E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
    1925 research outputs found

    TUTUR BUMI: WASTRA TUU BATU DAN SAUDAN PADA KARYA ART FASHION

    No full text
    Bebali wastra is a sacred weaving product that contains aesthetic, socio-economic, and socio-cultural values with diverse meanings. The existence of bebali wastra is now starting to fade, so preservation efforts are needed. Therefore, innovation is carried out by adopting the visual aspects of tuu batu and saudan wastra into new wastra, then processed into art fashion products. The method used in the creation of art fashion products is Frangipani: The Secret Steps of Art Fashion. The result of the work is an innovation in tuu batu and saudan wastra through the making of tuu batu and saudan wastra replicas, which are used as the main medium to create six Tutur Bumi art fashion products. Creation was done through exploration with a combination of wastra saudan, tuu batuand various modern textiles painted to resemble rerajahan with the theme of the human life cycle related to Hindu ceremonies in Bali.Wastra bebali merupakan hasil tenun sakral yang mengandung nilai estetika, sosio ekonomi dan sosiokultural dengan makna beragam, namun eksistensinya kini mulai memudar, sehingga dibutuhkan upayapelestarian. Oleh sebab itu dilakukan inovasi melalui pengadopsian aspek visual wastra tuu batu dan saudanke dalam wastra baru, kemudian diolah menjadi produk art fashion. Metode yang digunakan dalampenciptaan produk art fashion, yaitu Frangipani: The Secret Steps of Art Fashion. Hasil karya berupa inovasipada wastra tuu batu dan saudan melalui pembuatan replika wastra tuu batu dan saudan yang digunakansebagai medium utama untuk menciptakan enam produk art fashion Tutur Bumi. Penciptaan melaluieksplorasi dengan kombinasi wastra saudan, tuu batu dan berbagai tekstil modern yang dilukis menyerupairerajahan bertema siklus kehidupan manusia yang berkaitan dengan upacara masyarakat Hindu di Bali.  Kata kunci: Inovasi, Saudan, Tuu Batu, Art Fashion, Tutur Bum

    Uji Pembandingan Interval Tangga Nada Karawitan Sunda (Laras Degung) Terhadap Interval Tangga Nada Musik Barat

    Get PDF
    Permasalahan perbedaan laras degung dan susunan nada do-mi-fa-sol-si-do’ pada tangga nada musik Barat sampai saat ini masih menjadi perdebatan di kalangan seniman dan akademisi karawitan Sunda. Sebagian seniman dan akademisi karawitan Sunda berpendapat bahwa, meskipun susunan nada-nada pada laras degung dan susunan nada do-mi-fa-sol-si-do’ pada tangga nada musik Barat terdengar mirip, tetapi susunan nada-nada pada kedua tangga nada tersebut memiliki interval yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mencari jawaban atas pertanyaan, berapa persentase tingkat kemiripan laras degung dengan susunan nada do-mi-fa-sol-si-do’ pada tangga nada musik Barat? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode perbandingan interval menyeluruh yang merupakan jumlah kumulatif dari interval nada berdekatan, dengan mengambil sampel laras degung yang terdapat pada gamelan dan suling. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kemiripan laras degung dari rakitan laras salendro 15 nada (gamelan) terhadap susunan nada do-mi-fa-sol-si-do pada tangga nada musik Barat sebesar 89,05%, tingkat kemiripan laras degung dari suling milik Iwan Mulyana terhadap susunan nada do-mi-fa-sol-si-do pada tangga nada musik Barat sebesar 69,41%, dan tingkat kemiripan laras degung dari suling milik Endang Sukandar terhadap susunan nada do-mi-fa-sol-si-do pada tangga nada musik Barat sebesar 85,91%. Hasil analisis ini membuktikan kebenaran ‘rasa laras’ para seniman dan akademisi karawitan Sunda yang menilai bahwa terdapat perbedaan antara laras degung dan susunan nada do-mi-fa-sol-si-do pada tangga nada musik Barat.ABSTRAK Permasalahan perbedaan laras degung dan susunan nada do-mi-fa-sol-si-do’ pada tangga nada musik Barat sampai saat ini masih menjadi perdebatan di kalangan seniman dan akademisi karawitan Sunda. Sebagian seniman dan akademisi karawitan Sunda berpendapat bahwa, meskipun susunan nada-nada pada laras degung dan susunan nada do-mi-fa-sol-si-do’ pada tangga nada musik Barat terdengar mirip, tetapi susunan nada-nada pada kedua tangga nada tersebut memiliki interval yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mencari jawaban atas pertanyaan, berapa persentase tingkat kemiripan laras degung dengan susunan nada do-mi-fa-sol-si-do’ pada tangga nada musik Barat? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode perbandingan interval menyeluruh yang merupakan jumlah kumulatif dari interval nada berdekatan, dengan mengambil sampel laras degung yang terdapat pada gamelan dan suling. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kemiripan laras degung dari rakitan laras salendro 15 nada (gamelan) terhadap susunan nada do-mi-fa-sol-si-do pada tangga nada musik Barat sebesar 89,05%, tingkat kemiripan laras degung dari suling milik Iwan Mulyana terhadap susunan nada do-mi-fa-sol-si-do pada tangga nada musik Barat sebesar 69,41%, dan tingkat kemiripan laras degung dari suling milik Endang Sukandar terhadap susunan nada do-mi-fa-sol-si-do pada tangga nada musik Barat sebesar 85,91%. Hasil analisis ini membuktikan kebenaran ‘rasa laras’ para seniman dan akademisi karawitan Sunda yang menilai bahwa terdapat perbedaan antara laras degung dan susunan nada do-mi-fa-sol-si-do pada tangga nada musik Barat. Kata Kunci: Interval, Laras Degung, Tangga Nada Musik Bara

    TARI PEMETIK TEH KARYA PAUL KUSARDY DI SANGGAR VIATIKARA KOTA BANDUNG

    Get PDF
    ABSTRAK Tari Pemetik Teh merupakan salah satu dari 19 hasil karya Paul Kusardy yang diciptakan tahun 1961 di sanggar Viatikara Bandung. Tarian ini menarik perhatian penulis karena merefleksikan kepribadian Indonesia sehingga tarian tersebut memiliki keberagaman budaya. Tujuan penelitian yaitu untuk mengetahui struktur tari Pemetik Teh yang menjadi daya tarik secara visual. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan teori struktur tari yang diungkapkan oleh Iyus Rusliana. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan metode studi lapangan terdiri dari observasi dan wawancara, studi pustaka dan studi dokumentasi. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukan karya tari Pemetik Teh ciptaan Paul Kusardy yang memiliki pola pikir kreatif dan inovatif sehingga menghasilkan karya tari yang menarik. Kata Kunci: Tari Pemetik Teh, Struktur Tari, Tari Kreasi Baru, Paul Kusardy. ABSTRACT THE TEA PICKER DANCE BY PAUL KUSARDY AT VIATIKARA STUDIO BANDUNG, JUNE 2024. The Tea Picker Dance is one of 19 works by Paul Kusardy which was created in 1961 at Bandung Viatikara studio. This dance attracted the writer\u27s attention because it reflects the Indonesian personality so that the dance has cultural diversity. The aim of the research is to determine the structure of Tea Picker Dance which is visually attractive. This research uses qualitative research method with the dance structure theory approach by Iyus Rusliana. The data have been collected using a field study method through observation and interviews, literature study, and documentation study. The finding of this research shows that the Tea Picker Dance work created by Paul Kusardy has a creative and innovative mindset resulting in an interesting dance work. Keyword: Tea Picker Dance, Dance Structure, New Creation Dance, Paul Kusardy

    Makna dan Fungsi Wayang Garing Kajali pada Upacara Ruwat Diri di Cerenang Kabupaten Serang Banten

    Get PDF
    ABSTRACT Art in a phenomenon\u27s perspective is very closely related to profound problems in human life. It reflected on wayang garing as one of the traditional theatrical performances that was very close to the religious life of the banten community. Art is often associated with religious rites or rituals even if it is considered to be one of the things that god puts on the path (music). The writer was intrigued by the question of why the stuffed puppet was used asa medium at the space ceremony. What the meaning and function of the puppets seemed to be a form of self-consciousness in which they gradually lost sight of the art of the ritual that god was upon them.The research method used was qualitative, descriptive methods intended to get information on the original meaning and function of the Wayang Garing. This method will be done by data collection techniques through observation participating, in-depth interviews, and documentary studies. Data analysis done interactively through triangulation techniques. As a result of this study, after analyzingritual ruwat diri In the show wayang garing in story “Prabu Miranggana”. On wayang garing, Maca Syech is the symbol that shows that wayang garing Have islamic values that are meaningful as a reminder that performance of wayang garing on ritual ruwat diri It is an act of pleading for a blessing, avoiding a danger or a scourge and serving as a medium of middleman against his favor and gifts, 0which are based on the theories of Charles sanders peirce and William r bascom. Key words: wayang garing, meaning and function, maca shech, ruwat dir

    Efektivitas Seni Pertunjukan Teater terhadap Perkembangan Anak

    Get PDF
    ABSTRACT The purpose of writing this article is to provide education and understanding to the public, Moreover, parents of children are often found who emphasize their own will without care about children\u27s potential, parents are more concerned with mathematics than art. Considering the performing arts of theater at the level of early childhood education often considered only as something that is not too important and is considered as a hobby dealer. In fact, basically art can improve cognitive abilities to train focus, skills, remembering, problem solving, learning process, decision making, and thinking. In the process of this research, the researcher uses qualitative methods that are supported by developing ideas from integrating previous literatures and making observations. Until Finally, the results of this writing can show that by studying theater arts, children can effectively develop their cognitive abilities. In this study, the author starts with theater arts because theater art is the mother of art in which there are various other artistic elements such as elements of music, painting, and motion, which are combined into an art show. That is the reason why theatrical arts are categorized as the mother of art. Keywords: theater arts, children, cognitive, performing art

    GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS DI KOTA BANDUNG (PRODUKSI-DIRI MASYARAKAT)

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini menjelaskan mengenai perjuangan yang dilakukan komunitas metal Ujungberung Rebels dalam melakukan suatu tindakan produksi diri nasyarakat sebagai suatu langkah melawan dominasi major label. Serta melihat peran indie label serta infrastruktur musik lainnya sebagai siasat yang dilakukan oleh komunitas metal Ujungberung Rebels dalam memperebutkan pangsa pasar musik dengan major label. Penelitian ini dilakukan melalui metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara serta observasi baik secara langsung ataupun melalui literatur serta media lainnya seperti film. Hasil dari penelitian ini yaitu mengemukakan tentang 1) Perjuangan Ujungberung Rebels. 2) Siasat yang diluncurkan Ujungberung Rebels dalam melawan dominasi major label. Kata kunci: Ujungberung Rebels, Produksi-diri Masyarakat, Indie label, Do It Yourself ABSTRACT This research explains the struggles made by the Ujungberung Rebels metal community in carrying out an act of self-production as a step against the dominance of major labels. As well as seeing the role of indie labels and other music infrastructure as a strategy carried out by the Ujungberung Rebels metal community in fighting for music market share with major labels. This research was conducted through qualitative research methods with data collection techniques using interview and observation methods either directly or through literature and other media such as films. The result of this study is to bring up about 1) The Struggle of Ujungberung Rebels. 2) The tactics that The Rebels launched in countering the dominance of major labels. Keywords: Ujungberung Rebels, The self-production of society, Indie label, Do It Yoursel

    EKSISTENSI GOJIM GROUP PUTRA MACAKAL DI ANGKRINGAN TEH ITA

    Get PDF
    Angkringan Teh Ita merupakan salah satu kafe di Kota Bandung, selain menawarkan makanan dan minuman, kafe ini juga menawarkan pemandangan citylight Kota Bandung. Selain itu, kafe ini juga menawarkan sebuah konsep pertunjukan seni tradisi, dengan bentuk seni kemasan wisata. Hal ini lah yang menjadi daya tarik Angkringan Teh Ita dibandingkan dengan kafe yang lain, yang biasanya hanya menyuguhkan musik pop di dalamnya. Salah satu pertunujkan seni tradisi yang ada di Angkringan Teh Ita yaitu Bajidoran. Kesenian ini dipertunjukan satu bulan dua kali, salah satu nama group Bajidoran yang sering tampil di Angkringan Teh Ita yaitu “Gojim Putra Macakal”. Group ini sangat eksis dan dikenal oleh para pengunjung angkringan Teh Ita. Konsep pengemasan seni wisata bajidoran ini cukup menarik karena penyajiannya berbeda dengan pertunjukan di tempat aslinya, strukturnya lebih singkat, sehingga waktu penyajiannya pun lebih padat. Pengemasan seni wisata melalui pertunjukan seni tradisi di kafe ini ternyata menjadi daya tarik bagi pengunjung khususnya kaum muda-mudi untuk datang ke tempat ini, dan pemandangan kafe ini selalu dipenuhi pengunjung ketika ada pertunjukan seni. selain itu konsep seni wisata di Angkringan Teh Ita merupakan upaya untuk menyadarkan generasi kaum muda-mudi untuk turut menyukai dan melestarikan seni budaya Sunda, sehingga tidak punah ditelan zaman. Kata kunci: Angkringan Teh Ita, Bajidoran, Eksistensi, Konsep seni wisata

    TRESNA SUMIRAT: TARI BERPASANGAN DALAM GAYA TARI SUNDA BERTEMA CINTA

    Get PDF

    PENTAS TUMBUH: MEWUJUDKAN ‘RUMAH TUMBUH’ MELALUI SENI PERTUNJUKAN RUMAHAN

    Get PDF

    1,711

    full texts

    1,925

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇