E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
INTEGRASI MATA KULIAH PENULISAN KARYA SENI DALAM MENUNJANG TUGAS AKHIR DI PROGRAM STUDI ANGKLUNG DAN MUSIK BAMBU
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana integrasi mata kuliah penulisan karya seni dapatmenunjang penyelesaian tugas akhir mahasiswa di Program Studi Angklung dan Musik Bambu. Matakuliah penulisan karya seni berperan penting dalam melatih mahasiswa untuk berpikir kritis, kreatif, dananalitis terhadap karya seni yang dihasilkan, serta membantu mahasiswa dalam mendokumentasikankarya tersebut secara ilmiah. Dalam konteks tugas akhir, keterampilan menulis ini berfungsi sebagaijembatan antara proses kreatif dan akademik, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas tugas akhirbaik dari segi substansi maupun bentuk penyajian. Penelitian ini menggunakan metode campuran (mixedmethod) yang menggabungkan data kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasimata kuliah ini memberikan manfaat signifikan bagi mahasiswa dalam hal kemampuan menginterpretasikankarya seni memperkuat dasar teoritis, serta mempersiapkan diri untuk menghadapi duniaakademik dan profesional setelah lulus. Dengan demikian, integrasi mata kuliah penulisan karya senisangat direkomendasikan untuk terus dikembangkan di Program Studi Angklung dan Musik Bambu
OPTIMALISASI TARI JAIPONGAN ‘JALU’ RASPATI DI SANGGAR GIRI MAYANG
Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan tari Jaipongan “Jalu” Raspati yang dilakukan melaluimetode pelatihan kepada para siswa laki-laki (jalu; Sunda) di Sanggar Giri Mayang, hingga hasilnyadipublikasikan melalui bentuk pementasan. Tari Jaipongan sebagai salah satu seni tradisional Sunda,memiliki karakteristik yang dinamis, energik, maskulin, dan ekspresif (berkarakter). Namun, dalamproses pengembangannya, diperlukan pendekatan optimalisasi baik dari segi teknik gerakan, alur cerita,musik pengiring, maupun penyajiannya, agar lebih relevan dan menarik minat generasi muda tanpakehilangan nilai-nilai tradisional yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini merupakan penelitiankualitatif dengan menggunakan pendekatan metode Participation Action Reseach (PAR), di dalamnyamenempatkan tiga kata kunci saling berkaitan satu sama lain yaitu meliputi; partisipasi, riset, danaksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa optimalisasi dapat dicapai dengan melakukan penyesuaiangerak dalam struktur koreografinya dengan tetap mempertahankan esensi tari Jaipongan yang menjadisumbernya yaitu “Dangiang Ing Raspati”, sedangkan iringan tari dan rias busananya tidak mengalamiperubahan. Di sisi lain, melalui melalui proses pelatihan yang intensif mampu menghasilkan peningkatankemampuan penari. Optimalisasi ini tidak hanya menjaga keberlanjutan tari tradisional, tetapi jugamampu meningkatkan daya tariknya di kalangan penikmat seni pertunjukan saat ini, khususnya darikalangan siswa atau penari putr
‘Passompe’: Konsep dan Bentuk Rekacipta Tari Terinspirasi Nilai Pappaseng Tellu Cappa Budaya Masyarakat Bugis
ABSTRACT
The creation of dance from the cultural values of pangadereng manifested in pappaseng tellu cappa can be an integrative problem solver. The interpretation of symbolic nonverbal language becomes the cohesion of the choreographer to produce an ecranization of visual ideas in the entity of the dance \u27Passompe\u27. This dance creation uses qualitative research and elaborating with creativity approach proposed by Zeng in the General model of the creative process which consists of four phases of analysis, ideation, evaluation, and implementation. The archetype in the dance creation also uses the approach of exploration, improvisation, and composition. The dance repertoire that manifests pappaseng tellu cappa is a form of reading ancestral messages through nonverbal language entities. The substantial construction in the tellu cappa values can be a universal learning medium as a parameter for success in social life.
Keywords: Dance, Passompe, Pappaseng, Tellu cappa, Bugis
ABSTRAK
Perekaciptaan tari yang bersumber dari nilai-nilai kultural pangadereng yang termanifestasi dalam pappaseng tellu cappa dapat menjadi temuan (problem solver) yang bersifat integratif. Interpretasi bahasa nonverbal yang bersifat simbolik, menjadi kohesi koreografer sehingga menghasilkan ekranisasi terhadap gagasan visual dalam entitas karya tari ‘Passompe’. Rekacipta tari ini menggunakan penelitian kulitatif dan mengelaborasi pendekatan kreativitas yang ditasbihkan oleh Zeng dalam General model of the creative process yang terdiri empat fase analysis, ideation, evaluation, dan implementation. Arketipe dalam rekacipta tari juga menggunakan pendekatan eksplorasi, improvisasi dan komposisi. Repertoar tari yang memanifestasikan pappaseng tellu cappa menjadi bentuk pembacaan pesan-pesan leluhur melalui entitas bahasa nonverbal. Konstruksi substansial dalam nilai-nilai tellu cappa tersebut dapat menjadi medium pembelajaran secara universal sebagai parameter keberhasilan dalam kehidupan sosial.
Kata Kunci: Tari, Passompe, Pappaseng, Tellu cappa, Bugi
Eksistensi Komunitas Gresik Movie Terhadap Budaya Lokal
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana komunitas Gresik Movie bisa eksis melalui program-program yang dilakukan, dan perannya terhadap budaya lokal. Jenis Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam, dan studi pustaka. Pengamatan langsung dilakukan di lapangan, wawancara mendalam dilakukan langsung dengan pendiri komunitas, sedangkan studi pustaka dari beberapa dokumen yang ada di media online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Gresik Movie bisa bertahan sampai berusia satu dekade lebih, serta melalui program-program yang diselenggarakan selalu disisipkan budaya lokal di dalamnya. Informasi dari pengumpulan data, disebutkan bahwa ada beberapa program sebagai upaya mengangkat budaya lokal diantaranya adalah Sapa Sinema (program screening film di kampung-kampung), Gresik Short Movie Competition, Seminar/ Sarasehan Film, Pameran Karya Seni (baik seni rupa atau pertunjukan), Lokakarya/ pelatihan Pembuatan Film, dan Festival Budaya
Soul Of Barekkeng: Transformasi dan Interpretasi Nilai Pangadereng dari Budaya Masyarakat Bugis di Sulawesi Selatan
Soul Of Barekkeng merupakan karya tari kontemporer berbasis tradisi yang merepresentasikan kultur pangadereng masyarakat Bugis, yang telah dimaktubkan pada pappaseng sebagai nilai-nilai adiluhung yang terus ditasbihkan kepada hereditasnya.Perekaciptaan tari yang terinspirasi nilai-nilai kultural pangadereng yang dimanifestasikan dalam pappaseng tentang acca, lempu, warani, dan getteng menjadi novelty. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan transformasi dan interpretasi gagasan visual dan artistika dalam wujud tari Soul Of Barekkeng sebagai produk seni. Perekaciptaan ini menggunakan riset kualitatif dan mengelaborasi pendekatan kreativitas oleh Zeng dalam General model of the creative process, yaitu analisis, gagasan ide, evaluasi, sertaimplementasi. Selanjutnya dilakukan pendekatan pengkomposisian tari. Repertoar tari yang memanifestasikan kultur pangaderengmenjadi spirit dalam mengunjungi kembali nilai luhur masyarakat Bugis melalui produk reka cipta dalam wujud bahasa nonverbal. Alih wahana yang bersifat riset dalam kultur pangadereng tersebut dapat menjadi pegangan untuk terus mejaga keberlanjutan nilai-nilai luhur di era futuristik, baik bagi masyarakat Bugis maupun secara universal sebagai perwujudan keberhasilan dan pesan yang harus terus ditransmisikan dalam menata laku kehidupan.
ABSTRAK
Perekaciptaan tari yang terinspirasi nilai-nilai kultural pangadereng masyarakat Bugis dimanifestasikan dalam pappaseng tentang acca, lempu, warani, dan getteng menjadi novelty. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan transformasi dan interpretasi gagasan visual dan artistika dalam wujud tari Soul Of Barekkeng sebagai produk seni. Perekaciptaan ini menggunakan riset kualitatif dan mengelaborasi pendekatan kreativitas oleh Zeng dalam General model of the creative process, yaitu analisis, gagasan ide, evaluasi, serta implementasi. Selanjutnya dilakukan pendekatan pengkomposisian tari. Repertoar tari yang memanifestasikan kultur pangadereng menjadi spirit dalam mengunjungi kembali nilai luhur masyarakat Bugis melalui produk reka cipta dalam wujud bahasa nonverbal. Alih wahana yang bersifat riset dalam kultur pangadereng tersebut dapat menjadi pegangan untuk terus mejaga keberlanjutan nilai-nilai luhur di era futuristik, baik bagi masyarakat Bugis maupun secara universal sebagai perwujudan keberhasilan dan pesan yang harus terus ditransmisikan dalam menata laku kehidupan.
Kata Kunci: Transformasi Tarian Bugis; Nilai Pappaseng; Nilai Pangadereng; Kreativitas tari
 
Tari Kele: Sebuah Gagasan Kreatif Neng Peking
ABSTRAK
Tari Kele merupakan karya tari kreasi baru dari Kabupaten Ciamis yang diciptakan oleh Neng Peking pada tahun 2006 di Studio Titik Dua. Tarian ini merupakan tarian baru yang memuat nilai-nilai tentang fenomena budaya dari Upacara Adat Nyangku. Keunikan dari Tari ini yaitu menggunakan properti kele yang disimpan di atas kepala (disuhun) dan koreografinya dilakukan sambil menjinjit dengan memegang daun hanjuang. Hal tersebut menjadi daya tarik untuk diteliti lebih dalam dengan tujuan untuk mengetahui kreativitas Neng Peking dalam menciptakan Tari Kele. Penelitian ini menggunakan pendekatan teori Rhodes mengenai 4P yaitu (person, process, press, product) dengan menggunakan metode kualitatif dalam prosedur pengumpulan datanya dilakukan melalui tiga tahapan yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah Neng Peking sebagai pribadi kreatif (person) dengan adanya pendorong internal dan eksternal (press) untuk melakukan sebuah proses kreatif (process) yang cukup panjang dapat menghasilkan produk kreatif (product) yaitu Tari Kele yang berkualitas. Kata Kunci: Tari Kele, Kreasi Baru, Kreativitas, Neng Pekin
Proses Regenerasi Angklung di Saung Angklung Udjo
Faktor-faktor kunci meningkatnya status angklung di Jawa Barat adalah tertatanya pengelolaan sumber daya dan model pewarisan efektif yang dilakukan oleh Udjo Ngalagena. Perwujudan pewarisan tersebut dibuktikan dengan didirikannya sebuah perusahaan yang bernama Saung Angklung Udjo yang pada perkembangannya menjadi tonggak penting kemajuan seni angklung di Indonesia. Dengan sistem pemasaran yang baik Saung Angklung Udjo mewujud menjadi perusahaan yang mampu melakukan penetrasi, inovasi alat, pertunjukan, kemitraan, dan sarana yang lebih layak bagi pengunjung dan penampil pertunjukan. Studi ini menelusuri model pewarisan seni angklung yang dilakukan oleh Udjo Ngalagena. Secara khusus, kajian ini berpusat pada analisis model pewarisan, peran penting ahli waris, dan efektivitas transmisi pengetahuan dalam menjaga warisan budaya takbenda Indonesia, melalui perspektif transmisi budaya Cavalli-Sforza. Analisis penelitian ini mengungkap bahwa pewarisan yang dilakukan Udjo meliputi pengetahuan musikal dan nonmusikal, yang difasilitasi dengan penerapan model pewarisan vertikal, horizontal, dan miring. Studi ini berkontribusi pada pemahaman praktik pelestarian budaya dan regenerasi seni tradisional, dengan menekankan pentingnya pewarisan terstruktur dan pengelolaan sumber daya yang efektif dalam mempertahankan warisan budaya.ABSTRAK
Meningkatnya status angklung disebabkan oleh pengelolaan sumber daya yang memadai, inisiatif pemasaran strategis, dan model pewarisan yang efektif oleh Udjo Ngalagena. Komitmennya yang tak tergoyahkan ditunjukkan dengan didirikannya Saung Angklung Udjo yang menjadi tonggak kemajuan seni angklung di Indonesia dan kancah global. Kajian ini berupaya membuktikan keterkaitan erat antara keberadaan kesenian angklung, proses kaderisasi, dan lingkungan sekitarnya. Secara khusus, kajian ini berpusat pada analisis model pewarisan, peran penting ahli waris, dan efektivitas transmisi pengetahuan dalam menjaga warisan budaya takbenda Indonesia. Data yang bersumber dari wawancara dengan keluarga, pembimbing, dan siswa di Saung Angklung Udjo mendasari pembahasan ini, yang sejalan dengan teori transmisi budaya Cavalli-Sforza. Kajian mengungkapkan bahwa pewarisan Udjo mencakup pengetahuan musikal dan nonmusikal, yang difasilitasi dengan penerapan model pewarisan vertikal, horizontal, dan miring. Kata kunci: Saung, angklung, Udjo, regeneras
UPAYA PENYEBARAN NILAI NILAI KARAKTER PADA TARI KÉLANGAN
ABSTRAK
Kondisi sosial sebagian masyarakat khususnya kaum muda terindikasi sedang kehilangan jatidiri, akibat bergesernya nilai-nilai hidup yang hakiki dan adanya pengaruh budaya luar. Penelitian ini membahas tentang upaya penyebaran nilai-nilai karakter pada tari Kélangan. Melalui teori Resepsi Encoding-Decoding Stuart Hall, bertujuan mendeskripsikan bagaimana proses penyebaran nilai-nilai karakter pada tari Kélangan dan bagaimana khalayak memaknai gagasan tesebut. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitiatif berdasarkan metode Bogdan dan Taylor. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data terdiri dari data primer berupa hasil wawancara dan data sekunder berupa catatan, buku, tesis, jurnal, foto dan video dan data lapangan. Tujuan penelitian menunjukan nilai-nilai karakter pada tari Kélangan antara lain nilai religius, disiplin, tanggung jawab, kerjasama, toleransi, sopan santun dan kewaspadaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan audiens/khalayak terhadap upaya penyebaran nilai-nilai karakter pada tari Kélangan beragam: (1) sebagian besar menerima secara utuh wacana yang disebarkan oleh pencipta tari; (2) sebagian lagi menerima, namun menyandinya dengan makna yang berbeda dan (3) audiens/khalayak menolak sama sekali wacana tersebut dan menyandinya dengan caranya sendiri.
Kata Kunci: Kondisi Sosial, Tari Kélangan, Nilai Karakter, Resepsi Audiens/Khalayak.
ABSTRACT
THE EFFORTS TO DISSEMINATE CHARACTER VALUES ON KÉLANGAN DANCE, JUNE 2024.
The social conditions of some people, especially young people are indicated to be losing identity, due to the shifting of essential life values and external cultural influences. This research discusses efforts to disseminate character values in the Kélangan dance. Through Stuart Hall\u27s Encoding-Decoding reception theory, the research aims to describe how the process of spreading character values in the Kélangan dance and how the audience interpreted the idea. This research is a qualitiative descriptive based on the Bogdan and Taylor methods. The techniques of collecting data through observation, interviews and documentation. Data sources consist of primary data in the form of interview results and secondary data in the form of notes, books, thesis, journals, photos and videos, and field data. The purpose of the study shows character values in the Kélangan dance, among others, religious values, discipline, responsibility, co-operation, tolerance, courtesy and vigilance. The results of the research show that the interpretation of the audience towards the efforts to spread the character values in the Kélangan dance is varied: (1) mostly received the discourse that was distributed by the creator of the dance; (2) Some accepted, but signed it with different meanings and (3) Audience rejected the discourse and signed it in their own way.
Keywords: Social Condition, Kélangan Dance, Characteristic Values, Audience Reception
IDHA JIPO SEBAGAI PENARI VOKAL DALAM PERTUNJUKAN BAJIDORAN DI KOTA BANDUNG
ABSTRAK
Penari vokal merupakan sebuah istilah yang muncul dalam perkembangan kesenian Bajidoran, yaitu penari tunggal yang mengawali tarian dalam pertunjukan serta memiliki daya tarik untuk mengundang perhatian penonton potensial (bajidor) yang menyaksikan serta memberikan uang sawéran. Idha Jipo sebagai penari vokal kehadirannya dalam mencug memiliki kekhasannya tersendiri yang memberi warna, sehingga membuat pertunjukan ini selalu menarik dan tak lekang oleh waktu. Fenomena inilah yang menjadi daya tarik, sehingga penelitian ini difokuskan pada permasalahan kreativitas kepenarian Idha Jipo dalam mencug sebagai penari vokal pada pertunjukan Bajidoran di Kota Bandung. Berdasarkan pada fokus permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan konsep pemikiran kreativitas 4P menurut Rhodes yaitu; Person, Press, Process, dan Product. Sejalan dengan konsep pemikiran tersebut, sehingga metode yang digunakan adalah metode kualitatif melalui pendekatan deskriptif analisis, dengan langkah-langkah; studi pustaka, studi lapangan, dan analisis data. Adapun penelitian ini menghasilkan informasi akademik mengenai keberhasilan yang dicapai oleh Idha Jipo dalam kariernya sebagai penari vokal yang menggunakan konstruksi tari; bukaan, pencugan, nibakeun, dan mincid ketika mencug dengan menggunakan pengolahan teknik ngigelkeun lagu. Gaya penyajiannya seperti itu telah menjadi identitasnya yang mempribadi, sehingga eksistensinya dapat dipertahankan hingga saat ini dan tetap diapresiasi oleh para bajidor baik di Bandung, Subang maupun Karawang.
Kata Kunci: Idha Jipo, Penari Vokal, Mencug, Kreativitas, Bajidoran.
ABSTRACT
IDA JIPO AS A VOCAL DANCER IN BAJIDORAN PERFORMANCE IN BANDUNG, JUNE 2024.
Vocal dancer is a term that emerged in the development of Bajidoran art, namely a single dancer who starts the dance in a performance and has the allure to attract the attention of potential audiences (bajidor) who watch and give money as sawéran. Idha Jipo, as a vocal dancer, has her own unique presence in mencug to make the performance always interesting and timeless. This phenomenon has been an attraction, so this research focuses on the problem of Idha Jipo\u27s dancing creativity in mencug as a vocal dancer at the Bajidoran performance in Bandung. Based on the focus of the problem, this research uses the 4P creativity thinking concept approach by Rhodes, namely; Person, Press, Process, and Product. In line with this concept of thought, the method used is a qualitative method through a descriptive analysis approach, with these steps; literature study, field study, and data analysis. This research produces academic information regarding the success achieved by Idha Jipo in her career as a vocal dancer using dance constructions; bukaan, pencugan, nibakeun, and mincid when mencug using the processing technique of ngigelkeun lagu. This style of presentation has become her personal identity, so that her existence can be maintained to this day and is still appreciated by bajidor in Bandung, Subang and Karawang.
Keywords: Idha Jipo, Vocal Dancer, Mencug, Creativity, Bajidoran
EKSISTENSI SENI ORMATAN TARAWANGSA: FUNGSI TARAWANGSA DI TENGAH EKOSISTEM MASYARAKAT BANJARAN
The existence of Tarawangsa Cangkungan, which is still alive and continues to grow, cannot be separated
from its existence which is still functioned in many contexts, such as hajat overtime, ngaruat, and treating
the sick. In the context of the ecosystem, the study in this paper takes focus and limits. The times have
become one of the factors contributing to the loss of traditional culture and arts. Therefore, the continuity
of an art cannot be separated from how the artists maintain and continue the tradition. The art of
tarawangsa Banjaran is an example of a case where this art was once alive and well known in the
community, but due to the lack of regeneration efforts and the decreasing number of artists who continue
it, this art has finally experienced a period of vacuum and is now almost extinct. So far, one of the main
problems has been the strict restrictions on the regeneration process of Banjaran\u27s tarawangsa art. This
policy requires prospective heirs to have blood ties to the previous presenting artist as the main
requirement. This condition has become a barrier for the younger generation who are interested in learning
this art.
Keywords: Tarawangsa Cangkuang, Existence, Hajat Lembur, Ngaruat, Treatmen