E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
SENI PARTISIPATORI: TRANSFORMASI DESA WISATA ALAMENDAH MELALUI PENTAS TUMBUH RUMAH TUMBUH
Gagasan Pentas Tumbuh Rumah Tumbuh adalah upaya memperkuat Desa Alamendah sebagai Desa Wisata
dalam konteks seni pertunjukan. Desa Wisata Alamendah telah dikenal sebagai desti-nasi wisata dengan
fokus pada agrowisata. Melalui gagasan Pentas Tumbuh, peneliti mencoba untuk merangkul seniman serta
mendata kesenian lokal dalam upaya menghidupkan kembali aktivitas dan kreativitas kesenian dari rumah
masing-masing dan dipertunjukan di rumah masing-masing. Gagasan ini merangkul partisipasi masyarakat
dalam mengemas dan memper-tunjukannya di rumah masing-masing, dengan tujuan memperkaya
pengalaman wisatawan dan meningkatkan ekonomi kreatif masyarakat. Langkah-langkah untuk
mewujudkan Pentas Tumbuh adalah dengan melakukan pemetaan seni tradisional, identifikasi ruang
kawasan penduduk sebagai pusat kegiatan pentas tumbuh, dan pemberdayaan seniman lokal. Merealisasikan penelitian terapan atau applied research menjadi sebuah produk seni pertunjukan yang disajikan
dalam konsep Pentas Tumbuh dilakukan dengan penelitian artistik, practice-based research. Pendekatan
partisipatori memiliki peran penting untuk keterlibatan masyara-kat dalam pengembangan seni dan
pertunjukan. Konsep ini berupaya menciptakan Rumah Tumbuh di mana setiap keluarga turut berperan
dalam menciptakan seni yang unik dan khas. Pada proses yang dilakukan ini, penting untuk memahami
ontologi, epistemologi, dan aksi-ologi dalam pengumpulan data untuk pengemasan dan penciptaan seni.
Data yang akurat dan valid menjadi dasar kerja kreatif, sementara pengetahuan dan pengalaman memainkan
peran penting dalam menghasilkan karya seni yang berdampak. Melalui Pentas Tumbuh diharapkan
terbangunnya Rumah Tumbuh yang memiliki kontribusi pada ekonomi lokal disamping me-memperkuat
dan memperjelas identitas Desa Wisata Alamendah sebagai Desa Wisata. Gaga-san Pentas Tumbuh Rumah
Tumbuh di samping menghidupkan dan mengembangkan seni budaya lokal juga berbicara tentang
pemberdayaan masyarakat dalam menciptakan pengala-man wisata yang unik dan berkesan.
Kata kunci: pentas tumbuh, rumah tumbuh, seni partisipatori, desa wisat
DIGITALISASI WAYANG TAVIP SEBAGAI MEDIA PROMOSI SENI BERDAKWAH
Digitalisasi wayang tavip efektif dan efesien untuk membantu peserta didik dalam memproduksi
pertunjukan wayang di era digital. Tidak adanya guru yang mengajar /ekskul seni teater di Ponpes
Madrasah Aliyah (MA) berdampak pada kelangsungan seni wayang yang ada dilingkungan tersebut.
Siswa/santri yang tergabung dalam kelompok tersebut tidak ada yang membina dalam setiap produksi
dan mempromosikan karya seni dakwahnya dengan media digital atau medsos. Fenomena ini perlu
mendapat perhatian khusus, sebagai urgensi dalam penelitian ini, dan belum ada dalam studi
sebelumnya. Manfaat penelitian ini dapat menarik minat dan motivasi para santri dalam
mengembangkan pertunjukan wayang dalam format digital. Tujuan penelitian: Untuk
mengimplementasikan digitalisasi dalam pertunjukan wayang tavip mulai dari proses produksi sampai
pertunjukan dan dipromosikan melalui media medsos seperti you tobe, tik tok, instagram dan yang
lainnya. Metode penelitian mengunakan pendekatan kualoitatif dan menerapkan metode Model
penelitian pengembangan ADDIE meliputi: Analysis, Design, Development or Production,
Implementation or Delivery dan Evaluations. Luaran penelitian karya seni yaitu berupa pertunjukan
wayang tavip lakon “An In Un” dalam bentuk audio playback . Luaran formal yaitu Seminar Nasional,
publikasi online. Penelitaian yang dilakukan termasuk pada skema terapan, dengan Tingkat Kesiapan
Teknologi (TKT) tingkat 3.
Kata kunci: gitalisasi wayang tavip, efektif dan efesien, media promosi seni berdakwa
KAJIAN NILAI KEARIFAN LOKAL PERTUNJUKAN SENI BANGRENG PADA LAGU HAYAM NGUPUK
Seni Bangreng merupakan satu kesenian yang keberadaannya sampai saat ini masih ada namun bentuk
pertunjukan nya sudah mengalami banyak perubahan, Lagu-lagu Bangreng saat ini tidak terlepas dari lagulagu populer terutama dari dangdut, sehingga lagu-lagu Bangreng nya sendiri banyak yang tidak masyarakat
ketahui seperti lagu hayam Ngupuk, lagu asli dari kesenian Bangreng ini pun sudah tidak terdengar lagi
dalam pertunjukan Bangreng oleh karena itu penting untuk menggali kembali serta merekonstruksi
kesenian Bangreng pada lagu hayam Ngupuk dalam proses pelestarian, penelitian ini urgen untuk diteliti
karena belum ada penelitian yang berkaitan dengan kajian nilai yang terdapat dalam lagu hayam ngupuk,
banyak penelitian yang dilakukan dalam kesenian Bangreng diantaranya Estetika Tari pada Jenis kesenian
Bangreng di Sumedang (Sopian Hadi dan Lili Suparli, 2019); Kesenian Bangreng Dalam Upacara Ngaruat
Bumi di Desa Sukatani Kecamatan Tanjungkerta Kabupaten Sumedang Jawa Barat (Ass-shiddiqi FB,
2021); Bangreng As A Means Of spreading Islam (Sofian M, 2019); Pengaruh Jaipongan terhadap Seni
Bangreng (Rustandi Y, Supriatna RA., 2021); Perkembangan Seni Bangreng Di Sumedang tahun 1970-
1990 (Murniasih M. 2008); Dari beberapa sumber yang membahas Bangreng ini tidak ada yang melakukan
penelitian Kajian Nilai Kearifan Lokal Pertunjukan Seni Bangreng pada Lagu Hayam Ngupuk ini, sehingga
penelitian ini benar-benar baru. Tujuan penelitian ini yaitu untuk melestarikan kesenian Bangreng,
membantu para pengajar dalam membedah rumpaka hayam Ngupuk, serta mencoba menciptakan industri
kreatif melalui pembedahan seni Bangreng ini. Adapun tahapan yang akan dilakukan dalam penelitian ini
yaitu mengapresiasi kembali seni Bangreng khusus nya pada lagu hayam Ngupuk, memaknai rumpaka
hayam Ngupuk sehingga menghasilkan makna yang bisa diambil dari lagu hayam Ngupu
EKSISTENSI TARI WAYANG DI BANDUNG
Tari Wayang merupakan sebuah perwujudan tari tradisi yang tumbuh dan berkembang di wilayah Priangan.
Barometer sebuah eksistensi dalam seni tari khususnya ialah objek yang mampu bersaing dan masih hidup
dalam tuntutan keadaan saat ini, sehingga keberadaannya perlu tumbuh kembali. Penyebaran dan
keberadaan tari wayang gaya Bandung di identifikasi dari beberapa tokoh seniman tari yakni: Rd. Nugraha
dengan karya (jayengrana), Aim Salim dengan karya (bambang arayana), kemudian Iyus Rusliana dengan
karya (Yudarini). Pada penelitian ini memiliki tujuan yaitu mengenalkan kembali tari wayang gaya
Bandung, yang sudah tidak eksis lagi dikalangan masyarakat terutama di daerah Bandung, selain itu untuk
menghindari kepunahan, sehingga perlu dikaji untuk mengenalkan kepada masyarakat bahwa, sampai saat
ini tari wayang gaya Bandung masih ada, meskipun hanya tersebar pada agen-agen khusus saja. Proses
dalam pencapaian penelitian ini, diperlukan langkah-langkah dalam pencarian data, yaitu: pengumpulan
data (studi pustaka, wawancara), penganalisisan perolehan data, dan penafsiran makna data., peneliti
menggunakan pendekatan eksistensi, dengan hasil deskriptif analisis sebagai hasil kajian datanya. Terdapat
4 pendekatan eksistensi yang di implementasikan dalam penelitian ini diantaranya: 1) Eksistensi adalah apa
yang ada, 2) Eksistensi adalah apa yang memiliki aktualitas, 3) Eksistensi adalah segala sesuatu yang
dialami dan menekankan bahwa sesuatu itu ada. 4) Eksistensi adalah kesempurnaan: Dari hasil pelatihan,
bahan literasi dan pengembangan ide gagasan menghasilkan eksisnya tari wayang gaya bandung, masih
memiliki peran dalam kesenian di Jawa Barat.
Kata kunci: Eksistensi, Identifikasi, Tari Wayang Gaya Bandun
STRUKTUR SAJIAN KIDUNG DALANG RUWAT ABAH EDO DALAM RUWATAN LEMBUR DI TAMBAKSARI CIAMIS
Artikel ini memaparkan penyajian Kidung dalam tradisi Ruwatan Lembur yang dilakukan dalang ruwat
Abah Edo di Tambaksari Ciamis Jawa Barat. Sampai saat ini tradisi ruatan/ruwatan masih dilakukan
masyarakat sebagai ritual penolak bala. Penelitian menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan
data terdiri dari: Studi pustaka, studi lapangan (observasi, wawancara, studi dokumentasi) dan analisis data.
Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa kidung dalang ruwat Abah Edo merupakan doa untuk
memohon keselamatan agar terhindar dari marabahaya. Syair kidung menggunakan Bahasa Jawa dan
termasuk kategori tradisi lisan. Dalang ruwat Abah Edo menyajikan Kidung pada tiga adegan ritual
ruwatan, yaitu: pada adegan pertemuan anak dengan ibunya (Dewi Tandana), pertemuan anak dengan
bapaknya(Otipati), dan di akhir ruwatan sebagai doa permohonan untuk mendapatkan keselamatan,
ketenangan, dan ketentraman.
Kata Kunci: dalang ruwat, kidung, ruwatan lembur, struktu
GONG RÉNTÉNG INTERNALISASI NILAI DALAM TRANSFORMASI DARI SAKRAL KE PROFAN
The existence of Goong Rénténg in the midst of the dynamic development of a society that is slowly
detaching itself from the position, role and function of Goong Rénténg, raises the consequence of the
fading existence of Goong Rénténg itself. On the other hand, there was an event where the community
initiated a "new" cultural event involving Goong Rénténg in the form of a festival that previously had no
correlation with the role and function of Goong Rénténg. This led to the transformation of Goong Rénténg
from sacred to profane, from rite to entertainment. In addition, the participation of the generation that
continues the existence of Goong Rénténg has a significant role, in other words, there is an effective
inculturation process from the awareness of the younger generation of Cirebon on efforts to preserve
traditional arts. This study focuses on the formulation of the relationship between the existence of
festivals initiated by the younger generation of Cirebon with the transformation of sacred profane goong
rénténg in West Java.
Keyword: Gong Rénténg, Festivals, Internalization, Sacred and Profan
PROSES KREATIF PENCIPTAAN TARI GANDASARI GANDAWANGI SEBAGAI KEMASAN SENI WISATA
Kemajuan era industri dan teknologi 4.0 mematik banyak sektor kehidupan untuk terus berupaya
berkembang. Tak terkecuali di bidang pariwisata yang terus berlomba-lomba menghadirkan inovasi untuk
menarik wisatawan. Keberadaan seni budaya di setiap wilayah menjadi potensi wisata lainnya yang apabila
diberdayakan dapat memberi nilai tambah bagi kekayaan seni wisata. Di Kampung Adat Jalawastu, Brebes,
Jawa Tengah, keberadan legenda Gandasari dan Gandawangi menjadi identitas budaya setempat yang
direkognisi sebagai sejarah kepercayaan Islam masuk ke wilayah tersebut. Kisah tersebut kemudian
menjadi dasar dari proses kreatif yang diupayakan untuk mengembangkan seni kemasan wisata yang
bernilai jual dan menghibur para wisatawan. Proses penciptaan dimulai dari eksplorasi penggalian ide dan
gagasan penciptaan, proses improvisasi, eksperimen koreografi dan musik, menata komposisi serta
pelengkap pertunjukan dari mulai properti, tata rias, dan tata busana. Dari rangkaian proses tersebut lahirlah
Tari Gandasari Gandawangi sebagai seni kemasan wisata untuk menarik potensi wisata Kampung Adat
Jalwastu, Brebes, Jawa Tengah.
Kata kunci: Tari Gandasari Gandawangi, Proses Kreatif, Seni Kemasan Wisata, Kampung Adat Jalawastu