E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
Not a member yet
    1925 research outputs found

    KEBUDAYAAN DESA BOJONGKONENG: RELASI EKOLOGI DAN SENI

    Get PDF
    perkembangannya, dari sekian banyak ekspresi seni, yangmelekat dengan masyarakat Desa Bojongkoneng, kesenian Wayangmerupakan salah satu bentuk kesenian yang cukup kuat. Kesenian iniseperti kesenian hiburan kolektif bagi masyarakat Desa Bojongkonengyang memiliki kecenderungan agraris.Secara umum, kesenian wayang banyak ditemui di sekitar wilayahBandung Barat dan menjadi kekhasan tersendiri. Dalam kontekskebutuhan kolektif, hingga hari ini, sebagaimana disampaikan Cahya(2016) wayang memiliki fungsi hiburan yang kental bagi masyarakaat(Cahya, 2016). Oleh karena itu, terdapat banyak kelompok-kelompokWayang di Desa Bojongkoneng maupun kawasan Bandung Barat padaumumnya.Menurut data dari Masyarakat Desa Bojongkoneng, terdapat 7kelompok seni tradisional di Desa Bojongkoneng yaitu; Wayang, SeniCalung, Pencak Silat, Tarawangsa, Sisingaan, Kiliningan, Jaipongan danKetuk Tilu

    EKSPLORASI SERAT NANAS DALAM TENUN TRADISIONAL ATBM SEBAGAI KARYA TEKSTIL BERNILAI EKOLOGIS DAN BUDAYA LOKAL

    Get PDF
    Eksplorasi serat nanas dalam tenun tradisional ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) merupakan upaya strategis dalam pengembangan karya tekstil yang tidak hanya menekankan pada estetika dan fungsi, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan serta penguatan identitas budaya lokal. Inisiatif ini hadir sebagai respons terhadap tantangan global dalam industri tekstil, yang selama ini dikenal sebagai salah satu penyumbang terbesar limbah dan polusi industri (Ellen MacArthur Foundation, 2017). Serat nanas yang berasal dari limbah daun tanaman nanas, khususnya dari daerah Subang yang merupakan salah satu sentra penghasil nanas terbesar di Jawa Barat, menawarkan potensi besar sebagai alternatif material tekstil yang bersifat terbarukan dan ramah lingkungan

    DIMENSI SOSIAL SAKRALITAS PADA PRAKTIK RITUAL SITUS MAKAM EYANG BUYUT MALANDANG DI KABUPATEN SUMEDANG

    Get PDF
    Ritual berkaitan erat dengan identitas, melalui ritual maka kelompok-kelompok pelaksana ritual dapat mengkomunikasikan dan merefleksikan eksistentensinya melalui berbagai simbol, yang sarat makna dan sekaligus menjadi penanda identitasnya. Salah satu praktik ritual yang ada di Indonesia yang hingga saat ini masih dilakukan pada situs makam Eyang Buyut Malandang di Kabupaten Sumedang. Bagi masyarakat setempat, situs budaya ini memiliki nilai sakral tinggi sebagai tempat pemakaman leluhur yang dihormati. Konsep sakralitas memiliki dasar teoretis yang kuat, sebagaimana dijelaskan Durkheim (1912: 422) dalam bukunya berjudul “The Elementary Forms of Religious Life” bahwa yang sakral bukanlah sekadar bagian dari realitas sehari-hari, melainkan representasi nilai-nilai bersama masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk material. Pandangan ini menjadi landasan penting untuk memahami bahwa situs makam Eyang Buyut Malandang merupakan salah satu warisan budaya dan spiritual dalam kehidupan sosial masyarakat setempat yang berfungsi sebagai lokasi ziarah sekaligus pusat aktivitas ritual yang mencerminkan integrasi antara kepercayaan Islam, tradisi lokal Sunda, dan nilai-nilai kearifan masyarakat Sumedang

    INTEGRASI KEARIFAN LOKAL DALAM BUSANA TRADISIONAL NUSANTARA KE DALAM DESAIN BERKELANJUTAN KONTEMPORER

    Get PDF
    Tidak dapat dipungkiri, bahwa industri mode dunia saat ini tengah menghadapi tantangan besar terkait keberlanjutan lingkungan dan sosial. Industtri mode global saat ini dihadapkan pada tekanan yang semakin besar untuk bertransformasi menuju praktik yang lebih berkelanjutan. Bukti kongkrit hal ini adalah munculnya gerakan sustainable fashion sebagai respons terhadap dampak lingkungan yang signifikan dari produksi tekstil dan pakaian, termasuk penggunaan sumber daya alam yang berlebihan, polusi kimia, dan limbah tekstil yang terus meningka (Niinimäki et al., 2020). Gerakan ini tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga mencakup dimensi sosial dan ekonomi, menekankan pada produksi yang etis, kondisi kerja yang layak, dan konsumsi yang bertanggung jawab (Fletcher, 2019)

    INTEGRASI NILAI BUDAYA DAN PENDIDIKAN KARAKTER DI ISBI BANDUNG: ANALISIS STRUKTURAL FUNGSIONAL TERHADAP TARI WAYANG PRIANGAN

    Get PDF
    Pendidikan karakter semakin menjadi fokus utama dalam sistem pendidikan global karena urgensinya dalam membentuk individu yang tidak hanya kompeten secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral yang kuat. Di Indonesia sendiri, perhatian terhadap pendidikan karakter telah meningkat secara signifikan dalam beberapa dekade terakhir, dengan pemerintah mendorong integrasi nilai-nilai moral dan etika dalam kurikulum nasional. Hal ini bertujuan untuk menciptakan generasi yang mampu menghadapi tantangan masa depan dengan sikap positif, etika yang baik, dan kemampuan berpikir secara kritis. Dalam realitasnya, pendidikan karakter sudah menjadi bagian integral dalam kurikulum nasional pendidikan di Indonesia. Melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi mengeluarkan pelbagai kebijakan dan pedoman untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dalam proses belajar-mengajar di sekolah. Implementasinya mencakup berbagai kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler sekolah sampai dengan program khusus pada bimbingan dan konseling.Walaupun pendidikan karakter telah diakui secara nasional sebagai komponen penting dalam sistem pendidikan. Sayangnya dalam mengimplementasi kegiatan dan program-programnya menghadapi berbagai tantangan dan rintangan. Salah satunya adalah kurangnya pemahaman dan kesadaran dari pengajar dan pendidik terhadap pentingnya pendidikan karakter terhadap mahasiswanya. Keterbatasan sumber daya serta fasilitas sebagai penunjang pembelajaran, menjadi kendala lain dalam mengimplementasikannya secara efektif dan efisien

    DAUR ULANG BARANG BEKAS SEBAGAI MEDIUM PERKUSI DI KOTA BANDUNG

    Get PDF
    Dengan perubahan zaman yang terus berkembang, segala aspek kehidupan juga ikut terpengaruh. Kehidupan individu maupun kelompok tercermin dalam berbagai hal, mulai dari kebiasaan, perilaku, pola pikir, hingga etika kerja. Semua ini secara tidak langsung memengaruhi cara kita menjalani aktivitas sehari-hari.Namun demikian, dampak dari perubahan ini tidak selalu positif. Salah satu konsekuensi logis yang sering muncul adalah sikap ‘pembenaran diri’. Seseorang mungkin cenderung mempertahankan identitas pribadinya dengan keras, bahkan hingga pada tingkat egoisme. Mereka mungkin merasa perlu untuk menonjolkan diri mereka sendiri demi merasa diakui atau dihargai dalam lingkungan yang terus berubah.Tidak jarang, fenomena ini memicu berbagai konflik dan ketegangan, baik dalam skala individu maupun kelompok. Ketika setiap orang atau kelompok hanya fokus pada kepentingan pribadinya, kerjasama dan solidaritas dapat tergerus. Hal ini dapat menghambat proses aktualisasi potensi masyarakat secara keseluruhan. Tatkala seseorang sudah tersentuh perasaan dan tergerak hatinya pada apa yang dilihat dan dirasakan pada saat itu, maka secara tidak langsung hal itu akan menjadi pemicu (rangsangan) dalam melakukan suatu aktivitas. Suatu kondisi yang secara faktual sulit untuk dienyahkan dan lekat dengan setiap individu sehingga hal ini akan menjadi identitas dan yang melekat pada dirinya pula. Setiap tindakan yang dilakukan seseorang, baik sengaja atau tidak sengaja senantiasa dipengaruhi oleh suasana hatinya dan hal ini akan nampak dari karya yang dibuatnya. Inilah yang lantas menjadikan bahwa karya tesebut benar-benar refleksi kejiwaan dari penciptanya

    KETAHANAN BUDAYA SUNDA DI DESA PANGADEGAN KABUPATEN SUMEDANG MELALUI KERAJINAN LISUNG DALAM PUSARAN MODERNITAS

    Get PDF
    Di wilayah Kecamatan Rancakalong inilah Desa Pangadeganberada. Desa Pangadegan menjadi kasus studi yang signifikankarena tidak hanya mempertahankan tradisi tetapi juga telahmengembangkannya menjadi tulang punggung ekonomi kreatifyang berkelanjutan. Fenomena unik yang menjadi pembedaDesa Pangadegan dengan desa lainnya adalah sinergi antaradimensi spiritual-budaya dengan dimensi ekonomi-produktifyang terwujud dalam kerajinan lisung (lesung) tradisional.Lisung, dalam kosmologi Sunda, bukan sekadar alatpenumbuk padi. Ia adalah simbol kesuburan, kebersamaan(gotong royong), dan penghubung antara dunia manusiadengan Nyi Pohaci Sanghyang Asri (Dewi Padi) (Wessing, 2018).Nilai sakral ini menjadikan lisung sebagai objek ritual dalamberbagai upacara adat yang berkaitan dengan siklus pertanian.Produksi lisung di Pangadegan telah berlangsung secara turuntemurun,menjadikan desa ini sebagai salah satu sentra kerajinanlisung

    POTENSI SENI DESA SUKASIRNARASA KECAMATAN RANCAKALONG KABUPATEN SUMEDANG

    Get PDF
    Tujuan dari penelitia ini adalah untuk mengungkap potensiseni yang berada di wilayah Desa Sukasirnarasa KecamatanRancakalong Kabupaten Sumedang Jawa Barat. Hal lain yangmenggugah penulis untuk melakukan penelitian ini yaknimemberikan kesadaran kepada masyarakat Desa Sukasirnarasapada khususnya akan pentingnya dunia literasi, supaya segalahal potensi yang ada di Desa dapat terinformasikan secaraestapet kepada para generasi berikutnya.Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metodekualitatif dengan pendekatan ethnografi. Mustafa, dkk di dalambukunya menjelaskan bahwa metode kualitatif merupakanmetode penelitian yang lebih menekankan pada aspekpemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah daripada melihat permasalahan untuk penelitia generalisasi.(Mustafa, dkk. 2022)

    MOTIF SAKRALIMA: REPRESENTASI SIMBOL ASIA DALAM DESAIN BUSANA READY TO WEAR DELUXE

    Get PDF
    Industri fashion global pada abad ke-21 berkembang denganlaju yang sangat pesat. Perkembangan ini dipengaruhi olehberbagai faktor, antara lain kemajuan teknologi digital,munculnya material baru yang lebih inovatif, sertameningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya identitasbudaya dalam busana. Fashion tidak lagi hanya dipahamisebagai tren gaya hidup semata, melainkan juga sebagaimedium komunikasi, ekspresi diri, representasi identitas,sekaligus sarana pelestarian tradisi (Kawamura, 2005; Bi & Yang,2022; Mackie, 1992). Dalam konteks ini, busana diposisikansebagai artefak budaya sekaligus produk industri kreatif yangterus mengalami transformasi seiring perubahan zaman(Kawamura, 2005).Di Indonesia, industri fashion merupakan salah satusubsektor yang menunjukkan pertumbuhan signifikan dalampeta industri kreatif nasional. Sektor ini tidak hanyamemberikan kontribusi besar terhadap perekonomian, tetapijuga berperan dalam penyerapan tenaga kerja, serta dalammempromosikan identitas bangsa di kancah internasional.Perkembangan pesat ini tidak dapat dilepaskan dari akar tradisidan budaya lokal yang menjadi sumber inspirasi utama paradesainer. Batik, tenun, dan songket misalnya, telah diolahkembali dalam bentuk busana kontemporer yang diterima dipasar global. Pendekatan semacam ini menegaskan bahwa motiftradisional bukan hanya artefak masa lalu, melainkan sumberdaya kultural yang dapat terus digali untuk memperkuatidentitas budaya dalam konteks modern (Sedyawati, 2006;Rodliyah, 2024; Rismantojo, 2024)

    TRANSFORMASI BENTUK TENUN GARUT DAN TANTANGANYA DALAM KONTEKS PREDIKSI INDONESIA TREND FORECASTING 2025-2026

    Get PDF
    Tenun merupakan salah satu bentuk ekspresi budaya tertuadalam sejarah peradaban manusia. Dalam konteks Indonesia,khususnya di wilayah Garut, Jawa Barat, tenun tidak sekadarproduk tekstil, melainkan simbol dari identitas budaya dan nilainilailokal masyarakat Sunda (Sudarsono, 2021). Tenun tradisionalGarut dikenal melalui teknik anyamannya yang menggunakan AlatTenun Bukan Mesin (ATBM) serta motif-motif khas yang saratmakna, seperti flora lokal, simbol geometris, dan filosofi alam(Permatasari, 2020). Secara antropologis, produk tenun berperansebagai media narasi visual lintas generasi yang mengabadikan nilainilaikomunitas (Geertz, 1973).Namun demikian, keberadaan tenun sebagai warisanbudaya tak lepas dari tantangan zaman yang semakin dinamis.Globalisasi, digitalisasi, dan perubahan gaya hidup masyarakattelah menggeser selera dan pola konsumsi, khususnya dalamindustri mode dan tekstil (Barnes & Lea-Greenwood, 2010). Olehkarena itu, tenun tradisional seperti tenun Garut memerlukaninovasi agar tetap relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.Inovasi dalam konteks ini tidak dimaknai sebagai penghapusannilai tradisi, melainkan sebagai proses transformasi bentuk,fungsi, dan narasi visual agar sesuai dengan selera konsumenkontemporer (Fletcher & Tham, 2019)

    1,711

    full texts

    1,925

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Jurnal ISBI Bandung (Institut Seni Budaya Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇