E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
PENCIPTAAN READY TO WEAR DULUXE HIJAB CHIC STYLE INSPIRASI MOTIF BATIK CIREBON SINGABARONG BERGAYA FLATDESIGN
Trend busana hijab chic style banyak digemari berbagai kalangan muslimah di Indonesia sehinggamemiliki peluang pasar yang baik bagi masyarakat khususnya generasi millenial. Motif batik CirebonSingabarong bergaya flatdesign merupakan salah satu ragam hias kain hasil dari inovasi karya batiktradisional khas keraton Cirebon yang terdiri dari tiga motif yaitu motif Singabarong Raja, SingabarongResi dan Singabrong Rama. Penelitian ini bertujuan menciptakan busana ready to wear duluxe hijabchic style inspirasi Motif batik Cirebon Singabarong bergaya flatdesign. Motif tersebut diterapkan padakarya busana merujuk pada Indonesian Fashion Trend 2023- 2024 dengan tema Co-Exist sehinggadapat menampilkan kesan yang bernilai seni dan filosofi yang tinggi. Metode penelitian ini menggunakanpendekatan kualitatif untuk menghasilkan data yang bersifat deskriptif serta penciptaan karyaseni melalui tahap eksplorasi, perancangan dan perwujudan. Luaran dari penelitian ini merupakan 6karya busana ready to wear duluxe, publikasi jurnal Sinta 3-5 dan HaKI. Hasil penelitian ini diharapkandapat menambah wawasan dan pengetahuan serta meningkatkan minat kaum milenial khususnyajuga masyarakat umum terhadap Batik Cirebon motif Singabarong sebagai bentuk pelestarian warisanbudaya leluhur
KEJARLAH DAKU KAU KUTANGKAP (FLUKTUASI HUBUNGAN TANDA DAN MAKNA)
Penelitian ini mengenai dinamika pertumbuhan makna atas pemaknaan yang muncul selama prosespenyebarluasan informasi tentang ngalokat cai hajat solokan huluwotan di mata air irung-irung, DesaCihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Penggunaan metode semiotika kepunyaanRoland Barthes memungkinkan ditemukan makna yang berkembang biak dalam setiap periodepenyebarluasan informasi lewat media sosial dan media pemberitaan selama periode 2014-2024. Hasildan pembahasan memperlihatkan hubungan antara makna dengan tanda dan pengguna tanda tanpa ikatansolid. Simpulan bahwa pengguna tanda dan pencipta tanda menghasilkan makna yang senantiasaberubah-ubah sesuai dengan situasi dan kondisi, kendati tanda itu tetap
PELATIHAN SERONGGA BAGI GURU-GURU DI KECAMATAN TAMBAKSARI CIAMIS IMPLEMENTASI PELAKSANAAN PKM TAHUN 2024
SERONGGA (Senam Ronggeng Amen) merupakan sebuah bentuk pertunjukan kemasan yang disusunsebagai materi pelatihan untuk Guru-guru di Kecamatan Tambaksari Ciamis. Koreografi dan Karawitantari Serongga bersumber dari kesenian ronggeng yang hidup di daerah Ciamis dan sekitarnya, sehinggamenghasilkan kemasan baru. Ditambahkannya kata senam dalam Serongga bukan berarti adanyagerak-gerak senam sebagaimana umumnya, namun gerak senam yang muncul merupakan hasil daripengolahan gerak-gerak yang distilasi, yang pada gilirannya menampilan sajian baru. Bentuk tarian Seronggamencerminkan kebersamaan, kekompakan (sareundeuk saigel) dan kepercayaan diri. Pelatihandilakukan sebagai upaya pengenalan potensi seni tradisi yang ada terhadap guru-guru di KecamatanTambaksari yang selanjutnya dilatihkan kembali kepada siswa-siswinya, sehingga Serongga menjaditarian massal yang dapat disajikan pada berbagai event. Mitra pelaksanaan PKM yaitu PGRI KecamatanTambaksari Kabupaten Ciamis. Metode yang digunakan adalah eksplorasi dan peniruan. Prosespelatihan diawali dengan penyusunan kemasan iringan bersama seniman seniwati Paguyuban RinekaSeni Surya Gumilang Dusun Linggaharja. Hasil pelatihan Serongga telah disajikan pada beberapa eventyang diselenggarakan oleh PGRI Kecamatan Tambaksari
PROSES KREATIF PENCIPTAAN KARYA TARI “NATYA GANDES”
Karya tari “Natya Gandes” merupakan karya koreografi baru yang diangkat dari sebuah fenomenakehadiran penari vocal yang unjuk kemahiran pencugan dalam sebuah kesenian Bajidoran. Penciptaankarya tari “Natya Gandes” disajikan dalam bentuk repertoar Jaipongan kemasan wisata melibatkanberbagai tahapan konseptual dan teknis. Tari Jaipongan merupakan tarian tradisional Sunda yang terkenaldengan gerakan dinamis dan enerjik, yang biasanya disajikan dalam konteks pertunjukan senibudaya. Dalam “Natya Gandes”, penciptaan karya tari ini difokuskan untuk memenuhi kebutuhan pertunjukanwisata, sehingga melibatkan penyesuaian dari segi durasi, tata panggung, kostum, dan tatarias agar sesuai dengan selera dan harapan penonton wisatawan. Hasil penelitian menunjukkan: prosesberkesenian memberikan kreativitas dan kebebasan penafsiran kepada siapa saja untuk mewujudkanide penciptaan. Proses penciptaan karya tari “Natya Gandes”, merupakan proses kreatif peneliti denganmenggunakan tahapan metode yang digunakan oleh Larry Lavender, di antaranya meliputi proses observation,reflection, discussion, evaluation, recommendation dan revision. Karya tari ini merupakankarya tari yang disusun dan disajikan dengan pengembangan bentuk tradisi, yaitu dengan pola-polaJaipongan
PEMETAAN PENCAK SILAT NUSANTARA SEBAGAI UPAYA PENDOKUMENTASIAN SENI DIGITAL
Pemetaan pencak silat penting dilakukan sebagai upaya pendokumentasian ragam gerak seni pencakdan pencak silat yang dilaksanakan pada 6 lokus penelitian yaitu Nias, Bali, Sumatera Barat, Sumbawa,Ternate dan Tidore. Pelaksanaan penelitian ini dibantu oleh mitra PPS Betako Merpati Putih CiomasBogor dan model pesilat yang berasal dari berbagai perguruan tinggi dan sanggar seni pencak sertaorganisasi silat di 6 lokus tersebut. Mitra berperan membantu tim peneliti dalam proses pengumpulandata di lapangan, melakukan FGD bersama dengan tim peneliti serta jejaring mitra yaitu organisasipencak silat, sanggar seni pencak dan perguruan tinggi seni serta universitas pendidikan seni di lokuspenelitian. Hasil pemotretan ragam gerak seni pencak dan pencak silat diproses dalam bentuk model3D fotogrametri dengan perangkat lunak Agisoft Metashape dan Augmented Reality berbasis Unity danVuforia Engine. Pendokumentasian ragam gerak seni pencak dan pencak silat pada tahap penelitiantahun kedua, penelitian ini juga membuat alat ukur kerentanan emosi. Tim Peneliti bersama psikologBiro Psikologi Magna Penta membuat alat ukur kesehatan mental dalam seni pencak dan pencak silat.Alat ukur kestabilan emosi pesilat ketika bertanding baik tunggal dan berpasangan. Selain itu kestabilanemosi juga dibutuhkan oleh penari seni pencak ketika melakukan pertunjukan seni. Ala
Skenografi Drama Musikal “Peter And The Wolf” Karya Sergei Prokofiev dalam Perspektif Orkestrasi Dongeng
Repertoar Peter And The Wolf (A Symphonic tale for Children) karya Sergei Prokofiev, ditulis Prokofiev tahun 1936. Repertoar diangkat ke dalam bentuk “pertunjukan dongeng” yang dikompos bersama musik secara ansamble. Narator bercerita kisah anak-anak, sedangkan orkestra mengilustrasikannya menggunakan instrumen untuk memainkan “tema” dalam mewakili setiap karakter. Karya Prokofiev ini merupakan salah satu karya yang ideal untuk cerita anak dan sering ditampilkan diseluruh repertoar klasik. Alur cerita melukiskan orang Rusia di kawasan hutan, dengan tema utama tentang pesan “kemenangan manusia menjinakkan alam”. Peter and The Wolf ditulis dengan partitur yang bagus. Hal yang menarik dari cerita tersebut ditulis menjadi bagian symphoni orchestra, memiliki alur cerita efik dalam spektakle cerita kepahlawanan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif, dengan perspektif hermeneutik, serta tiga struktur dasar pertunjukan (deep structures) Richard Schechner; Preparation, Performances, dan Aftermath. Teks mengalami transformasi, guna memberi nilai kebaruan semiotik dalam eksplanasi perkembangan drama musikal Indonesia. Tujuan penelitian dan pertunjukan, guna menemukan kongkritisasi dramaturgi untuk diterapkan menjadi materi studi di Jurusan Teater.
Kata Kunci: A Symphonic tale for Children, Drama Musikal, Peter and The Wolf, Skenograf
Caring Design: A Multimodal Analysis of Woman Embodiment in Kampung Halaman Foundation Design by Novi Kristinawati
Gagasan perawatan dalam desain dan arsitektur melekat pada karya perempuan desainer se- bagai bentuk kebertubuhan perempuan yang berhubungan dengan konteks sosial. Demikianlah peran perempuan dalam tatanan sosial yang sering diasosiasikan dengan perawatan dan peng- asuhan seperti layaknya alam telah menggemakan dualisme gender, yang turut mempengaruhi perbedaan karakteristik desain yang diciptakan oleh keduanya. Beberapa penelitian sebelum- nya telah mengeksplorasi gagasan desain perawatan, terutama dalam arsitektur, mencakup eksplorasi material alami yang dapat menyampaikan identitas budaya, pengalaman multisen- sorik, dan arsitektur afektif. Namun, studi mengenai karya perempuan desainer, khususnya dalam arsitektur yang merangkul konsep ‘desain perawatan’, dan berfokus pada kebertubuhan masih kurang dieksplorasi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami gagasan perawatan se- bagai bentuk kebertubuhan perempuan desainer yang terefleksikan dalam karyanya, dengan studi kasus desain arsitektur Yayasan Kampung Halaman di Yogyakarta oleh Novi Kristinawa- ti. Melalui metode semiotika, khususnya analisis multimodal teks dari Gunther Kress dan Theo van Leeuwen, makna perawatan diungkapkan melalui penelusuran tiga metafungsi: makna representasi, makna interaktif, dan makna komposisi yang muncul dari mode-mode sebagai sumber semiotika. Temuan studi ini memperlihatkan bahwa Novi Kristinawati merefleksikan kebertubuhannya dalam desain Yayasan Kampung Halaman. Gagasan perawatan sebagai bentuk kebertubuhan perempuan antara lain: muncul dalam simbol arketipe ibu; desain yang memberikan pengalaman multisensori dengan mengaburkan batas antara eksterior alam dan interior; desain yang fleksibel dan mengalir yang memenuhi nilai guna serta dapat memfasil- itasi jarak sosial pengguna desain; mengutamakan kesetaraan dan pengakuan kedua gender dalam desain tanpa sekat; serta desain yang mampu mendengarkan kebutuhan pemesan de- sain. Penelitian ini adalah upaya untuk memahami desain dalam kerangka kebertubuhan per- empuan dan kontribusinya dalam wacana pengetahuan desain.
Kata Kunci: desain perawatan, perempuan desainer, kebertubuhan perempuan, analisis multimodal, arsitektur, Novi Kristinawat