E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
1925 research outputs found
Sort by
PELATIHAN PEMBUATAN MOTIF BATIK DENGAN TEKNIK MALAM DINGIN UNTUK DESAIN PRODUK FASHION MODEST DI ISLAMIC FASHION INSTITUTE
Batik sebagai warisan budaya Indonesia memiliki potensi besar untuk diintegrasikan dalam industrifashion modest yang tengah berkembang pesat di zaman ini. Namun, pembuatan batik tradisionaldengan teknik malam panas menghadapi sejumlah keterbatasan, seperti proses yang memakanwaktu, membutuhkan keterampilan tinggi, serta kurang ramah lingkungan. Kesenjangan penelitianini terletak pada minimnya pemanfaatan teknik malam dingin yang lebih praktis, efisien, dan adaptifdalam konteks desain produk fashion modest. Kebaruan program ini ada pada penerapan teknikmalam dingin sebagai sarana eksplorasi motif batik yang aplikatif untuk busana muslim di IslamicFashion Institute (IFI). Dengan penggunaan teknik ini tidak hanya lebih cepat dan ramah lingkungan,tetapi juga membuka peluang lahirnya komposisi visual yang baru sesuai dengan tren kontemporer.Dengan demikian, pelatihan ini menjadi model inovasi yang mengintegrasikan kearifan lokal dengankebutuhan industri kreatif global. Metode yang digunakan adalah Design Thinking dengan limatahap: empathize, define, ideate, prototype, dan test melalui pendekatan partisipatif, peserta dilatihuntuk mengidentifikasi kebutuhan, mengeksplorasi motif, dan menghasilkan konsep desain busanamuslim secara digital dengan penerapan motif batik malam dingin. Hasil yang diharapkan mencakuppeningkatan keterampilan teknis 20 mahasiswa IFI, lahirnya konsep desain produk fashion modestberbasis batik, serta kontribusi nyata terhadap pelestarian budaya dan penguatan daya saing industrikreatif Indonesia.Kata kunci: batik malam dingin, Design Thinking, eksplorasi motif, fashion modest, Islamic FashionInstitut
ANALISIS KESALAHAN MENULIS DALAM BAHASA INDONESIA PADA MAHASISWA DI ISBI BANDUNG
Penelitian ini bertujuan menganalisis keterampilan menulis dalam Bahasa Indonesia padamahasiswa di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Fokus penganalisisan dilakukan padaempat aspek, yaitu 1) penggunaan kata baku dan tidak baku, sesuai dengan Kamus Besar BahasaIndonesia dan Pedoman Ejaan Yang Disempurnakan edisi V; 2) penggunaan kalimat efektif; 3)pengembangan paragraf (kesatuan dan koherensi); serta 4) logika paragraf (alur, penalaran, danketerkaitan antargagasan). Metode penelitian yang dipakai yaitu metode deskriptif kualitatif dengananalisis hasil penulisan 72 teks akademik yang ditulis oleh mahasiswa Prodi TV dan Film, InstitutSeni Budaya Indonesia (ISBI Bandung). Hasil penelitian menunjukkan terdapat kesalahankesalahandalam berbahasa yaitu kesalahan dalam kata baku sebesar 35%, kalimat tidak efektifsebesar 28,42%, paragraf tidak padu sebesar 20,77%, serta kesalahan logika paragraf sebesar15,78%. Kesalahan penulisan kata baku didominasi oleh penggunaan kata sehari-hari yang lazimdigunakan di media sosial, padahal sebenarnya tidak baku seperti “Ijasah”, “resiko”, “kwalitas”, dan“antri”, penulisan “di” sebagai imbuhan atau preposisi masih sering tertukar. Kesalahan dalamkalimat efektif, terdapat kalimat-kalimat pleonasme, pengulangan subjek, struktur S-P yang tidakjelas, serta pemakaian konjungsi yang salah. Kesalahan dalam tataran paragraf, terdapat kesalahanyang dilakukan banyak mahasiswa yaitu ketiadaan kalimat topik secara eksplisit, uraian denganlogika yang melompat dengan perbedaan topik. Terakhir, kesalahan dalam logika paragrafditemukan pula yaitu adanya generalisasi yang tergesa-gesa dan sebab-akibat yang terbalik. Padapenelitian ini dihasilkan temuan-temuan kesalahan berbahasa tersebut yang dapat menjadi dataawal dalam penyusunan materi-materi dalam pembelajaran.Kata kunci: berbahasa, efektif, kalimat, kata-baku, keterampilan-menulis, logika, paragra
REKONTEKSTUALISASI KENDURI SKO KECAMATAN KUMUN DEBAI: PERGESERAN MAKNA DAN FUNGSI DARI TRADISI RITUAL KE PRODUK PARIWISATA
Kenduri Sko merupakan praktik adat yang memiliki akar sejarah yang kuat sebagai ritual pemurnian,penobatan gelar adat, dan sarana penghubung antara masyarakat dengan leluhur. Tujuanpenelitian ini adalah untuk mengkaji mengenai implikasi rekontekstualisasi Kenduri Sko terhadapfungsi sosial dan makna simbolik aslinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengandesain etnografi lapangan yang diperkaya oleh perspektif digital ethnography untuk menangkappraktik ritual Kenduri Sko yang direkontekstualisasi menjadi produk pariwisata, baik secara langsung(kehadiran fisik) maupun melalui representasi digital (media sosial, materi promosi). Pendekatan inimemungkinkan analisis mendalam terhadap praktik, narasi, dan representasi simbolik dalamkonteks lokal dan pasar pariwisata. Hasil penelitian pelaksanaan Kenduri Sko di Kumun Debai pada6 Juli 2025 menunjukkan gejala rekontekstualisasi budaya yang jelas. Dokumentasi video, unggahanmedia sosial, dan liputan media lokal mengungkapkan bahwa rangkaian ritual sakral kini dipadukandengan hiburan populer dan keterlibatan pejabat publik. Promosi acara bahkan menonjolkanpenampilan artis sebagai daya tarik utama, sementara prosesi adat tetap dibuka untuk ditontonpublik dan wisatawan. Fenomena ini merepresentasikan pergeseran fungsi dari acara adat internalmenuju format yang diatur untuk konsumsi publik, mencerminkan logika pariwisata dankomersialisasi.Kata kunci: Kenduri Sko, Kumun Debai, Ritual, Rekontekstualisasi, Produk Pariwisat
MENJAGA TRADISI, MENGGERAKKAN MASYARAKAT: DARI SUDUT PANDANG VISUAL MELALUI DISKUSI RUANG BUDAYA UNTUK KEBERLANJUTAN KAMPUNG ADAT JALAWASTU
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Menjaga Tradisi, menggerakan Masyarakat dari sudutpandang visual melalui diskusi Ruang Budaya untuk keberlanjutan Kampung Adat Jalawastu diKampung Adat Jalawastu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dengan menggunakan pendekatankualitatif deskriptif melalui wawancara, observasi partisipatif, dan studi literatur, Visual penelitian inimenemukan bahwa masyarakat Jalawastu membangun ruang budaya yang mencerminkan identitaskolektif sekaligus berfungsi sebagai arena sosial untuk menjaga tradisi, solidaritas, dankeberlanjutan lingkungan Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat melaluigotong royong, ritual adat, serta pengelolaan hutan larangan telah menjadi pilar utama keberlanjutanJalawastu. Walaupun diluar perbatasan Kampung Dukuh Jalawastu, yaitu kampung Dukuh Gorogoldan Kampung Dukuh Salagading sudah boleh membangun rumah menggunakan media Tanah,tetapi dua kampung itu masih menghormati aturan di Kampung Dukuh Jalawastu. Temuan inimengindikasikan pentingnya sinergi antara kearifan lokal, kebijakan pemerintah, dan partisipasigenerasi muda dalam menjaga keberlanjutan kampung adat di tengah arus modernisasiKata Kunci: ruang budaya, pemberdayaan masyarakat, kampung adat, Jalawastu, keberlanjuta
PSIFOLK PENCAK SILAT BERBASIS KEARIFAN LOKAL SEBAGAI INTERVENSI KETANGGUHAN MENTAL ATLET CEDERA PADA KOMPETISI
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya risiko cedera pada atlet pencak silat, yang tidak hanyaberdampak pada fisik tetapi juga mental. Cedera kompetisi sering kali memicu kecemasan, depresi,dan penurunan motivasi, yang berpotensi mengakhiri karier atlet. Kondisi ini menuntut adanyaintervensi psikologis yang efektif dan relevan. Psifolk (Psikologi dan Folklor) dikembangkan sebagaisolusi, menggabungkan prinsip-prinsip psikologi olah raga dengan nilai-nilai kearifan lokal yangterkandung dalam budaya pencak silat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif denganmetode studi kasus untuk menguji efektivitas Psifolk Pencak Silat. Partisipan adalah beberapa atletpencak silat yang pernah mengalami cedera secara signifikan selama kompetisi. Intervensidilakukan melalui sesi konseling dan latihan mental yang terstruktur. Instrumen penelitian meliputiwawancara, observasi, dan catatan harian partisipan. Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwaPsifolk Pencak Silat secara signifikan dapat meningkatkan ketangguhan mental atlet. Partisipanmampu menerima kondisi cedera, mengelola emosi negatif, dan membangun kembali motivasi untukkembali berlatih. Integrasi nilai-nilai kearifan lokal terbukti efektif dalam memfasilitasi prosespemulihan psikologis, memberikan makna yang lebih dalam terhadap pengalaman cedera, danmemperkuat identitas diri sebagai pesilat.Kata kunci: psifolk, atlet pencak silat, cedera, intervensi, ketangguhan mental
Stagnasi Perkembangan Teori Karawitan Sunda: Sebuah Tantangan Dalam Mewujudkan Kemapanan Ilmu Karawitan Sunda Di Era Generasi Emas
Teori karawitan Sunda khususnya tentang laras, surupan, patet, dan lagon tidak pernah berkembang (stagnan). Apabila dihitung dari kurun waktu terbitnya buku Ilmu Seni Raras (1969), sudah hampir 56 tahun teori karawitan Sunda karya Rd. Machjar Angga Koesoemadinata berjalan di tempat (tidak mengalami kemajuan) walaupun beberapa tulisan dari peneliti asing telah menyampaikan kritikannya terhadap teori karawitan Sunda tersebut. Fenomena ini merupakan permasalahan krusial yang perlu segera ditindaklanjuti (melalui penelitian ulang yang berkelanjutan) karena teori karawitan Sunda tidak hanya digunakan sebagai materi pembelajaran di sekolah-sekolah seni dan perguruan tinggi seni, tetapi juga digunakan sebagai acuan dalam praktik memainkan karawitan Sunda. Sehubungan dengan permasalahan tersebut, perlu dikemukakan beberapa hal yang mendasari keraguan para peneliti asing terhadap teori karawitan Sunda Rd. Machjar Angga Koesoemadinata dan mengapa teori karawitan Sunda perlu dikaji ulang melalui penelitian yang berkelanjutan. Berdasarkan hasil analisis dan diskusi terhadap teori laras, surupan, patet, dan lagon ditemukan titik kelemahan teori karawitan Sunda yang disebabkan oleh cara berpikir yang terlalu berorientasi pada teori musik Barat. Dengan demikian, sudah saatnya teori karawitan Sunda dikaji ulang, diteliti kembali, dan dikembangkan sesuai dengan sifat dan karakteristik “ilmu itu sendiri” yang seharusnya diperkaya dan dikembangkan secara berkelanjutan sesuai dengan perkembangan praktik karawitannya itu sendiri.
Kata Kunci: Teori karawitan Sunda, Rd. Machjar Angga Koesoemadinata, stagnasi, kritik atas teori, kajian berkelanjuta
Tayub Khas Kasumedangan Sebagai Ibing Kalangenan Kaum Menak dan Kaum Somah
Tayub merupakan ibing kalangenan yang menjadi satu ikon kesenian daerah Sumedang pada tahun 1921 menjadi bagian dari pola kehidupan masyarakat, berubahnya pola kehidupan mempengaruhi juga selera berkesenian sehingga keberadaan ibing tayub dalam kondisi saat ini boleh dikatakan hampir tidak kelihatan. Ada dua jenis ibing tayub, diantaranya tayub menak dan tayub somah. Tayub menak penarinya merupakan para bangsawan karena ada suatu keharusan salah satu syarat untuk menjadi seorang bangsawan yaitu terampil ibing tayub, menari dalam peristiwa tayuban sebagai identitas sosial bagi menak. Sedangkan tayub balandongan pelakunya merupakan masyarakat biasa yang meniru kebiasaan menak karena anggapannya bahwa bangsawan atau menak merupakan panutan bagi masyarakat. Peran ronggeng dalam tayub sangat signifikan karena merupakan roh dan magnet dalam pertunjukan ibing tayub. Metode kualitatif dengan studi dokumentasi salah satu alternatif untuk menghasilkan data, bertujuan melestarikan kembali ibing tayub dalam penafsiran baru, sehingga dapat hidup kembali di tengah masyarakat yang sedang mengalami proses transisi dengan masuknya pengaruh modernisme.Target yang ingin dicapai menghadirkan kembali ibing tayub secara tekstual dan kontekstual sehingga dapat hidup kembali di masyarakat.
Kata Kunci: Ibing kalangenan, Tayub Menak, Tayub Somah, Ronggeng
Kritik Estetika Film Dilan 1991 Karya Pidi Baiq: Pendekatan Fenomenologi, Semiotika, dan Produksi Budaya
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis film Dilan 1991 sebagai karya seni modern menggunakan pendekatan estetika lintas teori yang dikembangkan oleh Prof. Dr. Benny Yohanes Timmerman, S.Sen., M.Hum., yang mencakup fenomenologi, semiotika seni, dan teori produksi budaya. Pendekatan ini memungkinkan kajian mendalam terhadap representasi cinta, identitas, dan realitas sosial remaja dalam film, baik dari sisi pengalaman eksistensial tokoh, makna simbolik visual, maupun posisi ideologisnya sebagai produk budaya populer Indonesia. Melalui metode kualitatif-deskriptif, penelitian ini mengeksplorasi Dilan 1991 tidak hanya sebagai narasi cinta remaja, tetapi juga sebagai medium penyampaian konflik nilai, resistensi terhadap struktur sosial, serta pembentukan identitas remaja urban di Bandung tahun 1990-an. Simbol-simbol visual seperti sepeda motor, hujan, seragam sekolah, dan lanskap kota berfungsi tidak hanya secara estetika,tetapi juga sebagai alat penyampai krisis identitas dan transformasi sosial tokoh. Film ini juga mencerminkan peran Pidi Baiq sebagai seniman modern yang menggabungkan pengalaman lokal dengan ekspresi reflektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dilan 1991 merupakan teks budaya yang berfungsi sebagai ruangpengalaman kolektif, memungkinkan penonton merefleksikan kembali kenangan, makna cinta, dan pergeseran nilai sosial dalam konteks generasi muda Indonesia. Penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dalam studi estetika film dan dinamika budaya populer.
Kata Kunci: dilan 1991, estetika film, semiotic
Peningkatan Keterampilan Motorik Kasar Melalui Tarian di TK Aryandini Kota Bandung
Pada anak usia dini motorik kasar sangat diperlukan untuk dapat membentuk perkembangan dan pertumbuhan anak salah satunya melalui sebuah tarian. Permasalahan yang dihadapi di TK Aryandini masih ada ditemukan beberapa anak yang masih belum optimal dalam melakukan motorik kasar pada tarian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui sejauhmana pengaruh motorik kasar melalui tarian untuk usia 4 tahun. Pada penelitian ini menggunakan metode desktiptif dengan pendekatan learning by doing, peserta didik belajar melalui praktik langsung. Sumber data penelitian terkait aspek motorik kasar yang dijadikan penelitianberjumlah 6 anak perempuan terdiri dari 3 anak pendiam, dan 3 anak aktif dengan usia rata-rata 4 tahun. Kesimpulan hasil penelitian antara anak pendiam dan anak yang aktif dari nilai rata-rata perbedannya sebanyak 29. Rekomendasi perlu adanya kerjasama antara guru dan orang tua agar anak tersebut dalam pembelajaran motorik kasar melalui tarian dapat tercapai secara optimal.
Kata Kunci: Keterampilan Motorik Kasar, Tarian
REFLEKSI SENI DALAM PARADIGMA KEBUDAYAAN YANG BERUBAH
Tulisan ini bermaksud untukmenelaah bahwa “perubahan” merupakan unsur yang tidak bisadihindarkan dari kehidupan sosial manusia. Dunia saling mempengaruhi.Tak ada peradaban yang tidak dipengaruhi oleh peradaban lainnya.Pemerintah Korea Utara berusaha menutup diri dari pengaruhpengaruhluar, namun selalu saja ada berita beberapa penduduknyayang dihukum, bahkan dieksekusi mati oleh pemerintahnya, karenamenonton hiburan, seperti film dan K-Pop, karya-karya seniman KoreaSelatan, yang diselundupkan oleh orang-orang tertentu