalam proses penelitian maupun pada tahap pemaparan hasil penelitian. Bidang penelitian ini adalahetnomusikologi. Dalam eksplorasinya, penelitian ini menggunakan teori brainwave state (dari bidangneuroscience) dalam format binaural (binaural beats)Hasil penelitian ini berbentuk audio stereo dalam format wav, yang kemudian diterjemahkan ke dalambentuk tertulis dan visual, misalnya visualisasi spektrum meter dan alat pengukur lain yang dapat menggambarkanhasil audio