E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
    1925 research outputs found

    INOVASI SENI WAYANG TAVIP SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN MUHADROROH

    Get PDF
    Pesantren di Indonesia dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis yaitu pesantren tradisional (salaf), pesantren modern (khalaf), dan pesantren terpadu (Hasbi Indra dkk, 2020). Pendidikan pesantren merupakan salah satu pilar sistem pendidikan nasional untuk mewujudkan pendidikan nasional yang bermutu (Hasbi Indra dkk, 2020). Pesantren merupakan lembaga terbuka, inklusif dan mampu mengakomodasi modernitas. Penelitian tentang metode pembelajaran di pesantren dilakukan oleh Abdul Rohman dan Siti Muhtamiroh (2022) dengan nara sumber kyai, ustadz dan santri.Pondok Pesantren Fathul Huda terletak di Kampung Bojongkaso Desa Cihanyir Kecamatan Cikancung Kabupaten Bandung. Desa Cihanyir memiliki luas 440Ha dengan batas wilayah; Batas Utara Desa Mandalasari, Batas Timur Desa Mekarlaksana, Batas Selatan Desa Cikancung dan Batas Barat Desa Ciluduk. Desa ini memiliki potensi hasil pertanian dan potensi industri rumahan. Permasalahan utama Desa Cihanyir yang dapat disesuaikan dengan Program Diseminasi Inovasi seni ini adalah pendidikan seni budaya untuk mendukung program Wajardiknas 9 Tahun di Wilayah Kecamatan Cikancung Tiga bidang utama yang dioptimalkan yaitu mata pelajaran, manajemen dan sarana prasana. Penelitian tentang pesantren di Indonesia yang menjadi tempat ramah anak (Evi Muafiah dkk, 2022). Penyelenggaran pendidikan di pesantren yaitu pendidikan intelektual, keterampilan dan karakter. Ketiga dimensi tersebut diterapkan dalam pembelajaran di kelas dengan menggunakan berbagai model, pendekatan dan strategi pembelajaran (Dewi Sadiah, 2022)

    INOVASI MOTIF TENUN GARUT BERBASIS WARISAN BUDAYA BATIK: PROSES KREATIF DAN ADAPTASI ESTETIKA LOKAL

    Get PDF
    Tenun Garut merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang menggambarkan keindahan dan keragaman seni tekstil Nusantara. Keunikan tenun Garut terletak pada penggunaan motif tradisional yang penuh filosofi dan makna budaya. Tenun Garut dikenal menggunakan teknik Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), yang memungkinkan pengerjaan dengan detail tinggi dan kontrol artistik yang lebih bebas dibandingkan teknik produksi kain modern. Namun, seperti halnya seni tradisional lainnya, tenun Garut menghadapi tantangan di era modern, di mana inovasi dalam desain motif menjadi penting untuk menjaga relevansinya di pasar yang semakin kompetitif (Soemarsono, 2016).Adaptasi dan inovasi pada motif tenun Garut diharapkan mampu memperluas pasar dan mempertahankan eksistensi produk lokal. Salah satu langkah inovatif adalah mengadopsi motif-motif batik Garut ke dalam desain tenun. Motif batik Garut seperti "Merak Ngibing," "Bilik," dan "Dadu" membawa simbol-simbol budaya yang mencerminkan nilai kehidupan masyarakat Garut. Dengan menanamkan elemen-elemen tradisional ini ke dalam tenun, identitas budaya tetap terjaga, sekaligus menciptakan produk yang inovatif (Makki et al., 2017)

    MEMAHAMI PERAN MODAL SOSIAL DAN BUDAYA DALAM MEMINIMALISIR TERJADINYA BENTUK KEKERASAN SIMBOLIK: SEBUAH STUDI KASUS DI SEKOLAH TINGKAT SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KABUPATEN BANDUNG

    Get PDF
    Pendidikan telah menjadi pilar fundamental yang tidakhanya membentuk karakter, tetapi juga menjalankan ilmupengetahuan serta keterampilan. Melalui pendidikan, individumemperoleh nilai-nilai yang dibutuhkan untuk kemajuan diridan kolektif hingga mampu meningkatkan kualitas hidupmasyarakat secara keseluruhan. Namun, lingkunganpendidikan tidak selalu terbebas dari berbagai bentukkekerasan. Kekerasan dalam pendidikan dapat terjadi dalamberbagai bentuk seperti perundungan, kekerasan fisik,pelecehan seksual, bahkan simbolik (Wibowo & Chasif Ascha,2023, hlm. 358). Dalam perspektif pendidikan, kekerasanmerupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan karena esensidari proses pendidikan adalah upaya berkelanjutan untukmemanusiakan manusia (Krisbiyantoro & Lestari, 2008, hlm. 10).Meskipun pendidikan memiliki tujuan mulia untukmemanusiakan manusia, realitas di lapangan sering kalimenunjukkan adanya kontradiksi. Ironisnya, lingkungan yangseharusnya menjadi tempat penanaman nilai-nilai kemanusiaanjustru dapat menjadi ruang di mana nilai-nilai tersebutterdistorsi oleh praktik-praktik terselubung. Distorsi inilah yangkemudian memunculkan bentuk kekerasan yang lebih sulitdideteksi, namun dampaknya tidak kalah merusak

    Koreografi Pardomuhon Daging Nang Tondi: Dari Ritual Manguras Tao ke Bentuk Seni Pertunjukan

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan koreografi garapan baru dengan tajuk Pardomuhon Daging Nang Tondi, yang berakar pada budaya Batak Toba dengan menggunakan teori penciptaan kostruktif oleh Jacqueline Smith. Pada teori konstruktif bukan saja konsentrasi pada elemen konstruksi antara lain motif, pengulangan, variasi dan kontras, klimaks dan penonjolan, proporsi dan imbangan, transisi, pengembangan logis, dan kesatuan. Tetapi proses dalam penciptaan seperti tahapan eksplorasi, improvisasi, komposisi, dan evaluasi, merupakan tahapan penting dalam mencipta yang memiliki hubungkait yang sangat erat dengan elemen konstruksi itu sendiri. Konsentrasi koreografer akan berada dalam pemikiran yang sangat kuat, bagaimana membentuk motif gerak menjadi baik sesuai dengan struktur garapan yang telah dibentuk. Sehingga makna dan pesan yang ingin disampaikan dapat dapat ditangkap oleh penonton sebagai penikmat. Motode yang digunakan dalam penelitian penciptaan ini adalah metode kualitatif dengan cara penggumpulan data melalui studi literatur, studi lapangan, dokumentasi, dan wawancara. Pembentukan koreografi Pardomuhon Daging Nang Tondi secara bertahap sesuai teori konstruksi yang menghasilkan ide-ide kreatif dan menghantar koreografer pada alur penciptaan yang terstruktur. Secara estetis koreografi Pardomuhon Daging Nang Tondimencitrakan tentang kehidupan masyarakat Batak Toba yang meminta permohonan kepada Tuhan sebagai pencipta untuk mendapatkan keselamatan, keberkahan dan perlindungan yang diekspresikan oleh tujuh orang penari. Pardomuhon Daging Nang Tondi merupakan koreografi inovasi baru dari tradisi Batak Toba dan menjadi sebauah apresiasi baru bagi masyarakat pecinta seni. Kata Kunci : 1) Pardomuhon Daging Nang Tondi, 2). Folklor, 3). Sigale-gale, 4). Koreograf

    Model Pengembangan Iringan Tari Jaran Kepang

    Get PDF
    ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengkonseptualisasikan dan memformulasikan karakteristik bentuk pola ke dalam suatu model yang merepresentasikan mengenai bangunan sistem musikal gending jaranan, metode (tahapan dan strategi) pengembangannya, serta hasil karya dari pengembangan itu sendiri. Penelitian dilakukan melalui pendekatan etnografi yang berlatar kegiatan partisipatif dan kolaboratif dengan teknik pengumpulan data melalui aktivitas pengamatan, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Penelitian ini menghasilkan temuan berupa model pengembangan sajian gending jaranan yang mengacu pada aspek penataan dan penggarapan sajian gending (musik). Model pengembangan sajian gending jaranan dapat diidentifikasi dan dijelaskan berdasarkan (1) pola dasar sajian gending jaranan, (2) metode pengembangannya, serta (3) bentuk dari hasil pengembangan tersebut. Tulisan ini didasarkan pada suatu argumen bahwa seni pertunjukan rakyat Jawa yang dahulu sering diremehkan dan dipandang sebelah mata, kini telah bertransformasi menjadi sebuah kekuatan budaya yang adaptif dan dinamis untuk menyesuaikan diri terhadap konteks kebutuhan serta perkembangan estetika dan selera masyarakat. Kata kunci: Jaran Kepang, Model Pengembangan Kesenian, Gending Jaranan, Seni Kerakyata

    KREATIVITAS DALAM TARI KUKUPU PRODUKSI BADAN KESENIAN INDONESIA TAHUN 1952

    Get PDF
    ABSTRAK Tari Kukupu merupakan salah satu karya tari Badan Kesenian Indonesia (BKI) tahun 1952, yang disajikan oleh sekelompok perempuan yang menggambarkan tentang siklus atau daur hidup kupu-kupu sebagai seekor serangga. Di balik pesonanya, karya ini bukan semata hasil kreasi individual, melainkan buah kolaborasi transdisipliner tiga agen yaitu Raden Tjetje Somantri, Tubagus Oemay Martakusumah, dan Kayat (Soma). Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis dan mengungkapkan proses kerja kreatif dan inovatif penciptaan Tari Kukupu, yang terwujud melalui sinergisitas lintas disipliner. Melalui metode kualitatif pendekatan fenomenologi dengan wawancara mendalam, observasi, dan analisis konten. Tulisan ini memaparkan tentang gaya koreografi Tjetje, estetika kostum Oemay, serta komposisi musik Kayat (Soma) yang saling berkaitan dan berkontribusi dalam menghidupkan Tari Kukupu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiganya telah berhasil menyajikan Tari Kukupu dengan sentuhan dan warna baru yang tetap mempertahankan nilai-nilai dan identitas tradisi Sunda. Karya ini menjadi bukti bahwa tradisi dan modernitas dapat saling melengkapi dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya. Kata Kunci: Kreativitas, Inovasi, Tari Kukupu, Raden Tjetje Somantri, Tubagus Oemay Martakusuma, dan Kayat. ABSTRACT THE CREATIVITY IN KUKUPU DANCE AT THE INDONESIAN ARTS AGENCY IN 1952, JUNE 2024. The Kukupu Dance is one of the dance works of Badan Kesenian Indonesia (BKI) in 1952, which is presented by a group of women which describes the cycle or life cycle of a butterfly as an insect. Behind its charm, this work is not merely the result of individual creation, but also the result of a transdisciplinary collaboration among three agents, namely Raden Tjetje Somantri, Tubagus Oemay Martakusumah, and Kayat (Soma). This article aims to analyze and reveal the creative and innovative work process of creating the Kukupu Dance, which was realized through cross-disciplinary synergy. Through a qualitative method of phenomenological approach, in-depth interviews, observation and content analysis. This article describes Tjetje\u27s choreography style, the aesthetics of Oemay\u27s costumes, and Kayat\u27s (Soma) musical composition which are interrelated and contribute to develop the Kukupu Dance. The results of the research show that the three of them have succeeded in presenting the Kukupu Dance with a new touch and color that still maintains the values and identity of Sundanese tradition. This work is a proof that tradition and modernity may complement each other in maintaining the sustainability of cultural heritage. Keywords: Creativity, Innovation, Kukupu Dance, Raden Tjetje Somantri, Tubagus Oemay Martakusuma, and Kayat

    PROSES KREATIF TARI KONTEMPORER SEBAGAI MEDIA EDUKASI ANAK DI LUAR PENDIDIKAN FORMAL

    Get PDF
    ABSTRAK Proses kreatif penciptaan tari kontemporer memiliki peluang untuk menjadi media edukasi di luar pendidikan formal untuk anak-anak. Merealisasikan hal tersebut perlu sebuah data dan uji coba untuk menentukan instrument yang digunakan. Pengumpulan data dilakukan melalui sebuah riset berbasis praktik dan praktik berbasis riset (practice based research, research based practice). Metode Literasi Tubuh dan proses kreatif tari kontemporer dijadikan sebagi instrument untuk menggali kepekaan raga, rasa, pikir, dan imajinasi anak-anak melalui pendekatan seni. Literasi Tubuh menjadi metode untuk menggiring anak-anak ke ranah proses kreatif tari kontemporer. Tari kontemporer sebagai ruang tempat aktualisasi dan mempertajam hasil dari pelatihan Literasi Tubuh. Proses Kreatif tari kontemporer memberikan peluang yang cukup terbuka untuk anak-anak berekspresi, eksplorasi, improvisasi, dan berkreasi. Proses panjang yang dilakukan secara rutin ini akan menciptakan habit baru pada anak-anak, yaitu mental kreatif, percaya diri, meningkatnya daya empati, serta berani menyatakan. Proses tersebut tidak hanya bermanfaat dalam bidang artistik tapi juga memiliki nilai edukasi yang bermanfaat dalam kehidupan mereka saat ini dan ke depannya. Kata Kunci: Media Edukasi, Literasi Tubuh, Tari Kontemporer Anak. ABSTRACT THE CREATIVE PROCESS OF CONTEMPORARY DANCE AS A MEDIUM FOR CHILDREN’S EDUCATION OUTSIDE OF THE FORMAL EDUCATION. The creative process of creating contemporary dance could become an educational medium outside of the formal education for children. It requires data and trials to determine the instrument to be used in order to realize this. Data collection was carried out through practice based research and, research based practice. The Body Literacy method and the creative process of contemporary dance are used to explore the sensitivity of children\u27s body, feel, thought and imagination through an artistic approach. Body Literacy is a method for bringing children into the contemporary dance creative process. Contemporary dance is a space for actualizing and sharpening Body Literacy training results. The creative process of contemporary dance provides open opportunities for children to express, explore, improvise, and create. This lengthy process that is carried out continuesly will create new habits for children, namely creative mentality, self-confidence, increasingly empathy, and the courage to express. This process is not only valuable for the artistic field but also having educational values that is beneficial in their present and future life. Keywords: Educational Media, Body Literacy, Children\u27s Contemporary Dance

    MAKNA SIMBOLIS GERAK TARI TOPENG SASIKIRANA STUDIO TARI INDRAWATI LUKMAN BANDUNG (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce)

    Get PDF
    Sasikirana merupakan pengembagan dari karya tari topeng pamindo. Hal yang menarik dalam karya sasikirana ini, banyaknya eksplorasi dan inovasi yang dilakukan baik dalam hal gerak, struktur gerak, iringan dan kostum. Sasikirana terkesan lebih modern dari segi penyajian. Penulis akan menggali maknadari tanda-tanda yang terdapat pada gerak tari sasikirana karya Indrawati Lukman menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika. Kajian terpusat pada tanda – tanda gerak dalamkarya tari topeng sasikirana, dikaji secara mendalam sehingga mampu membongkar realitas makna dibalik karya tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolis dari gerak tari Sasikirana karya Indrawati Lukman melalui pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Tari Sasikirana dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki kekayaan simbolis yang merefleksikan nilai budaya dan kearifan lokal yang unik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, yang melibatkan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori semiotika Peirce, yang membagi tanda menjadi tiga komponen: representament, Objek, dan Interpretan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerak-gerak dalam tari Sasikirana memiliki makna simbolis yang mendalam, yang merepresentasikan feminitas, keagungan perempuan, serta filosofi hidup masyarakat yang dihormati dalam budaya setempat. Kata Kunci: Gerak Tari Sasikirana, Indrawati Lukman, Semiotika, Charles Sanders Peirce, Makna Simbolis. ABSTRACTTHE SYMBOLIC MEANING OF SASIKIRANA MASK DANCE MOVEMENTS OF INDRAWATI LUKMAN DANCE STUDIO BANDUNG: SEMIOTIC (ANALYSIS OF CHARLES SANDERS PEIRCE), DECEMBER 2014. Sasikirana is a development of Pamindo mask dance. The interesting things in Sasikirana dance work are the extensive exploration and innovation applied to movements, movement structure, accompaniment, and costumes. Sasikirana appears to be more modern in its presentation style. The author would examine the meaning of the symbols in Sasikirana dance movements by Indrawati Lukman, using a qualitative method with a semiotic approach. This study focuses on the symbolic movements in Sasikirana mask dance, with deep analyzing process to uncover the underlying meanings. The purpose of this research is to reveal the symbolic meanings of the movements in Sasikirana dance by Indrawati Lukman through the semiotic approach of Charles Sanders Peirce. Sasikirana dance has been selected as the research subject because of its symbolic richness reflecting unique cultural values and local wisdom. The research method used is descriptive qualitative, involving data collection through observation, interviews, and documentation. Data analysis is conducted using Peirce\u27s semiotic theory, which divides signs into three components: representament, Object, and Interpretant. The findings show that the movements in Sasikirana dance owes deep symbolic meanings, representing femininity, the majesty of women, and the community life Naskahditerimapada,7Septemberrevisiakhir3Oktober2024 |157 philosophy respected within the local culture. Keywords: Sasikirana Dance Movements, Indrawati Lukman, Semiotics, Charles Sanders Peirce, Symbolic Meaning

    “SKAK” Sebuah Karya Tari Kontemporer Berdasarkan Perspektif Pemikiran Wallas

    Get PDF
    ‘Skak’ merupakan karya penciptaan tari kontemporer yang terinspirasi dari langkah-langkah dalam permainan catur, salah satu cabang olahraga yang berskala regional, nasional, dan internasional. Permainan catur bukanlah olahraga yang hanya mengandalkan kekuatan fisik saja, melainkan kemampuan otak (indera) dalam menyusun strategi efektif untuk mengalahkan lawan dan dimainkan oleh dua orang. Oleh karena itu, olahraga catur sering dianggap sebagai pelatihan otak. Dengan kata lain, dalam permainan catur membutuhkan strategi otak yang berfokus pada langkah-langkah strategis, sehingga membutuhkan konsentrasi tinggi dan pemikiran strategis sehingga aktivitas fisiknya cenderung statis. Sumber inspirasi ini, selanjutnya disusun ke dalam sebuah konsep garap tari kontemporer dengan pendekatan tipe tari murni dengan bentuk garap kelompok, yaitu semata-mata mengandalkan keindahan gerak, baik yang bersumber dari tradisi maupun dari gerak keseharian yang distilisasi sesuai kebutuhan. Untuk mewujudkan karya tari ini digunakan metode kreativitas dari yang meliputi; eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Hasil perwujudan garap menunjukkan, bahwa karya tari kontemporer yang diberi judul ‘Skak’ setelah melalui proses memiliki klimaks, terutama ditunjang dengan music tari dan rias dan busana tari yang sesuai dengan karakteristik tariannya. Kata Kunci: Skak, Tipe Murni, Tari Kelompok, Kontemporer. ABSTRACT \u27SKAK\u27: A CONTEMPORARY DANCE CREATION BASED ON WALLAS PERSPECTIVE, DECEMBER 2024. \u27Skak\u27 is a contemporary dance creation inspired by the steps in the game of chess, a sport on a regional, national and international scale. The game of chess is not a sport which only relies on physical strength, but rather on the ability of brain (senses) to develop effective strategies to defeat the opponent and is played by two people. Therefore, chess is often considered as brain training. In other words, playing chess requires a brain strategy that focuses on strategic moves, so it requires high concentration and strategic thinking so that the physical activity tends to be static. This source of inspiration is then organized into a concept for contemporary dance work with a pure dance type approach in a form of group work, in which relying solely on the beauty of movement, both from traditional sources and from daily movements which are stylized to its needs. To create this dance work, the creative methods are used which include; exploration, improvisation, and formation. The result of the work realization shows that the contemporary Naskahditerimapada20,Julirevisiakhir8Oktober2024 |169 dance work entitled \u27Skak\u27 after going through the process has a climax, especially supported by the dance music, make-up and costume that suits the characteristics of the dance. Keywords: Skak, Pure Type, Group Dance, Contemporary

    Proses Penulisan Naskah Lakon "GECOL"

    Get PDF
    ABSTRACT Farmers are an important figure in the sustainability of agriculture. Its development has not escaped the contribution and hard work of the farmers who have been cultivating the agricultural land so far. However, it cannot be denied that currently Indonesian agriculture is experiencing a recovery crisis. Many farmers only come from the old class with a low average education. In fact, many farmers and non-farmers choose to go to the city and are forced to become coolies, migrant workers or other informal sectors due to their low income. Moreover, the youths who were rescued in the village. Farmers are a profession to be avoided. And the higher a person\u27s education, the more difficult or reluctant it is to become a farmer. This causes the number of farmers in Indonesia to continue to decrease. There are still many people and governments who are not aware of this issue, even though the impact it can have is enormous. So far too, not much work has raised the issue of farmer regeneration. Therefore, the writer is very interested in the facts that are happening in this country of Indonesia to be elevated into the play text with the satirical genre through an analogy approach. The things that have been mentioned above are packaged in a text entitled "Gecol", which raises the issue of the younger generation fighting for agriculture. However, due to the conflicts that approached his life, his vision to raise a generation of farmers changed and came to an abrupt halt. Keywords: Gecol, farmers, regeneration crisi

    1,711

    full texts

    1,925

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇