E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
    1925 research outputs found

    Creativity in noise: Transforming urban elements into innovative music in POSUA

    Get PDF
    This article examines the influence of urbanization and industrialization on musical expression, with a focus on the role of urban noise as a creative element. The processes of urbanization and industrialization are frequently linked with an increase in noise levels, which is commonly regarded as a form of noise pollution. Nevertheless, this article underscores the potential for such noise to be transformed into a valuable aesthetic element within musical compositions. The research employs electro-acoustic theory and innovative techniques to transform noise into a novel musical element. The methods utilized include sound exploration and experimentation, evaluation, and composition employing both conventional and unconventional instruments. The techniques of sound manipulation are also employed in order to transform noise into an engaging musical experience. The outcome of this research is the musical work POSUA, which illustrates how urban noise can be transformed into a contemplative and creative musical experience, encouraging listeners to perceive noise from an original and innovative perspective. This article introduces a novel perspective on the potential of noise as a musical material and its role in fostering diversity within the contemporary music landscape

    DIGITALISASI KONSEP DESAIN FASHION HOME WEAR KARYA ANAK-ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

    No full text
    Konsep dalam fashion merupakan sebuah ide atau gagasan yang mendasari desain dan pembuatan sebuah karya fashion. Konsep ini dapat berasal dari berbagai sumber, seperti budaya, sejarah, seni alam atau bahkan isu-isu sosial dan politik. Konsep yang kuat dan jelas akan dapat membantu kreator dalam menciptakan karya fashion yang unik, menarik dan bermakna. Konsep ini juga membantu desainer dalam menentukan target pasar, bahan yang akan digunakan, teknik pembuatan, dan keseluruhan estetika karya. Terdapat beberapa elemen yang ada di dalam konsep seperti: tema yang merupakan hal paling umum digunakan dalam fashion, cerita, cerita yang dapat menjadi konsep kuat dalam fashion, mood, hal yang abstrak untuk di terjemahkan kedalam desain dan terakhir adalah estetika merupakan hal yang penting untuk dipertimbangkan dalam merencanakan konsep fashion. (Angin, 2021)

    Musik dan Pergeseran Kesadaran

    No full text
    This study discusses the presence of immanent consciousness through music. The issue discussed is how this immanent reality is present in the practice of playing music. Thus, the locus of this research is a study of the aesthetic experience of musicians when playing music. This is because, so far, when informants talk about the topic of music performance, the object of study tends to focus on practical matters such as the effectiveness of playing techniques, repertoire selection strategies, music analysis, and performance management. In Indonesia, music studies that discuss immanent experiences tend to emphasize non-sensory experiences: immanence as a type of transcendent experience that is divine, cosmic, or metaphysical. Conversely, the role of music in relation to the emergence of immanent experiences has not been widely discussed. Using Deleuze\u27s concept of the virtual, this study elaborates on various immanent experiences in the context of traditional musicians. Research data was collected through interviews with two traditional musicians: Iwan Gunawan (drummer) and Maspon (saluang player). The data was then categorized into three types of experiences: empirical experiences, threshold experiences, and various sensations felt. Findings indicate that musical practice facilitates a shift in consciousness, moving from empirical perception toward immanent awareness. This shift enables musicians to encounter new forms of reality beyond standardized performance norms—emerging as pre-predicative modes of understanding.Penelitian ini mendiskusikan hadirnya kesadaran imanen lewat musik. Permasalahan yang diulas adalah bagaimana realitas imanen ini hadir dari praktik bermain musik. Hal ini dikarenakan, selama ini, ketika orang berbicara topik pertunjukan musik, objek kajian cenderung berpusat pada hal praktis seperti efektivitas teknik bermain, strategi pemilihan repertoar, analisis musik, hingga tata laksana pertunjukan. Di Indonesia, kajian musik yang mengulas pengalaman imanen cenderung menekankan pembahasan pada jenis pengalaman non inderawi: imanensi sebagai jenis pengalaman transenden yang bersifat ilahiah, kosmis, atau metafisik. Sebaliknya, peran musik dalam kaitannya dengan kemunculan pengalamna imanen belum banyak dibicarakan. Menggunakan konsep virtual Deleuze, penelitian ini mengelaborasi berbagai pengalaman imanen dalam konteks pemain musik tradisi. Data penelitian dikumpulkan lewat wawancara terhadap dua musisi tradisi: Iwan Gunawan (pengendang) dan Maspon (pemain saluang). Data kemudian dikategorisasikan ke dalam tiga jenis pengalaman: pengalaman empiris, pengalaman ambang, serta berbagai sensasi yang dirasakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik bermusik memungkinkan orang mengalami pergeseran kesadaran, dan pergeseran kesadaran lewat praktik bermusik ini memungkinkannya menyadari berbagai realitas baru, diluar ukuran-ukuran yang telah distandarisasi: semacam pemahaman yang bersifat pre-predikatif.   Kata kunci: musik, imanensi, virtual, Deleuz

    Dinamika Kehidupan Gong Kebyar Ditinjau dari Perspektif Paradigma Budaya

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bahwa barungan gamelan gong kebyar hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Gong kebyar merupakan salah satu jenis barungan gamelan yang paling berkembang di Bali. Dari segi bentuk gamelan gong kebyar ada dua, yaitu bentuk gamelan gong kebyar Bali Utara dan gong kebyar Bali Selatan, sedangkan secara musikal terdapat empat gaya, yaitu gong kebyar gaya Buleleng, gong kebyar gaya Tabanan, gong kebyar gaya Badung, dan gong kebyar gaya Gianyar yang berkembang di wilayah budayanya masing-masing. Pertumbuhan dan perkembangan barungan gamelan gong kebyar, ditentukan oleh lingkungan dan dinamika masyarakatnya salah satu faktor menarik untuk dikaji dari perspektif paradigma budaya yang terkait dengan bentuk, fungsi, dan makna. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, studi pustaka, dan dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa realitas kehidupan gong kebyar sekarang cendrung mengarah keseragaman yang merupakan proses untuk mewujudkan kehidupan dan perkembangan gong kebyar di Bali.Gong Kebyar merupakan salah satu jenis barungan atau perangkat gamelan yang hidup dan berkembang di Bali. Di antara jenis barungan gamelan yang ada di Bali, barungan Gamelan Gong Kebyar yang paling subur kehidupan dan perkembangannya dibandingkan dengan barungan gamelan Bali lainnya. Pertumbuhan dan perkembangan kesenian dalam hal ini barungan Gamelan Gong Kebyar, sangat ditentukan oleh lingkungan atau konteks dan dinamika masyarakatnya. Dengan pertumbuhan dan  perkembangan barungan Gamelan Gong Kebyar seperti itu, salah satu faktor yang menarik untuk dikaji dari perspektif paradigma budaya yang terkait dengan bentuk, fungsi, dan makna. Unsur bentuk terkait dengan karya atau estetika, sedangkan fungsi dan makna terkait dengan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bahwa kesenian khususnya barungan Gamelan Gong Kebyar hidup dan berkembang di tengah masyarakat yang dapat dikaji dari perspektif paradigma budaya. Penelitian ini menggunakan data kualitatif karena data dalam bentuk naratif yang dikumpulkan bersifat kualitatif (Moleong, 1995: 112). Data dalam penelitian kualitatif meliputi informan, benda/artefak, beragam gambar, rekaman, dokumen, dan arsip (Sutopo, 2002: 50-54). Pengumpulam data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kehidupan dan perkembangan Gong Kebyar di Bali pada hakekatnya tidak lepas dengan lokal genius dimasing-masing daerah budaya. Tetapi kenyataannya sekarang kehidupan Gong Kebyar sekarang cendrung mengarah kepada keseragaman

    ENVIRONMENTAL ART

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan karya tari dalam medium dance film berjudul Environmental Art Riksasato yang mengangkat isu ekologis mengenai kerusakan hutan, keterpurukan satwa, dan konflik dengan manusia. Metode penelitian yang digunakan meliputi studi literatur, observasi, eksplorasi, improvisasi, dan komposisi. Melalui tahapan tersebut, lahir sebuah karya tari berbasis film yang memadukan eksplorasi gerak hewan, stilisasi tubuh penari, rias fantasi, busana karakter, elemen musik, serta kekuatan sinematografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dance film efektif menjadi sarana ekspresi kreatif sekaligus media kritik sosial-ekologis. Environmental Art Riksasato menampilkan narasi dramatik mulai dari deforestasi, kelaparan satwa, konflik antar hewan, hingga pertarungan dengan manusia, yang berpuncak pada hadirnya figur mafia hutan sebagai simbol kapitalis perusak alam. Karya ini menegaskan bahwa seni, melalui medium film tari, dapat menghadirkan pengalaman estetis yang bukan hanya menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran akan pentingnya menjaga keberlangsungan lingkungan.   ABSTRACT ENVIRONMENTAL ART, DECEMBER 2025. This research aims to create a dance work in the medium of a dance film entitled "Environmental Art Riksasato," which raises ecological issues concerning forest destruction, animal suffering, and conflict with humans. The research methods used include literature study, observation, exploration, improvisation, and composition. Through these stages, a film-based dance work was created that combines the exploration of animal movement, stylization of the dancer\u27s body, fantasy makeup, character costumes, musical elements, and the power of cinematography. The results show that the dance film is effective as a means of creative expression as well as a medium for socio-ecological criticism. "Environmental Art Riksasato" presents a dramatic narrative ranging from deforestation, animal starvation, inter-animal conflict, to battles with humans, culminating in the appearance of the forest mafia figure as a symbol of capitalist nature destroyers. This work affirms that art, through the medium of dance film, can provide an aesthetic experience that is not only entertaining but also raising awareness about the importance of maintaining environmental sustainability.   Keywords: Dance Film, Environmental Art, Ecology, Environmental Art

    KARYA GURUH SUKARNO PUTRA DI GROUP TARI KINARYA SOERYA SOEMIRAT PURA MANGKUNEGARAN

    Get PDF
    Penelitian ini membahas transformasi koreografi Tari Indonesia Jaya karya Guruh Sukarno Putra yang diajarkan dan dipentaskan oleh Group Tari Kinarya Soerya Soemirat Pura Mangkunegaran. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan proses adaptasi koreografi dan peran grup tari tersebut dalam pelestarian seni kreasi Nusantara. Menggunakan metode kualitatif, data diperoleh melalui studi pustaka, observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi, pendekatan teori dari Alma M. Hawkins, dorongan manusia untuk berkomunikasi lewat gerakan yang terjalin bersama pengalaman dan ritme. Proses koreografer dalam mereplikasi tari Indonesia Jaya untuk menjadi materi dan tari unggulan di Kinarya Soerya Soemirat mengalami penyesuaian gerak, pola lantai, dan kostum agar sesuai dengan karakteristik penari di Kinarya Soerya Soemirat, tanpa menghilangkan nilai nasionalisme dan keberagaman budaya yang menjadi inti karya tersebut. Transformasi tercermin dalam upaya pelestarian yang adaptif dan edukatif. Kinarya Soerya Soemirat terbukti mampu menjalankan sistem pembinaan yang terstruktur dan berkelanjutan melalui program latihan berjenjang, regenerasi usia dini, dan kepemimpinan yang kolaboratif. ABSTRACT TRANSFORMATION OF THE CHOREOGRAPHY OF INDONESIA JAYA DANCE BY GURUH SUKARNO PUTRA IN THE KINARYA SOERYA SOEMIRAT DANCE GROUP OF PURA MANGKUNEGARAN, DECEMBER 2025. This study discusses the transformation of the choreography of Indonesia Jaya Dance by Guruh Sukarno Putra which is taught and performed by the Kinarya Soerya Soemirat Pura Mangkunegaran Dance Group. The purpose of this study is to describe the process of choreography adaptation and the role of the dance group in preserving Nusantara creative arts. Using qualitative methods, the data were obtained through literature studies, participatory observations, interviews, and documentation, a theoretical approach from Alma M. Hawkins, the human drive to communicate through movement that is interwoven with experience and rhythm. The choreographer\u27s process in replicating the Indonesia Jaya dance to become the leading material and dance in Kinarya Soerya Soemirat experienced adjustments in movement, floor patterns, and costumes to suit the characteristics of the dancers in Kinarya Soerya Soemirat, without eliminating the values of nationalism and cultural diversity that are the core of the work. The transformation is reflected in adaptive and educative preservation efforts. Kinarya Soerya Soemirat has proven to be able to run a structured and sustainable coaching system through tiered training programs, early age regeneration, and collaborative leadership.   Keywords: Transformation, Choreography, Indonesia Jaya dance, Kinarya Soerya Soemirat &nbsp

    Ruang Interior sebagai Dasar Penciptaan Karya Seni Rupa: Studi Kasus Mata Kuliah Seni Monumental

    Get PDF
    This research examines the role of interior space as a basis for decision-making in the process of creating visual art, with a focus on a case study of the Monumental Art course. In the context of visual art education, interior space is not only understood as a physical element but also as a medium of artistic expression that influences imagination, creativity, and the concept of a work. The study aims to identify how interior space is applied in the learning process of the Monumental Art course and how it impacts the students’ artistic outcomes. A qualitative approach was used in this research through observations of the learning process and an analysis of the works produced. The findings show that interior space functions as an integral element in building artistic narratives, stimulating material exploration, and strengthening the spatial context within monumental art works. Furthermore, the project-based learning approach applied in this course proved effective in encouraging students to explore the potential of interior space as an environment for artistic creation. The conclusion of this study emphasizes the Monumental Art course, which focuses on interior space as a conceptual basis for visual art creation. The recommendations of this research include strengthening the exploration of space within the visual art curriculum and further utilizing interior space in visual art education.This research examines the role of interior space as a basis for decision-making in the process of creating visual art, with a focus on a case study of the Monumental Art course. In the context of visual art education, interior space is not only understood as a physical element but also as a medium of artistic expression that influences imagination, creativity, and the concept of a work. The study aims to identify how interior space is applied in the learning process of the Monumental Art course and how it impacts the students’ artistic outcomes. A qualitative approach was used in this research through observations of the learning process and an analysis of the works produced. The findings show that interior space functions as an integral element in building artistic narratives, stimulating material exploration, and strengthening the spatial context within monumental art works. Furthermore, the project-based learning approach applied in this course proved effective in encouraging students to explore the potential of interior space as an environment for artistic creation. The conclusion of this study emphasizes the Monumental Art course, which focuses on interior space as a conceptual basis for visual art creation. The recommendations of this research include strengthening the exploration of space within the visual art curriculum and further utilizing interior space in visual art education

    Faces Amid the Mountains: A Barthesian Reading of a Photograph in Sore

    Get PDF
    In an era characterized by media saturation, cinematic visuals possess considerable ideological and emotional significance. This study analyzes the portrait of a Ladakhi woman in Sore (2025), directed by Yandy Laurens, to investigate how visual elements in mainstream cinema serve as cultural representations and evoke emotional responses. Employing Roland Barthes\u27s semiotic notions of studium and punctum, the photograph is examined as a locus of dual significance: intellectually comprehensible via cultural norms and emotionally resonant through subtle, unarticulated nuances. Utilizing a qualitative descriptive methodology, the analysis focuses on Barthes’s semiotic framework as delineated in Camera Lucida (1980). Each visual component encompasses gesture, attire, look, color, and background, which are analyzed for their representational and emotional meaning. The theoretical foundation is grounded in Barthes\u27s multiple semiotic layers and Stuart Hall\u27s encoding/decoding paradigm, which emphasize that meaning is not fixed but is influenced by viewers through cultural and emotional settings. The findings underscore how studium elucidates the socio-cultural backdrop of Ladakh, gendered identity, and physical isolation, whereas punctum manifests in nuanced visual features, particularly the woman\u27s partially obscured mouth, which elicit profound, personal responses. These characteristics show that the photograph is not just a decorative narrative, but also a place for international empathy and societal commentary. This research illustrates that visual components in movies can convey intricate cultural tales and emotional depth. Barthes posits that cinematic images function as affective texts that connect aesthetics and ethics, documentation and emotion, so cultivating critical awareness and empathic engagement with oppressed identities

    KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT KAMPUNG ADAT KEPUTIHAN, KAB. CIREBON

    Get PDF
    Kampung Adat Keputihan Kabupaten Cirebon merupakan satu komunitas adat yang mengakui adanyakearifan lokal, terutama berkaitan dengan arsitektur rumah adat sebagai tempat tinggal. Namun seiringdengan kemajuan zaman serta adanya kebutuhan hidup sehingga terjadi pergeseran nilai pada kearifanlokal yang telah diwariskan secara turun temurun, terutama pada arsitektur rumah adat. Penelitian inibertujuan untuk menganalisis faktor serta upaya agar dapat mempertahankan identitas masyarakat adat.Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif analisis dengan teknik pengumpulan datamelalui observasi lapangan, wawancara, studi literatur, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkanbahwa pengaruh globlalisasi, perubahan sosial ekonomi, serta kebutuhan kenyamanan dan fungsionalrumah mendorong masyarakat adat menggabungkan unsur modern dan tradisi. Pergeseran tersebut tidaksepenuhnya menghilangkan kearifan lokal dalam hal bahan dan adat istiadat dalam renovasi. Temuanpenelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat dan pemerintah agar dapattetap melestarikan budaya lokal yang sudah turun temurun dan juga diharapkan dapat berkontribusiterhadap perkembangan keilmuan

    KARAKTERISTIK ELEMEN MUSIKAL DALAM ARANSEMEN TOKECANG VERSI INDRA RIDWAN

    Get PDF
    “Tokecang” sebagai karya etnis Indonesia diaransemen menggunakan pendekatan musik Baratdalam bentuk paduan suara, yang mencerminkan perpaduan dua budaya dengan karakteristik yangberbeda. Musik dalam konteks ini adalah susunan bunyi yang memiliki kesatuan nada, irama, sertakeharmonisan yang dirancang sedemikian rupa oleh arranger Indra Ridwan seorang etnomusikologlulusan University of Pittsburgh, Amerika Serikat, yang dikenal dengan keahliannya dalammengaransemen lagu-lagu pop Sunda dan lagu daerah Jawa Barat. Indra Ridwan juga aktif sebagaiakademisi, penyanyi, juri, dan arranger dalam dunia paduan suara. Elemen-elemen musikal dalamaransemen tokecang versi Indra Ridwan dianalisis melalui pendekatan musikologi, yakni kajian atasstruktur musikal seperti kontur melodi, jalur akor, harmoni, ritme dan bentuk musik. Aransemen lagu“Tokecang” oleh Indra Ridwan yang dibawakan Gita Suara Choir memiliki kekhasan yang dapatmemengaruhi pengembangan musik paduan suara di Indonesia, khususnya dalam aransemen daninterpretasi lagu daerah. Aransemen ini selalu menorehkan nomor Gold Medal pada setiap kompetisiChoir dengan playlist folklore. Dengan metode deskriptif analisis penulis dapat memaparkanbahasan aransemen Indra Ridwan melalui paparan struktur-elemen musikal pada lagu Tokecang.Kata kunci: lagu tokecang; elemen musikal; lagu Folklore; aransemen; Indra Ridwa

    1,711

    full texts

    1,925

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇